Characters:
- Kazuki – Rie
- Genichirou – Aoi
- Shinya – Saeki
- Von
Desc: Keluarga masing – masing
Rat: M / S ^^ (Mau-mau / Suka-suka)
n/a: kesamaan pada nama bukan suatu kesengajaan, tetapi karena authornya yang memang tidak pintar membuat nama ^^v
-start – intro (aoi)
Tinggal sendirian di rumah bukanlah seuatu hal yang menakutkan, dulunya. Menanti orang yang disayangi untuk segera pulang kerumah adalah suatu hal yang mendebarkan sampai membuat pikiran tetap terbuka. Pikiran untuk beristirahat itu tidak ada. Terlebih lagi untuk tidur, suatu hal yang tidak mungkin.
“Niichan lama sekali” keluhku dalam hati sambil bersandar pada lengan sofa.
Kudengar langkah seseorang yang bertubuh tinggi, rambut hitam lurus yang memakai kemeja berwarna kuning mendekatiku. Aku segera bangun membetulkan posisi dudukku. “Aoi, tidak istirahat?” aku menggeleng. “Kamu itu sedang demam. Lebih baik kamu cepat tidur kalau tidak mau semakin parah”
Aku menatap Genichirou, tunanganku, dengan sinis. “Kalau aku tidur, pasti kamu akan melaporkannya pada niichan”
“Soal sakitmu? Tentu saja! Kamu susah seka-“
“Geni!” seruku yang cukup membuatnya terkejut. “Sudahlah, aku lelah” balasku singkat. Aku mengambil bantal yang berada disebelahku dan memeluknya.
Genichirou hanya menghela nafas lalu duduk disebelahku. Menepuk kepalaku dengan pelan sambil menyandarkan pada bahunya. “Tidurlah. Aku janji tidak akan menceritakannya pada kakakmu. Lagipula jika aku sampai mengatakannya, yang ada aku akan di’makan’ bulat-bulat olehnya”
Mendengar itu, aku hanya bisa tertawa dan melingkarkan tanganku pada lengannya sambil menenggelamkan wajahku.
“Geni…” Genichirou bergumam menjawabku. “Jangan pulang dulu”
“Ya…” jawabnya singkat. Genichirou menarik tangannya, lalu mendekapku. “Aku tidak akan kemana-mana sampai kakakmu pulang, Aoi”
Aku hanya diam sambil menutup kedua mataku. Tubuhku terasa berat dan ingin rasanya segera kembali kekamarku. Namun tidak mungkin aku meninggalkan Genichirou menunggu sendirian.
“Aoi?” panggilnya sejenak. Tidak ada jawaban dariku, hanya balasan pelukan dariku. “Baiklah. Aku mengerti…” Genichirou mengambil sesuatu yang lembut dari belakangku dan menutupi seluruh tubuhku.
Kedua mataku memang tertutup namun dapat kurasakan dengan jelas lembut tanganya mengelus rambutku. Nafasnya terasa hangat berhembus diatas kepalaku. Bau tubuhnya yang kusuka dan detak jantungnya yang berdetak cepat. Sungguh aku menyukainya.
Sejenak aku mendengar suara pintu terbuka, namun aku malas sekali unntuk bergerak… dan tiba-tiba saja…
“Genichirou! Apa yang kamu lakukan?!” teriakan Shinya niichan yang sangat aku kenal.
“Stt!! Niichan, jangan berisik”
Aku belum tidur, Genichirou…
“Ah, dia sudah tidur ya?” Shinya langsung mengecilkan suaranya dan kurasakan dia duduk disebelahku. “Sudah lama?”
“Baru saja. Tumben sekali niichan pulang malam?”
“Maaf. Ada hal yang harus aku lakukan setelah latihan. Oh ya, Genichirou. Apa ada masalah hari ini?”
“Tidak ada. Semua berjalan dengan baik, kok”
“Ah, baguslah…” keheningan sesaat diantara mereka. “Genichirou, kalau aku bangunkan dia, apa…”
Genichirou sepeertinya mengerti apa yang ingin niichan katakan. Perlahan Genichirou mendorong tubuhku. “Aoi… aoi… bangunlah. Shinya niichan sudah pulang”
Kucoba untuk membuka kedua mataku dan menatap Shinya niichan yang berada disebelah kananku. “Niichan…?”
“Maaf Aoi, niichan pulang terlambat” aku hanya mengangguk dan berpaling memeluk Shinya niichan. “Aoi, ada yang ingin niichan bicarakan…”
Aku menatap Shinya yang berbaok menatap Genichirou. “Aku mengerti. Aku balik pulang du-“
“Tidak. Tidak. Tidak apa. Tetaplah disini sebentar” ajak Shinya dan kali ini aku membetulkan posisi dudukku. “Aoi, sebenarnya minggu depan niichan harus pergi keluar kota…”
Tiba-tiba nafasku terasa sesak. “U-untuk berapa lama?”
“Sekitar satu bulan” niichan… jangan tinggalkan aku sendirian. “Seluruh anggota harus pindah ke kota sebelah untuk beradaptasi dengan panggung dan suasana disana”
“Ha-haruskah?”
Shinya mengangguk. “Namun kamu tenang saja. Niichan sudah ada rencana untuk hal ini” aku mengangkat kepalaku dan menatap bingung. “Jika kamu tidak keberatan, maukah kamu tinggal bersama dengan keluarga Kazuki?”
“Eh?” jawab aku dan Genichirou bersamaan.
“Ya… tadi aku sudah membicarakan hal ini dengan Kazuki. Dia mengatakan kalau akan membahas masalah ini bersama istrinya terlebih dahulu…”
“Ta-tapi…” nada suaraku sedikit bergetar. “Shinya niichan, satu bulan menumpang ditempat mereka apa tidak merepotkan? A-aku lebih baik disini sen-“
“…meninggalkanmu sendirian? Tidak akan Niichan izinkan!”
“Bagaimana kalau ketempatku?” tawar Genichirou yang langsung ditolak mentah-mentah. “Shinya niichan, jangan terlalu pesimis denganku. Aku tidak akan macam-macam, kok”
“Justru kamulah yang aku takutkan, Genichirou” balasnya sambil tertawa yang diiringi sebuah pukulan kecil pada bahu Genichirou. “Gimana, Aoi? Kamu tidak keberatan jika aku harus meninggalkanmu selama 1 bulan?”
Aku mengangguk pelan. “Jika itu sudah keputusan niichan, aku akan mengikuti saja”
Shinya tersenyum. “Genichirou, aku minta tolong padamu untuk menjaganya selama aku tidak ada”
“Tenang saja, Shinya niichan! Tidak akan terjadi apa-apa dengannya! Aku bisa menjamin itu”
“Aku percaya padamu, Genichirou!” mereka saling menepuk telapak tangan mereka.
Kriing… Suara telepon rumah berbunyi dan langsung diangkat oleh Shinya. Entah apa yang sedang dibicarakan namun terdengar serius sekali. Tidak lama kemudian terlihat raut wajah senang Shinya sambil menutup telepon itu.
“Siapa, niichan?” tanyaku bingung melihat tingkah laku Shinya yang aneh.
“Dari Kazuki. Katanya mereka tidak keberatan dan mau menerimamu tinggal disana untuk sementara waktu”
“Benarkah?” Genichirou yang bersuara. “Kabar bagus, Aoi” ucapnya sambil memelukku.
“Ya…”
Aku hanya bisa tersenyum untuk menutupi perasaanku saat ini. Sebenarnya aku sedih mendengar Shinya niichan harus pergi keluar kota. Tetapi itu sudah menjadi pekerjaan utamanya. Selain itu aku juga harus berada ditempat yang tidak biasa aku kunjungi. Keluarga Kazuki memang sudah sering kali aku temui, terlebih dengan istrinya, Rie.
Beberapa kali kami bertemu untuk makan malam bersama ataupun menghadiri beberapa acara. Tapi tidak terpikir sama sekali olehku untuk menginap ditempatnya. Apakah akan baik-baik saja? Aku yakin mereka akan baik denganku. Namun yang menjadi pertanyaanku adalah, ‘apakah aku bisa membuka hatiku untuk mereka?’
-end-
No comments:
Post a Comment