Wednesday, August 31, 2011

you are my pet part 2

Tittle : you’re my pet
Characters:
Austria_P ( Roderich ) – Russia_M ( Ivan ) – Lithuania_M ( Toris )  - Italia_M ( Feliciano ) – Japan_P ( Kiku ) = China_M ( WangYao ).
Rat : M
Genre : Angst – Hurt/ Comfort
Desc: Himaruya Hidekazu
A/N :
^___^ menggunakan nama dari character  masing-masing dan ada beberapa perbedaan…
M ( master ) dan P ( pet ). Untuk apa? Akan dijelaskan didalam cerita. Ok~ mari kita mulai…
Pov :  Roderich
---start- part 2--

Masa lalu biarlah berlalu. Bagaimanapun situasinya, kita harus tetap bisa bertahan dan tabah dalam menghadapinya. Yakin pada suatu saat nanti, akan ada seberkah cahaya menyinari kegelapan hati dan pikiran kita.
Itu yang selalu aku pikirkan… sejak Ivan menjadi majikanku.
Keseharianku yang penuh kehangatan tergantikan dengan suasana dingin, sampai-sampai membekukan hati dan pikiranku. Masa kecilku memang keras, namun aku tidak menyangka sama sekali bahwa aku harus menghadapi keseharian yang lebih buruk. Bahkan untuk kesekian kalinya aku sudah pasrah akan hari esokku. Tapi aku sungguh beruntung masih ada seseorang yang mendukungku, walau aku merasa kasihan dengannya.
“Roderich!” langkah kaki tuan Ivan memasuki apartemennya. Aku yang masih setengah tidur di dapur segera berlari menuju pintu keluar untuk menemuinya, sebelum aku terkena masalah.
Kurang dari 2 meter menuju pintu keluar, tercium bau sesuatu yang aku kenal sekaligus tidak kusukai. Bau minuman keras yang disukai oleh majikanku. Kali ini Ivan datang dengan seseorang yang bertubuh lebih pendek darinya, rambutnya berwarna coklat-kekuningan dan lurus sebahu. Wajahnya sedikit terlihat ketakutan namun terkesan lembut dan menenangkan dibandingkan dengan Ivan.
“Roderich, ambilkan 2 gelas minuman ke ruang tengah! Satu gelas vodka dan.. Toris, kamu mau minum apa?”
“..ah, aku air putih saja”  ucap laki-laki bernama Toris.
“Kamu dengar itu, Roderich? Sekarang cepat kamu ambilkan, da~”
Tanpa sepatah katapun, aku langsung segera berlari menuju dapur dan mempersiapkan segala permintaan majikanku. Kutatap jam dinding dapur sejenak. Jam sudah menunjukan pukul 2 pagi. Kedua mataku masih terasa berat dan tubuhku masih terasa sakit. Tapi aku tidak bisa membantah sama sekali.
“Roderich, kenapa lama sekali?” seru Ivan dari ruang tengah.
Tubuhku terhentak dan segera berjalan sebelum Ivan marah padaku. Kuletakan perlahan minuman yang mereka pesan diatas meja, lalu duduk bersila dipojok pintu ruang tengah yang tidak jauh darinya.
Kulihat mereka berdua tertawa sambil menonton acara TV yang tidak aku mengerti sama sekali. Kurasakan tubuhku gemetar. Selain kedinginan, tubuhku sudah banyak menerima hukuman dari Ivan. Hukuman atas kesalahan ataupun tidak kulakukan sama sekali. Terkadang Ivan memukulku jika dia merasa kesal ataupun bosan. Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa diam melindungi tanganku, menundukan wajahku dan membulatkan tubuhku. Aku sudah tidak tahu sudah berapa banyak luka yang membekas di punggungku.
“…rich! Roderich!!” tubuhku kembali terhentak seiring terbawa kantukku dan segera mendekati Ivan. “Kamu mengantuk?”
Tubuhku gemetar ketakutan dan mencoba mengangguk perlahan “M-ma-maaf… b-besok pagi saya ada kelas…ja-“
PLASH!!
Baju putih dan celana hitam satu-satunya basah oleh minuman Ivan yang disiramkannya padaku.  Aku segera membungkukan tubuhku dan meminta maaf. Bukan sebuah pengampunan yang kudapatkan, tapi kurasakan sebuah pukulan..ah tidak. Sebuah tendangan diberikan kearahku, yang cukup membuat tubuhku tersungkur dan aku semakin yakin akan ada bekas luka tambahan di perutku.
“Tu-tuan, ma-maafkan saya” pintaku yang masih menundukan kepalaku sampai menyentuh lantai.
“Bukankah kamu mengantuk? Aku hanya mencoba membantumu tetap terjaga saja, da~”
“Ma-maaf. Saya sudah tidak mengantuk lagi. Kumohon…”
Kurasakan nafasku terasa berat dan matapun mulai menitikan air mata. Beberapa pukulan masih dapat kurasakan, sampai ada suara seseorang yang menghentikan pukulannya. Saat kubuka mataku, laki-laki yang bernama Toris itu menahan tangan Ivan dan mengajaknya untuk duduk kembali.
Aku yang masih belum bergerak, kurasakan langkah kaki seseorang mendekatiku. Tangan lembutnya menarik wajahku dan mau tidak mau akupun menatapnya. “Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu…” ucap Toris dengan lembut. “Lebih baik lekas kamu mengganti pakaianmu sebelum kamu sakit. Untuk masalah Ivan, kamu tidak usah khawatir. Aku akan membawanya kedalam kamarnya. Istirahatlah..”
Selesai Toris berbicara, sesaat dia mengelus rambutku sebelum berjalan mendekati Ivan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya sebuah tangan diatas kepalaku. Tubuhku terasa panas dan detak jantungku berdetak cepat. Ingin rasanya aku kembali menangis, namun tentu saja tidak aku lakukan.
Aku yang masih tidak berani bergerak tanpa perintah, kulipatkan kedua kakiku di depan dadaku dan kulingkarkan ekorku untuk sedikit menghangatkan tubuhku. Tubuhku semakin gemetar kedinginan. Udara apartemen memang dingin, namun setelah disiram oleh Ivan, rasa dingin semakin memenuhi diriku hingga menusuk tulang.
“Roderich!” seru Ivan sambil berjalan ke arahku bersama dengan Toris. “Aku mau kembali ke kamar. Rapikan ruangan ini dan aku tidak mau melihat masih ada barang berantakan besok pagi!”
Aku mengangguk dan kudapati sesaat senyum Toris kearahku. Sedikit aku bisa bernafas lega dan segera merapikan gelas minuman yang dipakai oleh mereka, termasuk air yang berceceran atas hukumanku. Setelah selesai semuanya, aku kembali kedapur untuk segera menjemur pakaianku lalu pergi tidur.
Dapur adalah ruang untuk memasak, tetapi untukku dapur adalah ruang paling aman dan menenangkan. Lebih tepatnya sebuah sudut yang tidak jauh dari pintu ruangan dapur adalah ruang untukku beristirahat dari kecemasan atas majikanku. Jika mengingat-ingat kembali, ketika Elizabeta masih menjadi majikanku, aku masih diberikan kebebasan untuk dapat tidur bersama-sama dengannya. Diruangan yang hangat dan menenangkan. Ya, sudah tidak seharusnya aku menggerutu. Tidur beralaskan sebuah selimut tipis yang sebagian aku lingkarkan ke tubuhku, merupakan fasilitas terbaik jika dibandingkan dimasa kecilku.
Waktu sudah menunjukan pukul 4 pagi, dengan kata lain aku hanya bisa tidur dalam waktu 2 jam, lalu bangun kembali untuk menyiapkan sarapan. Jika aku sampai terlambat, aku sudah tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan Ivan berikan lagi kepadaku.

---ooo---

Tanpa tidur yang cukup, aku terus meneruskan aktivitas keseharianku. Kusiapkan sarapan, membersihkan diriku lalu menunggu dengan sabar di sudut dapur sampai Ivan mengizinkanku untuk melanjutkan aktivitas di luar apartemennya. Pagi ini Ivan terlihat tenang, namun ada masalah yang cukup membuatku semakin malu dengan diriku sendiri.
“Roderich” Ivan memanggilku di tengah dia menyantap sarapannya. “Jam berapa kamu mengajar?”
“Jam 10, tuan” jawabku singkat.
“Hmm…” dia bergumam sejenak lalu menatapku dan mengatakan hal yang membuat tubuhku terhentak. “Mulai hari ini kamu harus memakai kalung rantaimu ketika kamu keluar dari apartemen ini, da~. Ivan meletakan sebuah kalung berantai disebelah piring makannya.
“A-apa..?” Aku hanya bisa menatap majikanku dengan penuh pertanyaan.
Bagi manusia sepertiku, memakai kalung berantai didalam lingkup pengawasan adalah suatu keputusan dari seorang majikan. Tetapi jika didalam lingkungan umum, kami bebas untuk memilih apakah akan menggunakan kalung tanda pengenal tersebut atau tidak. Walau tidak jarang ada beberapa majikan yang memaksa.  
Sebenarnya menggunakan tanda pengenal adalah hal terpenting bagi kami. Tetapi memakai kalung berantai di luar pengawasan, sama saja dengan menunjukan bahwa kami adalah peliharaan yang buruk.  
“Ta-tapi tuan, bukankah suatu kebebasan jika saya tidak meng-“
Ivan langsung menatapku tajam, berdiri mendekatiku, menarik kerah kemejaku lalu melemparku. “Kamu mau melawanku?!”
“Ti-tidak tuan” tubuhku langsung gemetar ketakutan. Tanpa kusadari wajahku mulai memanas.
“Kamu benar-benar kucing yang nakal, Roderich! Apakah pengajaranku selama 3 bulan masih kurang untukmu, da~?
Tidak, tuan. Maafkan aku. Maafkan aku…”
Hanya kata maaf yang dapat aku keluarkan dari mulutku. Ivan kembali mendekatiku, menarik kerah bajuku dari belakang, lalu mendorongku hingga membentur meja dapur. Tubuhku membelakanginya, Ivan langsung menahan tangan kiriku dan menempelkan kakinya diantara kedua kakiku. Kudengar suara Ivan membuka celananya dan semakin mendekatiku. Tubuhku yang hanya tertutup kain putih di bagian depan, dengan mudah dia memasuki diriku tanpa persiapan apapun.  
Sakit. Sakit sekali. Kukeratkan tanganku pada pinggir meja untuk menahan sakit, seiring Ivan terus memaksa dirinya memasuki diriku. Aku terus memohon tetapi sepertinya Ivan semakin menikmatinya. Air mata semakin membasahi wajahku atas perlakuan yang tidak wajar ini.
“He-hentikan… jangan lanjutkan, tuan…” isakku sambil menatapnya dari sudut bahu kanannya.
Kedua tangan Ivan berada di pinggangku dan kurasakan tubuhnya yang terus menghantamku. Kukepalkan tangan kiriku, memukul-mukul meja yang menempel dengan tubuhku dan mengertakan gigi, untuk menahan rasa sakit yang semakin tidak bisa aku tahan.
“Tu-tuan I-ivan…kumohon… hentikan...”
“Tentu tidak, da~ Kucing nakal harus di beri hukuman…”
“Kumohon, tuan. A-aku sudah tidak kuat…”
Ivan tidak mendengarkanku sama sekali. Kutahan suaraku dengan telapak tangan kananku, dan sampai akhirnya kurasakan sesuatu yang mengalir kedalam tubuhku. Ini bukan hal pertama kali bagiku, namun tubuhku tetap tidak bisa menerimanya.
Ketika Ivan melepaskan dirinya, aku langsung jatuh tersungkur sambil memegang perutku. “Roderich, padahal kamu sudah sering melakukan ini denganku, aku kagum denganmu yang tetap terasa ‘sempit’, da~”. Kudengar suara tawa Ivan sambil  merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju pintu keluar. “Roderich, rapikan meja dan ruangan ini sebelum kamu pergi. Aku tidak mau ketika aku pulang, ruangan ini masih berantakan seperti ini,da~”
Setelah Ivan keluar dari ruangan, kusadari air mataku semakin membasahi wajahku. Aku sudah tidak tahan dan ingin kabur dari apartemen ini. Namun… siapa yang dapat menolongku? Kelompokku? Tidak mungkin. Aku tidak mempunyai banyak teman dan manusia seperti kami tidak berani melawan manusia yang menjadi majikan kami..
Atau… berharap akan ada seseorang yang merawatku? Itu hanyalah sebuah impian belaka. Tidak mungkin akan terjadi. Tidak ada seorangpun yang ingin memelihara peliharaan yang sudah tua, terlebih mempunyai tubuh kotor sepertiku.

-ooo-
Tanpa memperdulikan rasa sakit disekujur tubuh, dengan cepat kubersihkan diriku dan bersiap untuk melanjutkan aktivitasku. Perasaan kacau didalam pikiranku ketika berhadapan dengan sebuah kalung yang berada diatas bantal milikku. Akhirnya aku memilih untuk melingkarkan kalung itu pada leherku lalu segera berjalan menuju kampusku.
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Banyak pandangan sinis ataupun rasa kasihan dengan penampilanku saat ini. Sekujur tubuhku yang penuh luka, sudah tidak bisa kututupi dengan kemeja tangan panjangku ataupun masker penutup mulut. Bahkan syal tebal yang kulingkarkan pada leherku tetap mengundang banyak perhatian setiap orang yang aku lewati.  
Kelas musik di pagi hari menjadi awal yang menyenangkan bagiku. Biasanya aku selalu duduk didepan dengan penuh antusias. Tapi kali ini aku lebih memilih untuk duduk di baris paling belakang agar tidak semakin banyak mengundang perhatian dengan penampilanku seperti ini.
Disaat yang bersamaan, kelas musik menjadi kelas yang ingin segera kuhindari. Sebelumnya banyak yang merasa bangga akan kehadiranku atas kemampuan permainan musik piano dan biolaku. Ketika aku memakai kalung ini, suasan kelas berubah 180 derajat. Semua manusia, termasuk guru yang mempercayaiku, menatapku dengan pandangan sinis, sedangkan kaumku hanya merasa kasihan melihat penampilanku yang semakin kacau balau.
Bagaimana tidak. Tubuhku semakin terlihat kurus dengan pakaian biruku. Bulu ekor dan kedua telingaku semakin berantakan, bahkan beberapa di antaranya terdapat bekas luka yang mengering. Jangankan untuk menyentuh, mendekatikupun sepertinya sudah tidak ada yang berani lagi.

Setelah 2 jam berlalu, dengan segera aku berjalan keluar dari lingkungan kampus menuju tempatku bekerja. Sebuah swalayan kecil yang tidak terlalu jauh dengan apartemen majikanku. Feliciano, nama pemilik swalayan kecil ini. Walau umurnya lebih muda dariku, dengan terampil Feliciano merawat dan membesarkan swalayan ini. Dari sekian banyak manusia yang aku temui, Feliciano adalah salah seorang diantara mereka yang tidak memandang siapapun berdasarkan status. Akupun dapat bekerja atas kebaikannya.  
“Roderich” panggil Feliciano ketika aku baru saja selesai menyusun beberapa barang. “Boleh kita berbicara sebentar?”
Aku mengangguk pelan. Kuletakan box berwarna biru disebelah lemari pendingin lalu bergegas menuju ruang kerja Feliciano.
“Ya, tuan?” ucapku perlahan sambil memasuki ruangannya  tanpa membuat banyak kebisingan.
“Mendekatlah” Feliciano tersenyum lembut dan mempersilahkanku untuk duduk di sebelahnya. Sebelumnya Feliciano tidak pernah memanggilku seperti ini.
Jangan-jangan… apakah dia takut padaku? Atau dia akan mengeluarkanku dari sini setelah melihat kalung yang aku pakai?’ cemasku.
“Roderich… maukah kamu menjelaskan padaku…” kurasakan jantungku berdetak cepat. “…ada apa dengan lukamu?” Feliciano menarik tangan kananku dan menatapnya. “Mengapa lukamu semakin banyak?”
Untuk beberapa saat, aku bisa bernafas lega. Tapi aku tetap merasa takut untuk menjelaskan kebenaran yang aku alami. Tanpa sepatah kata, kutarik tanganku dari genggaman Feliciano dan menyembunyikannya dibalik jaket yang aku gunakan. “Maaf, tuan. Sepertinya saya harus kembali bekerja” ucapku terburu-buru.
“Roderich, tunggu sebentar” Feliciano mendekatiku dan memberikan sebuah kartu berwarna putih – merah. “Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan masalahmu padaku. Kuharap kamu tidak memendam masalahmu sendirian. Itu bisa berakibat buruk untuk dirimu sendiri.” Feliciano menepuk pundakku dengan lembut.  “Ah, ya. Mereka adalah dokter-dokter kenalanku. JIka kamu masih ada waktu, pergilah kesana dan obatilah luka-lukamu”.
“Ta-tapi..”
“Tenang saja” potong Feliciano. “Untuk masalah biaya, kamu tidak perlu khawatir. Mereka bukan tipe dokter yang haus akan uang.” Feliciano kembali tersenyum padaku, seakan-akan memberikan suatu kekuatan kepercayaan atas pernyataan yang dia berikan.
“Selain itu, kamu cukup menyebutkan namaku. Maaf jika aku sudah mengganggumu. Beberapa saat lalu, aku menceritakan keadaanmu dan mereka tergerak untuk mengobati luka-lukamu. Kuharap kamu bisa menemui mereka dan membiarkan luka-lukamu mendapatkan perawatan yang terbaik”
Tidak ada satu kata keluar dari mulutku selain menatapnya dengan kagum dan rasa bangga mengenal seseorang yang berhati mulia.
“Janjilah padaku, Roderich. Janji bahwa kamu akan pergi menemui mereka. Walau hanya sekali”
Feliciano berjalan keluar setelah memberikan penjelasan singkat dan meninggalkanku sendirian di dalam ruangannya. Aku masih diam berdiri menatap kartu pemberiannya dan membaca nama yang tertera di kartu tersebut. “Dokter…Kiku dan dokter WangYao”.
Aku menelan ludahku dan menghela nafas sejenak. Penuh pertanyaan dan keraguan dalam pikiranku.
“Tuan Feliciano adalah seorang manusia… sedangkan aku, berdarah setengah manusia dan kucing…” gumamku dalam hati. “Apakah temannya bisa menerimaku seperti dirinya?”
Kumasukan kartu nama tersebut ke dalam sakuku dan menatap jam dinding diruangannya. “Jam 4 sore”. Masih tersisa 2 jam sebelum Ivan kembali ke apartemennya. Kuputuskan untuk mendatangi dokter tersebut dan berharap luka-lukaku tidak akan semakin sakit, seiring Ivan senang sekali mengajakku ‘bermain’.

---end part 2 ---
A/N:
Haaaii~ segini dulu ya… T_T maaf~ daku gak tega menyiksa Roddy lagi~ hikz *dtabok hungary

R n R please ? 
Tittle : you’re my pet
Characters:
Austria_P ( Roderich ) – Russia_M ( Ivan ) – Lithuania_M ( Toris )  - Italia_M ( Feliciano ) – Japan_P ( Kiku ) = China_M ( WangYao ).
Rat : M
Genre : Angst – Hurt/ Comfort
Desc: Himaruya Hidekazu
A/N :
^___^ menggunakan nama dari character  masing-masing dan ada beberapa perbedaan…
M ( master ) dan P ( pet ). Untuk apa? Akan dijelaskan didalam cerita. Ok~ mari kita mulai…
Pov :  Roderich
---start- part 2--

Masa lalu biarlah berlalu. Bagaimanapun situasinya, kita harus tetap bisa bertahan dan tabah dalam menghadapinya. Yakin pada suatu saat nanti, akan ada seberkah cahaya menyinari kegelapan hati dan pikiran kita.
Itu yang selalu aku pikirkan… sejak Ivan menjadi majikanku.
Keseharianku yang penuh kehangatan tergantikan dengan suasana dingin, sampai-sampai membekukan hati dan pikiranku. Masa kecilku memang keras, namun aku tidak menyangka sama sekali bahwa aku harus menghadapi keseharian yang lebih buruk. Bahkan untuk kesekian kalinya aku sudah pasrah akan hari esokku. Tapi aku sungguh beruntung masih ada seseorang yang mendukungku, walau aku merasa kasihan dengannya.
“Roderich!” langkah kaki tuan Ivan memasuki apartemennya. Aku yang masih setengah tidur di dapur segera berlari menuju pintu keluar untuk menemuinya, sebelum aku terkena masalah.
Kurang dari 2 meter menuju pintu keluar, tercium bau sesuatu yang aku kenal sekaligus tidak kusukai. Bau minuman keras yang disukai oleh majikanku. Kali ini Ivan datang dengan seseorang yang bertubuh lebih pendek darinya, rambutnya berwarna coklat-kekuningan dan lurus sebahu. Wajahnya sedikit terlihat ketakutan namun terkesan lembut dan menenangkan dibandingkan dengan Ivan.
“Roderich, ambilkan 2 gelas minuman ke ruang tengah! Satu gelas vodka dan.. Toris, kamu mau minum apa?”
“..ah, aku air putih saja”  ucap laki-laki bernama Toris.
“Kamu dengar itu, Roderich? Sekarang cepat kamu ambilkan, da~”
Tanpa sepatah katapun, aku langsung segera berlari menuju dapur dan mempersiapkan segala permintaan majikanku. Kutatap jam dinding dapur sejenak. Jam sudah menunjukan pukul 2 pagi. Kedua mataku masih terasa berat dan tubuhku masih terasa sakit. Tapi aku tidak bisa membantah sama sekali.
“Roderich, kenapa lama sekali?” seru Ivan dari ruang tengah.
Tubuhku terhentak dan segera berjalan sebelum Ivan marah padaku. Kuletakan perlahan minuman yang mereka pesan diatas meja, lalu duduk bersila dipojok pintu ruang tengah yang tidak jauh darinya.
Kulihat mereka berdua tertawa sambil menonton acara TV yang tidak aku mengerti sama sekali. Kurasakan tubuhku gemetar. Selain kedinginan, tubuhku sudah banyak menerima hukuman dari Ivan. Hukuman atas kesalahan ataupun tidak kulakukan sama sekali. Terkadang Ivan memukulku jika dia merasa kesal ataupun bosan. Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa diam melindungi tanganku, menundukan wajahku dan membulatkan tubuhku. Aku sudah tidak tahu sudah berapa banyak luka yang membekas di punggungku.
“…rich! Roderich!!” tubuhku kembali terhentak seiring terbawa kantukku dan segera mendekati Ivan. “Kamu mengantuk?”
Tubuhku gemetar ketakutan dan mencoba mengangguk perlahan “M-ma-maaf… b-besok pagi saya ada kelas…ja-“
PLASH!!
Baju putih dan celana hitam satu-satunya basah oleh minuman Ivan yang disiramkannya padaku.  Aku segera membungkukan tubuhku dan meminta maaf. Bukan sebuah pengampunan yang kudapatkan, tapi kurasakan sebuah pukulan..ah tidak. Sebuah tendangan diberikan kearahku, yang cukup membuat tubuhku tersungkur dan aku semakin yakin akan ada bekas luka tambahan di perutku.
“Tu-tuan, ma-maafkan saya” pintaku yang masih menundukan kepalaku sampai menyentuh lantai.
“Bukankah kamu mengantuk? Aku hanya mencoba membantumu tetap terjaga saja, da~”
“Ma-maaf. Saya sudah tidak mengantuk lagi. Kumohon…”
Kurasakan nafasku terasa berat dan matapun mulai menitikan air mata. Beberapa pukulan masih dapat kurasakan, sampai ada suara seseorang yang menghentikan pukulannya. Saat kubuka mataku, laki-laki yang bernama Toris itu menahan tangan Ivan dan mengajaknya untuk duduk kembali.
Aku yang masih belum bergerak, kurasakan langkah kaki seseorang mendekatiku. Tangan lembutnya menarik wajahku dan mau tidak mau akupun menatapnya. “Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu…” ucap Toris dengan lembut. “Lebih baik lekas kamu mengganti pakaianmu sebelum kamu sakit. Untuk masalah Ivan, kamu tidak usah khawatir. Aku akan membawanya kedalam kamarnya. Istirahatlah..”
Selesai Toris berbicara, sesaat dia mengelus rambutku sebelum berjalan mendekati Ivan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya sebuah tangan diatas kepalaku. Tubuhku terasa panas dan detak jantungku berdetak cepat. Ingin rasanya aku kembali menangis, namun tentu saja tidak aku lakukan.
Aku yang masih tidak berani bergerak tanpa perintah, kulipatkan kedua kakiku di depan dadaku dan kulingkarkan ekorku untuk sedikit menghangatkan tubuhku. Tubuhku semakin gemetar kedinginan. Udara apartemen memang dingin, namun setelah disiram oleh Ivan, rasa dingin semakin memenuhi diriku hingga menusuk tulang.
“Roderich!” seru Ivan sambil berjalan ke arahku bersama dengan Toris. “Aku mau kembali ke kamar. Rapikan ruangan ini dan aku tidak mau melihat masih ada barang berantakan besok pagi!”
Aku mengangguk dan kudapati sesaat senyum Toris kearahku. Sedikit aku bisa bernafas lega dan segera merapikan gelas minuman yang dipakai oleh mereka, termasuk air yang berceceran atas hukumanku. Setelah selesai semuanya, aku kembali kedapur untuk segera menjemur pakaianku lalu pergi tidur.
Dapur adalah ruang untuk memasak, tetapi untukku dapur adalah ruang paling aman dan menenangkan. Lebih tepatnya sebuah sudut yang tidak jauh dari pintu ruangan dapur adalah ruang untukku beristirahat dari kecemasan atas majikanku. Jika mengingat-ingat kembali, ketika Elizabeta masih menjadi majikanku, aku masih diberikan kebebasan untuk dapat tidur bersama-sama dengannya. Diruangan yang hangat dan menenangkan. Ya, sudah tidak seharusnya aku menggerutu. Tidur beralaskan sebuah selimut tipis yang sebagian aku lingkarkan ke tubuhku, merupakan fasilitas terbaik jika dibandingkan dimasa kecilku.
Waktu sudah menunjukan pukul 4 pagi, dengan kata lain aku hanya bisa tidur dalam waktu 2 jam, lalu bangun kembali untuk menyiapkan sarapan. Jika aku sampai terlambat, aku sudah tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan Ivan berikan lagi kepadaku.

---ooo---

Tanpa tidur yang cukup, aku terus meneruskan aktivitas keseharianku. Kusiapkan sarapan, membersihkan diriku lalu menunggu dengan sabar di sudut dapur sampai Ivan mengizinkanku untuk melanjutkan aktivitas di luar apartemennya. Pagi ini Ivan terlihat tenang, namun ada masalah yang cukup membuatku semakin malu dengan diriku sendiri.
“Roderich” Ivan memanggilku di tengah dia menyantap sarapannya. “Jam berapa kamu mengajar?”
“Jam 10, tuan” jawabku singkat.
“Hmm…” dia bergumam sejenak lalu menatapku dan mengatakan hal yang membuat tubuhku terhentak. “Mulai hari ini kamu harus memakai kalung rantaimu ketika kamu keluar dari apartemen ini, da~. Ivan meletakan sebuah kalung berantai disebelah piring makannya.
“A-apa..?” Aku hanya bisa menatap majikanku dengan penuh pertanyaan.
Bagi manusia sepertiku, memakai kalung berantai didalam lingkup pengawasan adalah suatu keputusan dari seorang majikan. Tetapi jika didalam lingkungan umum, kami bebas untuk memilih apakah akan menggunakan kalung tanda pengenal tersebut atau tidak. Walau tidak jarang ada beberapa majikan yang memaksa.  
Sebenarnya menggunakan tanda pengenal adalah hal terpenting bagi kami. Tetapi memakai kalung berantai di luar pengawasan, sama saja dengan menunjukan bahwa kami adalah peliharaan yang buruk.  
“Ta-tapi tuan, bukankah suatu kebebasan jika saya tidak meng-“
Ivan langsung menatapku tajam, berdiri mendekatiku, menarik kerah kemejaku lalu melemparku. “Kamu mau melawanku?!”
“Ti-tidak tuan” tubuhku langsung gemetar ketakutan. Tanpa kusadari wajahku mulai memanas.
“Kamu benar-benar kucing yang nakal, Roderich! Apakah pengajaranku selama 3 bulan masih kurang untukmu, da~?
Tidak, tuan. Maafkan aku. Maafkan aku…”
Hanya kata maaf yang dapat aku keluarkan dari mulutku. Ivan kembali mendekatiku, menarik kerah bajuku dari belakang, lalu mendorongku hingga membentur meja dapur. Tubuhku membelakanginya, Ivan langsung menahan tangan kiriku dan menempelkan kakinya diantara kedua kakiku. Kudengar suara Ivan membuka celananya dan semakin mendekatiku. Tubuhku yang hanya tertutup kain putih di bagian depan, dengan mudah dia memasuki diriku tanpa persiapan apapun.  
Sakit. Sakit sekali. Kukeratkan tanganku pada pinggir meja untuk menahan sakit, seiring Ivan terus memaksa dirinya memasuki diriku. Aku terus memohon tetapi sepertinya Ivan semakin menikmatinya. Air mata semakin membasahi wajahku atas perlakuan yang tidak wajar ini.
“He-hentikan… jangan lanjutkan, tuan…” isakku sambil menatapnya dari sudut bahu kanannya.
Kedua tangan Ivan berada di pinggangku dan kurasakan tubuhnya yang terus menghantamku. Kukepalkan tangan kiriku, memukul-mukul meja yang menempel dengan tubuhku dan mengertakan gigi, untuk menahan rasa sakit yang semakin tidak bisa aku tahan.
“Tu-tuan I-ivan…kumohon… hentikan...”
“Tentu tidak, da~ Kucing nakal harus di beri hukuman…”
“Kumohon, tuan. A-aku sudah tidak kuat…”
Ivan tidak mendengarkanku sama sekali. Kutahan suaraku dengan telapak tangan kananku, dan sampai akhirnya kurasakan sesuatu yang mengalir kedalam tubuhku. Ini bukan hal pertama kali bagiku, namun tubuhku tetap tidak bisa menerimanya.
Ketika Ivan melepaskan dirinya, aku langsung jatuh tersungkur sambil memegang perutku. “Roderich, padahal kamu sudah sering melakukan ini denganku, aku kagum denganmu yang tetap terasa ‘sempit’, da~”. Kudengar suara tawa Ivan sambil  merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju pintu keluar. “Roderich, rapikan meja dan ruangan ini sebelum kamu pergi. Aku tidak mau ketika aku pulang, ruangan ini masih berantakan seperti ini,da~”
Setelah Ivan keluar dari ruangan, kusadari air mataku semakin membasahi wajahku. Aku sudah tidak tahan dan ingin kabur dari apartemen ini. Namun… siapa yang dapat menolongku? Kelompokku? Tidak mungkin. Aku tidak mempunyai banyak teman dan manusia seperti kami tidak berani melawan manusia yang menjadi majikan kami..
Atau… berharap akan ada seseorang yang merawatku? Itu hanyalah sebuah impian belaka. Tidak mungkin akan terjadi. Tidak ada seorangpun yang ingin memelihara peliharaan yang sudah tua, terlebih mempunyai tubuh kotor sepertiku.

-ooo-
Tanpa memperdulikan rasa sakit disekujur tubuh, dengan cepat kubersihkan diriku dan bersiap untuk melanjutkan aktivitasku. Perasaan kacau didalam pikiranku ketika berhadapan dengan sebuah kalung yang berada diatas bantal milikku. Akhirnya aku memilih untuk melingkarkan kalung itu pada leherku lalu segera berjalan menuju kampusku.
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Banyak pandangan sinis ataupun rasa kasihan dengan penampilanku saat ini. Sekujur tubuhku yang penuh luka, sudah tidak bisa kututupi dengan kemeja tangan panjangku ataupun masker penutup mulut. Bahkan syal tebal yang kulingkarkan pada leherku tetap mengundang banyak perhatian setiap orang yang aku lewati.  
Kelas musik di pagi hari menjadi awal yang menyenangkan bagiku. Biasanya aku selalu duduk didepan dengan penuh antusias. Tapi kali ini aku lebih memilih untuk duduk di baris paling belakang agar tidak semakin banyak mengundang perhatian dengan penampilanku seperti ini.
Disaat yang bersamaan, kelas musik menjadi kelas yang ingin segera kuhindari. Sebelumnya banyak yang merasa bangga akan kehadiranku atas kemampuan permainan musik piano dan biolaku. Ketika aku memakai kalung ini, suasan kelas berubah 180 derajat. Semua manusia, termasuk guru yang mempercayaiku, menatapku dengan pandangan sinis, sedangkan kaumku hanya merasa kasihan melihat penampilanku yang semakin kacau balau.
Bagaimana tidak. Tubuhku semakin terlihat kurus dengan pakaian biruku. Bulu ekor dan kedua telingaku semakin berantakan, bahkan beberapa di antaranya terdapat bekas luka yang mengering. Jangankan untuk menyentuh, mendekatikupun sepertinya sudah tidak ada yang berani lagi.

Setelah 2 jam berlalu, dengan segera aku berjalan keluar dari lingkungan kampus menuju tempatku bekerja. Sebuah swalayan kecil yang tidak terlalu jauh dengan apartemen majikanku. Feliciano, nama pemilik swalayan kecil ini. Walau umurnya lebih muda dariku, dengan terampil Feliciano merawat dan membesarkan swalayan ini. Dari sekian banyak manusia yang aku temui, Feliciano adalah salah seorang diantara mereka yang tidak memandang siapapun berdasarkan status. Akupun dapat bekerja atas kebaikannya.  
“Roderich” panggil Feliciano ketika aku baru saja selesai menyusun beberapa barang. “Boleh kita berbicara sebentar?”
Aku mengangguk pelan. Kuletakan box berwarna biru disebelah lemari pendingin lalu bergegas menuju ruang kerja Feliciano.
“Ya, tuan?” ucapku perlahan sambil memasuki ruangannya  tanpa membuat banyak kebisingan.
“Mendekatlah” Feliciano tersenyum lembut dan mempersilahkanku untuk duduk di sebelahnya. Sebelumnya Feliciano tidak pernah memanggilku seperti ini.
Jangan-jangan… apakah dia takut padaku? Atau dia akan mengeluarkanku dari sini setelah melihat kalung yang aku pakai?’ cemasku.
“Roderich… maukah kamu menjelaskan padaku…” kurasakan jantungku berdetak cepat. “…ada apa dengan lukamu?” Feliciano menarik tangan kananku dan menatapnya. “Mengapa lukamu semakin banyak?”
Untuk beberapa saat, aku bisa bernafas lega. Tapi aku tetap merasa takut untuk menjelaskan kebenaran yang aku alami. Tanpa sepatah kata, kutarik tanganku dari genggaman Feliciano dan menyembunyikannya dibalik jaket yang aku gunakan. “Maaf, tuan. Sepertinya saya harus kembali bekerja” ucapku terburu-buru.
“Roderich, tunggu sebentar” Feliciano mendekatiku dan memberikan sebuah kartu berwarna putih – merah. “Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan masalahmu padaku. Kuharap kamu tidak memendam masalahmu sendirian. Itu bisa berakibat buruk untuk dirimu sendiri.” Feliciano menepuk pundakku dengan lembut.  “Ah, ya. Mereka adalah dokter-dokter kenalanku. JIka kamu masih ada waktu, pergilah kesana dan obatilah luka-lukamu”.
“Ta-tapi..”
“Tenang saja” potong Feliciano. “Untuk masalah biaya, kamu tidak perlu khawatir. Mereka bukan tipe dokter yang haus akan uang.” Feliciano kembali tersenyum padaku, seakan-akan memberikan suatu kekuatan kepercayaan atas pernyataan yang dia berikan.
“Selain itu, kamu cukup menyebutkan namaku. Maaf jika aku sudah mengganggumu. Beberapa saat lalu, aku menceritakan keadaanmu dan mereka tergerak untuk mengobati luka-lukamu. Kuharap kamu bisa menemui mereka dan membiarkan luka-lukamu mendapatkan perawatan yang terbaik”
Tidak ada satu kata keluar dari mulutku selain menatapnya dengan kagum dan rasa bangga mengenal seseorang yang berhati mulia.
“Janjilah padaku, Roderich. Janji bahwa kamu akan pergi menemui mereka. Walau hanya sekali”
Feliciano berjalan keluar setelah memberikan penjelasan singkat dan meninggalkanku sendirian di dalam ruangannya. Aku masih diam berdiri menatap kartu pemberiannya dan membaca nama yang tertera di kartu tersebut. “Dokter…Kiku dan dokter WangYao”.
Aku menelan ludahku dan menghela nafas sejenak. Penuh pertanyaan dan keraguan dalam pikiranku.
“Tuan Feliciano adalah seorang manusia… sedangkan aku, berdarah setengah manusia dan kucing…” gumamku dalam hati. “Apakah temannya bisa menerimaku seperti dirinya?”
Kumasukan kartu nama tersebut ke dalam sakuku dan menatap jam dinding diruangannya. “Jam 4 sore”. Masih tersisa 2 jam sebelum Ivan kembali ke apartemennya. Kuputuskan untuk mendatangi dokter tersebut dan berharap luka-lukaku tidak akan semakin sakit, seiring Ivan senang sekali mengajakku ‘bermain’.

---end part 2 ---
A/N:
Haaaii~ segini dulu ya… T_T maaf~ daku gak tega menyiksa Roddy lagi~ hikz *dtabok hungary

R n R please ? 

Wednesday, August 24, 2011

thankz, AL

Title: Thankz , AL...

Character detail ^___^ :

- Kana : teman aoi, desainer , pacar Alfred (1 tahun sejak lulusan)

o Lebih pendek dari Alfred n sering di kira ade, rambut pirang

o Banyak ekspresi, suka gambar Alfred diam2, susah untuk mengungkapkan perasaan suka, n pasrah

o Tinggi 150

o Benci serangga, barang yang di suka kotak musik

o Suka maen game

o Sulit menolak permintaan orang

- Alfred: seumuran kana dan aoi, jurusan foodtech

- Aoi : teman sekelas kana dan tunangan sanada

- Sanada : tunangan aoi

----oooo-----



Character dec:

- Kana by Kanade

- Alfred by Himaruya (hetalia)

- Aoi by Aoryuto

- Sanada by Konomi (tenipuri)

Rat: M (mau-maunya)

Genre : Humor / Romance

A/N : haaai… untuk karakter dan cerita ini memang OOC banget… jadii.. yaa… ^___^ selamat membaca.. tidak suka, ya.. jangan di baca ^^



-start-


Setiap pekerjaan yang dilakukan, akan ada hari yang akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Melelahkan, namun hasil yang didapatkan akan memberikan kesan tersendiri. Rasa senang ataupun kecewa. Semua itu tidak hanya didalam dunia pekerjaan, dunia perkuliahanpun sudah merasakan beratnya menyelesaikan tugas sambil beradu cepat dengan waktu. Jika tidak bisa menang, maka akan muncul banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi. Terlebih lagi, tidak ada kesempatan kedua untuk mengulangnya.

“Maaf ya, AL. Hari ini aku harus menyelesaikan tugas ilustrasiku. Bagaimana kalau besok saja?”

Kana, mahasiswi desain semester 6 di universitas Sohoku, berjalan cepat menuju halte sambil menahan telepon genggamnya diantara bahu dan telinganya. Setelah mengeluarkan selembar uang, Kana kembali memegang telepon genggamnya dan meletakan tas hitam disebelah kaki kanannya untuk sementara.

“AL, kamu tidak marah kan?”

“Begitu ya?”

Kana hanya bisa mengangguk pelan, walau orang yang diajak bicaranya tidak berada dihadapannya. Kana yang merasa tidak enak dengan Alfred, terpikir sesuatu olehnya.

“Bagaimana kalau kamu ketempatku? Kamu tidak ada kerjaan, kan?”

“Kebetulan tidak. Hmmm~ baiklah! Mungkin satu jam lagi aku akan sampai kesana.”

“Ung! Aku tunggu, ya” senyumnya dan tidak lama Kana menekan tombol merah lalu meletakan teleponnya didalam saku celananya.

Tubuh kecil Kana sudah merasa lelah dengan tugas-tugas yang menumpuk, namun perasaannya begitu senang mendengar orang yang dikasihinya itu akan datang. Alfred F Jones, atau yang lebih sering di panggil AL ini baru saja kembali dari liburannya ke England dua hari yang lalu. Sebenarnya Kana ingin sekali pergi bersama dengan Alfred, namun tugas-tugasnya yang sudah menggunung tidak memberikan sedikit kesempatan baginya.

Sekitar 10 menit kemudian, bus yang ditunggu-tunggupun datang. Kana segera masuk kedalam bus dan meletakan barang bawaannya. Didalam perjalanan, ada beberapa masalah yang masih terbayang didalam pikirannya.

“Hmmm~ aneh… padahal AL dan aku sama-sama semester 6, tapi kenapa dia bisa lebih santai, ya?” ucapnya dalam hati.

Kana kembali membuka handphonenya dan melihat foto mereka berdua yang menjadi wallpaper sebelum AL pergi.

“AL, kamu curang ya!”

Kana kembali tersenyum dan memasukan kembali handphonenya karena tidak lama lagi dia harus segera turun.



Sesampai di apartemennya, Kana segera berjalan ke kamarnya dan meletakan seluruh bawaannya. Sejenak dia melemparkan dirinya keatas ranjang dan memeluk boneka kelinci pemberian AL.

“Sepi sekali.”

Kana bangkit dari tempat tidurnya dan menelusuri ruangan yang terdiri dari 2 kamar dan 1 dapur, mencari seseorang yang sangat dia kenal. Teman seruangan dan sekelasnya sejak mereka masuk di universitas Sohoku, Aoi.

“...apa Aoi belum balik ya?”

Kana yang masih penasaran menemukan selembar kertas diatas meja makan.

‘Kana, hari ini aku pulang malam, sekitar jam 7. Aku ketempat Genichirou dulu melihat keadaannya. Aoi’

Kana mengangguk sebagai ganti jawaban, walau orang yang dimaksudkan tidak berada di hadapannya saat ini.

“Oh iya, ya. Kemarin Aoi cerita kalau Genichirou sakit”

Kana meletakan kembali kertas itu dan mengambil beberapa perlengkapannya ke ruang tengah. Tempat yang lebih luas untuk mengerjakan ilustrasi berukuran A2nya itu. Terlebih dia harus mengerjakannya secara manual, menggunakan kuas dan cat!

“Yosh! Mari kita mulai~!” semangatnya. Sebagai permulaan, Kana mengeluarkan selembar kertas dan membuat diagram kecil sebagai konsep ilustrasi yang akan dibuatnya itu.



Satu jam kemudian, tepat Kana menyelesaikan sketsa ilustrasinya, terdengar suara ketuk pintu utama ruangan ini. Kana segera bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu.

“Hallo~! Apa kabar?! Apa aku mengganggu?” seru seseorang yang bertubuh tinggi, berambut pirang dan memakai jaket coklat kebanggaannya itu.

“AL!”

Tanpa basa-basi, Kana langsung memeluk Alfred dan dibalas dengan sebuah kecupan diatas kepalanya.

“Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, kan?”

“Tentu donk!” balas Kana sambil menarik Alfred untuk segera masuk.

“Oh ya, aku bawa ini” dengan bangga Alfred menunjukan satu bungkus plastik yang berisi beberapa hamburger, roti dan beberapa botol minuman soda.

“Ya ampun, AL” kali ini Kana menggelengkan kepalanya. “Padahal kamu masuk jurusan foodtech! Kalau kamu terus makan makanan seperti ini, kesehatan tubuhmu bisa terganggu, loh!”

“Tenang saja! Aku baik-baik saja kok! Oh ya, hamburger kali ini special aku buat sendiri”

“Eeh?”

“Yap! Aku membuat hamburger yang lebih berenergi dan memberikan tenaga lebih, khusus aku buat untukmu”

Mendengar ucapan Alfred cukup membuat wajah Kana memerah seperti udang rebus.

“Aaah, habisnya~”sambung Alfred sambil duduk disofa ruang tengah. “…setiap kali jalan bersama denganmu selalu saja mendapat komentar buruk…”

“Seperti?” Kana duduk disebelah Alfred.

“Ya~ aku selalu dikira mengambil jatah makanmu~ mengambil tenagamu~ bahkan tidak bisa mengurusmu~”

Kana hanya bisa tertawa.

“Makanya, jangan makan hamburger banyak-banyak, AL~fre~d!”

“Biarin! Makanlah sebanyak-banyaklah selagi bisa! Hahahahaha~”

Kana hanya bisa ikut tertawa lalu kembali duduk diatas lantai. “AL, bantuin donk…”

“Hmm?” Alfred mengambil sebungkus hamburger. “Bantu apa?”

“Bantu aku warnain. Kamu warnain dengan kuas besar, sedangkan nanti untuk detailnya biar aku saja”

“Begitu?” Alfred turun dari sofa dan kali ini duduk disebelah Kana. “Yahmmuanah-yamph maukh ampkhu hamphtu?”

“AL, kalau mau makan, makan dulu. Baru bicara! Aku tidak mengerti”

Alfred menelan hamburgernya bulat-bulat kedalam mulutnya. “Yang mana?”

Kana memberikan kuas paling besar dan menunjukan beberapa bagian. Namun sepertinya Alfred kembali tidak mendengar karena terlalu sibuk dengan minumannya.

“AL, kamu sudah mengerti?”

“Tentu saja! Bagi Hero sepertiku, ini bukan hal yang sulit!”

Kana hanya tersenyum lalu mengambil kuas yang berukuran kecil. “Baiklah. Kamu warnain yang sebelah situ dengan warna merah ya. Kuasnya di beri air dulu baru dicampur dengan catnya”

“Ok~!”



Sebenarnya Kana banyak sekali bertanya mengenai keseharian Alfred selama mereka tidak bertemu. Namun Kana merasa kesal dengan setiap jawaban yang diberikan. Bukan karena pengalamannya, tetapi karena Alfred terlalu fokus dengan makanannya sehingga Kana tidak mengerti dengan jelas apa saja yang dikatakan olehnya.

“AL, kamu kalau lagi kerja jangan sambil makan. Nanti malah-”

Belum Kana selesai berbicara, tiba-tiba saja Alfred menyenggol tempat air catnya, dan membuat beberapa bagian kertasnya menjadi basah. Alfred yang panik ingin segera mengeringkannya, namun tangannya yang masih memegang botol soda, tidak segaja membuatnya miring dan tumpah diatas kertas konsep Kana.

“AL!!”

Kana langsung menarik kertas gambarnya dan mengelapnya dengan tisu.

“Maaf! Maafkan aku!” panik Alfred dan segera memindahkan beberapa peralatan lainnya.

Wajah panik Kana langsung tergambar dengan jelas. Banyak hal yang langsung tersusun didalam pikirannya.

“Bagaimana ini… pekerjaanku masih banyak sekali…” pikir Kana dalam hati.

Kana yang terbawa dalam imajinasinya, secara tidak sadar kalau dia sudah menghiraukan Alfred. Sedangkan Alfred sendiri panik dan mengira kalau Kana sedang marah besar, sampai-sampai tidak mau berbicara dengannya.

"K-kana..." Alfred yang ketakutan, perlahan mendekati Kana yang masih sibuk dalam gumamannya.

Tanpa disadari, Kana terus bergumam sambil berjalan menuju kamarnya. Alfred hanya bisa diam ketika Kana menutup pintu kamarnya.

"K-ka...na..."



Ting.Tong.

"Alfred? Sendirian?"

Alfred membalikan tubuhnya dan menemukan seseorang yang dia kenal berjalan mendekatinya. Penghuni rumah ini sekaligus teman kekasihnya, Aoi.

“Ah, Aoi…” keluh Alfred dan kembali duduk di sofa sambil memeluk salah satu bantal. “Aku tidak sendiri kok…”

“Hmm..?” Aoi yang masih belum mengerti situasinya hanya duduk di sebelah Alfred. “Ne, kemana Kana?”

Alfred hanya diam saja, lalu menatap Aoi dengan wajah yang mulai memerah. “Huwaaaa… Kana marah padaku…”

“Heeh? K-kenapa?” Aoi hanya bisa tercenga melihat Alfred yang sedang chibi mode on.

Sambil menghapus air matanya yang mulai keluar, Alfred kembali meneruskan perkataannya. “Aku tidak sengaja menumpahkan minumanku keatas gambarnya…”

“Lagi-lagi… kamu pasti sedang makan ketika diminta tolong sama Kana…”, gumam Aoi. “Al, kamu sudah minta maaf belom?”

“Sudah. Tapi Kana diam saja lalu langsung masuk ke kamar. Bagaimana ini, Aoi? Huwaaa…” tangis Alfred semakin menjadi-jadi, bahkan airmatanya pun seperti air yang mengalir keluar dari selang.

“Sudah. Sudah. Nanti akan aku tanyakan sama Kana. Nah, bagaimana kalau kamu membantuku menyiapkan sesuatu?”

“Hmm?” air mata Alfred mulai berhenti dan berganti dengan tatapan seperti anak kecil yang kebingungan. “Menyiapkan sesuatu?”

“Yap. Hitung-hitung kamu bisa minta maaf buat Kana. Kita siapkan suatu kejutan untuknya. Bagaimana?” tawar Aoi sambil menepuk-nepuk kepalanya.

Alfred yang masih chibi mode on, langsung mengangguk setuju dan mendekatkan dirinya ke Aoi. “Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

Aoi melihat sekeliling sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Alfred. “Nah, kamu harus…” bisik Aoi dan hanya mendapat anggukan sebagai jawaban dari Alfred.

Sampai pada suatu rencana, “…k-kamu yakin?” tanya Alfred penuh ketakutan.

“TENTU SAJA!” seru Aoi yang cukup membuat Alfred terkejut sampai – sampai membuatnya harus mundur beberapa langkah. “Percaya padaku! Kamu harus bisa mendapatkannya!”

Alfred yang kaget dengan antusias Aoi, hanya bisa mengangguk ketakutan dan segera mendapatkan segala yang telah diberitahukan kepadanya sebelum Aoi kembali ke evil mode on.



Tok.tok.

“Masuk” seru Kana yang masih sibuk dengan gambarnya. “Ah, Aoi. Sudah pulang. Maaf, aku tidak tahu…” lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.

“Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, memangnya kamu sedang membuat sketsa apa?”

“Gambar ilustrasi untuk pameran minggu depan… namun…” Kana menghela nafas sejenak. “… ah ya, apa AL masih ada didepan?”

“Tidak” Kana terkejut mendengar jawaban singkat temannya. “Tadi aku meminta Alfred untuk membelikan kita makan malam. Aku lelah kalau harus memasak makan malam kita. Maaf ya…”

“Tidak apa. Lagipula seharusnya aku yang memasak hari ini…”

“Hahaha… Sudah. Kamu konsen dulu sama pekerjaanmu itu. Sudah sampai mana?”

Kana mengangguk lalu kembali menatap pekerjaannya. “Tinggal di beri outline dan beberapa penjelasan…”

“Konsep?” Kana mengangguk. “Berarti tinggal sedikit lagi, donk?”

Kana yang sedikit penasaran mulai mengeluarkan kata-kata. “Aoi, kamu kok sepertinya senang sekali? Ada apa? Apa kamu di lamar sama Sanada?”

“H-hoi! Kamu ini!” Aoi membalas dengan mengacak-ngacak rambut Kana. “Tidak. Hari ini aku sedang bosan saja dan kebetulan ada game yang ingin aku mainkan. Hanya saja…”

“Ya?”

“Tidak enak donk kalau aku main sendirian. Bagaimana kalau kita main sama-sama setelah kamu selesai?”

“Baiklah. Tinggal sedikit lagi kok…”

“Ok. Aku kembali kekamarku dulu”

“Baiklah…”

Aoipun berjalan keluar dan sebelum pintu tertutup penuh, Aoi tersenyum sejenak lalu menutup pintunya. “Semoga saja rencana ini berhasil…”



Dua jam berlalu dan tanpa disadari jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Waktu yang sebenarnya kurang baik untuk jam makan malam. Namun, perutpun sudah memanggil. Setelah Alfred kembali, mereka bertiga makan bersama di ruang tengah kamar ini.

“Ne, Aoi…” panggil Kana. “Kamu yakin?”

“Hm?” Aoi hanya menatap Kana sejenak dengan makanan yang masih di mulutnya. “Kwenapwa?”

Kana hanya menghela nafas. “Aku kira kamu bakal membeli apa. Kenapa makan malam kita jadi serba ayam?”

Aoi kembali menatap menu makanan diatas meja. Ayam goreng. Cream sup ayam. Chicken Katsu. Chicken sauce. Aoi hanya diam dan kali ini dia menatap orang yang disebelahnya sedang makan dengan tenangnya.

“AL…!!” seru Kana ke Alfred.

“Habis Aoi memesan beberapa macam makanan yang tidak aku mengerti dan aku lupa. Jadi aku memesan ini. Lagipula ini enak kok!”

“Aoi, kamu lupa memberikan catatan ke Alfred ya?”

Aoi mengangguk pelan sambil meminum minumannya. Kana kembali menghela nafas karena sudah cukup pasrah dengan temannya yang tidak terlalu perduli dengan apa yang dia makan. “Kalian berdua… benar-benar deh…” ucap Kana dalam hati.

“Alfred, kamu tidak lupa dengan pesananku yang itu kan?”

“Tentu saja! Hero sepertiku tidak akan lupa dengan hal penting seperti itu!”

“…yang itu?” tanya Kana penasaran sambil melihat Alfred mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

“Ja-jaaang!! Ini kan?”

Alfred memberikan sebuah kotak hitam tipis ke Aoi dan terdapat sebuah tulisan yang cukup membuat orang merinding hanya dengan melihat tulisannya.

“Yap! Benar sekali!” jawab Aoi.

Kana yang duduk disebelahnya mencoba melihat dan cukup membuatnya ragu untuk kembali bertanya kepada temannya itu. “Aoi, kamu yakin?”

“Hmm? Kenapa?”

Kana kembali terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh Aoi. “Aoi, bukannya kamu sendiri takut main game horror seperti ini?”

“Tapi aku penasaran! Aku dengar dari Kiku kalau game ini sama seperti game yang pernah aku main sebelumnya. Bahkan gambarnyapun lebih bagus!”

Kali ini Kana dan Alfred hanya bisa saling menatap satu sama lain melihat Aoi yang begitu semangat dengan game barunya itu. “Ba-baiklah…” ucap Kana sambil membersihkan mulutnya dengan tisu. “A-aku kembali dulu ke-“

“Tidak boleh!” potong Aoi. “Kalian sudah berjanji akan menemaniku bermain game ini, bukan?”

“Ta-tapi..” Alfred yang sebenarnya antusias, hanya bisa menutup rasa ingin tahunya dengan ketakutannya. “Hari sudah malam. Sudah sebaiknya ak-“

“Tenang saja! Besok hari sabtu dan kita bisa tidur bersama-sama di ruang tengah, bukan? Ok! Ayo kita main!”

Kana dan Alfred hanya bisa diam dan mengikuti Aoi menuju ruang tengah sebelum Aoi berubah lebih parah lagi.



-pov kana start –



Jam di ruang tengah sudah menunjukan pukul 2 pagi, namun Aoi masih belum terlihat lelah. Dia masih antusian dengan permainan barunya, sedangkan aku dan Alfred hanya bisa teriak setiap monster-monster datang menyerang.

“Ne, Kana… Sampai kapan kita harus menemaninya bermain?” bisik Alfred ditelinga Kana sambil menutupnya dengan tangan besarnya, untuk menahan suaranya lebih kecil dan tidak terdengar oleh Aoi.

“En-entahlah, AL. Aku sendiri juga sudah ketakutan. Ba-bagaimana ini?”

Setelah layar berubah warna menjadi hitam dan tertera tulisan, “Game Over” , akhirnya Aoi mematikan mesin permainannya dan mengambil bantal disebelahnya.

“Ah! Payah! Kalah terus!” keluhnya. “Aku mengantuk. Aku tidur duluan, ya…” lanjutnya dan langsung menenggelamkan wajahnya pada selimutnya.

“A-Aoi…” kami hanya bisa diam menatap Aoi yang tertidur.

“Kejamnya! Dia tega meninggalkan kita ketakutan, sedangkan dia bisa tidur dengan tenang” sambung Alfred lalu menatapku. “Bagaimana ini, aku tidak bisa tidur…”

“A-aku juga…”

Kami berdua diam di tengah keheningan malam. Tubuhku lelah tapi kedua mataku tidak bisa tertutup sama sekali. Rasa takutku lebih besar dari pada rasa lelahku. Kulihat Alfred yang berbaring di sebelahku masih berkutat dengan telepon genggamnya.

“AL, apa yang kamu lakukan?”

Alfred menatapku dan memberi kode untukku untuk ikut berbaring. Aku mengikuti arahan tangannya dan kuambil bantalku untuk menjadi…

“Tidur disini saja…”

“Eh?”

Kulihat Alfred meluruskan lengan tangan kanannya. Aku kembali menatapnya dan Alfred mengangguk sebagai ganti jawaban dari pertanyaanku. Kuposisikan kepalaku diatas lengannya lalu kupeluk bantalku, menjadi pembatas antara aku dan dia.

Semakin lama aku menatapnya, semakin membuatku jatuh cinta padanya. Kurasakan deru jantungku yang berdetak cepat dan wajahku yang memanas. “Kana? Ada apa?”

“Ti-tidak ada” dalihku dan kututup wajahku dengan bantalku,

Tiba-tiba saja kurasakan tangan hangatnya menyentuh kepalaku dan terdengar suara alunan lagu mengisi kekosongan ruangan ini.

“Tidurlah…”

“Eh?”

“Untuk menghilangkan rasa takut, aku memutar beberapa lagu dari handphoneku dan… aku tahu kalau kamu baru bisa tidur kalau ‘begini’, bukan?”

Tangan Alfred terus mengusap rambut panjangku dengan lembut. Aku tersenyum dan mengangguk sebagai balasan dariku.

“Tidurlah, ya..”

“Ung!”

Kututup kedua mataku untuk menikmati kenikmatan malam ini. Aku yang mulai terbawa suasana, merasakan suatu gerakan dari ‘bantal’ yang kugunakan. Tangan Alfred dia gerakan mendekati tubuhnya dan mau tidak mau akupun semakin dekat dengannya dengan bantal yang kupeluk sebagai batasan. Aku hanya bisa tersenyum malu ketika merasakan gerak pelan tangan Alfred diatas kepalaku. Sepertinya dia juga sudah mulai tertidur.

Perlahan kubukan sebelah mataku dan kugeser sedikit bantal pelukku. Wajah Alfred yang tertidur sungguh manis. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, ‘Good night..., AL”



-end—

A/N: AKHIRNYA KELAR!! BWAHAHAHA… maaf ya Kana… hikz akhirnya baru ada idenya sekarang… hikz.. semoga kamu tidak membunuhku…hahaha…