Wednesday, August 31, 2011

you are my pet part 2

Tittle : you’re my pet
Characters:
Austria_P ( Roderich ) – Russia_M ( Ivan ) – Lithuania_M ( Toris )  - Italia_M ( Feliciano ) – Japan_P ( Kiku ) = China_M ( WangYao ).
Rat : M
Genre : Angst – Hurt/ Comfort
Desc: Himaruya Hidekazu
A/N :
^___^ menggunakan nama dari character  masing-masing dan ada beberapa perbedaan…
M ( master ) dan P ( pet ). Untuk apa? Akan dijelaskan didalam cerita. Ok~ mari kita mulai…
Pov :  Roderich
---start- part 2--

Masa lalu biarlah berlalu. Bagaimanapun situasinya, kita harus tetap bisa bertahan dan tabah dalam menghadapinya. Yakin pada suatu saat nanti, akan ada seberkah cahaya menyinari kegelapan hati dan pikiran kita.
Itu yang selalu aku pikirkan… sejak Ivan menjadi majikanku.
Keseharianku yang penuh kehangatan tergantikan dengan suasana dingin, sampai-sampai membekukan hati dan pikiranku. Masa kecilku memang keras, namun aku tidak menyangka sama sekali bahwa aku harus menghadapi keseharian yang lebih buruk. Bahkan untuk kesekian kalinya aku sudah pasrah akan hari esokku. Tapi aku sungguh beruntung masih ada seseorang yang mendukungku, walau aku merasa kasihan dengannya.
“Roderich!” langkah kaki tuan Ivan memasuki apartemennya. Aku yang masih setengah tidur di dapur segera berlari menuju pintu keluar untuk menemuinya, sebelum aku terkena masalah.
Kurang dari 2 meter menuju pintu keluar, tercium bau sesuatu yang aku kenal sekaligus tidak kusukai. Bau minuman keras yang disukai oleh majikanku. Kali ini Ivan datang dengan seseorang yang bertubuh lebih pendek darinya, rambutnya berwarna coklat-kekuningan dan lurus sebahu. Wajahnya sedikit terlihat ketakutan namun terkesan lembut dan menenangkan dibandingkan dengan Ivan.
“Roderich, ambilkan 2 gelas minuman ke ruang tengah! Satu gelas vodka dan.. Toris, kamu mau minum apa?”
“..ah, aku air putih saja”  ucap laki-laki bernama Toris.
“Kamu dengar itu, Roderich? Sekarang cepat kamu ambilkan, da~”
Tanpa sepatah katapun, aku langsung segera berlari menuju dapur dan mempersiapkan segala permintaan majikanku. Kutatap jam dinding dapur sejenak. Jam sudah menunjukan pukul 2 pagi. Kedua mataku masih terasa berat dan tubuhku masih terasa sakit. Tapi aku tidak bisa membantah sama sekali.
“Roderich, kenapa lama sekali?” seru Ivan dari ruang tengah.
Tubuhku terhentak dan segera berjalan sebelum Ivan marah padaku. Kuletakan perlahan minuman yang mereka pesan diatas meja, lalu duduk bersila dipojok pintu ruang tengah yang tidak jauh darinya.
Kulihat mereka berdua tertawa sambil menonton acara TV yang tidak aku mengerti sama sekali. Kurasakan tubuhku gemetar. Selain kedinginan, tubuhku sudah banyak menerima hukuman dari Ivan. Hukuman atas kesalahan ataupun tidak kulakukan sama sekali. Terkadang Ivan memukulku jika dia merasa kesal ataupun bosan. Jika sudah seperti itu, aku hanya bisa diam melindungi tanganku, menundukan wajahku dan membulatkan tubuhku. Aku sudah tidak tahu sudah berapa banyak luka yang membekas di punggungku.
“…rich! Roderich!!” tubuhku kembali terhentak seiring terbawa kantukku dan segera mendekati Ivan. “Kamu mengantuk?”
Tubuhku gemetar ketakutan dan mencoba mengangguk perlahan “M-ma-maaf… b-besok pagi saya ada kelas…ja-“
PLASH!!
Baju putih dan celana hitam satu-satunya basah oleh minuman Ivan yang disiramkannya padaku.  Aku segera membungkukan tubuhku dan meminta maaf. Bukan sebuah pengampunan yang kudapatkan, tapi kurasakan sebuah pukulan..ah tidak. Sebuah tendangan diberikan kearahku, yang cukup membuat tubuhku tersungkur dan aku semakin yakin akan ada bekas luka tambahan di perutku.
“Tu-tuan, ma-maafkan saya” pintaku yang masih menundukan kepalaku sampai menyentuh lantai.
“Bukankah kamu mengantuk? Aku hanya mencoba membantumu tetap terjaga saja, da~”
“Ma-maaf. Saya sudah tidak mengantuk lagi. Kumohon…”
Kurasakan nafasku terasa berat dan matapun mulai menitikan air mata. Beberapa pukulan masih dapat kurasakan, sampai ada suara seseorang yang menghentikan pukulannya. Saat kubuka mataku, laki-laki yang bernama Toris itu menahan tangan Ivan dan mengajaknya untuk duduk kembali.
Aku yang masih belum bergerak, kurasakan langkah kaki seseorang mendekatiku. Tangan lembutnya menarik wajahku dan mau tidak mau akupun menatapnya. “Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu…” ucap Toris dengan lembut. “Lebih baik lekas kamu mengganti pakaianmu sebelum kamu sakit. Untuk masalah Ivan, kamu tidak usah khawatir. Aku akan membawanya kedalam kamarnya. Istirahatlah..”
Selesai Toris berbicara, sesaat dia mengelus rambutku sebelum berjalan mendekati Ivan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya sebuah tangan diatas kepalaku. Tubuhku terasa panas dan detak jantungku berdetak cepat. Ingin rasanya aku kembali menangis, namun tentu saja tidak aku lakukan.
Aku yang masih tidak berani bergerak tanpa perintah, kulipatkan kedua kakiku di depan dadaku dan kulingkarkan ekorku untuk sedikit menghangatkan tubuhku. Tubuhku semakin gemetar kedinginan. Udara apartemen memang dingin, namun setelah disiram oleh Ivan, rasa dingin semakin memenuhi diriku hingga menusuk tulang.
“Roderich!” seru Ivan sambil berjalan ke arahku bersama dengan Toris. “Aku mau kembali ke kamar. Rapikan ruangan ini dan aku tidak mau melihat masih ada barang berantakan besok pagi!”
Aku mengangguk dan kudapati sesaat senyum Toris kearahku. Sedikit aku bisa bernafas lega dan segera merapikan gelas minuman yang dipakai oleh mereka, termasuk air yang berceceran atas hukumanku. Setelah selesai semuanya, aku kembali kedapur untuk segera menjemur pakaianku lalu pergi tidur.
Dapur adalah ruang untuk memasak, tetapi untukku dapur adalah ruang paling aman dan menenangkan. Lebih tepatnya sebuah sudut yang tidak jauh dari pintu ruangan dapur adalah ruang untukku beristirahat dari kecemasan atas majikanku. Jika mengingat-ingat kembali, ketika Elizabeta masih menjadi majikanku, aku masih diberikan kebebasan untuk dapat tidur bersama-sama dengannya. Diruangan yang hangat dan menenangkan. Ya, sudah tidak seharusnya aku menggerutu. Tidur beralaskan sebuah selimut tipis yang sebagian aku lingkarkan ke tubuhku, merupakan fasilitas terbaik jika dibandingkan dimasa kecilku.
Waktu sudah menunjukan pukul 4 pagi, dengan kata lain aku hanya bisa tidur dalam waktu 2 jam, lalu bangun kembali untuk menyiapkan sarapan. Jika aku sampai terlambat, aku sudah tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan Ivan berikan lagi kepadaku.

---ooo---

Tanpa tidur yang cukup, aku terus meneruskan aktivitas keseharianku. Kusiapkan sarapan, membersihkan diriku lalu menunggu dengan sabar di sudut dapur sampai Ivan mengizinkanku untuk melanjutkan aktivitas di luar apartemennya. Pagi ini Ivan terlihat tenang, namun ada masalah yang cukup membuatku semakin malu dengan diriku sendiri.
“Roderich” Ivan memanggilku di tengah dia menyantap sarapannya. “Jam berapa kamu mengajar?”
“Jam 10, tuan” jawabku singkat.
“Hmm…” dia bergumam sejenak lalu menatapku dan mengatakan hal yang membuat tubuhku terhentak. “Mulai hari ini kamu harus memakai kalung rantaimu ketika kamu keluar dari apartemen ini, da~. Ivan meletakan sebuah kalung berantai disebelah piring makannya.
“A-apa..?” Aku hanya bisa menatap majikanku dengan penuh pertanyaan.
Bagi manusia sepertiku, memakai kalung berantai didalam lingkup pengawasan adalah suatu keputusan dari seorang majikan. Tetapi jika didalam lingkungan umum, kami bebas untuk memilih apakah akan menggunakan kalung tanda pengenal tersebut atau tidak. Walau tidak jarang ada beberapa majikan yang memaksa.  
Sebenarnya menggunakan tanda pengenal adalah hal terpenting bagi kami. Tetapi memakai kalung berantai di luar pengawasan, sama saja dengan menunjukan bahwa kami adalah peliharaan yang buruk.  
“Ta-tapi tuan, bukankah suatu kebebasan jika saya tidak meng-“
Ivan langsung menatapku tajam, berdiri mendekatiku, menarik kerah kemejaku lalu melemparku. “Kamu mau melawanku?!”
“Ti-tidak tuan” tubuhku langsung gemetar ketakutan. Tanpa kusadari wajahku mulai memanas.
“Kamu benar-benar kucing yang nakal, Roderich! Apakah pengajaranku selama 3 bulan masih kurang untukmu, da~?
Tidak, tuan. Maafkan aku. Maafkan aku…”
Hanya kata maaf yang dapat aku keluarkan dari mulutku. Ivan kembali mendekatiku, menarik kerah bajuku dari belakang, lalu mendorongku hingga membentur meja dapur. Tubuhku membelakanginya, Ivan langsung menahan tangan kiriku dan menempelkan kakinya diantara kedua kakiku. Kudengar suara Ivan membuka celananya dan semakin mendekatiku. Tubuhku yang hanya tertutup kain putih di bagian depan, dengan mudah dia memasuki diriku tanpa persiapan apapun.  
Sakit. Sakit sekali. Kukeratkan tanganku pada pinggir meja untuk menahan sakit, seiring Ivan terus memaksa dirinya memasuki diriku. Aku terus memohon tetapi sepertinya Ivan semakin menikmatinya. Air mata semakin membasahi wajahku atas perlakuan yang tidak wajar ini.
“He-hentikan… jangan lanjutkan, tuan…” isakku sambil menatapnya dari sudut bahu kanannya.
Kedua tangan Ivan berada di pinggangku dan kurasakan tubuhnya yang terus menghantamku. Kukepalkan tangan kiriku, memukul-mukul meja yang menempel dengan tubuhku dan mengertakan gigi, untuk menahan rasa sakit yang semakin tidak bisa aku tahan.
“Tu-tuan I-ivan…kumohon… hentikan...”
“Tentu tidak, da~ Kucing nakal harus di beri hukuman…”
“Kumohon, tuan. A-aku sudah tidak kuat…”
Ivan tidak mendengarkanku sama sekali. Kutahan suaraku dengan telapak tangan kananku, dan sampai akhirnya kurasakan sesuatu yang mengalir kedalam tubuhku. Ini bukan hal pertama kali bagiku, namun tubuhku tetap tidak bisa menerimanya.
Ketika Ivan melepaskan dirinya, aku langsung jatuh tersungkur sambil memegang perutku. “Roderich, padahal kamu sudah sering melakukan ini denganku, aku kagum denganmu yang tetap terasa ‘sempit’, da~”. Kudengar suara tawa Ivan sambil  merapikan pakaiannya lalu berjalan menuju pintu keluar. “Roderich, rapikan meja dan ruangan ini sebelum kamu pergi. Aku tidak mau ketika aku pulang, ruangan ini masih berantakan seperti ini,da~”
Setelah Ivan keluar dari ruangan, kusadari air mataku semakin membasahi wajahku. Aku sudah tidak tahan dan ingin kabur dari apartemen ini. Namun… siapa yang dapat menolongku? Kelompokku? Tidak mungkin. Aku tidak mempunyai banyak teman dan manusia seperti kami tidak berani melawan manusia yang menjadi majikan kami..
Atau… berharap akan ada seseorang yang merawatku? Itu hanyalah sebuah impian belaka. Tidak mungkin akan terjadi. Tidak ada seorangpun yang ingin memelihara peliharaan yang sudah tua, terlebih mempunyai tubuh kotor sepertiku.

-ooo-
Tanpa memperdulikan rasa sakit disekujur tubuh, dengan cepat kubersihkan diriku dan bersiap untuk melanjutkan aktivitasku. Perasaan kacau didalam pikiranku ketika berhadapan dengan sebuah kalung yang berada diatas bantal milikku. Akhirnya aku memilih untuk melingkarkan kalung itu pada leherku lalu segera berjalan menuju kampusku.
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Banyak pandangan sinis ataupun rasa kasihan dengan penampilanku saat ini. Sekujur tubuhku yang penuh luka, sudah tidak bisa kututupi dengan kemeja tangan panjangku ataupun masker penutup mulut. Bahkan syal tebal yang kulingkarkan pada leherku tetap mengundang banyak perhatian setiap orang yang aku lewati.  
Kelas musik di pagi hari menjadi awal yang menyenangkan bagiku. Biasanya aku selalu duduk didepan dengan penuh antusias. Tapi kali ini aku lebih memilih untuk duduk di baris paling belakang agar tidak semakin banyak mengundang perhatian dengan penampilanku seperti ini.
Disaat yang bersamaan, kelas musik menjadi kelas yang ingin segera kuhindari. Sebelumnya banyak yang merasa bangga akan kehadiranku atas kemampuan permainan musik piano dan biolaku. Ketika aku memakai kalung ini, suasan kelas berubah 180 derajat. Semua manusia, termasuk guru yang mempercayaiku, menatapku dengan pandangan sinis, sedangkan kaumku hanya merasa kasihan melihat penampilanku yang semakin kacau balau.
Bagaimana tidak. Tubuhku semakin terlihat kurus dengan pakaian biruku. Bulu ekor dan kedua telingaku semakin berantakan, bahkan beberapa di antaranya terdapat bekas luka yang mengering. Jangankan untuk menyentuh, mendekatikupun sepertinya sudah tidak ada yang berani lagi.

Setelah 2 jam berlalu, dengan segera aku berjalan keluar dari lingkungan kampus menuju tempatku bekerja. Sebuah swalayan kecil yang tidak terlalu jauh dengan apartemen majikanku. Feliciano, nama pemilik swalayan kecil ini. Walau umurnya lebih muda dariku, dengan terampil Feliciano merawat dan membesarkan swalayan ini. Dari sekian banyak manusia yang aku temui, Feliciano adalah salah seorang diantara mereka yang tidak memandang siapapun berdasarkan status. Akupun dapat bekerja atas kebaikannya.  
“Roderich” panggil Feliciano ketika aku baru saja selesai menyusun beberapa barang. “Boleh kita berbicara sebentar?”
Aku mengangguk pelan. Kuletakan box berwarna biru disebelah lemari pendingin lalu bergegas menuju ruang kerja Feliciano.
“Ya, tuan?” ucapku perlahan sambil memasuki ruangannya  tanpa membuat banyak kebisingan.
“Mendekatlah” Feliciano tersenyum lembut dan mempersilahkanku untuk duduk di sebelahnya. Sebelumnya Feliciano tidak pernah memanggilku seperti ini.
Jangan-jangan… apakah dia takut padaku? Atau dia akan mengeluarkanku dari sini setelah melihat kalung yang aku pakai?’ cemasku.
“Roderich… maukah kamu menjelaskan padaku…” kurasakan jantungku berdetak cepat. “…ada apa dengan lukamu?” Feliciano menarik tangan kananku dan menatapnya. “Mengapa lukamu semakin banyak?”
Untuk beberapa saat, aku bisa bernafas lega. Tapi aku tetap merasa takut untuk menjelaskan kebenaran yang aku alami. Tanpa sepatah kata, kutarik tanganku dari genggaman Feliciano dan menyembunyikannya dibalik jaket yang aku gunakan. “Maaf, tuan. Sepertinya saya harus kembali bekerja” ucapku terburu-buru.
“Roderich, tunggu sebentar” Feliciano mendekatiku dan memberikan sebuah kartu berwarna putih – merah. “Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakan masalahmu padaku. Kuharap kamu tidak memendam masalahmu sendirian. Itu bisa berakibat buruk untuk dirimu sendiri.” Feliciano menepuk pundakku dengan lembut.  “Ah, ya. Mereka adalah dokter-dokter kenalanku. JIka kamu masih ada waktu, pergilah kesana dan obatilah luka-lukamu”.
“Ta-tapi..”
“Tenang saja” potong Feliciano. “Untuk masalah biaya, kamu tidak perlu khawatir. Mereka bukan tipe dokter yang haus akan uang.” Feliciano kembali tersenyum padaku, seakan-akan memberikan suatu kekuatan kepercayaan atas pernyataan yang dia berikan.
“Selain itu, kamu cukup menyebutkan namaku. Maaf jika aku sudah mengganggumu. Beberapa saat lalu, aku menceritakan keadaanmu dan mereka tergerak untuk mengobati luka-lukamu. Kuharap kamu bisa menemui mereka dan membiarkan luka-lukamu mendapatkan perawatan yang terbaik”
Tidak ada satu kata keluar dari mulutku selain menatapnya dengan kagum dan rasa bangga mengenal seseorang yang berhati mulia.
“Janjilah padaku, Roderich. Janji bahwa kamu akan pergi menemui mereka. Walau hanya sekali”
Feliciano berjalan keluar setelah memberikan penjelasan singkat dan meninggalkanku sendirian di dalam ruangannya. Aku masih diam berdiri menatap kartu pemberiannya dan membaca nama yang tertera di kartu tersebut. “Dokter…Kiku dan dokter WangYao”.
Aku menelan ludahku dan menghela nafas sejenak. Penuh pertanyaan dan keraguan dalam pikiranku.
“Tuan Feliciano adalah seorang manusia… sedangkan aku, berdarah setengah manusia dan kucing…” gumamku dalam hati. “Apakah temannya bisa menerimaku seperti dirinya?”
Kumasukan kartu nama tersebut ke dalam sakuku dan menatap jam dinding diruangannya. “Jam 4 sore”. Masih tersisa 2 jam sebelum Ivan kembali ke apartemennya. Kuputuskan untuk mendatangi dokter tersebut dan berharap luka-lukaku tidak akan semakin sakit, seiring Ivan senang sekali mengajakku ‘bermain’.

---end part 2 ---
A/N:
Haaaii~ segini dulu ya… T_T maaf~ daku gak tega menyiksa Roddy lagi~ hikz *dtabok hungary

R n R please ? 

No comments:

Post a Comment