Thursday, October 28, 2010

one week for all -shishinchoutan-

------00explanationz00-----

Des: Konomi-sensei (tambah cakep ja >< -dtendang keluar-)

Rat: M

TimeLine: liburan kenaikan (untuk angktn kls 3-kuliah ; kls 2 – kls 3 ; kls 1- kls 2)

Charaters: no main characters!

Info: kali ini cerita na merupakan kumpulan seluruh pasangan yang aku suka ^^ hehehe.. jadi pasangan2 yang ada sesuai dengan pasangan yang biasa di’perlihatkan’ dalam kesehariannya.. no crossing... (maaf kalo ada yang suka crossing)... namun.. akankah ada ending na?? (author dudutz)

Song: ...

--hari pertama_sesampainya di pulau_sekilas sebelumnya—

Perjalanan dari kota menuju Pulau milik Atobe memakan waktu 4 jam. Sepanjang perjalanan terlihat siapa sajakah yang kuat bertahan dalam menghadapi perjalanan dengan kapal maupun menghadapi angin laut yang tidak bersahabat itu. Wajah-wajah yang biasanya terlihat tegas terlihat banyak bertumbangan ataupun bersikap tidak seperti biasanya saja, dan salah satunya adalah Atobe sendiri. cuaca hari ini memang buruk sekali. Angin bercampur air menjadi satu menghantam kapal milik Atobe sehingga gerak kapalpun menjadi tidak seimbang dan membuat seluruh penghuninya menjadi mabuk.

Setelah sampai, dengan dibantu oleh Shiraishi dan Yukimura, akhirnya masing-masing dari pasangan diberikan sebuah kunci untuk memasuki villa masing-masing mereka yang letaknya berbeda-beda. Walaupun bagi Atobe hanyalah sebuah kamar, namun bagi mereka semua itu adalah villa ataupun pondok kecil.

Pengumumanpun diberikan dan banyak yang tidak terlalu mendengarkan. Yukimura dan Shiraishi dibantu dengan beberapa petugas memberikan kunci dan selembar kertas mengenai jadwal acara mereka. Untuk jadwal pertama, mereka diberikan kesempatan untuk beradaptasi ataupun mengelilingi sekitar pulau. Lalu untuk acara berikutnya, mereka harus berkumpul di ‘aula’ utama gedung mereka berkumpul sekarang tepat jam 9 pagi.

----start_ShishidoChoutaro----

Pov Choutaro

Kagum. Senang. Terpukau. Bahagia. Bangga. Itu semua yang bisa aku katakan dari seluruh apa yang sedang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan. Tempat dimana kami bisa beristirahat berhadapan langsung dengan pantai. Ruangan satu lantai dengan peralatan yang lengkap dan jendela yang terbuka lebar membuat angin malam terasa menyejukan. Tidak ada yang bisa aku katakan selain bahagia.

“Choutaro... Rapikan dulu barang-barangmu, baru terpukau dengan pemandangan sana...” Shishido yang tadi membantuku membawa tas makananku, mengingatkan atas perlakuanku yang masih seperti anak-anak ini.

“Ah, maaf Shishido-san” ucapku malu sambil mengambil tas dari tangannya. “Atobe buchou memang hebat! Desainnya bagus dan minimalis...”

“Selain itu...” sambung Shishidosan sambil meletakan jaket diatas tempat tidur. “Dia itu terlalu kaya atau bagaimana sih?! Pondok seperti ini dia katakan KAMAR?! Benar-benar tidak masuk akal!”

Aku tertawa mendengar keluhan mantan pasangan doublesku itu. Keluhanya memang benar. Ruangan satu lantai lengkap dengan kamar mandi, dapur kecil dan tempat tidur dan dibangun secara terpisah ini, dikatakan oleh Atobe-buchou dengan sebutan kamar. Besar kamarku memang hampir sebesar ini, namun aku tidak pernah menyangka akan ada yang dibangun secara terpisah dan lengkap dengan berbagai macam peralatannya.

Setelah selesai merapikan barang-barangku, aku melepas lelah dengan merebahkan tubuhku diatas tempat tidur berukuran doubles ini. Empuk, lembut dan nyaman. Itulah yang bisa aku jelaskan mengenai tempat tidur ini. Aku mengambil salah satu bantal dan memendamkannya pada wajahku. “Empuknya...” seruku sambil sedikit berguling-guling.

“Ya ampun, Choutaro...” keluh Shishido-san dan mengambil bantal yang aku pakai itu. Kusadari bahwa dia berada diatasku. “Sampai kapan kamu mau menghancurkan tempat tidur yang sudah tertata rapi ini?”

Kurasakan wajahku memanas. “A-Aku hanya merasa senang saja kok. Tidak lebih...” aku membalikan tubuhku untuk mencoba bangun, namun tubuh Shishido-san menahanku dari atas. “Shi-shishido-san...”

Wajah dan tubuh kami saling berhadapan. Tangan dingin Shishido-san mulai menyentuh kulit wajahku perlahan dan kamipun saling bertatapan. “Choutaro... bolehkah...?”

Detak jantungku berdetak cepat dan nafasku mulai tertahan. Aku mengangguk perlahan dan tidak lama kemudian bibir kamipun bersatu. Perlahan-lahan tangan dingin Shishiro-san mulai membuka kancing kemeja biruku. Akupun dengan tangan kiriku memegang bahu Shishido-san sebagai peganganku.

Dar! Dar!

Pandangan kami langsung tertuju pada arah jendela kamar kami. Kembang api pun diluncurkan. Warna-warni yang indah menghiasi langit malam. Mataku langsung tertuju sehingga tidak memperhatikan bahwa Shishido-san yang masih saja menyentuhku. “Shishido-san! Lihat!” ucapku tanpa mengalihkan pandanganku sama sekali.

Shishido-san dengan tangan satunya memegang kepalanya dan berkata, “Ya ampun, Choutaro. Itu hanya kembang api...”

“Indah sekali, ya” rasa antusias tidak bisa aku tutupi sama sekali. Aku yang biasanya hanya bisa melihat kembang api setahun sekali dari kejauhan ataupun bermain dengan ukuran kecilnya, kali ini bisa melihat acara kembang api dari dekat dan tidak tertutup oleh halangan apapun.

“Kamu mau lihat dulu?”

“Tidak apa-apa?” tanyaku penuh harap. Kulihat wajah Shishido-san yang memerah, melihatnya itu membuatku merasa senang,

“Ya. Ayo kita lihat dulu diberanda...” Shishido bangun dan merapikan kemeja hitamnya. “Kamu duduk disana dulu, akan aku ambilkan sesuatu untuk dimakan”

Kembang api yang besar dan penuh warna-warni membuat perasaanku menjadi berdebar-debar. Entah mengapa debaran ini tidak berhenti bahkan semakin cepat ketika ada kembang api yang saling menyatukan warna satu dengan warna lainnya. “Hey, Choutaro!” Shishido-san menepuk kepalaku. “Kamu tidak mau masuk angin karena kamu terlalu lama membuka mulut, kan?”

“Ah...”

Aku benar-benar merasa malu pada Shishido-san. Dengan cepat aku langsung menutup mulutku dan menunduk malu. Tangan kasar Shishido-san kembali mengelus kepalaku dan menyandarkannya pada bahunya. Tubuhnya sekarang semakin tinggi dan tatapan kami semakin lama semakin mendekati, walau tubuhku masih lebih tinggi dari padanya.

"Shishido-san lihat!" Aku menunjuk pada kembang api lambang sekolah-sekolah yang pernah aku lihat. Seigaku. Hyoutei. St Rudolph. Rikkai, dan masih beberapa sekolah yang tidak aku kenal. Saat bendera Hyoutei tergambar dilangit, perasaanku tiba-tiba memanas. Entah perasaan apa yang membuatku semakin bersemangat.

"Atobe memang kebanyakan uang" keluh Shishido-san sambil meminum minumannya. "Aku penasaran, sejauh manakah idenya bisa mengatur acara ditengah kesibukannya itu?"

"Atobe-buchou memang hebat" kagumku yang masih terpaku dengan peluncuran kembang api. "Padahal kalian sibuk dengan mengurus pendaftaran universitas kalian, tetapi masih saja..." Kata-kataku terhenti seiring tidak ada lagi kembang api yang bermunculan. "Yah... Habis?"

Shishido-san menggeleng padaku. "Kamu ini..!!" Kali ini dia kembali mencubit pipiku. "Kamu itu kelas berapa sih? Masih suka saja sama kembang api?!"

"Biarin!" Balasku. "Habisnya kembang api kan bagus! Selain itu jug-" ciuman Shishido-san menghentikan perkataanku.

"Jadi, lebih penting kembang api dari pada aku?"

"Ti-tidak..." Panikku. "Shishido-san lebih penting. Hanya saja..." Aku benar-benar kehabisan kata! Aku hanya bisa membuka mulutku tanpa mengeluarkan sedikit suara dari mulutku.

Shishido-san menepuk pundakku dan menarikku kedalam pelukannya. "Sudahlah... Tak apa kok..." Kami saling bertatapan dan akupun tertawa kecil. "Ada apa?"

Aku memalingkan mukaku sejenak dan merebahkan tubuhku sambil memeluk guling. "Habis wajah Shishido-san lucu..."

"Lucu?" Shishido-san terlihat sedikit marah namun aku tahu bahwa dia hanya bercanda padaku. "Aku itu tidak lucu, Choutaro!". Shishido-san langsung mendekatiku dan memelukku.

"Shi-shishido-san!" Tubuhnya dia dekatkan padaku sehingga aku berada dibawahnya. Kurasakan detak jantungku berdetak cepat dan wajahku yang mulai memanas.

"Choutaro..." Kami saling bertatapan dan bibir kamipun saling bersentuhan. Seluruh tubuhku terasa panas dan Shishido-san membimbingku hingga tanpa kusadari tubuh Shishido-san sudah berada diatasku. Salah satu lengannya menahan berat tubuhnya dan tangan kanannya menyentuh wajah panasku.

"Choutarou..." Lirih Shishido-san sesaat sebelum kembali menciumku. Kututup kedua mataku hingga akhirnya kulit lembut Shishido-san terasa olehku. Manis.

"Shishido-san..." Shishido-san bergumam sebagai ganti jawaban karena sibuk menenggelamkan wajahnya pada leherku. "Aku..." Belum selesai aku melanjutkan kata-kataku, mulutku sudah terbuka lebar dan kedua mataku mulai berair.

"Choutaroooo" kedua pipiku kembali dilebarkan oleh Shishido-san. "Jangan tidur dulu..." Paniknya.

"Ta-tapi aku mengantuk..." Kuambil guling yang menjadi sandaranku untuk menutup wajahku.

Shishido-san menghentikan aktivitasnya dan mata kami saling bertemu. "Choutaro..."

Aku langsung bangkit dan menundukan kepalaku dalam-dalam. "Maafkan aku, Shishido-san"

Tangan lembut Shishido-san membelai rambutku dan menarik kepalaku kedadanya itu. "Tidak apa-apa... Aku mengerti..."

"Maafkan aku..."

"Ya..." Kurasakan dia mengangguk padaku. "Maafkan aku juga kalau sudah memaksamu dan sudah seharusnya aku tahu kalau kamu takut..." Tubuhku mengerjap karena Shishido-san langsung mengangkat topik yang menjadi alasan penolakanku. "Seharusnya aku menyadari kalau kamu belum siap untuk-"

"Tidak" potongku. "Ini salahku karena aku... Aku..."

Shishido-san mengangkat wajahku sehingga kami saling bertatapan dan diapun tersenyum padaku. "Tidak apa-apa, Choutarou..." Dengan cepat dia kembali mencium pipiku. "Ayo kita tidur. Besok kita sudah harus bangun pagi dan aku tidak mau mendengar ocehan Atobe jika kita sampai terlambat mengikuti acaranya..." Keluhnya sambil melemparkan tubuhnya disampingku.

Aku tersenyum dan ikut berbaring diatas tempat tidur ini, tentunya dipelukan Shishido-san. "Ya... Besok akan aku bangunkan Shishido-san..."

Seperti biasa, dia memalingkan wajahnya padaku. Mukanya kembali memerah. "Te-terima kasih..."

----endchoutanshishin----

Hai ^^ akhirnya kelar juga..

Rasa na udah lama sekali nggak u-date ><><>

Shishin: aoryu!!!!

Ao: hmm? Knp ?

Shishin: kok buat na nanggung banget sigh?!

Ao: huh?? Oooh... lagh... bukan na dah tau?? ^^ hehehehehe.. kalo mang pengen, kenapa nggak langsung narik ja tu sekarang? (ps: choutan na lagi bobo)

Shishin: ...

Ao: tuhkan... *senggol* ya sudah ^^ berikutnya giliran siapa ya? *cari mangsa n dah keburu di bakar*

Please ur comment n review ^^


prev: one week for all -tezukafuji-

one week for all -tezukafuji-

Huaaa... ^^ banzai!! ^^/

Tidak disangka sama sekali! di hari pertama nulis langsung 2 chapter! ><>

Lalu.. terima kasih banyak yang belum apa-apa udah kasih repew.. ^^ hehehe...

Untuk masalah pairing na... maaf ya kalo ada yang anegh, gak berkenan atau.. ya.. begitu lah.. ><>

Karena.. karena...karena..karena... hueee... T_____T

AKU kan AUTHOR na SANAYUKI ... hikz....

Dan mau tak mau ak harus menahan diri untuk tidak membuat mereka dulu karena kalau tidak ak pasti bisa melupakan yang lain.. huee.... misalkanpun aku tulis sanayuki, hanya sedikit dan selingan.. hue... sedihnya..(kok jadi curhat??)

Ok.. sekian dulu ya ^^ silahkan dibaca...

------00explanationz00-----

Des: Konomi-sensei (tambah cakep ja >< -dtendang keluar-)

Rat: M

TimeLine: liburan kenaikan (untuk angktn kls 3-kuliah ; kls 2 – kls 3 ; kls 1- kls 2)

Charaters: no main characters!

Info: kali ini cerita na merupakan kumpulan seluruh pasangan yang aku suka ^^ hehehe.. jadi pasangan2 yang ada sesuai dengan pasangan yang biasa di’perlihatkan’ dalam kesehariannya.. no crossing... (maaf kalo ada yang suka crossing)... namun.. akankah ada ending na?? (author dudutz)

Song: ...

--hari pertama_sesampainya di pulau—

Setelah sampai, Atobe langsung mengumumkan kepada seluruh anggota yang ikut untuk memasuki villa utama karena hari semakin buruk. Atobe yang didampingi oleh Kabaji mulai terlihat aneh. Pucat dan tidak semangat. Ada beberapa peserta lainnya yang mulai mencemaskan keadaan Atobe. Namun seperti biasa, Atobe tidak ingin acara yang dibuatnya itu menjadi berantakan.

Atobe dengan dipapah oleh Kabaji, mulai berbicara didepan mereka semuanya. “Kalian semua, selamat datang di villa Atobe-sama. Karena hari semakin sore dan cuaca yang sepertinya akan hujan, ore-sama sarankan untuk segera memasuki kamar sekalian. Untuk acara selanjutnya, besok jam 9 pagi kalian semua berkumpul disini. Dan selanjutnya...”

Kali ini Yukimura dan Shiraishi berdiri didepan Atobe. Yukimura mengambil kertas dari dalam sakunya. “Masing-masing pasangan akan diberikan kunci oleh petugas yang berada disebelah kanan kalian. Jika ada keperluan ataupun kekurangan, kalian bisa menghubungi petugas melalui telepon yang terdapat dikamar masing-masing ataupun menghubungi petugas yang sudah memberikan kunci kepada kalian”

“Lalu...” sambung Shiraishi. “Karena Atobe sedang tidak enak badan, untuk saat ini kalian semua diberikan kesempatan untuk mengelilingi daerah sekitar sini. Tetapi jangan bermain didekat pinggir pantai! Cuaca yang buruk bisa membawa dampak yang buruk juga. Jadi, aku harapkan kalian untuk berhati-hati” Shiraishi menutup kertas catatan dari Atobe dan mengembalikannya pada Yukimura.

Atobe bangkit berdiri sejenak dan kembali memberikan pengumuman. “Baiklah. Kalau begitu, kalian boleh meninggalkan tempat ini dan segera mendapatkan kunci kamar kalian. Untuk keperluan pakaian dan lainnya, semua itu sudah tersedia didalam kamar masing-masing. Tidak perlu khawatir, karena disini ada tempat khusus peminjaman pakaian untuk kalian semuanya...”

“Kabaji” panggil Yukimura. “Sebaiknya kamu segera bawa Atobe kedalam. Mukanya semakin pucat”

“Usu” Kabajipun memegang bahu Atobe dengan lembut dan membimbingnya menuju kamar paling atas digedung tempat mereka sekarang. Setelah Atobe pergi, seluruh anggota yang dibantu oleh Yukimura, Shiraishi dan petugas lainnya, diberikan kunci masing-masing dan sedikit pengarahan mengenai kamar mereka.

----start_FujiTezuka----

Pov Tezuka

Sekitar 4 jam kami terombang-ambing diatas laut, akhirnya kami sampai disebuah pulau yang aku sendiri tidak tahu ada dimana. Dari tempat kami, pemandangannya sungguh indah! Pasir putih bersih, laut biru yang jernih, pemandangan indah dan udara pantai yang khas membuat suasana semakin menyenangkan.

Setelah sampai, Atobe kembali mengumumkan mengenai keadaan pantai ini. Dengan bantuan beberapa pekerja, kami diberikan sebuah kunci kamar disekitar sini. Aku melihat sekeliling dan ternyata bentuk villa yang dimaksud seperti sebuah pondok-pondok kecil dan sederhana, namun tetap menunjukan elegannya. Memang ciri khas Atobe!

Tanpa membuang waktu, aku langsung membawa Fuji ke villa tersebut karena penyakitnya tersebut, mabuk laut. Hingga sampai disini, raut wajahnya masih terlihat pucat dan aku tidak mau kalau sampai adiknya, Yuuta, dan keluarganya memarahiku hanya karena keegoisan Fuji yang tidak mau masuk kedalam dan memilih menerpa angin laut.

Aku membantu membawa bawaan Fuji yang tidak terlalu banyak. Memang acara ini diadakan dadakan. Namun aku tidak menyangka sama sekali bahwa Atobe merencanakan acara seperti ini. Kami semua diberikan waktu hingga besok pagi karena dia ingin beristirahat sejenak. Ya... Mau bagaimana lagi, akupun tidak bisa berbuat apa-apa ditempat yang tidak aku kenal seperti ini.

“Fuji, kamu tidak apa-apa?” tanyaku sambil meletakan tasnya didekat tempat tidurnya. Ruangan yang cukup luas, terdapat sebuah dapur kecil dan dua buah tempat tidur berukuran single extra.

“Tezuka...” Fuji bergumam pelan sambil menenggelamkan wajahnya pada bantal putih. “Aku pusing...”

“Itu salahmu sendiri. Kenapa kamu berani menantang angin laut?!” keluhku dan mencari peralatan obat-obatanku. Fuji masih saja melingkup tubuhnya. “Fuji, minumlah” aku memberikan segelas air dan sebutir obat padanya.

Fuji masih diam saja tanpa gerak. Aku semakin malas dan mulai terpancing emosi. Akhirnya aku putuskan untuk memberikan obat dengan caraku sendiri. Kutarik wajahnya, dan akupun mentransfer obatnya melalui mulutku. “Huk.Huk” Fuji terhentak sehingga obat yang aku berikan masuk dengan terpaksa. “Tezuka! Aku tidak mau minum obat!” keluhnya.

“Aku tidak mau kalau penyakitmu itu semakin bertambah parah lagi” bantahku dan meletakan gelas bekasnya diatas meja. “Ya sudah, istirahatlah” ucapku lagi.

Baru saja aku mau mengambil tasku, Fuji langsung saja menarik bajuku dari belakang dan mau tidak mau aku kehilangan keseimbangan, tepat terjatuh diatas tempat tidurnya. “Duh! Fuji!” keluhku. Kubuka mataku dan kusadari bahwa wajah Fuji berada diatas wajahku.

“Selamat datang” sambutnya.

“Hah?” aku yang masih bingung dengan keadaanku, dengan lembut Fuji mendekatkan wajahnya padaku. Kulit lembutnya yang hangat menyentuh pipiku dan diapun ikut berbaring disebelahku.

“Langitnya bagus, ya” ucapnya sambil menatap langit yang semakin berubah warna menjadi kemerahan. “Ne, Tezuka...” aku bergumam sebagai ganti jawaban. “Bolehkah aku?”

Aku menatapnya sejenak dan mengangguk perlahan. Kulihat raut wajahnya yang mulai memerah. Kutarik tangannya dan kubiarkan dia terjatuh dipelukanku. Perlahan aku kembali mendekatkan wajahku dan mencium bibir lembutnya. Dia membiarkan aku melakukannya hingga dapat kurasakan nafasnya yang semakin berat.

Kesadaranku sepertinya mulai menghilang. Tangan kananku menahan tubuh Fuji, sedangkan tangan kiriku mulai melepaskan kemeja biru laut yang dia gunakan. Semakin lama aku menciumnya, nafas dan detak jantungku semakin terasa berat. “Fuji...” aku memanggil namanya sesaat sebelum melanjutkannya lebih dalam lagi. “Apa kesehatanmu sudah membaik? Aku tidak mau kalau kamu sampai...”

“Tezuka...” balasnya dan mendekatkan kepalanya didadaku. “Apa kamu mau berhenti sampai disini?” Nada suaranya seperti memelas. “Aku tidak mau kalau hanya berakhir seperti ini...”

“Ya...” aku membelai rambut coklatnya itu dan menarik wajahnya kembali. Dalam hitungan detik, aku sudah berada diatasnya. Tangan kanannya aku tahan dan aku mulai kembali menyentuh seluruh tubuhnya hingga kebagian bawah. Kulihat raut waja Fuji sedikit meringis. “Fuji, kamu tidak apa-apa?”

“Ung” jawabnya. “A-aku hanya merasa geli...” Fuji tersenyum dan melingkarkan tangannya pada leherku. “Mitsu, aku sayang kamu...”

“Aku juga” jawabku singkat dan kembali pada pekerjaanku.

Aku kembali mencium tubuhnya yang putih itu hingga tertinggal tanda berwana kemerahan. Tanganku yang terbebas kugunakan untuk memulai melepaskan celana yang dia gunakan hingga selutut dan mulai menyentuh miliknya itu. Dari mulunya perlahan terdengar erangan dan desahan.

“Mit-Mitsu...” Fuji memalingkan wajahnya sambil menahan geli, tangan kanannya aku kaitkan dengan jariku dan tangan kirinya meraih bantal didekatnya. “Mitsu...Mitsu...” suaranya mulai bercampur dengan desahan.

Tanpa membuang waktu, perlahan aku melepaskan pakaianku dan mendekatkan tubuhku dengan kulitnya yang mulai sensitif. Tidak lama kemudian, aku merasakan genggaman tangannya yang semakin erat dan diikuti oleh tanganku yang menjadi basah. “Syuusuke, kamu sudah duluan rupanya...”

“Maaf...”

“Tidak perlu minta maaf” aku kembali menciumnya dan mulai menahan kaki satunya. Perlahan aku mulai memasuki tubuhnya yang kecil itu.

“Mitsu! Sa-sakit...” airmatanya mulai membasahi wajahnya.

“Tahanlah sedikit, ya...” Fuji mengangguk pelan. Aku terus memasuki tubuh kecilnya itu hingga mencapai batas.

“Akh! Mitsu...” erangnya dan nafasnya mulai tersenggal-senggal.

Aku membiarkan ini sejenak agar tubuh kecilnya bisa menerima kehadiran yang tidak biasa. Setelah melihat Fuji yang mulai tenang, kumulai menggerakan tubuhku hingga nafas kami semakin cepat dan kurasakan tubuh Fuji yang menegang, bertanda bahwa dia sudah mencapai batas untuk kedua kalinya.

“Mitsu... Mitsu...” dia terus saja memanggil namaku saat dia sudah mencapai batasnya. Namun aku masih saja belum mendapatkan apa-apa. “Mitsu... ini...ini aneh...”

“Aneh?”

“Kenapa aku terus saja...terus saja seperti ini, tetapi kamu tidak sama sekali...”

Aku mengerti. Fuji terus mengeluarkan cairan dari tubuhnya setiap kali aku masuki tubuhnya. “Itu berarti kamu sangat menikmatinya, Syuusuke...”

“Benarkah?” tanyanya dengan sedikit bingung.

Aku tertawa kecil dan melanjutkannya hingga nafasku semakin berat dan tubuhku mulai bergetar. “Syuusuke... bolehkah... bolehkah aku...”

“Ya.. didalam saja...Mitsu...”

Akhirnya aku mencapai batasku dan mengeluarkan seluruhnya didalam tubuh Fuji. Setelah aku melepaskannya, kulihat cairan keluar dari tubuh Fuji. “Kamu tidak apa-apa?”

“Ya...” nafasnya masih terpenggal-penggal. “Ya.. aku.. aku tidak apa-apa...”

Aku kembali mendekatinya dan mencium keningnya. “Terima kasih...” ucapku dan memeluknya dari belakang.

-----endfujitezuka---

Hahahaha.. akhirnya kelar ^^b

Ternyata banyak yang mabuk laut ya ^^ (d gorok)

Untuk dihari pertama, ak sudah mengorbankan Fuji_Tezuka sebagai pembukaan ^^ maaf ya kalo misalnya kata-katanya tidak greget githu ><>

Fuji: aoryuu!! Sejak kapan aku mabuk laut!!

Tezuka: Aoryuu! Kok aku lembut banget sih?!

Fuji: memang nya kamu mau nya seperti apa??!

Tezuka: ....

Fuji: ...

Aoryuu: ... errr ok.. kita biarkan dulu pasangan ini...

Sedikit bocoran, di hari pertama akan diberikan cerita yang sama, dalam arti dengan keadaan yang sama namun berbeda POV na ^^ jadi kalo di awalnya sedikit membosankan, aku mohon maaf sebesar-besarnya..

Ok.. sekian dulu dari aku ^^

Please ur Comment n review...



prev: one week for all -opening-

next: one week for all - shishinchoutan-

one week for all -opening-

Hai! Kembali lagi dengan Aoryuu ^^ hehehe..

Sebelum na, maaf ya belum bisa melanjutkan kedua cerita n satu cerita di blog-ku itu .. maaf.. mood na masih belum dapat..

Untuk kali ini, aku mencoba cerita baru yang ak sendiri belum pernah buat sebelum nya

Ok.. thanx y ^^b

------00explanationz00-----

Des: Konomi-sensei (tambah cakep ja -dtendang keluar-)

Rat: M

TimeLine: liburan kenaikan (untuk angktn kls 3-kuliah ; kls 2 – kls 3 ; kls 1- kls 2)

Charaters: no main characters!

Info: kali ini cerita na merupakan kumpulan seluruh pasangan yang aku suka ^^ hehehe.. jadi pasangan2 yang ada sesuai dengan pasangan yang biasa di’perlihatkan’ dalam kesehariannya.. no crossing... (maaf kalo ada yang suka crossing)... namun.. akankah ada ending na?? (author dudutz)

Song: ...

----oostart_Openingoo----

Rasanya begitu berat bagi seluruh anak kelas tiga menghadapi berbagai banyak ujian, dari ujian praktek, ujian sekolah hingga ujian negara. Setelah melewati semuanya, mereka juga harus melanjutkan kegiatan mereka dengan acara kelulusan mereka sendiri walaupun dibantu oleh beberapa guru dan adik kelas mereka. Setelah semuanya berakhir, Atobe Keigo mengirim keseluruh sekolah yang pernah dia temui.

Sebarkan keseluruh anggota kalian dan datanglah bersama dengan pasangan kalian kerumahku pukul 7 malam Sabtu ini. –Atobe Keigo-

Pesang singkat tersebut diterima oleh banyak anggota dari teman maupun lawan.

-hyoutei-

Atobe menutup lokernya lalu kembali mengumumkan kepada anggota regularnya. “Bagaimana dengan rencana ore-sama? Menarik bukan?! Hahahaha...” Atobe mulai melirik dua pasangan doublenya yang sepertinya sudah ada persiapan.

Oshitari bersama dengan Mukahi sepertinya tidak memperhatikan. Mereka sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Ohtori bersama dengan Shishido, dia sedang membujuk senpainya untuk datang. Sedangkan Jirou asik dengan tidurnya, dan Hiyoshi sedang merapikan tasnya.

“Kapten, haruskah kami datang?” tanya Hiyoshi menghapus keheningan yang ada.

“Tidak. Kesempatan ini aku berikan kepada kalian yang ingin melewatkan saat-saat terakhir kalian dengan pasangan kalian saja. Kamu mengerti?” Hiyoshi mengangguk.

Atobe duduk dibangkunya dan merapikan beberapa berkas. “Kabaji, kamu akan datang, kan?” bisik Atobe sambil sedikit menundukan wajahnya.

“Usu!” jawab Kabaji seperti biasa. “Tentu saja aku akan datang, Keigo” bisik Kabaji yang cukup membuat wajah Atobe memanas.

-Fudomine-

“Tawaran yang menarik” Anggota lainnya ikut mendengarkan pengumuman singkat yang dibacakan oleh Tachibana.

“Jadi, siapa saja yang akan datang?” sambung Kamio dengan semangat.

“Entahlah...” gumam Tachibana. “Apa dari kalian sudah ada yang punya pasangan?”

Seluruh anggota hanya diam membatu.

“Sepertinya belum...” pikir Tachibana sambil membaca ulang dalam hatinya.

-Seigaku-

Tezuka membuka handphonenya sejenak ditengah latihan. “Seluruh anggota regular, berkumpul!” dengan hitungan detik, semuanya sudah berkumpul. Tezukapun membacakan pesan yang didapatnya dan menanyakan pendapat kepada yang lainnya.

“Tentu saja kita akan datang, Tezuka” jawab Fuji sambil berdiri disebelahnya.

Eijipun langsung melingkarkan tangannya pada tubuh Oishi, “Oishi, kita akan datang, kan?”

Wajah Oishi mulai memerah dan mengangguk pelan. “Terserah kamu, Eiji”

“Asik, nyaw” jawab Eiji dengan gayanya yang tidak berubah itu. “Lalu, bagaimana dengan Ochibi dan Momo?” senpai satu ini langsung melingkarkan tangannya pada kedua bahu adik kelasnya itu.

“Aduh, Eiji senpai” keluh Ryoma yang terganggu dengan acara minum pontanya itu.

“Echizen” terlihat wajan Momoshiro yang memerah. “Kamu akan datang, kan?”

“Aku tidak tahu” jawab Echizen sambil menurunkan topinya.

-Yamabuki dan St.Rudolph-

Secara tidak sengaja, Sengkoku bertemu dengan Mizuki dan Yuuta saat membeli peralatan tenis mereka. “Hai, Mizuki” sengkoku langsung menyambar mereka sambil melingkarkan tangannya pada bahu mereka. “Apa kalian mendapat pesan dari Atobe?”

“Kamu juga dapat?” Sengkoku mengangguk. “Siapa saja yang akan datang?”

Sengkoku menggeleng. “Tidak tahu. Masing-masing dari mereka sudah punya acara sendiri-sendiri. Yang aku tahu, Taichi sedang berusaha membujuk Akutsu untuk datang!” penjelasannya itu dijawab dengan wajah terkejut. “Ya... Taichi memang sudah mengidolakan Akutsu sejak lama. Namun sampai saat ini, Akutsu masih saja tidak memberikan resopon apa-apa. Bagaimana dengan kalian sendiri?”

“Hmm...” Mizuki berfikir sejenak. “Yang aku tahu, Atsushi ingin bertemu dengan kembarannya itu. Kaneda bersama dengan Akazawa berencana untuk liburan bersama, lalu...” kali ini dia melirik Yuuta. “Mungkin aku akan pergi bersama dengan dia” Yutta sedikit terhentak.

“Benarkah?” tanya Sengkoku meyakinkan. “Sepertinya disana akan menarik...”

“Ya...” Jawab Mizuki singkat dan raut wajah Yutta semakin memerah.

-Shittenhouji, Rokkaku dan Higa-

Setelah latihan berakhir, seluruh anggota Shittenhouji berkumpul di kedai ramen. Mereka memang sudah merencanakan untuk mengadakan pesta perpisahan dengan kemampuan mereka sendiri. Setelah memesan, Shiraishi mulai membacakan pengumuman yang diterimanya itu. “Jadi, akankah ada yang datang?” tanyanya. Berhubung jarak tempat tinggal mereka dengan rumah Atobe cukup jauh, tidak memungkinkan semuanya akan datang.

“Yuu-kun~” seperti biasa Koharu menempel pada pasangannya itu. “Kita datang nggak? Tapi biayanya kan mahal...”

“Sudahlah Koharu. Lebih baik kamu kerumahku dari pada kesana, kan?” balas Yuuji sambil memeluk Koharu yang cukup membuat teman-teman lainnya langsung membuang muka.

“Senpai, bagaimana?” bisik Zaizen yang duduk disebelah Kenya. “Apa senpai akan menemui saudaramu itu?”

“Tidak tahu... Memangnya kamu mau datang?”

“Ti-tidak tahu...” zaizen menundukan kepalanya.

Kali ini Kintaro yang angkat bicara, “Gin, kamu akan menemui adikmu ?”

“Sepertinya. Memang ada apa?”

“Aku titip oleh-oleh ya” seperti biasa, Kintaro hanya memikirkan hadiah dan makanan.

Disisi lain, Chitose dan Shiraishi.

“Kamu akan datang?” bisik Shiraishi yang wajahnya memerah akibat malu dan gumpalan asap mengenai wajahnya.

“Ya. Aku ingin bertemu dengan Tachibana dan yang lainnya. Apa kamu mau ikut?”

“Bo-bolehkah?”

Chitose tersenyum dan mengkaitkan jarinya pada tangan Shiraishi dibawah meja.

“Oh ya” Shiraishi tiba-tiba saja mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu.

“Ada apa, Shiraishi?” tanya Chitose terlihat bingung.

“Aku lupa memberitahu Atobe kalo dari Rokkaku dan Higa tidak bisa datang”

“Karena?”

“Hahaha... Hahaha... sama seperti kita... Biaya”

Chitose hanya ber ‘o’ ria dan kali ini mendekatkan tubuhnya pada Shiraishi.

-Rikkaidai-

Latihan hari ini diadakan lebih cepat karena liburan yang segera menanti. Seperti biasa, Sanada dengan setia menunggu Yukimura sampai selesai mengerjakan diruang klubnya itu. Namun ditengah-tengah pekerjaannya, Sanada mulai merasa aneh dengan raut wajah Yukimura yang tersenyum. “Yukimura, adakah hal lucu?”

Yukimura mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Sanada, maukah kamu menemani aku ketempat Atobe?”

“Hah? Untuk apa?” raut cemburu Sanada mulai terlihat.

Yukimura yang mengerti situasinya langsung menjelaskan. “Aku, Atobe dan Shiraishi mengadakan sebuah acara untuk seluruh anggota regular tenis yang kita kenal. Karena rumah Atobe lebih besar, maka diadakan acara tersebut di rumahnya...”

“Acara apa?”

Yukimura bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Sanada dan memeluknya. “Ini... acara seperti ini yang kami adakan...”

Sanada masih tidak mengerti namun wajahnya menjadi memanas dan detak jantungnya berdetak cepat. “Maaf, Yukimura. Aku masih tidak mengerti...”

“Kamu ini...!” Yukimura langsung menarik wajah Sanada dan menciumnya. “Kamu tahu, jarang sekali kita bisa bersama, jalan berdua ataupun menikmati saat-saat hanya berdua saja. Saat aku mengajukan itu, Atobe dan Shiraishi ternyata mempunyai pemikiran yang sama. Oleh karena itu, aku berharap kamu datang dan melihat bahwa tidak hanya kita yang seperti ini...”

Yukimura yang menyandarkan kepalanya pada dada Sanada, hanya bisa menenggelamkan wajahnya. Sanada dengan lembut mengelus rambut biru ikalnya. “Selain kita, siapa lagi yang akan datang?”

“Sepertinya semuanya... Yagyuu sedang dibujuk oleh Niou, Akaya akan datang bersama dengan Yanagi, dan Marui akan datang bersama dengan Jackal”

“Ooh...”

-dikediaman Atobe-

Setelah semuanya berkumpul, seperti biasa dengan pakaian lengkap serba hitam dan kemeja putih, Atobe berjalan perlahan menuju mimbar panggung. “Selamat datang di kediaman Atobe Keigo!”

Dari seluruh undangan yang diberikan, sudah ada beberapa dari mereka yang datang seperti Oshitari-Mukahi, Ohtori-Shishido dan Jirou bersama dengan Marui.

“Jirou!” panggil Shishido sambil berlari kecil. “Ternyata kamu datang juga bersama dengan...

“Marui-kun” nada suara Jirou seperti anak kecil sambil memeluk orang yang sangat dia sukai itu. “Bagaimana? Aku sudah dari dulu menyukainya dan untung saja dia mau datang...”

“Salam kenal” Marui menundukan kepalanya.

“Ah...” Shishido menundukan kepalanya. “Aku pikir kamu bersama dengan...”

“Oh...” Marui tersenyum. “Dia ada urusan keluarga dan mau tidak mau dia harus pulang ke brazil”

Tidak lama kemudian datang beberapa pasangan lainnya seperti Tezuka-Syuusuke, Eiji-Oishi, Mizuki-Yuuta, Kaneda-Akazawa dan Akutsu-Taichi.

“Huaaa...” kagum Taichi. “Hebat sekali disini, Akutsu senpai”

“Berhentilah bersikap norak seperti itu” keluh Akutsu dan menarik bahu Taichi yang hanya setinggi bahunya.

“Ternyata kalian datang!” seru Akazawa kepada Mizuki.

“Tentu saja. Jarang-jarang kan ada acara seperti ini” sambung Mizuki dengan gaya sombongnya.

“Ternyata banyak sekali disini...” kagum Eiji sambil menarik tangan Syuusuke dan berjalan mengitari sekelilingnya.

“Eiji...” Oishi hanya bisa menghela nafas.

Ditengah perjalanan kelilingnya, Eiji melihat beberapa kumpulan lagi. Mereka adalah Sanada-Yukimura, Yagyuu-Niou, Akaya-Renji dan Chitose-Shiraishi.

“Hai!” Sapa Eiji sambil berjalan mendekati mereka.

“Hua... kalian datang juga” sapa Syuusuke sambil berjalan menyusul Eiji.

“Tentu saja!” jawab Niou antusias. “Fuji, kamu datang bersama dengan dia?”

Fuji menggeleng dan menunuk kearah belakang tempat Tezuka berada.

“Shiraishi, untung saja ramai” Yukimura memeluk lengan Sanada yang membuat Sanada hanya bisa memalingkan wajahnya saja.

“Tentu saja. Kalau tidak sayang sekali, bukan?”

“Ternyata ini rencana kalian?” sambung Chitose yang belum tahu apa-apa.

“Ya...” Shiraishi menunduk malu.

Setelah yakin semuanya sudah berkumpul, Atobe mulai membacakan pengumumannya. “Terima kasih untuk kalian yang sudah mau datang ketempat ore-sama. Setelah ini, harap kalian berjalan menuju taman belakang rumah karena disana sudah disediakan kapal untuk menuju kediaman ore-sama yang lainnya. Aku harap kalian semua tidak mabuk laut...”

“Yukimura...” bisik Sanada tanpa bergerak.

“Ya? Ada apa?”

“Ini juga bagian rencana dari kalian?”

“Tidak... Aku juga baru tahu. Benarkan, Shiraishi?”

“Ya... Atobe tidak mengatakan apa-apa dengan kami. Ada apa Sanada?”

“....”

“Baiklah. Kalau kalian sudah mengerti, sekarang kalian bisa menuju taman belakang dan segera memasuki kapal. Ore-sama tidak mau ada dari kalian yang terluka ataupun sakit. Kalau ada yang butuh obat-obatan, segera katakan kepada ore-sama ataupun kepada Yukimura dan Shiraishi selaku bagian perlengkapan...” jelas Atobe sambil berjalan turun dan menunjukan taman belakang yang dimaksud. Dengan segera, mereka memasuki kapal dan berjalan menuju pulau milik keluarga Atobe yang cukup jauh dari kota.

Bagaimanakah dengan keadaan mereka selama dikapal? Seperti apakah perjalanan mereka dan keseharian mereka selama dipulau milik Atobe tersebut? Kita lihat di chapter berikutnya...

-----end----

Hua... akhirnya selesai ^^b

Maaf ya aku buat cerita yang agak anegh (emang aneh banget!)

Untuk kelanjutan ceritanya adalah pasangan masing-masing.. jadi tidak berlanjut seperti biasa yang aku buat selama ini ^^ hanya one side story ja.. ^^ tapi semua na nanti full M >< (baru kali ini publish full di ffn.. hahahaha...)

Ok.. ja ne ^^ (kalo nggak suka pasangan na, skip ja ya ^^b



next: one week for all -tezukafuji-

Monday, October 11, 2010

how Come part 6

Title: how come

Charac: sana yuki

Rat: M

Des: Konomi

Pov: yukimura

---ooooo----

Gelisah. Takut. Cemas. Khawatir. Semua itu yang aku rasakan pada saat ini. Setelah merapikan beberapa peralatan rumah dan menjemur pakaian, aku mendapatkan kabar dari Niou kalau Genichirou masuk rumah sakit!

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!" Tanyaku panik saat Niou menghubungiku.

"Saat dia mau pulang, dia pergi kekamar mandi, tiba-tiba saja ada suara keras dari dalam sana, dan dia berteriak memanggilku. Lalu aku menemukan dia sudah duduk lemas dengan celana panjangnya yang sudah basah..."

"Ap-?!" Rasa terkejutku tidak bisa aku tutupi. Bagaimana tidak. Aku dan Sanada diberikan perkirakan oleh Oshitari dan Renji bahwa anak kami akan lahir 25 hari lagi. Namun kenapa bisa lebih awal!

Tanpa banyak persiapan, aku segera menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh Niou. Kali ini dokter yang menangani Genichirou adalah Oshitari dan Mizuki. Aku cukup merasa tenang dengan kehadiran Oshitari karena dia sudah mengerti tentang kandungan Genichirou.

"Niou!" Aku mendekati Niou yg sedng duduk di bangku ruang operasi. "Bagaimana Genichirou?"

"Dia sudah didalam. Sudah ada Oshitari dan Mizuki. Renji juga sudah di hubungi untuk datang memberikan beberapa keterangan."

Rasa cemas masih memenuhi pikiranku."Lalu, bagaimana dengan anak kami?"

Niou menggeleng. "Yakinlah bahwa Genichirou bisa berhasil melewati tahap ini..."

--ooo--

Biasanya para suami yang menunggu perjuangan istrinya dalam menghadapi keadaan seperti ini, namun kenyataannya berbeda sekali. Aku benar-benar tidak kuat. Rasa takut dan cemas menguasai diriku sehingga tanpa aku sadari wajahku mulai basah.

"Yukimura..." Niou menepuk pundakku. "Tenanglah.. Dia itu kuat! Pasti bisa..." Sambungnya sambil merangkulku dengan lembut.

Kututup wajahku dengan kedua tanganku dan tidak lama kemudian aku mendengar nama kami berdua dipanggil, Hiroshi bersama dengan anak mereka.

"Seiichi..." Suara pelan Hiroshi sambil berjalan perlahan mendekati kami.

Tanpa ragu aku langsung berlari pelan, lalu memeluk dan memendamkan wajahku kedalam pelukannya. Aku sudah tidak perduli bagaimana penampilanku saat ini didepan mereka. Hanya rasa takut dan galau memenuhi pikiranku.

"Seiichi... Tenanglah..." Hiburnya sambil membalas pelukanku. "Sanada akan baik-baik saja"

"Terima kasih, hiro-chan" ucapku yang masih memendamkan kepalaku kedalam pelukannya.

Hiroshi mengajakku duduk sejenak di bangku depan ruang operasi. "Haru-kun, apa Renji sudah datang?"

"Seharusnya sudah" jawabnya sambil menggendong anak mereka. "Ah, aku sampai lupa" Niou mendekati kami. "Seiichi, ini anak kami. Namanya Kuwahara. Nah, hara-kun, ayo salaman"

Wajah yang bulat, berambut hitam sebahu dan kulit kecoklatan. Matanya yang bulat mirip dengan Hiroshi, hanya saja kulitnya saja yg lebih gelap dari pada mereka berdua. Anak mereka langsung saja memendamkan wajahnya pada bahu kanan Niou. Reaksi wajar pada setiap anak kecil.

Aku tersenyum melihat tingkah lakunya. Setelah dibujuk oleh Hiroshi, Kuwahara akhirnya mau aku gendong. "Umur berapa?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku padanya.

"Dua tahun..." Jawab Niou. "Lagi masa-masanya bandel nih" sambungnya sambil mencubit pipi tembem Kuwahara.

Tanpa sadar, akupun terbawa suasana yang dibuat oleh mereka. Rasa khawatirku mulai berkurang sedikit demi sedikit.

--ooo---

Setelah menanti selama 3 jam, akhirnya lampu tanda operasipun berubah menjadi hitam, tanda kegiatan didalam sana sudah berakhir.

"Hiro-chan..." Nada suaraku melemah. Tidak tahu hasil apa yang akan kami dapatkan.

Pintu putih ini terbuka dan Oshitari berjalan mendekati kami. "Seiichi..."

Aku langsung saja bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menghampirinya. "Bagaimana Genichirou?"

Oshitari tersenyum. "Selamat, Seiichi... Anak kalian kembar dan semuanya sempurna..."

Rasa senang, lega, dan berbagai macam lainnya yang tidak bisa aku ucapkan memenuhi pikiranku. Wajahku kembali memanas dan kurasakan airmataku keluar. "Boleh aku bertemu dengannya?" Pertanyaanku dijawab dengan anggukan oleh Oshitari.

"Lewat pintu sebelah kanan, ya. Dia sudah dipindahkan kedalam sana" unjuknya sambil memberikan sedit pengarahan sebelum memasuki ruangan.

Ruangan serba putih, beraroma obat dan udara dingin. Suasana yang tidak aku sukai, namun diruangan ini terdapat seseorang yang aku cintai sudah memperjuangkan nyawanya untuk kedua buah hati kami.

"Genichirou..." Sambutku perlahan sambil duduk disebelahnya.

"Seiichi..." Ucapnya lemas sambil menatap kedua anak kami yang tidur tenang ditempat tidur lain. "Maaf membuatmu khawatir..."

"Tidak.." Tanpa aku sadari, wajahku memanas dan telapak tangan besar Genichirou yang menyentuh wajahku menjadi basah. "Justru aku yang seharusnya berterima kasih padamu... Terima kasih sudah berjuang untuk mereka..." Pandanganku teralih pada bayi kami.

Kedua bayi kami terlihat lucu sekali dan salah satu dari mereka ada yang benar-benar mirip dengan Genichirou. Alis mata yang tegas, bermuka oval, tenang, dan berambut hitam; itulah bayi laki-laki kami. Alis mata sayu, bermuka bulat, berambut biru, dan sepertinya dia akan menjadi anak yang aktif; itulah bayi perempuan kami.

"Nyaaaw" bayi perempuan kami menguap dan kembali tertidur dengan satu tangan yang saling terkait dengan tangan saudaranya itu.

"Seiichi..? Kenapa kamu menangis lagi?" Kali ini aku kembali membuat Genichirou khawatir.

"Maaf" aku menggeleng. "Aku hanya merasa bahagia mempunyai suami sepertimu..."

"...akupun bangga mempunyai istri sepertimu..."

---ooo----

Malam harinya aku memberikan kabar kepada seluruh kerabat dan teman-temanku mengenai kabar gembira ini, tidak terkecuali keluarga Genichirou yang sempat membenciku karena tidak bisa memberikan momongan kepada mereka.

"Genichirou..." Panggilku sambil menatap anak kami yang tertidur pulas dari sebelah Genichirou. "Apa kamu sudah ada nama untuk mereka?"

Genichirou menggeleng. "Kamu sendiri?"

Aku diam sejenak sambil menatap keduanya. Tiba-tiba saja aku mendapatkan ide saat melihat papan nama pasien yang tertera di tempat tidur anak kami. "Aku ada ide. Bagaimana kalau nama mereka mengambil nama dari nama kita?" Aku menunjuk papan nama tersebut.

Genichirou sepertinya mengerti apa yang aku maksudkan. "Yuichi dan Ichirou... Yang perempuan Yuichi dan yang laki-laki Ichirou. Namun nama panggilan mereka adalah ichi..."

"Lalu, bagaimana membedakannya?" Protesku.

Genichirou tertawa sambil mencubit pipiku. "Ichi-kun dan Ichi-chan... Bagaimana? Atau... Mau aku panggil anak perempuan kita dengan sebutan 'mochi kecil'?"

"Gen-chan!" Lagi-lagi dia meledekku. "Berhentilah meledekku dengan nama itu..." Kesalku sambil menggembungkan kedua pipiku.

"Aku kangen sekali dengan 'mochi' ini..." Kali ini dia menarik wajahku dan mencium pipiku.

"Aku juga... " Balasku sambil menyandarkan kepalaku pada bahunya itu.

"Seiichi..."Aku mengangkat kepalaku sehingga aku dan dia saling bertatapan.

Mata kami saling menatap satu sama lain. Tangan kanan Genichirou yang dingin itu memegang pipiku. Kutahan tubuhku dengan memegang bahu kirinya sambil menutup kedua mataku, terasa nafasnya yang hangat dan kulitnya yang sudah menyentuh wajahku hingga...

"Oeeekkkk!!!" Spontan mata kami terbelak dan menatap kearah tempat anak kami berada. Kamipun langsung tertawa dan aku berjalan mendekati mereka.

"Hahahaha... Kalian ini..." Ucapku sambil menggendong salah satu anak kami yang mulai menangis, Ichirou. "Ada apa, sayang?" Tanyaku sambil membawanya mendekati Genichirou. "Mau melihat ayahmu?"

Genichirou tertawa dan perlahan menggendong Ichirou tanpa bergerak dari tempat tidurnya. "Lihat jagoan cilik ayah... Wajahnya mirip sekali dengan ibumu... Ada 'mochi'nya!"

"Gen-chan!" Seruku sambil menggendong Yuichi. "Lihat, putri kita..." Ucapku sambil memiringkan sedikit agar Genichirou bisa melihatnya. "Wajahnya mirip kamu. Semoga saja tidak segalak kamu.." Balasku sambil melirik padanya.

"Tidak apa" jawabnya cuek. "Tapi kamu harus sadari kalau dia juga ada 'mochi' di sana" balasnya lagi sambil menunjuk pipi Yuichi dan kali ini aku hanya bisa kembali menggembungkan pipiku.

"Hahahahaha... " Genichirou mencubit pipiku. "Sudah... Maafkan aku. Jangan ngambek lagi, ya..."

"Makanya... Berhentilah menggodaku..." Ucapku sambil duduk disebelahnya. "Mereka lucu ya..."

"Tentu saja!" Katanya dengan bangga. "Wajah lucu mereka benar-benar mirip kamu..." Kata-katanya membuat wajahku memerah.

--ooo--

Tidak lama kemudian, satu persatu teman-teman kami berdatangan. Teman sekerja, tetangga dan keluarga datang bergantian. Bahkan teman kami, Fuji dan Atobe, yang baru saja datang dari luar negri menjenguk kami.

Sedikit larut malam, keluarga Genichirou yang datang paling terakhir. Ibunya berambut hitam lurus, terlihat ramah dan menggunakan dress biru itu berjalan perlahan mendekati anak mereka yang masih menggendong salah satu cucunya. Sedangkan ayahnya yang berwajah tegas, berambut biru dan mengenakan kemeja hitam berjalan perlahan mendekati aku. Suasana sempat menjadi sepi karena tidak ada satupun dari kami yang angkat bicara.

"A-ayah..." Panggilku ragu saat melihat bahwa tatapan ayah tidak padaku, tetapi pada Yuichi yang ada ditanganku. "Ayah mau gendong?" Tawarku sambil memberikan jarak pada pelukanku.

Ayah Genichirou terlihat ragu-ragu, dan ibu langsung saja tertawa. "Ayah, sudahlah. Tidak usah malu begitu. Ayah mau peluk cucumu,kan?" Goda ibu sambil mengambil Yuichi. "Ayo, yah..."

Ayah Genichirou memang terlihat lebih tegas dan galak, namun dalam hitungan detik bisa menurut dengan perkataan ibu yang lembut itu. Aku benar-benar takjub!

Perlahan ayah menerima Yuichi dipelukannya yang dibantu oleh ibu. Awalnya ayah terlihat kaku, namun tidak lama kemudian, ayah tersenyum! Ayah dan Genichirou memang mirip, berwajah keras dan jarang tersenyum. Ibupun menggendong Ichirou dan duduk disebelah ayah sambil membicarakan kemiripan mereka. Aku sendiri hanya berdiri disisi Genichirou.

"Untung, ya..." Gumamku lega yang terdengar oleh Genichirou.

"Ada apa, Seiichi?"

"Ah..." Hentakku perlahan. "Aku merasa lega ayah bisa menerimaku walau bukan aku yang melahirkan cucunya..."

"Sudahlah..." Genichirou mengusap punggung tanganku yang sedang bertautan dengan tangannya. "Tidak usah kamu pikirkan perkataan ayah. Yang terpenting apa yang mereka inginkan sudah kita berikan, walau dengan cara yang berbeda..."

"Ya... Kamu benar..."

-----ooooendoooo----

Yatta!!! Kelar !!! \^o^/ *keluarin banyak makanan

Mari kita syukuran bersama.. hahahaha..

Sana: kita yang senenk, knapa u ikutan senenk?

Ao: tentu saja! Kan liat keponakan baru.. Yuichi n Ichirou *lirik n cubit

Yuki: hahahaha... ao, tolong botol nya yuichi

Ao: ok..

Sana: aoi! Jangan sentuh mereka!

Ao: hikz... kenapa aku diusir *emo cocon

Yuki: *smile* kamu kan lagi sakit, sedangkan mereka masih rawan terhadap sakit kan?

Ao: *lirik* i-iya juga sih... nih, botol mereka...

Ok degh.. sekian dulu ya ^^ terima kasih sudah membaca dari awal hingga akhir yang geje ini... selain itu terima kasih juga untuk pendukung-pendukung yang-

Yuichi n Ichirou: OEEEKK!!

Yuki: waduh-waduh...

Sana: Ao! Diam! Jangan berisik!!

Ao: i-iya... *menghindar-bisik* ok.. sekian dulu ya... *emo cocon mode on*

Please ur comment n ur repew


prev: How Come part 5

first: How Come part 1

How Come part 5

How Come Part 5

Des: Konomi sensei...

Charac: sanayuki

Rat: M (untuk jaga2..tapi ternyata gak sama sekali ><>

Songz: blue dragon, spirit, n pain (the team medical dragon ^^b)

Pov: Yukimura Seiichi

--------------------000000000000000----------

Segala sesuatu yang direncakan oleh manusia tidak sepenuhnya akan berjalan dengan baik, walaupun sudah direncanakan dengan sebaik-baiknya dan dilaksanakan dengan penuh perhatian. Sebagai ciptaannya hanya bisa terus mengucap syukur atas anugrah dan berkat yang sudah ada pada kita. Kesedihan diatas kebahagiaan, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini.

Sejak masalahku dengan Genichirou berakhir, kehidupan kami menjadi lebih baik. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama untuk makan, jalan-jalan ataupun beristirahat. Tidak jarang kami pergi ke kota membeli beberapa keperluan sang buah hati. Setiap kali kami keluar, selalu saja mengundang banyak perhatian. Kami bisa memaklumi karena memang terlihat aneh, namun inilah kenyataannya. Untung saja Genichirou tidak terlalu mempermasalahkannya.

Sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh Renji, siang ini kami kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Dalam waktu 15 menit, nama Genichiroupun dipanggil kedalam. Aku menunggu diluar karena hari ini Genichirou akan di periksa organ tubuh dalamnya. “Seiichi” suara seseorang dari belakang, ternyata Yanagi Renji.

“Ah, Yanagi” aku menundukan kepalaku. “Bagaimana hasilnya?”

“Baik. Kandungannya sehat dan sepertinya kalian harus mempersiapkan segala keperluan dua kali lipat...” jelas Yanagi sambil mencatat dibukunya.

“Dua kali?” aku memiringkan kepalaku. “Maksudnya?”

Yanagi terhentak dan tersenyum. “Maksudku, didalam perut Genichirou ada ‘dua nyawa baru’. Kamu mengerti?”

Aku diam sejenak dan dalam hitungan detik aku langsung menarik kerah jas putihnya. “Benarkah?! Ber-berarti... kami akan punya dua anak sekaligus? Kembar maksudmu?” Yanagi mengangguk.

Rasa senangku tidak bisa aku tutupi hingga aku sadari bahwa wajahku mulai memanas. “A-Apa saja mereka? Ah, maksudku mereka... itu...” kata-kataku mulai kacau karena rasa senang yang memenuhi pikiranku.

“Mereka laki-laki dan perempuan, Seiichi” Yanagi menepuk pundakku. “Tenanglah. Oh ya, berikan ini kepada Genichirou. Ingat, harus diminum setelah makan pagi dan sebelum tidur...” Yanagi memberikan sebuah memo kecil yang berisi resep obat-obatan.

“Baiklah...” aku mengangguk. “Terima kasih...”

Yanagi tersenyum, namun tiba-tiba saja raut wajahnya menjadi lebih serius. “Seiichi, sudah dengar kabar tentang Niou dan Hiroshi?” aku menggeleng. “Aku dengar Hiroshi sudah siuman...”

“Hua... Bagus! Lalu, bagaimana dengan bayi mereka?”

Kali ini Yanagi menutup bukunya, meletakan pena disaku kanannya dan memberikan kode kepadaku untuk mengikutinya. Ternyata perjalanan kami berhenti dikamar 507, didepan kamar Hiroshi. Disana sudah ada Genichirou dan Niou yang sedang duduk sambil menadahkan kepalanya dengan kedua tangannya.

“Genichirou...” panggilku dan mereka berdua menatapku. “Genichirou, ada apa?” tanyaku yang masih tidak tahu apa-apa.

Setelah keheningan beberapa saat diantara kami, akhirnya Yanagi angkat bicara dan menjelaskan bahwa bayi Niou dan Hiroshi tidak terselamatkan. Setelah itu Yanagi meninggalkan kami karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.

“Benarkah itu?” tanyaku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.

Niou tertunduk. “Aku benar-benar suami buruk! Tidak bisa menjaga istriku dan anakku sendiri!” raut wajahnya mulai terlihat histeris sambil memegang kepalanya.

“Bagaimana mungkin?” Genichirou yang berdiri disebelahku melingkarkan tangannya pada bahuku. “Bukankah kemarin kamu baru mengabarkan bahwa...”

Niou mengangguk pelan. “Keadaan Hiroshi memang bertambah baik, namun anak kami mengalami penurunan sel ketahanan tubuh sehingga membuat kerja jantungnya lebih berat dan tadi pagi aku mendapatkan kabar bahwa... bahwa... anak kami...”

“TIDAK MUNGKIN!!!!” terdengar suara nyaring dari dibalik pintu tempat Niou berdiri.

Kami langsung memasuki ruangan dan terlihat dari gerak Hiroshi yang ingin turun dari tempat tidurnya. Niou langsung berlari menahan tubuh istrinya dengan memeluknya. “Hiroshi...”

“Tidak mungkin?! Aku ingin bertemu dengan bayi kita! Aku ingin melihat dia!” Hiroshi mulai meronta-ronta dan wajahnyapun mulai dibasahi oleh airmatanya.

Niou hanya diam menahan tubuh kecil istrinya itu. Walaupun Hiroshi terus memberontak, Niou hanya bisa diam memeluk istrinya dan terus berkata, “Hiroshi. Tenanglah. Kita harus terima kenyataan ini...”

Perlahan-lahan gerak tubuh Hiroshi semakin melemah dan jatuh didalam pelukan Niou. “Masaharu...” Isak Hiroshi semakin menjadi-jadi. Dengan lembut Niou memendamkan wajah Hiroshi didadanya. “Maafkan aku...”

Niou menggeleng. “Tidak. Ini semua salahku... aku tidak bisa melindungi kamu dan bayi kita... Aku benar-benar buruk...”

Terlihat pelukan mereka yang semakin erat membuat perasaanku ikut merasa sedih. Genichirou meraih bahuku sehingga aku jatuh didalam pelukannya. “Sebaiknya kita tinggalkan mereka”

“Ya...” tanpa mengatakan kepada mereka, dengan perlahan kami meninggalkan ruangan tersebut.

--o

Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam tanpa kata. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar. Harapan mereka selama ini langsung hilang dalam hitungan hari. Mengingat itu semua membuat wajahku memanas, nafasku yang mulai tidak beraturan dan akhirnya wajahku mulai basah.

“Seiichi... tenanglah...” Genichirou menepuk pundakku sejenak karena dia masih harus berkonsentrasi dengan jalan raya.

“Genichirou... harapan mereka... impian mereka...”

Genichirou menghentikan mobilnya sejenak dipinggir jalan, lalu menarik tanganku sehingga aku jatuh didalam pelukannya. “Tenanglah Seiichi. Aku yakin mereka bisa menerimanya...”

“Tapi...” kusadari bahwa aku mulai membasahi kemeja putih Genichirou.

“Kamu sahabat Hiroshi, bukan? Saat ini kamu boleh menunjukan rasa sedihmu didepanku. Namun, saat kamu bertemu dengannya, aku mohon kamu tidak boleh seperti ini...”

“Kenapa?” bantahku. “Aku hanya menunjukan kalau ak-“

“Sedih?” aku mengangguk. “Ya... boleh saja. Tetapi ingat satu hal. Pada saat ini keadaan Hiroshi sedang labil. Sebagai sahabat kamu harus bisa menguatkannya. Jangan sering membawa masalah ini kedalam pembicaraan, terkecuali tidak bisa dipungkiri lagi... mengerti?”

Aku mengangguk. Kata-kata Genichirou memang sedikit kasar, tetapi aku mengerti bahwa dia sendiri juga merasa khawatir dengan sahabatnya, Niou. Sifat keras dan keteguhannya itu semakin membuatku jatuh cinta kepadanya.

--o

Malam harinya aku memberikan kabar kepada teman-temanku mengenai kesehatan dan musibah yang terjadi oleh keluarga Niou. “Genichirou...” panggilku sesaat sebelum kami mulai memasuki dunia lain.

“Hmm? Ada apa, Seiichi?” Genichirou yang berada disebelahku menarik tanganku dan membiarkanku bersandar pada lengan kanannya itu.

“Aku bingung...”

“Kenapa?” aku dan Genichirou saling bertatapan. Genichirou menaikan tubuhnya sedikit lalu menciumku. “Ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?” aku mengangguk pelan. “Apakah mengenai keluarga Niou?” aku mengangguk lagi.

“Aku hanya merasa bahwa nasib mereka benar-benar tidak adil! Bukankah mereka sudah memberikan apa yang terbaik untuk bayi mereka? Namun kenapa pada akhirnya... tetap saja...” tanpa aku sadari bahwa nafasku mulai tidak teratur dan air matapun mulai membasahi wajahku.

“Seiichi...” Genichirou memelukku dengan erat dan mencium pipiku. “Dengarkan aku. Tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana nasib mereka, bahkan kitapun tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku yakin akan ada sesuatu dibalik peristiwa yang sudah menimpa mereka saat ini...”

Tangan kanan Genichirou yang lengannya aku gunakan sebagai bantalan, membelaiku dengan lembut dan diapun melanjutkan perkataannya. “Seiichi, besok jenguklah Hiroshi. Berikan semangat dan dukungan padanya. Aku mendengar dari Yanagi bahwa ada seseorang yang ingin dia berikan pada Hiroshi dan Niou...”

“Apa maksudmu?”

Genichirou tersenyum. Sambil sedikit memiringkan tubuhnya, dia mendekatkan pipinya pada wajahku. “Ingat kecelakaan yang mereka alami?” aku mengangguk. “Ternyata keluarga itu juga tidak terselamatkan dan meninggalkan anak sematawayang mereka...”

“Jadi, maksudmu adalah...”

“Ya... Tapi itu tergantung dari Niou dan Hiroshi sendiri” aku mengangguk kembali. “Nah, bagaimana kalau kita tidur? Aku sudah mengantuk...”

“Genichirou, boleh aku bertanya sesuatu lagi?” Genichirou bergumam sebagai jawaban. “Apa kamu sudah ada nama untuk mereka?” tanyaku sambil mengelus perut Genichirou yang semakin membesar.

“Belum... Kamu sendiri? Apa sudah menentukan satu atau dua nama?” aku menggeleng. “Baiklah kalau begitu. Lebih baik sekarang kita tidur karena besok kita masih harus bekerja...” ucapnya sambil memberikan kecupan selamat tidur di pipiku.

---123_Start Pov Sanada Genichirou—

Seminggu setelah kepulangan Hiroshi dan pemakaman bayi mereka, sikap dan gerak-gerik Niou banyak berubah. Sering kali dia tidak konsen dengan pekerjaannya dan lingkar matanya semakin lama semakin menghitam. Sudah beberapa kali aku menyarankan dia untuk beristirahat, namun yang selalu dia jawab adalah, ‘Tidak. Aku harus tetap terjaga menjaga Hiroshi. Aku tidak mau kalau dia sampai melakukan hal-hal aneh...’

Kenyataan yang menimpa mereka sungguh berat sekali. Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan kabar bahwa Hiroshi menerima anak yang sebelumnya dititipkan oleh keluarga Oshitari. Untung saja Hiroshi mau menerimanya dan keadaan Nioupun mulai membaik.

Aku ikut senang dengan kebahagiaan mereka, namun ada sesuatu hal aneh yang aku rasakan. Bukan dengan keluarga Niou, tetapi dengan diriku sendiri. Pekerjaan yang diberikan kepadaku sudah dipermudah dan dipersingkat. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal dan sering membuatkku cepat merasa lelah.

“...nada...Sanada...?” panggil Niou yang membuyarkan lamunanku. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya lagi sambil meletakan berkas-berkas diatas mejaku dan duduk didepanku.

“Tidak. Aku tidak apa-apa...” jawabku singkat dan berusaha untuk kembali kepada pekerjaanku. Rasa sakit dikepalaku semakin menjadi-jadi hingga membuat keseimbanganku menjadi goyah.

“Sanada!” dengan sigap Niou menahan tubuhku. “Sepertinya kamu kelelahan...” Ucapnya sambil memberikan air kepadaku. “Bagaimana kalau kamu pulang?”

“Tetapi pekerjaan ini...”

“Sudahlah, Sanada...” Niou menarik kertas yang ada dihadapanku. “Umur kandunganmu sudah mencapai 9 bulan, bukan? Bukankah sebaiknya kamu banyak beristirahat dan mempersiapkan diri untuk kelahiran mereka?”

“Kamu ini...” aku menghela nafas. “Seperti Seiichi saja...” aku mencoba untuk mengambil kembali, tetapi dihalangi.

“Sanada, pikirkan kesehatanmu!” suara Niou meninggi. “Ah... maaf. Aku hanya tidak mau kalau kamu mengalami hal yang sama sepertiku...” suara Niou yang melemah membuatku semakin merasa bersalah.

“Baiklah...” akhirnya aku mengikuti apa yang disarankan oleh Niou. Aku juga tidak mau kalau kesalahan dulu terulang kembali.

--o

Setelah merapikan beberapa berkas yang tercecer kedalam laciku, tiba-tiba saja perutku mulai terasa sakit. ‘Ada apa ini?’ aku memegang perutku sambil mencoba untuk bangun dari tempat dudukku.

“Sanada? Ada apa?” Niou yang membantuku merapikan beberapa berkas bingung dengan kehentian gerakanku. “Apa ada yang terlupa?”

“Tidak” sangkalku. Rasa sakit ini tiba-tiba saja menghilang. ‘Ah... mungkin karena terlalu lama duduk...’. Kuambil tasku yang tidak jauh dari tempat dudukku dan memasukan telepon genggamku kedalamnya. “Niou, aku mau kekamar kecil dulu” Niou mengangguk tanda dia mendengar perkataanku.

Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi yang berada diruanganku. Tepat saat aku mau menyalakan air wastafel, tiba-tiba saja perutku kembali sakit. Rasa sakit yang tidak tertahankan membuatku jatuh tertunduk sambil memegang perutku. ‘Ada apa ini?! Apakah saatnya? Tapi bukankah seharusnya masih 3 minggu lagi?’

Aku mencoba mengangkat tubuhku, namun semua itu sia-sia. Rasa sakit pada perutku membuat tenagaku cepat habis. Aku mencoba untuk berdiri dengan menjadikan berpegang pada tiang pembatas wc, namun aku menjatuhkan beberapa peralatan sehingga membuat banyak keributan.

“Sanada? Kamu tidak apa-apa?” Niou sepertinya menyadari sesuatu dari luar sana.

“Ni...Niou...” aku mencoba memanggilnya namun tenagaku benar-benar terkuras. Rasa sakit yang begitu membuat pikiranku menjadi kacau. “NIOU!” akhirnya aku memanggilnya dengan tenaga yang tersisa.

Detak jantungku berdetak cepat, nafasku memburu dan rasa sakit semakin memenuhi seluruh tubuhku. Sambil bersandar pada tembok, aku hanya bisa mengantur nafasku dari mulutku. Rasanya seperti habis lari berpuluh-puluh meter, seperti yang biasa aku lakukan selama aku masih duduk dibangku sekolah, namun yang berbeda adalah rasa sakitnya.

“Seiichi...” aku hanya bisa bergumam berharap akan adanya pertolongan kepadaku.

“Sanada!” raut wajah Niou benar-benar terkejut saat memasuki kamar mandi. “Tunggu sebentar. Aku hubungi rumah sakit dulu. Bertahanlah...” Paniknya saat mengambil handphone dari saku celananya.

“Niou...” panggilku perlahan. “Tolong hubungi Seiichi...” aku benar-benar tidak berdaya.

“Ya. Aku akan memberitahunya. Sekarang kamu tenang dulu...” katanya sambil menepuk pundakku. “Hiyoshi! Panggil Jackal!” teriak Niou yang masih berada disebelahku. “Sanada... itu...”

Aku mengikuti arah gerak kepalanya dan ternyata ada cairan yang membasahi celana biruku. Rasa panik semakin menghantuiku. “Ni-Niou...” kurasakan suaraku mulai bergetar.

“Sanada, tenanglah... Sanada...? SANADA!” perlahan pandanganku mulai berkabur dan berubah menjadi hitam.


---end part 5----


please ur comment n review


next: How Come part 6 _end

prev: How Come part 4

first: How Come part 1