Thursday, May 27, 2010

ichi part 1a

Part 1

Matahari bersinar dengan cerah, angin berhembus dengan tenangnya dan binatang-binatangpun ikut serta mengisi kehidupan dunia dengan aktivitasnya masing-masing. Kututup kedua mataku, kuhirup udara siang ini dan kurasakan angin yang berhembus menyentuh tubuhku ini.

Kulangkahkan kakiku dengan pasti menuju suatu tempat yang dimana terdapat permata berhargaku sedang menikmati kesehariannya. Berharap akan terlihat senyum manisnya saat selesai nanti.

Pintu gerbang biru itu masih tertutup rapat, yang menandakan bahwa kelas masih berlangsung. Aku berjalan menuju sebuah bangku yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang tersebut dan duduk bersandar pada tembok sambil menatap langit biru yang tenang itu. “Tenang sekali ya...” gumamku.

Tidak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi dari dalam sekolah yang menandakan bahwa kegiatan sekolah sudah berakhir. Memang jam masih menunjukan pukul 12 siang, tetapi bagi anak seumur balita, memasuki kelas selama 4 jam adalah waktu yang cukup lama.

"Mama...mama...!" seorang anak kecil berumur 5 tahun, dengan kakinya yang mungil berlari menuju mamanya yang sudah dari tadi menunggu kehadiran sang anak di depan pintu gerbang.

"Hati-hati sayang" aku langsung menyambut kehadiran sang permataku dengan menggendongnya. Dia yang biasanya mencium pipiku, tiba-tiba saja menenggelamkan wajahnya pada pundakku. Perubahan sikapnya itu membuatku khawatir. "Sayang, kamu kenapa? kok murung?"

Sang anak menyeka rambut hitamnya yang sudah mencapai matanya, dan mulai terisak. "Mama, papa itu siapa?"

Sesaat aku menyeka rambut biruku agar tidak terlalu mengganggu dan kutatap wajahnya yang polos itu. "Ichi-kun...” nama kecil anakkku dari Ichirou. “kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?"

Ichi menghapus air matanya dengan tangan kecilnya. "Niou sensei minta untuk gambar bebas, dan aku menggambar aku dan mama di taman. Tapi Kite-kun bilang kalo gambar harus ada papa. Ichi ga tau papa itu apa dan teman-teman semuanya... semuanya... mentertawakan aku..." kali ini isak tangisnya menjadi-jadi.

Aku hanya bisa diam mendengar keluhannya itu. Kuraih kepala kecilnya, mengelus rambutnya dan menyandarkannya kepada bahuku. “Ichi-kun... Maafkan ibu” kataku dalam hati.

Di dalam perjalanan pulang, ichi tertidur pulas dipangkuanku. Sambil bersandar pada bangku kereta yang kami gunakan, terlintas pertanyaan yang cukup membuatku merasa sedih pada diriku sendiri. "Bagaimana caranya aku bisa menjelaskan pada ichi, kalau ayahnya menghilang 4 tahun yang lalu?"

Kubuka tas kecilku, membuka sebuah dompet bewarna coklat dan mengambil sesuatu yang sangat berharga. Sebuah foto laki-laki yang terlihat tegas dengan pakaian jas berwarna biru gelap, rambut yang terpotong rapi dan beberapa lencana di bahunya. di atas foto itu tertulis, 'aku pasti pulang'. Di ujung kanannya tertulis juga dengan rapih, 'aku sayang kamu, Seiichi' dan pada bawahnya tertera nama yang sangat kucintai, Ryuto Genichirou.

------00000-------

Sesampainya dirumah, aku meletakan Ichi dikamarku yang terletak tidak jauh dari ruang keluarga. Kusiapkan tempat tidur kesayangannya dan juga boneka beruang kesukaannya. Karena hari masih siang, kuputuskan untuk tidak mengganggu ketenangannya dan memilih untuk melihat beberapa acara di TV.

Hanya beberapa saat satu program bisa bertahan dari penglihatanku. Semua acara hari ini terasa membosankan. Kuraih remote yang tidak jauh dariku dan mematikannya. Sambil bersandar pada bantal, kutatap kembali foto kekasihku dari dalam tasku.

Jika waktu bisa diulang kembali, aku adalah orang yang sangat beruntung. Seorang wanita beruntung yang bernama Tanaki Seiichi yang bisa menikah dengan seseorang yang bernama Ryuto Genichirou.

Ryuto Genichirou. Bertubuh tinggi, rambut bewarna hitam, mempunyai sifat yang sangat tegas dan juga kharismanya membuat banyak atasan yang menyukainya. Kesehariannya memang terlihat galak ataupun terlalu tegas, tetapi jika mengenalnya lebih dalam, dia mempunyai sifat pemalu. Jarang sekali bisa melihatnya, kecuali aku sendiri yang sering menggodanya.

Pekerjaanya sebagai pilot tidak membuatnya terlihat sibuk, bahkan dia masih bisa menyediakan waktunya untuk jalan-jalan ataupun merayakan pesta kecil bersamaku. Bahkan setelah 5 tahun lamanya, diapun melamarku disebuah tanah lapang yang biasa menjadi tempat kami bersama dan hingga akhirnya 2 tahun kemudian kami mempunyai anak.

Jika dipikir-pikir, keluarganya yang mempunyai perusahaan ternama sudah bisa membuatnya tidak perlu untuk bekerja. Pernah terjadi pertentangan saat kami belum memutuskan untuk menikah. Ayahnya meminta Genichirou untuk bekerja diperusahaannya tersebut. Tetapi dengan tegas Genichirou menolak, dengan alasan ingin membiayai kehidupannya dengan jerih payahnya sendiri.

Penyakit yang sudah aku derita sejak kecilpun menjadi salah satu alasan baginya untuk meninggalkan keluarganya. Aku yang terlahir sebagai anak yatim dan juga mempunyai kondisi fisik yang lemah membuat keluarganya sempat menolak kehadiranku.

Setelah Genichirou melamarku, ibunya langsung menolakku mentah-mentah. Banyak cercaan dan maki keluar dari mulut ibunya. Semua itu memang sudah sering aku dengar sehingga tidak berpengaruh sama sekali untukku. Tetapi dengan tegas Genichirou membelaku dan akhirnya kamipun menikah, walau masih dengan keraguan ibunya.

Setelah dikabarkan kami mempunyai anak, hati ibunya lambat laun mulai mencair. Bahkan sering kali menanyakan keadaan cucunya itu. Saat itu aku bisa merasakan bagaimana hangatnya keluarga seperti keluarga tentram lainnya.

3 tahun kemudian, Genichirou ditugaskan untuk membawa penumpang ketempat yang cukup jauh, dimana bisa memakan waktu lebih dari 1 minggu untuk kembali.

“Seiichi...” suara rendahnya membuatku semakin tidak ingin berpisah jauh darinya. Setelah menutup jendela yang terletak disamping kanan ruangan ini, dia berjalan mendekatiku yang masih mendekap pada bantal kesukaanku. “Sudah mengantuk?”

Aku menggeleng dan membalikan badanku sehingga aku bisa menatapnya. Dia menarik tubuhku dan memelukku dengan erat. “Genichirou...”

Dengan tangan besarnya dia menyentuh rambut biruku. “Sudah panjang, ya” jika dibandingkan dengan dulu, rambutku sekarang sudah sepinggang.

“Bukankah kamu yang memintanya?” tanyaku dan bersandar pada dadanya yang bidang itu.

Genichirou tertawa kecil. “Ya. Dulu rambutmu pendek sekali, bahkan aku pernah mengira bahwa kamu adalah anak laki-laki!”

“Gen-chan!” keluhku.

“Hahahaha... kamu ini...” dia menarik pipiku dan refleks aku menghindarinya. “Aku jadi semakin tidak ingin meninggalkanmu...”

“Genichirou, jangan berkata seperti itu! Bukankah ini pekerjaan yang kamu sukai? Jangan sampai karena aku, pekerjaanmu...” dengan cepat dia langsung mendekatkan wajahnya padaku dan dapat kurasakan kembali lembut bibirnya menyentuh bibirku. “Genichirou!”

“Seiichi... bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan padamu bahwa yang menjadi utama bagiku adalah...” dia kembali mencubit pipiku, kali ini dengan kedua tangannya.

“Sakit!” keluhku dan memegang kedua pipiku.

“Hahahaha... Ada mantau!” tunjuknya pada pipiku.

Dia tahu kalau aku mengembungkan pipiku, itu adalah tanda kekesalanku. Tapi itu menjadi sebuah bahan baginya untuk selalu meledekku.

“Sudah... Sudah... aku kan tidak mau kalau anak kita nanti menjadi mantau” kali ini kekesalanku memuncak. Aku langsung melemparkannya bantal, tepat kearah mukanya, yang dibalas dengan tawa olehnya.

“Seiichi...” panggilnya padaku yang sedang bersandar padanya. “Kamu mau punya anak laki-laki atau perempuan?”

“Hmm... Bingung... Kalau kamu?”

“Laki-laki ataupun perempuan bagiku sama saja. Yang terpenting mempunyai kesamaan denganku” perkataannya itu membuat wajahku memerah.

Kugenggam tangan besarnya yang sedang melingkari tubuhku itu. “Genichirou... aku sayang kamu...”

“Aku juga, Seiichi...”

Pagi-pagi sekali mobil yang menjemput Genichirou sudah datang. “Seiichi, aku berangkat” pamitnya sambil menyentuh perutku yang sudah mulai membesar. “Nak, ayah berangkat dulu”

“Genichirou... hati-hati” ucapku sambil menundukan kepalaku.

Dia tersenyum dan memegang wajahku sehingga aku bisa menatapnya. “Seiichi... jangan sedih. Bukankah ini sudah biasa terjadi diantara kita? Lagipula ini hanya 1 minggu...”

“Ya. Tapi aku merasa kalau kita...”

Genichirou kembali tersenyum. “Tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Sesampainya disana, aku akan segera menghubungimu. Bagaimana?”

Aku mengangguk. “Maaf sudah merepotkanmu...”

Genichirou memuluk pelan kepalaku. “Bukankah aku sudah sering untuk tidak mengatakan ‘merepotkan’ lagi?”

“Ah... maaf”

“Termasuk kata itu juga” peringatannya.

“A-ah... ya...”

“Kalau begitu, aku berangkat”

“Selamat jalan” setelah itu aku baru menyadari kalau saat ini adalah saat terakhir aku mendengar suaranya, mencium bau tubuhnya dan melihat senyumannya itu.

Lebih dari 1 bulan tidak ada kabar darinya. Aku sudah mencoba menghubungi perusahaan pesawatnya, tetapi tidak ada kabar. Hingga akhinya aku mendapatkan berita bahwa pesawat yang dibawanya mengalami kecelakaan. Anehnya tidak ada yang menemukan mayatnya. Hal tersebut membuatku semakin yakin kalau dia masih hidup.

Bulan pertama... bulan kedua... bulan ketiga... hingga bulan ke enam, saatnya aku harus melahirkan masih belum ada kabar darinya. kehidupanku tanpanya terasa bagai penyiksaan bagiku. Keluarganya yang mulai kembali membenciku dan juga menyalahkan diriku atas kehilangannya.

Dari semua penghinaan yang ada, ibunya atau dengan kata lain nenek anakku, dia ingin mengambil alih Ichirou. Tentu saja aku tidak mengizinkannya. Karena rasa kesal yang sudah tidak bisa aku tahan lagi, aku memutuskan untuk tinggal disebuah apartement yang dulu sempat aku beli bersama dengan Genichirou. Memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk kami bertiga tinggal.

Wednesday, May 26, 2010

ichi 1

"Mama..mama..." seorang anak kecil berumur 5 tahun, dengan kakinya yang mungil berlari menuju mamanya yang sudah dari tadi menunggu kehadiran sang anak didepan pintu gerbang.

"Hati-hati sayang" sang mama langsung menyambut kehadiran sang buah hati dengan menggendongnya. sang anak yang biasanya mencium mamanya itu, tiba-tiba saja menenggelamkan wajahnya pada pundak bundanya. sikapnya itu membuat mamanya khawatir. "Sayang, kamu kenapa? kok murung?"

sang anak menyeka rambut hitamnya yang sudah mencapai matanya, dan mulai terisak. "Mama, papa itu siapa?"

sang mama menyeka rambut birunya agar tidak terlalu mengganggu dan dengan lembut berkata, "Ichi.. kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?"

sang anak menghapus air matanya dengan tangan kecilnya. "Niou sensei minta untuk gambar bebas, dan aku gambar aku dan mama di taman. tapi kite-kun bilang kalo gambar harus ada mama-papa. ichi ga tau papa itu apa dan teman-teman semuanya... semuanya... ketawaiin aku..." kali ini isak tangisnya menjadi-jadi.

sang ibu hanya bisa diam mendengar keluhan sang anak. dengan sabar dia mengelus rambut hitamnya dan memendamkan kembali kepala sang anak pada bahunya, seakan meminta sang anak untuk bersabar.

didalam perjalanan pulang, ichi tertidur pulas dipangkuan sang anak. sedangkan sang bunda hanya bisa bersandar pada bangku kereta yang mereka gunakan sambil memikirkan masa lalunya. "bagaimana caranya aku bisa menjelaskan pada ichi, kalau ayahnya menghilang 4 tahun yang lalu?"

sang bunda membuka tas kecilnya, membuka dompetnya dan mengambil sesuatu yang sangat berharga. sebuah foto laki-laki yang terlihat tegas dengan pakaian jas berwarna biru gelap, rambut yang terpotong rapi dan beberapa lencana di bahunya. di atas foto itu tertulis, 'aku pasti pulang'. dibagian pojok kanannya tertulis juga dengan rapih, 'aku sayang kamu, Yukimura' dan pada bawahnya tertera nama yang sangat dicintainya, Sanada Genichirou.

Friday, May 21, 2010

who?!(sanada_bday)

Sanada’s b-day ^^

Panas. Itulah komentarku mengenai cuaca hari ini. Dihari yang panas ini, masih saja ada pelajaran olahraga yang sangat menghabiskan tenaga. “Hah! Tarundoru!” keluhku sambil bersandar pada pagar lapangan olahraga ini. Matahari yang bersinar dengan terangnya, ditambah dengan udara yang membuat perasaan menjadi kurang semangat.

“Panasnya!!!” seru Niou yang baru saja menyelesaikan ‘tugasnya’. “Sanada, kamu masih punya air?” tanyanya sambil membuka botol airnya.

Tanpa kata apa-apa, aku hanya menunjukannya dengan gerakan kepalaku. Niou langsung mengambilnya dan menuangkannya kedalam botol miliknya. “Masaharu, Genichirou, kalian dipanggil Musashi-sensei tuh” seru Yanagi yang baru ikut bergabung.

“Memangnya apa lagi yang diminta sama dia, pu~ri~” kali ini nada logatnya dengan nada lemas. Cuaca panas hari ini memang menghabiskan seluruh tenaga.

Yanagi hanya menaikan alisnya dan sedikit tersenyum. “Apa kalian lupa, kalau sekarang giliran tim kalian bermain?” aku baru ingat bahwa aku dan Niou berada dalam satu tim sepakbola.

“Ah... ya... baiklah”keluhnya dan segera berlari menuju lapangan.

Kali ini Yanagi yang menggantikan Niou duduk di sebelahku dan berkata, “Genichirou, apa hari ini masih ada latihan?”

“Apa maksudmu?” aku bangun dan memakai vest kuning yang tergeletak disebelahku. “Latihan tennis maksudmu? Tentu saja ada” jawabku dan pergi meninggalkannya.

“Latihan tennis setelah pelajaran olahraga yang sepanas ini...? Kamu memang gila...”

Latihanpun dimulai seperti biasanya. Cuaca hari ini memang panas, panas sekali. Bahkan banyak beberapa kegiatan olahraga lainnya yang diliburkan karena cuaca yang panas ini. Tetapi bagiku, latihan dicuaca seperti ini justru bagus untuk meningkatkan stamina seluruh anggota. Sebelum kegiatan dimulai, seperti biasa aku merapikan beberapa berkas yang tergeletak diruangan ini. Sepertinya Yukimura masih sibuk dengan pelajarannya, sehingga sudah lebih dari 10 menit dia belum juga datang.

“Banyak sekali berkas-berkas yang tertinggal” keluhku dalam hati dan tidak lama kemudian sang Child of God memasuki ruangan. “Yukimura. Kamu terlambat”

“Sanada” ucapnya lalu meletakan tas ranselnya. Tetapi dia tidak mengganti seragamnya. “Hari ini kegiatan ditiadakan untuk sementara”

“Hah? Mengapa?”

“Tadi beberapa guru memintaku untuk tidak terlalu memaksakan seluruh anggota untuk latihan dicuaca panas seperti ini. Selain itu, tinggal beberapa minggu lagi kita akan menghadapi ujian. Mereka tidak mau dari kita ada yang sakit ataupun terjadi sesuatu yang tidak diinginkan akibat latihan yang terlalu berat” jelasnya sebelum membuka pintu klub ini.

“Baiklah” jawabku dan bangkit dari tempat dudukku.

“Sanada, biarkan hari ini aku yang akan memberitahukan mereka semua” pintanya sambil tersenyum padaku.

“Baiklah” jawabku lagi dan kembali pada berkas-berkas yang masih menumpuk. “Aku akan melanjutkan pekerjaan ini...” jawabku.

Selang beberapa saat kemudian, ruangan ini langsung dipenuhi dengan seluruh anggota yang bersiap-siap untuk pulang. Terlebih lagi kepada anggota biasa yang dengan cepat mengganti pakaiannya dan langsung berjalan keluar.

Sedangkan anggota regular biasanya mereka menghabiskan waktu disini untuk membersihkan tubuh mereka ataupun bercanda satu sama lain. Seperti Akaya yang sibuk berdebat dengan Niou, Marui yang menceritakan toko makanan yang baru dia temukan dengan Jackal, Yagyuu-Yanagi-Yukimura, mereka saling membicakan tentang tugas-tugas mereka yang secara kebetulan mereka berada didalam satu kelas yang sama.

“Sanada-fukubuchou, sedang apa?” tanya Akaya yang datang menghampiriku setelah selesai berdebat.

“Seperti biasa.”jawabku singkat. “Ada apa?”

“Ti-tidak” jawabnya sambil mundur beberapa langkah. “A-aku hanya ingin memberikan ini” dia meletakan sebuah kaleng minuman dingin. “Ha-hari ini kan panas sekali, fukubuchou. Siapa tau fukubuchou mau minum”

“Ah, terima kasih” jawabku singkat dan kembali pada pekerjaanku.

Tanpa aku sadari bahwa aku terlarut pada pekerjaan ini. Suasana di ruangan ini menjadi sangat sepi dan tidak lama kemudian pintu kamar mandi ruangan ini terbuka.

"Sanada, kami duluan.." ucap Niou dan Yagyuu berbarengan dengan masing-masing pasangannya

Aku hanya bisa diam tanpa kata melihat masing-masing anggota regular yang keluar ruangan dengan santainya. Memang hari ini tidak ada latihan sama sekali, tapi mengapa ada Cewek di ruangan ini?! Apa mungkin pasangan mereka? Diluar itu semua, bagaimana caranya mereka bisa membawa pasangan mereka masuk kesini?! Sedangkan ini adalah CLUB TENNIS LAKI-LAKI?!

Ditengah kebingunganku, aku melihat seseorang yang lebih membuatku merasa terkejut dan kusadari bahwa mulutku terbuka lebar. seseorang yang aku kenal dan kuhormati keluar dari ruangannya.

"Sanada, aku pergi dulu ya" ucap Seiichi sambil menggandeng seorang cewek disebelahnya

Perempuan itu menunduk sejenak dan tidak lama mentap pasangannya itu dan merekapun tertawa bersama... Setelah seluruh anggota regular keluar, tinggal aku saja yang tersisa diruangan ini.

"Mengapa.. mengapa mereka semua meninggalkanku? Apakah karena kelakuanku ini membuat mereka menjadi benci padaku... termasuk Yukimura? bukankah seharusnya dia bisa selalu berada bersamaku... terlebih disaat seperti ini...?! inikah hukuman bagiku...."

Aku hanya bisa duduk lemas dibangku ruangan ini, menadahkan kepala dengan kedua tanganku lalu menutup kedua mataku. Aku masih bertanya-tanya, mengapa mereka semua meninggalkanku hari ini. Biasanya mereka akan mengajakku pulang bersama. Jikalau memang tidak ada, Yukimura pasti yang akan terakhir kalinya mengajakku. Mungkinkah karena masing-masing dari mereka sudah mempunyai pasangan?

Ditengah-tengah kebingunganku tiba-tiba saja muncul sosok yang sangat aku kenal. Yukimura Seiichi. “Seiichi...”

“Sanada...” dia memanggil namaku lalu membalikan badannya. “Selesai”

“Selesai? Apa maksudmu?!” seruku.

Dia berjalan beberapa langkah dan menatapku sesaat. “Aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Kamu sudah berbohong padaku”

“Berbohong?”

“Bukankah kamu berjanji bahwa kamu akan datang sebelum operasiku dimulai? Tetapi mengapa kamu tidak datang pada saat itu?!”

“A-aku saat itu...”

“Cukup! Aku tidak mau dengar!” serunya dan berjalan meninggalkanku.

“Yu-Yukimura...” panggilku tetapi dia tidak menghiraukan. “Yukimura! Yukimura......!!”

“...nada....Sanada... Sanada....”

“Yukimura!” teriakku dan kulihat sesaat bahwa seluruh anggota regular terkejut dengan teriakanku itu.

“Sanada? Kamu kenapa?” tanya Yukimura yang sedang berdiri disebelahku.

“90% kemungkinan dia bermimpi buruk”

“Mimpi?” tanyaku bingung.

“Sanada-fukubuchou... tumben-tumbenan bisa tidur” celetuk Akaya yang sedang merapikan seragamnya.

“Mungkin dia kelelahan, puri~”

“Sanada, minumlah ini” sambung Jackal yang meletakan sebuah kaleng minuman didepanku.

“Kamu tidak apa-apa?” kali ini gantian Yagyuu yang bertanya.

“Barusan kamu mimpi apa? Mimpiin Yukimura?” celetuk Marui sambil merangkul Yukimura dan membuat Yukimura menunduk malu.

“Cie... Sanada fukubuchou... Mimpiin Yukimura buchou toh... memangnya Yukimura buchou kenapa?”

“Akaya! Tarundoru!”

“Ne, Sanada” panggil Yukimura sambil memegang wajahku. “Jadi, apa mimpimu? Sampai-sampai mengigau memanggil namaku terus menerus?”

“I-itu...” kata-kataku terhenti karena Yukimura semakin mendekatkan wajahnya dan tiba-tiba saja lampu diruangan ini mati. Tapi aku merasakan sesuatu yang hangat pada bibirku dan suara halus, “Sanada, Happy birthday”

Aku yang masih terkejut langsung pandanganku tertuju pada sebuah cahaya ditengah-tengah ruangan ini. Akaya sedang memegang kue tart bundar dan sambil mengucapkan “Happy birthday, Sanada fukubuchou”

Tar. Tar. Tar. Suara petasan kecilpun berbunyi dan beberapa pita berhamburan. Mereka semua bersama-sama menyanyikan lagu ulang tahun padaku. Aku hanya bisa diam membatu karena senang dan tidak menduga sama sekali.

Ada yang bernyanyi, menari, sibuk dengan makanan ataupun minuman. Padahal hari ini adalah ulangtahunku. Tapi karena mereka semua sudah bersusah payah, tidak aku pikirkan sama sekali. Disaat semua sibuk, Yukimura datang menghampiriku. “Sanada... Happy birthday”

“Terimakasih, Yukimura” jawabku.

“Maaf. Aku tidak bisa memberikan apa-apa.. hanya...”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa. Ucapan darimu, sudah menjadi hadiah terbesar bagiku”

“Sanada..” dengan cepat, Yukimura langsung mencium pipiku.

“Lihat!” teriak Akaya seperti anak kecil ditengah pesta.

“Ada apa, Bakaya?!” balas Niou yang sedang sibuk menuangkan air.

“Sa-Sanada fukubuchou... tertawa?”

“APA?!” seru seluruh anggota yang langsung menatapku dan Yukimura.

Yukimura hanya tersenyum, sedangkan aku, “Kalian semua.... TARUNDORU!”

Pesta berlangsung selama 1 jam diruangan ini dan tidak terasa bahwa waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Setelah merapikan dan membawa kue yang tersisa, aku dan Yukimura jalan pulang bersama.

“Sanada...” panggil Yukimura dengan lembut sambil menyandarkan dirinya disampingku.

“Ya?”

“Bolehkah aku tahu, apa yang tadi kamu mimpikan?”

Aku memalingkan mukaku dan berkata, “A-Aku...Aku...aku takut kehilanganmu...” ini benar-benar memalukan!

“Sanada...” panggilnya lalu dengan kedua tangannya meraih wajahku, didekatkan dengan wajahnya dan bibir kamipun saling bersentuhan.

“Yukimura!” seruku yang dibalas hanya dengan senyuman darinya. “Kamu ini...!” geramku dan aku membalas menciumnya.

“Sanada!” kali ini rona wajahnya yang berubah.

“Yukimura...” panggilku lagi. “Aku masih hutang 1 kali padamu...”

“Hah?”

“Iya... masih kurang 1 kan?”

Yukimura diam sejenak dan tersenyum. “Impas kok”

“Hah?” tanyaku bingung.

“Sanada, hari ini aku menginap dirumahmu ya” pintanya dan melingkarkan tangannya pada lenganku. Akupun membalas merangkulnya.

Sambil berjalan pulang, aku memikirkan dalam hatiku. Bukankah didalam klub tadi, dia yang duluan memberikan hadiahnya padaku? Lalu... kalau bukan.. siapa?

_____________________________

Aoryuu: Akhirnya kelar!!! Huaaa~~ ^^ senank!!!

Sana: *tarik* Aoi! Yang waktu lampu dimatiin, itu siapa yang melakukan?

Aoryuu: hmm....*mikir n smile* itu...itu... AKU!! Hahahha... *buak* (dilempar pot)

Hueee.... masa dilempar pot sih?!

Yuki: .... *evil smile*

Aoryuu: i-iya... *tutup kuping gen_chanz* buat pembaca, itu sebenarnya Yukimura... bu-bukan aku... gomen.. padahal aku... *natap gen_chanz yang masih innocent dengan telinga yang ditutup kedua tanganku* gen_chanz... (kali ini ditarik, leher dirante n diiket di tiang)

Huaaa!!! LEPASIN!!! TARUNDORU!!!!

Akaya: buchou, dia mau diapain?

Yuki: biarkan saja dia *evil smile*

Akaya: .... *natap ke ak* BA~~~KA~~~~

Aoryuu: hueeeee.... *emo cocon mode on*

Ok2.... ^^ buat gen_chanz... Otanjoubi Omedetou ya yang ke....ke... (???)

*sigh*

Please review n ur comment ^^

Sunday, May 16, 2010

How Come part 2

How Come _part 2

Ok..ok.. akhirnya dimulai lagi!

Hahaha.. untuk beberapa.. ya.. maafkan atas kegejean ini ^^ untuk kali ini, sebenarnya peran Yuki_chanz tu sebagai seorang istri ... ya.. memang itu sih kodratnya (ditimpukin)... hahahaha..

Kenapa kali ini Gen_chanz mendapatkan anugrah seperti itu, ya.. karena aku terinspirasi oleh sesuatu... ya... tp memang ada kok!

Sebelumnya aku trima kasih banget ya yang dagh review n dukunganna..

N maaf soal kegejean n fanfic yang bener2 konyol biz ne!! Hahaha....ok.. silahkan baca ^^

-----------------------------

Pov: Yuki_chanz

Des: Konomi sensei...

Charac: sanayuki

Rat: ?? (setelah dipikir2, biar aman M ja kali ya..

–padahal gak ada apa2 na- -____- )

---Yukimura Seiichi----

Membersihkan rumah, menyiapkan makan malam, menyiapkan pakaian tidur sambil menunggu air panas penuh dan juga menunggu di ruang keluarga adalah kebiasaanku sehari-hari. Beberapa kali aku melihat jam dinding bewarna biru itu yang tidak jauh dari tempatku berada. Jarum panjang berada diangka 12, sedangkan yang kecilnya sudah berada diangka 10. Aku hanya bisa menghela nafas dari penantianku ini.

“Genichirou telat lagi...” gumamku dan beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air. Kutatap meja diruang keluarga dari dapur. Satu set makan malam yang sudah tertata dengan rapi. Selain itu, sepertinya keadaan makan malam itu sudah berubah. Dibuktikan dari asap makanan yang sudah mulai menghilang.

Baru saja aku meletakan gelasku diatas tempat bak piring, aku mendengar suara pintu terbuka. Dengan setengah berlari, aku menuju asal suara tersebut. “Ah, selamat datang”

“Aku pulang” jawabnya sambil melepaskan sepatunya. Setelah itu, dia melakukan hal yang paling aku sukai. Dia meraih tanganku, memelukku, mencium keningku dan pipiku. “Hari ini kamu masak yakiniku, ya?”

Aku tertegun dan menatapnya malu. “Ah, gen-chan! Memangnya kamu tahu dari mana?” sangkalku. Seharusnya dia tidak mengetahuinya, karena aku sudah memasaknya sejak aku pulang.

Kali ini dia tertawa dan mencubit pipiku. “Mau tahu?” aku mengangguk. “Baru kali ini aku merasakan ‘mochi rasa yakiniku’, ya!”

Mochi rasa yakiniku...mochi rasa yakiniku!! “Gen-chan! Masa aku dibilang mochi?!” kesalku sambil mengembungkan pipiku.

Dia kembali tertawa. “Tuh, mochinya!” mencubit pipiku dan reflek aku menjauhinya. “Marah?”

“Habis, kamu suka sekali menggodaku!” kesalku dan melepaskan diriku dari pelukannya.

Dengan cepat dia menarik tanganku dan kembali memelukku. “Bagaimana kalau aku makan malam dengan ‘mochi rasa yakiniku’?” tatapnya.

Rasanya kalau tidak ada tulang, mungkin tubuhku benar-benar jatuh. Entah bagaimana dengan penampilanku saat ini. Pastinya tubuhku terasa panas dan detak jantungku berdetak lebih cepat dari pada biasanya.

Dia kembali mendekatkan wajahnya padaku dan terasa lembut bibirnya, nafasnya yang hangat dan bau tubuhnya yang khas. Semua itu terasa bagai ganja bagiku. Tubuhku terasa lemas dan tidak terasa bahwa dia sudah mendorongku hingga dinding. Sesaat aku menatap matanya dan diapun kembali mendekatkan wajahnya disebelah telingaku. “Rasanya aku sudah tidak tahan ingin memakanmu...”

Tubuhku terasa benar-benar panas! Aku melingkarkan tanganku pada lehernya dan membiarkan dia menyentuh diriku. Sambil menahan geli, aku hanya bisa menutup mataku dan menggenggam tanganku sendiri. “Seiichi...” Genichirou yang menyadarinya, memegang tanganku, mengkaitkan jari kami, mengelus wajahku dengan tangan satunya dan dengan ganasnya dia mencium bibirku lagi.

“Seiichi...” panggilnya sesaat setelah menciumku untuk beberapa lama dan tiba-tiba saja dia bersandar pada bahuku.

“Gen-chan....” aku masih saja terbawa suasana. Tapi, aku mulai merasa aneh dengannya. Dalam beberapa saat, tidak ada gerakan darinya. Kupanggil namanya tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Hingga akhirnya aku mencoba mendorongnya dan dengan cepat dia langsung terjatuh lemas. “Genichirou!” teriakku dan mencoba untuk memanggilnya.

Setelah dibantu oleh pemilik apartemen yang kebetulan sedang memberikan seputar informasi kepada kami, aku terus berada disebelahnya yang tertidur dengan tenang. Rasa khawatir dan cemas bercampur menjadi satu.

Apa dia kelelahan? Apakah pekerjaannya kali ini sungguh menguras tenaganya? Tapi biasanya dia akan izin padaku untuk tidak pulang jika pekerjaannya benar-benar menunpuk? Ataukah dia memaksakan dirinya karena aku selalu mengeluh padanya...? jadi ini semua adalah salahku....? salahku....?

Rasa cemas yang memenuhi pikiranku membuat perasaanku menjadi kacau dan tidak terasa wajahku mulai panas dan basah. Tiba-tiba saja terasa sebuah tangan besar memegang wajahku. “Se...Seiichi... Kamu kenapa menangis?”

Aku hanya bisa terisak dan memegang tangan besarnya. “Maaf... Maafkan aku...”

“Kenapa? Kenapa kamu meminta maaf padaku?”

“Maaf... maaf atas keegoisanku... maaf kalau aku sudah merepotkanmu... maaf kalau aku...” belum selesai aku berbicara, dia langsung menarikku kedalam pelukannya. “Genichirou?”

“Seiichi...” panggilnya sambil mengelus rambutku. “Jangan kamu terus meminta maaf padaku. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu...”

“Hah?”

“Ya... Tapi Seiichi...” dia melepaskan pelukannya dan menatapku. “Bisakah kamu memberikanku beberapa waktu padaku, untuk menemukan kapan waktu yang tepat untuk menjelaskannya padamu?”

Aku mengangguk pelan dan memeluknya dengan erat. “Genichirou... aku sayang kamu...”

“Ya, aku juga... Aku sayang padamu...” balasnya dan diapun membawaku untuk berbaring disebelahnya.

Keanehan yang dilakukan Genichirou semakin terlihat olehku. Dia semakin banyak makan dan tidak jarang juga dia terlihat tidak sehat. Sering kali aku memaksanya untuk beristirahat tetapi dia selalu menolak. Aku memang tidak bisa memaksanya. Aku hanya takut terjadi apa-apa padanya.

Hingga aku menemukan sesuatu yang ganjil padanya. Sebelum sarapan, beberapa kali dia ke kamar mandi dan ... setelah itu terdengar suara air dari keran kamar mandi. Setelah dia keluar, aku langsung mendekatinya dan memberikan segelas air hangat. “Genichirou.. sebaiknya kamu kerumah sakit degh... aku khawatir kalau kamu bukan masuk...”

“Aku tidak apa-apa!” serunya. “Tenang saja, aku hanya masuk angin saja, kok!”

“Ta-tapi aku hanya...”

“Sudah! Tidak apa-apa!” serunya lagi. Sudah lama kami tidak berantem seperti ini, membuatku menjadi bingung dan takut. “Aku berangkat dulu...”

“Selamat jalan” balasku sambil membereskan meja sehabis sarapan. Aku benar-benar takut melihat dia yang seperti itu. Mungkin disebabkan aku yang terlalu over kepadanya.

Hari ini jadwalku sedang kosong sehingga aku bisa meluangkan waktuku untuk merapikan tempat tidurku. Kurapikan beberapa barang dilemari besar kamar ini dan menemukan beberapa hal yang membuatku bernostalgia. Sebuah album foto saat jalan-jalan bersama dan ditengah-tengah pernikahan kami.

Setelah semuanya selesai, kali ini aku merapikan barang-barang Genichirou. Memilah-milah beberapa barang yang biasa digunakan olehnya dan yang sudah tidak layak pakai. Hingga akhirnya aku merapikan tas yang biasa dia bawa. Seharusnya aku tidak melakukannya, tetapi aku tidak sengaja menjatuhkannya dan seluruh isinya keluar begitu saja.

“Gawat! Kalau Genichirou tahu, bisa-bisa dia marah padaku” gumamku sambil satu persatu memasukannya dan menemukan sesuatu yang membuatku terkejut. Sebuah kotak yang biasa digunakan untuk mengetes kehamilan. “Genichirou punya ini?” pikirku sejenak. “Apakah dia uring-uringan karena ini?”

Kalau dipikir-pikir, sejak aku menikah dengannya 3 tahun yang lalu, kami belum sama sekali dikaruniai anak. Mungkinkah sebenarnya dia menginginkannya tetapi tidak bisa jujur padaku? Tapi, seingatku setiap kali membahas masalah ini, dia selalu menjawab, “Kamu tenang saja. Aku tidak ingin memaksamu. Aku akan sabar menunggu hingga kamu siap”

Aku tersenyum pada diriku sendiri dan melanjutkan aktivitasku. Tetapi aku kembali menemukan sesuatu yang lebih membuatku terkejut dan aku merasakan nafasku yang berhenti. Sebuah alat yang sudah tertera tanda positif. “Genichirou...dia....”

Tubuhku melemas. ‘ini’kah yang dia maksudkan beberapa hari yang lalu? Apakah dia ingin memberitahuku bahwa sudah ada orang lain selain aku? Apakah dia sebenarnya tidak bahagia denganku sehingga dia mencari penggantiku?

Aku masih terbawa pada pikiranku sendiri hingga tanpa aku sadari bahwa hari sudah semakin malam dan terdengar olehku suara bel pintu rumah ini.

“Aku pulang” Seru seseorang yang sangat aku kenal. Aku masih saja diam terpaku dan pintu kamar inipun terbuka. “Seiichi, mengapa gelap-gelapan?” dia menyalakan lampu kamar ini dan terasa olehku bahwa dia berjalan mendekatiku. “Se-Seiichi...”

Tanganku masih memegang alat tersebut dan menatapnya tajam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, begitu juga dengan dia. Kami hanya saling menatap satu sama lain. Wajahku mulai panas dan basah. Isak tangiskupun mulai memenuhi ruangan ini. “Genichirou! Apa ini?!”

Dia hanya diam saja dan menundukan wajahnya. “Genichirou! Sanada Genichirou! Tatap mataku!” seruku sambil memegang bahunya yang kekar itu. “Jelaskan padaku ini semua! Genichirou! Genichirou...!!!”

---------------------------------------------------------

Yuki: ....

Sana: ...

Aoryuu: ....

Loh kok jadi pada diem2an smua??

Sana: Aoi! *narik* gara2 u nih!! Yukimura gak mau bicara sama aku!!

Aoryuu: ....

Sana: jangan diem aja!

Aoryuu: jadi u mau na gimana???

Sana: ....

Aoryuu: ... (?)

Ok.. please review n ur comment ya ><


next: How Come part 3

prev: How Come part 1