Sunday, May 16, 2010

How Come part 2

How Come _part 2

Ok..ok.. akhirnya dimulai lagi!

Hahaha.. untuk beberapa.. ya.. maafkan atas kegejean ini ^^ untuk kali ini, sebenarnya peran Yuki_chanz tu sebagai seorang istri ... ya.. memang itu sih kodratnya (ditimpukin)... hahahaha..

Kenapa kali ini Gen_chanz mendapatkan anugrah seperti itu, ya.. karena aku terinspirasi oleh sesuatu... ya... tp memang ada kok!

Sebelumnya aku trima kasih banget ya yang dagh review n dukunganna..

N maaf soal kegejean n fanfic yang bener2 konyol biz ne!! Hahaha....ok.. silahkan baca ^^

-----------------------------

Pov: Yuki_chanz

Des: Konomi sensei...

Charac: sanayuki

Rat: ?? (setelah dipikir2, biar aman M ja kali ya..

–padahal gak ada apa2 na- -____- )

---Yukimura Seiichi----

Membersihkan rumah, menyiapkan makan malam, menyiapkan pakaian tidur sambil menunggu air panas penuh dan juga menunggu di ruang keluarga adalah kebiasaanku sehari-hari. Beberapa kali aku melihat jam dinding bewarna biru itu yang tidak jauh dari tempatku berada. Jarum panjang berada diangka 12, sedangkan yang kecilnya sudah berada diangka 10. Aku hanya bisa menghela nafas dari penantianku ini.

“Genichirou telat lagi...” gumamku dan beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air. Kutatap meja diruang keluarga dari dapur. Satu set makan malam yang sudah tertata dengan rapi. Selain itu, sepertinya keadaan makan malam itu sudah berubah. Dibuktikan dari asap makanan yang sudah mulai menghilang.

Baru saja aku meletakan gelasku diatas tempat bak piring, aku mendengar suara pintu terbuka. Dengan setengah berlari, aku menuju asal suara tersebut. “Ah, selamat datang”

“Aku pulang” jawabnya sambil melepaskan sepatunya. Setelah itu, dia melakukan hal yang paling aku sukai. Dia meraih tanganku, memelukku, mencium keningku dan pipiku. “Hari ini kamu masak yakiniku, ya?”

Aku tertegun dan menatapnya malu. “Ah, gen-chan! Memangnya kamu tahu dari mana?” sangkalku. Seharusnya dia tidak mengetahuinya, karena aku sudah memasaknya sejak aku pulang.

Kali ini dia tertawa dan mencubit pipiku. “Mau tahu?” aku mengangguk. “Baru kali ini aku merasakan ‘mochi rasa yakiniku’, ya!”

Mochi rasa yakiniku...mochi rasa yakiniku!! “Gen-chan! Masa aku dibilang mochi?!” kesalku sambil mengembungkan pipiku.

Dia kembali tertawa. “Tuh, mochinya!” mencubit pipiku dan reflek aku menjauhinya. “Marah?”

“Habis, kamu suka sekali menggodaku!” kesalku dan melepaskan diriku dari pelukannya.

Dengan cepat dia menarik tanganku dan kembali memelukku. “Bagaimana kalau aku makan malam dengan ‘mochi rasa yakiniku’?” tatapnya.

Rasanya kalau tidak ada tulang, mungkin tubuhku benar-benar jatuh. Entah bagaimana dengan penampilanku saat ini. Pastinya tubuhku terasa panas dan detak jantungku berdetak lebih cepat dari pada biasanya.

Dia kembali mendekatkan wajahnya padaku dan terasa lembut bibirnya, nafasnya yang hangat dan bau tubuhnya yang khas. Semua itu terasa bagai ganja bagiku. Tubuhku terasa lemas dan tidak terasa bahwa dia sudah mendorongku hingga dinding. Sesaat aku menatap matanya dan diapun kembali mendekatkan wajahnya disebelah telingaku. “Rasanya aku sudah tidak tahan ingin memakanmu...”

Tubuhku terasa benar-benar panas! Aku melingkarkan tanganku pada lehernya dan membiarkan dia menyentuh diriku. Sambil menahan geli, aku hanya bisa menutup mataku dan menggenggam tanganku sendiri. “Seiichi...” Genichirou yang menyadarinya, memegang tanganku, mengkaitkan jari kami, mengelus wajahku dengan tangan satunya dan dengan ganasnya dia mencium bibirku lagi.

“Seiichi...” panggilnya sesaat setelah menciumku untuk beberapa lama dan tiba-tiba saja dia bersandar pada bahuku.

“Gen-chan....” aku masih saja terbawa suasana. Tapi, aku mulai merasa aneh dengannya. Dalam beberapa saat, tidak ada gerakan darinya. Kupanggil namanya tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Hingga akhirnya aku mencoba mendorongnya dan dengan cepat dia langsung terjatuh lemas. “Genichirou!” teriakku dan mencoba untuk memanggilnya.

Setelah dibantu oleh pemilik apartemen yang kebetulan sedang memberikan seputar informasi kepada kami, aku terus berada disebelahnya yang tertidur dengan tenang. Rasa khawatir dan cemas bercampur menjadi satu.

Apa dia kelelahan? Apakah pekerjaannya kali ini sungguh menguras tenaganya? Tapi biasanya dia akan izin padaku untuk tidak pulang jika pekerjaannya benar-benar menunpuk? Ataukah dia memaksakan dirinya karena aku selalu mengeluh padanya...? jadi ini semua adalah salahku....? salahku....?

Rasa cemas yang memenuhi pikiranku membuat perasaanku menjadi kacau dan tidak terasa wajahku mulai panas dan basah. Tiba-tiba saja terasa sebuah tangan besar memegang wajahku. “Se...Seiichi... Kamu kenapa menangis?”

Aku hanya bisa terisak dan memegang tangan besarnya. “Maaf... Maafkan aku...”

“Kenapa? Kenapa kamu meminta maaf padaku?”

“Maaf... maaf atas keegoisanku... maaf kalau aku sudah merepotkanmu... maaf kalau aku...” belum selesai aku berbicara, dia langsung menarikku kedalam pelukannya. “Genichirou?”

“Seiichi...” panggilnya sambil mengelus rambutku. “Jangan kamu terus meminta maaf padaku. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu...”

“Hah?”

“Ya... Tapi Seiichi...” dia melepaskan pelukannya dan menatapku. “Bisakah kamu memberikanku beberapa waktu padaku, untuk menemukan kapan waktu yang tepat untuk menjelaskannya padamu?”

Aku mengangguk pelan dan memeluknya dengan erat. “Genichirou... aku sayang kamu...”

“Ya, aku juga... Aku sayang padamu...” balasnya dan diapun membawaku untuk berbaring disebelahnya.

Keanehan yang dilakukan Genichirou semakin terlihat olehku. Dia semakin banyak makan dan tidak jarang juga dia terlihat tidak sehat. Sering kali aku memaksanya untuk beristirahat tetapi dia selalu menolak. Aku memang tidak bisa memaksanya. Aku hanya takut terjadi apa-apa padanya.

Hingga aku menemukan sesuatu yang ganjil padanya. Sebelum sarapan, beberapa kali dia ke kamar mandi dan ... setelah itu terdengar suara air dari keran kamar mandi. Setelah dia keluar, aku langsung mendekatinya dan memberikan segelas air hangat. “Genichirou.. sebaiknya kamu kerumah sakit degh... aku khawatir kalau kamu bukan masuk...”

“Aku tidak apa-apa!” serunya. “Tenang saja, aku hanya masuk angin saja, kok!”

“Ta-tapi aku hanya...”

“Sudah! Tidak apa-apa!” serunya lagi. Sudah lama kami tidak berantem seperti ini, membuatku menjadi bingung dan takut. “Aku berangkat dulu...”

“Selamat jalan” balasku sambil membereskan meja sehabis sarapan. Aku benar-benar takut melihat dia yang seperti itu. Mungkin disebabkan aku yang terlalu over kepadanya.

Hari ini jadwalku sedang kosong sehingga aku bisa meluangkan waktuku untuk merapikan tempat tidurku. Kurapikan beberapa barang dilemari besar kamar ini dan menemukan beberapa hal yang membuatku bernostalgia. Sebuah album foto saat jalan-jalan bersama dan ditengah-tengah pernikahan kami.

Setelah semuanya selesai, kali ini aku merapikan barang-barang Genichirou. Memilah-milah beberapa barang yang biasa digunakan olehnya dan yang sudah tidak layak pakai. Hingga akhirnya aku merapikan tas yang biasa dia bawa. Seharusnya aku tidak melakukannya, tetapi aku tidak sengaja menjatuhkannya dan seluruh isinya keluar begitu saja.

“Gawat! Kalau Genichirou tahu, bisa-bisa dia marah padaku” gumamku sambil satu persatu memasukannya dan menemukan sesuatu yang membuatku terkejut. Sebuah kotak yang biasa digunakan untuk mengetes kehamilan. “Genichirou punya ini?” pikirku sejenak. “Apakah dia uring-uringan karena ini?”

Kalau dipikir-pikir, sejak aku menikah dengannya 3 tahun yang lalu, kami belum sama sekali dikaruniai anak. Mungkinkah sebenarnya dia menginginkannya tetapi tidak bisa jujur padaku? Tapi, seingatku setiap kali membahas masalah ini, dia selalu menjawab, “Kamu tenang saja. Aku tidak ingin memaksamu. Aku akan sabar menunggu hingga kamu siap”

Aku tersenyum pada diriku sendiri dan melanjutkan aktivitasku. Tetapi aku kembali menemukan sesuatu yang lebih membuatku terkejut dan aku merasakan nafasku yang berhenti. Sebuah alat yang sudah tertera tanda positif. “Genichirou...dia....”

Tubuhku melemas. ‘ini’kah yang dia maksudkan beberapa hari yang lalu? Apakah dia ingin memberitahuku bahwa sudah ada orang lain selain aku? Apakah dia sebenarnya tidak bahagia denganku sehingga dia mencari penggantiku?

Aku masih terbawa pada pikiranku sendiri hingga tanpa aku sadari bahwa hari sudah semakin malam dan terdengar olehku suara bel pintu rumah ini.

“Aku pulang” Seru seseorang yang sangat aku kenal. Aku masih saja diam terpaku dan pintu kamar inipun terbuka. “Seiichi, mengapa gelap-gelapan?” dia menyalakan lampu kamar ini dan terasa olehku bahwa dia berjalan mendekatiku. “Se-Seiichi...”

Tanganku masih memegang alat tersebut dan menatapnya tajam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, begitu juga dengan dia. Kami hanya saling menatap satu sama lain. Wajahku mulai panas dan basah. Isak tangiskupun mulai memenuhi ruangan ini. “Genichirou! Apa ini?!”

Dia hanya diam saja dan menundukan wajahnya. “Genichirou! Sanada Genichirou! Tatap mataku!” seruku sambil memegang bahunya yang kekar itu. “Jelaskan padaku ini semua! Genichirou! Genichirou...!!!”

---------------------------------------------------------

Yuki: ....

Sana: ...

Aoryuu: ....

Loh kok jadi pada diem2an smua??

Sana: Aoi! *narik* gara2 u nih!! Yukimura gak mau bicara sama aku!!

Aoryuu: ....

Sana: jangan diem aja!

Aoryuu: jadi u mau na gimana???

Sana: ....

Aoryuu: ... (?)

Ok.. please review n ur comment ya ><


next: How Come part 3

prev: How Come part 1

No comments:

Post a Comment