Characters:
· Rie
· Katou
· Saeki
N/A: untuk nama sengaja aku tidak menggunakan nama lengkap karena .. ya ^^ bayangkan saja kira2 seperti apa mereka itu ^^b
Pov: Rie
Rat: M (maybe…maybe….)
--start---
Tidak terasa sudah 1 tahun lamanya aku memperhatikan teman sebangkuku sejak semester 2 ditahun kedua ini. Saeki, selalu menjadi pusat perhatian dengan keahliannya dalam olahraga dan sering kali tidak masuk. Atau dengan kata lain melewati pelajaran jika dia sudah merasa bosan. Untuk pelajaran kimia hari inipun dia tidak masuk kelas.
Ketika jam istirahat, aku memutuskan untuk menemuinya.
“Rie?” panggil Ryuto. “Kamu mau kemana? Tidak makan siang?”
“Tidak” jawabku singkat sambil tersenyum. “Setelah ini kita jam pelajaran apa ya?”
“Matematika” balasnya sambil membuka kotak bekalnya. “Kau tidak masuk?”
Aku diam sejenak. ‘Saeki pasti bolos lagi’. Kuraih kalkulatorku dan menyerahkannya pada Ryuto. “Sepertinya aku tidak masuk. Oh ya, tolong berikan kalkulator ini pada Hana ya” Ryuto mengangguk dan kembali melanjutkan makan siangnya.
Setelah merapikan bukuku, dengan cepat aku berjalan menuju atap sekolah. Ketika sampai disana, aku tidak terkejut dengan apa yang dia lakukan. Tidur.
“Saeki?” panggilku sesaat. Saeki sepertinya tidak mendengar. Kulanjutkan langkahku menuju pinggi tembok dan bersandar sambil melihat kelangit. Kututup kedua mataku dan merasakan angin yang bersemilir menyentuh wajahku. “Nyamannya…”
“Benarkah?”
Kubuka kedua mataku dan kulihat wajah Saeki yang sudah berada hadapanku. Jarak antara kedua wajah kami sangat berdekatan. Kudorong tubuhnya hingga dia duduk terjatuh.
“Apa yang kamu lakukan?!”
“Kamu sendiri?” balasnya lalu duduk disebelahku. “Bukannya setelah ini jam matematika?”
“Yap!”
“Lalu kenapa kamu disini?”
“Malas” Kami berdua tertawa.
“Tidak kusangka… Rie yang mendapat julukan sebagai anak paling rajin, bisa bolos pelajaran?”
“Tidak bolehkah?” tanyaku balik. Saeki hanya tertawa dan memukul pelan punggungku. “Sekali-kali bersantai, bukan?”
“Yap! Benar sekali”
Entah sudah berapa lama kami saling berbicara. Mengenai pelajaran maupun guru-guru kami. Tidak kusangka topik dan gaya pembicaraan kami bisa nyambung.
“Rie” panggilnya ditengah tawa kami.
“Hmm?” aku membalikan wajahku untuk menatapnya dan tiba-tiba saja wajah Saeki sudah berada didepanku.
“Rie, aku suka kamu”
“Apa?!” terkejutku. Kurasakan detak jantungku yang berdetak cepat namun nafasku tertahan oleh sesuatu. Entah apa yang menahannya.
“Sudah lama aku memperhatikanmu. Kamu sungguh berbeda, Rie. Tidak seperti anak perempuan pada umumnya”
“Apa maksudmu, Saeki?”
Saeki tersenyum. “Kamu itu special, Rie. Maukah kamu menerimaku menjadi pacarmu?”
Nafasku benar-benar tertahan. Saeki semakin menipiskan jarak diantara wajah kami dan kurasakan nafasnya pada wajahku. Bibir lembutnya dapat kurasakan. Kedua mataku hanya terbuka bingung dan tidak ada perlawanan sama sekali dariku.
“Rie? Bagaimana denganmu? Apakah kamu menyukaiku juga?”
Aku tersenyum dan memeluknya. “Ya, aku menyukaimu, Saeki”
“Rie…” kami kembali saling menatap satu sama lain dan kembali kurasakan hangat tubuhnya melalui bibirnya itu. Bahkan dapat kurasakan detak jantungnya yang berdetak cepat. Saling beradu dengan detak jantungku.
---ooo---
Kesibukan disekolah dan membina hubungan kami tidak terasa sudah berjalan 6 bulan. Banyak hal yang kami lakukan seperti jalan-jalan ke pantai, berfoto bersama dalam suatu event, makan malam dan masih banyak hal lainnya.
Kesenangan yang sudah berjalan 6 bulan ini harus kami lebih perhatikan sejak memasuki jenjang perkuliahan. Saeki lebih memilih pada bidang komunikasi sedangkan aku lebih memilih pada bidang bisnis. Jarak tidak membuat hubungan kami berhenti. Mengatur waktu dengan baik membuat aku dan Saeki bisa tetap bersama walaupun tidak sebanyak dulu.
“Saeki!” panggilku ketika aku baru saja selesai mengerjakan beberapa proposalku. “Sudah lama?
“Tidak kok” balasnya sambil mencium keningku.
“Saeki!” omelku dan langsung menarik tangannya. “Malu sedikit kenapa?!”
“Lah? Tidak boleh,kah? Kita kan sudah satu tahun berpacaran. Jadi wajar-wajar saja donk…”
“…tapi tidak di tempat umum!” bantahku.
Seperti biasa kami menghabiskan waktu makan siang kami bersama-sama. Kali ini kami makan siang disebuah restorant kecil yang tidak jauh dari kampus.
“RIe, bagaimana dikelas? Menyenangkan?”
Aku tertawa kecil. “Kau ingat Ryuto?” Saeki mengangguk. “Akhirnya terbongkar juga rahasianya…!”
“Rahasianya?”
Aku mengangguk pelan. “Walaupun kita sama-sama anak bisnis, dia mendapat panggilan keluar untuk sebuah konser”
“Lalu apa hubungannya antara bisnis dan konser?”
Aku menghela nafas sejenak. “Aduh Saeki! Jadi Ryuto itu tidak hanya kuliah bisnis, tetapi juga mengambil sekolah musik! Dan… secara kebetulan ada pertukaran pelajar disekolahnya itu. Kau tahu, pelajar yang nanti akan bermain bersama Ryuto itu anak laki-laki yang tampan! Saat ini Ryuto sedang dikerumuni oleh teman-teman mengenai laki-laki tersebut”
Saeki terlihat diam dan menggenggam tanganku. “Lalu, bagaimana denganmu?”
Aku tertegun dan diam sejenak. Senyuman terbaikku kuberikan padanya. “Tenang saja, Saeki. Aku tidak mungkin meninggalkanmu, ya…”
Saeki mengangguk pelan. “Terima kasih, ya” balasnya sambil mengusap kepalaku.
Aku mengangguk. “Yuk kita makan. Sebentar lagi aku sudah mau masuk kelas”
“Sama”
Selesainya jam makan siang, dengan segera aku berpamitan dengan Saeki dan kembali kegedungku untuk pelajaran berikutnya. Ketika aku sampai dikelas, Ryuto sudah dikerubuni . Ryuto yang kewalahan langsung berlari pelan menghampiriku.
“Rie…” peluk Ryuto dari belakang.
“Ryuto? Ada apa?”
“Aku lelah…” ucapnya dan menyandarkan kepalanya pada bahuku.
Aku hanya tersenyum dan mengajaknya untuk mencari tempat yang pas untuk kami duduk. Ryuto yang biasanya jarang berinteraksi dengan orang lain, tiba-tiba saja harus menerima banyak pertanyaan dari teman sekelasku.
“Ryuto, boleh tahu kapan konsernya?” tanyaku padanya yang sedang menyandarkan kepalanya diatas meja.
“Akhir pertengahan tahun ini. Kamu mau datang?”
“Tentu saja!” balasku sambil menepuk punggungnya. “Aku akan menonton”
“Terima kasih” balasnya. Ryuto mengambil handphonenya, menekan tutsnya lalu mengarahkan layarnya padaku.
“Ada apa Ryuto?”
“Bagaimana menurutmu orang ini?” raut wajahnya terlihat memerah.
“Yang mana? Yang ini?” tunjukku pada seseorang memakai kemeja putih disebelah seseorang yang memakai kemeja hitam.
“Bukan. Yang kemeja putih itu Katou”
“Katou?” aku benar-benar terkejut. Beda sekali dia difoto ini…
“Yap! Maksudku yang satunya”
“Yang kemeja hitam?” Ryuto mengangguk. “Dia ini siapa?”
“Temannya. Katou sekarang sedang menginap ditempat temannya itu…” kali ini aku yang mengangguk.
“Bagaimana menurutmu?”
Aku memperhatikannya sejenak dengan sesama. “Kok, tampangnya seperti…” Ryuto hanya diam dan menyembunyikan wajahnya. “Ryuto, jangan-jangan kamu…”
“Tidak. Aku…aku hanya…”
Aku kembali tertawa melihat tingkah Ryuto. Sesaat aku kembali memperhatikan foto Katou. Foto yang pernah ditunjukan oleh Ryuto terlihat lebih kekanak-kanakkan. Namun difoto kali ini, Katou terlihat lebih dewasa.
Seiring berjalannya waktu aku pun mulai menyadari sesuatu. Sejak aku sering menemaninya berlatih, sesering itu aku bertemu dengan Katou. Perasaan kagumku padanya mulai berubah menjadi rasa suka. Tapi tidak mungkin aku lakukan karena aku sudah mempunyai seseorang disisiku, Saeki.
“Rie? Rie? Rie…?” Saeki membuyarkan lamunanku. “Kamu tidak apa-apa?”
“Ah tidak apa” bantahku. “Ada apa, Saeki?”
Saeki terlihat bingung dan curiga. “Kamu tidak menyentuh makan siangmu sama sekali. Ada apa? Apa kamu sakit?” tanyanya sambil memegang keningku.
“Tidak kok. Aku hanya pusing…”
“Pusing?”
“…dengan laporan-laporan yang terus menumpuk”
Saeki tertawa. “Oh, berjuanglah. Tinggal sebentar lagi kita selesai ujian” Aku mengangguk setuju.
Maafkan aku Saeki. Aku tidak bisa mengatakan kalau ada orang lain yang sedang aku pikirkan…
Sore harinya aku kembali menemani Ryuto berlatih dengan Katou. Tidak terasa waktu berjalan cepat dan hari sudah menjadi gelap. Saeki sempat berencana untuk menjemputku. Tetapi arah rumahnya dan tempat latihan Ryuto saling berlawanan, sehingga aku menolaknya dengan halus.
“Bagaimana kalau kamu pulang bersamaku?” tanya Katou sambil menyalakan mobilnya.
“Eh?” tanyaku bingung. “Tapi bukankah kamu akan mengantar Ryuto?”
“Tidak apa-apa kok, Rie” sambung Ryuto. “Setelah ini aku masih ada acara dengan Kane-niichan. Jadi kamu tidak usah khawatir”
Setelah sedikit berdebat, akhirnya Katou mengantarku pulang. Dalam perjalanan banyak sekali yang kami bicarakan. Rasanya nyaman sekali berbicara dengannya. Berbeda dengan Saeki yang berbicara penuh dengan semangat. Katou terlihat tenang dan menyejukkan.
“Katou, sampai kapan kamu akan disini?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku ingin tetap sekolah musik dikota ini saja…”
“Kenapa?”
Katou diam sejenak dan menghentikan laju mobilnya tepat didepan rumahku. “Rie, aku menyukaimu”
Aku tertegun. “Apa…? Ke-kenapa bisa… kita baru 3 bulan bertemu”
Katou menggeleng. “Sebenarnya aku sudah terlebih dulu memperhatikanmu, Rie. Sejak 2 tahun yang lalu…”
“Dua tahun yang lalu?”
“Ketika ada konser kecil dikota ini. Untung saja aku tahu kalau kamu dan Ryuto saling mengenal sehingga aku bisa menanyakan padanya mengenai dirimu…”
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar saat ini. “Tapi, Katou… aku sudah…”
“Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui kamu sudah mempunyai pacar, Rie. Tapi hari ini ketika aku mendengar ceritamu, aku merasa kalau kamu tidak merasa nyaman dengan pacarmu itu…”
Aku ? tidak nyaman dengan Saeki?
“Tidak. Itu tidak benar, Katou…” tolakku. “Maaf… aku tidak bisa…”
Tiba-tiba saja Katou meraih tanganku dan menatapku. “Kumohon Rie… jujurlah pada dirimu sendiri… aku berjanji tidak akan menyakiti ataupun membuatmu bersedih…”
Ditengah kebingunganku, tiba-tiba saja Katou mendekatkan wajahnya dan langsung mencium pipiku. Kurasakan wajahku memanas. “Katou!”
“Maaf. Aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini…” balasnya dan seketika dia melepaskan genggamannya padaku. “Aku akan terus menunggumu, Rie…”
Dengan cepat aku langsung turun dari mobilnya dan segera masuk kedalam rumahku. Pikiranku benar-benar kacau. Aku sungguh tidak tahu mengapa semua ini bisa berjalan begitu cepat.
Aku tidak mencintai Saeki? Tidak… aku sungguh menyayanginya… walaupun terkadang sikap overprotectivenya memang sedikit membuat ruang gerakku terbatas. Tetapi itulah bukti cintanya padaku… tidak bahagia? Aku bahagia dengannya… namun…
----oooo----
Diakhri minggu, Saeki mengajakku ke taman dan berarti sudah 2 hari aku mendiamkan pernyataan dari Katou. Dia tidak menghubungi ataupun mengirimku pesan. Mungkinkah dia sudah menyerah denganku?
“Rie? Kamu bengong lagi? Kenapa?”
“Tidak” bantahku. “Memangnya aku bengong?”
Saeki menghela nafas. “Rie, sebenarnya ada apa? Tidak bisakah kamu ceritakan padaku?”
Maaf Saeki…
“Apakah ada masalah dengan keluargamu? Kelasmu? Teman-temanku?”
Saeki… aku tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja..
“Apa kamu tidak percaya padaku, Rie?!” nada suaranya sedikit meninggi. “Kita sudah hampir 2 tahun berpacaran dan kamu masih tidak percaya denganku?!”
“Bu-bukan begitu, Saeki…” kurasakan suaraku bergetar.
“Lalu apa?! Bukankah kita sudah berjanji, ketika kita sedang bersama, jangan pikirkan apapun termasuk masalah di kampus ataupun teman-temanmu?!”
“I-ia Saeki…”
“Rie!” Saeki memegang dan menarik bahuku dengan kasar. “Ataukah kamu sedang memikirkan orang lain selain aku?”
Aku menggeleng ketakutan. “Tidak ada Saeki… percayalah…”
“Aku percaya padamu, Rie. Namun sepertinya kamu memang tidak percaya padaku…” Saeki melepaskan pegangannya dan berjalan meninggalkanku.
“Saeki!” kukejar dia dan kupeluk dia dari belakang. “Maafkan aku…Maafkan aku…” isakku.
Aku benar-benar bingung. Sebenarnya aku sudah biasa menghadapi sikap Saeki yang seperti ini, tetapi kenapa saat ini perasaanku begitu sakit. Sakit sekali. Hingga aku merasa kalau aku benar-benar stress dibuatnya.
“Rie..!” Saeki menarikku kedalam bagian taman kota ini lebih dalam. Saeki mendekatkanku pada sebuah pohon besar lalu menciumku dengan kasar.
“Sa-saeki…” nafasku mulai memburu.
Perlahan kurasakan tangan Saeki yang mulai bergerak dari memegang wajah, leherku hingga menyentuh pakaianku.
“Saeki! Le-lepaskan!” rontaku.
“Rie, sudah lama sekali aku menginginkan ini. Jika kamu memang mencintaiku, kamu harus mau menerimanya”
“A-aku sungguh mencintaimu, Saeki. Tapi tidak sekarang!” tolakku.
Saeki terus menyentuh tubuhku dan perlahan memasukan tangannya kedalam rok yang aku pakai. Rasa takutku yang sudah memuncak memberikanku kekuatan untuk mendorongnya hingga terjatuh.
“Rie!”
Ketika Saeki hendak mendekatiku, aku langsung membalikan badanku dan berlari menjauhinya. Namun gerak Saeki yang lebih cepat, dia langsung menangkap tanganku dan mendorongku.
“Rie! Buktikan kalau kamu memang mencintaiku”
“Tidak Saeki! Aku belum siap!” isakku.
“Kamu harus bisa siap, Rie”
“Tidak! Lepaskan Saeki! Lepaskan!!” Saeki kembali menciumku dengan kasar sambil kembali menyentuhku.
Rasa takut terus memenuhi pikiranku. Kucoba terus meminta padanya untuk berhenti, namun sepertinya Saeki tidak mendengarkanku sama sekekali. Ketika Saeki mulai mencoba membuka seluruh pakaianku…
“Saeki! Kamu sudah gila! Lepaskan!!”
“Tidak akan, Rie! Aku sungguh mencintaimu!”
“Tidak! Tidak!”
Tiba-tiba saja ada seseorang yang mendorong Saeki hingga terjatuh. Ketika kulihat, sesosok laki-laki memakai kaus berwana putih dengan jaket yang sedang dia buka, langsung menutup tubuhku, dan menarikku.
“Rie! Rie!” suara teriakan Saeki menipis seiring laki-laki itu terus membawaku pergi. Tanpa sadar, pandanganku mulai kabur dan menjadi gelap.
--ooo--
“Rie… Rie… bangunlah…” suara seseorang yang perlahan membangunkanku.
Kubuka kedua mataku dan kulihat langit sudah mulai berubah menjadi warna merah. Sepertinya sudah sore hari dan aku masih berada ditaman. Kulihat disisiku sudah ada seseorang yang aku kenal dengan penuh air mata diwajahnya.
“Syukurlah…” isaknya sambil langsung memelukku. “Aku sungguh takut sekali, Rie…”
Aku tersenyum melihatnya.
“Baguslah kalau kamu sudah siuman” suara seseorang yang lainnya. Ketika kulihat ternyata Katou sedang berada dibelakangnya. “Kamu tenang saja…”
Tepat ketika Katou menepuk pundakku, tubuhku bereaksi dan gemetar ketakutan. Refleks aku langsung menepisnya.
“Rie?” Aoi terlihat kebingungan.
“Maaf…” kulihat diriku yang masih berantakan dengan sebuah jaket menyelimutiku. “Ryuto…” aku langsung kembali memeluk Ryuto dan menangis. “Ryuto... Saeki…dia…”
“Tenanglah, Rie… aku tahu… tadi Katou sudah menceritakannya padaku”
Apa…! Katou…? Jadi dia sudah berada ditaman ini sejak kejadian tadi dan orang yang menolongku adalah…Katou?
“Takut… aku takut….”
Ryuto hanya diam sambil terus mengelus kepalaku. Tubuhku tidak berhenti gemetar ketakutan. Hari-hari yang biasa aku lalui dengan senang sekarang hancur dalam satu hari. Aku sungguh-sungguh tidak tahu…apa yang harus aku lakukan… dan … haruskah aku mengakhiri hubungan ini… hubungan yang sudah terjalin 2 tahun ini…
-end-