Thursday, March 31, 2011

new family part 1b

Characters:
-          Kazuki – Rie 
-          Genichirou – Aoi  
-          Shinya – Saeki 
-          Von  
Desc: Keluarga masing – masing
Rat: M / S ^^ (Mau-mau / Suka-suka)
n/a: kesamaan pada nama bukan suatu kesengajaan, tetapi karena authornya yang memang tidak pintar membuat nama ^^v

-start – intro (shinya) 

Mempunyai pekerjaan tetap ataupun tidak, bukan suatu hal yang baik ataupun buruk. Semua itu tergantung dari bagaimana tiap orang akan mengerti dari situasinya. Bagiku mempunyai pekerjaan yang tetap adalah hal yang menyenangkan, namun jika harus berpindah-pindah tempat adalah hal yang cukup tidak menyenangkan bagiku. Terlebih lagi ada seseorang yang harus aku tinggalkan sendirian dirumah.

Ketika aku masih hidup sendirian, aku tidak pernah merasa ada suatu beban berat dipikiranku. Meninggalkan teman ataupun saudara yang aku kenal. Bersama dengan teman-temanku ditempat kerja, memberikan gambaran tersendiri dalam kehidupanku. Tapi untuk kasus ini sedikit berbeda.

Sebodoh-bodohnya keledai, tidak mungkin dia akan jatuh ketempat yang sama untuk kedua kalinya. Pepatah itu sering kali aku dengar dan kejadian besarpun menimpa adikku. Suatu masalah besar yang terjadi pada dirinya, menyebabkan dia sulit untuk kembali membuka dirinya. Melihatnya dia kembali ceria saat ini, tidak tega rasanya aku harus meninggalkannya seperti tiga tahun yang lalu. 

"Shinya" panggil Shun ketika kami selesai berlatih dan melemparkanku sekaleng minuman. "Ada apa? Kau terlihat lelah sekali. Padahal latihan hari ini tidak terlalu sulit"

Aku hanya menunduk untuk membuka kaleng minumanku dan segera meneguknya. "Shun, aku sedang bingung"

"Kenapa? Cerita saja padaku" ucapnya lalu duduk disebelahku.

"Ingat jadwal latihan minggu depan? Kita akan pindah selama 1 bulan, bukan?" Shun mengangguk tanda setuju. "Aku... rasanya ingin membatalkannya"

"Ehh!! Kenapa?" 

"Kau ingat kejadian 5 tahun yang lalu? Kejadian yang menimpa adikku ketika kita sedang ada pementasan di kota sebelah selama 2 bulan? Aku tidak ingin terjadi kejadian itu sampai terulang lagi"

"Tapi Shinya, tidak mungkin kamu membatalkannya. Tidak ada orang lain yang bisa memerankan peran itu selain kamu"

Aku menghela nafas. "Oleh karena itu, aku merasa pusing sekali..." 

Shun ikut menghela nafas. "Apa kamu sudah menceritakan masalah ini dengan Saeki?" 

Aku menggeleng. "Setelah ini aku akan bertemu dengannya. Semoga saja ada solusi untuk masalah ini" Shun mengangguk dan menepuk punggungku sebelum dia pergi meninggalkanku. 


Seperti yang sudah direncanakan, sore ini aku bertemu dengan Saeki dan Kazuki di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja mereka. Untung saja tidak terlalu ramai sehingga kami bisa dengan segera mendapatkan tempat untuk duduk. Aku sudah tidak sabar untuk memesan makanan, karena aku sudah sangat lapar. 

"Ada apa dengan dirimu, Shinya? Kenapa kamu kelihatan murung sekali?" tanya Saeki setelah kami memesan makanan. 

"Ada masalah di tempat kerjamu?" sambung Kazuki yang menadahkan wajahnya dengan telapak tangannya. 

Aku menghela nafas sejenak. "Tidak ada masalah dengan pekerjaanku, hanya saja ada sedikit masalah dengan acaranya"

"Acaranya?" tanya Kazuki bingung. 

"Mulai minggu depan latihan kami akan diadakan di kota sebelah selama 1 bulan dan jaraknya dengan rumahku sungguh jauh. Rasanya kalau pulang-pergi akan memakan waktu yang cukup banyak..."

"Lalu?" kali ini Saeki yang bertanya. "Sulit mencari tempat tinggal? Kau menginap saja ditempatku"

"Hahahaha.. itu rencana pertamaku. Namun ada masalah lain... Aku tidak mungkin meninggalkan adikku sendirian"

"Ah ya, benar juga" sambung Kazuki sambil bersandar pada bangkunya. "Terlebih lagi dia anak perempuan"

Aku mengangguk setuju. "Aku bingung. Menurut kalian, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin juga aku membawanya. Bisa-bisa dia dikeluarkan dari sekolahnya" 

Tidak lama kemudian minuman kami datang. Saeki meneguk minumannya dan berkata, "Kalau dia tinggal dengan pacarnya du-"

"Tidak boleh!" potongku. 

"Tapi mereka-kan sudah bertunangan" sambung Kazuki. "Jadi tidak akan ada apa-apa juga, bukan?"

"Tidak akan aku izinkan!" sambungku. 

"Namun Shinya..." Saeki menepuk pundakku. "Tidak mungkin juga kan kalau dia ditinggal sendirian? Aku mengerti masalahmu. Tapi kamu harus ingat kalau waktu itu, Genichirou juga yang menolong Aoi, bukan? Jadi percayalah..." 

Memang benar apa yang dikatakan oleh Saeki. Tiga tahun lalu, ketika aku sedang berlatih untuk pementasan, aku tidak menyangka bahkan ada masalah besar yang menimpa Aoi. Kejadian itupun aku ketahui dari pacarnya, Genichirou bersama dengan kakaknya, Kentarou. Di hari yang sama, tiba-tiba saja Genichirou mengatakan bahwa dia ingin melamar Aoi sebagai tunangannya. Sungguh membuatku terkejut. 

"Tetap saja, Saeki... Aku tidak bisa" jawabku kekeh. 

Kami diam sejenak. Aku benar-benar bingung dengan masalah ini. 

"Bagaimana kalau dia tinggal denganku untuk sementara waktu?" sambung Kazuki tiba-tiba. "Kalau kamu khawatir dia tinggal dengan laki-laki, bagaimana kalau tinggal bersama denganku?"

"Denganmu?" sambung Saeki. "Apa tidak apa-apa?"

Kazuki mengangguk. "Kurasa tidak apa-apa. Secara kebetulan anak kami sedang berada di kota sebelah dan rumah kamipun cukup sepi... Terkadang aku merasa kasihan dengan Rie yang merindukan anak kami. Jadi kurasa bagaimana kalau adikmu tinggal dengan kami, Shinya?"

Aku diam sejenak. "Tapi benarkah tidak apa?"

"Setelah ini aku akan menjemput Rie dan membicarakan masalah ini. Bagaimana keputusannya, aku akan menghubungimu setelah itu. Bagaimana?" 

"Baiklah... maag sudah merepotkanmu" balasku sambil menundukkan kepalaku sejenak. 

"Tidak apa" jawabnya dan melihat jam tangannya. "Ah, maaf. Aku harus segera berangkat. Aku tinggal dulu ya" 

Kazuki menundukkan kepalanya sejenak dan berjalan cepat meninggalkan kami. Ya, jam sudah menunjukan pukul 6 sore, waktu untuk menjemput istri tercintanya. 

"Bagaimana, Shinya? Masalahmu sudah terselesaikan, bukan?"

"Ya, semoga saja Rie menyetujui rencana ini"

"Ya... aku yakin mereka akan menerimanya" sambung Saeki dan kamipun melanjutkan untuk menyantap makanan kami. 


-end part 1b-















new family part 1a

Characters:
-          Kazuki – Rie
-          Genichirou – Aoi
-          Shinya – Saeki
-          Von
Desc: Keluarga masing – masing
Rat: M / S ^^ (Mau-mau / Suka-suka)
n/a: kesamaan pada nama bukan suatu kesengajaan, tetapi karena authornya yang memang tidak pintar membuat nama ^^v

-start – intro (Aoi)
Mempunyai sebuah keluarga yang tenang dan menyenangkan merupakan impianku sejak kecil. Hidup dengan perjuangan dan persaingan bukan menjadi hal yang asing bagiku. Tidak ada sesuatu didunia ini tanpa perjuangan, dan menentukan langkah kita selanjutnya adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Pernyataan yang mudah untuk diucapkan namun sulit sekali dilakukan.

Awan bergerak pelan dan angin berhembus tenang. Rasanya sungguh menenangkan sekali. Tidak ingin rasanya aku membuka kedua mataku menghadapi sulitnya kehidupan. Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi di detik-detik berikutnya, jika tidak ada seorangpun bergerak dari pikiran dan perasannya. Ya, itulah yang terjadi pada diriku.

“Aoi, ayo kita masuk” suara seseorang yang aku kenal menepuk pundakku. “Sudah saatnya makan malam” aku mengangguk tanda setuju dan segera bangkit meninggalkan teras rumahku ini.


Orang yang memanggilku itu adalah kakakku, Shinya. Bertubuh kecil, rambut hitam-kecoklatan, lurus sebahu dan berhati lembut. Tidak terasa sudah 10 tahun berlalu sejak aku kabur dari panti asuhan. Panti asuhan yang letaknya jauh dari kota membuatku merasa seperti di asingkan. Selain itu sikap dingin dari para penjaga dan teman-temanku, membuatku semakin yakin untuk kabur dari sana. Berlari dari pengejaran hingga kesudut kota.


“Kamu tidak apa-apa?” seseorang menepuk pundakku ketika aku dalam persembunyian.

“Siapa kamu!” seruku dan berjalan mundur menghindarinya. Orang itu diam saja, melihat kesekeliling sejenak dan tiba-tiba saja menarik tanganku. “A-apa ya-!”

“Stt!! Diam!” orang yang tidak aku kenal itu mendorong tubuhku untuk berlindung dibalik box besar dan diapun berdiri didepan box itu.

“Hey, apa kamu melihat seorang anak berlari kearah sini?”

“Seorang anak?” jawab orang itu. “Anak umur berapa tahun?”

“Anak perempuan berumur 10 tahun, rambut hitam sebahu dan memakai kaus berwarna biru. Apa kamu melihatnya?”

“Hmmm… Kalau perempuan berambut sebahu dan memakai baju biru itu banyak. Tapi kalau kamu bilang anak seumur 10 tahun itu… sepertinya tidak mungkin. Hari sudah malam dan terlebih… ini daerah terlarang untuk anak-anak”

“Oh… Baiklah. Terima kasih” balasnya dan terdengar derap langkah kaki berlari yang semakin mejauh.


“Hey, dia sudah pergi” panggil orang itu sambil meraih tanganku. “Sepertinya kamu dalam pengejaran. Boleh aku tahu alasannya?” aku hanya diam menatapnya. “Baiklah. Aku tidak akan bertanya banyak. Namun, siapakah namamu?”

Aku kembali tertunduk dan menggeleng. “A-aku… orang-orang memanggilku 401”

Orang tadi tertegun. “401? Kenapa namamu seperti sebuah kode?” aku kembali terdiam. “Baiklah. Baiklah. Nah, bagaimana kalau kamu ikut denganku?” aku menatapnya dan kulihat wajahnya tersenyum sambil merangkulku. “Sepertinya kamu tidak ada tempat pulang. Bahaya untuk anak sepertimu dilingkungan seperti ini…” orang itu melepaskan jaket hitamnya dan melingkarkannya pada tubuhku.

“…” aku kembali menatapnya sejenak. “Jika…”

“Ya?”

“Jika anda tidak menginginkanku, apa anda akan membuangku?”

“Apa? Untuk apa?”

“…”

Dia menundukan tubuhnya sedikit dan menatapku. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan itu. Aku yang sudah mengambilmu, tidak mungkin aku membuangmu semudah itu. Jika aku sampai melakukan itu, sama saja aku seperti sampah! Jadi tenang saja, ya”

Tanpa kata panjang dan balasan dariku, orang itu tetap saja tersenyum. Melihat wajahnya membuat perasaanku berangsur tenang. Entah aura apa yang ada pada dirinya.

“Nah, sebelumnya…” dia meraih tanganku. “Perkenalkan, namaku Shinya”

“Shi-shinya…?”

“Ya” angguknya. “Kamu bisa memanggilku Shinya atau dengan sebutan kakak” kali ini aku yang mengangguk. “Lalu, untuk kamu sendiri…” aku menunduk. “Tidak mungkin aku memanggilmu dengan kode. Kamu bukan barang! Hmmm…” gumamnya sejenak. “Bagaimana kalau ‘Aoi’ ?”

“Aoi?”

“Ya. Pakaianmu berwarna biru dan sepertinya hatimu juga lembut seperti awan… Tenang namun misterius. Bagaimana? Kamu suka dengan nama itu, Aoi?”

Tubuhku terasa panas dan bergejolak. Entah perasaan apakah itu. Mungkin inilah perasaan senang yang tidak bisa tertampung lagi olehku. Kurasakan wajahku memanas dan terukir senyuman diwajahku.

“Ya. Aku suka dengan nama itu”

“Nah, Aoi… ayo kita pulang”

Aku mengangguk senang. “Ya, Shinya niichan”
Inilah pertemuan pertamaku dengan Shinya. Pertemuan yang tidak disangka sama sekali. Sejak saat itu kehidupan kelamku menjadi kehidupan yang menyenangkan. !0 tahun memang panjang namun menjadi tidak berarti sejak adanya pertemuan singkat ini.

--end part 1a--


next part 1b

Wednesday, March 30, 2011

lonely family

Character:


  • Alan Humphries
  • Eric Slingby
Rat: T
Desc: Yana Toboso
Pov: Alan Humphries
Base story: my ...my....my....
-start-

Ada kejahatan, ada kebaikan...
Ada awal, ada akhir... 
Ada pertemuan,  ada perpisahan... 
Ada kehidupan... Akan ada juga kematian... 

Namun bagaimana jika pertemuan yang diawali baik, berakhir dengan kejam? Rasanya menyakitkan sekali. Dada terasa sesak membuat jalur pernafasan menjadi sulit, bahkan detak jantungpun dapat terdengar didalam pikiran. Tidak ada cara menghilangkan rasa itu selain mempercepat alur jalan cerita itu sendiri. 

Bertemu dengannya membuat seluruh kehidupanku berubah. Aku yang dikenal sebagai anak yang pendiam dan sulit untuk bergaul, sedikit demi sedikit membuka diri dan pikiran kepada orang disekelilingku. Bersama dengannya, pikiran dan perasaanku terasa menenangkan. Ya, hanya bersama dengannya. Eric Slingby. 

"Eric" panggilku ketika baru saja menyelesaikan laporanku dan siap diberikan kepada William. "Masih ada data yang harus aku masukan?" 

"Sudah selesai kok" jawabnya sambil meletakan secangkir kopi didekat komputer yang sedang aku gunakan. "Alan, apa kau ada acara hari ini?"

Aku diam sejenak sambil merenggangkan badanku. "Tidak ada. Kenapa?"

"Mau temani aku jalan-jalan?"

"Tumben" 

"Aku jenuh dengan pekerjaan ini" balasnya dan duduk didepanku. 

Kuletakan kaca mataku dan menatapnya. "Jadi, kamu mau kemana?" 

"Hmmm...." gumam Eric dan kembali menatapku. "Ketaman"

"Taman?"

"Yap! Sudah lama sekali aku tidak kesana dan... selama ini kamu belum berkeliling ke sekitar kota sini bukan? Sekali-kali kita melupakan pekerjaan, lah...." 

Memang benar. Sejak aku membuka mataku, sudah ada seseorang yang menungguku dan berkata, "Alan Humpries, itulah namamu.  Mulai saat ini kamu akan dibimbing oleh Eric Slingby. Apa saja yang akan kamu lakukan, akan dijelaskan olehnya lebih lengkap. Ah ya. Jangan lupa laporkan padaku, Eric mengenai perkembangannya" itulah pertemuan pertamaku dengan Eric Slingby dan William T Spears. 


Setelah merapikan seluruh berkas-berkas, dengan segera aku mengikuti Eric menuju taman yang dimaksud. Sebuah taman yang luas dan cukup ramai. Banyak anak-anak bersama dengan ibunya bermain dan bercanda. Melihat itu semua membuat perasaanku menjadi sedih. 

"Alan?" Eric menepuk pundakku dan membuyarkan lamunanku. Walau tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, aku mengerti kalau Eric sedang mencemaskanku. 

"Aku tidak apa-apa, Eric" balasku singkat. 

"Benakah?" Aku kembali mengangguk dan kami melanjutkan perjalanan kami. 

Sebenarnya hatiku masih terasa sakit melihat kebahagiaan mereka. Ingin sekali aku merasakan sebuah kehangatan keluarga seperti anak kecil itu. Bermain dengan senang dan ketika kembali, sebuah pelukan hangat yang diberikan. 

"Mungkinkah..." ucapanku membuat Eric menghentikan langkahnya dan menatapku. "Inikah yang namanya takdir...?"

"Alan?"

"Perhatian... kasih sayang.. apa itu semua? aku... sungguh tidak mengerti..."

"Alan..." Eric mendekatiku dan merangkulku. "Alan, jangan berkata seperti itu. Kamu ti-"

"Tapi benar, bukan?!" seruku. "Aku tidak pernah merasakan namanya kasih sayang! pelukan hangat seorang ibu... kasih sayangnya... ah! perhatianpun tidak! perduli dan menganggapku ada sepertinya juga tidak!"

"Alan!" Eric tiba-tiba saja memelukku. "Alan, janganlah mengingat masa lalumu"

"Tapi itulah kenyataannya!"

"Kenyataan yang ada adalah bahwa orang yang menyayangimu berada dihadapanmu, Alan!" 

Aku tertegun. "Tidak! Kamu pun akan membuangku juga, kan?!"

"Tidak, Alan. Untuk apa aku membuangmu?"

"Karena...karena...." kurasakan wajahku memanas. "...karena penyakit ini, bukan!" kulepaskan pelukan Eric dan berjalan menjauhinya.

"Alan..." 

"Semua orang takut padaku. Teman-teman... saudara.. bahkan ibuku sendiri... Aku yang harus menerima semua kenyataan pahit ini sendirian, hanya bisa diam. Diam ketika diejek. Diam ketika ibu memarahiku. Diam ketika semua orang menjauhiku. Diam keti-"

Eric kembali menarikku kedalam pelukannya. Aku coba untuk memberontak, namun Eric terus menahan rontaanku. "Alan, tenanglah... Tenangkan dirimu..." 

"Tidak! Tidak, Eric!" 

"Alan..."

"Semua...semua membenciku... semua tidak ada yang menginginkanku, Eric" ucapku ditengah tangisanku. "Bahkan.. bahkan ketikan aku hampir..."

"ALAN!!" 

Kurasakan wajahku semakin panas. Sebuah tamparan dari Eric membuatku terdiam. 

"Alan, tenanglah... tidak ada yang tidak menginginkanmu. tidak ada yang akan membuangmu, Alan..." Eric mengajakku duduk disebuah bangku taman ini. "Alan, kamu ingat bagaimana wajah William ketika mendengar kamu sakit? Ingat bagaimana khawatirnya kita ketika kamu ujian? dan..." 

Aku tertegun melihat kedua mata Eric yang berkaca-kaca. 

"Apakah kamu ingat bagaimana khawatirnya aku ketika kamu tidak memberikan kabar ketika kamu ujian selama 2 hari itu? Bagaimana aku merindukanmu ketika kamu pergi... khawatir ketika penyakitmu kembali datang..."

Aku menundukan kepalaku. 

"Alan..." Eric menepuk pundakku. "Ingat... tidak ada orang yang tidak menginginkanmu... Lupakanlah masa lalumu dan lihat-lah kenyataan pada saat ini..."

"Eric..." 

"Ingatlah Alan... Bahwa aku akan selalu berada disisimu, Alan..." 

"Eric..."

"Seperti apa dirimu... Bagaimana dirimu di masa lalu ataupun saat ini, aku akan selalu menjadi sahabatmu, Alan. Jika kamu memang ada masalah, ceritakanlah padaku. Aku akan siap mendengarnya..."

"..."

"Alan..."

Kutatap wajah Eric sesaat dan tanpa aku sadari, aku memeluknya. "Eric" 

"Alan..." Eric membalas memelukku. "Apapun masalalumu, aku tidak perduli. Jangan berfikir kalau kamu sendirian di dunia ini. Ada aku disini yang selalu berada disisimu. Jadikan aku sebagai keluargamu, Alan, jika itu tambah membuatmu merasa yakin bahwa aku tidak akan mengingkari kata-kata ini..."

"Eric... Terima kasih..."

Terima kasih... terima kasih Eric sudah mempercayaiku dan menjadi sahabatku... tidak akan aku lupakan kata-katamu itu...

---end----

^^ hai... maaf kalau cerita na kali ini rada melow..karena beberapa hal ^^ thanx 4 d read ^^b










Friday, March 25, 2011

True Love part 2

Characters:
·         Rie
·         Katou
·         Saeki

N/A: yap... untuk nama seperti apa sifatnya.. itu... bayangkan sendiri ya ^^

Pov: Rie

Rat: M (maybe…maybe….)

--start---

Cinta dan kasih sayang bisa mengubah seluruh kehidupan sang pemiliknya ataupun yang ada disekelilingnya. Awalnya aku tidak percaya dengan hal itu. Tetapi akhirnya aku menyadari kalau pernyataan itu terjadi dalam kehidupanku. Kehidupan  yang berubah sejak Saeki menyerangku. Setiap orang yang menyentuhku, refleks langsung aku menepisnya. Anehnya itu tidak berpengaruh pada Ryuto. Mungkin juga dikarenakan Ryuto yang selalu menjaga jarak. Teman-temanku mulai merasa aneh dan banyak yang meninggalkanku. Sebenarnya itu tidak menjadi suatu masalah bagiku. Hanya rasa sedih yang terus menghantuiku.

“Rie? Mau makan siang?” ajak Ryuto disaat kelas telah berakhir.

“Tidak. Aku tidak lapar…” tolakku.

“Tapi dari pagi kamu belum makan…dan sekarang sudah jam 11…”

“Masih pagi” bantahku.

“Rie… Nanti kamu sakit”

“Biarkan”

“Rie…” Ryuto menghela nafas lalu duduk dibangku depanku. Duduk menghadapku dan meletakan tangannya diatas meja untuk dijadikan bantalan. “Rie, apa Saeki masih menghubungimu?”

Aku hanya mengangguk pelan. “Terkadang dia masih mengirimku pesan ataupun meneleponku. Tapi tidak ada satupun yang aku jawab. Aku takut… Takut, Ryuto…”

“Rie…”

Kurasakan sesuatu yang mendekatiku dan tanpa aku sadari tubuhku bergerak. Ternyata tangan Ryuto yang mendak menyentuhku. Tubuhku langsung gemetar hebat. Nafas memburu dan detak jantungku berdetak cepat. Kulihat raut wajah Ryuto yang terkejut.

“Ma-maafkan aku, Ryuto…”

“Tidak apa kok” jawabnya pelan.

“Ryuto, mau makan siang tidak?” ajak beberapa orang temanku. Ketika melihat dia sedang bersamaku, pandangannya berubah menjadi sinis. Padahal pandangan mereka tidak seperti ini jika keadaan normal seperti dulu.

“Tidak. Aku mau disini saja” tolaknya.

“Tapi tadi kamu bilang mau ikut kami” tanya yang lainnya.

Ryuto terlihat kebingungan. “Sudahlah. Kamu ikut saja mereka”

Ryuto menggeleng. “Tidak. Kalian duluan saja” jawabnya sambil tersenyum dan merekapun meninggalkan kami.

“Maaf Ryuto. Aku sudah membuatmu susah seperti ini”

“Tidak kok… tenang saja, Rie” jawabnya lagi dengan santai. “Aku juga malas bersama dengan mereka. Jadi kamu tidak usah khawatir”

“Ya…”

“Rie” Ryuto bangun dan mengambil dompetnya. “Aku yakin ketakutanmu ini akan segera menghilang. Dan… aku ingin membeli sesuatu. Mau nitip apa?”

Aku mengangguk pelan. “Aku nitip roti saja”

“Baiklah. Tunggu sebentar ya”


Aku tersenyum melihat dia pergi. Walau keadaan ku seperti ini, aku bersyukur masih ada Ryuto yang menemani. Kuambil handphoneku dari dalam saku dan kulihat sudah ada 10 pesan dan 5 misscall. Semua itu dari Saeki. Aku sudah tidak ingin berhubungan dengannya. Ketika aku perhatikan lagi, dari 10 pesan, ada sebuah pesan dari pengirim yang berbeda. Katou.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

Ya. Aku baik-baik saja. Oh ya. Terima kasih untuk pertolonganmu waktu itu.

“Tidak apa. Aku juga secara kebetulan sedang berjalan ditaman itu dan mendengar suara keributan… jujur saja, aku tidak menyangka kalau korban penyerangan itu kamu, Rie”

Eh? Apa yang kamu lakukan ditaman?

“Mencari inspirasi. Aku lelah…”

Karena?

“Latihan konser sejak pagi… Ryuto sudah memintaku datang sejak jam 7 pagi. Bayangkan saja 4 jam terus menerus diruang musik >< “

Hahahaha… benar-benar ciri khas Ryuto.

“Oh ya, nanti sore kamu ada acara?”

Tidak. Ada apa?

“Bisa bertemu ditaman kemarin? Namun dipintu taman kota dekat stasiun. Bagaimana?”

Pesanku terhenti dipesan terakhirnya. Apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar bingung. Masalah lama dan baru datang pada waktu yang berdekatan.“Baiklah. Jam 4 sore aku akan kesana” balasku dan tidak lama kemudian Ryuto sudah kembali kekelas ini.


Sesuai dengan janjiku dengan Katou, setelah jam kuliah berakhir aku langsung menuju taman dekat stasiun. Belum ada siapa-siapa disana. Ketika kulihat jamku, ternyata waktu masih menunjukan pukul 3 sore. Tentu saja Katou belum datang.

Sambil menunggu, aku duduk disalah satu bangku taman kota ini. Banyak sekali anak-anak yang datang bermain bersama dengan orang tua mereka. Melihat mereka aku tersenyum pada diriku sendiri. Perasaan terasa tenang dan menyenangkan.

“Rie”

Ketika aku membalikan badanku, ternyata ada seseorang yang tidak ingin aku temui berada dihadapanku. 

“Sa-saeki…” suaraku terdengar sedikit tertahan. “Ke-kenapa kamu…”

“Kebetulan sekali kamu disini, Rie” Saeki mendekatiku namun aku segera menghindarinya. “Rie, kenapa kamu tidak membalas pesan dariku?”

“Jangan dekati aku lagi, Saeki” tolakku sambil berjalan mundur menghindarinya.

“Rie… kumohon, maafkan aku. Berikan aku kesempatan untuk tetap bisa bersamamu”

“Tidak. Saeki… kumohon, jangan ganggu aku lagi”

Tepat ketika Saeki hendak meraih tanganku, aku langsung menepisnya. Tubuhku gemetar ketakutan dan ingin sekali aku berlari menjauh darinya.

“Rie… kenapa…”

“Tidak! Tidak!!”

Saeki meraih tanganku dengan kasar. Tubuhku semakin gemetar ketakutan dan seluruh tubuhku terasa melemah. Tidak ada tenaga sedikitpun untuk aku berdiri.
Kumohon… lepaskan… aku takut… aku takut, Saeki… lepaskan aku dan jangan kembali dalam pikiranku…


“Lepaskan dia!” suara seseorang yang tidak asing.

“Siapa kamu!” balas Saeki dan mencoba untuk memukulnya. Dengan cepat orang itu menepisnya dan menarik tanganku. “Kamu…!!”

“Siapa aku, itu bukan urusanmu”

“Itu menjadi urusanku! Karena dia itu adalah pacar-“

“Tidak!” teriakku. “Aku bukan apa-apa bagimu! Jangan pernah kembali kedalam kehidupanku lagi!

“ bantahku.

“Kamu dengar? Jadi jangan dekati dia lagi” balasnya dan kali ini dia kembali menarik tanganku. Berbeda dengan sebelumnya, tubuhku tidak bereaksi sama sekali.

Ketika sudah cukup jauh dari Saeki, aku baru menyadari bahwa laki-laki memakai kemeja hitam dan menggunakan kaca mata ini adalah…

“Ka-katou?”

“Ya, Rie. Ini aku” jawabnya singkat dan mengajakku duduk dibangku taman. “Maaf sudah membuatmu menunggu…”

“Tidak. Aku yang salah sudah datang lebih awal dari jam yang kita janjikan…”

Tiba-tiba saja keheningan diantara kami. Angin sore terasa tenang sekali seakan-akan menggambarkan perasaanku yang kacau serta menginginkan pikiran yang menenangkan.

“Rie, kamu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir dan mencoba untuk menyentuhku. Namun niat itu dia hentikan. “Maaf. Aku tidak bermaksud…”

Aku menggeleng. “Katou… bisakah kamu membalikan badanmu…”

Katou terlihat bingung. Tanpa pertanyaan dia mengikuti permintaanku lalu dengan cepat aku coba untuk memeluk tubuhnya. “Rie…”

“Katou… terima kasih… untuk kesekian kalinya kamu sudah menolongku”

“Tidak apa, Rie. Namun… Rie…”

Aku menggeleng dan mendekatkan kepalaku pada punggung besarnya. “Kumohon Katou.. biarkan aku seperti ini untuk sesaat…”

Katou hanya diam saja dan membiarkanku untuk terus memeluknya. Tubuhku memang masih gemetar ketakutan tapi aku menyadari bahwa aku harus bisa membunuh rasa takut yang terus menghantuiku ini. Kupejamkan mataku dan mengatur nafasku sampai terasa lancar.


“Katou…” ucapku yang masih bersandar pada punggungnya. Katou hanya bergumam sebagai ganti jawaban. “Maaf jika sudah terlalu lama untuk mengatakan ini…”

“Apa itu, Rie…?”

“…Katou… aku sayang padamu…”

“Eh?”

“Ya… Aku rasa kamu memang benar. Selama ini aku selalu menipu diriku sendiri. Mencoba untuk terus tegar bersama dengannya. Tapi bersama denganmu, aku bisa menjadi diriku sendiri… Terima kasih, Katou…”

“Rie…” Katou melepaskan pelukanku dan berbalik menatapku. “Rie… terima kasih…”

“Ya…” kurasakan wajahku memanas dan detak jantungku berdetak cepat.

“Rie… bolehkah aku memelukmu dari depan?” aku hanya memalingkan wajahku. “Tapi jika kamu tidak mau, tidak apa. Aku mengerti…”

“Tidak. Tidak apa…”

“Benarkah?” aku mengangguk sebagai ganti jawaban.

Perlahan Katou menyentuh wajahku dengan tangan dinginnya. Refleks aku menyandarkan wajahku pada tangan besarnya dan menutup kedua mataku. Mencoba untuk menenangkan detak jantungku yang terus berdetak cepat.

“Rie…”

Dalam hitungan detik, Katou langsung menarik tubuhku dan memelukku dengan erat. Sesaat aku ingin melepaskan tubuhnya tetapi itu semua percuma. Tenagaku tidak sebanding dengannya. Detak jantungku berdetak lebih cepat, nafas yang sangat memburu dan tanganku masih mencoba untuk melepaskan diriku dari dekapannya..

“Tidak bisakah, Rie…”

Kucoba untuk terus menenangkan pikiranku dengan kata-kata ‘tenanglah…’ yang terus terulang. Bayangan mengenai Saeki yang sempat menyerangku perlahan menghilang. Tergantikan oleh sebuah pelukan hangat yang menenangkan. Katou mengusap punggung dan kepalaku secara bergantian. Mencoba menenangkanku dari mimpi buruk. Ketika kurasakan nafasku mulai tenang, aku membalas memeluknya. Kulingkarkan tanganku melingkari tubuhnya yang hangat.

“Rie…”

“Katou…”

Kuberikan jarak antara kami berdua untuk saling bertatapan. “Rie… selamat datang kembali…” ucapnya sambil menyentuh wajahku dengan telapak tangannya.

“Ya.. terima kasih, Katou…”

“Rie, tetaplah disisiku dan percayalah.. bahwa aku akan selalu membahagiakanmu…”

“Hahaha.. kamu seperti melamarku saja”

“Jadi bagaimana, Rie?”

“Ya… Aku akan selalu berada disisimu, Katou…”
Kupejamkan kedua mataku dan kurasakan bibir lembut Katou menyentuh bibirku. Sungguh aku merasa senang sekali dan beruntung mempunyai seseorang yang istimewa seperti Katou… mimpi buruk yang selalu mengahantuiku sekarang bisa menghilang dan berganti menjadi sebuah mimpi yang terasa manis…

-end-


True Love part 1

Characters:
·         Rie
·         Katou
·         Saeki

N/A: untuk nama sengaja aku tidak menggunakan nama lengkap karena .. ya ^^ bayangkan saja kira2 seperti apa mereka itu ^^b

Pov: Rie

Rat: M (maybe…maybe….)

--start---

Tidak terasa sudah 1 tahun lamanya aku memperhatikan teman sebangkuku sejak semester 2 ditahun kedua ini. Saeki, selalu menjadi pusat perhatian dengan keahliannya dalam olahraga dan sering kali tidak masuk. Atau dengan kata lain melewati pelajaran jika dia sudah merasa bosan. Untuk pelajaran kimia hari inipun dia tidak masuk kelas.

Ketika jam istirahat, aku memutuskan untuk menemuinya.

“Rie?” panggil Ryuto. “Kamu mau kemana? Tidak makan siang?”

“Tidak” jawabku singkat sambil tersenyum. “Setelah ini kita jam pelajaran apa ya?”

“Matematika” balasnya sambil membuka kotak bekalnya. “Kau tidak masuk?”

Aku diam sejenak. ‘Saeki pasti bolos lagi’. Kuraih kalkulatorku dan menyerahkannya pada Ryuto. “Sepertinya aku tidak masuk. Oh ya, tolong berikan kalkulator ini pada Hana ya” Ryuto mengangguk dan kembali melanjutkan makan siangnya.

Setelah merapikan bukuku, dengan cepat aku berjalan menuju atap sekolah. Ketika sampai disana, aku tidak terkejut dengan apa yang dia lakukan. Tidur.

“Saeki?” panggilku sesaat. Saeki sepertinya tidak mendengar. Kulanjutkan langkahku menuju pinggi tembok dan bersandar sambil melihat kelangit. Kututup kedua mataku dan merasakan angin yang bersemilir menyentuh wajahku. “Nyamannya…”

“Benarkah?”

Kubuka kedua mataku dan kulihat wajah Saeki yang sudah berada hadapanku. Jarak antara kedua wajah kami sangat berdekatan. Kudorong tubuhnya hingga dia duduk terjatuh.

“Apa yang kamu lakukan?!”

“Kamu sendiri?” balasnya lalu duduk disebelahku. “Bukannya setelah ini jam matematika?”

“Yap!”

“Lalu kenapa kamu disini?”

“Malas”  Kami berdua tertawa.

“Tidak kusangka… Rie yang mendapat julukan sebagai anak paling rajin, bisa bolos pelajaran?”

“Tidak bolehkah?” tanyaku balik. Saeki hanya tertawa dan memukul pelan punggungku. “Sekali-kali bersantai, bukan?”

“Yap! Benar sekali”


Entah sudah berapa lama kami saling berbicara. Mengenai pelajaran maupun guru-guru kami. Tidak kusangka topik dan gaya pembicaraan kami bisa nyambung.

“Rie” panggilnya ditengah tawa kami.

“Hmm?” aku membalikan wajahku untuk menatapnya dan tiba-tiba saja wajah Saeki sudah berada didepanku.

“Rie, aku suka kamu”

“Apa?!” terkejutku. Kurasakan detak jantungku yang berdetak cepat namun nafasku tertahan oleh sesuatu. Entah apa yang menahannya.

“Sudah lama aku memperhatikanmu. Kamu sungguh berbeda, Rie. Tidak seperti anak perempuan pada umumnya”

“Apa maksudmu, Saeki?”

Saeki  tersenyum. “Kamu itu special, Rie. Maukah kamu menerimaku menjadi pacarmu?”

Nafasku benar-benar tertahan. Saeki semakin menipiskan jarak diantara wajah kami dan kurasakan nafasnya pada wajahku. Bibir lembutnya dapat kurasakan. Kedua mataku hanya terbuka bingung dan tidak ada perlawanan sama sekali dariku.

“Rie? Bagaimana denganmu? Apakah kamu menyukaiku juga?”

Aku tersenyum dan memeluknya. “Ya, aku menyukaimu, Saeki”

“Rie…” kami kembali saling menatap satu sama lain dan kembali kurasakan hangat tubuhnya melalui bibirnya itu. Bahkan dapat kurasakan detak jantungnya yang berdetak cepat. Saling beradu dengan detak jantungku.


---ooo---
Kesibukan disekolah dan membina hubungan kami tidak terasa sudah berjalan 6 bulan. Banyak hal yang kami lakukan seperti jalan-jalan ke pantai, berfoto bersama dalam suatu event, makan malam dan masih banyak hal lainnya.

Kesenangan yang sudah berjalan 6 bulan ini harus kami lebih perhatikan sejak memasuki jenjang perkuliahan. Saeki lebih memilih pada bidang komunikasi sedangkan aku lebih memilih pada bidang bisnis. Jarak tidak membuat hubungan kami berhenti. Mengatur waktu dengan baik membuat aku dan Saeki bisa tetap bersama walaupun tidak sebanyak dulu.

“Saeki!” panggilku ketika aku baru saja selesai mengerjakan beberapa proposalku. “Sudah lama?

“Tidak kok” balasnya sambil mencium keningku.

“Saeki!” omelku dan langsung menarik tangannya. “Malu sedikit kenapa?!”

“Lah? Tidak boleh,kah? Kita kan sudah satu tahun berpacaran. Jadi wajar-wajar saja donk…”

“…tapi tidak di tempat umum!” bantahku.

Seperti biasa kami menghabiskan waktu makan siang kami bersama-sama. Kali ini kami makan siang disebuah restorant kecil yang tidak jauh dari kampus.

“RIe, bagaimana dikelas? Menyenangkan?”

Aku tertawa kecil. “Kau ingat Ryuto?” Saeki mengangguk. “Akhirnya terbongkar juga rahasianya…!”

“Rahasianya?”

Aku mengangguk pelan. “Walaupun kita sama-sama anak bisnis, dia mendapat panggilan keluar untuk sebuah konser”

“Lalu apa hubungannya antara bisnis dan konser?”

Aku menghela nafas sejenak. “Aduh Saeki! Jadi Ryuto itu tidak hanya kuliah bisnis, tetapi juga mengambil sekolah musik! Dan… secara kebetulan ada pertukaran pelajar disekolahnya itu. Kau tahu, pelajar yang nanti akan bermain bersama Ryuto itu anak laki-laki yang tampan! Saat ini Ryuto sedang dikerumuni oleh teman-teman mengenai laki-laki tersebut”

Saeki terlihat diam dan menggenggam tanganku. “Lalu, bagaimana denganmu?”

Aku tertegun dan diam sejenak. Senyuman terbaikku kuberikan padanya. “Tenang saja, Saeki. Aku tidak mungkin meninggalkanmu, ya…”

Saeki mengangguk pelan. “Terima kasih, ya” balasnya sambil mengusap kepalaku.

Aku mengangguk. “Yuk kita makan. Sebentar lagi aku sudah mau masuk kelas”

“Sama”


Selesainya jam makan siang, dengan segera aku berpamitan dengan Saeki dan kembali kegedungku untuk pelajaran berikutnya. Ketika aku sampai dikelas, Ryuto sudah dikerubuni . Ryuto yang kewalahan langsung berlari pelan menghampiriku.

“Rie…” peluk Ryuto dari belakang.

“Ryuto? Ada apa?”

“Aku lelah…” ucapnya dan menyandarkan kepalanya pada bahuku.

Aku hanya tersenyum dan mengajaknya untuk mencari tempat yang pas untuk kami duduk. Ryuto yang biasanya jarang berinteraksi dengan orang lain, tiba-tiba saja harus menerima banyak pertanyaan dari teman sekelasku.

“Ryuto, boleh tahu kapan konsernya?” tanyaku padanya yang sedang menyandarkan kepalanya diatas meja.

“Akhir pertengahan tahun ini. Kamu mau datang?”

“Tentu saja!” balasku sambil menepuk punggungnya. “Aku akan menonton”

“Terima kasih” balasnya. Ryuto mengambil handphonenya, menekan tutsnya lalu mengarahkan layarnya padaku.

“Ada apa Ryuto?”

“Bagaimana menurutmu orang ini?” raut wajahnya terlihat memerah.

“Yang mana? Yang ini?” tunjukku pada seseorang memakai kemeja putih disebelah seseorang yang memakai kemeja hitam.

“Bukan. Yang kemeja putih itu Katou”

“Katou?” aku benar-benar terkejut. Beda sekali dia difoto ini…

“Yap! Maksudku yang satunya”

“Yang kemeja hitam?” Ryuto mengangguk. “Dia ini siapa?”

“Temannya. Katou sekarang sedang menginap ditempat temannya itu…” kali ini aku yang mengangguk. 

“Bagaimana menurutmu?”

Aku memperhatikannya sejenak dengan sesama. “Kok, tampangnya seperti…” Ryuto hanya diam dan menyembunyikan wajahnya. “Ryuto, jangan-jangan kamu…”

“Tidak. Aku…aku hanya…”

Aku kembali tertawa melihat tingkah Ryuto. Sesaat aku kembali memperhatikan foto Katou. Foto yang pernah ditunjukan oleh Ryuto terlihat lebih kekanak-kanakkan. Namun difoto kali ini, Katou terlihat lebih dewasa.


Seiring berjalannya waktu aku pun mulai menyadari sesuatu. Sejak aku sering menemaninya berlatih, sesering itu aku bertemu dengan Katou. Perasaan kagumku padanya mulai berubah menjadi rasa suka. Tapi tidak mungkin aku lakukan karena aku sudah mempunyai seseorang disisiku, Saeki.

“Rie? Rie? Rie…?” Saeki membuyarkan lamunanku. “Kamu tidak apa-apa?”

“Ah tidak apa” bantahku. “Ada apa, Saeki?”

Saeki terlihat bingung dan curiga. “Kamu tidak menyentuh makan siangmu sama sekali. Ada apa? Apa kamu sakit?” tanyanya sambil memegang keningku.

“Tidak kok. Aku hanya pusing…”

“Pusing?”

“…dengan laporan-laporan yang terus menumpuk”
Saeki tertawa. “Oh, berjuanglah. Tinggal sebentar lagi kita selesai ujian” Aku mengangguk setuju.
Maafkan aku Saeki. Aku tidak bisa mengatakan kalau ada orang lain yang sedang aku pikirkan…


Sore harinya aku kembali menemani Ryuto berlatih dengan Katou. Tidak terasa waktu berjalan cepat dan hari sudah menjadi gelap. Saeki sempat berencana untuk menjemputku. Tetapi arah rumahnya dan tempat latihan Ryuto saling berlawanan, sehingga aku menolaknya dengan halus.

“Bagaimana kalau kamu pulang bersamaku?” tanya Katou sambil menyalakan mobilnya.

“Eh?” tanyaku bingung. “Tapi bukankah kamu akan mengantar Ryuto?”

“Tidak apa-apa kok, Rie” sambung Ryuto. “Setelah ini aku masih ada acara dengan Kane-niichan. Jadi kamu tidak usah khawatir”

Setelah sedikit berdebat, akhirnya Katou mengantarku pulang. Dalam perjalanan banyak sekali yang kami bicarakan. Rasanya nyaman sekali berbicara dengannya. Berbeda dengan Saeki yang berbicara penuh dengan semangat. Katou terlihat tenang dan menyejukkan.

“Katou, sampai kapan kamu akan disini?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku ingin tetap sekolah musik dikota ini saja…”

“Kenapa?”

Katou diam sejenak dan menghentikan laju mobilnya tepat didepan rumahku. “Rie, aku menyukaimu”

Aku tertegun. “Apa…? Ke-kenapa bisa… kita baru 3 bulan bertemu”

Katou menggeleng. “Sebenarnya aku sudah terlebih dulu memperhatikanmu, Rie. Sejak 2 tahun yang lalu…”

“Dua tahun yang lalu?”

“Ketika ada konser kecil dikota ini. Untung saja aku tahu kalau kamu dan Ryuto saling mengenal sehingga aku bisa menanyakan padanya mengenai dirimu…”

Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar saat ini. “Tapi, Katou… aku sudah…”

“Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui kamu sudah mempunyai pacar, Rie. Tapi hari ini ketika aku mendengar ceritamu, aku merasa kalau kamu tidak merasa nyaman dengan pacarmu itu…”

Aku ? tidak nyaman dengan Saeki?

“Tidak. Itu tidak benar, Katou…” tolakku. “Maaf… aku tidak bisa…”

Tiba-tiba saja Katou meraih tanganku dan menatapku. “Kumohon Rie… jujurlah pada dirimu sendiri… aku berjanji tidak akan menyakiti ataupun membuatmu bersedih…”

Ditengah kebingunganku, tiba-tiba saja Katou mendekatkan wajahnya dan langsung mencium pipiku. Kurasakan wajahku memanas. “Katou!”

“Maaf. Aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini…” balasnya dan seketika dia melepaskan genggamannya padaku. “Aku akan terus menunggumu, Rie…”

Dengan cepat aku langsung turun dari mobilnya dan segera masuk kedalam rumahku. Pikiranku benar-benar kacau. Aku sungguh tidak tahu mengapa semua ini bisa berjalan begitu cepat.


Aku tidak mencintai Saeki? Tidak… aku sungguh menyayanginya… walaupun terkadang sikap overprotectivenya memang sedikit membuat ruang gerakku terbatas. Tetapi itulah bukti cintanya padaku… tidak bahagia? Aku bahagia dengannya… namun…



----oooo----

Diakhri minggu, Saeki mengajakku ke taman dan berarti sudah 2 hari aku mendiamkan pernyataan dari Katou. Dia tidak menghubungi ataupun mengirimku pesan. Mungkinkah dia sudah menyerah denganku?

“Rie? Kamu bengong lagi? Kenapa?”

“Tidak” bantahku. “Memangnya aku bengong?”

Saeki menghela nafas. “Rie, sebenarnya ada apa? Tidak bisakah kamu ceritakan padaku?”

Maaf Saeki…

“Apakah ada masalah dengan keluargamu? Kelasmu? Teman-temanku?”

Saeki… aku tidak ingin hubungan ini berakhir begitu saja..

“Apa kamu tidak percaya padaku, Rie?!” nada suaranya sedikit meninggi. “Kita sudah hampir 2 tahun berpacaran dan kamu masih tidak percaya denganku?!”

“Bu-bukan begitu, Saeki…” kurasakan suaraku bergetar.

“Lalu apa?! Bukankah kita sudah berjanji, ketika kita sedang bersama, jangan pikirkan apapun termasuk masalah di kampus ataupun teman-temanmu?!”

“I-ia Saeki…”

“Rie!” Saeki memegang dan menarik bahuku dengan kasar. “Ataukah kamu sedang memikirkan orang lain selain aku?”

Aku menggeleng ketakutan. “Tidak ada Saeki… percayalah…”

“Aku percaya padamu, Rie. Namun sepertinya kamu memang tidak percaya padaku…” Saeki melepaskan pegangannya dan berjalan meninggalkanku.

“Saeki!” kukejar dia dan kupeluk dia dari belakang. “Maafkan aku…Maafkan aku…” isakku.

Aku benar-benar bingung. Sebenarnya aku sudah biasa menghadapi sikap Saeki yang seperti ini, tetapi kenapa saat ini perasaanku begitu sakit. Sakit sekali. Hingga aku merasa kalau aku benar-benar stress dibuatnya.

“Rie..!” Saeki menarikku kedalam bagian taman kota ini lebih dalam. Saeki mendekatkanku pada sebuah pohon besar lalu menciumku dengan kasar.

“Sa-saeki…” nafasku mulai memburu.

Perlahan kurasakan tangan Saeki yang mulai bergerak dari memegang wajah, leherku hingga menyentuh pakaianku.

“Saeki! Le-lepaskan!” rontaku.

“Rie, sudah lama sekali aku menginginkan ini. Jika kamu memang mencintaiku, kamu harus mau menerimanya”

“A-aku sungguh mencintaimu, Saeki. Tapi tidak sekarang!” tolakku.

Saeki terus menyentuh tubuhku dan perlahan memasukan tangannya kedalam rok yang aku pakai. Rasa takutku yang sudah memuncak memberikanku kekuatan untuk mendorongnya hingga terjatuh.

“Rie!”

Ketika Saeki hendak mendekatiku, aku langsung membalikan badanku dan berlari menjauhinya. Namun gerak Saeki yang lebih cepat, dia langsung menangkap tanganku dan mendorongku.

“Rie! Buktikan kalau kamu memang mencintaiku”

“Tidak Saeki! Aku belum siap!” isakku.

“Kamu harus bisa siap, Rie”

“Tidak! Lepaskan Saeki! Lepaskan!!” Saeki kembali menciumku dengan kasar sambil kembali menyentuhku.

Rasa takut terus memenuhi pikiranku. Kucoba terus meminta padanya untuk berhenti, namun sepertinya Saeki tidak mendengarkanku sama sekekali. Ketika Saeki mulai mencoba membuka seluruh pakaianku…

“Saeki! Kamu sudah gila! Lepaskan!!”

“Tidak akan, Rie! Aku sungguh mencintaimu!”

“Tidak! Tidak!”

Tiba-tiba saja ada seseorang yang mendorong Saeki hingga terjatuh. Ketika kulihat, sesosok laki-laki memakai kaus berwana putih dengan jaket yang sedang dia buka, langsung menutup tubuhku, dan menarikku.

“Rie! Rie!” suara teriakan Saeki menipis seiring laki-laki itu terus membawaku pergi. Tanpa sadar, pandanganku mulai kabur dan menjadi gelap.


--ooo--
“Rie… Rie… bangunlah…” suara seseorang yang perlahan membangunkanku.

Kubuka kedua mataku dan kulihat langit sudah mulai berubah menjadi warna merah. Sepertinya sudah sore hari dan aku masih berada ditaman. Kulihat disisiku sudah ada seseorang yang aku kenal dengan penuh air mata diwajahnya.

“Syukurlah…” isaknya sambil langsung memelukku. “Aku sungguh takut sekali, Rie…”

Aku tersenyum melihatnya.

“Baguslah kalau kamu sudah siuman” suara seseorang yang lainnya. Ketika kulihat ternyata Katou sedang berada dibelakangnya. “Kamu tenang saja…”

Tepat ketika Katou menepuk pundakku, tubuhku bereaksi dan gemetar ketakutan. Refleks aku langsung menepisnya.

“Rie?” Aoi terlihat kebingungan.

“Maaf…” kulihat diriku yang masih berantakan dengan sebuah jaket menyelimutiku. “Ryuto…” aku langsung kembali memeluk Ryuto dan menangis. “Ryuto... Saeki…dia…”

“Tenanglah, Rie… aku tahu… tadi Katou sudah menceritakannya padaku”

Apa…! Katou…? Jadi dia sudah berada ditaman ini sejak kejadian tadi dan orang yang menolongku adalah…Katou?

“Takut… aku takut….”

Ryuto hanya diam sambil terus mengelus kepalaku. Tubuhku tidak berhenti gemetar ketakutan. Hari-hari yang biasa aku lalui dengan senang sekarang hancur dalam satu hari. Aku sungguh-sungguh tidak tahu…apa yang harus aku lakukan… dan … haruskah aku mengakhiri hubungan ini… hubungan yang sudah terjalin 2 tahun ini…


-end-