Together…
Character:
· YunHo aka uno
· JaeJoong aka JJ
Rat: T
Type: OOC / bandfic
Des: tentu saja orang tua masing2 -_____-‘
Pov: JJ
Time line: High School
A/N: hahaha.. baru kali ni aoi buat cerita dengan tokoh mereka.. hahaha.. -_____-‘ jadi kalo ancur maaf kan daku..
Ps: ini bertemakan Shounen Ai!!! Atau kalian taunya dengan YAOI!!! (walau dengan rat T) cumaaa… kalo memang tidak tertarik, lebih baik langsung CLOSE saja! hahaha…
---start---
Sejak kejadian yang menimpa keluargaku, aku memutuskan untuk hidup mandiri. Sudah 5 tahun lamanya ibuku menikah lagi dan tiba-tiba saja ayahku datang kembali untuk meminta maaf. Haruskah aku marah dengan ayah seperti itu? Terakhir kuingat wajah ibuku yang penuh dengan kesedihan. Perih rasanya aku melihatnya, namun aku sebagai anak semata wayangnya dan penerus nama keluarganya, harus tegar menghadapi semuanya ini.
Tinggal dengan keluarga baruku bukan hal yang buruk. Tinggal bersama 7 orang kakak perempuan dan ayah yang penuh perhatian. Suatu kebahagiaan yang tidak bisa aku katakan dengan kata-kata. Namun, sebagai anak laki-laki aku harus bisa mandiri dan melindungi ibuku. Untuk menjalankan itu semua, aku memutuskan untuk tinggal diasrama sekolah selama masa SMA-ku. Berat sekali aku harus meninggalkan beliau, namun itulah keputusan yang aku ambil.
SMA Toho bukanlah sekolah yang buruk. Letaknya yang jauh dari kota dan dekat dengan pantai membuat pemandangan dikota Toho ini menjadi unik. Tidak terasa sudah setahun lamanya aku sekolah disini. Walaupun SMA Toho ini adalah sekolah khusus anak laki-laki, namun murid-murid disini penuh dengan kesportifitasan. Sungguh aku beruntung sekali.
Di tahun ajaran baru ini, aku mendengar dari sahabataku kalau ada murid baru dikelasku. Seperti apa anaknya, aku sendiri masih belum ada gambarannya.
“Jae Joong!” panggil seseorang ketika aku berjalan menyelusuri tangga gedung berlantai 5 ini. Ternyata Junsu. Dia berlari mendekatiku dengan nafas terengah-engah. “Tunggu aku”
Aku tersenyum melihatnya. “Kamu ini! Kenapa lari-lari seperti itu? Kelas kan belum masuk” omelku singkat.
“Ka-kamu tahu... ka-kalau a-anak baru i-itu…”
Aku kembali menghela nafas. “Junsu, kamu coba tenang dulu deh…” kusandarkan punggungku pada tembok dan menatapnya. “Coba ambil nafas dalam-dalam lalu buang. Baru setelah itu kamu bicara”
Junsu mengikuti instruksiku. Setelah terlihat tenang, dia menarikku untuk segera berjalan melanjutkan langkah menuju kelas. “Kamu tahukan ada anak baru?”
“Tahu. Yang dari kota itu kan?”
“Yup! Aku dengar dia anak orang kaya dan juga tampan loh!” katanya penuh antusias. “Semoga dia juga suka dengan bola…” ucapnya sambil memandang kearah lain. Sahabatku ini kalau sudah berhubungan dengan bola, selalu aja tatapan pandangannya berbeda. Benar-benar maniak bola.
“Ya,..” jawabku singkat. “..dan sayangnya kamu tidak bisa melihatnya sekarang..”
“Kenapa?” kami menghentikan langkah kami didepan kelasku.
“Kamu ini…! Kita kan tahun ini tidak sekelas… bagaimana sih kamu…”
Mendengar penjelasan singkatku ini, Junsu langsung berteriak kecil dan menggenggam kedua tanganku. “JJ…” dia memanggilku dengan singkat. “Tolong tanyain ya.. Kamu tahu sendiri anggota bola sedang kekurangan nih.. Kalau dia suka bola, kan bisa saja dia…”
“Iya..iya…” balasku. “Sudah sana! Udah bel tu… Nanti kamu terlambat”
“Ok! Jangan lupa ya!”
Aku hanya bisa melambaikan tanganku lalu mencari bangku kosong. Kucari posisi bangku yang berdekatan dengan jendela. Kebanyakan temanku akan menolak dengan alasan silau dan panas. Namun bagiku ini menjadi suatu cara untuk menghilangkan rasa jenuh ditengah pelajaran-pelajaranku.
Setelah wali kelasku masuk dan membacakan nama kami masing-masing, tidak lama kemudian beliau mempersilahkan seseorang memasuki ruang kelas ini. Seorang anak yang bertubuh tinggi dan berambut cepak. Yunho, itulah nama anak itu.
Sejak dia melangkah kedalam kelas, semua murid disini terlihat antusias. Entah apa alasannya, aku sendiri juga tidak terlalu mengerti. Secara singkat Yunho memperkenalkan diri, walikelasku mempersilahkan dia untuk duduk disebelah kananku. Secara kebetulan bangku itu masih kosong, belum ada pemiliknya.
“Salam kenal. Mohon bantuannya” ucapnya ketika berdiri disebelahku sambil menarik bangkunya dan bersiap untuk duduk. Aku hanya mengangguk pelan lalu kembali mengarahkan pandanganku pada papan tulis.
Yunho memang anak yang berbeda. Selain pintar dalam pelajaran, dalam olah raga dia menjadi pangeran lapangan. Semua murid dan guru kagum kepadanya. Kaya dan pintar. Benar-benar anak yang sempurna.
Aku yang biasanya tidak banyak memberikan kometar, kali ini aku bisa mengatakan kalau dia adalah anak yang menarik. Awalnya aku mengira dia akan bergabung dengan teman-teman pintar lainnya. Terkadang aku mendiamkannya karena aku berfikir dia akan bergabung dengan yang lainnya. Tetapi dia tetap memilih satu kelompok denganku. Tidak terasa sudah 6 bulan lamanya kami berteman.
“Hey, JJ” Yunho memanggil namaku ketika pelajaran kami berakhir. “Mau pulang bareng?”
“Tumben. Memang kenapa?” tanyaku balik sambil merapikan tasku. “Tidak dijemput?”
Yunho menggeleng. “Ada buku yang ingin aku beli. Mau temani aku?”
“Buku apa?”
“Justru itu. Karena aku bingung, aku mau minta pendapatmu…”
Aku menghela nafas. “Kamu ini! Masa mau beli buku, malah tidak tahu mau beli buku apa?!”
Yunho tertawa sambil melingkarkan tangannya pada bahuku. “Sudahlah.. temani aku ya…”
Aku mengangguk pelan dan mengambil tasku. “Baiklah. Dan…” aku menatapnya. “Lepaskan tanganmu…”
“Kenapa?
“Tanganmu tu berat tahu!” omelku singkat dan kembali dibalas dengan tawa.
Sepanjang perjalanan kami terus tertawa. Sesampainya ditoko buku dan berkeliling sesaat, akhirnya dia memutuskan untuk membeli sebuah novel inggris. Aku baru teringat kalau kami diminta untuk membawa novel sendiri-sendiri. Selesainya berurusan dengan toko buku, Yunho mengajakku untuk makan sore disebuah kedai dekat kuil. Memang kedai itu cukup jauh dari pusat perbelanjaan, namun banyak pengunjung yang rela menghabiskan waktu 30 menit dari kota untuk ke kedai ini.
“Bagaimana? Enak?” tanya Yunho sebelum meneguk minumannya.
“Ya… Kok kamu bisa tahu sih? Aku saja yang sudah setahun disini tidak tahu ada kedai seperti ini”
Yunho tersenyum. “…itu karena kamu kurang keluar rumah. Kamu biasanya selesai sekolah, langsung pulang, kan?” aku mengangguk. “…keluarlah sekali-kali. Cari hiburan gitu…”
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Tidak mungkin aku keluar asrama seirng-sering. Aku tidak mau bertemu dengan teman-teman lamaku…
“JJ… setelah ini kamu masih ada acara?”
Aku tertegun. “Tidak. Memangnya ada apa?”
Yunho tidak menjawab pertanyaanku. Hanya sebuah senyuman yang terukir diwajahnya. Melihatnya itu, sungguh membuat banyak pertanyaan terlintas dalam pikiranku.
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Sudah bukan waktunya anak sekolah masih berkeliaran diluar rumah. Yunho mengajakku kepinggir kuil yang dekat dengan kedai tadi. Suasana disini memang sepi dan tenang, namun sedikit menakutkan. Mungkin karena gelapnya sekitar kuil yang hanya diterangi oleh 4 buah lampu.
“Yunho, kita mau ngapain disini?” tanyaku bingung yang masih berjalan mengikutinya dari belakang. Yunho masih diam saja hingga akhrnya dia tiba-tiba menghentikan langkahnya. “Yunho?”
Yunho membalikan badannya sehingga kami saling berhadapan. “JJ… mungkin ini hal yang gila..” aku masih diam menatapnya. “…tapi.. maukah kamu… maukah kamu menjadi pasanganku?”
“Hah?” aku tercenga. “A-apa maksudmu?”
Yunho menarik kedua tanganku dan menggenggamnya. “JJ, sudah lama sekali aku memperhatikanmu… tidak. Sudah bertahun-tahun sebenarnya aku memperhatikanmu. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku… “ Yunho berdeham membetulkan suaranya. “Aku menyukaimu, Jae Joong”
Kali ini aku menyadari kalau mulutku ikut terbuka. Aku benar-benar tercenga! Bagaimana tidak! Seorang pangeran kelas yang dipuja seluruh siswa dan guru, tiba-tiba saja memintaku untuk menjadi pacarnya?! Benar-benar gila!
“Ti-tidak mungkin…” kucoba untuk melepaskan tanganku namun tenaganya yang lebih kuat membuat tanganku tidak bisa lepas.
“Kenapa tidak , JJ? Apa kamu… sudah ada seseorang yang kamu suka?”
Nafasku terasa sesak. “Ti-tidak…”
“Jadi…”
“…bukan seperti itu! Hanya saja…”
“Hanya saja?”
“Ini terlalu cepat…” kupalingkan wajahku, aku tidak mau dia melihat wajah maluku.
“…kalau aku katakana dengan perlahan?”
“Bukan itu masalahnya!”
“Lalu apa?”
Aku diam sejenak menatapnya. “Bu-bukankah kamu pangeran kelas? Banyak yang menyukaimu bahkan mengagumimu.. semua orang menatapmu sempurna, dibandingkan denganmu, aku hanyalah…”
“Itu tidak penting!” potongnya. “Terserah mereka akan berkata apa, namun aku ingin kamu tahu kalau aku menyukaimu, Jae Joong…”
Yunho menatapku tajam. Detak jantungku bergerak cepat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan.
“Yunho…”
Tiba-tiba saja Yunho menarik tanganku dan memelukku. Dia memelukku dengan erat sambil menadahkan lehernya pada bahuku. “Tenang saja, Jae joong. Aku tidak memaksaku untuk menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu.. sampai kamu siap menjawabnya…”
Apa yang harus aku lakukan? Memeluknya? Menjawab pernyataannya? Ataukah mendorongnya? Pikiranku benar-benar bercampur aduk menjadi satu.
--part 1 end---
No comments:
Post a Comment