Characters:
- Kazuki – Rie
- Genichirou – Aoi
- Shinya – Saeki
- Von
Desc: Keluarga masing – masing
Rat: M / S ^^ (Mau-mau / Suka-suka)
n/a: kesamaan pada nama bukan suatu kesengajaan, tetapi karena authornya yang memang tidak pintar membuat nama ^^v
-start – intro (shinya)
Mempunyai pekerjaan tetap ataupun tidak, bukan suatu hal yang baik ataupun buruk. Semua itu tergantung dari bagaimana tiap orang akan mengerti dari situasinya. Bagiku mempunyai pekerjaan yang tetap adalah hal yang menyenangkan, namun jika harus berpindah-pindah tempat adalah hal yang cukup tidak menyenangkan bagiku. Terlebih lagi ada seseorang yang harus aku tinggalkan sendirian dirumah.
Ketika aku masih hidup sendirian, aku tidak pernah merasa ada suatu beban berat dipikiranku. Meninggalkan teman ataupun saudara yang aku kenal. Bersama dengan teman-temanku ditempat kerja, memberikan gambaran tersendiri dalam kehidupanku. Tapi untuk kasus ini sedikit berbeda.
Aku hanya menunduk untuk membuka kaleng minumanku dan segera meneguknya. "Shun, aku sedang bingung"
"Kenapa? Cerita saja padaku" ucapnya lalu duduk disebelahku.
"Ingat jadwal latihan minggu depan? Kita akan pindah selama 1 bulan, bukan?" Shun mengangguk tanda setuju. "Aku... rasanya ingin membatalkannya"
"Ehh!! Kenapa?"
"Kau ingat kejadian 5 tahun yang lalu? Kejadian yang menimpa adikku ketika kita sedang ada pementasan di kota sebelah selama 2 bulan? Aku tidak ingin terjadi kejadian itu sampai terulang lagi"
"Tapi Shinya, tidak mungkin kamu membatalkannya. Tidak ada orang lain yang bisa memerankan peran itu selain kamu"
Aku menghela nafas. "Oleh karena itu, aku merasa pusing sekali..."
Shun ikut menghela nafas. "Apa kamu sudah menceritakan masalah ini dengan Saeki?"
Aku menggeleng. "Setelah ini aku akan bertemu dengannya. Semoga saja ada solusi untuk masalah ini" Shun mengangguk dan menepuk punggungku sebelum dia pergi meninggalkanku.
Seperti yang sudah direncanakan, sore ini aku bertemu dengan Saeki dan Kazuki di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja mereka. Untung saja tidak terlalu ramai sehingga kami bisa dengan segera mendapatkan tempat untuk duduk. Aku sudah tidak sabar untuk memesan makanan, karena aku sudah sangat lapar.
"Ada apa dengan dirimu, Shinya? Kenapa kamu kelihatan murung sekali?" tanya Saeki setelah kami memesan makanan.
"Ada masalah di tempat kerjamu?" sambung Kazuki yang menadahkan wajahnya dengan telapak tangannya.
Aku menghela nafas sejenak. "Tidak ada masalah dengan pekerjaanku, hanya saja ada sedikit masalah dengan acaranya"
"Acaranya?" tanya Kazuki bingung.
"Mulai minggu depan latihan kami akan diadakan di kota sebelah selama 1 bulan dan jaraknya dengan rumahku sungguh jauh. Rasanya kalau pulang-pergi akan memakan waktu yang cukup banyak..."
"Lalu?" kali ini Saeki yang bertanya. "Sulit mencari tempat tinggal? Kau menginap saja ditempatku"
"Hahahaha.. itu rencana pertamaku. Namun ada masalah lain... Aku tidak mungkin meninggalkan adikku sendirian"
"Ah ya, benar juga" sambung Kazuki sambil bersandar pada bangkunya. "Terlebih lagi dia anak perempuan"
Aku mengangguk setuju. "Aku bingung. Menurut kalian, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin juga aku membawanya. Bisa-bisa dia dikeluarkan dari sekolahnya"
Tidak lama kemudian minuman kami datang. Saeki meneguk minumannya dan berkata, "Kalau dia tinggal dengan pacarnya du-"
"Tidak boleh!" potongku.
"Tapi mereka-kan sudah bertunangan" sambung Kazuki. "Jadi tidak akan ada apa-apa juga, bukan?"
"Tidak akan aku izinkan!" sambungku.
"Namun Shinya..." Saeki menepuk pundakku. "Tidak mungkin juga kan kalau dia ditinggal sendirian? Aku mengerti masalahmu. Tapi kamu harus ingat kalau waktu itu, Genichirou juga yang menolong Aoi, bukan? Jadi percayalah..."
Memang benar apa yang dikatakan oleh Saeki. Tiga tahun lalu, ketika aku sedang berlatih untuk pementasan, aku tidak menyangka bahkan ada masalah besar yang menimpa Aoi. Kejadian itupun aku ketahui dari pacarnya, Genichirou bersama dengan kakaknya, Kentarou. Di hari yang sama, tiba-tiba saja Genichirou mengatakan bahwa dia ingin melamar Aoi sebagai tunangannya. Sungguh membuatku terkejut.
"Tetap saja, Saeki... Aku tidak bisa" jawabku kekeh.
Kami diam sejenak. Aku benar-benar bingung dengan masalah ini.
"Bagaimana kalau dia tinggal denganku untuk sementara waktu?" sambung Kazuki tiba-tiba. "Kalau kamu khawatir dia tinggal dengan laki-laki, bagaimana kalau tinggal bersama denganku?"
"Denganmu?" sambung Saeki. "Apa tidak apa-apa?"
Kazuki mengangguk. "Kurasa tidak apa-apa. Secara kebetulan anak kami sedang berada di kota sebelah dan rumah kamipun cukup sepi... Terkadang aku merasa kasihan dengan Rie yang merindukan anak kami. Jadi kurasa bagaimana kalau adikmu tinggal dengan kami, Shinya?"
Aku diam sejenak. "Tapi benarkah tidak apa?"
"Setelah ini aku akan menjemput Rie dan membicarakan masalah ini. Bagaimana keputusannya, aku akan menghubungimu setelah itu. Bagaimana?"
"Baiklah... maag sudah merepotkanmu" balasku sambil menundukkan kepalaku sejenak.
"Tidak apa" jawabnya dan melihat jam tangannya. "Ah, maaf. Aku harus segera berangkat. Aku tinggal dulu ya"
Kazuki menundukkan kepalanya sejenak dan berjalan cepat meninggalkan kami. Ya, jam sudah menunjukan pukul 6 sore, waktu untuk menjemput istri tercintanya.
"Bagaimana, Shinya? Masalahmu sudah terselesaikan, bukan?"
"Ya, semoga saja Rie menyetujui rencana ini"
"Ya... aku yakin mereka akan menerimanya" sambung Saeki dan kamipun melanjutkan untuk menyantap makanan kami.
-end part 1b-
No comments:
Post a Comment