Monday, September 16, 2013

TS _Confess

Title : Confess ( link in ffn )

Desc : Gotoh Sinobu - Ohya Kazumi

Characters : Akaike Shouzo - Namiko

Rat / Genre : T / Friendship - Romance

A/N : Namiko bukanlah karakter yang sengaja dibuat untuk cerita ini. 'Namiko' yang digunakan berdasarkan CD Drama TS yang Aoi dengarkan dalam beberapa part walau singkat.

Setelah kelulusan di masa SMA, masing-masing dari mereka melanjutkan pendidikan berdasarkan profesi dan keahlian mereka. Tidak hanya dalam pekerjaan, dalam hubungan dengan sang kekasih juga menjadi hal terpenting. Disaat masing-masing sudah menemukan pasangannya, bagaimana dengan sang mantan 'ketua kedisiplinan' Shidou menemukan 'pasangannya'…?

-00Start00- Pov : Akaike Shouzo

Setelah 3 tahun berlalu di Shidou Gakuen, banyak siswa yang melanjutkan sekolah mereka di universitas maupun secara langsung melanjutkan pekerjaan yang sudah dibebankan oleh keluarga masing-masing. Aku, Akaike Shouzo, melanjutkan pendidikanku di Universitas Shidou bersama dengan Misu dan Giichi. Aku di bidang hukum, Misu di kedokteran dan sudah pastinya Giichi melanjutkan pendidikannya di Manajemen Bisnis.

Tidak hanya kami bertiga yang melanjutkan pendidikan kami di universitas. Kekasih Gii, Hayama, melanjutkan pendidikan musik bersama dengan Toshihiza disebuah universitas negri yang cukup jauh dari perkotaan. Sebenarnya Gii berencana untuk membiayai pendidikan Hayama di , namun dengan tegas Hayama menolak. Sebagai sebuah 'penjagaan', Toshihiza memilih melanjutkan pendidikannya disebuah universitas yang dipilih oleh Hayama.

Pilihan tersebut bukanlah sebuah paksaan ataupun perasaan tidak enak. Daya tariknya dengan manajemen musik beserta sang kekasih berada dalam universitas yang sama, Toshihisa dengan senang hati memilih universitas ini. Selain itu, Shingyouji yang mendapatkan beasiswa atas kepintarannya, diapun melanjutkan pendidikannya dibidang kedokteran namun dalam bidang yang berbeda.

Waktu yang terus berlalu dengan sempurna, tanpa disadari hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun sudah terlewati. Kami semua sudah memasuki tahun kedua di Universitas dan tiba-tiba saja terdengar sebuah 'rumor' diantara kami.

"APA?! Aku dan dia...," seruku bersamaan di jam istirahat ketika mendapatkan rumor dari Misu mengenai 'hubungan tersembunyi' antara Giichi dengan diriku. Sepertinya kedekatanku dengan Giichi menjadi 'topik' pembicaraan bagi mereka yang ingin sekali mendapatkan perhatian sang 'idola'.

"Ya, itulah yang kudengar dari Shingyouji," ucap Misu singkat lalu menatap sumber informasinya yang kini duduk disisi kanannya. Shingyouji mengangguk perlahan lalu menjelaskan bahwa rumor tersebut dimulai ketika Gii mulai meminta bantuanku mengenai pekerjaannya.

"Kita yang mengetahui kebenarannya, tentu saja tidak akan berfikir demikian. Tetapi mereka yang selalu melihat Gii-senpai yang selalu bersama dengan Akaike-senpai, tentu saja mempunyai pandangan lain," jelas Shingyouji sebelum melanjutkan makan siangnya.

Kutatap Gii yang duduk disebelahku dan berkata, "Gii... Lihat dengan hasil kerjamu..." Aku menghela nefas sejenak sebelum melanjutkan keluhanku. "Aku tidak ingin 'rumor' ini berlanjut terus..."

"Tentu saja aku juga tidak mau, Shouzo!," kali ini Gii yang geram lalu meneguk kopi dinginnya. "Apa yang terjadi jika sampai Takumi mendengar ini? Ah... Semoga saja dia tidak menganggapku 'berselingkuh' denganmu..."

Terbawa emosi, kulapiaskan rasa kesalku dengan memukul punggung Gii lalu bangkit berdiri dari tempat dudukku. "Maaf semuanya. Aku harus segera kembali ke kelas," ucapku singkat seiring merapikan buku-buku yang aku bawa hari ini. "Gii, masalah ini kita bicarakan nanti."

Misu yang duduk diseberang kini menatap kami berdua. "Tidak heran rumor tersebut sampai menyebar..." Aku, Giichi maupun Shingyouji hanya tercenga menatapnya. "Gaya bahasa maupun penggunaan kata-katamu, mirip seperti ibunya Giichi, Akaike."

Mendengar ucapannya, aku hanya dapat tercenga dan suara tawa Gii mengisi kekosongan diantara kami. "Shouzo, bagaimana kalau kamu menjadi 'ibuku' saja?"

Kutatap tajam Giichi dan membalikan badanku, "Tidak akan, Giichi..." seruku sebelum kulangkahkan kakiku menuju gedung dengan suara tawa mereka yang kini mulai tidak terdengar lagi.

Kuhela nafas sejenak lalu meraih handphone dari saku kemeja biruku dan menatap layar yang masih sama keadaannya dari 3 jam lalu. Rumor yang mulai menyebar ini sebenarnya bukanlah rumor baru untuk Giichi maupun diriku. Kedekatanku dengan dirinya sejak kecil, sudah menjadi 'gosip' tersendiri dan sebenarnya kami berdua sudah tidak memperdulikannya lagi.

Namun yang kupikirkan adalah... mengenai seseorang yang menjadi 'orang ketiga' dan aku tidak ingin berita ini menjadi pengganggu untuknya. Seseorang yang berarti untukku namun karena pekerjaan maupun rasa inginku untuk masih berkonsentrasi dengan dunia pendidikan, membuatku mengurungkan diri untuk mendekatinya. Tetapi, Gii memberikan sebuah 'harapan' kepadaku...

"Kamu tidak perlu khawatir. Dia selalu menunggumu dan inilah buktinya," ucap Giichi ketika kami baru saja menyelesaikan pendidikan terakhir kami di Shidou dengan memberikan sebuah surat beramplop putih kecoklatan. Kutatap Gii sejenak dan dia mengangguk sebagai ganti jawaban kepadaku.

"Terima kasih, Gii...," ucapku seiring masih menatap ampop kecil yang kini berada ditanganku dengan sebuah 'nama' yang ditujukan kepadaku.

Giichi tertawa sejenak lalu menepuk pundakku. "Tenang saja. Aku mempunyai banyak kenalan yang cocok denganmu jika kamu mau..tetapi...," dia mendekatkan wajahnya kepadaku dan berbisik, "...lebih baik kamu cepat bertindak karena tidak ada yang tahu sampai kapan dia akan berada dalam 'situasi' yang sama..."

Kurasakan wajahku memanas dan Gii hanya tersenyum lebar sebelum berjalan meninggalkanku untuk mengunjungi kekasihnya, Hayama Takumi yang sudah menunggu di tempat 'pribadi' mereka.

Kuhela nafasku sesaat seiring langkahku menuju salah satu kelas dari gedung coklat berlantai 6 ini. Menggunakan lift terdekat lalu menekan angka '3a' dan dengan segera kulanjutkan langkahku menuju sebuah kelas yang letaknya cukup dalam dari kelas lainnya. Suasana kelas sudah cukup ramai namun aku masih dapat menemukan sebuah bangku kosong yang letaknya tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dari meja dosen.

"Shouzo-kun? Kamu tidak apa-apa?," tanya seseorang yang suaranya tidak asing lagi ditelingaku. Menggunakan kemeja berwarna merah muda dengan rok putihnya, dan dengan wajah gembiranya dia meletakan buku beserta tas hitamnya disebuah meja yang berada disisi kananku.

Aku menggeleng lalu menatapnya seiring kepalaku bertumpu pada punggung tangan kiriku. "Bagaimana dengan ujian kali ini? Apa laporannya sudah kamu selesaikan semua?," kupaksakan diriku untuk kembali berkonsentrasi dan fokus pada pelajaran yang sudah dihadapanku.

Kali ini dia mengangguk dan dengan segera mengeluarkan mini laptopnya dihadapanku. "Sebagian sudah aku selesaikan, tapi masih ada beberapa hal yang tidak aku mengerti," ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya.

Aku menghela nafas sejenak dan mengikuti arah pandangnya. "Jadi, intinya kamu minta tolong bukan? Lalu, bagian mana yang tidak kamu mengerti?" dengan segera dia menunjukan bagian yang tidak dapat dia kerjakan dan akupun berusaha menjelaskan dengan kalimat semudah mungkin.

Sementara dia memeriksa kembali pekerjaannya, akupun membantu menuliskan nama 'Namiko' pada selembar kertas lalu kuletakan pada sebuah tempat CD yang menjadi pelindung beserta bukti hasil pekerjaannya. "Ah, akhirnya...," serunya perlahan lalu dengan segera mengambil tempat CD dari tanganku dan mengumpulkan pekerjaannya dimeja dosen. "Terima kasih, Shouzo."

Aku mengangguk dan kamipun segera kembali pada bangku masing-masing karena dosen kami sudah memulai presentasinya.

Namiko, atau lebih sering dipanggil dengan nama Nami, salah satu sahabat Gii dan diriku ketika kami masih duduk dibangku sekolah dasar. Bermain dan belajar bersama sudah menjadi aktifitas kami bersama-sama tanpa memikirkan latar belakang kami. Termasuk Sachi yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di negara kelahiran Giichi ketika memasuki tingkat menengah.

Kedekatan dan kebersamaan kami sudah menjadi hal umum bagi orang tua kami. Tidak jarang Namiko menghabiskan liburannya bersama kami, termasuk ayahku yang sering menanyakan kabar Giichi dari pada keadaan diriku. Aku tidak marah pada ayahku sudah menganggap Giichi sebagai anak keduanya. Kedua orang tua Giichi selalu saja sibuk sehingga Giichi sendiri kurang mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya. Bagiku, Giichi juga sudah menjadi saudara sendiri.

Bahkan kami memanggil satu sama lain dengan sebuah panggilan 'Koki' untukku dan 'Profesor' untuk Giichi.

Perasaanku kepada Namiko mulai kurasakan sejak memasuki masa universitas. Sifatnya yang selalu santai dan ceria perlahan menjadi lebih feminim dari biasanya. Penampilannya yang mulai berubah dan didukung dengan kelancaran aktivitas di dapur, membuatku semakin yakin bahwa dia sudah bertumbuh dan siap untuk kelancaran masa depannya.

Namun ada sisi lain yang membuatku sedikit gusar...

Setiap kali Nami jalan maupun menghabiskan waktu bersama dengan teman sekelasnya, perasaan khawatirpun muncul didalam benakku. Terlebih ketika Nami mengajakku kesebuah acara 'perjodohan' bersama dengan teman-temannya. Suasana tidak menyenangkan memenuhi pikiranku. Nami terlihat ceria dan senang dengan teman lawan jenisnya...

...mulai dari sinilah akupun menyadari bahwa akupun mulai menyukai Nami, bukan hanya sebagai seorang sahabat...

Teringat ketika kami masih duduk dibangku sekolah dasar tingkat 5, Giichi dan Nami sering mendapatkan gosip, karena kedekatan perusahaan ayah mereka. Giichi yang sepertinya menyadari atas gosip tersebut, dengan segera diapun menjelaskan padaku bahwa ada seseorang yang dia sukai setelah menonton acara pertunjukan Sachi beberapa bulan lalu.

"...ya, Hayama Takumi. Itulah yang aku ketahui dari Sachi," jelas singkat Giichi ketika dia menginap di rumahku. "Aku masih belum bisa mendapatkan informasi tentang dirinya! Sachi benar-benar pelit, Shouzo! Padahal aku sudah bersedia menonton pertunjukan biolanya!," keluh Gii seiring mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya yang terletak di sebelah meja belajarku, lalu foto itu diberikan kepadaku.

"...inikah yang bernama Hayama Takumi?," tanyaku meyakinkan. Giichi mengangguk dan menceritakan beberapa keluhan maupun alasan dirinya menyukai Hayama. Bahkan dia bertekat untuk belajar Biola agar dapat menemui Hayama Takumi.

Sayangnya, ketika Giichi memutuskan untuk memulai kelas musiknya, disaat yang sama Hayama Takumi keluar dari kelas Biola dan keberadaannya tidak diketahui oleh guru sekolah maupun guru musiknya. Mendengar hal itu, Giichi kembali mengeluh kepadaku dan aku hanya dapat mendengarkan seperti yang sudah biasa kulakukan.

"...namun bagaimana dengan Nami?," tanyaku tiba-tiba setelah Giichi memutuskan untuk kembali ke negara kelahirannya untuk menemui ayahnya.

Giichi tersenyum padaku lalu menepuk pundakku. "Tidak perlu khawatir, Shouzo. Aku tidak perduli dengan gosip-gosip itu, bahkan Nami juga mengabaikan rumor tersebut. Hanya saja..."

"...hanya saja...?"

Giichi kali ini tertawa lalu melambaikan tangannya sebelum melangkahkan kaki menuju mobil pribadinya yang sudah menunggu di balik pintu gerbang rumahku. "...sisanya terserah padamu, Shouzo..."

Mendengar penjelasan singkatnya, aku hanya dapat terdiam pada diriku. Aku yang masih duduk dibangku sekolah hanya mengerti mengenai pelajaran dan mengatur aktivitasku dengan sebaik mungkin. Perasaan sayang kepada ayah dan teman hanyalah perasaan sebagai rasa hormatku kepada mereka. Perasaan lebih kepada teman hanyalah sebagai seorang 'teman' saja, tidak lebih dari itu.

Waktu yang terus berlalu membuatku semakin belajar dan merasakan perasaan yang dialami oleh Giichi dan teman-teman lainnya. Perasaan sayang dan membutuhkan membuatku semakin menyadari bahwa selama ini aku hanya berputar-putar ditempat yang sama. Bahkan Toshihiza dapat bersama dengan kekasihnya setelah memasuki masa perkuliahan.

Hanya diriku yang bergerak disatu tempat... seperti orang bodoh saja...

"Shouzo, kamu tidak apa-apa?," Nami membuyarkan lamunanku dan tanpa kusadari kelas teori hukum sudah berakhir. Seluruh penghuni kelas sudah sibuk dengan barang-barang mereka, sedangkan aku masih saja terdiam dengan buku terbuka dihadapanku ini. "Kamu sakit?"

Aku menggeleng. "Tidak apa," jawabku singkat. Tanpa membuang waktu, akupun segera merapikan seluruh buku kedalam tas lalu bersiap bergegas menuju kelas berikutnya. Tetapi aktivitasku terhenti ketika kusadari bahwa Nami masih menatapku dengan wajah bingungnya. "Aku tidak apa-apa, Nami."

Kali ini Nami menggeleng dan menepuk pundakku. "Tidak, Shouzo. Setiap kamu ada masalah, kamu selalu saja bersikap seperti ini. Kamu tidak bisa bohong kepadaku, Shouzo," ucapnya cepat sebelum aku berhasil memotong dugaannya. "Ceritalah."

"Tentu saja aku tidak bisa, karena ini mengenai dirimu," gumamku dalam hati dan hanya helaan nafas yang kuberikan kepadanya.

Seluruh jadwal kelasku untuk hari ini cukup padat! Banyak tugas maupun pekerjaan yang harus dilakukan dan tepat jam 7 malam baru kulangkahkan kakiku keluar dari lingkungan kampus. Langit mulai gelap dan lampu-lampu penerangan jalan sudah menyala terang. Binatang-binatang malam mulai melakukan aktivitasnya. Beruntung transportasi yang kugunakan tidak terlalu penuh dari biasanya sehingga aku dapat mengistirahatkan tubuhku sejenak.

Seiring kutatap pemandangan jalan sepanjang perjalanan pulang, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah taman yang cukup kosong, hanya 5 orang mahasiswa/i berkumpul ditengah-tengahnya. Pandanganku menjadi lebih fokus ketika mengetahui salah satu anggota mereka yang merupakan teman kecilku, Namiko.

Di sebuah halte yang tidak terlalu jauh dari taman, dengan segera kulangkahkan kakiku keluar dari dalam gedung dan berlari secepat mungkin mendekati tempat kejadian tersebut. Alasanku berlari karena Namiko dikelilingi oleh 3 orang perempuan dan 1 laki-laki, dan Namiko terlihat terdesak dengan mereka yang saling meneriaki. Tanpa berfikir panjang, dengan segera aku berdiri didepan Namiko dan menatap mereka semua dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Ada yang bisa jelaskan kepadaku mengenai kejadian ini?," ucapku dengan nada tinggi, sedangkan mereka hanya menatapku dengan penuh kekesalan. Seperti mengganggu anak kecil ditengah permainannya. Tidak ada jawaban dari mereka, akupun membantu Namiko untuk bangkit berdiri dan membantunya keluar dari pertahanan mereka berempat.

"Apa kamu tidak tahu rumor yang sudah menyebar di lingkungan kampus?," ucap salah satu dari mereka yang membuatku kembali membalikan badanku lalu menatap kedua matanya dengan tajam. "Perempuan ini sudah berani mendekati Gii-sama dan kamu sendiri... carilah orang lain! Jangan kotori Gii-sama!," serunya dan diikuti oleh kedua temannya yang mulai ikut berbicara.

"Apa? Mereka memanggil Gii dengan 'sama'?," ucapku dalam hati dan aku hanya bisa tertawa kecil mengenai 'informasi' yang mereka dapatkan. 'Beruntung bukan Hayama yang menjadi korban kalian... Jika itu sampai terjadi, kalian tidak tahu apa yang akan 'Gii-sama' lakukan kepada kalian...'

"Kenapa kamu tertawa?! Tidak ada yang lucu!"

Kutahan tawaku sesaat lalu menatap salah satu mahasiswi yang baru saja meneriakiku. "Akan kuberitahu satu hal. Aku tidak tahu dari mana rumor itu mulai datang, namun diriku tidak seperti yang kalian pikirkan! Hubunganku dengan Gii hanyalah sebatas teman dan rekan kerja! Sedangkan Nami, kami bertiga sudah berteman sejak kecil. Apakah dunia kalian terlalu 'kecil' sehingga kalian tidak tahu siapa kami?," kali ini kutatap mereka dengan tegas dan mereka mulai menunjukan 'pertahanan' mereka.

"A-apa maksudmu?!," ucap salah satu dari mereka denga penuh keberanian.

Kuberdiri dengan tegak lalu kembali menatap mereka secara keseluruhan. "Tidak hanya Gii, kamipun dapat 'membuang' kalian dengan mudah jika kami mau." Mereka kembali berteriak untuk menghentikan langkah kami dan dari sudut mata kutatap mereka tanpa membalikan tubuhku.

"Perusahaan Saki tidak mungkin bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan sombong seperti kalian. Akan kuberitahu sekali dan tidak ada pengulangan. Ayahku bekerja sebagai seorang pengacara sedangkan kedua orangtua Nami bekerja dikepolisian dan secara khusus bekerja dibawah perusahaan Saki. Apa kamu sudah mengerti dengan maksud perkataanku?"

Tidak ada satupun dari mereka yang bergerak atau memberikan komentar. Tidak ada reaksi, kuraih tangan Nami dan mengajaknya untuk segera pergi dari mereka. Setelah merasa cukup jauh, aku hanya dapat menghela nafas dengan segala kejadian yang berlalu dengan sangat cepat.

"Mungkin inilah rasanya membela diri dengan menggunakan 'latar belakang' sebagai pertahanan. Tidak heran jika Gii sering melakukan ini," gumamku dalam hati seiring langkahku masih tertuju pada halte yang cukup jauh dari posisi sebelumnya.

Tidak ada sepatah kata mengisi keheningan diantara kami berdua. Setelah beberapa saat, kamipun sampai ditengah keramaian dan kucari salah satu restauran kecil yang tidak terlalu ramai.

"Shouzo...," aku bergumam sebagai jawabannya seiring kedua mataku masih mencari tempat yang cukup jauh dari keramaian. "Boleh aku mengatakan sesuatu?," aku mengangguk dan berdeham sebagai jawaban untuknya. "...itu... ta-tanganmu..."

Tubuhku terhentak dan pusat perhatianku langsung berpindah pada sebuah tangan yang berada dalam genggamanku. Kusadari bahwa aku terus menggenggamnya sejak mengeluarkan dirinya dari keramaian. Merasa canggung, spontan kulepaskan genggamanku dan menunduk minta maaf kepadanya.

Nami tertawa kecil dan menepuk pundakku. "Tidak apa Shouzo," ucapnya singkat. "Akulah yang harusnya berterima kasih kepadamu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada dirimu tadi..."

Tiba-tiba saja detak jantungku berdetak sangat cepat dan kurasakan wajahku mulai memanas. Sebuah perasaan yang 'membingungkan' kembali datang dan mengisi seluruh pikiranku.

Keheningan mengisi jarak diantara kami berdua dan untuk mencairkan suasana, kuajak dirinya untuk beristirahat sejenak, sedangkan aku sendiri memutuskan untuk membeli sesuatu untuk kami santap. Tidak ada sedikitpun rencana maupun topik yang terlintas dipikiranku. Berharap suasana tegang seperti ini akan segera berakhir dengan baik.

Setelah 10 menit berlalu, dengan segera aku kembali menemani dirinya dengan dua buah gelas minuman serta makanan. Ketika kuletakan dihadapannya, sebuah senyuman kembali terukir diwajahnya, seakan-akan tidak ada beban sama sekali dalam pikirannya. "Terima kasih, Shouzo. Aku makan,ya," serunya singkat sebelum memasukan sesendok nasi kedalam mulut kecilnya.

Susana digin mencair dengan sendirinya. Senyuman dan keceriaan kembali pada dirinya. Setelah menikmati makan malam bersama, kuputuskan untuk mengantarnya pulang yang tidak jauh dari kediamanku. Sepanjang jalan, keheningan kembali mengisi diantara kami, selain topik presentasi kelompok maupun tugas mandiri.

"Nami, bolehkah aku bertanya sesuatu?," tanyaku tiba-tiba ditengah perjalanan pulang kami. Langkah kakinya dia hentikan lalu menatapku dengan bingung. Nami kembali bertanya kepadaku dan kurasakan detak jantungku yang mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. "A-apa pandanganmu mengenai Giichi?"

"Eh?," Nami terkejut dengan pertanyaanku namun dirinya tetap memberikan senyuman terbaiknya kepadaku. "Baik Gii maupun dirimu, kalian adalah orang yang paling berarti dalam kehidupanku...," Nami melangkahkan kakinya pada salah satu bangku yang tidak jauh dari tempat kami berdiri lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Giichi.. orang yang menarik dan cukup aneh. Tetapi itu tidak menjadi masalah karena kita adalah sahabat..." Nami diam sejenak lalu kembali menatapku kedua mataku dan membuat wajahku terasa semakin panas. "Mengapa kamu bertanya demikian, Shouzo?"

Jantungku berdetak sangat cepat dan wajahku ikut memanas. Kurasakan arah pandanganku yang tertuju pada kedua kakiku dan dengan seluruh keberanianku, kukatakan sebuah pernyataan singkat pada dirinya. "A-aku.. menyukaimu, Nami..."

Nami menatapku dengan bingung dan rasa terkejutnya dapat terlihat jelas dari raut wajahnya. Perasaan takut maupun khawatir bercampur menjadi satu. "Mungkin ini terdengar aneh dan mungkin tidak disangka sama sekali ya...," ucapku setengah bercanda dan kurasakan rasa panikku semakin menguasaiku. "Ta-tapi... sungguh aku menyayangimu, Nami. Ba-bagaimana jawabanmu?"

Nami tersenyum, berjalan mendekatiku dan tiba-tiba saja kedua tangannya dia lingkarkan pada diriku. Tubuhku terhentak sesaat dan senyuman manisnya semakin terlihat jelas diwajahnya. "Terima kasih atas pernyataanmu, Shouzo...," perasaan takut kembali menguasaiku. "...dan sepertinya ucapan Gii memang benar... aku harus bersabar lebih jauh .. hanya untuk dirimu..."

Banyak pertanyaan terlintas di pikiranku. Nami kembali tersenyum seiring melepaskan pelukannya.

"Tidak hanya dirimu, Shouzo. Akupun.. sebenarnya sudah lama menyukaimu, tetapi aku tidak ada keberanian untuk mengatakannya kepada dirimu.. terlebih kita sudah bersahabat sejak kecil.."

"Be-benarkah?," ucapku tidak percaya. "...la-lalu... apa maksudmu dengan... ucapan Giichi...?"

Nami kembali mengangguk sesaat sebelum melanjutkan penjelasannya. "Sebenarnya aku selalu meminta bantuan Giichi untuk mengetahui aktivitasmu. Dirimu yang sulit untuk dihubungi tentu saja membuatku merasa kesepian. A-apa kamu tidak menyadarinya...?"

"Ma-maaf..."

Nami menggeleng dan kali ini dia kembali memelukku. "Terima kasih Shouzo... Akhirnya kita dapat bersama dan menghilangkan segala gosip yang ada?," tubuhku terhentak sesaat setelah menyadari maksud perkataannya.

'Jadi... dia juga merasa terganggu dengan gosip-gosip itu?'

Aku mengangguk dan kini kedua tanganku memeluknya dengan erat. "Tentu saja. Kita hilangkan segala dugaan dan gosip itu bersama-sama..."

Sesaat kulepaskan pelukanku dan dalam hitungan detik, bibir kami saling bersentuhan. Kehangatan mengisi jarak kami berdua di tengah dinginnya malam. "Terima kasih, Nami. Terima kasih untuk jawaban yang kamu berikan untukku..."

Tidak ada jawaban selain sebuah pelukan erat darinya. Senyuman kini terukir diwajah kami berdua. Banyaknya bintang yang bertaburan digelapnya malam, menghiasi segala kebahagiaan pada diri kami. Malam yang begitu tenang terasa menyenangkan walaupun udara dingin mulai menembus pakaian tebal kami.

-OMAKE-


"Oh ya, Shouzo… Apa Gii sudah tahu rencanamu ini?," ucap Nami seiring mulai melanjutkan langkah kami menuju rumahnya. Aku menggeleng dan berbalik bertanya kepadanya. "Tidak apa-apa.. Karena kalian begitu dekat, aku berfikir... kalau...," kami berdua tertawa sejenak seiring kedua tangan kami saling bertautan.

"Tidak semua hal kuceritakan kepadanya, Nami…"

"Oh ya, Shouzo…," sambung Nami ketika kami hampir tiba didepan rumahnya. "Apa kamu tahu siapa 'orang' yang menjadi kekasih Giichi?," tubuhku terhentak sesaat dan berbalik tanya kepadanya. "Aku pernah bertanya kepadanya namun dia tidak pernah memberikan jawaban pasti kepadaku! Apa kamu tahu sesuatu?"

"I-itu…," kupalingkan pandanganku dan mencoba mencari topik lainnya.

"Shouzo… beritahu aku…," pintanya seiring menatapku dengan memelas.

Tidak mungkin aku ceritakan pada Nami! Tidak! Tidak! Harus Giichi sendiri yang mengatakannya kalau pasangan yang Giichi sukai itu..! Giii! Bantu aku!

-00The End00-

Thanks for read this… 

Tuesday, July 9, 2013

TS_Once fo More



Title : Once for MoreCharacters : Shingyouji Kanemitsu – Misu Arata
Dec : Gotou Shinobu
Rat : M
A/N : Aoi hanya memposting ulang dari yang pernah Aoi posting di FFN sebelumnya ^^/ ( link )



-00START00—


Cuaca yang tidak menentu dibeberapa tempat dengan udara cukup dingin, membuat banyak penghuni kota memutuskan untuk tetap berada ditempat tinggal mereka. Tidak hanya manusia, binatang kecilpun lebih memilih untuk tetap berada dikediaman mereka dan melakukan aktivitas lainnya yang lebih aman.


Turunnya hujan sejak kemarin malam membuat beberapa jalanan yang berdasarkan tanah menjadi lebih lunak dari pada biasanya. Bebatuan yang terpasang dengan rapih mulai keluar dari tempatnya, bahkan untuk posisi ketinggannyapun mulai berbeda. Berjalan dengan hati-hatipun tidak menjamin bahwa sepatu yang dipakai akan tetap bersih sampai di tempat tujuan. Jika sudah seperti ini, tidak ada yang dapat menghindar terlebih pada tuntutan atas pekerjaan.

Selesainya pelajaran di hari terakhir sebelum akhir pekan membuat seluruh siswa maupun guru sekolah Shidou merasa senang dan bersemangat. Menutup buku absensi kelas dan memberi salam terakhir, langsung dipenuhi dengan suara teriakan seluruh siswa yang sudah tidak sabar untuk kembali ke asrama mereka untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Tidak dapat aku tutupi rasa semangatku untuk segera kembali ke asrama dan mengunjungi salah satu ruangan yang menjadi tempat kesukaanku untuk menghabiskan waktu. Ya, sebuah tempat dimana terlihat membosankan, namun terdapat seseorang yang sangat aku sayangi berada didalamnya.

"Selamat liburan," seru salah satu teman sekelas sekaligus teman sekamarku seiring menepuk pundakku perlahan dan mau tidakmaupun aku membalas sapaannya. "Shingyouji, apa kamu akan pulang di akhir pekan ini?" Aku menggeleng sebagai ganti jawaban dan berbalik bertanya kepadanya.


"Tidak apa. Aku hanya teringat kalau kamu jarang pulang saja. Kalau begitu, aku titip kunci asrama kepadamu."

"Ya, tenang saja," seruku dengan santai. Temanku menggeleng dan tertawa kecil. "Ke-kenapa, Ishida-kun? Kenapa jawabanmu seperti itu?"

"Justru karena DIRImu, Shingyouji!," balasnya seiring dirinya menghela nafas. "Baiklah, setelah aku selesai merapikan barang-barangku, akan ku berikan kunci kamar beserta nama agar tidak hilang." Jelasnya singkat.

"I-ishida-kun…,"

"Shingyouji, aku tahu kalau kamu sering kehilangan barang dan kali ini aku berharap kamu lebih berhati-hati. Kamu tahu sendiri bagaimana susahnya meminta kunci duplikat bukan?" Aku mengangguk perlahan tanpa mengalihkan pandanganku kearah kedua kakiku. "Bersemangatlah, Shingyouji…," Ishida mendekatiku dan berbisik, "Bukankah ini menjadi kesempatan dirimu bersama dengan senior 'kaku' itu?"

Kurasakan wajahku memerah dan detak jantungku berdetak cepat. "I-ishida-kun!"

"Bersenang-senanglah, Shingyouji." Serunya dan meninggalkan diriku yang hanya bisa tersipu malu dengan perkataannya itu. Ishida adalah teman sekamar sekaligus teman baikku dikelas ini. Sejak mengenal dirinya, akupun kurang mengerti mengenai pola pikirnya karena sifanya yang tertutup. Tetapi kuakui bahwa Ishida orang yang baik karena sering kali dia membantu dan mengerti situasiku walau sebenarnya aku jarang menceritakan masalahku selain mengenai pelajaran kelas. Terlebih hubunganku dengan Arata-san, dia cukup mengerti walaupun aku lebih banyak bercerita dengan Hayama-san dibandingkan dengan Ishida-kun.

Kukeluarkan sebuah tas kecil berisi buku-buku perpustakaan yang ingin aku kembalikan sebelum kembali ke dalam asrama. Tidak begitu jauh jarak antara perpustakaan dengan ruang kelasku. Memilih beberapa buku refrensi untuk tugas-tugasku beserta sebuah buku novel yang cukup menarik walaupun banyak temanku merasa aneh dengan kegiatanku ini. Ya, sebuah buku novel yang banyak menceritakan keseharian dalam peperangan dari pihak penyerang maupun korbannya. Cukup membuat detak jantung berdetak cepat maupun mengeluarkan air mata atas kengerian yang diceritakannya.

Tanpa terasa telah kuhabiskan lebih dari 1 jam untuk memilih keseluruhan buku yang ingin kupinjam, sampai pandanganku terhenti pada sebuah majalah bertemakan kepribadian. Tema majalah ini banyak membahas mengenai permasalahan dalam remaja seperti masalah dalam pertemanan maupun percintaan. Tanpa kusadari, kuraih buku tersebut dan memasukan kedalam tumpukan buku yang ingin kupinjam.

"Ah,selamat sore, Shingyouji-kun," sapa seseorang dengan lembut seiring berjalan perlahan mendekatiku. Hayama Takumi, seniorku sekaligus 'harta karun' ketua asrama untuk angkatanku, Saki Giichi. Merekapun termasuk teman dan lawan bagi seseorang yang sangat aku sayangi, dimana dia mempunyai jabatan sebagai seorang ketua osis , Misu Arata.

"Selamat sore, Hayama-san," balasku. "Baru selesai pelajaran tambahannya?," tanyaku mengingat mereka sudah memasuki masa ujian saringan universitas maupun ujian kelulusan.

Hayama-san mengangguk perlahan. "Oh ya, Shingyouji-kun, apa kamu sudah ada rencana hari ini?" aku bertanya balik untuk memastikan maksud pertanyaannya itu. "Hari ini aku berencana akan membeli beberapa keperluan di sebuah took yang baru saja dibuka minggu lalu. Bagaimana? Apa kamu bisa menemaniku?"

Aku terdiam sejenak dan menatapnya. "Maafkan aku, Hayama-san. Aku bukan bermaksud menolak, namun apa tidak apa-apa?," tanyaku lagi memastikan. Maksud dari pertanyaanku adalah 'izin' kepergianku bersama dengan Hayama-san dari seseorang yang sangat menyayangi sekaligus cukup menyeramkan jika sedang marah.

Hayama-san tertawa bercampur tersipu malu dihadapanku. "S-shingyouji-kun! Te-tenang saja. Lagipula akan lebih berbahaya jika aku pergi bersama dengan Gii. Hari ini masih banyak siswa kelas satu dan aku tidak mau menimbulkan keributan dari masalah kecil seperti ini. Bagaimana, Shingyouji? Kumohon…" Kutatap raut wajah Hayama-san yang sungguh-sungguh meminta bantuan kepadaku. Aku mengangguk perlahan dan disambut keceriaan beserta senyuman dari Hayama-san. "Aku akan kekamarmu 1 jam lagi dari sekarang. Bagaimana?"

"Baiklah, Hayama-san. Sampai bertemu nanti," pamitku kepadanya dan kamipun kembali melanjutkan perjalan menuju tempat tujuan masing-masing.

Merapikan buku-buku pelajaran maupun mengganti seragamku dengan segera dan kusadari Hayama-san masih belum datang menjemputku. Kuraih majalah yang kupinjam dari perpustakaan sebelumnya, dan kusadari wajahku sedikit memerah setelah membaca salah satu artikel utama majalah tersebut. Ditengah aku membayangkan diriku bersama dengan Arata-san dalam artikel tersebut, kudengar sebuah ketukan dan kudapatkan Hayama-san berada dihadapanku.

"Maaf, Shingyouji-kun. Sepertinya kamu sedang sibuk. Apa tidak apa-apa kamu menemaniku?."
Aku mengangguk perlahan. "Tidak apa-apa, Hayama-san. Aku hanya membaca majalah saja, bukan pelajaran kelas, kok." Jelasku singkat untuk segera meyakinkan Hayama-san. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita segera berangkat sebelum hari semakin malam?" Hayama-san mengangguk dan dengan segera kami berjalan menuju pintu keluar lingkungan Shidou.


Hampir 1 jam kami menghabiskan waktu didalam toko baru tersebut. Hayama-san membeli beberapa kebutuhan, namun tidak ada satupun yang membuatku tertarik untuk membeli salah satu barang apapun, sampai langkah kakiku membawaku ke salah satu rak berisi makanan. Permen coklat yang pertama kali aku berikan untuk Arata-san, walaupun pada akhirnya permen tersebut dikembalikan kepadaku.

Mengingat Arata-san yang sering mengambil permen dari saku tasku, akupun membeli beberapa bungkus coklat untuk persiapan. Aku tidak marah ataupun merasa kesal dengan Arata-san, karena aku mengetahui bahwa sebenarnya Arata-san ingin memakan sesuatu untuk mengisi tenaganya, hanya saja pekerjaan yang memaksanya untuk tetap berada di ruang osis. Beberapa kali aku mengingatkan Arata-san untuk beristirahat, namun penolakan secara terus menerus yang aku dapatkan. Tidak ingin menjadi pengganggu baginya, akupun memilih untuk diam dan membiarkannya memakan persediaan coklat milikku.

"Bagaimana, Shingyouji? Barang apa saja yang kamu beli?," Tanya Hayama-san setelah membayar dan menemuiku di bangku depan toko ini. Aku yang hanya membeli beberapa bungkus ini, lebih cepat selesai dibandingkan dengan Hayama-san. Bukan menjadi masalah besar atas perbedaan sikap antara aku dengan Hayama-san. Perlunya ketelitian dalan berbelanja dalam harga maupun tanggal produksi menjadi hal pertama didalam pikiranku.

"Aku hanya membeli beberapa makanan kecil saja." Jelasku singkat. "Bagaimana dengan Hayama-san?"

"Ya, aku sudah membeli seluruh kebutuhanku. Toko ini siungguh menarik! Suatu saat nanti, aku harus mengajak Gii kesini," ucapnya dengan antusias. "Baiklah, ayo kita kembali." Aku mengangguk dan tanpa membuang waktu, kamipun segera menuju halte untuk menggunakan kendaraan menuju asrama.

Sesampainya di lingkungan Shidou, kami berpisah satu sama lain karena letak kamar kami yang berbeda. Kulanjutkan langkahku menuju lantai 3, dimana tempat kamarku berada. Kukeluarkan kunci kamar dari sakuku namun kudapatkan keadaan pintu kamarku yang tidak terkunci. Kurasakan detak jantungku berdetak cepat dan seluruh perkiraan aneh mengisi otakku. Kuyakinkan diriku untuk tetap berfikir positif dan dengan segera kubuka pintu kamarku. Tubuhku terhentak dan kurasakan mulutku sedikit terbuka atas ketidakpercayaan diriku dengan apa yang ada didepanku saat ini. Seseorang yang biasanya aku 'datangi', kini berada diatas tempat tidurku dalam keadaan tertidur pulas. Ya, seorang Misu Arata kini berada dikamarku.

Perlahan kututup pintu kamarku, meletakan barang belanjaanku tidak jauh dari meja belajarku, dan berjalan perlahan mendekati dirinya. Kulipat kedua kakiku disisinya dan menatapnya dalam keheningan. Tidurnya begitu tenang menandakan bahwa dia sangat membutuhkan banyak istirahat atas seluruh pekerjaan yang selalu dia kerjakan ini. Tanpa kusadari, tangan kananku mengelus rambutnya yang begitu halus dan lembut secara perlahan. "Arata-san, aku sungguh menyayangimu…," ucapku perlahan seiring aku tersenyum melihat tidurnya seperti seorang anak kecil.

"Shingyouji….," tubuhku terhentak ketika tiba-tiba saja Arata-san membuka kedua matanya dan menatapku perlahan. Kusembunyikan tanganku dibelakang punggungku seakan ada sesuatu yang aku sembunyikan darinya, walau sebenarnya aku tidak ingin Arata-san marah atas tindakanku ini. Arata-san bangun dari posisi tidurnya tanpa mengalihkan pandangannya kepadaku. Aku diam menunduk untuk menutupi rasa maluku kepadanya. "Shingyouji, kemana saja dirimu? Mengapa kamu pergi tanpa memberitahu apa-apa kepadaku? Inikah sikap 'peliharaan' yang baik?"

Terburu-buru aku menggeleng dan menatapnya. "Bu-bukan, Arata-san. A-aku bukan bermaksud untuk seperti itu. Maafkan aku, Arata-san." Arata-san diam menatapku dan sungguh membuatku semakin merasa bersalah kepadanya. "A-arata-san…," aku memanggilnya sesaat dan menatapnya penuh harap. "…a-apa…Arata-san…marah kepadaku? Ku-kumohon maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi," ucapku lagi.

Arata-san menghela nafas dan sebuah senyuman terukir diwajahnya seiring tangan kanannya mengelus rambutku. "Aku tidak marah, Shingyouji. Jadi…," kedua mata kami saling bertemu dan kurasakan jari tangannya yang begitu lembut menyentuh wajahku. "…berhentilah menangis untuk hal yang tidak perlu, Shingyouji."

Tubuhku terhentak dan sesaat akupun menghapus air mataku dengan punggung tanganku. Wajahku terasa panas dan memerah karena rasa maluku didepan Arata-san. Sungguh aku tidak percaya mengapa aku bisa menangis seperti ini, terlebih didepan orang yang aku sayangi. "Maafkan aku, Arata-san. Aku…aku…,"

"Sudahlah, Shingyouji. Aku tidak mau mendengar alasanmu. Semakin aku mendengarnya, maka kamu akan semakin menangis." Arata-san bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju pada sebuah kursi didepan meja belajarku. "Apa saja yang kamu beli?"

Terburu-buru aku menghapus air mataku dan mengeluarkan beberapa makanan kecil diatas meja belajarku. "Aku hanya membeli makanan ringan. Apa Arata-san…mau?," ucapku seiring mencoba membuka salah satu bungkusan makan, namun tindakanku terhenti disaat tangan Arata-san menahan pergerakan lengan tanganku. "A-arata..san…?"

Arata-san menggeleng dan tiba-tiba saja dia kembali tersenyum melihatku. Sungguh aku tidak mengerti dengan tindakan Arata-san malam ini. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya menjadi berbeda dari pada biasanya. Tanpa izin terlebih dahulu, tangan kananku menyentuh keningnya dan sedangkan tangan kiri memegang keningku sendiri. Kurasakan suhu tubuhnya yang tidak begitu jauh dariku.
"Shi-shingyouji! Aku ini tidak sakit," Arata-san menepis tanganku dan membalikan badannya dariku. "Tiba-tiba saja perkataan dari Saki terngiang di kepalaku. Untuk kali ini, aku menyetujui pendapatnya dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya."


"E-eh? Ma-maksdnya? Arat-," hangat tubuh Arata-san menghentikan perkataanku. Dalam hitungan detik, Arata-san menarik kerah bajuku dan menciumku dengan lembut. Sebuah ciuman yang sudah lama sekali tidak aku rasakan sejak perayaan Tanabata. Tanpa kusadari, kupejam kedua mataku menikmati sensasi yang Arata-san berikan kepadaku. Setelah beberapa saat, kami saling memberi jarak diantara wajah kami untuk mengambil nafas sejenak.

"A-arata…san…,"

Mata kami saling bertemu dan kurasakan tatapan serius Arata-san yang diberikan kepadaku. "Shingyouji…apa hari ini aku boleh bermalam disini?"

"E-eh?!" kejutku yang membuatku semakin panik. Seorang ketua osisi, dimana terkenal dengan ketegasannya maupun sikap kakunya, kini meminta sesuatu kepada seseorang yang lebih dianggapnya sebagai 'peliharaan' ini? Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar darinya. "Ta-tapi… mengapa? Tidak biasanya, Arata-san…"

Arata-san menghela nafas dan bersandar pada punggung kursi seiring menatap langit gelap melalui jendela kamar ini. "Hari ini Saki berada dikamarku bersama dengan Hayama. Apa kamu mengerti dengan maksud perkataanku, Shingyouji?"

Ya, aku mengetahui dengan jelas hubungan Saki-senpai maupun Hayama-san. Mendengar perkataan Arata-san, rasanya seperti sebuah mimpi! Pada akhirnya aku bisa bersama dengan Arata-san, walaupun hanya semalam. "Aku mengerti, Arata-san dan anggaplah kamar ini seperti kamar milik sendiri, Arata-san."

Arata-san mengangguk dan mengelus kepalaku kembali. Tangan yang begitu kecil memberikan kehangatan tersendiri kepadaku. Rasa tenang maupun rasa nyaman sangat terasa olehku. Ingin rasanya aku mengabadikan saat-saat seperti ini, Suasana yang begitu jarang kurasakan dari seorang ketua osis, Misu Arata.

Kedua mata kami saling bertemu seiring aku kembali menatapnya. Kurasakan tangan kanannya menyentuh wajahku, menariknya secara perlahan dan bibir kamipun saling bertemu. Diluar kendaliku, kedua tanganku melingkar pada tubuh kecilnya. Kedua tangan Arata-san masih memegang wajahku, dan setelah beberapa saat dia kembali memberi jarak dan menatapku, "Shingyouji…bolehkah…?"

"E-eh…?" Arata-san menarikku untuk duduk diatas tempat tidurku, lalu kembali mengecup pipiku. Detak jantungku semakin berdetak cepat dan wajahkupun semakin memerah. "A-arata…san…," ucapku perlahan sebelum Arata-san kembali mendekatkan wajahnya dan mendorongku untuk berbaring diatas tempat tidurku.

Tangan kecilnya membimbingku untuk tetap berada dalam posisiku. Detak jantung terus berdetak cepat, dan wajah semakin memerah seiring kurasakan lidah kami yang saling beradu maupun deru nafas dari seseorang dihadapanku ini. Kupejamkan kedua mataku untuk menikmati saat-saat berharga ini hingga akhirnya Arata-san memberikan jarak dan akupun hanya bisa menatapnya dengan penuh kebingungan. Tanpa kusadari, kupalingkan wajahku dan mengambil selimut yang berada disisiku untuk menutup seluruh wajahku.

"Shingyouji?"

"Ma-maafkan aku, Arata-san. Maafkan aku. Penampilanku saat ini pasti sangat berantakan," ucapku terbatah-batah akibat rasa malu yang sudah tidak bisa aku pertahankan lagi. "A-aku benar-benar minta maaf…"

"Semakin banyak kamu meminta maaf kepadaku, posisiku akan semakin disudutkan dan akupun semakin merasa bersalah atas tindakanku ini." Terdengar helaan nafas Arata-san sebelum dia kembali berbisik kepadaku. "Shingyouji, jangan tutupi wajahmu."

"Ta-tapi…,"

"Biarkan aku melihat wajahmu, Shingyouji. Apa kamu mau menolak perintah dariku, Shingyouji? Apa kamu mau menjadi 'anak' nakal?"

Aku menggeleng tanpa melepaskan kain penutup wajahku ini. "A-arata…san…a-apa aku boleh meminta sesuatu terlebih dahulu?" Arata-san berdeham sebagai ganti jawaban untukku. "A-aku…lupa..untuk mengunci pintu kamar..ja-jadi…a-aku…," kurasakan wajahku semakin memerah dan terdengar tawa kecil dari Arata-san.

"Jika demikian, tentu saja aku akan melaksanakannya, Shingyouji…" Arata-san berjalan perlahan meninggalkanku lalu terdengar suara aduan kunci sebagai tanda bahwa pintu sudah tertutup dengan aman. Selain itu, kusadari bahwa lampu kamar inipun di matikan seluruhnya oleh Arata-san sehingga hanya cahaya bulan yang menyinari seluruh ruangan ini.

"A-arata..san…mengapa…lampunya…?"

"Bukankah kamu merasa malu dengan diriku ini? Dengan begini tidak ada dari kita dapat melihat dengan jelas. Bagaimana?"

Wajahku kembali memerah dan perlahan akupun membuka kain penutup wajahku. Kini bayangan Arata-san mendekati diriku dan kamipun kembali merasakan kehangatan tubuh masing-masing dari kami sebelum melanjutkan ke tingkat berikutnya.

Jari-jarinya yang begitu kurus dan lembut mulai menyentuhku. Tangan kanan Arata-san tetap memegang wajahku namun tangan lainnya mulai menyentuh seluruh tubuhku hingga kurasakan sensasi yang berbeda dari biasanya. Perasaan malu yang bercampur rasa geli menguasai tubuhku. Terbawa oleh sensasi tersebut, kurasakan ada sebuah suara berbeda yang keluar dari mulutku. Mendengar itu cukup membuatku panik karena aku tidak mengerti dengan gejala yang terjadi padaku saat ini.

"A-arata…san… ja-jangan…," ucapku seiring kututup mulutku dengan telapak tangan kananku. Tangan kanan Arata-san mulai membuka kemeja yang aku gunakan, sedangkan tangan kirinya mengelus rambut beserta wajahku. Setelah tubuhku terlepas dari kemeja milikku, kini wajah Arata-san didekatkan dan kurasakan sensasi yang lebih mengejutkan, dan dapat kudengar dengan jelas bahwa suara 'aneh' tersebut bersumber dari diriku.

"Ku-kumohon…hentikan…," ucapku perlahan dan berusaha untuk menahan suara 'aneh' tersebut. "Jika dilanjutkan, suara aneh tersebut akan terus datang…"

Arata-san terdiam menatapku tanpa memindahkan posisi wajahnya diatas perutku. "Suara 'aneh', Shingyouji?"

Aku mengangguk. "Ya, ada suara 'aneh' yang keluar dari mulutku dan aku merasa takut dengan 'suara' tersebut…"

Arata-san tersenyum dan menghapus air mataku yang mulai mengalir karena rasa takut yang datang secara tiba-tiba. "Suara itu muncul karena kamu menikmati saat-saat seperti ini, Shingyouji…" Aku terdiam bingung mendengar penjelasan singkatnya. "Tenang saja, Shingyouji. Aku tidak akan menyakitimu dan biarkan aku mendengar suaramu. Itu bukanlah suara 'aneh', tetapi suara dimana kamu menerima atas tindakanku ini."

"Benarkah?," tanyaku memastikan dan Arata-san mengangguk. Aku lepaskan telapak tanganku dan Arata-san kembali menelusuri tubuhku hingga kini kurasakan bahwa kedua tangan Arata-san mulai menyentuh tubuhku yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Perlahan kedua tangannya mulai membuka kancing celana jeansku, membukanya dan meletakannya tidak jauh dengan kemeja milikku.

"A-arata…san! Ja-jangan!"

"Mengapa, Shingyouji? Apa kamu tidak mau untuk melanjutkannya?"

Aku menggeleng dan menatapnya. "A-aku…takut…Arata-san…" kupalingkan wajahku dan mencoba mencari kata-kata yang tepat untuknya. "…se-selain itu, i-ini…hal yang pertama untukku… aku takut kalau…nanti…aku…aku…"

Suasana menjadi tegang atas kepanikanku sendiri. Tidak ada sepatah kata keluar dari mulutnya selain menarik tangan kiriku dan meletakan didepan dadanya. Terasa dan terdengar suara deru jantung Arata-san ditelapak tanganku. Aku terhentak kaget dan Arata-san tersenyum kepadaku. "Apa kamu baru mau menerimaku setelah kamu 'berlatih' terlebih dahulu, Shingyouji? Sekedar informasi untukmu, inipun pengalaman pertama untukku. Apa kamu mengerti, Shingyouji?"

Kurasakan kedua tanganku bergerak melingkari tubuhnya dan menariknya kedalam pelukanku. "Arata-san…Aku sungguh menyayangimu!," seruku dan perlahan kurasakan hangat tangannya kembali bergerak menyentuh bagian tubuhku yang paling sensitif. Kusandarkan wajahku pada bahu kanannya dan suara 'aneh' yang sebelumnya aku takuti, kini menjadi sebuah alunan musik yang mengisi keheningan di ruangan ini.

Suhu tubuh yang semakin memanas seiring tubuh kami saling bertemu. Kedua tangan Arata-san terus bekerja menyentuh tubuhku hingga kurasakan adanya 'sesuatu' yang memasuki tubuh dan memaksaku untuk mengerat kedua tanganku. Perlahan air mata keluar dari sudut mataku akibat rasa takut yang belum pernah aku rasakan ini.

"Shingyouji, kamu tidak apa-apa?."

Tubuhku terhentak ketika menemukan tempat posisi Arata-san yang sungguh membuatku terheran-heran. "Bu-bukankah disitu…kotor, Arata-san? Me-mengapa…?"

"Tidak, Shingyouji. Aku harus mempersiapkan dirimu terlebih dahulu, karena aku tidak ingin menyakiti dirimu. Terlebih ini pengalaman pertama untuk kita berdua, Shingyouji…," ucapnya secara singkat dan kembali menyentuh tempat tersebut dengan lidahnya. Aku hanya bisa terdiam malu dan menikmati seluruh sensasi yang diberikannya padaku. Kueratkan tanganku pada sisi tempat tidurku disaat kurasakan sesuatu yang mulai memasuki tubuhku.

"A-arata…san…," panggilku terbatah-batah seiring pandanganku mulai mengabur.

"Tenanglah dan tahan sejenak, Shingyouji. Aku akan mempersiapkan dirimu dengan perlahan-lahan," kurasakan sesuatu bergerak perlahan memasuki tubuh, dan kedua matakupun tertutup menahan rasa sakit. "Tenanglah dan percaya padaku, Shingyouji." Wajah Arata-san didekatkan padaku dan diapun menciumku untuk menenangkanku. Tangan kiriku menggenggam erat bahunya seiring Arata-san mulai menggerakan jarinya didalam tubuhku. Gerak lambat jarinya perlahan ditambahkan olehnya hingga akhirnya tubuhku mulai terbiasa dan akupun tidak merasakan rasa sakit lagi. Tetapi digantikan oleh rasa nyaman dan ingin sesuatu yang lebih dari persiapan dirinya.

Kubuka kedua mataku perlahan dan menatap wajah Arata-san yang semakin membuatku menyukainya. Tubuhku kembali menegang disaat Arata-san memposisikan dirinya berada diantara kedua kakiku dan menyentuh bagian tubuhku yang paling sensitif. "A-arata..san…," suaraku terdengar bergetar seiring menatapnya. Tangan lembutnya mulai bergerak perlahan seiring kurasakan 'sesuatu' mulai dipaksakan masuk kedalam tubuhku. Kedua tanganku mengerat keras sisi tempat tidurku dan air mata mulai keluar dari sudut mataku.

"Tenanglah, Shingyouji. Aku tidak akan bergerak sampai tubuhmu terbiasa," bisiknya dan dilanjutkan dengan mengecupku dalam-dalam. Kurasakan lidah kami saling beradu dan jari-jari kami saling terkait satu sama lain. Tanpa kusadari bahwa tubuh Arata-san sudah memenuhi tubuhku hingga kurasakan sesuatu yang membuat pandanganku kembali mengabur. Genggamanku semakin mengeras disetiap Arata-san menyentuh bagian tersebut. "Ah, ternyata aku menemukannya."

Deru nafas dan jantungku mulai tidak stabil. Seiring Arata-san menggerakan tubuhnya, tubuh beserta pikiranku mulai dluar kendaliku. Nama 'Arata-san' terus menerus terucap dari mulutku hingga akhirnya kukatakan sesuatu yang belum pernah kuucapkan sebelumnya. "A-arata…san… panggil aku...dengan namaku…kanemitsu…ku-kumohon…," ucapku seiring Arata-san mulai mempercepat pergerakannya.

"Ka-kane…mitsu…," panggil Arata-san yang membuatku semakin tidak bisa mengendalikan tubuhku. Seiring Arata-san mempercepat gerak tubuhnya, kurasakan gerakan tangannya yang semakin dipercepat pada bagian sensitifku. Eratan tanganku semakin keras dan akupun hanya bisa pasrah dengan diriku ini.

"A-arata..san…a-aku…aku…"

"Ka-kanemitsu…!"

Cairan hangat mengalir didalam tubuhku, sedangkan cairan yang terasa dingin mulai mengotori tubuh kami berdua. Kuatur nafasku kembali dan menatap Arata-san yang berbaring disebelahku. Kedua mata kami saling menatap satu sama lain dan sebuah kecupan menjadi obat penenang dalam pengalaman pertamaku ini.

"Apa ada sesuatu yang aneh dengan tubuhmu, Kanemitsu?" tanyanya disaat Arata-san mulai bangun dari tidurnya dan menatap seluruh tubuhku yang sudah kotor ini. Aku menggeleng dan tersenyum padanya. "Lebih baik kamu istirahat dan biarkan aku yang membersihkan dirimu."

"Ta-tapi aku ingin memba-," ucapanku terhenti dengan sebuah ciuman dari Arata-san. "Arata-san!"

"Shingyouji…ah, tidak. Kanemitsu. Selama ini kamu yang selalu berada disisiku. Membantuku disetiap aku membutuhkanmu, dan kini saatnya aku membalas seluruh kebaikanmu itu."

"Ta-tapi…"

Kali ini Arata-san menatapku tajam. "Apa kamu ingin menjadi 'peliharaan' yang nakal, Shingyouji Kanemitsu?"

Jika Arata-san sudah memanggil namaku dengan lengkap, itu bertanda bahwa dia sudah mengambil keputusan dan tidak ada siapapun yang dapat merubahnya. "A-arata…san… Ma-maukah Arata-san..menemaniku sampai aku tertidur?"

Arata-san menghela nafas dan tersenyum padaku. "Tindakanmu tidak sesuai dengan besar tubuhmu." Arata-san duduk disisiku, tangan kanannya menggenggam tanganku dan tangan kirinya mengelus rambutku. "Istirahatlah. Kanemitsu, sepertinya untuk beberapa saat ini aku ingin meminta 'balasan' atas bantuanku kepada Gii sebelumnya. Aku ingin bersama dirimu untuk beberapa waktu ini, Kanemitsu. Bolehkah?"

Wajahku memanas, lalu aku mengangguk dan menutup kedua mataku. Kurasakan hangat tubuh Arata-san melalui genggaman tangan kami berdua dan gerakan tangan kirinya pada kepalaku, membuat tenagaku semakin bekurang. Rasa kantuk semakin menguasai tubuh beseta pikiranku. Hingga kusadari bahwa akhirnya aku mulai memasuki dunia lain dan berharap bahwa pengalaman yang baru saja aku lakukan bersama dengan Arata-san bukanlah sebuah mimpi. Jika ini adalah mimpi, aku hanya berharap bahwa aku tidak akan bangun karena ketidakmauanku untuk berpisah dengannya.



-FINISH-


A/N : Ba-bagaimana?Terlalu panjang ? terlalu singkat? OOC sekali? Gomen ne… Aoi memang 'Tarundoru' *dari SanadaGenichirou-Tenipuri* ^_^/ j-jya.. sekian dulu dari Aoi.\


Jyaaa.. have nice dayz….

Friday, July 13, 2012

TS_JunePride-Prologue-


Title : June Pride – prologue - 
Base on: Takumi-kun Series  - June Pride –, Takumi-kun Drama CD – Harukaze – dan Dorama Takumi-kun Series -Soshite Harukaze ni Sasayaite & Ano, Hareta Aozora-
Desc : Gotoh Shinobu
A/N: ^___^/ untuk pertama kalinya Aoi menulis cerita berdasarkan manga atau dengan kata lain Aoi seperti mentranslate manga kedalam bahasa Indonesia. Memang banyak yang sudah mengetahui serial Takumi-kun Series dari doramanya. Sayang saja, Aoi merasa kalau sebenarnya ver Manganya ataupun cd dramanya juga menarik dan banyak hal lucu yang terjadi.
Okay bagaimana versi manganya, Aoi akan mencobanya kedalam pengertian Aoi.
Pov : Hayama Takumi
---ooSTARToo----
Shidou High School, sebuah sekolah menengah keatas yang jauh dari kota dan terletak didalam pegunungan. Sekolah khusus laki-laki ini sudah ada sejak Era Showa ini sebelumnya hanya anak yang berasal dari keluarga kaya yang dapat sekolah disini, namun saat ini anak yang berasa dari keluarga biasapun dapat menjadi murid Shidou.
Hayama Takumi, itulah namaku dan merupakan salah satu murid Shidou High School yang saat ini memasuki tahun kedua. Mempunyai masalah dalam kejiwaan membuatku berbeda dari murid lainnya. Tidak mempunyai hati, tanpa emosi, aneh dan perkataan lainnya sudah sering kudengar sejak duduk dikelas satu. Namun aku hanyalah orang luar yang tidak dapat membalas walaupun diriku selalu dijadikan bahan hinaan.
Dari seluruh murid Shidou, hanya satu orang yang tidak menganggapku sebagai orang aneh, dan dia hanya menambahkan bahwa sifatku sajalah yang sulit untuk diekspresikan. Gii, Saki Giichi, seseorang yang lahir di Amerika dan mempunyai darah keturunan Perancis. Menjadi pusat perhatian bagi setiap orang yang melihatnya. Sungguh kami tinggal di dunia yang berbeda.
Sebagai murid Shidou sudah menjadi suatu hal umum jika kita harus  tinggal diasrama terlebih dengan letak sekolah yang jauh dari perkotaan. Ditahun pertama, aku sekamar dengan Katakura Toshihisa, seseorang yang sebelumnya hanya mengerti dan mengetahui diriku. Hingga akhirnya ditahun kedua terjadi perubahan dan kuketahui bahwa akupun sekamar dengan Saki Giichi yang membuat jalan kehidupanku menjadi berubah.
Takabayashi Izumi, seseorang yang mengatakan bahwa dirinya yang paling menawan di angkatanku ini. Izumi menyukai Gii dan dialah orang pertama yang memulai keributan denganku.  Disaat aku berjalan bersama Toshihisa, tiba-tiba saja dia menabrakku dan mengatakan yang sebaliknya. Tentu saja semua itu mengundang perhatian lainnya, termasuk Yoshizawa Michio, teman seklub memanah Toshihiza, langsung melindungi Izumi.
 Disaat keributan terjadi, tiba-tiba saja Akaike Shouzou, salah satu anggota kedisiplinan Shidou datang menolong kami. Akaike menjelaskan segala kesalahan yang cukup membuat Izumi merasa malu dan memutuskan untuk pergi. Tentu saja seluruh pengikutnya mengikuti dia pergi. Sungguh kejadian yang tidak diduga sama sekali.

Setelah kelas berakhir, kuputuskan untuk berjalan menuju kamar baruku dan kudapatkan Akaike sedang merapikan barang-barangnya. Disaat kuletakan barang-barangku, tiba-tiba saja dia mencoba untuk menyentuhku. Tentu saja kutepis tangannya dan kudapatkan sebuah istilah baru darinya.
“Ternyata benar. Istilah ‘Phobia Manusia’ memang benar, Takumi.”
“Siapa?! Apa istilah dengan phobia-manusia itu?!“
“Istilah itu masih lebih baik daripada perkataan lainnya bukan? Oh ya, selain itu teman sekamarmu bukan diriku tetapi Saki Giichi”
“Eh? Bukan Akaike?”
“Tidak, aku hanya membantu merapikan barang-barangnya. Benar-benar Gii paling bisa ngerjain orang!”
“Siapa yang ngerjain, Akaike?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja memasuki kamar ini.
Saki Giichi, orang yang dibicarakan Akaike-pun datang. Setelah selesai merapikan beberapa peralatan, Akaike memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ternyata tidak hanya Akaike, Giipun membahas mengenai Phobia tersebut dan membuatku menjadi panik sendiri. Bayangan gelap yang sudah menghantuiku membuat tubuhku terlihat panik dan kuputuskan untuk keluar dari kamar untuk menenangkan diri.
Berlari tanpa arah dan kudapatkan sebuah ruangan yang masih terlihat kotor dan tua. Kuputuskan untuk duduk sejenak untuk memikirkan hal lainnya namun tiba-tiba saja kudengar suara seseorang memasuki ruangan ini juga. Seseorang yang bertubuh tinggi dan dia adalah Nozaki Daisuke, ketua tim basket.
Tiba-tiba saja dia mengatakan sesuatu hal yang sungguh tidak kuduga dan membuatku kesal. Tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa aku menyukainya dan kembali lagi diapun mencoba menyentuhku! Tentu saja kutepis tangannya dan memutuskan untuk berlari meninggalkannya. Sepanjang perjalanan kembali ke kamar, aku hanya bisa menggerutu dengan segala keanehan disekelilingku ini.
Kejadianpun anehpun terus berlanjut ketika kuketahui bahwa Yoshizawa meminta bantuan Toshihiza untuk membantunya mengganti tempat tidur dan beberapa barang dikamarnya. Ternyata Yoshizawa diminta oleh Izumi yang membuat sedikit keributan antara Toshihiza dan Izumi. Yoshizawa hanya bisa meminta maaf dan akupun hanya bisa menahan Toshihiza sebelum kembali membuat keributan.

Keesokan harinya setelah kelaspun terjadi kecelakaan yang tidak terduga. Disaat bersama dengan Toshihiza berada dikantin untuk makan siang, tiba-tiba saja Nozaki mendekatiku dan memberikanku 2 buah tiket konser! Tentu saja aku menolaknya dan mengatakan beberapa kata-kata kasar dengan tujuan untuk menghindarinya. Namun tanpa kuduga, Nozaki yang terpancing emosi mencoba melemparku dengan makanan karinya tetapi…
”Tidak panas…tidak lengket dan hanya ada bau…tapi…kenapa…?,” ucapku dalam hati tanpa membuka mataku.
Perlahan kudengar dan kudapatkan bahwa Gii melindungiku dari lemparan tersebut. Tindakan Gii mengundang perhatian lainnya terlebih dengan posisi Gii yang berada lebih dari Nozaki. Akhinya Nozaki memutuskan untuk meninggalkan kami bertiga. Akupun yang tidak ingin terbawa lebih kedalam masalah ini, meminta Toshihiza untuk menjelaskan sedangkan aku sendiri memutuskan untuk berlari keluar dari kantin.
Ditengah pelarianku tiba-tiba saja kudengar suara seseorang memanggil namaku. Kuperlahan gerak lariku dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa! Suara itu kembali memanggilku dan mengatakan bahwa aku sudah menjadi penghalang untuk ‘Gii’. Belum sempat kukembali menanyakan, tiba-tiba saja kurasakan sebuah pukulan keras kearahku yang membuat tubuhku menjadi lemas dan seluruh pandanganku menjadi gelap.
Kepalaku terasa berat dan perlahan kupaksakan diriku untuk segera bangun dari udara dingin yang menusuk kulitku.
“Takumi, kamu tidak apa-apa?”
“Ah, ya…” Ah! Gii?
“Benarkah? Baguslah kalau begitu. Kamu sudah tertidur dari tadi, Takumi…”
Tiba-tiba saja Gii mencoba menyentuh wajahku dan refleks kudorong tubuhnya dengan keras. “A-ah! Maafkan aku.”
“Hahaha… Tidak apa, ini juga salahku. Ngomong-ngomong, para pelindung Izumi yang membawamu karena diriku…”
“Eh? Sa-saki…? ” Izumi…Takabayashi? Ah, dia yang kutemui kemarin.
“Gii saja. Itu karena Takabayashi menemukan bahwa aku menyukai Takumi.”
“Ta-tapi…kenapa?”
Gii menjelaskan bahwa Izumi mengetahui bahwa Gii menyukai diriku dan hal tersebut juga diketahui oleh Nozaki. Akaikepun saat itu menolong kami karena Gii memintanya untuk melindungiku dari mereka.
“Ta-tapi, dibandingkan dengan Izumi, dia lebih menarik dan selain itu-“
“Jangan menghindar, Takumi!” Tangan kanan Gii menghalangi langkahku ketika kucoba untuk menghindarinya. Tubuhku yang berada diantara Gii dan tembok, membuat detak jantungku berdetak cepat. Seluruh kejadian yang bergitu cepat membuatku semakin panik.
“Takumi, aku sungguh ingin melindungimu. Kumohon, jangan berlari lagi. Aku menyukaimu, Takumi dan bukan orang lain.”
Detak jantungku semakin berdetak cepat dan pikiranku semakin kacau. Tiba-tiba saja wajah Gii semakin mendekat dan tanpa kusadari kubuka diriku untuknya. Diriku yang selama ini selalu tertutup, kini kubiarkan Gii menciumku dengan perlahan.

Udara semakin dingin dan tidak ada sedikitpun tanda-tanda akan adanya seseorang yang akan melindungi kami. Tiba-tiba saja Gii memintaku untuk bermain piano yang berada diruangan lain dengan tujuan membuat suatu peluang, namun nihil. Rasa takutku semakin menjadi-jadi dan setelah beberapa waktu berlalu, keajaibanpun datang kepada kami. Terdengar suara Shouzou berada diluar ruangan memanggil kami berdua. Harapan untuk selamatpun datang!
Bersama dengan Shouzou, kami bertiga  saling bercanda satu sama lain. Lebih tepatnya melihat perdebatan antara Shouzou dan Gii yang membuatku tidak bisa menahan tawa sepanjang perjalanan. Namun tiba-tiba saja Gii menghentikan langkahnya dan mengejar sesuatu yang belum kuketahui.
Ternyata yang dikejar oleh Gii adalah Takabayashi Izumi. Dia masih mencoba meminta penjelasan Gii mengenai penolakan dirinya dan mencoba untuk melukaiku. Ditengah usahanya, tiba-tiba saja Yoshizawa datang menghalangi bahkan… menamparnya! Dia meminta Izumi untuk meminta maaf dan membawanya untuk menenangkan pikirannya.
Ketika kembali ke asrama, Toshihiza segera menemuiku dan menanyakan banyak hal mengenai diriku. Selain teman, dia sudah seperti saudara bagiku dan diapun menganggap dirinya sebagai kakak bagiku. Selalu membuatnya merasa khawatir terlebih dengan sebuah penyakit yang ada pada diriku. Sebagai perpisahan dihari ini, Toshihiza memberikanku sebuah bungkusan yang berisi roti buatan ibunya. Ya, kami berdua sangat menyukai roti terlebih buatan ibunya itu.
Gii tertawa ketika kuceritakan kejadian selama kuceritakan mengenai alasan Toshihiza membagi makanannya. Kuingat kembali bahwa Gii baru saja menghabiskan makan malamnya, namun kuketahui bahwa ternyata Gii benar-benar kuat makan! Tanpa kata, dia meraih bungkusan tersebut dan dengan segera memakan rotinya.
 Hari semakin malam dan kuputuskan untuk segera beristirahat. Ketika kubersiap untuk segera mengakhiri kegiatan hari ini, Gii kembali menanyakan hal yang sebenarnya menjadi masalahku saat ini.
“Gii? Kamu menangis?”
Giichi duduk disebelahku sambil menundukan kepalanya. Rasa panikku kembali muncul dan kucoba sebisaku untuk menghiburnya. “Takumi, sungguh aku menyayangimu. Aku tidak ingin kamu pergi dariku. Apa kamu membenciku?”
“Ti-tidak, Gii. A-aku juga…”
“Benarkah?” aku mengangguk dan tiba-tiba saja dia tertawa melihatku. “Ah, lega rasanya.”
“Gii…!”
“Akhirnya aku tahu perasaanmu, Takumi.”
Kesal, aku membalikan badanku. “Aku membencimu, Gii!”
“Benarkah? Senangnya. Takumi, aku sayang kamu.”
“Gii-!!” Tiba-tiba saja Gii menciumku dan tentu saja refleks daku menamparnya.
“Sa-sakit!”
“Gii!” Gii kembali menciumku dan kali ini tubuhku terdiam membiarkan dia mendekatkan dirinya padaku.  

---ooENDoo---
R n R Please ^___^ 

Monday, September 26, 2011

atarashi kazoku - spec - aoi no himitsu

 Title: atarashi kazoku – spec _ aoi no himitsu
Desc:  aoryuto (aoi)  –Konomi ( sanada genichirou ), Kanade ( kana ) , himaruya ( Alfred ), dan masing 2 na~ *plak ~
Rat : Mau-maunya…
Pov: Aoi

Songz :  露普 露米 東西有】Eiserner Vorhang (鐵幕) _ - maaf~ krn gak tau nama judulnya, jd aoi tuliskan title na kalo nyari d utube ^^


--oooostartooo—

“Masa lalu biarkanlah berlalu. Hadapi hari esok dengan perasaan tenang dan menyenangkan….”
Namun… sulit sekali untuk mewujudkannya…

Setelah makan siang, aku memutuskan untuk merapikan beberapa barang yang masih tersimpan didalam kardus pindahanku. Sejak aku duduk di bangku kuliah, aku mulai tinggal di apartemen bersama dengan sahabat baruku, Kana. Sebenarnya apartemen ini milik Genichirou. Untuk beberapa alasan, dia mengizinkanku untuk menggunakannya, sedangkan dia masih tinggal dengan orang tuanya. Shinya niichan sendiri tinggal dengan Saeki-niichan. Oleh karena itu, aku beruntung sekali Kana mau tinggal bersama-sama denganku di apartemen ini.
Siang ini Kana masih mengerjakan tugas kampusnya di salah satu teman sekelompoknya. Sepi rasanya… tetapi inilah yang aku butuhkan pada saat ini. Ketenangan saat merapikan barang-barangku. Aku tidak tahu, apakah ada hal menarik ataukah hal buruk didalam kardus yang masih diam disamping lemari bajuku.
Dengan gunting, aku membuka tali pengikat kardus itu dan ternyata penuh dengan barang-barang aksesoris. Patung, kalung, gelang, dan beberapa pajangan lainnya, sampai akhinya aku menemukan 2 lembar kartu yang membuat tubuhku terhentak. Kartu tanda pelajar milikku dan seseorang yang ingin sekali aku lupakan. Eiji Takeruya. Orang yang membangun dan menghancurkan kehidupanku. Pikiranku kembali dimasa-masa aku baru bertemu dengan Eiji untuk pertama kalinya.

Kelas satu sma Sohoku…
Masa sma adalah masa pengadaptasian dalam hal pelajaran maupun lingkungan sekitar. Sebagai murid baru di Sohoku, kami di wajibkan untuk mengikuti kelas tambahan sebelum menghadapi kelas yang sebenarnya. Di hari pertama, seluruh pelajaran dapat kuikuti dengan baik. Di hari kedua, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Eiji yang baru pindah dari kelas sebelah.
Laki-laki berambut merah dengan model yang cukup berantakan, memakai kaca mata dan terlihat ceria sekali. Ketika aku hendak memasuki kelas, teman baruku melaporkan kalau ada seseorang yang menduduki bangkuku kemarin. Aku hanya tertawa santai mendengar kepanikannya.
“Ini… meja milikmu?,” tanyanya sambil menundukan kepala dan bersiap untuk pindah.
“A-ah… tidak apa-apa. Santai saja. Aku bisa duduk didepanmu, kok.” Aku tertawa pelan sambil meletakan tasku.
“Kalau mau aku pindah, tidak apa-apa.”
“Sudahlah. Lagipula ini kan hanya sementara saja. Ia, kan?”. Aku tidak mau kalau Eiji merasa sungkan dengan kehadianku ini.
 Waktu terus berjalan, dan entah mengapa, hubunganku dengan Eiji menjadi lebih dekat. Setelah mengetahui nama lengkapnya, akupun baru tahu jika dia mempunyai saudara kembar bernama Fuji Takeruya. Fuji sama-sama menggunakan kaca mata, namun rambutnya terpotong lebih rapi dan lebih pendiam. Sungguh berbeda jauh dengan Eiji yang selalu penuh dengan keceriaan.

Di semester awal, entah mengapa aku bisa lebih dekat dengan Fuji. Memang berbeda, namun berteman dengan Fujipun terasa menyenangkan. Banyak hal yang dia ceritakan mengenai dirinya. Mengenai masa lalunya ataupun penyakitnya yang sedang dia alami. Namun dia tetap melakukan aktivitas seperti biasanya, sampai akhirnya aku merasa bahwa sudah seharusnya aku tidak bersama-sama dengannya.
Fuji memang special dan berbeda dari anak-anak yang lainnya. Penampilannya memang menarik, terlebih lagi di jago dalam olah raga. Ya, guru-guru dan teman sekelasku banyak yang menyukainya. Namun tidak jarang banyak pandangan yang tidak menyenangkan diantara kami, walau sebenarnya aku dan dia hanyalah sebatas teman saja. Ya, tidak lebih dari itu.
“Aoi?,” panggil Eiji. Dia berjalan mendekatiku ditengah merapikan buku pelajaran didalam lokerku. “Mau makan bareng?.”
“Boleh saja. Tapi aku bawa bekal.” Aku menunjukan kotak makanku dari dalam tasku.
“Aku juga bawa. Mau makan disana?,” Eiji menunjukan salah satu bangku didepan ruang art. Aku mengangguk, mengunci lokerku lalu berjalan mengikutinya.
Banyak hal yang kami bicarakan. Mengenai pelajaran, kelas tambahan dan berbagai macam tempat lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Berbeda dengan Fuji, Eiji lebih terbuka dan mudah beradaptasi dengan sekelilingnya. Mendengarnya bercerita, membuatku merasa senang dan beruntung mendapatkan teman yang berwawasan luas.
“Aoi, besok kamu ada acara?,” tanyanya setelah selesai merapikan tempat makannya.
“Hmm? Setelah pulang sekolah maksudnya?,” tanyaku memastikan. “Tidak ada. Kenapa?.”
“Hm…,” Eiji diam sejenak. “Kalau tidak keberatan, bagaimaana kalau menonton pertandingan basket besok sore?”
“Besok sore? Pertandingan apa?.”
“Pertandingan persahabatan. Sebenarnya pertandingannya dimulai dari jam 2 dan di adakannya dilapangan indoor.”
“ Hmm… baiklah… jangan sampai kalah, ya!”
“Ung!” balasnya sambil tersenyum.

Ditahun kedua ini, Eiji dan aku secara kebetulan berada didalam satu kelas, ketika jam sudah menunjukan pukul 2, Eiji menitipkan kartu titipannya padaku. Ya, disekolah ini kami diharuskan untuk menitipkan handphone kami kepada wali kelas yang ditandai dengan sebuah kartu. Karena Eiji yang harus segera bertanding, akulah yang mengambilkannya.
Kelas berakhir 30 menit kemudian, aku berjalan menuju loker untuk mengganti buku pelajaran yang akan kubawa pulang, lalu dengan segera berjalan menuju lapangan olahraga yang berada disebelah gedung ini. Dari kejauhan, suara teriakan dan seruan sudah terdengar jelas. Sepertinya pertandingan sedang berlangsung seru, tanpa mengganggu para pendukungnya, kutelusuri bangku melalui tangga yang tidak terlalu ramai menuju tempat dimana Eiji meletakan tasnya.
Ternyata mereka juga datang…’
Untuk sesaat aku hanya bisa tersenyum diam melihat 3 orang teman sekelas Fuji duduk disebelah tas miliknya.
Ada apa dengan perasaan ini? Kenapa aku merasa sedih…?’
Pandanganku memang tertuju pada pertandingan, namun pikiranku sama sekali tidak berada dilapangan ini. Hubunganku dengan Fuji memang dekat, dan beberapa kali Fuji lebih menggantungkan dirinya padaku. Namun, hingga saat ini aku masih tidak dapat mengerti apa yang ada didalam pikirannya.
PRIIT!!!
Tiba-tiba saja peluit ditiupkan dan kulihat Fuji duduk terjatuh dilapangan. Sepertinya kakinya terkilir karena dia dibantu beberapa orang untuk kembali kedalam timnya. Tepat ketika aku
Tidak lama kemudian, peluitpun berbunyi kembali namun kali ini tanda bagi seluruh pemain untuk beristirahat. Biasanya seluruh pemain akan segera berkumpul dan membahas mengenai rencana mereka. Disaat seluruh perhatian tertuju pada Fuji, Eiji berjalan mendekatiku, dan memintaku untuk memberikan handuk beserta minumannya.
“Kamu tidak apa-apa?,” tanyaku khawatir ketika melihat Eiji yang sempat terjatuh ditengah pertandingan.
“Tidak apa. Jatuh seperti tadi sudah menjadi hal yang biasa didalam pertandingan.”
“Benarkah?”
Eiji mengangguk dan tersenyum sambil memberikan botol minumnya. “Titip, ya…”
Aku mengangguk sambil meletakan botol minumannya disebelahku. Setelah beberapa saat, pertandinganpun kembali dimulai dan sebelum kembali kelapangan, Eiji melemparkan handuknya padaku. Spontan aku menangkapnya dan kulihat dia kembali tersenyum padaku.
Pertandingan keduapun kembali dimulai dan berlangsung seru. Banyak nilai yang dikumpulkan dari pihak sekolah kami, namun hal yang kukhawatirkanpun terjadi. Peluit kembali berbunyi dan kali ini beberapa orang berkumpul pada seseorang yang terjatuh ditengah lapangan.
“Eiji…!”
Aku berjalan menuju urutan bangku paling bawah dan melihatnya berjalan menuju timnya dari kejauhan. Berbeda dengan Fuji yang masih berada ditengah-tengah timnya, Eiji berjalan mendekatiku. Spontan aku mengambil handuk beserta air minumnya.
“K-kamu tidak apa-apa?”
“Ya. Cukup sakit juga…”
Kami duduk bersama dibangku, namun tiba-tiba saja Eiji mengubah posisi duduknya. Posisi yang sering dia lakukan ketika kami didalam pelajaran olah raga, menjadikan pahaku untuk sandaran kepalanya dan menutup wajahnya dengan handuknya.
Setelah meluruskan kakinya, diapun menatapku. Menceritakan beberapa kekesalannya ketika ditengah lapangan. Ada beberapa hal yang tidak aku mengerti, namun aku tetap mendengarkannya sampai dia selesai. Entah mengapa, rasanya aku tidak ingin perasaan ini hilang dariku. Setelah peluit kembali dan suara sorak sorai bergema dilapangan ini, Eiji kembali bangun dan berjalan menuju timnya.
“Aoi, bisa bantu aku?”
Aku sempat diam karena tidak mengerti. Aku ikut berdiri disebelahnya dan dia melingkarkan tangannya pada bahuku.
“Maaf. Kamu jadi bau keringat”
“Hahaha… sudahlah.”
Sejak pertandingan persahabatan ini, aku tidak menyangka hubunganku dengan Eiji semakin dekat. Tidak hanya membantuku disaat pelajaran, dia juga membantuku ketika aku kebingungan dan masalah dengan pikiranku.

Hubunganku dengan Eiji semakin dekat, tetapi tidak dengan Fuji. Disaat pelajaran ekstrakulikuler berlangsung dan Eiji sedang mengumpulkan tugasnya, Fuji dan aku mengunggu dikelas seperti biasa. Selain itu, hari ini guru kami tidak masuk. Beberapa diantara kami banyak yang mengunjungi teman-temannya ditempat lain. Sedangkan aku dan Eiji sudah berjanji akan membuat naskah yang akan kami pentaskan diakhir tahun.
Ditengah keheningan kami, akhirnya aku mulai mengangkat bicara pada Fuji yang duduk disebelahku. “Ne, Fuji. Bagaimana pelajaran dikelasmu?”
“Ya, menarik. Hanya saja ada beberapa hal yang tidak aku mengerti. Selain itu, kamu lihat miniatur di depan ruang kepala sekolah?,” aku mengangguk sebagai ganti jawaban. “Sebentar lagi kelompokku akan mempresentasikannya.”
“Itu hasil kerja kelompokmu?”
“Yap. Bagaimana menurutmu?”
Aku diam sejenak. Jujur saja, karena aku tidak tertarik dengan pelajaran biologis, aku kurang memahami maksud pembuatan miniaturnya itu.
“Kalian membuat miniatur sel, kan? Kurasa sudah cukup menarik dan terlihat jelas.”
“Maksudnya?”
“Ya, kalau gambarannya terlihat jelas, kalian bisa menjelaskan bagian-bagian terkecilnya dengan mudah, bukan?”
“Yap. Benar sekali.”
Kami berdua tertawa dalam sesaat setelah Fuji menambahkan beberapa rencana yang akan dia lakukan bersama dengan teman-temannya. Tiba-tiba saja pikiranku kembali dengan tiga orang temannya itu. Mereka yang selalu membantu dan berada disisi Fuji. Karena penasaran, akhirnya akupun memutuskan untuk menanyakan langsung padanya.
“Fuji, boleh aku tanya sesuatu?,” Fuji mengangguk. “Hm… boleh aku tahu, apa arti ‘sahabat’ bagimu?.”
“Sahabat?,” tanyanya memastikan. “Bagiku, sahabat adalah seseorang yang selalu ada dan mengerti keadaan kita. Selain itu, dia juga sejalan dan sepikir dengan kita. Dengan begitu, kita bisa dengan mudah berinteraksi dan beradaptasi, bukan?.”
“Oh…”
“…dan kamu tahu, hingga saat ini hanya ada satu orang sahabat yang aku percayai.”
“Siapa?”
“Teman lama disekolah lamaku. Bagiku, dia sudah menjadi saudaraku sendiri! Selain itu…”
Masih banyak penjelasan mengenai dirinya dengan sahabatnya. Ditengah dia bercerita, dia menunjukan selembar foto yang dimana terdapat Eiji, dirinya dan dua orang teman perempuan lainnya. Mereka berempat terlihat serasi. Fujipun menjelaskan bahwa mereka berempat sudah menjadi satu tim yang baik. Entah mengapa, mendengar hal itu membuatku merasa sedih sekali.
Tidak lama kemudian, Eijipun datang ke kelas ini. Melihat Fuji yang bernostalgia, Eijipun ikut menambahkan. Melihat mereka berdua bercerita, tambah membuatku semakin merasa jauh dengan mereka. Ya, seakan-akan duniaku dengan dunia mereka berbeda sekali. Karena…
…sahabat… apakah itu…?’
Ditengah pergumulanku, tiba-tiba saja Fuji izin keluar untuk ke kamar mandi. Hanya aku dan Eiji didalam kelas ini. “Aoi? Aoi?.”
“E-eh? Kenapa?,” kejutku.
“Kenapa? Ada masalah?.”
Aku menatap Eiji sejenak lalu menundukan kepalaku. “Aku iri dengan kalian. M-maksudku adalah iri dengan persahabatan kalian…”
“Memangnya kenapa? Bukannya kamu bersahabat dengan Ana?.”
Aku menggeleng. “Aku memang dekat dengannya. Tapi kamu sendiri tahu kalau akupun sering berdebat dengannya…”
Kuambil buku tulis dan pensilku, membuka dibagian tengahnya lalu menyandarkan kepalaku diatas mejaku. “Sudahlah. Jadi, bagaimana kita mau membuat naskahnya?,” tanyaku menggantikan topik pembicaraan kami.

Kurang dari 4 hari, akupun selesai membuat naskah drama kami. Sebelum kuserahkan kepada guruku, kuberikan naskah itu kepada Eiji dan Fuji. Pendapat positif yang aku terima dari mereka berdua. Namun, ketika disimulasikan oleh para senior, banyak cercaan dan pendapat negative mengenai naskah yang aku buat. Perasaanku tiba-tiba goyah, dan tanpa memperdulikan sekelilingku, aku langsung berlari keluar dari aula menuju tangga lantai 5, satu-satunya tangga yang jarang dilewati dan terhubung dengan pintu atap gedung.
Di tangga itu aku hanya duduk diam sambil bersandar pada tembok dan menahan air mataku. Kurasakan isak tangis mulai menguasai diriku, namun aku tetap menahannya. Aku tidak ingin mengundang perhatian ataupun mengganggu para siswa lainnya yang sedang belajar.
“Aoi?.”
Tubuhku terhentak mendengar suara yang tidak asing bagiku. Aku tetap diam menunduk tanpa mengubah posisiku.
“Aoi? Kamu tidak apa-apa?”
Aku masih tetap diam. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba kurasakan dirinya duduk disebelahku dan melingkarkan tangannya padaku, sehingga akupun bersandar pada dadanya.
“Sudahlah. Tidak usah kamu dengarkan perkataan mereka. Naskah yang kamu buat sudah bagus kok! Hanya saja mereka tidak mengerti dan hanya bisa mencela saja…”
“Tidak, Eiji. Aku memang tidak berguna. Naskah yang aku buat memang buruk…”
“Jangan berkata begitu, Aoi. Aku tahu benar bagaimana usahamu membuat naskah ini sesuai dengan permintaan mereka. Kamu sudah membuat sebisamu, sedangkan mereka… hanya bisa mencela saja, bukan?”
“Tetap saja! Tetap saja naskahku gagal, Eiji…!.”
Isak tangisku menjadi-jadi. Kurasakan Eiji memelukku dan mengelus punggungku dengan perlahan.  
“Tenanglah. Ini semua bukan salahmu, Aoi. Mereka yang salah…”
Aku menggeleng. “Tidak. Andai saja aku bisa lebih baik…”
“Aoi…” Eiji melepaskan pelukannya. “Aoi, dengarkan aku! Suatu kesalahan pasti ada sebelum mencapai suatu keberhasilan. Butuh banyak latihan dan dipraktekan, dan kamupun sudah melakukannya. Tetapi lihat, mereka hanya bisa memerintah dan berkata seperti itu. Jangan dirimu terjatuh seperti ini, Aoi…”
“Eiji…,” isak tangisku masih menjadi-jadi. Eiji mengeluarkan sehelai tisu dan membantuku menghapus air mataku. “Terima kasih…”
“Tidak apa. Lalu, bagaimana? Ayo kita kembali kekelas, Aoi…”
Aku menggeleng. “Tidak mau. Aku tidak mau kembali. Rasanya begitu memalukan sekali…”
Eiji menepuk pundakku, mensejajarkan pandangan kami lalu tersenyum. “Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa. Bersemangatlah!”
Aku mengangguk perlahan.
“…untuk masalah mereka, biarkanlah aku yang menghadapinya. Aku mengerti jika kamu tidak ingin berbicara saat ini. Tapi kurasa mereka akan mengerti jika aku mejelaskan apa maksud gambaran drama yang kamu inginkan. Tentu saja aku tahu dari sikap dan usahamu dalam membuat naskah ini. Jadi tidak usah khawatir lagi.”
Akhirnya aku mengikuti Eiji dari belakang menuju kelas yang biasa kami gunakan untuk berlatih. Para senior dan guru pengajarku tidak ada di tempat. Hanya ada Fuji dan 2 temanku yang lainnya. Baru aku mau melangkah masuk, suara para seniorpun mulai terdengar. Terburu-buru aku berjalan masuk dan duduk di bangku paling pinggir dekat lemari. Eiji yang menemaniku, meletakan tasnya diatas mejaku.
“Aoi, tenang saja. Kamu tidak usah khawatir.”
Aku mengangguk dan menatapnya berjalan menuju anak-anak yang lainnya. Entah apa yang mereka perdebatkan, namun sepertinya mereka menemukan cara karena beberapa diantaranya sudah mulai berlatih. Melihat ini, tubuhku sedikit menegang dan terasa panas.
‘Apakah tempatku memang bukan disini…?’
“Aoi, mau ikutan tidak?,” tanya Eiji membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng. “Tidak. Nanti saja…”
Salah satu senior yang aku kenal berjalan mendekatiku. “Sudahlah, Aoi. Tidak usah dipikirkan. Perkataannya dia memang menyakitkan. Jadi biarkan saja, ya!”. Dia yang dia maksudkan adalah senior yang pertama kali memarahi dan memaki hasil usahaku. Kebetulan dia tidak ada dan akupun tidak perduli dengannya.
Aku kembali mengangguk. “Ia, terima kasih. Nanti aku akan bergabung. Terima kasih,” balasku sambil menundukan kepalaku.
Walau pentas dilakukan 5 hari lagi, akhirnya pertunjukanpun berjalan lancar. Selama latihan, tidak ada koneksi sama sekali antara aku dengan senior tersebut. Namun semuanya berjalan lancar dan akhirnya di semester akhir, hanya ada kami bertiga yang tersisa di klub ini. Para senior harus konsentrasi dengan ujian mereka dan tidak ada waktu untuk mengambil kelas tambahan.
Selain itu, hubunganku dengan Fujipun semakin menjauh. Perbedaan kelas yang begitu jauh membuat kami jarang bertemu dan berbicara. Tapi karena Eiji, kami masih sering bertemu. Bahkan akupun mendapatkan beberapa teman dari kelas Fuji. Ya, beberapa diantara mereka menyukai Fuji bahkan mengejarnya. Tapi…
‘…mengapa tidak ada yang mengejar Eiji seperti Fuji, ya?’

----oooo----
Di awal tahun pelajaran tingkat akhir, seperti biasa kami mengikuti acara tambahan sekolah, menginap di luar kota. Tema yang dibahas kali ini adalah persahabatan dan percintaan. Rasa suka antar sesama dan lawan jenis.
Ditengah jam istirahatku, salah seorang teman sekelasku, Sakura, menanyakan satu hal yang membuatku semakin berfikir. Saat itu aku sedang berada dikamar Sakura, menemaninya mengambil jaket dan dompetnya. 
“Aoi, apa kamu pernah berantem sama Eiji?”
“Eh?” kejutku.
Sakura duduk disebelahku, diatas tempat tidurnya, “Sepertinya kamu tidak pernah berantem atau ribut dengannya, ya?”
Aku menggeleng. “Ada masalah?”
“Tidak. Hanya jarang saja ada yang berteman namun tidak pernah ada keributan sama sekali.”
Aku diam sejenak. Memang selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan segala kekurangan Eiji. Beberapa kali aku merasa kesal dan ingin marah kepadanya. Terlebih dia sudah menipuku 2 kali, sampai sempat aku menangis karenanya. Tapi itu semua hilang ketika aku bertemu dengannya.
“Aoi, bagaimana kalau kamu coba marah sama dia?”
“M-maksudmu aku mengajaknya ribut, begitu?”
“Ya. Cobalah untuk mendiamkannya. Kita lihat apa reaksinya, bagaimana?”
Aku kembali diam, dan tiba-tiba saja Fuji datang. Secara kebetulan, ada sedikit perdebatan antara aku dan dia. Saat Eiji datang, aku langsung menarik Sakura untuk menemaniku pergi menuju kamarku yang berada dipondok lain.
Ide gila Sakura ternyata disetujui oleh teman sekamarku, yang kebetulan aku memang dekat dengannya. Mereka membantuku untuk menghindari Eiji dari siang sampai sore. Berbagai macam alasan diberikan melalui teman-temanku, dan ketika Eiji datang kekamarku, aku langsung bersembunyi dibalik tembok yang tidak terlihat dari pintu depan. Sedangkan teman sekamarku menjelaskan kalau aku sedang berada diluar dan berkeliling sekitar villa.
“Sa-sakura…” bisikku ketika Eiji masih berada didepan kamarku. “Be-benarkah ini tidak apa-apa?”
“Tenang saja. Kalau dia sampai marah, nanti akan aku bantu jelaskan, ya”Aku hanya mengangguk. Jujur perasaanku begitu bingung dan berat melakukan ini semua.

Setelah jam makan malam, kami kembali menuju aula untuk melanjutkan kegiatan kami. Seperti biasa aku dan Eiji duduk bersebelahan, tapi tidak ada satupun diantara kami yang angkat bicara. Eiji sibuk berbicara dengan yang lainnya sedangkan aku sibuk dengan telepon genggamku, dengan maksud menghilangkan keteganganku. Ketika sudah cukup sepi, aku memutuskan untuk langsung bertanya padanya.
“E-eiji…,” dia hanya berdeham sebagai ganti jawaban. “Eiji, kamu marah padaku?”
“Hah?”
Aku menatapnya sejenak lalu memalingkan wajahku. “A-apakah kamu marah padaku?”
“Mengenai?” raut wajah Eiji terlihat bingung.
“… tunggu…,” kali ini aku ikut bingung. “Jangan-jangan… Eiji, kamu tidak marah dari tadi aku diamkan? Seharian aku cuekin, kamu tidak sadar?.”
“Oh, ya?” Eiji menadahkan kepalangan dengan tangannya. “Tidak tuh. Aku hanya mengira kalau kamu memang ingin bersama dengan Sakura saja…”.
Kuakui dengan jujur, sesaat tubuhku menegang dan mulutku terbuka. Perasaan takut dan lega menjadi satu. Aku menghela nafas dan kembali bersandar pada bangkuku. “Ternyata begitu…”
“Hahahaha… Kamu kira aku marah padamu?” aku mengangguk. “Ya, sebenarnya aku marah padamu…,” aku kembali menatapnya. “…tapi tidak apa-apa. Karena… kamu tidak mungkin akan melakukan itu jika tidak disengaja, benar bukan?”
“Eiji!” geramku hanya dibalas tawa olehnya.
Memang benar. Aku tidak bisa marah dengannya. Sekesal apapun, tidak ada kata marah yang dapat kukeluarkan. Selama ini hanya dia yang selalu membantuku dan berada disisiku… tapi… sebenarnya, apa aku ini dimatanya…? Apa hanya karena aku selalu membantunya? Atau karena dia merasa tidak enak denganku…?

Di puncak acara, tidak sedikit dari kami menitikan air mata. Tema bahasan yang diberikan oleh kami tidak memandang bulu sama sekali. Tidak hanya anak perempuan, anak laki-lakipun banyak yang menitikan air mata. Beruntung ruangan ini dibuat gelap, sehingga tidak ada seorangpun yang mengetahui selain teman disebelahnya.
“Aoi… kamu tidak apa-apa…?”
Aku menatap Eiji sesaat. Ingin rasanya aku menangis, namun sekuat tenaga aku menahannya. Aku tidak ingin menangis lagi didepannya.
“Kalau kamu ingin menangis, menangis saja… tidak apa…”
Eiji meletakan tangan kirinya pada bahuku dan mendekatkan tubuhku padanya. Tangan kiriku memang sedang bertautan dengan tangan Fuji, namun tanpa kusadari akupun bersandar pada bahu Eiji. Tangannya yang hangat mengelus lenganku dengan perlahan.
Tepat ketika aku mulai terbawa suasana, tiba-tiba saja Eiji berbisik, “Hey Yasu, kamu menangis?”
“Diamlah kau, Eiji!” kudengar isak tangis Yasu walau perlahan. Suasana sedih berganti suara tawa diantara kami berenam, walau tidak terlalu keras.

Setelah acara berakhir, aku memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekitar vila bersama dengan Fuji dan Eiji menuju lapangan basket yang tidak terlalu jauh. Dengan semangat, Fuji bergabung dengan teman-temannya yang sedang bermain. Tapi Eiji tidak ikut bergabung, berganti menemaniku duduk disebelahku.
“Ne, Eiji… boleh aku tanya sesuatu?”
“Ya, kenapa Aoi?”
Aku diam sejenak dan menatapnya. “Ingat penjelasan tadi? ‘…sahabat baru bisa dikatakan sebagai sahabat jika diantara mereka saling mengakui’, kan? Lalu… menurutmu bagaimana?”
“Hmm? Maksudmu?”
“Menurutmu… apa aku ini? Apa aku sahabatmu?”
Eiji tersenyum padaku dan menatap langit. “Ya…” aku diam menatapnya. “Bagiku, kamu adalah sahabatku. Ah tidak… lebih dari itu, Aoi… “ kurasakan perlahan Eiji meletakan tangannya diatas telapak tanganku yang berada diantara tubuh kami berdua.
“Eiji….”
“Anak-anak! Sudah malam! Kembali kekamar masing-masing!” seru para guru menggunakan pengeras suara.
Eiji dan aku saling menatap dan tersenyum. “Sampai besok ya, Eiji. Terima kasih…”
Eiji menggeleng. “Tidak. Akulah yang harusnya berterima kasih padamu, Aoi…”

---xxx----
Setelahnya dari kegiatan ini, hubunganku dan Eiji semakin dekat. Kedekatanku semakin bertambah seiring bertambahnya juga kegiatan tambahan yang diikuti oleh Eiji. Salah satunya adalah futsal. Dia memang menjabat sebagai wakil, Fuji sebagai kapten tim dan aku sebagai manager timnya.
Latihan berlangsung cukup keras. Tidak hanya latihan diakhir pekan. Latihan di saat liburan sering dilakukan sehingga mau tidak mau akupun harus tetap datang dan memperhatikan mereka semua. Hinga akhirnya dilatihan terakhir, sebelum pulang Eiji memanggilku.
“Kenapa, Eiji? Ada yang sakit?” tanyaku sambil membuka kotak obat yang selalu aku bawa kemana-mana.
“Tidak. Hanya saja… Besok aku jemput, bagaimana?”
“Boleh saja. Tapi, apa tidak apa? Bukannya jalan dari rumahku dan tempat kita bertanding nanti berbeda arah?”
“Tidak apa. Lagipula kamu juga tidak tahu arahnya, bukan?” aku mengangguk malu. “Jadi sekalian saja, ya. Lalu…”
“Hmm…?”
“Ti-tidak apa-apa. Yuk kita pulang.”
Aku tersenyum dan mengikutinya berjalan menuju lapangan indoor, tempat teman-teman lainnya berkumpul dan kembali membicarakan strategi apa yang harus mereka gunakan.

Keesokan harinya, Eiji sudah menjemputku 2 jam sebelum pertandingan bersama dengan Fuji. Sebelum menuju tempat bertanding, kami membeli beberapa minuman dingin untuk seluruh anggota tim. Setelah siap, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat tersebut.
Ternyata disana teman-teman yang lainnya sudah berkumpul. Fuji langsung berjalan menuju teman-teman yang lainnya bersama dengan Eiji. Aku sendiri merapikan beberapa minuman dan buku catatanku. Pelatih kami kembali memberikan beberapa penjelasan dan dukungan semangat. Ya, itulah yang dibutuhkan oleh tim pada saat ini.
Ketika peluit berbunyi, masing-masing dari mereka langsung bersiap-siap dipinggir lapangan. Akupun ikut berjalan bermaksud untuk melihat mereka lebih dekat. Tiba-tiba saja, seseorang menepuk pundakku dan berbisik, “Kita pasti menang!”. Ketika kulihat, ternyata Eiji yang berbisik padaku dan melambaikan tangannya padaku. aku tersenyum dan memberikan kode semangat padanya.
Pertandinganpun berlangsung sengit. Beberapa bulan sebelumnya, kami pernah bertanding dengan mereka, namun kekalahan yang kami dapatkan. Dengan penuh latihan keras dan semangat seluruh tim, akhirnya kami sampai di kejuaraan terakhir dan bertemu dengan lawan yang sudah lama ingin kami temui.
Bertanding dikandang musuh ternyata tidak terlalu buruk. Sekolah yang sebelumnya kalah dari salah satu tim sekolah ini, ikut mendukung kami. Pertandingan begitu panas hingga langit mulai berganti warna. Hingga didetik-detik akhir, kami mendapatkan nilai yang sama. Mau tidak mau di adakan waktu tambahan dengan ‘tembakan pinalti’. Usaha yang berat bagi seluruh ‘penyerang’ dan penjaga. Ketika seluruh mata tertuju pada gawang musuh, tanpa kusadari aku berjalan menelusuri pinggir lapangan menuju gawang tempat Eiji berada.
“Eiji! Berjuanglah!” seruku walau aku yakin dia tidak akan mendengarku, karena suara dukungan masing-masing sekolah yang begitu keras. Tapi aku terkejut ketika Eiji merapikan topinya, dan tersenyum padaku sambil mengancungkan jempol padaku.
Satu demi persatu para penyerang bergantian menembakan bola mereka kedalam gawang musuh namun kedudukan masih sama. Hingga disaat kesempatan terakhir, Eiji bisa menghalau bola masuk ke gawang, sedangkan Fuji bisa membobol gawang musuh. Suara sorak sorai langsung memecah dan semua berhambur memasuki lapangan.
Perasaan senang dan bangga memenuhi pikiranku. Baru pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini.
“Eiji!”
“Aoi! Kita menang!”
Tanpa kusadari Eiji langsung melingkarkan tangannya pada leherku. Memelukku bergitu erat karena rasa senang yang tidak bisa ditahan lagi. Akupun membalas memeluknya.
“Ya. Selamat Eiji. Kita menang!”
“Ya!” serunya dengan antusias lalu dia berlari berkumpul dengan yang lainnya. Karena semakin malam, akhirnya acara penutupan segera dimulai dengan pemberian piala kepada masing-masing juara.

Lelah? Tentu saja. Semuanya merasa lelah setelah bertanding, namun rasa senang tidaklah bisa menutupi perasaan lelah tersebut. Seselesainya acara penutupan, beberapa anggota ada yang langsung bergegas pulang, dan ada yang melanjutkan kegiatan mereka menuju rumah temannya. Seperti Fuji, dia memilih ikut bersama dengan temannya untuk makan malam dan berkaraoke. Sedangkan Eiji memutuskan untuk segera pulang, walau sebelumnya dia mengantarku dulu. Sepanjang perjalanan, Eiji masih membahas mengenai pertandingan tadi. Aku yang duduk disebelahnya hanya tersenyum mendengarnya.
“Kamu lihat tadi! Pemain yang memakain baju nomor 5 itu sungguh bagus! Sayangnya tadi bolanya meleset dan beruntung aku bisa menangkapnya!”
“Ya, kalau tidak sampai kamu tangkap, kita bisa kalah!”
“Hahaha.. benar-benar.” Balasnya. “Nah, sudah sampai…”
“Ah, ya… Terima kasih sudah mengantarku pulang,” pamitku sebelum aku turun dari mobilnya.
“Aoi…”
“Hmm?”
“Boleh bicara sebentar?”
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, dan kebetulan hanya ada kakakku dirumah. “Ya… kamu mau masuk dulu kedalam?”
Eiji menolak. Dia menggeleng lalu menatapku. “Aoi… sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan…”
“Mengenai apa, Eiji?”
Perlahan tangan Eiji meraih tangan kananku dan membawanya dihadapannya. “Aoi… Maukah kamu melanjutkan hubungan ini ketahap yang lebih serius?”
Tubuhku terhentak dan detak jantungku berdetak cepat. “A-apa… Tapi…”
“Kenapa? Adakah seseorang yang kamu sayangi selain aku?”
Aku memalingkan wajahku. “Maaf… aku… aku tidak tahu, Eiji…”
“Kenapa, Aoi?
Aku hanya terdiam. Selain Eiji, ada satu orang yang juga dekat dan baik kepadaku. Sanada Genichirou, teman sekelas kakak kelas yang cukup dekat denganku, hanya saja aku tidak tahu bagaimana pandangannya kepadaku.
“Aoi? Kenapa?”
Aku menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku bingung, Eiji…”
Eiji tersenyum. “Baiklah… ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sebelumnya padamu, Aoi…,” kali ini aku menatapnya dengan heran. “Waktu itu kamu pernah bertanya padaku mengenai pandanganku mengenai dirimu, bukan? Sekarang bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa pandanganmu mengenai diriku?”
Aku diam sejenak menatapnya. “Eiji… pintar… baik dengan teman-teman… jago olah raga… disukai oleh guru-guru dan teman-teman sekelas.”.
Kali ini Eiji yang menggeleng. “Bukan itu yang aku maksudkan. Aoi, apa kamu membenciku?”
Aku diam menggeleng.
“Apa kamu menyayangiku?”
Aku mengangguk.
“Bagaimana kalau… kalau saat ini aku pergi meninggalkanmu, Aoi?”
“Eiji, kamu jangan menipuku lagi! Kamu tahu, aku sedih kalau kamu pergi seperti yang pernah kamu ceritakan padaku”
“Karena itulah… berarti kamu ingin kalau aku bisa selalu disisimu, bukan?” Aku mengangguk. “Jadi, maukah kamu menerimaku, Aoi? Aku berjanji akan selalu berada didekatmu…”
Kali ini aku mengangguk perlahan dan langsung Eiji kembali memelukku seperti dilapangan pertandingan tadi. “Terima kasih, Aoi. Aku senang mendengarnya…”
Aku mengangguk kembali dan membalas memeluknya. Ya… perasaan senang seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Walau singkat, biarkan saat-saat ini menjadi saat bahagia yang tidak bisa digantikan oleh apapun…
Hubungan dan kedekatanku dengan Eiji tidak mengubah apapun. Semua orang terlanjur mengetahui kalau kedekatan kami hanyalah sebatas teman. Tapi itu bukan menjadi masalah bersar untukku. Selama tidak ada yang meledek ataupun membicarakan kami, bagiku itu sudah cukup. Selain itu, Eiji juga tidak keberatan dengan keputusan yang kubuat.

--ooo---

“Ah, tidak terasa sudah 3 tahun berlalu...,” gumamku sambil memasukan kembali kedua kartu tersebut kedalam dus kecilku. Merasa jenuh dan terbawa suasana, aku memutuskan untuk mengakhiri acara berberes ini. Saat kurapikan, kutemukan sebuah kotak musik berbentuk pelangi dengan kaca kristal sebagai bentuk dasar pelanginya. Ketika lagu itu dimainkan, kaca kristal itu berubah warna seperti warna pelangi. Kuputuskan untuk membawa kotak musik itu keruang tengah.
Kuletakan kotak musik itu diatas meja sambil memainkan lagunya. Kusandarkan tubuhku pada sofa sambil memeluk bantal pemberian Genichirou. Aku kembali teringat ketika Genichirou pertama kali memberikan kotak musik ini untuk membantuku menenangkan diriku.
Ya… menenangkan diriku dari masa-masa terburuk dalam hidupku…
Orang yang selama ini aku percayai, ternyata membuat hidupku semakin hancur dan bahkan dia… dia…

---ooo---
Di akhir tahun ajaran ketiga ini, hubunganku dengan Eiji mulai berkurang. Teman-teman Eiji semakin banyak, komunikasi kami semakin berkurang, dan beberapa temanku mulai mendekatinya. Ingin aku marah dengannya, namun tidak ada sepatah kata keluar dari mulutku. Eiji yang begitu dekat denganku, terasa sangat jauh sekali.
Banyak pelajaran dan tugas membuat pikiran semakin terasa lelah, ya… aku sangat mengerti itu. Eiji semakin sibuk dengan pelajaran tambahannya, sedangkan aku berjuang mempertahankan gelar kejuaraanku. Kerenggangan jarak dan komunikasi, ternyata disadari olehnya.
“Aoi, kamu tidak langsung pulang kan?” tanyanya ketika kami berjalan menuju gedung kantin di jam pulang sekolah.
“Tidak. Ada apa?”
Eiji masih diam sejenak lalu mengajakku untuk duduk disalah satu bangku. “Aoi, apa kamu menyadari sesuatu?”
“Hmm? Menyadari sesuatu? Tentang?”
Eiji memalingkan wajahnya. “Hubungan kita. Tidakkah kamu merasakan kalau hubungan kita semakin jauh?”
“Ternyata kamu menyadarinya, Eiji…”
“Ya. Maafkan aku… Seharusnya aku menyadari kalau aku terlalu sibuk. Maafkan aku…”
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa. itu sudah keputusanmu untuk mengikuti kelas tambahan, bukan? Tidak apa. Aku mendukungmu, kok” kucoba sebisaku untuk tersenyum, namun sulit sekali rasanya.
“Aoi, sekali lagi maafkan aku…”
“Tidak apa-apa, Eiji… tidak apa-apa…”

‘Ya.. tidak apa-apa…’

Kelonggaran hubunganku dengan Eiji ternyata berdampak buruk. Sikap Eiji mulai tidak terlihat seperti Eiji yang kukenal. Beberapa kali dia sering memarahiku untuk beberapa hal yang terkadang tidak aku mengerti. Aku mencoba untuk bersabar, namun terkadang aku sungguh tidak mengerti… mengapa dia begitu berbeda dengan Eiji yang dulu… Aku mengerti jika dia menyayangiku, namun kenapa dia selalu terlihat tidak memperdulikanku sama sekali…
Kelonggaran hubungan kami terus berlangsung hingga akhir tahun smaku ini. Setelah mengikuti seluruh ujian, seluruh murid diizinkan untuk beristirahat dan melakukan aktivitas sesuai dengan apa yang mereka suka, dengan catatan tidak mengganggu adik-adik kelas yang gantian menghadapi ujian sekolah.
Perjalanan sekolah tinggal 1 minggu. Untuk memanfaatkan waktu tersebut, beberapa kali Eiji mengantar dan menemani sesaat di rumahku.
“Aoi, ada hal penting yang ingin aku tanyakanm,” ucapnya ketika aku baru saja meletakan dua gelas air minum diruang tengah ini.
“Kenapa?” tanyaku bingung lalu duduk disebelahnya.
“Aoi, jawablah dengan jujur. Apa kamu sudah tidak menyukaiku lagi?”
“Hah? Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu, Eiji?”
Eiji memalingkan wajahnya. “Aku tahu kalau kamu sudah mengerti situasi kita saat ini. Tapi aku tidak percaya kalau kamu sedang dekat dengan orang lain!”
“Hah?! A-apa maksudmu, Eiji? Aku tidak mengerti…” takutku.
“Baiklah. Akan aku perjelas. Aoi, siapakah laki-laki yang beberapa hari ini yang selalu mengantarmu atau menjemputmu ketika aku tidak bisa melakukannya?”
Aku terdiam sejenak. “G-Genichirou, maksudmu? Eiji, dia itu teman Akai, kakak kelas kita. Jadi sudah sewajarnya kalau hubungan kami dekat dan…”
“…berarti… apa kamu sudah tidak menyayangiku lagi, Aoi?”
“Ti-tidak. Bu-bukan begitu…” panikku. Aku tidak ingin ada kesalah pahaman diantara aku dan Eiji. Tapi sepertinya Eiji tidak mengerti dengan apa yang aku katakan padanya.
Tepat ketika Eiji hendak pergi, kuraih tangannya untuk menahan langkahnya. “Eiji, ada apa dengan dirimu? Kenapa kamu berubah?”
“Bukan aku. Kamu yang berubah, Aoi!”
“A-aku? Kenapa dengan diriku?”
“Benarkah kamu masih menyayangiku seperti dulu?” aku mengangguk. “Kalau begitu…”
Tiba-tiba saja Eiji berbalik, menahan tangan kiriku lalu mendorongku keatas sofa sehingga dia berada diatasku. Merasa takut dengan tindakannya, aku mencoba untuk melepaskan diriku, namun tenaganya begitu kuat menahan tanganku, sehingga dia menahan kedua tanganku dengan satu tangannya.
“Aoi, jika kamu memang sayang padaku, maka jadilah milikku seutuhnya…”
“Ti-tidak!”
Perlahan Eiji mulai melepaskan dasiku lalu mengikat kedua tanganku jadi satu. Tindakannya dia lanjutkan dengan perlahan membuka kancing kemeja seragamku dan dilanjutkan dengan melonggarkan pakaiannya.
“Eiji! Hentikan! Jangan lakukan ini!” histerisku.
“Sttt… Aoi, bukankah kamu menyukaiku? Seharusnya kamu merasa senang…”
“Ta-tapi…” kurasakan suaraku bergetar dan mulai terisak. “A-aku.. aku takut…”
“Tenang.. aku tidak akan menyakitimu. Tenang saja, ya…”
“Ta-tap-!” ucapanku terpotong ketika Eiji mulai menciumku.
Ciuman yang cukup lama dan dalam, sampai kurasakan jantung berdetak begitu cepat seiring nafasku yang terputus-putus. Tangan Eiji terus menyentuh diriku hingga akhirnya akupun mencoba berteriak untuk menghentikannya.
“E-Eiji! Henti-!!”
Tangan besarnya menutup mulutku. Rasa takut semakin menghantuiku.
“Aoi, tenanglah. Aku akan membuktikan kalau aku menyayangimu… dan jika kamu memang menyayangiku, berikanlah dirimu padaku…”
Aku menggeleng tidak percaya dengan apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan. Aku terus mencoba memberontak hingga akhirnya perlahan kurasana tangan Eiji menyentuh kakiku dan memasuki sela rok seragamku. Aku semakin menatapnya penuh ketakutan dan airmatapun mulai membasahi wajahku.
“E-eiji.. Ja-jangan…!!”

Ditengah ketakutanku, tiba-tiba tubuh Eiji terpental dan jatuh ke lantai.  Mataku langsung tertuju pada seseorang yang berdiri dihadapanku dengan wajah kakunya.
“Apa yang kamu lakukan!” teriak Eiji.
“Harusnya aku yang bertanya padamu”
Perlahan dia membuka jaket kuningnya, membantuku untuk duduk, melepas ikatanku dan melingkarkan jaketnya pada tubuhku. “Aoi, tenanglah…”
“Ge-genichiou…” ucapku perlahan.
“Kamu!!”
Eiji mencoba untuk memukul Genichirou namun dengan mudah dihindarinya dan berbalik menjatuhkan dirinya.
“Lebih baik kamu cepat pergi sebelum aku menghubungi polisi mengenai tindakanmu ini!” Eiji diam menatap Genichirou dengan penuh ketakutan lalu langsung pergi keluar dari rumahku.
Genichirou berjalan mendekatiku dan duduk disebelahku yang sedang duduk menjauh karena ketakutan.
“Aoi? Kamu tidak apa-apa?”
Pandanganku masih kosong. Pikiranku masih tidak percaya dengan segala tindakan yang dilakukan oleh Eiji. Seseorang yang selalu aku percaya, kini menghancurkan hidupku. Tanpa kusadari air mata kembali mengalir dari sudut mataku.
“Aoi… tenang… sudah tidak apa-apa…”
Perlahan tangannya menarikku dan memelukku seperti seorang anak yang terbangun dari mimpi buruknya. Perasaan lega bercampur takut masih menjadi satu. Akupun kembali menangis dipelukannya. Tangan besarnya dengan perlahan mengelus punggungku, membuatku semakin ingin mengeluarkan kegalauan didalam pikiranku.
“Ya menangislah Aoi… keluarkan  segala kekhawatiranmu… namun kamu tidak usah khawatir, karena aku akan selalu berada diisisimu…”

---ooo---
“Aoi…Aoi…?”
Perlahan kubuka kedua mataku dan ternyata Genichirou berlutut disebelahku sambil mengelus rambutku. Sepertinya aku ketiduran di sofa  dan tidak kusadari hari sudah malam.
“Geni…”
Kubangunkan diriku dan ternyata kurasakan wajahku yang terasa lembab.
‘A-aku … menangis?’
“Aoi? Ada apa dengan dirimu? Kenapa kamu menangis? Ada masalah?”
Aku menggeleng. Tanpa persetujuan darinya, aku langsung memeluk dirinya dan menyandarkan kepalaku pada lehernya. Kurasakan tubuh Genichirou yang sempat menegang dan terlihat bingung. Tetapi tidak ada satu katapun yang dia keluarkan, hanya membalas memelukku dan mengelus punggungku.
“Geni… ingat kotak musik itu?”
Genichirou menatap kotak musik itu sejenak lalu kembali meletakan kepalanya pada bahuku.
“Ya, tentu saja aku ingat. Ada apa Aoi?”
Kulepaskan pelukanku dan mengajaknya duduk disebelahku. “Se-sebenarnya aku kembali teringat… pada kejadian itu…”
“A-apa! Ke-kenapa bisa?”
Aku menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti, Geni… Aku…”
“Ya… sudah, jangan bicara lagi.”
Suaraku bergetar dan air mata kembali membasahi wajahku. Genichirou menarik bahuku, membiarkanku bersandar pada dadanya, dan kedua tangannya dia lingkarkan ketubuhku. Tanganku hanya bisa memegang lengan tangannya yang saling berkait dan menutup kedua mataku.
“Geni… terima kasih…”
“…untuk?”
“Jika saat itu kamu tidak menolongku, aku tidak tahu apa yang…”
Genichirou melepaskan pelukannya, membalikan arah tubuhku, lalu meraih wajahku dan menciumku dengan lembut. Sesaat dia memberikan jarak untukku mengambil nafas dan kembali menciumku. Aku hanya bisa pasrah dan meletakan peganganku pada bahunya.
“Geni…” aku kembali bersandar padanya dan diapun memelukku.
“Itu hanyalah mimpi buruk. Buanglah dan lupakanlah. Jangan biarkan mimpi burukmu mengganggu tidur indahmu, Aoi…”

Aku kembali teringat pada mimpi burukku. Setelah kejadian itu, Eiji tidak pernah menemuiku ataupun mengajakku berbicara. Disamping itu, kejadian Eiji menyerangku terus menghantuiku. Menjadi mimpi buruk yang tidak pernah hilang dariku. Ketika itu, Genichirou datang mengunjungiku dan memberikanku sebuah kotak musik ini. DIa mengatakan kalau aku harus memainkan lagunya ketika aku mau pergi tidur.
Ya, sesuai dengan apa yang diharapkannya. Mimpi buruk itu berangsur-angsur menghilang. Berkat itu, akupun bisa kembali tidur dengan tenang tanpa diganggu oleh ingatan itu.

“Oh ya, Aoi… kemana Kana?”
“Dia? Tadi siang dia kerja kelompok dirumah temannya. Lalu malam harinya, dia menemani Alfred menonton film baru. Semoga saja bukan film horor lagi…”
Mendengar pernyataanku, kami berdua tertawa.
“Aoi…,” aku berdeham sebagai ganti jawaban. “Tutup matamu sejenak…”
“Eh?”
“Lakukan saja…”
Aku diam dan menutup kedua mataku seperti permintaannya itu. Kurasakan Genichirou berpindah tempat, pergi menjauhiku dalam sesaat lalu kembali sambil meraih tangan kananku.
“Sekarang, bukalah matamu…”
Kubuka mataku dengan perlahan dan sebuah bola kristal pada genggamanku. Bola yang berukuran telapak tangan ini memiliki warna yang indah. Warna pelangi.
“Ini…”
Genichirou meraih kembali bola tersebut, lalu menekan salah satu sisinya sehingga terbuka. Lalu, dia mengambil sesuatu dari dalamnya.
“Ge-geni…”
Genichirou meletakan bola itu kembali pada genggaman tangan kiriku, lalu memakaikan sebuah cincin kejari manisku.
“Aoi… jika waktu itu adalah tanda bahwa aku akan selalu disampingmu, kini aku kembali lagi mengikat janji. Aku, Genichirou, akan selalu berada disisimu, Aoi…”
Kurasakan jantungku berdetak cepat dan airmata kembali keluar dari sudut mataku. Kubuka kedua tanganku dan menubruknya, sampai membuat Genichirou kehilangan keseimbangan dan akupun berada diatasnya.
“Terima kasih, Geni…”
“Lalu, jawabanmu?”
Aku tersenyum sambil menatapnya. Kuseka rambutku dibalik telinga lalu kembali mendekatkan wajah kami dalam beberapa saat. Disela kami mengambil nafas, Genichirou menambahkan, “Selamat ulang tahun, Aoi…”
Aku hanya bisa tersenyum dan melingkarkan tanganku pada tubuhnya. Membiarkan dia memelukku dan mendekatkan wajahnya padaku. Ya, itu semua karena aku percaya padanya. Dia tidak akan berani berbuat macam-macam padaku jika kita belum menikah. Itulah janjinya padaku yang selalu membuatku semakin sayang padanya.

---ooendooo----

^_____^ hehehehe.. akhirnya kelar juga dan kesampean juga buat cerita ini..Terima kasih sudah membaca ya ^___^b
hehehehe~ ne, Von n kachan~ janjiku sudah aku penuhi~ ^___^
untuk batas ----xxx--- sampai selesai, itu hanyalah karangan dan imajinasi saja~ hahaha.. berhubung melanjutkan cerita dari atarashi kazoku~ sedangkan untuk sisanya~ yaaa… ya… begitulah ^____^ hanya 3 orang yang mengetahuinya dengan pasti~

jya~ bye2~