Title : June Pride – prologue -
Base
on: Takumi-kun Series - June Pride –, Takumi-kun
Drama CD – Harukaze – dan Dorama Takumi-kun Series -Soshite Harukaze ni
Sasayaite & Ano, Hareta Aozora-
Desc
: Gotoh Shinobu
A/N:
^___^/ untuk pertama kalinya Aoi menulis cerita berdasarkan manga atau dengan
kata lain Aoi seperti mentranslate manga kedalam bahasa Indonesia. Memang
banyak yang sudah mengetahui serial Takumi-kun Series dari doramanya. Sayang
saja, Aoi merasa kalau sebenarnya ver Manganya ataupun cd dramanya juga menarik
dan banyak hal lucu yang terjadi.
Okay
bagaimana versi manganya, Aoi akan mencobanya kedalam pengertian Aoi.
Pov
: Hayama Takumi
---ooSTARToo----
Shidou
High School, sebuah sekolah menengah keatas yang jauh dari kota dan terletak
didalam pegunungan. Sekolah khusus laki-laki ini sudah ada sejak Era Showa ini
sebelumnya hanya anak yang berasal dari keluarga kaya yang dapat sekolah
disini, namun saat ini anak yang berasa dari keluarga biasapun dapat menjadi
murid Shidou.
Hayama
Takumi, itulah namaku dan merupakan salah satu murid Shidou High School yang
saat ini memasuki tahun kedua. Mempunyai masalah dalam kejiwaan membuatku
berbeda dari murid lainnya. Tidak mempunyai hati, tanpa emosi, aneh dan perkataan
lainnya sudah sering kudengar sejak duduk dikelas satu. Namun aku hanyalah
orang luar yang tidak dapat membalas walaupun diriku selalu dijadikan bahan
hinaan.
Dari
seluruh murid Shidou, hanya satu orang yang tidak menganggapku sebagai orang
aneh, dan dia hanya menambahkan bahwa sifatku sajalah yang sulit untuk
diekspresikan. Gii, Saki Giichi, seseorang yang lahir di Amerika dan mempunyai
darah keturunan Perancis. Menjadi pusat perhatian bagi setiap orang yang
melihatnya. Sungguh kami tinggal di dunia yang berbeda.
Sebagai
murid Shidou sudah menjadi suatu hal umum jika kita harus tinggal diasrama terlebih dengan letak
sekolah yang jauh dari perkotaan. Ditahun pertama, aku sekamar dengan Katakura
Toshihisa, seseorang yang sebelumnya hanya mengerti dan mengetahui diriku.
Hingga akhirnya ditahun kedua terjadi perubahan dan kuketahui bahwa akupun
sekamar dengan Saki Giichi yang membuat jalan kehidupanku menjadi berubah.
Takabayashi
Izumi, seseorang yang mengatakan bahwa dirinya yang paling menawan di angkatanku
ini. Izumi menyukai Gii dan dialah orang pertama yang memulai keributan
denganku. Disaat aku berjalan bersama
Toshihisa, tiba-tiba saja dia menabrakku dan mengatakan yang sebaliknya. Tentu
saja semua itu mengundang perhatian lainnya, termasuk Yoshizawa Michio, teman
seklub memanah Toshihiza, langsung melindungi Izumi.
Disaat keributan terjadi, tiba-tiba saja
Akaike Shouzou, salah satu anggota kedisiplinan Shidou datang menolong kami.
Akaike menjelaskan segala kesalahan yang cukup membuat Izumi merasa malu dan
memutuskan untuk pergi. Tentu saja seluruh pengikutnya mengikuti dia pergi.
Sungguh kejadian yang tidak diduga sama sekali.
Setelah
kelas berakhir, kuputuskan untuk berjalan menuju kamar baruku dan kudapatkan
Akaike sedang merapikan barang-barangnya. Disaat kuletakan barang-barangku,
tiba-tiba saja dia mencoba untuk menyentuhku. Tentu saja kutepis tangannya dan
kudapatkan sebuah istilah baru darinya.
“Ternyata
benar. Istilah ‘Phobia Manusia’ memang benar, Takumi.”
“Siapa?!
Apa istilah dengan phobia-manusia itu?!“
“Istilah
itu masih lebih baik daripada perkataan lainnya bukan? Oh ya, selain itu teman
sekamarmu bukan diriku tetapi Saki Giichi”
“Eh?
Bukan Akaike?”
“Tidak,
aku hanya membantu merapikan barang-barangnya. Benar-benar Gii paling bisa
ngerjain orang!”
“Siapa
yang ngerjain, Akaike?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja memasuki kamar ini.
Saki
Giichi, orang yang dibicarakan Akaike-pun datang. Setelah selesai merapikan
beberapa peralatan, Akaike memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ternyata tidak
hanya Akaike, Giipun membahas mengenai Phobia tersebut dan membuatku menjadi
panik sendiri. Bayangan gelap yang sudah menghantuiku membuat tubuhku terlihat
panik dan kuputuskan untuk keluar dari kamar untuk menenangkan diri.
Berlari
tanpa arah dan kudapatkan sebuah ruangan yang masih terlihat kotor dan tua. Kuputuskan
untuk duduk sejenak untuk memikirkan hal lainnya namun tiba-tiba saja kudengar
suara seseorang memasuki ruangan ini juga. Seseorang yang bertubuh tinggi dan
dia adalah Nozaki Daisuke, ketua tim basket.
Tiba-tiba
saja dia mengatakan sesuatu hal yang sungguh tidak kuduga dan membuatku kesal.
Tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa aku menyukainya dan kembali lagi diapun
mencoba menyentuhku! Tentu saja kutepis tangannya dan memutuskan untuk berlari
meninggalkannya. Sepanjang perjalanan kembali ke kamar, aku hanya bisa
menggerutu dengan segala keanehan disekelilingku ini.
Kejadianpun
anehpun terus berlanjut ketika kuketahui bahwa Yoshizawa meminta bantuan
Toshihiza untuk membantunya mengganti tempat tidur dan beberapa barang
dikamarnya. Ternyata Yoshizawa diminta oleh Izumi yang membuat sedikit
keributan antara Toshihiza dan Izumi. Yoshizawa hanya bisa meminta maaf dan
akupun hanya bisa menahan Toshihiza sebelum kembali membuat keributan.
Keesokan
harinya setelah kelaspun terjadi kecelakaan yang tidak terduga. Disaat bersama
dengan Toshihiza berada dikantin untuk makan siang, tiba-tiba saja Nozaki mendekatiku
dan memberikanku 2 buah tiket konser! Tentu saja aku menolaknya dan mengatakan
beberapa kata-kata kasar dengan tujuan untuk menghindarinya. Namun tanpa
kuduga, Nozaki yang terpancing emosi mencoba melemparku dengan makanan karinya
tetapi…
”Tidak
panas…tidak lengket dan hanya ada bau…tapi…kenapa…?,” ucapku dalam hati tanpa
membuka mataku.
Perlahan
kudengar dan kudapatkan bahwa Gii melindungiku dari lemparan tersebut. Tindakan
Gii mengundang perhatian lainnya terlebih dengan posisi Gii yang berada lebih
dari Nozaki. Akhinya Nozaki memutuskan untuk meninggalkan kami bertiga. Akupun
yang tidak ingin terbawa lebih kedalam masalah ini, meminta Toshihiza untuk
menjelaskan sedangkan aku sendiri memutuskan untuk berlari keluar dari kantin.
Ditengah
pelarianku tiba-tiba saja kudengar suara seseorang memanggil namaku. Kuperlahan
gerak lariku dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa! Suara itu kembali
memanggilku dan mengatakan bahwa aku sudah menjadi penghalang untuk ‘Gii’.
Belum sempat kukembali menanyakan, tiba-tiba saja kurasakan sebuah pukulan
keras kearahku yang membuat tubuhku menjadi lemas dan seluruh pandanganku
menjadi gelap.
Kepalaku
terasa berat dan perlahan kupaksakan diriku untuk segera bangun dari udara
dingin yang menusuk kulitku.
“Takumi,
kamu tidak apa-apa?”
“Ah,
ya…” Ah! Gii?
“Benarkah?
Baguslah kalau begitu. Kamu sudah tertidur dari tadi, Takumi…”
Tiba-tiba
saja Gii mencoba menyentuh wajahku dan refleks kudorong tubuhnya dengan keras.
“A-ah! Maafkan aku.”
“Hahaha…
Tidak apa, ini juga salahku. Ngomong-ngomong, para pelindung Izumi yang membawamu
karena diriku…”
“Eh?
Sa-saki…? ” Izumi…Takabayashi? Ah, dia yang kutemui kemarin.
“Gii
saja. Itu karena Takabayashi menemukan bahwa aku menyukai Takumi.”
“Ta-tapi…kenapa?”
Gii
menjelaskan bahwa Izumi mengetahui bahwa Gii menyukai diriku dan hal tersebut
juga diketahui oleh Nozaki. Akaikepun saat itu menolong kami karena Gii
memintanya untuk melindungiku dari mereka.
“Ta-tapi,
dibandingkan dengan Izumi, dia lebih menarik dan selain itu-“
“Jangan
menghindar, Takumi!” Tangan kanan Gii menghalangi langkahku ketika kucoba untuk
menghindarinya. Tubuhku yang berada diantara Gii dan tembok, membuat detak
jantungku berdetak cepat. Seluruh kejadian yang bergitu cepat membuatku semakin
panik.
“Takumi,
aku sungguh ingin melindungimu. Kumohon, jangan berlari lagi. Aku menyukaimu,
Takumi dan bukan orang lain.”
Detak
jantungku semakin berdetak cepat dan pikiranku semakin kacau. Tiba-tiba saja
wajah Gii semakin mendekat dan tanpa kusadari kubuka diriku untuknya. Diriku
yang selama ini selalu tertutup, kini kubiarkan Gii menciumku dengan perlahan.
Udara
semakin dingin dan tidak ada sedikitpun tanda-tanda akan adanya seseorang yang
akan melindungi kami. Tiba-tiba saja Gii memintaku untuk bermain piano yang
berada diruangan lain dengan tujuan membuat suatu peluang, namun nihil. Rasa
takutku semakin menjadi-jadi dan setelah beberapa waktu berlalu, keajaibanpun
datang kepada kami. Terdengar suara Shouzou berada diluar ruangan memanggil
kami berdua. Harapan untuk selamatpun datang!
Bersama
dengan Shouzou, kami bertiga saling
bercanda satu sama lain. Lebih tepatnya melihat perdebatan antara Shouzou dan
Gii yang membuatku tidak bisa menahan tawa sepanjang perjalanan. Namun
tiba-tiba saja Gii menghentikan langkahnya dan mengejar sesuatu yang belum
kuketahui.
Ternyata
yang dikejar oleh Gii adalah Takabayashi Izumi. Dia masih mencoba meminta
penjelasan Gii mengenai penolakan dirinya dan mencoba untuk melukaiku. Ditengah
usahanya, tiba-tiba saja Yoshizawa datang menghalangi bahkan… menamparnya! Dia
meminta Izumi untuk meminta maaf dan membawanya untuk menenangkan pikirannya.
Ketika
kembali ke asrama, Toshihiza segera menemuiku dan menanyakan banyak hal
mengenai diriku. Selain teman, dia sudah seperti saudara bagiku dan diapun
menganggap dirinya sebagai kakak bagiku. Selalu membuatnya merasa khawatir
terlebih dengan sebuah penyakit yang ada pada diriku. Sebagai perpisahan dihari
ini, Toshihiza memberikanku sebuah bungkusan yang berisi roti buatan ibunya.
Ya, kami berdua sangat menyukai roti terlebih buatan ibunya itu.
Gii
tertawa ketika kuceritakan kejadian selama kuceritakan mengenai alasan
Toshihiza membagi makanannya. Kuingat kembali bahwa Gii baru saja menghabiskan
makan malamnya, namun kuketahui bahwa ternyata Gii benar-benar kuat makan!
Tanpa kata, dia meraih bungkusan tersebut dan dengan segera memakan rotinya.
Hari semakin malam dan kuputuskan untuk segera
beristirahat. Ketika kubersiap untuk segera mengakhiri kegiatan hari ini, Gii
kembali menanyakan hal yang sebenarnya menjadi masalahku saat ini.
“Gii?
Kamu menangis?”
Giichi
duduk disebelahku sambil menundukan kepalanya. Rasa panikku kembali muncul dan
kucoba sebisaku untuk menghiburnya. “Takumi, sungguh aku menyayangimu. Aku
tidak ingin kamu pergi dariku. Apa kamu membenciku?”
“Ti-tidak,
Gii. A-aku juga…”
“Benarkah?”
aku mengangguk dan tiba-tiba saja dia tertawa melihatku. “Ah, lega rasanya.”
“Gii…!”
“Akhirnya
aku tahu perasaanmu, Takumi.”
Kesal,
aku membalikan badanku. “Aku membencimu, Gii!”
“Benarkah?
Senangnya. Takumi, aku sayang kamu.”
“Gii-!!”
Tiba-tiba saja Gii menciumku dan tentu saja refleks daku menamparnya.
“Sa-sakit!”
“Gii!”
Gii kembali menciumku dan kali ini tubuhku terdiam membiarkan dia mendekatkan
dirinya padaku.
---ooENDoo---
R n R Please ^___^
No comments:
Post a Comment