Title: atarashi kazoku – spec _ aoi no himitsu
Desc: aoryuto (aoi) –Konomi ( sanada genichirou ), Kanade ( kana ) , himaruya ( Alfred ), dan masing 2 na~ *plak ~
Rat : Mau-maunya…
Pov: Aoi
Songz : 露普 露米 東西有】Eiserner Vorhang (鐵幕) _ - maaf~ krn gak tau nama judulnya, jd aoi tuliskan title na kalo nyari d utube ^^
--oooostartooo—
“Masa lalu biarkanlah berlalu. Hadapi hari esok dengan perasaan tenang dan menyenangkan….”
Namun… sulit sekali untuk mewujudkannya…
Setelah makan siang, aku memutuskan untuk merapikan beberapa barang yang masih tersimpan didalam kardus pindahanku. Sejak aku duduk di bangku kuliah, aku mulai tinggal di apartemen bersama dengan sahabat baruku, Kana. Sebenarnya apartemen ini milik Genichirou. Untuk beberapa alasan, dia mengizinkanku untuk menggunakannya, sedangkan dia masih tinggal dengan orang tuanya. Shinya niichan sendiri tinggal dengan Saeki-niichan. Oleh karena itu, aku beruntung sekali Kana mau tinggal bersama-sama denganku di apartemen ini.
Siang ini Kana masih mengerjakan tugas kampusnya di salah satu teman sekelompoknya. Sepi rasanya… tetapi inilah yang aku butuhkan pada saat ini. Ketenangan saat merapikan barang-barangku. Aku tidak tahu, apakah ada hal menarik ataukah hal buruk didalam kardus yang masih diam disamping lemari bajuku.
Dengan gunting, aku membuka tali pengikat kardus itu dan ternyata penuh dengan barang-barang aksesoris. Patung, kalung, gelang, dan beberapa pajangan lainnya, sampai akhinya aku menemukan 2 lembar kartu yang membuat tubuhku terhentak. Kartu tanda pelajar milikku dan seseorang yang ingin sekali aku lupakan. Eiji Takeruya. Orang yang membangun dan menghancurkan kehidupanku. Pikiranku kembali dimasa-masa aku baru bertemu dengan Eiji untuk pertama kalinya.
Kelas satu sma Sohoku…
Masa sma adalah masa pengadaptasian dalam hal pelajaran maupun lingkungan sekitar. Sebagai murid baru di Sohoku, kami di wajibkan untuk mengikuti kelas tambahan sebelum menghadapi kelas yang sebenarnya. Di hari pertama, seluruh pelajaran dapat kuikuti dengan baik. Di hari kedua, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Eiji yang baru pindah dari kelas sebelah.
Laki-laki berambut merah dengan model yang cukup berantakan, memakai kaca mata dan terlihat ceria sekali. Ketika aku hendak memasuki kelas, teman baruku melaporkan kalau ada seseorang yang menduduki bangkuku kemarin. Aku hanya tertawa santai mendengar kepanikannya.
“Ini… meja milikmu?,” tanyanya sambil menundukan kepala dan bersiap untuk pindah.
“A-ah… tidak apa-apa. Santai saja. Aku bisa duduk didepanmu, kok.” Aku tertawa pelan sambil meletakan tasku.
“Kalau mau aku pindah, tidak apa-apa.”
“Sudahlah. Lagipula ini kan hanya sementara saja. Ia, kan?”. Aku tidak mau kalau Eiji merasa sungkan dengan kehadianku ini.
Waktu terus berjalan, dan entah mengapa, hubunganku dengan Eiji menjadi lebih dekat. Setelah mengetahui nama lengkapnya, akupun baru tahu jika dia mempunyai saudara kembar bernama Fuji Takeruya. Fuji sama-sama menggunakan kaca mata, namun rambutnya terpotong lebih rapi dan lebih pendiam. Sungguh berbeda jauh dengan Eiji yang selalu penuh dengan keceriaan.
Di semester awal, entah mengapa aku bisa lebih dekat dengan Fuji. Memang berbeda, namun berteman dengan Fujipun terasa menyenangkan. Banyak hal yang dia ceritakan mengenai dirinya. Mengenai masa lalunya ataupun penyakitnya yang sedang dia alami. Namun dia tetap melakukan aktivitas seperti biasanya, sampai akhirnya aku merasa bahwa sudah seharusnya aku tidak bersama-sama dengannya.
Fuji memang special dan berbeda dari anak-anak yang lainnya. Penampilannya memang menarik, terlebih lagi di jago dalam olah raga. Ya, guru-guru dan teman sekelasku banyak yang menyukainya. Namun tidak jarang banyak pandangan yang tidak menyenangkan diantara kami, walau sebenarnya aku dan dia hanyalah sebatas teman saja. Ya, tidak lebih dari itu.
“Aoi?,” panggil Eiji. Dia berjalan mendekatiku ditengah merapikan buku pelajaran didalam lokerku. “Mau makan bareng?.”
“Boleh saja. Tapi aku bawa bekal.” Aku menunjukan kotak makanku dari dalam tasku.
“Aku juga bawa. Mau makan disana?,” Eiji menunjukan salah satu bangku didepan ruang art. Aku mengangguk, mengunci lokerku lalu berjalan mengikutinya.
Banyak hal yang kami bicarakan. Mengenai pelajaran, kelas tambahan dan berbagai macam tempat lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Berbeda dengan Fuji, Eiji lebih terbuka dan mudah beradaptasi dengan sekelilingnya. Mendengarnya bercerita, membuatku merasa senang dan beruntung mendapatkan teman yang berwawasan luas.
“Aoi, besok kamu ada acara?,” tanyanya setelah selesai merapikan tempat makannya.
“Hmm? Setelah pulang sekolah maksudnya?,” tanyaku memastikan. “Tidak ada. Kenapa?.”
“Hm…,” Eiji diam sejenak. “Kalau tidak keberatan, bagaimaana kalau menonton pertandingan basket besok sore?”
“Besok sore? Pertandingan apa?.”
“Pertandingan persahabatan. Sebenarnya pertandingannya dimulai dari jam 2 dan di adakannya dilapangan indoor.”
“ Hmm… baiklah… jangan sampai kalah, ya!”
“Ung!” balasnya sambil tersenyum.
Ditahun kedua ini, Eiji dan aku secara kebetulan berada didalam satu kelas, ketika jam sudah menunjukan pukul 2, Eiji menitipkan kartu titipannya padaku. Ya, disekolah ini kami diharuskan untuk menitipkan handphone kami kepada wali kelas yang ditandai dengan sebuah kartu. Karena Eiji yang harus segera bertanding, akulah yang mengambilkannya.
Kelas berakhir 30 menit kemudian, aku berjalan menuju loker untuk mengganti buku pelajaran yang akan kubawa pulang, lalu dengan segera berjalan menuju lapangan olahraga yang berada disebelah gedung ini. Dari kejauhan, suara teriakan dan seruan sudah terdengar jelas. Sepertinya pertandingan sedang berlangsung seru, tanpa mengganggu para pendukungnya, kutelusuri bangku melalui tangga yang tidak terlalu ramai menuju tempat dimana Eiji meletakan tasnya.
‘Ternyata mereka juga datang…’
Untuk sesaat aku hanya bisa tersenyum diam melihat 3 orang teman sekelas Fuji duduk disebelah tas miliknya.
‘Ada apa dengan perasaan ini? Kenapa aku merasa sedih…?’
Pandanganku memang tertuju pada pertandingan, namun pikiranku sama sekali tidak berada dilapangan ini. Hubunganku dengan Fuji memang dekat, dan beberapa kali Fuji lebih menggantungkan dirinya padaku. Namun, hingga saat ini aku masih tidak dapat mengerti apa yang ada didalam pikirannya.
PRIIT!!!
Tiba-tiba saja peluit ditiupkan dan kulihat Fuji duduk terjatuh dilapangan. Sepertinya kakinya terkilir karena dia dibantu beberapa orang untuk kembali kedalam timnya. Tepat ketika aku
Tidak lama kemudian, peluitpun berbunyi kembali namun kali ini tanda bagi seluruh pemain untuk beristirahat. Biasanya seluruh pemain akan segera berkumpul dan membahas mengenai rencana mereka. Disaat seluruh perhatian tertuju pada Fuji, Eiji berjalan mendekatiku, dan memintaku untuk memberikan handuk beserta minumannya.
“Kamu tidak apa-apa?,” tanyaku khawatir ketika melihat Eiji yang sempat terjatuh ditengah pertandingan.
“Tidak apa. Jatuh seperti tadi sudah menjadi hal yang biasa didalam pertandingan.”
“Benarkah?”
Eiji mengangguk dan tersenyum sambil memberikan botol minumnya. “Titip, ya…”
Aku mengangguk sambil meletakan botol minumannya disebelahku. Setelah beberapa saat, pertandinganpun kembali dimulai dan sebelum kembali kelapangan, Eiji melemparkan handuknya padaku. Spontan aku menangkapnya dan kulihat dia kembali tersenyum padaku.
Pertandingan keduapun kembali dimulai dan berlangsung seru. Banyak nilai yang dikumpulkan dari pihak sekolah kami, namun hal yang kukhawatirkanpun terjadi. Peluit kembali berbunyi dan kali ini beberapa orang berkumpul pada seseorang yang terjatuh ditengah lapangan.
“Eiji…!”
Aku berjalan menuju urutan bangku paling bawah dan melihatnya berjalan menuju timnya dari kejauhan. Berbeda dengan Fuji yang masih berada ditengah-tengah timnya, Eiji berjalan mendekatiku. Spontan aku mengambil handuk beserta air minumnya.
“K-kamu tidak apa-apa?”
“Ya. Cukup sakit juga…”
Kami duduk bersama dibangku, namun tiba-tiba saja Eiji mengubah posisi duduknya. Posisi yang sering dia lakukan ketika kami didalam pelajaran olah raga, menjadikan pahaku untuk sandaran kepalanya dan menutup wajahnya dengan handuknya.
Setelah meluruskan kakinya, diapun menatapku. Menceritakan beberapa kekesalannya ketika ditengah lapangan. Ada beberapa hal yang tidak aku mengerti, namun aku tetap mendengarkannya sampai dia selesai. Entah mengapa, rasanya aku tidak ingin perasaan ini hilang dariku. Setelah peluit kembali dan suara sorak sorai bergema dilapangan ini, Eiji kembali bangun dan berjalan menuju timnya.
“Aoi, bisa bantu aku?”
Aku sempat diam karena tidak mengerti. Aku ikut berdiri disebelahnya dan dia melingkarkan tangannya pada bahuku.
“Maaf. Kamu jadi bau keringat”
“Hahaha… sudahlah.”
Sejak pertandingan persahabatan ini, aku tidak menyangka hubunganku dengan Eiji semakin dekat. Tidak hanya membantuku disaat pelajaran, dia juga membantuku ketika aku kebingungan dan masalah dengan pikiranku.
Hubunganku dengan Eiji semakin dekat, tetapi tidak dengan Fuji. Disaat pelajaran ekstrakulikuler berlangsung dan Eiji sedang mengumpulkan tugasnya, Fuji dan aku mengunggu dikelas seperti biasa. Selain itu, hari ini guru kami tidak masuk. Beberapa diantara kami banyak yang mengunjungi teman-temannya ditempat lain. Sedangkan aku dan Eiji sudah berjanji akan membuat naskah yang akan kami pentaskan diakhir tahun.
Ditengah keheningan kami, akhirnya aku mulai mengangkat bicara pada Fuji yang duduk disebelahku. “Ne, Fuji. Bagaimana pelajaran dikelasmu?”
“Ya, menarik. Hanya saja ada beberapa hal yang tidak aku mengerti. Selain itu, kamu lihat miniatur di depan ruang kepala sekolah?,” aku mengangguk sebagai ganti jawaban. “Sebentar lagi kelompokku akan mempresentasikannya.”
“Itu hasil kerja kelompokmu?”
“Yap. Bagaimana menurutmu?”
Aku diam sejenak. Jujur saja, karena aku tidak tertarik dengan pelajaran biologis, aku kurang memahami maksud pembuatan miniaturnya itu.
“Kalian membuat miniatur sel, kan? Kurasa sudah cukup menarik dan terlihat jelas.”
“Maksudnya?”
“Ya, kalau gambarannya terlihat jelas, kalian bisa menjelaskan bagian-bagian terkecilnya dengan mudah, bukan?”
“Yap. Benar sekali.”
Kami berdua tertawa dalam sesaat setelah Fuji menambahkan beberapa rencana yang akan dia lakukan bersama dengan teman-temannya. Tiba-tiba saja pikiranku kembali dengan tiga orang temannya itu. Mereka yang selalu membantu dan berada disisi Fuji. Karena penasaran, akhirnya akupun memutuskan untuk menanyakan langsung padanya.
“Fuji, boleh aku tanya sesuatu?,” Fuji mengangguk. “Hm… boleh aku tahu, apa arti ‘sahabat’ bagimu?.”
“Sahabat?,” tanyanya memastikan. “Bagiku, sahabat adalah seseorang yang selalu ada dan mengerti keadaan kita. Selain itu, dia juga sejalan dan sepikir dengan kita. Dengan begitu, kita bisa dengan mudah berinteraksi dan beradaptasi, bukan?.”
“Oh…”
“…dan kamu tahu, hingga saat ini hanya ada satu orang sahabat yang aku percayai.”
“Siapa?”
“Teman lama disekolah lamaku. Bagiku, dia sudah menjadi saudaraku sendiri! Selain itu…”
Masih banyak penjelasan mengenai dirinya dengan sahabatnya. Ditengah dia bercerita, dia menunjukan selembar foto yang dimana terdapat Eiji, dirinya dan dua orang teman perempuan lainnya. Mereka berempat terlihat serasi. Fujipun menjelaskan bahwa mereka berempat sudah menjadi satu tim yang baik. Entah mengapa, mendengar hal itu membuatku merasa sedih sekali.
Tidak lama kemudian, Eijipun datang ke kelas ini. Melihat Fuji yang bernostalgia, Eijipun ikut menambahkan. Melihat mereka berdua bercerita, tambah membuatku semakin merasa jauh dengan mereka. Ya, seakan-akan duniaku dengan dunia mereka berbeda sekali. Karena…
‘…sahabat… apakah itu…?’
Ditengah pergumulanku, tiba-tiba saja Fuji izin keluar untuk ke kamar mandi. Hanya aku dan Eiji didalam kelas ini. “Aoi? Aoi?.”
“E-eh? Kenapa?,” kejutku.
“Kenapa? Ada masalah?.”
Aku menatap Eiji sejenak lalu menundukan kepalaku. “Aku iri dengan kalian. M-maksudku adalah iri dengan persahabatan kalian…”
“Memangnya kenapa? Bukannya kamu bersahabat dengan Ana?.”
Aku menggeleng. “Aku memang dekat dengannya. Tapi kamu sendiri tahu kalau akupun sering berdebat dengannya…”
Kuambil buku tulis dan pensilku, membuka dibagian tengahnya lalu menyandarkan kepalaku diatas mejaku. “Sudahlah. Jadi, bagaimana kita mau membuat naskahnya?,” tanyaku menggantikan topik pembicaraan kami.
Kurang dari 4 hari, akupun selesai membuat naskah drama kami. Sebelum kuserahkan kepada guruku, kuberikan naskah itu kepada Eiji dan Fuji. Pendapat positif yang aku terima dari mereka berdua. Namun, ketika disimulasikan oleh para senior, banyak cercaan dan pendapat negative mengenai naskah yang aku buat. Perasaanku tiba-tiba goyah, dan tanpa memperdulikan sekelilingku, aku langsung berlari keluar dari aula menuju tangga lantai 5, satu-satunya tangga yang jarang dilewati dan terhubung dengan pintu atap gedung.
Di tangga itu aku hanya duduk diam sambil bersandar pada tembok dan menahan air mataku. Kurasakan isak tangis mulai menguasai diriku, namun aku tetap menahannya. Aku tidak ingin mengundang perhatian ataupun mengganggu para siswa lainnya yang sedang belajar.
“Aoi?.”
Tubuhku terhentak mendengar suara yang tidak asing bagiku. Aku tetap diam menunduk tanpa mengubah posisiku.
“Aoi? Kamu tidak apa-apa?”
Aku masih tetap diam. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Tiba-tiba kurasakan dirinya duduk disebelahku dan melingkarkan tangannya padaku, sehingga akupun bersandar pada dadanya.
“Sudahlah. Tidak usah kamu dengarkan perkataan mereka. Naskah yang kamu buat sudah bagus kok! Hanya saja mereka tidak mengerti dan hanya bisa mencela saja…”
“Tidak, Eiji. Aku memang tidak berguna. Naskah yang aku buat memang buruk…”
“Jangan berkata begitu, Aoi. Aku tahu benar bagaimana usahamu membuat naskah ini sesuai dengan permintaan mereka. Kamu sudah membuat sebisamu, sedangkan mereka… hanya bisa mencela saja, bukan?”
“Tetap saja! Tetap saja naskahku gagal, Eiji…!.”
Isak tangisku menjadi-jadi. Kurasakan Eiji memelukku dan mengelus punggungku dengan perlahan.
“Tenanglah. Ini semua bukan salahmu, Aoi. Mereka yang salah…”
Aku menggeleng. “Tidak. Andai saja aku bisa lebih baik…”
“Aoi…” Eiji melepaskan pelukannya. “Aoi, dengarkan aku! Suatu kesalahan pasti ada sebelum mencapai suatu keberhasilan. Butuh banyak latihan dan dipraktekan, dan kamupun sudah melakukannya. Tetapi lihat, mereka hanya bisa memerintah dan berkata seperti itu. Jangan dirimu terjatuh seperti ini, Aoi…”
“Eiji…,” isak tangisku masih menjadi-jadi. Eiji mengeluarkan sehelai tisu dan membantuku menghapus air mataku. “Terima kasih…”
“Tidak apa. Lalu, bagaimana? Ayo kita kembali kekelas, Aoi…”
Aku menggeleng. “Tidak mau. Aku tidak mau kembali. Rasanya begitu memalukan sekali…”
Eiji menepuk pundakku, mensejajarkan pandangan kami lalu tersenyum. “Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa. Bersemangatlah!”
Aku mengangguk perlahan.
“…untuk masalah mereka, biarkanlah aku yang menghadapinya. Aku mengerti jika kamu tidak ingin berbicara saat ini. Tapi kurasa mereka akan mengerti jika aku mejelaskan apa maksud gambaran drama yang kamu inginkan. Tentu saja aku tahu dari sikap dan usahamu dalam membuat naskah ini. Jadi tidak usah khawatir lagi.”
Akhirnya aku mengikuti Eiji dari belakang menuju kelas yang biasa kami gunakan untuk berlatih. Para senior dan guru pengajarku tidak ada di tempat. Hanya ada Fuji dan 2 temanku yang lainnya. Baru aku mau melangkah masuk, suara para seniorpun mulai terdengar. Terburu-buru aku berjalan masuk dan duduk di bangku paling pinggir dekat lemari. Eiji yang menemaniku, meletakan tasnya diatas mejaku.
“Aoi, tenang saja. Kamu tidak usah khawatir.”
Aku mengangguk dan menatapnya berjalan menuju anak-anak yang lainnya. Entah apa yang mereka perdebatkan, namun sepertinya mereka menemukan cara karena beberapa diantaranya sudah mulai berlatih. Melihat ini, tubuhku sedikit menegang dan terasa panas.
‘Apakah tempatku memang bukan disini…?’
“Aoi, mau ikutan tidak?,” tanya Eiji membuyarkan lamunanku.
Aku menggeleng. “Tidak. Nanti saja…”
Salah satu senior yang aku kenal berjalan mendekatiku. “Sudahlah, Aoi. Tidak usah dipikirkan. Perkataannya dia memang menyakitkan. Jadi biarkan saja, ya!”. Dia yang dia maksudkan adalah senior yang pertama kali memarahi dan memaki hasil usahaku. Kebetulan dia tidak ada dan akupun tidak perduli dengannya.
Aku kembali mengangguk. “Ia, terima kasih. Nanti aku akan bergabung. Terima kasih,” balasku sambil menundukan kepalaku.
Walau pentas dilakukan 5 hari lagi, akhirnya pertunjukanpun berjalan lancar. Selama latihan, tidak ada koneksi sama sekali antara aku dengan senior tersebut. Namun semuanya berjalan lancar dan akhirnya di semester akhir, hanya ada kami bertiga yang tersisa di klub ini. Para senior harus konsentrasi dengan ujian mereka dan tidak ada waktu untuk mengambil kelas tambahan.
Selain itu, hubunganku dengan Fujipun semakin menjauh. Perbedaan kelas yang begitu jauh membuat kami jarang bertemu dan berbicara. Tapi karena Eiji, kami masih sering bertemu. Bahkan akupun mendapatkan beberapa teman dari kelas Fuji. Ya, beberapa diantara mereka menyukai Fuji bahkan mengejarnya. Tapi…
‘…mengapa tidak ada yang mengejar Eiji seperti Fuji, ya?’
----oooo----
Di awal tahun pelajaran tingkat akhir, seperti biasa kami mengikuti acara tambahan sekolah, menginap di luar kota. Tema yang dibahas kali ini adalah persahabatan dan percintaan. Rasa suka antar sesama dan lawan jenis.
Ditengah jam istirahatku, salah seorang teman sekelasku, Sakura, menanyakan satu hal yang membuatku semakin berfikir. Saat itu aku sedang berada dikamar Sakura, menemaninya mengambil jaket dan dompetnya.
“Aoi, apa kamu pernah berantem sama Eiji?”
“Eh?” kejutku.
Sakura duduk disebelahku, diatas tempat tidurnya, “Sepertinya kamu tidak pernah berantem atau ribut dengannya, ya?”
Aku menggeleng. “Ada masalah?”
“Tidak. Hanya jarang saja ada yang berteman namun tidak pernah ada keributan sama sekali.”
Aku diam sejenak. Memang selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan segala kekurangan Eiji. Beberapa kali aku merasa kesal dan ingin marah kepadanya. Terlebih dia sudah menipuku 2 kali, sampai sempat aku menangis karenanya. Tapi itu semua hilang ketika aku bertemu dengannya.
“Aoi, bagaimana kalau kamu coba marah sama dia?”
“M-maksudmu aku mengajaknya ribut, begitu?”
“Ya. Cobalah untuk mendiamkannya. Kita lihat apa reaksinya, bagaimana?”
Aku kembali diam, dan tiba-tiba saja Fuji datang. Secara kebetulan, ada sedikit perdebatan antara aku dan dia. Saat Eiji datang, aku langsung menarik Sakura untuk menemaniku pergi menuju kamarku yang berada dipondok lain.
Ide gila Sakura ternyata disetujui oleh teman sekamarku, yang kebetulan aku memang dekat dengannya. Mereka membantuku untuk menghindari Eiji dari siang sampai sore. Berbagai macam alasan diberikan melalui teman-temanku, dan ketika Eiji datang kekamarku, aku langsung bersembunyi dibalik tembok yang tidak terlihat dari pintu depan. Sedangkan teman sekamarku menjelaskan kalau aku sedang berada diluar dan berkeliling sekitar villa.
“Sa-sakura…” bisikku ketika Eiji masih berada didepan kamarku. “Be-benarkah ini tidak apa-apa?”
“Tenang saja. Kalau dia sampai marah, nanti akan aku bantu jelaskan, ya”Aku hanya mengangguk. Jujur perasaanku begitu bingung dan berat melakukan ini semua.
Setelah jam makan malam, kami kembali menuju aula untuk melanjutkan kegiatan kami. Seperti biasa aku dan Eiji duduk bersebelahan, tapi tidak ada satupun diantara kami yang angkat bicara. Eiji sibuk berbicara dengan yang lainnya sedangkan aku sibuk dengan telepon genggamku, dengan maksud menghilangkan keteganganku. Ketika sudah cukup sepi, aku memutuskan untuk langsung bertanya padanya.
“E-eiji…,” dia hanya berdeham sebagai ganti jawaban. “Eiji, kamu marah padaku?”
“Hah?”
Aku menatapnya sejenak lalu memalingkan wajahku. “A-apakah kamu marah padaku?”
“Mengenai?” raut wajah Eiji terlihat bingung.
“… tunggu…,” kali ini aku ikut bingung. “Jangan-jangan… Eiji, kamu tidak marah dari tadi aku diamkan? Seharian aku cuekin, kamu tidak sadar?.”
“Oh, ya?” Eiji menadahkan kepalangan dengan tangannya. “Tidak tuh. Aku hanya mengira kalau kamu memang ingin bersama dengan Sakura saja…”.
Kuakui dengan jujur, sesaat tubuhku menegang dan mulutku terbuka. Perasaan takut dan lega menjadi satu. Aku menghela nafas dan kembali bersandar pada bangkuku. “Ternyata begitu…”
“Hahahaha… Kamu kira aku marah padamu?” aku mengangguk. “Ya, sebenarnya aku marah padamu…,” aku kembali menatapnya. “…tapi tidak apa-apa. Karena… kamu tidak mungkin akan melakukan itu jika tidak disengaja, benar bukan?”
“Eiji!” geramku hanya dibalas tawa olehnya.
Memang benar. Aku tidak bisa marah dengannya. Sekesal apapun, tidak ada kata marah yang dapat kukeluarkan. Selama ini hanya dia yang selalu membantuku dan berada disisiku… tapi… sebenarnya, apa aku ini dimatanya…? Apa hanya karena aku selalu membantunya? Atau karena dia merasa tidak enak denganku…?
Di puncak acara, tidak sedikit dari kami menitikan air mata. Tema bahasan yang diberikan oleh kami tidak memandang bulu sama sekali. Tidak hanya anak perempuan, anak laki-lakipun banyak yang menitikan air mata. Beruntung ruangan ini dibuat gelap, sehingga tidak ada seorangpun yang mengetahui selain teman disebelahnya.
“Aoi… kamu tidak apa-apa…?”
Aku menatap Eiji sesaat. Ingin rasanya aku menangis, namun sekuat tenaga aku menahannya. Aku tidak ingin menangis lagi didepannya.
“Kalau kamu ingin menangis, menangis saja… tidak apa…”
Eiji meletakan tangan kirinya pada bahuku dan mendekatkan tubuhku padanya. Tangan kiriku memang sedang bertautan dengan tangan Fuji, namun tanpa kusadari akupun bersandar pada bahu Eiji. Tangannya yang hangat mengelus lenganku dengan perlahan.
Tepat ketika aku mulai terbawa suasana, tiba-tiba saja Eiji berbisik, “Hey Yasu, kamu menangis?”
“Diamlah kau, Eiji!” kudengar isak tangis Yasu walau perlahan. Suasana sedih berganti suara tawa diantara kami berenam, walau tidak terlalu keras.
Setelah acara berakhir, aku memutuskan untuk berjalan mengelilingi sekitar vila bersama dengan Fuji dan Eiji menuju lapangan basket yang tidak terlalu jauh. Dengan semangat, Fuji bergabung dengan teman-temannya yang sedang bermain. Tapi Eiji tidak ikut bergabung, berganti menemaniku duduk disebelahku.
“Ne, Eiji… boleh aku tanya sesuatu?”
“Ya, kenapa Aoi?”
Aku diam sejenak dan menatapnya. “Ingat penjelasan tadi? ‘…sahabat baru bisa dikatakan sebagai sahabat jika diantara mereka saling mengakui’, kan? Lalu… menurutmu bagaimana?”
“Hmm? Maksudmu?”
“Menurutmu… apa aku ini? Apa aku sahabatmu?”
Eiji tersenyum padaku dan menatap langit. “Ya…” aku diam menatapnya. “Bagiku, kamu adalah sahabatku. Ah tidak… lebih dari itu, Aoi… “ kurasakan perlahan Eiji meletakan tangannya diatas telapak tanganku yang berada diantara tubuh kami berdua.
“Eiji….”
“Anak-anak! Sudah malam! Kembali kekamar masing-masing!” seru para guru menggunakan pengeras suara.
Eiji dan aku saling menatap dan tersenyum. “Sampai besok ya, Eiji. Terima kasih…”
Eiji menggeleng. “Tidak. Akulah yang harusnya berterima kasih padamu, Aoi…”
---xxx----
Setelahnya dari kegiatan ini, hubunganku dan Eiji semakin dekat. Kedekatanku semakin bertambah seiring bertambahnya juga kegiatan tambahan yang diikuti oleh Eiji. Salah satunya adalah futsal. Dia memang menjabat sebagai wakil, Fuji sebagai kapten tim dan aku sebagai manager timnya.
Latihan berlangsung cukup keras. Tidak hanya latihan diakhir pekan. Latihan di saat liburan sering dilakukan sehingga mau tidak mau akupun harus tetap datang dan memperhatikan mereka semua. Hinga akhirnya dilatihan terakhir, sebelum pulang Eiji memanggilku.
“Kenapa, Eiji? Ada yang sakit?” tanyaku sambil membuka kotak obat yang selalu aku bawa kemana-mana.
“Tidak. Hanya saja… Besok aku jemput, bagaimana?”
“Boleh saja. Tapi, apa tidak apa? Bukannya jalan dari rumahku dan tempat kita bertanding nanti berbeda arah?”
“Tidak apa. Lagipula kamu juga tidak tahu arahnya, bukan?” aku mengangguk malu. “Jadi sekalian saja, ya. Lalu…”
“Hmm…?”
“Ti-tidak apa-apa. Yuk kita pulang.”
Aku tersenyum dan mengikutinya berjalan menuju lapangan indoor, tempat teman-teman lainnya berkumpul dan kembali membicarakan strategi apa yang harus mereka gunakan.
Keesokan harinya, Eiji sudah menjemputku 2 jam sebelum pertandingan bersama dengan Fuji. Sebelum menuju tempat bertanding, kami membeli beberapa minuman dingin untuk seluruh anggota tim. Setelah siap, kamipun melanjutkan perjalanan menuju tempat tersebut.
Ternyata disana teman-teman yang lainnya sudah berkumpul. Fuji langsung berjalan menuju teman-teman yang lainnya bersama dengan Eiji. Aku sendiri merapikan beberapa minuman dan buku catatanku. Pelatih kami kembali memberikan beberapa penjelasan dan dukungan semangat. Ya, itulah yang dibutuhkan oleh tim pada saat ini.
Ketika peluit berbunyi, masing-masing dari mereka langsung bersiap-siap dipinggir lapangan. Akupun ikut berjalan bermaksud untuk melihat mereka lebih dekat. Tiba-tiba saja, seseorang menepuk pundakku dan berbisik, “Kita pasti menang!”. Ketika kulihat, ternyata Eiji yang berbisik padaku dan melambaikan tangannya padaku. aku tersenyum dan memberikan kode semangat padanya.
Pertandinganpun berlangsung sengit. Beberapa bulan sebelumnya, kami pernah bertanding dengan mereka, namun kekalahan yang kami dapatkan. Dengan penuh latihan keras dan semangat seluruh tim, akhirnya kami sampai di kejuaraan terakhir dan bertemu dengan lawan yang sudah lama ingin kami temui.
Bertanding dikandang musuh ternyata tidak terlalu buruk. Sekolah yang sebelumnya kalah dari salah satu tim sekolah ini, ikut mendukung kami. Pertandingan begitu panas hingga langit mulai berganti warna. Hingga didetik-detik akhir, kami mendapatkan nilai yang sama. Mau tidak mau di adakan waktu tambahan dengan ‘tembakan pinalti’. Usaha yang berat bagi seluruh ‘penyerang’ dan penjaga. Ketika seluruh mata tertuju pada gawang musuh, tanpa kusadari aku berjalan menelusuri pinggir lapangan menuju gawang tempat Eiji berada.
“Eiji! Berjuanglah!” seruku walau aku yakin dia tidak akan mendengarku, karena suara dukungan masing-masing sekolah yang begitu keras. Tapi aku terkejut ketika Eiji merapikan topinya, dan tersenyum padaku sambil mengancungkan jempol padaku.
Satu demi persatu para penyerang bergantian menembakan bola mereka kedalam gawang musuh namun kedudukan masih sama. Hingga disaat kesempatan terakhir, Eiji bisa menghalau bola masuk ke gawang, sedangkan Fuji bisa membobol gawang musuh. Suara sorak sorai langsung memecah dan semua berhambur memasuki lapangan.
Perasaan senang dan bangga memenuhi pikiranku. Baru pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini.
“Eiji!”
“Aoi! Kita menang!”
Tanpa kusadari Eiji langsung melingkarkan tangannya pada leherku. Memelukku bergitu erat karena rasa senang yang tidak bisa ditahan lagi. Akupun membalas memeluknya.
“Ya. Selamat Eiji. Kita menang!”
“Ya!” serunya dengan antusias lalu dia berlari berkumpul dengan yang lainnya. Karena semakin malam, akhirnya acara penutupan segera dimulai dengan pemberian piala kepada masing-masing juara.
Lelah? Tentu saja. Semuanya merasa lelah setelah bertanding, namun rasa senang tidaklah bisa menutupi perasaan lelah tersebut. Seselesainya acara penutupan, beberapa anggota ada yang langsung bergegas pulang, dan ada yang melanjutkan kegiatan mereka menuju rumah temannya. Seperti Fuji, dia memilih ikut bersama dengan temannya untuk makan malam dan berkaraoke. Sedangkan Eiji memutuskan untuk segera pulang, walau sebelumnya dia mengantarku dulu. Sepanjang perjalanan, Eiji masih membahas mengenai pertandingan tadi. Aku yang duduk disebelahnya hanya tersenyum mendengarnya.
“Kamu lihat tadi! Pemain yang memakain baju nomor 5 itu sungguh bagus! Sayangnya tadi bolanya meleset dan beruntung aku bisa menangkapnya!”
“Ya, kalau tidak sampai kamu tangkap, kita bisa kalah!”
“Hahaha.. benar-benar.” Balasnya. “Nah, sudah sampai…”
“Ah, ya… Terima kasih sudah mengantarku pulang,” pamitku sebelum aku turun dari mobilnya.
“Aoi…”
“Hmm?”
“Boleh bicara sebentar?”
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, dan kebetulan hanya ada kakakku dirumah. “Ya… kamu mau masuk dulu kedalam?”
Eiji menolak. Dia menggeleng lalu menatapku. “Aoi… sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan…”
“Mengenai apa, Eiji?”
Perlahan tangan Eiji meraih tangan kananku dan membawanya dihadapannya. “Aoi… Maukah kamu melanjutkan hubungan ini ketahap yang lebih serius?”
Tubuhku terhentak dan detak jantungku berdetak cepat. “A-apa… Tapi…”
“Kenapa? Adakah seseorang yang kamu sayangi selain aku?”
Aku memalingkan wajahku. “Maaf… aku… aku tidak tahu, Eiji…”
“Kenapa, Aoi?
Aku hanya terdiam. Selain Eiji, ada satu orang yang juga dekat dan baik kepadaku. Sanada Genichirou, teman sekelas kakak kelas yang cukup dekat denganku, hanya saja aku tidak tahu bagaimana pandangannya kepadaku.
“Aoi? Kenapa?”
Aku menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku bingung, Eiji…”
Eiji tersenyum. “Baiklah… ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan sebelumnya padamu, Aoi…,” kali ini aku menatapnya dengan heran. “Waktu itu kamu pernah bertanya padaku mengenai pandanganku mengenai dirimu, bukan? Sekarang bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa pandanganmu mengenai diriku?”
Aku diam sejenak menatapnya. “Eiji… pintar… baik dengan teman-teman… jago olah raga… disukai oleh guru-guru dan teman-teman sekelas.”.
Kali ini Eiji yang menggeleng. “Bukan itu yang aku maksudkan. Aoi, apa kamu membenciku?”
Aku diam menggeleng.
“Apa kamu menyayangiku?”
Aku mengangguk.
“Bagaimana kalau… kalau saat ini aku pergi meninggalkanmu, Aoi?”
“Eiji, kamu jangan menipuku lagi! Kamu tahu, aku sedih kalau kamu pergi seperti yang pernah kamu ceritakan padaku”
“Karena itulah… berarti kamu ingin kalau aku bisa selalu disisimu, bukan?” Aku mengangguk. “Jadi, maukah kamu menerimaku, Aoi? Aku berjanji akan selalu berada didekatmu…”
Kali ini aku mengangguk perlahan dan langsung Eiji kembali memelukku seperti dilapangan pertandingan tadi. “Terima kasih, Aoi. Aku senang mendengarnya…”
Aku mengangguk kembali dan membalas memeluknya. Ya… perasaan senang seperti ini belum pernah aku rasakan sebelumnya. Walau singkat, biarkan saat-saat ini menjadi saat bahagia yang tidak bisa digantikan oleh apapun…
Hubungan dan kedekatanku dengan Eiji tidak mengubah apapun. Semua orang terlanjur mengetahui kalau kedekatan kami hanyalah sebatas teman. Tapi itu bukan menjadi masalah bersar untukku. Selama tidak ada yang meledek ataupun membicarakan kami, bagiku itu sudah cukup. Selain itu, Eiji juga tidak keberatan dengan keputusan yang kubuat.
--ooo---
“Ah, tidak terasa sudah 3 tahun berlalu...,” gumamku sambil memasukan kembali kedua kartu tersebut kedalam dus kecilku. Merasa jenuh dan terbawa suasana, aku memutuskan untuk mengakhiri acara berberes ini. Saat kurapikan, kutemukan sebuah kotak musik berbentuk pelangi dengan kaca kristal sebagai bentuk dasar pelanginya. Ketika lagu itu dimainkan, kaca kristal itu berubah warna seperti warna pelangi. Kuputuskan untuk membawa kotak musik itu keruang tengah.
Kuletakan kotak musik itu diatas meja sambil memainkan lagunya. Kusandarkan tubuhku pada sofa sambil memeluk bantal pemberian Genichirou. Aku kembali teringat ketika Genichirou pertama kali memberikan kotak musik ini untuk membantuku menenangkan diriku.
Ya… menenangkan diriku dari masa-masa terburuk dalam hidupku…
Orang yang selama ini aku percayai, ternyata membuat hidupku semakin hancur dan bahkan dia… dia…
---ooo---
Di akhir tahun ajaran ketiga ini, hubunganku dengan Eiji mulai berkurang. Teman-teman Eiji semakin banyak, komunikasi kami semakin berkurang, dan beberapa temanku mulai mendekatinya. Ingin aku marah dengannya, namun tidak ada sepatah kata keluar dari mulutku. Eiji yang begitu dekat denganku, terasa sangat jauh sekali.
Banyak pelajaran dan tugas membuat pikiran semakin terasa lelah, ya… aku sangat mengerti itu. Eiji semakin sibuk dengan pelajaran tambahannya, sedangkan aku berjuang mempertahankan gelar kejuaraanku. Kerenggangan jarak dan komunikasi, ternyata disadari olehnya.
“Aoi, kamu tidak langsung pulang kan?” tanyanya ketika kami berjalan menuju gedung kantin di jam pulang sekolah.
“Tidak. Ada apa?”
Eiji masih diam sejenak lalu mengajakku untuk duduk disalah satu bangku. “Aoi, apa kamu menyadari sesuatu?”
“Hmm? Menyadari sesuatu? Tentang?”
Eiji memalingkan wajahnya. “Hubungan kita. Tidakkah kamu merasakan kalau hubungan kita semakin jauh?”
“Ternyata kamu menyadarinya, Eiji…”
“Ya. Maafkan aku… Seharusnya aku menyadari kalau aku terlalu sibuk. Maafkan aku…”
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa. itu sudah keputusanmu untuk mengikuti kelas tambahan, bukan? Tidak apa. Aku mendukungmu, kok” kucoba sebisaku untuk tersenyum, namun sulit sekali rasanya.
“Aoi, sekali lagi maafkan aku…”
“Tidak apa-apa, Eiji… tidak apa-apa…”
‘Ya.. tidak apa-apa…’
Kelonggaran hubunganku dengan Eiji ternyata berdampak buruk. Sikap Eiji mulai tidak terlihat seperti Eiji yang kukenal. Beberapa kali dia sering memarahiku untuk beberapa hal yang terkadang tidak aku mengerti. Aku mencoba untuk bersabar, namun terkadang aku sungguh tidak mengerti… mengapa dia begitu berbeda dengan Eiji yang dulu… Aku mengerti jika dia menyayangiku, namun kenapa dia selalu terlihat tidak memperdulikanku sama sekali…
Kelonggaran hubungan kami terus berlangsung hingga akhir tahun smaku ini. Setelah mengikuti seluruh ujian, seluruh murid diizinkan untuk beristirahat dan melakukan aktivitas sesuai dengan apa yang mereka suka, dengan catatan tidak mengganggu adik-adik kelas yang gantian menghadapi ujian sekolah.
Perjalanan sekolah tinggal 1 minggu. Untuk memanfaatkan waktu tersebut, beberapa kali Eiji mengantar dan menemani sesaat di rumahku.
“Aoi, ada hal penting yang ingin aku tanyakanm,” ucapnya ketika aku baru saja meletakan dua gelas air minum diruang tengah ini.
“Kenapa?” tanyaku bingung lalu duduk disebelahnya.
“Aoi, jawablah dengan jujur. Apa kamu sudah tidak menyukaiku lagi?”
“Hah? Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu, Eiji?”
Eiji memalingkan wajahnya. “Aku tahu kalau kamu sudah mengerti situasi kita saat ini. Tapi aku tidak percaya kalau kamu sedang dekat dengan orang lain!”
“Hah?! A-apa maksudmu, Eiji? Aku tidak mengerti…” takutku.
“Baiklah. Akan aku perjelas. Aoi, siapakah laki-laki yang beberapa hari ini yang selalu mengantarmu atau menjemputmu ketika aku tidak bisa melakukannya?”
Aku terdiam sejenak. “G-Genichirou, maksudmu? Eiji, dia itu teman Akai, kakak kelas kita. Jadi sudah sewajarnya kalau hubungan kami dekat dan…”
“…berarti… apa kamu sudah tidak menyayangiku lagi, Aoi?”
“Ti-tidak. Bu-bukan begitu…” panikku. Aku tidak ingin ada kesalah pahaman diantara aku dan Eiji. Tapi sepertinya Eiji tidak mengerti dengan apa yang aku katakan padanya.
Tepat ketika Eiji hendak pergi, kuraih tangannya untuk menahan langkahnya. “Eiji, ada apa dengan dirimu? Kenapa kamu berubah?”
“Bukan aku. Kamu yang berubah, Aoi!”
“A-aku? Kenapa dengan diriku?”
“Benarkah kamu masih menyayangiku seperti dulu?” aku mengangguk. “Kalau begitu…”
Tiba-tiba saja Eiji berbalik, menahan tangan kiriku lalu mendorongku keatas sofa sehingga dia berada diatasku. Merasa takut dengan tindakannya, aku mencoba untuk melepaskan diriku, namun tenaganya begitu kuat menahan tanganku, sehingga dia menahan kedua tanganku dengan satu tangannya.
“Aoi, jika kamu memang sayang padaku, maka jadilah milikku seutuhnya…”
“Ti-tidak!”
Perlahan Eiji mulai melepaskan dasiku lalu mengikat kedua tanganku jadi satu. Tindakannya dia lanjutkan dengan perlahan membuka kancing kemeja seragamku dan dilanjutkan dengan melonggarkan pakaiannya.
“Eiji! Hentikan! Jangan lakukan ini!” histerisku.
“Sttt… Aoi, bukankah kamu menyukaiku? Seharusnya kamu merasa senang…”
“Ta-tapi…” kurasakan suaraku bergetar dan mulai terisak. “A-aku.. aku takut…”
“Tenang.. aku tidak akan menyakitimu. Tenang saja, ya…”
“Ta-tap-!” ucapanku terpotong ketika Eiji mulai menciumku.
Ciuman yang cukup lama dan dalam, sampai kurasakan jantung berdetak begitu cepat seiring nafasku yang terputus-putus. Tangan Eiji terus menyentuh diriku hingga akhirnya akupun mencoba berteriak untuk menghentikannya.
“E-Eiji! Henti-!!”
Tangan besarnya menutup mulutku. Rasa takut semakin menghantuiku.
“Aoi, tenanglah. Aku akan membuktikan kalau aku menyayangimu… dan jika kamu memang menyayangiku, berikanlah dirimu padaku…”
Aku menggeleng tidak percaya dengan apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan. Aku terus mencoba memberontak hingga akhirnya perlahan kurasana tangan Eiji menyentuh kakiku dan memasuki sela rok seragamku. Aku semakin menatapnya penuh ketakutan dan airmatapun mulai membasahi wajahku.
“E-eiji.. Ja-jangan…!!”
Ditengah ketakutanku, tiba-tiba tubuh Eiji terpental dan jatuh ke lantai. Mataku langsung tertuju pada seseorang yang berdiri dihadapanku dengan wajah kakunya.
“Apa yang kamu lakukan!” teriak Eiji.
“Harusnya aku yang bertanya padamu”
Perlahan dia membuka jaket kuningnya, membantuku untuk duduk, melepas ikatanku dan melingkarkan jaketnya pada tubuhku. “Aoi, tenanglah…”
“Ge-genichiou…” ucapku perlahan.
“Kamu!!”
Eiji mencoba untuk memukul Genichirou namun dengan mudah dihindarinya dan berbalik menjatuhkan dirinya.
“Lebih baik kamu cepat pergi sebelum aku menghubungi polisi mengenai tindakanmu ini!” Eiji diam menatap Genichirou dengan penuh ketakutan lalu langsung pergi keluar dari rumahku.
Genichirou berjalan mendekatiku dan duduk disebelahku yang sedang duduk menjauh karena ketakutan.
“Aoi? Kamu tidak apa-apa?”
Pandanganku masih kosong. Pikiranku masih tidak percaya dengan segala tindakan yang dilakukan oleh Eiji. Seseorang yang selalu aku percaya, kini menghancurkan hidupku. Tanpa kusadari air mata kembali mengalir dari sudut mataku.
“Aoi… tenang… sudah tidak apa-apa…”
Perlahan tangannya menarikku dan memelukku seperti seorang anak yang terbangun dari mimpi buruknya. Perasaan lega bercampur takut masih menjadi satu. Akupun kembali menangis dipelukannya. Tangan besarnya dengan perlahan mengelus punggungku, membuatku semakin ingin mengeluarkan kegalauan didalam pikiranku.
“Ya menangislah Aoi… keluarkan segala kekhawatiranmu… namun kamu tidak usah khawatir, karena aku akan selalu berada diisisimu…”
---ooo---
“Aoi…Aoi…?”
Perlahan kubuka kedua mataku dan ternyata Genichirou berlutut disebelahku sambil mengelus rambutku. Sepertinya aku ketiduran di sofa dan tidak kusadari hari sudah malam.
“Geni…”
Kubangunkan diriku dan ternyata kurasakan wajahku yang terasa lembab.
‘A-aku … menangis?’
“Aoi? Ada apa dengan dirimu? Kenapa kamu menangis? Ada masalah?”
Aku menggeleng. Tanpa persetujuan darinya, aku langsung memeluk dirinya dan menyandarkan kepalaku pada lehernya. Kurasakan tubuh Genichirou yang sempat menegang dan terlihat bingung. Tetapi tidak ada satu katapun yang dia keluarkan, hanya membalas memelukku dan mengelus punggungku.
“Geni… ingat kotak musik itu?”
Genichirou menatap kotak musik itu sejenak lalu kembali meletakan kepalanya pada bahuku.
“Ya, tentu saja aku ingat. Ada apa Aoi?”
Kulepaskan pelukanku dan mengajaknya duduk disebelahku. “Se-sebenarnya aku kembali teringat… pada kejadian itu…”
“A-apa! Ke-kenapa bisa?”
Aku menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku tidak mengerti, Geni… Aku…”
“Ya… sudah, jangan bicara lagi.”
Suaraku bergetar dan air mata kembali membasahi wajahku. Genichirou menarik bahuku, membiarkanku bersandar pada dadanya, dan kedua tangannya dia lingkarkan ketubuhku. Tanganku hanya bisa memegang lengan tangannya yang saling berkait dan menutup kedua mataku.
“Geni… terima kasih…”
“…untuk?”
“Jika saat itu kamu tidak menolongku, aku tidak tahu apa yang…”
Genichirou melepaskan pelukannya, membalikan arah tubuhku, lalu meraih wajahku dan menciumku dengan lembut. Sesaat dia memberikan jarak untukku mengambil nafas dan kembali menciumku. Aku hanya bisa pasrah dan meletakan peganganku pada bahunya.
“Geni…” aku kembali bersandar padanya dan diapun memelukku.
“Itu hanyalah mimpi buruk. Buanglah dan lupakanlah. Jangan biarkan mimpi burukmu mengganggu tidur indahmu, Aoi…”
Aku kembali teringat pada mimpi burukku. Setelah kejadian itu, Eiji tidak pernah menemuiku ataupun mengajakku berbicara. Disamping itu, kejadian Eiji menyerangku terus menghantuiku. Menjadi mimpi buruk yang tidak pernah hilang dariku. Ketika itu, Genichirou datang mengunjungiku dan memberikanku sebuah kotak musik ini. DIa mengatakan kalau aku harus memainkan lagunya ketika aku mau pergi tidur.
Ya, sesuai dengan apa yang diharapkannya. Mimpi buruk itu berangsur-angsur menghilang. Berkat itu, akupun bisa kembali tidur dengan tenang tanpa diganggu oleh ingatan itu.
“Oh ya, Aoi… kemana Kana?”
“Dia? Tadi siang dia kerja kelompok dirumah temannya. Lalu malam harinya, dia menemani Alfred menonton film baru. Semoga saja bukan film horor lagi…”
Mendengar pernyataanku, kami berdua tertawa.
“Aoi…,” aku berdeham sebagai ganti jawaban. “Tutup matamu sejenak…”
“Eh?”
“Lakukan saja…”
Aku diam dan menutup kedua mataku seperti permintaannya itu. Kurasakan Genichirou berpindah tempat, pergi menjauhiku dalam sesaat lalu kembali sambil meraih tangan kananku.
“Sekarang, bukalah matamu…”
Kubuka mataku dengan perlahan dan sebuah bola kristal pada genggamanku. Bola yang berukuran telapak tangan ini memiliki warna yang indah. Warna pelangi.
“Ini…”
Genichirou meraih kembali bola tersebut, lalu menekan salah satu sisinya sehingga terbuka. Lalu, dia mengambil sesuatu dari dalamnya.
“Ge-geni…”
Genichirou meletakan bola itu kembali pada genggaman tangan kiriku, lalu memakaikan sebuah cincin kejari manisku.
“Aoi… jika waktu itu adalah tanda bahwa aku akan selalu disampingmu, kini aku kembali lagi mengikat janji. Aku, Genichirou, akan selalu berada disisimu, Aoi…”
Kurasakan jantungku berdetak cepat dan airmata kembali keluar dari sudut mataku. Kubuka kedua tanganku dan menubruknya, sampai membuat Genichirou kehilangan keseimbangan dan akupun berada diatasnya.
“Terima kasih, Geni…”
“Lalu, jawabanmu?”
Aku tersenyum sambil menatapnya. Kuseka rambutku dibalik telinga lalu kembali mendekatkan wajah kami dalam beberapa saat. Disela kami mengambil nafas, Genichirou menambahkan, “Selamat ulang tahun, Aoi…”
Aku hanya bisa tersenyum dan melingkarkan tanganku pada tubuhnya. Membiarkan dia memelukku dan mendekatkan wajahnya padaku. Ya, itu semua karena aku percaya padanya. Dia tidak akan berani berbuat macam-macam padaku jika kita belum menikah. Itulah janjinya padaku yang selalu membuatku semakin sayang padanya.
---ooendooo----
^_____^ hehehehe.. akhirnya kelar juga dan kesampean juga buat cerita ini..Terima kasih sudah membaca ya ^___^b
hehehehe~ ne, Von n kachan~ janjiku sudah aku penuhi~ ^___^
untuk batas ----xxx--- sampai selesai, itu hanyalah karangan dan imajinasi saja~ hahaha.. berhubung melanjutkan cerita dari atarashi kazoku~ sedangkan untuk sisanya~ yaaa… ya… begitulah ^____^ hanya 3 orang yang mengetahuinya dengan pasti~
jya~ bye2~
No comments:
Post a Comment