err...pertama2 maaf sudah lama banget... (untuk cerita ni n beberapa cerita lainna.. gomen ne...)
lalu untuk soal nama... Ou_chan, gomen ne.. ToT ak benar2 masih bingung mana yang nama n mana yang nama keluarga..jadi untuk kali ini, aku gunakan nama keluargamu sbagai namamu, ya...(d timpuk –seenak enaknya ganti nama orang) aiko_chan, thanks buat pemberitahuan n comment na ^^
ok..dari pada panjang2 lagi, silahkan dibaca ^^ n untuk kali ini cerita na rada (banget) panjang... jadi, kuharap bis baca ga sakit mata ato sakit pinggang. (dagh siapin P3k di tangan Gen_chan)
----------------000000000000000000000--------------
Characters n Positions:
· Kentaro Kanesaki (26)
· Ren Yagami (25)
· Aiko (12): adik Kane_chan
· Aoi (6): adik Ou_chan
Rat: ... (menurut kalian?)
Song: depature_rurouni kenshin
Desc: ortu masing2... ^^
Ide: tokoh dari Ai (aiko)_chan... n cerita dari SanaYuki yang akan aku buat sebagai selingan... tapi diadaptasi pada akhirnya... yang SanaYuki? Hahaha.. tidak aku buat (publish) karena dagh ada d sini kan??
------0000000Part 2000000000------
Dunia luar tidaklah seindah dengan dunia yang kita bayangkan. Banyaknya petualangan, pengalamanan, keindahan, dan berbagai macam aktivitas lainnya tidak seindah dengan apa yang sudah sering kali di dengar ataupun dibayangkan. Kenyataannya dalam menjalankan kehidupan pada saat ini sangatlah sulit.
“Bu, dunia diujung sana seperti apa ya?” seorang anak kecil berambut hitam lurus menghampiri ibunya yang sedang duduk disebuah bangku taman rumah. Kedatangannya itu disambut dengan pelukan hangat. “Apakah diluar sana sama menyenangkan seperti ini?”
Sang ibu merapikan rambut coklatnya sejenak, lalu menggendong anaknya yang baru berumur 6 tahun itu ke pangkuannya. “Tidak semua yang kamu lihat akan sama dengan apa yang kamu dengar, Yagami” jawaban ibunya dibalas dengan raut bingung dari Yagami kecil. Ibunya tersenyum lembut dan berkata, “Suatu saat nanti kamu akan mengerti maksud perkataan ibu”
“...mi...Yagami... Yagami?!” suara seseorang semakin keras seiring membuyarkan lamunannya. Yagami yang sedang duduk dibangku tengah kuil ini terhentak dan beruntung tubuh kecilnya tidak menghantam tanah karena ditahan oleh seseorang yang membuyarkan lamunannya itu. Kanesaki. “Maaf. Kamu baik-baik saja?”
Kanesaki membantunya untuk kembali keposisi awal, karena saat ini dengan tangan kirinya dia menahan tubuh Yagami yang hampir terjatuh itu. “Ya, aku baik-baik saja” jawabnya singkat. Langit malam menutupi rona wajah Yagami yang mulai berubah itu.
“Sedang apa kamu disini? Kenapa tidak masuk ke dalam?” Kanesaki duduk disebelah kanan Yagami, meletakan katana yang selalu dia bawa disebelah kanannya dan menatap Yagami sambil memberikan sebuah makanan yang terbungkus plastik. “Mau takoyaki?” tawarnya.
Yagami menggeleng pelan dan kembali menatap langit. “Kanesaki, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Kanesaki berdeham ringan sebagai ganti jawaban. “Bolehkah aku tahu alasan kamu berada disini?”
Kanesaki menghela nafas sejenak dan tersenyum. “Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang...” ucapnya sambil ikut menatap bintang yang bertaburan dilangit malam.
.......................
“Tolong... Tolong kami...” suara lemah seseorang perempuan disuatu malam diujung jalan. Kentarou Kanesaki, yang berumur 18 tahun baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan dalam perjalan pulangnya menemukan seorang ibu bersandar pada pohon dengan seorang anak perempuan yang masih kecil duduk disisinya.
Kanesaki yang tergerak hatinya langsung mendekati ibu tersebut. “Ibu. Ibu tidak apa-apa?”
Kanesaki terkejut sekali. Ternyata saat dilihat lebih dekat, tubuh ibu tersebut sudah bersimbah darah dan tatapan anak perempuannya itu terlihat kosong.
“Nak, tolong bawa anak ini jauh-jauh. Ibu mohon...” nada suaranya semakin lemah.
“Ibu sendiri bagaimana?”
Ibu itu hanya menggeleng. “Tidak apa-apa. Yang terpenting bawa anak ini jauh-jauh dan...” ibu tersebut mengeluarkan sebuah kartu beserta kalung hitam yang terbuat dari tali. “...berikan ini kepada orang yang namanya tertera dialamat ini...”
Kanesaki masih bingung dengan keadaan yang baru saja dia lihat. Tidak lama kemcudian terdengar suara kelompok orang yang sepertinya sedang berlari menuju mereka. Kanesaki langsung membawa lari anak tersebut bersembunyi diseberang jalan. Ternyata ada sekitar 7 orang laki-laki mengepung ibu tersebut.
“Dimana anak itu?!” tanya seorang laki-laki yang bertubuh besar, berambut ikal dan berwajah kasar. Ibu tersebut hanya diam lalu ditampar oleh laki-laki itu. “Apa kamu tidak dengar perkataanku?!”
“Tidak akan aku biarkan Aiko sepertimu! Aiko masih terlalu kecil dan tidak aku biarkan dia menerima pengajaran negatif darimu!” seru sang ibu dengan tenaga yang ada. “Hanya dia satu-satunya yang tidak akan aku biarkan kamu mengubahnya menjadi seorang pembunuh sepertimu!”
“Pembunuh?” pikir Kanesaki yang masih memperhatikan pertengkaran tersebut sambil memeluk anak kecil tersebut kearah yang berlawanan.
“Jalan kehidupan Sanada sudah seperti itu. Tidak ada yang bisa mengubahnya!”
“...Tapi tidak dengan Aiko!” nafas ibu tersebut terputus-putus. “... selama ini... aku...hanya bisa diam saja melihat ketiga anakku... diajarkan... bahkan terbunuh karenamu... tapi... Aiko...Aiko... dia itu perempuan...dan...”
“Aku tidak perduli!” seru laki-laki itu dan menarik kerah baju ibu tersebut. “Sekarang katakan padaku, dimana anak itu?!”
Wajah ibu itu terlihat lemah sekali. Sesaat Kanesaki menyadari bahwa ibu tersebut melihatnya dan seakan-akan berkata, “Lari... bawa anak itu lari sekarang juga”
Ibu itu hanya tersenyum miris. “... apapun usahamu, itu hanya sia-sia...” tidak lama kemudian, nafas ibu itupun berhenti.
Kanesaki hanya bisa diam membatu sambil memeluk anak itu lebih erat. Kelompok itu segera meninggalkan ibu tersebut dan yang tertinggal hanyalah Kanesaki dengan anak yang berada dipelukannya.
“Bagaimana ini... Tidak mungkin aku pulang dengan membawa anak ini...” gumam Kanesaki setelah memeriksa tanda pengenal anak perempuan tersebut yang tergantung dilehernya. “Kalau aku membawa dia ketempatku, bisa-bisa usaha ibunya menjadi sia-sia”. Akhirnya Kanesaki memutuskan untuk membawa anak itu ketempat yang berdasarkan kartu yang diberikan kepadanya. “Aiko-chan, ayo kita berangkat”. Tatapan Aiko masih saja kosong. Saat Kanesaki membawanya pergi, tatapan Aiko masih tertuju pada ibunya yang sudah tidak bernyawa itu.
Sekitar 30 menit mereka sampai pada tempat yag dimaksud. Kuil yang mempunyai gerbang yang tidak terlalu besar namun mempunyai halaman yang luas. Perlahan Kanesaki mencari seseorang disekitar kuil dan akhirnya menemukan seorang laki-laki memakai pakaian putih diseluruh tubuhnya dengan sebuah kalung pada tangannya. “Maaf mengganggu malam-malam” sahut Kanesaki. “Bisakah saya bertemu dengan seseorang yang bernama Ue-san?”
Laki-laki itu mengangguk dan mengatakan bahwa dialah orang yang Kanesaki cari. Kanesaki dan Aiko diajak kedalam oleh Ue-sama, dan Kanesakipun mulai menceritakan kejadian yang baru saja dia lihat serta memberikan kalung titipannya.
“Saya mengerti” Ue-sama menerima kalung tersebut. “Kalau begitu...” Ue-sama menunjukan sebuah ruangan yang akan dipakai oleh Aiko. Namun saat Kanesaki hendak meninggalkannya, tiba-tiba saja Aiko yang tingginya tidak sampai sepinggang Kanesaki itu memeluk lutut Kanesaki dengan erat.
“Aiko...” Kanesaki menunduk untuk membuat tatapannya sejajar dengan Aiko. “Kakak harus pergi dulu...” Aiko yang masih berumur 4 tahun itu memeluk leher Kanesaki dengan erat dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Kanesaki. Bahkan saat Yoko-sama hendak menggendong Aiko, langsung ditolak mentah-mentah olehnya. Sejak malam itu, Kanesaki memutuskan untuk tinggal dengan Aiko di kuil dan merawatnya sebagai adiknya sendiri.
......................
“Lalu, bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Yagami penasaran.
Kanesaki tertawa miris. “... aku tidak tahu. Sejak kecil aku tinggal dipanti asuhan. Namun sejak aku bertemu dengan Aiko, aku memutuskan untuk keluar dari panti tersebut walaupun sesekali aku mengunjungi panti tersebut...” Yagami hanya tertunduk diam mendengarkan penjelasan Kanesaki. “Hey, sudahlah... itukan masa lalu!” seru Kanesaki sambil bangkit dari duduknya. “Udara semakin dingin, ayo kita masuk kedalam” ajaknya dan diikuti oleh Yagami dibelakangnya.
“Oh, ya...” langkah mereka terhenti saat Yagami menghentikan langkahnya. “Kane-chan, katanamu...”
“Oh, ya...” Kanesaki segera berbalik untuk mengambil katananya yang tertinggal namun langkahnya tidak menuju kuil, tetapi gudang belakang.
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Yagami semakin bingung dengan sikap Kanesaki.
Kanesaki masih terlihat sibuk melihat sekeliling gudang yang gelap itu, mengambil sebuah kotak dan meletakan katana tersebut kedalamnya. “Yagami, jangan katakan kepada siapa-siapa tentang kotak ini. Hanya kamu dan Aiko saja yang mengetahui rahasia ini...”
Yagami mengangguk. “Namun, itu untuk apa?”
Kanesaki hanya tersenyum. “Bukan apa-apa. Ayo kita kembali...” ajaknya sambil merangkul bahu Yagami dengan wajah bingungnya.
Malam ini menjadi malam penuh teka-teki bagi Yagami. Sepertinya ada suatu rahasia yang disembunyikan Kanesaki kepada Yoko-sama. Kepanikannya saat Yagami mengingatkan katana yang tertinggal, keseriusannya untuk menyembunyikan rahasia besarnya dan tiba-tiba saja Kanesaki menjadi diam setelah jam makan malam maupun jam tidur. Namun Yagami tidak berani banyak bertanya karena dia menyadari posisinya yang sebagai ‘orang luar’.
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Kanesaki sudah tidak ada dikamar. Yagami mulai terbiasa dengan kesehariannya karena sudah satu minggu mereka tinggal bersama. Kegiatan pertama yang Yagami lakukan adalah membersihkan gudang belakang yang kesekian, karena banyaknya gudang dan mau tidak mau harus dibersihkan secara bergantian. Gudang dekat kuil utama mendapatkan giliran pembersihan pada hari ini. Perlahan Yagami mengeluarkan beberapa peralatan dari dalam gudang agar tidak mengganggu ketenangan ‘uzaken’, istilah yang diberikan oleh Kanesaki dan Aiko kepada Yoko-sama.
Dari kejauhan, Yagami melihat suatu hal yang mencurigakan yang seharusnya tidak dia pikirkan sama sekali. Seorang laki-laki yang memakai jas berwarna hitam, berambut hitam bergelombang dan sepertinya dia hampir seumuran dengan ayahnya. Selain itu dia tidak sendirian, ada 2 orang yang memakai pakaian yang sama di kedua sisinya. Tidak lama kemudian, laki-laki tersebut menemui Yoko-sama dengan memasuki ruangannya, sedangkan kedua orang lainnya hanya diam menunggu. Yagami semakin yakin kalau laki-laki tersebut adalah orang kaya dan mereka adalah bodyguardnya.
“Kakak?” panggilan Aoi membuyarkan pandangannya. Yagami yang tidak ingin menambah masalah dengan Yoko-sama, dia membawa Aoi menjauhi kuil menuju gudang utama.
“Aoi! Yagami-niichan!” panggil Aiko terburu-buru saat mereka baru saja memasuki ruang istirahat mereka. “Yagami-niichan, kami di panggil Yoko-sama”
Yagami tersenyum bingung. “Ada apa, Aiko? Kenapa terburu-buru seperti itu?”
“Se-sebenarnya... ada...ada...” nafas Aiko yang terputus-putus membuatnya sulit untuk berbicara. “Ada yang mencari kalian...”
“Apa maksud perkataanmu?”
Aiko menghela nafas sejenak. “Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka mengenai keluarga kalian. Bukankah niichan pernah memberitahuku mengenai orang yang mencari kalian itu?” Yagami mengangguk. “...dan sepertinya mereka menemukan kalian disini...”
“Ap-!” Yagami tidak habis pikir bagaimana mungkin persembunyiannya itu bisa diketahui.
Ditengah ketegangan yang ada, tiba-tiba saja terdengar suara Yoko-sama memanggil dan memasuki ruangan. “Ren! Cepat ikut aku!” perintahnya.
Mau tidak mau Yagami mengikuti perintah tersebut dengan mengikuti Yoko-sama dari belakang. Saat sampai diruang utama, hal yang membuat detak jantungnya berdentak cepat kembali menjadi normal. Laki-laki yang dicurigai oleh Aiko ternyata pelayan utama dirumah mereka, Tanaka.
“Ah, tuan muda” salam Tanaka yang sudah separuh baya itu membungkukan badannya untuk memberikan hormat.
“Tanaka” sahut Yagami. “Ada apa?” Tanaka diam senejak dan memberikan tanda kepada tuan mudanya bahwa pembicaraan ini menjadi hal yang penting bagi mereka berdua. Yagamipun meminta izin kepada Yoko-sama untuk berbicara sejenak diluar ruangannya.
“Maaf jika kedatangan saya menjadi hal buruk bagi tuan muda” Tanaka diam sejenak. “Tuan besar... sudah meninggal” Yagami terhentak tanpa bergerak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Tuan besar menitipkan surat ini kepada saya untuk diberikan kepada tuan muda...” Tanaka mengambil sebuah surat dari saku kemeja hitamnya. “... saya berharap tuan muda dan nona muda bisa bersabar melewati ini semua...” Tanaka membungkukan badannya sebagai penghormatan terakhir.
Setelah Yagami mendapatkan surat tersebut, dia kembali keruangannya dengan tidak semangat. “Niichan?” sambutan Aoi yang langsung dibalas dengan pelukan oleh Yagami.
“Aoi, mulai saat ini kita harus bisa menghadapi segalanya bersama-sama” bisik Yagami sambil menenggelamkan wajahnya pada bahu adiknya yang hanya setiggi lututnya itu.
Aoi hanya bisa diam dan memeluk leher kakaknya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi dengan mereka. Disaat kesedihan melanda, Yagami dipanggil oleh Yoko-sama diruangannya. “Aoi, niichanmu dimana?” tanya Kanesaki yang baru saja kembali.
“Tadi dipanggil Yoko-sama” jawabnya dengan suara cadelnya. Kanesaki mengusap kepala Aoi dan berjalan meninggalkan ruangan.
Perasaannya mulai tidak enak. Bukan karena dia belum makan siang, tetapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya tersebut. Rasa penasaran yang begitu memenuhi pikirannya tersebut, Kanesaki memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang sedang Yagami dan Yoko-sama lakukan. “Niichan?” panggil Aiko saat Kanesaki baru saja keluar dari kamarnya. “Niichan mau kemana? Pergi lagi?”
“Tidak. Apa kamu lihat Yagami?” tanyanya sambil melihat pemandangan sekeliling kuil.
“Tadi Aiko lihat dia dipanggil si Uzaken. Memangnya ada apa?”
“Tidak. Niichan hanya takut ada apa-apa dengannya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap Uzaken...” bisik Kanesaki sambil menunjukan wajah miris dan bencinya yang diikuti oleh Aiko.
...................
PRANG! Ada sesuatu yang pecah didalam ruangan Yoko-sama yang membuat Kanesaki semakin yakin saat melintasi kamar Yoko-sama. Hati-hati sekali Kanesaki mencoba untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi didalam sana. “Ada apa sebenarnya didalam? Mengapa suara Yagami terdengar...” pikir Kanesaki saat mendekatkan telinganya pada jendela kamar Yoko-sama yang hanya terbuat dari kaca tipis dan tertutup sehelai kain putih.
“Tidak mungkin!” seru Yagami. “Tidak mungkin dia melakukan seperti itu?!” nada suara Yagami semakin meninggi.
“Apa kamu pikir bahwa aku tidak mengetahui rahasia terbesarnya selama ini?” rahasia terbesarku?. Kanesaki semakin menajamkan pendengarannya. “Aku tahu bahwa dia menyembunyikan katananya digudang belakang. Apa kamu tahu fungsi katana itu sendiri? Apa yang dia gunakan dengan katananya itu?” suara Yoko-sama terdengar meremehkan. “...dengan katananya itu, dia sudah seorang pembunuh! Bahkan dia juga yang membunuh ayahmu!”
“A-Apa?!” seru Yagami. Kanesaki sendiri terhentak tidak percaya dengan apa yang baru saja Yoko-sama katakan. Tubuhnya menjadi lemas dan bersadar pada pinggir tembok kamar tersebut. “Tidak mungkin dia...” getar suara Yagami membuat perasaan Kanesaki menjadi sakit dan rasanya ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun rasa ingin tahunya menghentikan keinginannya tersebut.
“Yagami... kamu sungguh polos sekali” ucap Yoko-sama yang terdengar lebih halus, bahkan Kanesaki sendiripun belum pernah mendengarnya. “Dari pada kamu berteman dengan dia, lebih baik kamu meninggalkan dia saja...”
“...Apa maksud anda?”
“Ingat tentang pekerjaan yang akan aku tentukan kepadamu? Aku sudah menentukannya sekarang...” ucap Yoko-sama yang diikuti dengan suara penolakan dari Yagami. “Walaupun kamu laki-laki, wajahmu sungguh menawan...”
“He-hentikan Yoko-sama... aku akan melakukan pekerjaan apa saja, tetapi tidak dengan pekerjaan seperti ini...” tolak Yagami halus.
“Kenapa tidak? Dengan begini, kehidupanmu akan selalu terjamin olehku. Bahkan jika kamu mau, aku bisa mengusir mereka dari sini sehingga hidup kita lebih nyaman...”
“I-itu tidak mungkin... Yo-yoko sama...”
“Jangan panggil aku dengan sebutan sama. Panggil saja dengan namaku, ya...”
“Ti-tidak. Tolong lepaskan” tolak Yagami. Namun sepertinya Yoko-sama makin tidak terkendali sehingga membuat keributan didalam lebih besar.
Rasa kesalnya yang mendalam membuat Kanesaki memberanikan diri untuk menerobos masuk kamar Yoko-sama. “Kanesaki! Apa yang kamu lakukan?!” seru Yoko-sama saat melihat Kanesaki sudah berada didepan pintu kamarnya dengan raut wajah marahnya.
Mata Kanesaki terbelak saat melihat Yagami yang berada dibawah Yoko-sama dengan posisi baju setengah terbuka dan wajahnya yang sudah dipenuhi dengan air mata. Tanpa ragu, Kanesaki langsung mendorong tubuh Yoko-sama hingga terpental jauh dan menarik tangan Yagami untuk segera keluar dari kamar tersebut.
Waktu yang terus berjalan membuat hari cerah mulai meredupkan cahayanya. Binatang-binatangpun mulai berlalu lalang kembali menuju rumah mereka masing-masing seiring perubahan cuaca yang semakin berubah. Langitpun mulai menunjukan emosinya dengan suara gemuruh dan cahaya kilat yang memenuhi langit bumi. Tidak lama kemudian, air langitpun membasahi seluruh permukaan bumi.
Kanesaki membawa Yagami menuju kamarnya untuk menenangkan diri. Saat sesampainya disana, ia memberikan tanda kepada Aiko untuk membawa Aoi keluar sejenak, tanda bahwa ada sesuatu hal penting yang akan dibahas antara dia dan Yagami. Terlebih lagi keadaan Yagami yang sudah kacau dan tidak ada reaksi sama sekali.
“Yagami?” panggil Kanesaki saat menutup pintu kamarnya. Tidak ada jawaban sama sekali dari Yagami. Kanesaki mencoba lagi memanggil namanya, namun masih tidak ada jawaban sama sekali darinya. Akhirnya Kanesaki memutuskan untuk memeluknya dari depan. Yagamipun bereaksi, panij dan berusaha untuk melepaskan dirinya. Rasa takut dan histeris akibat syok dengan apa yang baru saja dia alami tidak bisa ditutupi lagi. Namun Kanesaki masih saja memeluknya hingga Yagami mulai tenang.
“Ka-kane chan?” kesadaran Yagami mulai kembali. Kanesaki mengangguk dan kembali memeluknya. “Kane chan, apa benar... apa benar...” isak tangis Yagami mulai memecah. “...apa benar kamu seorang pembunuh?... apa kamu juga yang sudah membunuh ayahku?”
Kanesaki hanya diam dan semakin erat memeluk Yagami. Pembicaraan Yagamipun semakin kacau, tetapi Kanesaki tetap diam mendengarkan dan mengelus rambut hitamnya. Setelah Yagami mulai sedikit tenang, Kanesaki mulai angkat bicara. “Yagami, bolehkan aku memberitahukan sesuatu padamu... tentang suatu kebenaran mengenai diriku?”
Yagami mengangguk pelan sebagai tanda jawaban. Kanesaki melepaskan pelukannya dan membiarkan Yagami bersandar pada dadanya yang bidang itu. “... memang benar... jika aku dikatakan sebagai seorang pembunuh... namun, aku tidak membunuh ayahmu...”
“Apa maksud perkataanmu?” tanya Yagami tanpa bergerak sama sekali dan Kanesaki melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Yagami yang lebih kecil itu.
“Kejadian ini terjadi sebulan setelah aku bertemu dengan Aiko. Setelah aku meninggalkan panti asuhan, aku menemukan suatu kebenaran bahwa orangtuaku sebenarnya masih hidup. Aku sungguh-sungguh ingin sekali bertemu dengan mereka. Ibu panti memberikanku sebuah katana sebagai tanda pengenal keluargaku. Akhirnya dengan penuh keberanian, aku memutuskan untuk bertemu dengan mereka. Namun...”
“...namun?”
“...aku baru mengetahui bahwa kelakuan ayahku sungguh kasar, bahkan terhadap ibu sekalipun. Saat aku memperkenalkan diriku pada ibu, beliau sangat senang sekali bahkan akupun merasakan pelukan seorang ibu untuk yang pertama...dan terakhir. Ayah yang melihatku langsung saja mengusirku dengan kasar. Ibu terus saja membelaku hingga tanpa sadar saat ayah mendorongku ke jalan, ibu langsung menarik tanganku dan... beliau meninggal akibat kepalanya terbentur trotoar jalan”
Suara Kanesaki semakin berat. Yagami mencoba untuk bangun, namun dihalangi. Kanesaki hanya menenggelamkan wajahnya pada bahu kecil Yagami. “... bahkan saat ibu sudah sekarat, ayah tetap saja mencaci-maki hingga tanpa sadar, dengan katana yang aku bawa... aku membunuhnya...” tubuh Kanesaki bergetar dan bahu Yagamipun terasa mulai lembab. “I-itulah yang sebenarnya terjadi... katanya yang selalu aku bawa itu... sebenarnya sudah lama ingin aku membuangnya. Tetapi itu satu-satunya barang peninggalan ibuku... aku...aku...“
Yagami membalikan badannya dan berbalik memeluk Kanesaki. “Maaf... Maafkan aku yang sudah berkata salah mengenaimu...” Yagami menghapus airmata Kanesaki dengan tangan kecilnya. “Aku percaya padamu...”
Kanesaki berbalik memeluk Yagami dengan erat. Beban yang selama ini dia pendam bisa dia bagikan dengan seseorang yang bisa dia percaya, bahkan melebihi apa yang dia bayangkan. Malam itu mereka menangis bersama tanpa ada seorangpun melihat sisi kelemahan mereka masing-masing. Keesokan harinya, Kanesakipun membawa Aiko, Yagami dan Aoi menuju tempat yang sudah lama dia siapkan untuk mengantisispasi kejadian yang tidak terduga. Mereka berempat tinggal disuatu apartemen kecil yang cukup jauh dari keramaian namun pemandangannya tetap indah dilihat.
Banyak yang mengira bahwa ada sesuatu diantara mereka, tetapi hubungan dan kedekatan mereka hanyalah mereka yang mengerti. Malam itu hujan kembali membasahi seluruh isi bumi. Malam yang harusnya terasa dinginpun menjadi hangat.
Persahabatan tidak terbatas oleh banyaknya orang, jenis kelamin, usia bahkan latar belakang kehidupan mereka sekalipun. Dua orang sekalipun akan menjadi suatu hubungan persahabatan yang sejati jika mereka bisa mengerti satu sama lainnya. Tidak hanya dalam suka, tetapi dalam duka sekalipun. Dengan adanya saling mengerti, maka segala macam masalah yang terjadi bisa dihadapi dengan mudah.
..........000000000000 end 0000000000000000......................
Akhirnya kelar!! Senank ^^ banzai!! (nyanyi lagi banzai-seigaku) ayo makan2 !! ^^ *d timpuk sendal karena berisisk* hikz....
Bagaimana cerita na?end na kacau? end na jelek? hisk.. gomen... Maaf ya kalo panjang banget.. bis kalo di potong nanggung dan... maaf buat fans na ou_chan yang sudah aku buat dia menjadi... *d timpuk* tapi kan happy end...*masih membela diri*
sanada: jadi inti na? Apa sih??
Aoi: err... sebenar nya sih pengen ngasih tahu kalo pertemanan antar co tu sebenar na normal2 ja.. karena kan skarang ni ya~ *liat list kasusu*
sanada: ooo..
aoi: gen_chan, maaf sudah meninggalkanmu selama 1 minggu negh ><>
Untuk aiko_chanz.. maaf cuma kayak figuran doank ><>
Ok sekian dulu ^^ maaf kalo ada kesalahan pengetikan.. n maksd..
Jya... matta ne ^^/ please ur comment n review