Sunday, August 15, 2010

we are in one world part 2

err...pertama2 maaf sudah lama banget... (untuk cerita ni n beberapa cerita lainna.. gomen ne...)

lalu untuk soal nama... Ou_chan, gomen ne.. ToT ak benar2 masih bingung mana yang nama n mana yang nama keluarga..jadi untuk kali ini, aku gunakan nama keluargamu sbagai namamu, ya...(d timpuk –seenak enaknya ganti nama orang) aiko_chan, thanks buat pemberitahuan n comment na ^^

ok..dari pada panjang2 lagi, silahkan dibaca ^^ n untuk kali ini cerita na rada (banget) panjang... jadi, kuharap bis baca ga sakit mata ato sakit pinggang. (dagh siapin P3k di tangan Gen_chan)

----------------000000000000000000000--------------

Characters n Positions:

· Kentaro Kanesaki (26)

· Ren Yagami (25)

· Aiko (12): adik Kane_chan

· Aoi (6): adik Ou_chan

Rat: ... (menurut kalian?)

Song: depature_rurouni kenshin

Desc: ortu masing2... ^^

Ide: tokoh dari Ai (aiko)_chan... n cerita dari SanaYuki yang akan aku buat sebagai selingan... tapi diadaptasi pada akhirnya... yang SanaYuki? Hahaha.. tidak aku buat (publish) karena dagh ada d sini kan??

------0000000Part 2000000000------

Dunia luar tidaklah seindah dengan dunia yang kita bayangkan. Banyaknya petualangan, pengalamanan, keindahan, dan berbagai macam aktivitas lainnya tidak seindah dengan apa yang sudah sering kali di dengar ataupun dibayangkan. Kenyataannya dalam menjalankan kehidupan pada saat ini sangatlah sulit.

“Bu, dunia diujung sana seperti apa ya?” seorang anak kecil berambut hitam lurus menghampiri ibunya yang sedang duduk disebuah bangku taman rumah. Kedatangannya itu disambut dengan pelukan hangat. “Apakah diluar sana sama menyenangkan seperti ini?”

Sang ibu merapikan rambut coklatnya sejenak, lalu menggendong anaknya yang baru berumur 6 tahun itu ke pangkuannya. “Tidak semua yang kamu lihat akan sama dengan apa yang kamu dengar, Yagami” jawaban ibunya dibalas dengan raut bingung dari Yagami kecil. Ibunya tersenyum lembut dan berkata, “Suatu saat nanti kamu akan mengerti maksud perkataan ibu”

“...mi...Yagami... Yagami?!” suara seseorang semakin keras seiring membuyarkan lamunannya. Yagami yang sedang duduk dibangku tengah kuil ini terhentak dan beruntung tubuh kecilnya tidak menghantam tanah karena ditahan oleh seseorang yang membuyarkan lamunannya itu. Kanesaki. “Maaf. Kamu baik-baik saja?”

Kanesaki membantunya untuk kembali keposisi awal, karena saat ini dengan tangan kirinya dia menahan tubuh Yagami yang hampir terjatuh itu. “Ya, aku baik-baik saja” jawabnya singkat. Langit malam menutupi rona wajah Yagami yang mulai berubah itu.

“Sedang apa kamu disini? Kenapa tidak masuk ke dalam?” Kanesaki duduk disebelah kanan Yagami, meletakan katana yang selalu dia bawa disebelah kanannya dan menatap Yagami sambil memberikan sebuah makanan yang terbungkus plastik. “Mau takoyaki?” tawarnya.

Yagami menggeleng pelan dan kembali menatap langit. “Kanesaki, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Kanesaki berdeham ringan sebagai ganti jawaban. “Bolehkah aku tahu alasan kamu berada disini?”

Kanesaki menghela nafas sejenak dan tersenyum. “Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang...” ucapnya sambil ikut menatap bintang yang bertaburan dilangit malam.

.......................

“Tolong... Tolong kami...” suara lemah seseorang perempuan disuatu malam diujung jalan. Kentarou Kanesaki, yang berumur 18 tahun baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan dalam perjalan pulangnya menemukan seorang ibu bersandar pada pohon dengan seorang anak perempuan yang masih kecil duduk disisinya.

Kanesaki yang tergerak hatinya langsung mendekati ibu tersebut. “Ibu. Ibu tidak apa-apa?”
Kanesaki terkejut sekali. Ternyata saat dilihat lebih dekat, tubuh ibu tersebut sudah bersimbah darah dan tatapan anak perempuannya itu terlihat kosong.

“Nak, tolong bawa anak ini jauh-jauh. Ibu mohon...” nada suaranya semakin lemah.

“Ibu sendiri bagaimana?”

Ibu itu hanya menggeleng. “Tidak apa-apa. Yang terpenting bawa anak ini jauh-jauh dan...” ibu tersebut mengeluarkan sebuah kartu beserta kalung hitam yang terbuat dari tali. “...berikan ini kepada orang yang namanya tertera dialamat ini...”

Kanesaki masih bingung dengan keadaan yang baru saja dia lihat. Tidak lama kemcudian terdengar suara kelompok orang yang sepertinya sedang berlari menuju mereka. Kanesaki langsung membawa lari anak tersebut bersembunyi diseberang jalan. Ternyata ada sekitar 7 orang laki-laki mengepung ibu tersebut.

“Dimana anak itu?!” tanya seorang laki-laki yang bertubuh besar, berambut ikal dan berwajah kasar. Ibu tersebut hanya diam lalu ditampar oleh laki-laki itu. “Apa kamu tidak dengar perkataanku?!”

“Tidak akan aku biarkan Aiko sepertimu! Aiko masih terlalu kecil dan tidak aku biarkan dia menerima pengajaran negatif darimu!” seru sang ibu dengan tenaga yang ada. “Hanya dia satu-satunya yang tidak akan aku biarkan kamu mengubahnya menjadi seorang pembunuh sepertimu!”

“Pembunuh?” pikir Kanesaki yang masih memperhatikan pertengkaran tersebut sambil memeluk anak kecil tersebut kearah yang berlawanan.

“Jalan kehidupan Sanada sudah seperti itu. Tidak ada yang bisa mengubahnya!”

“...Tapi tidak dengan Aiko!” nafas ibu tersebut terputus-putus. “... selama ini... aku...hanya bisa diam saja melihat ketiga anakku... diajarkan... bahkan terbunuh karenamu... tapi... Aiko...Aiko... dia itu perempuan...dan...”

“Aku tidak perduli!” seru laki-laki itu dan menarik kerah baju ibu tersebut. “Sekarang katakan padaku, dimana anak itu?!”

Wajah ibu itu terlihat lemah sekali. Sesaat Kanesaki menyadari bahwa ibu tersebut melihatnya dan seakan-akan berkata, “Lari... bawa anak itu lari sekarang juga”

Ibu itu hanya tersenyum miris. “... apapun usahamu, itu hanya sia-sia...” tidak lama kemudian, nafas ibu itupun berhenti.

Kanesaki hanya bisa diam membatu sambil memeluk anak itu lebih erat. Kelompok itu segera meninggalkan ibu tersebut dan yang tertinggal hanyalah Kanesaki dengan anak yang berada dipelukannya.

“Bagaimana ini... Tidak mungkin aku pulang dengan membawa anak ini...” gumam Kanesaki setelah memeriksa tanda pengenal anak perempuan tersebut yang tergantung dilehernya. “Kalau aku membawa dia ketempatku, bisa-bisa usaha ibunya menjadi sia-sia”. Akhirnya Kanesaki memutuskan untuk membawa anak itu ketempat yang berdasarkan kartu yang diberikan kepadanya. “Aiko-chan, ayo kita berangkat”. Tatapan Aiko masih saja kosong. Saat Kanesaki membawanya pergi, tatapan Aiko masih tertuju pada ibunya yang sudah tidak bernyawa itu.

Sekitar 30 menit mereka sampai pada tempat yag dimaksud. Kuil yang mempunyai gerbang yang tidak terlalu besar namun mempunyai halaman yang luas. Perlahan Kanesaki mencari seseorang disekitar kuil dan akhirnya menemukan seorang laki-laki memakai pakaian putih diseluruh tubuhnya dengan sebuah kalung pada tangannya. “Maaf mengganggu malam-malam” sahut Kanesaki. “Bisakah saya bertemu dengan seseorang yang bernama Ue-san?”

Laki-laki itu mengangguk dan mengatakan bahwa dialah orang yang Kanesaki cari. Kanesaki dan Aiko diajak kedalam oleh Ue-sama, dan Kanesakipun mulai menceritakan kejadian yang baru saja dia lihat serta memberikan kalung titipannya.

“Saya mengerti” Ue-sama menerima kalung tersebut. “Kalau begitu...” Ue-sama menunjukan sebuah ruangan yang akan dipakai oleh Aiko. Namun saat Kanesaki hendak meninggalkannya, tiba-tiba saja Aiko yang tingginya tidak sampai sepinggang Kanesaki itu memeluk lutut Kanesaki dengan erat.

“Aiko...” Kanesaki menunduk untuk membuat tatapannya sejajar dengan Aiko. “Kakak harus pergi dulu...” Aiko yang masih berumur 4 tahun itu memeluk leher Kanesaki dengan erat dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Kanesaki. Bahkan saat Yoko-sama hendak menggendong Aiko, langsung ditolak mentah-mentah olehnya. Sejak malam itu, Kanesaki memutuskan untuk tinggal dengan Aiko di kuil dan merawatnya sebagai adiknya sendiri.

......................

“Lalu, bagaimana dengan orangtuamu?” tanya Yagami penasaran.

Kanesaki tertawa miris. “... aku tidak tahu. Sejak kecil aku tinggal dipanti asuhan. Namun sejak aku bertemu dengan Aiko, aku memutuskan untuk keluar dari panti tersebut walaupun sesekali aku mengunjungi panti tersebut...” Yagami hanya tertunduk diam mendengarkan penjelasan Kanesaki. “Hey, sudahlah... itukan masa lalu!” seru Kanesaki sambil bangkit dari duduknya. “Udara semakin dingin, ayo kita masuk kedalam” ajaknya dan diikuti oleh Yagami dibelakangnya.

“Oh, ya...” langkah mereka terhenti saat Yagami menghentikan langkahnya. “Kane-chan, katanamu...”

“Oh, ya...” Kanesaki segera berbalik untuk mengambil katananya yang tertinggal namun langkahnya tidak menuju kuil, tetapi gudang belakang.

“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Yagami semakin bingung dengan sikap Kanesaki.

Kanesaki masih terlihat sibuk melihat sekeliling gudang yang gelap itu, mengambil sebuah kotak dan meletakan katana tersebut kedalamnya. “Yagami, jangan katakan kepada siapa-siapa tentang kotak ini. Hanya kamu dan Aiko saja yang mengetahui rahasia ini...”

Yagami mengangguk. “Namun, itu untuk apa?”

Kanesaki hanya tersenyum. “Bukan apa-apa. Ayo kita kembali...” ajaknya sambil merangkul bahu Yagami dengan wajah bingungnya.

Malam ini menjadi malam penuh teka-teki bagi Yagami. Sepertinya ada suatu rahasia yang disembunyikan Kanesaki kepada Yoko-sama. Kepanikannya saat Yagami mengingatkan katana yang tertinggal, keseriusannya untuk menyembunyikan rahasia besarnya dan tiba-tiba saja Kanesaki menjadi diam setelah jam makan malam maupun jam tidur. Namun Yagami tidak berani banyak bertanya karena dia menyadari posisinya yang sebagai ‘orang luar’.

Keesokan paginya, pagi-pagi sekali Kanesaki sudah tidak ada dikamar. Yagami mulai terbiasa dengan kesehariannya karena sudah satu minggu mereka tinggal bersama. Kegiatan pertama yang Yagami lakukan adalah membersihkan gudang belakang yang kesekian, karena banyaknya gudang dan mau tidak mau harus dibersihkan secara bergantian. Gudang dekat kuil utama mendapatkan giliran pembersihan pada hari ini. Perlahan Yagami mengeluarkan beberapa peralatan dari dalam gudang agar tidak mengganggu ketenangan ‘uzaken’, istilah yang diberikan oleh Kanesaki dan Aiko kepada Yoko-sama.

Dari kejauhan, Yagami melihat suatu hal yang mencurigakan yang seharusnya tidak dia pikirkan sama sekali. Seorang laki-laki yang memakai jas berwarna hitam, berambut hitam bergelombang dan sepertinya dia hampir seumuran dengan ayahnya. Selain itu dia tidak sendirian, ada 2 orang yang memakai pakaian yang sama di kedua sisinya. Tidak lama kemudian, laki-laki tersebut menemui Yoko-sama dengan memasuki ruangannya, sedangkan kedua orang lainnya hanya diam menunggu. Yagami semakin yakin kalau laki-laki tersebut adalah orang kaya dan mereka adalah bodyguardnya.

“Kakak?” panggilan Aoi membuyarkan pandangannya. Yagami yang tidak ingin menambah masalah dengan Yoko-sama, dia membawa Aoi menjauhi kuil menuju gudang utama.

“Aoi! Yagami-niichan!” panggil Aiko terburu-buru saat mereka baru saja memasuki ruang istirahat mereka. “Yagami-niichan, kami di panggil Yoko-sama”

Yagami tersenyum bingung. “Ada apa, Aiko? Kenapa terburu-buru seperti itu?”

“Se-sebenarnya... ada...ada...” nafas Aiko yang terputus-putus membuatnya sulit untuk berbicara. “Ada yang mencari kalian...”

“Apa maksud perkataanmu?”

Aiko menghela nafas sejenak. “Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka mengenai keluarga kalian. Bukankah niichan pernah memberitahuku mengenai orang yang mencari kalian itu?” Yagami mengangguk. “...dan sepertinya mereka menemukan kalian disini...”

“Ap-!” Yagami tidak habis pikir bagaimana mungkin persembunyiannya itu bisa diketahui.

Ditengah ketegangan yang ada, tiba-tiba saja terdengar suara Yoko-sama memanggil dan memasuki ruangan. “Ren! Cepat ikut aku!” perintahnya.

Mau tidak mau Yagami mengikuti perintah tersebut dengan mengikuti Yoko-sama dari belakang. Saat sampai diruang utama, hal yang membuat detak jantungnya berdentak cepat kembali menjadi normal. Laki-laki yang dicurigai oleh Aiko ternyata pelayan utama dirumah mereka, Tanaka.

“Ah, tuan muda” salam Tanaka yang sudah separuh baya itu membungkukan badannya untuk memberikan hormat.

“Tanaka” sahut Yagami. “Ada apa?” Tanaka diam senejak dan memberikan tanda kepada tuan mudanya bahwa pembicaraan ini menjadi hal yang penting bagi mereka berdua. Yagamipun meminta izin kepada Yoko-sama untuk berbicara sejenak diluar ruangannya.

“Maaf jika kedatangan saya menjadi hal buruk bagi tuan muda” Tanaka diam sejenak. “Tuan besar... sudah meninggal” Yagami terhentak tanpa bergerak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. “Tuan besar menitipkan surat ini kepada saya untuk diberikan kepada tuan muda...” Tanaka mengambil sebuah surat dari saku kemeja hitamnya. “... saya berharap tuan muda dan nona muda bisa bersabar melewati ini semua...” Tanaka membungkukan badannya sebagai penghormatan terakhir.

Setelah Yagami mendapatkan surat tersebut, dia kembali keruangannya dengan tidak semangat. “Niichan?” sambutan Aoi yang langsung dibalas dengan pelukan oleh Yagami.

“Aoi, mulai saat ini kita harus bisa menghadapi segalanya bersama-sama” bisik Yagami sambil menenggelamkan wajahnya pada bahu adiknya yang hanya setiggi lututnya itu.

Aoi hanya bisa diam dan memeluk leher kakaknya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi dengan mereka. Disaat kesedihan melanda, Yagami dipanggil oleh Yoko-sama diruangannya. “Aoi, niichanmu dimana?” tanya Kanesaki yang baru saja kembali.

“Tadi dipanggil Yoko-sama” jawabnya dengan suara cadelnya. Kanesaki mengusap kepala Aoi dan berjalan meninggalkan ruangan.

Perasaannya mulai tidak enak. Bukan karena dia belum makan siang, tetapi ada sesuatu yang mengganjal pikirannya tersebut. Rasa penasaran yang begitu memenuhi pikirannya tersebut, Kanesaki memutuskan untuk mencari tahu sendiri apa yang sedang Yagami dan Yoko-sama lakukan. “Niichan?” panggil Aiko saat Kanesaki baru saja keluar dari kamarnya. “Niichan mau kemana? Pergi lagi?”

“Tidak. Apa kamu lihat Yagami?” tanyanya sambil melihat pemandangan sekeliling kuil.

“Tadi Aiko lihat dia dipanggil si Uzaken. Memangnya ada apa?”

“Tidak. Niichan hanya takut ada apa-apa dengannya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap Uzaken...” bisik Kanesaki sambil menunjukan wajah miris dan bencinya yang diikuti oleh Aiko.

...................

PRANG! Ada sesuatu yang pecah didalam ruangan Yoko-sama yang membuat Kanesaki semakin yakin saat melintasi kamar Yoko-sama. Hati-hati sekali Kanesaki mencoba untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi didalam sana. “Ada apa sebenarnya didalam? Mengapa suara Yagami terdengar...” pikir Kanesaki saat mendekatkan telinganya pada jendela kamar Yoko-sama yang hanya terbuat dari kaca tipis dan tertutup sehelai kain putih.

“Tidak mungkin!” seru Yagami. “Tidak mungkin dia melakukan seperti itu?!” nada suara Yagami semakin meninggi.

“Apa kamu pikir bahwa aku tidak mengetahui rahasia terbesarnya selama ini?” rahasia terbesarku?. Kanesaki semakin menajamkan pendengarannya. “Aku tahu bahwa dia menyembunyikan katananya digudang belakang. Apa kamu tahu fungsi katana itu sendiri? Apa yang dia gunakan dengan katananya itu?” suara Yoko-sama terdengar meremehkan. “...dengan katananya itu, dia sudah seorang pembunuh! Bahkan dia juga yang membunuh ayahmu!”

“A-Apa?!” seru Yagami. Kanesaki sendiri terhentak tidak percaya dengan apa yang baru saja Yoko-sama katakan. Tubuhnya menjadi lemas dan bersadar pada pinggir tembok kamar tersebut. “Tidak mungkin dia...” getar suara Yagami membuat perasaan Kanesaki menjadi sakit dan rasanya ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun rasa ingin tahunya menghentikan keinginannya tersebut.

“Yagami... kamu sungguh polos sekali” ucap Yoko-sama yang terdengar lebih halus, bahkan Kanesaki sendiripun belum pernah mendengarnya. “Dari pada kamu berteman dengan dia, lebih baik kamu meninggalkan dia saja...”

“...Apa maksud anda?”

“Ingat tentang pekerjaan yang akan aku tentukan kepadamu? Aku sudah menentukannya sekarang...” ucap Yoko-sama yang diikuti dengan suara penolakan dari Yagami. “Walaupun kamu laki-laki, wajahmu sungguh menawan...”

“He-hentikan Yoko-sama... aku akan melakukan pekerjaan apa saja, tetapi tidak dengan pekerjaan seperti ini...” tolak Yagami halus.

“Kenapa tidak? Dengan begini, kehidupanmu akan selalu terjamin olehku. Bahkan jika kamu mau, aku bisa mengusir mereka dari sini sehingga hidup kita lebih nyaman...”

“I-itu tidak mungkin... Yo-yoko sama...”

“Jangan panggil aku dengan sebutan sama. Panggil saja dengan namaku, ya...”

“Ti-tidak. Tolong lepaskan” tolak Yagami. Namun sepertinya Yoko-sama makin tidak terkendali sehingga membuat keributan didalam lebih besar.

Rasa kesalnya yang mendalam membuat Kanesaki memberanikan diri untuk menerobos masuk kamar Yoko-sama. “Kanesaki! Apa yang kamu lakukan?!” seru Yoko-sama saat melihat Kanesaki sudah berada didepan pintu kamarnya dengan raut wajah marahnya.

Mata Kanesaki terbelak saat melihat Yagami yang berada dibawah Yoko-sama dengan posisi baju setengah terbuka dan wajahnya yang sudah dipenuhi dengan air mata. Tanpa ragu, Kanesaki langsung mendorong tubuh Yoko-sama hingga terpental jauh dan menarik tangan Yagami untuk segera keluar dari kamar tersebut.

Waktu yang terus berjalan membuat hari cerah mulai meredupkan cahayanya. Binatang-binatangpun mulai berlalu lalang kembali menuju rumah mereka masing-masing seiring perubahan cuaca yang semakin berubah. Langitpun mulai menunjukan emosinya dengan suara gemuruh dan cahaya kilat yang memenuhi langit bumi. Tidak lama kemudian, air langitpun membasahi seluruh permukaan bumi.

Kanesaki membawa Yagami menuju kamarnya untuk menenangkan diri. Saat sesampainya disana, ia memberikan tanda kepada Aiko untuk membawa Aoi keluar sejenak, tanda bahwa ada sesuatu hal penting yang akan dibahas antara dia dan Yagami. Terlebih lagi keadaan Yagami yang sudah kacau dan tidak ada reaksi sama sekali.

“Yagami?” panggil Kanesaki saat menutup pintu kamarnya. Tidak ada jawaban sama sekali dari Yagami. Kanesaki mencoba lagi memanggil namanya, namun masih tidak ada jawaban sama sekali darinya. Akhirnya Kanesaki memutuskan untuk memeluknya dari depan. Yagamipun bereaksi, panij dan berusaha untuk melepaskan dirinya. Rasa takut dan histeris akibat syok dengan apa yang baru saja dia alami tidak bisa ditutupi lagi. Namun Kanesaki masih saja memeluknya hingga Yagami mulai tenang.

“Ka-kane chan?” kesadaran Yagami mulai kembali. Kanesaki mengangguk dan kembali memeluknya. “Kane chan, apa benar... apa benar...” isak tangis Yagami mulai memecah. “...apa benar kamu seorang pembunuh?... apa kamu juga yang sudah membunuh ayahku?”

Kanesaki hanya diam dan semakin erat memeluk Yagami. Pembicaraan Yagamipun semakin kacau, tetapi Kanesaki tetap diam mendengarkan dan mengelus rambut hitamnya. Setelah Yagami mulai sedikit tenang, Kanesaki mulai angkat bicara. “Yagami, bolehkan aku memberitahukan sesuatu padamu... tentang suatu kebenaran mengenai diriku?”

Yagami mengangguk pelan sebagai tanda jawaban. Kanesaki melepaskan pelukannya dan membiarkan Yagami bersandar pada dadanya yang bidang itu. “... memang benar... jika aku dikatakan sebagai seorang pembunuh... namun, aku tidak membunuh ayahmu...”

“Apa maksud perkataanmu?” tanya Yagami tanpa bergerak sama sekali dan Kanesaki melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Yagami yang lebih kecil itu.

“Kejadian ini terjadi sebulan setelah aku bertemu dengan Aiko. Setelah aku meninggalkan panti asuhan, aku menemukan suatu kebenaran bahwa orangtuaku sebenarnya masih hidup. Aku sungguh-sungguh ingin sekali bertemu dengan mereka. Ibu panti memberikanku sebuah katana sebagai tanda pengenal keluargaku. Akhirnya dengan penuh keberanian, aku memutuskan untuk bertemu dengan mereka. Namun...”

“...namun?”

“...aku baru mengetahui bahwa kelakuan ayahku sungguh kasar, bahkan terhadap ibu sekalipun. Saat aku memperkenalkan diriku pada ibu, beliau sangat senang sekali bahkan akupun merasakan pelukan seorang ibu untuk yang pertama...dan terakhir. Ayah yang melihatku langsung saja mengusirku dengan kasar. Ibu terus saja membelaku hingga tanpa sadar saat ayah mendorongku ke jalan, ibu langsung menarik tanganku dan... beliau meninggal akibat kepalanya terbentur trotoar jalan”

Suara Kanesaki semakin berat. Yagami mencoba untuk bangun, namun dihalangi. Kanesaki hanya menenggelamkan wajahnya pada bahu kecil Yagami. “... bahkan saat ibu sudah sekarat, ayah tetap saja mencaci-maki hingga tanpa sadar, dengan katana yang aku bawa... aku membunuhnya...” tubuh Kanesaki bergetar dan bahu Yagamipun terasa mulai lembab. “I-itulah yang sebenarnya terjadi... katanya yang selalu aku bawa itu... sebenarnya sudah lama ingin aku membuangnya. Tetapi itu satu-satunya barang peninggalan ibuku... aku...aku...“

Yagami membalikan badannya dan berbalik memeluk Kanesaki. “Maaf... Maafkan aku yang sudah berkata salah mengenaimu...” Yagami menghapus airmata Kanesaki dengan tangan kecilnya. “Aku percaya padamu...”

Kanesaki berbalik memeluk Yagami dengan erat. Beban yang selama ini dia pendam bisa dia bagikan dengan seseorang yang bisa dia percaya, bahkan melebihi apa yang dia bayangkan. Malam itu mereka menangis bersama tanpa ada seorangpun melihat sisi kelemahan mereka masing-masing. Keesokan harinya, Kanesakipun membawa Aiko, Yagami dan Aoi menuju tempat yang sudah lama dia siapkan untuk mengantisispasi kejadian yang tidak terduga. Mereka berempat tinggal disuatu apartemen kecil yang cukup jauh dari keramaian namun pemandangannya tetap indah dilihat.

Banyak yang mengira bahwa ada sesuatu diantara mereka, tetapi hubungan dan kedekatan mereka hanyalah mereka yang mengerti. Malam itu hujan kembali membasahi seluruh isi bumi. Malam yang harusnya terasa dinginpun menjadi hangat.

Persahabatan tidak terbatas oleh banyaknya orang, jenis kelamin, usia bahkan latar belakang kehidupan mereka sekalipun. Dua orang sekalipun akan menjadi suatu hubungan persahabatan yang sejati jika mereka bisa mengerti satu sama lainnya. Tidak hanya dalam suka, tetapi dalam duka sekalipun. Dengan adanya saling mengerti, maka segala macam masalah yang terjadi bisa dihadapi dengan mudah.

..........000000000000 end 0000000000000000......................

Akhirnya kelar!! Senank ^^ banzai!! (nyanyi lagi banzai-seigaku) ayo makan2 !! ^^ *d timpuk sendal karena berisisk* hikz....

Bagaimana cerita na?end na kacau? end na jelek? hisk.. gomen... Maaf ya kalo panjang banget.. bis kalo di potong nanggung dan... maaf buat fans na ou_chan yang sudah aku buat dia menjadi... *d timpuk* tapi kan happy end...*masih membela diri*

sanada: jadi inti na? Apa sih??

Aoi: err... sebenar nya sih pengen ngasih tahu kalo pertemanan antar co tu sebenar na normal2 ja.. karena kan skarang ni ya~ *liat list kasusu*

sanada: ooo..

aoi: gen_chan, maaf sudah meninggalkanmu selama 1 minggu negh ><>

Untuk aiko_chanz.. maaf cuma kayak figuran doank ><>

Ok sekian dulu ^^ maaf kalo ada kesalahan pengetikan.. n maksd..

Jya... matta ne ^^/ please ur comment n review

Wednesday, August 11, 2010

we are in one world part 1

Yosh! Hai Minna ^^/

(brak.bruk.doer) kali ini fanfic yang kubuat aga berbeda.. baru kali ini tokoh utama na adalah... REAL!! ><>

Kesempatan kali ini aku hanya memasukan 2 orang (digampar) dan bersama salah satu temanku ^^ ai_chan ^^ hehehe... ini sudah mendapatkan persetujuan n setelah melewati wawancara kok ^^ hahahaha.. jadi tenang saja...

Hmm... cerita na tentang apa? hmm... sebenar na sih ni adaptasi dari SanaYuki...jadi kalo boleh jujur agak2 Yaoi... tapi kalo keseluruhan cerita na GA ADA unsur YAOI na sih... kecuali para fujoshi (termasuk daku{?}) yang merasa bahwa ini YAOI... kalo di pikir2 lagi sih gak.. lebih kepada kerja tim, pertemanan, persahabatan yang sejati ^^

Ok.. sekian dulu basa-basi na ^^ thanx sebelum na bagi yang mau baca...kalo tiba2 eneq n ga mau liat mereka aku jadikan korban, close ja ni cerita ^^ hehehehe... ja ne~

----------------000000000000000000000--------------

Characters n Positions:

· Kentaro Kanesaki (26)

· Ren Yagami (25)

· Aiko (12): adik Kane_chan

· Aoi (6): adik Ou_chan

Rat: ... (menurut kalian?)

Song: One World_Celtic Women

Desc: ortu masing2... ^^

Ide: tokoh dari Ai (aiko)_chan... n cerita dari SanaYuki yang akan aku buat sebagai selingan... tapi diadaptasi pada akhirnya... yang SanaYuki? Hahaha.. tidak aku buat (publish) karena dagh ada d sini kan??

------0000000Part 1000000000------

Tinggal di lingkungan yang berbeda merupakan suatu tantangan bagi seseorang yang belum pernah keluar dari daerah kenyamanannya. Yang biasa hidup senang, mudah, segalanya terpenuhi dan selalu dilayani, akan sulit beradaptasi dengan lingkungan yang harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Namun itulah yang harus dihadapi oleh kakak-beradik ini yang mempunyai rasa ingin tahu mengenai dunia luar selain lingkungan rumah dan pekerjaan.

“Ayah... Ayah...” panggil seorang anak berambut pendek hitam kebiru-biruan bernama Aoi, menghampiri sang ayah ditengah kesibukannya merapikan beberapa berkas. Anak tersebut dengan langkah kecilnya berlari mendekati sang ayah dan disambut dengan pelukan hangat.

“Aoi, jangan ganggu Ayah” kata sang kakak yang bernama lengkap Ren Yagami ini berjalan mengikuti sang adik dari belakang.

“Tidak apa-apa kok” sang Ayah yang sudah berumur 50 tahun ini tersenyum dan menatap sang anak sulung. “Yagami, apakah hari ini kamu sibuk?” tanya sang ayah sambil memberikan kode kepada pengasuh Aoi untuk mengajaknya bermain sejenak.

“Tidak. Ada apa?” tanyanya balik sambil melihay beberapa buku di ruang kerja ayahnya itu.

Sesaat ayahnya terlihat cemas dan ragu. Yagami hanya diam menunggu dan menatap ayahnya dengan rasa bingung. Akhirnya ayahnya berkata, “Bisakah kamu dan Aoi tinggal disuatu tempat untuk sementara?”

Raut wajah Yagami terlihat kaget dan sangat bingung. “A-apa maksud ayah? Aku tidak mengerti” Yagami mendekati ayahnya yang sedang duduk disofa tengah ruangan ini. “Apakah ada masalah, yah?”

Ayahnya menunduk dan terlihat sedih. “Yagami, karena kamu sudah dewasa sudah saatnya ayah bisa memberikan tanggung jawab besar kepadamu”. Sang ayah mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung dan dipakaikan dileher anak sulungnya itu. “Maaf kalau ayah merepotkanmu. Tapi saat ini ada yang sedang mengincar kalian”

“A-Apa?!” seru Yagami.

“Sttt! Ayah tidak ingin ada yang mengetahui hal ini. Ada seseorang yang sedang mengincar keluarga kita dan bermaksud untuk membunuh kita semua. Ayah tidak mau ada sesuatu yang terjadi pada kalian. Oleh karena itu, ayah berharap kamu dan Aoi bisa keluar dari sini dan tidak kembali untuk sementara waktu hingga masalah ini terpecahkan...”

“Tapi, bagaimana dengan ayah? Aku tidak mungkin meninggalkan ay-” Sang ayah menggeleng menghentikan keluhan anaknya itu. Yagamipun mengerti dan segera berpamitan dengan ayahnya. “Jaga dirimu baik-baik, ayah” pamitnya dan menundukan kepala untuk terakhir kalinya.

Sesuai dengan perintah sang Ayah, Yagami langsung menjemput Aoi dan membawanya keluar rumah. “Kak, kita mau kemana?” tanya Aoi dengan lugunya.

“Kita akan jalan-jalan.” jawab Yagami singkat sambil tersenyum dan memakaikan kalung peninggalan ibunya yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu.

Seluruh penghuni rumah ini sempat merasa bingung dengan kelakuan tuan muda mereka karena langsung saja membawa adiknya untuk jalan-jalan namun tidak ada pengawasan sama sekali. Tapi pendapat tersebut tidak dia hiraukan dan segera menuju hutan belakang rumah.

...........................

Baru saja beberapa saat keluar, perasaan Yagami mulai tidak enak. Dia merasa bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka dan ternyata itu benar. Setelah memasuki taman lebih dalam, ada 2 orang pemburu yang menghalangi jalan mereka. “Mau kemana kalian?! Hah~!” tanya salah satu dari mereka sambil berjalan mendekati mereka.

Yagami hanya diam saja sambil memeluk Aoi yang mulai ketakutan. “Kenapa diam saja! Tidak punya mulut!” seru satunya dan mencoba untuk menarik mereka namun gagal.

“Lari!” seru Yagami sambil menarik tangan sang adik.

Hari semakin sore menjadi keuntungan bagi Yagami dan Aoi karena cahaya matahari semakin gelap dan membuat 2 orang pemburu itu mulai kehilangan jejak mereka. Saat melihat sebuah kuil kosong, Yagami menarik tangan Aoi dan bersembunyi di dalam sana hingga kedua penjahat tersebut mulai meninggalkan mereka.

“Kak, memangnya kita mau kemana?” tanya Aoi yang semakin bingung dengan perjalanan yang dipimpin oleh kakaknya itu.

Yagami diam tertunduk dan bersandar pada tembok kuil. Sambil tersenyum dia berkata, “Maafkan niichan, Aoi”. Aoi diam menunggu penjelasan kakaknya. “Sebenarnya kita sedang kabur”.

Aoi yang mulai mengerti dengan keadaan, bersandar pada bahu sang kakak. “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Yagami menggeleng dan menatap langit yang mulai menjadi hitam dan diterangi oleh bintang-bintang.

Ditengah kebingungan tersebut, tiba-tiba saja datang seorang anak perempuan berambut panjang sebahu memakai kimono berwarna merah mendekati mereka. “Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

Yagami bangkit dari duduknya. “Maaf. Bisakah aku bertemu dengan kepala kuil disini?”

Anak perempuan itu sempat terkejut dan membungkukkan tubuhnya. “Maaf. Kepala kuil disini sedang keluar. Apakah anda kenalannya?” Yagami menggeleng. “Udara diluar makin dingin. Apa kalian mau minum teh sejenak untuk menghangatkan tubuh?”

Ajakan anak perempuan tersebut menjadi kesempatan besar bagi mereka. Yagami sambil menggandeng tangan kecil Aoi, berjalan memasuki lorong yang menuju ruang tunggu kuil utama. “Ah maaf. Bolehkah aku tahu namamu?” tanya Yagami ragu-ragu ditengah kesibukan anak perempuan itu membuat teh.

“Aiko. Sanada Aiko” jawabnya sambil tersenyum dan kembali meletakan teh diatas meja kecil. “Maaf kalau saya lancang. Bolehkah saya tahu keperluan anda bertemu dengan kepala kuil?”

Yagami diam sejenak dengan menatap batang teh yang ada didalam gelasnya. “Sebenarnya... kami mau minta izin untuk tinggal disini dalam beberapa waktu...” Yagami-pun mulai memperkenalkan diri, menjelaskan situasi dan kondisi mereka pada saat ini. Tidak ada sanak saudara ataupun kenalan yang bisa mereka minta bantuannya. Mau tidak mau mereka harus bisa berusaha sendiri untuk bertahan hidup.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, tiba-tiba saja Aiko berkata dengan semangat, “Kalau begitu tinggal saja disini. Bagaimana?” dan kali ini Yagami yang terkejut. “Lagipula... Aoi sudah tidur” tunjuknya pada Aoi yang sudah tertidur lelap dengan menggunakan tangan sebagai bantalan.

“Tidak apa-apa?”

Aiko mengangguk. “Kalau begitu, akan aku ambilkan selimut dulu untuk menunggu kepala kuil jika masih penasaran” Yagami mengangguk sebagai ganti jawaban.

Menunggu kepala kuil merupakan suatu hal yang menguras tenaga. Sudah lebih dari 3 jam belum ada tanda-tanda dari beliau. Hingga tidak disadari bahwa Yagamipun tertidur disebelah Aoi sambil bersandar pada tembok.

.................................................

“Aiko! Aiko!” panggil seseorang yang bertubuh tinggi besar, berambut hitam lurus dan berwajah tegas dari pintu kuil yang bertolak belakang dengan ruang tunggu utama. “Aiko!” panggilnya kali ini dengan nada panik.

“Aduh, niichan! Jangan teriak-teriak. Ada tamu...” jelasnya sambil menatap kearah ruang tunggu. “Ada apa? kenapa teriak-teriak?” raut wajah sang kakak terlihat sedih dan memeluk tubuh adik kecilnya itu. “Ni-niichan? Kane-niichan?”

“Aiko...” laki-laki yang mempunyai nama Kanesaki ini memendamkan wajahnya pada bahu adiknya. “Tadi aku baru dapat berita kalau... kepala kuil... meninggal...”

“Ap-!” rasa terkejut Aiko sudah tidak bisa ditutupi lagi. Orang yang selama ini merawat mereka meninggal akibat kecelakaan dan terlambat dalam memberikan pertolongan. “Kane-niichan, kita masuk dulu bagaimana?” diikuti oleh anggukan sebagai jawaban.

..........................................

Saat melewati ruang tunggu utama, Kanesaki menghentikan langkahnya dan jika tidak ditutupi oleh gelapnya malam, sudah terlihat perubahan warna wajahnya tersebut. Rambut hitam halus yang menutupi sebagian matanya, wajah yang manis dan terlihat polos, membuatnya diam seribu bahasa. “Siapakah dia? Apakah mereka tamu yang Aiko maksud?” pikirnya.

Kanesaki yang masih terpukau tidak sengaja menjatuhkan katana yang dia bawa dan membuat orang yang dari tadi dia perhatikan tersebut mulai membuka matanya. Kali ini benar-benar membuat seorang yang biasa ditakuti dikuil itu menjadi luluh. Bahkan dia juga memperhatikan gerak-gerik orang yang belum dia kenal itu dari mulai membuka matanya, helaian rambutnya yang bergerak mengikuti pemiliknya, dan senyumannya yang dia berikan kepada Kanesaki. “Ah, maaf” pintanya sambil menyelimuti adiknya. “Apa anda kepala kuil disini?”

Kanesaki menggeleng. “Maaf jika sudah membuatmu menunggu lama”. Nada suara Kanesaki kembali melemah. “Kepala kuil baru saja meninggal akibat kecelakaan”

Yagami saat mendengarnya juga terkejut. “Maaf...”

“Tidak apa-apa” balas Kanesaki.

Tidak ada sepatah katapun diantara mereka. Pada akhirnya Yagami mulai angkat bicara, “Apakah kami boleh tinggal disini sejenak?”

Wajah orang yang baru dia kenal itu benar-benar membuat hati kerasnya menjadi luluh. Biasanya dengan cepat, Kanesaki langsung menolak orang yang meminta bantuan padanya. Tetapi kali ini Kanesaki hanya diam mengangguk dan disambut dengan senyuman dari orang tersebut. “Kamu bisa pakai ruangan ini”

“Benarkah?” Tanya Yagami untuk meyakinkan dan dijawab dengan anggukan. “Terima Kasih. Oh ya, namaku Ren Yagami dan ini adikku, Aoi”

“A-aku Kentarou Kanesaki” balasnya sambil menunduk.

........................................

Pagi-pagi sekali Kanesaki sudah terbangun untuk melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan, membunyikan lonceng kuil. “Ne, Kane-niichan. Apa benar mereka boleh tinggal disini?” tanya sang adik yang masih ragu dengan keputusan kakaknya kemarin malam.

“Memang kenapa? Apa ada masalah?” balasnya sambil mencuci tangan disebuah tempat air.

“Kita tidak minta izin dulu dengan Yoko-sama?” Kanesaki terdiam.

Kuil yang mereka tinggali saat inipun bukan tempat tinggal mereka. Lima tahun yang lalu keadaan mereka sama dengan keadaan Yagami dan Aoi, yaitu meminta bantuan untuk tinggal disini. Dengan kebaikan dari Ue-sama, akhirnya mereka diizinkan tinggal walaupun ada penolakan dari Yoko-sama. “Tapi kita tidak bisa mengusir mereka begitu saja” bela Kanesaki. “Tidak baik membiarkan seorang anak perempuan berkeliaran dimalam hari. Terlebih lagi dia punya adik laki-laki yang masih kecil” sambungnya.

Aiko yang mendengar penjelasan kakaknya itu tertawa lebar. “Kane-niichan, ga salah?” wajah Kanesaki terlihat bingung. “Kakak... kakak... Yagami itu... dan Aoi itu....” Aiko membisikan ke telinga Kanesaki dan langsung membuat rona wajahnya memerah.

“A-apa?!” seru Kanesaki yang mulai salah tingkah.

“Kakak kalau tidak percaya, coba tanya saja. Baiklah. Aiko siapkan sarapan dulu” godanya sambil berjalan meninggalkan Kanesaki sendirian.

Bagaimana mungkin?! Seorang yang berwajah manis itu... laki-laki? Sedangkan adiknya yang terlihat kaku itu... perempuan?

“Selamat pagi, Kentarou” sapa Yagami membuyarkan lamunannya. Kanesaki langsung terhentak dan terlihat menghindar karena terkejut. “Ah, maaf. Maaf sudah membuatmu kaget”

“Ti-tidak. Ini bukan salahmu” seru Kanesaki terburu-buru. “Bagaimana tidurmu?Nyenyak?”

“Ya. Terima Kasih” balasnya sambil membungkukkan tubuhnya. “Kentarou, pemandangan disini indah ya”

Kanesaki mengikuti arah pandangan Yagami dan melihat bangunan kota yang mulai terlihat datar karena tertutup awan. “Ren suka ya?” Yagami mengangguk. Sambil menunggu sarapan, Kanesaki mengajak Yagami untuk duduk dibangku kuil sejenak. “Ano, Ren... bolehkah aku tahu mengapa kamu ingin tinggal disini?”

Pada awalnya Yagami merasa ragu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Entah mengapa ada suatu keberanian yang mengisi pikirannya dan diapun memulai cerita dari keluarganya hingga masalah yang sedang menimpa mereka. “... seperti itulah. Tidak mungkin aku meninggalkan adikku sendirian. Sebagai anak laki satu-satunya dikeluargaku, paling tidak aku bisa melindungi adik perempuanku...”

Penjelasan Yagami semakin membuat Kanesaki yakin dengan keadaanya bahkan siapakah sosok orang yang baru dia kenal. “Baiklah. Akan aku tanyakan kembali kepada wakil kepala kuil ini...” sahut Kanesaki sambil berdiri dan dibalas dengan senyuman oleh Yagami. “dan... kamu bisa memanggilku dengan Kanesaki saja”

“Baiklah. Kamupun bisa memanggilku dengan Yagami. Terima Kasih, Kane-chan”

“K-Kane-chan?” raut Kanesaki tersipu malu. Karena selama ini tidak ada yang memanggil namanya seperti itu. Kanesaki yang tidak mau kalah memikirkan nama lainnya. “...bagaimana kalau aku memanggilmu dengan Ou-chan?”

Yagami terhentak. “Kenapa?”

Wajah Kanesaki mulai memerah malu. “Dari kata Ouji... aku singkat menjadi Ou-chan. Bagaimana?” alasan sebenarnya adalah rasa kekagumannya pada Yagami yang terlihat seperti seorang pangeran dalam cerita negeri dongeng.

Yagami mengangguk dan merekapun berjalan kedalam kuil untuk sarapan.

..........................................

“TIDAK! TIDAK BOLEH!” seru Yoko-sama saat Kanesaki menjelaskan situasi Yagami dan Aoi. “Sejak kapan kalian bisa menentukan aturan disini?! Tidak aku izinkan!”

“Tapi, Yoko-sama... mereka...”

“Tidak ada tapi! Apa kamu tidak sadar kalau pemasukan kuil semakin berkurang?! Kita berempat saja sudah kerepotan. Ah! Kita sudah tidak berempat lagi...” kali ini Yoko-sama tertawa. “Sudah bagus si kakek tua itu sudah tidak ada. Pengeluaran kita semakin berkurang...tapi...” kali ini raut muka Yoko-sama terlihat marah. “Baru berkurang satu malah bertambah dua?!”

Kanesaki tidak terima mendengar penghinaan dari Yoko-sama. Dengan kasar Kanesaki keluar ruangan tanpa menghiraukan panggilan dari Yoko-sama yang masih memanggil namanya. “Bagaimana, Kane-niichan?” tanya Aiko yang sudah menunggu dari tadi didepan kuil. “Lalu, bagaimana dengan mereka?”

Kanesaki tertunduk dan berjalan meninggalkan Aiko sendirian menuju ruangannya untuk mengganti pakaian. “Kane-chan!” panggil Yagami yang menghampirinya. “Ada apa denganmu? Kenapa terlihat kesal?”

“Tidak ada apa-apa” jawabnya singkat. “Aku akan ke kota. Apa kamu ingin menitip sesuatu?” Yagami menggeleng. “Baiklah. Ou-chan, berhati-hatilah... dengan wakil kepala kuil dan ... jangan pernah hiraukan perkataannya. Ingat itu”

Nada suara Kanesaki terdengar... entah seperti ancaman atau nasihat. Tetapi Yagami tetap menerimanya dan memberikan senyuman terbaiknya. “Hati-hati dijalan”

“Jadi... begitu” gumam Yagami setelah mendapat penjelasan dari Aiko. “Maaf sudah merepotkan kalian semua”

“Maaf” Aoi yang berada disebelah Yagami ikut membungkukkan kepala.

“Tidak kok” bantah Aiko terburu-buru. “Yoko-sama memang orang yang pelit, tidak seperti Ue-sama” keluhnya sambil melipat kedua tangannya dan mengembungkan pipinya. “Beda jauh!”

Ditengah keceriaan yang ada, tiba-tiba saja ada seorang paruh baya memasuki ruangan dengan suasana tegang. “Aiko! Kenapa kamu masih disini?! Apa kamu sudah selesai membersihkan gudang belakang?!”

“Ah..!” sepertinya Aiko melupakan sesuatu. “Ok degh... Yagami-niichan, Aoi-chan... saya ke gudang dulu” pamitnya. Setelah Aiko keluar, Yoko-sama memasuki ruang tersebut dan menutup pintunya dengan kasar.

“Ah, maaf” seru Yagami terburu-buru yang diikuti oleh Aoi. “Nama saya Ren Yagami dan dia Aoi. Maaf kalau sudah...”

“Sampai kapan kalian akan disini?” tanya Yoko-sama dengan lantang. Mereka hanya diam saja. “Aku tanya sekali lagi. Sampai kapan kalian akan disini?!” kali ini suara Yoko-sama lebih meninggi.

“Ma-maaf. Sa-saya tidak tahu...”

“APA?!” Yoko-sama yang sudah kesal langsung menarik kerah Yagami dengan kasar. “Kenapa manusia seperti kalian harus berada disini?! Tidak tahukah kamu kalau merawat mereka saja sudah sulit! Sekarang ditambah dengan kalian?!” mereka yang dimaksud adalah Kanesaki dan Aiko.

“Maaf. Saya akan membantu merawat kuil ini dan mencari pekerjaan”

Kekesalan Yoko-sama mulai berkurang. Tangan kasarnya melepas kerah Yagami dan berbalik menarik tangan Aoi dengan kasar menjauhkan Aoi dari kakaknya. “Niichan!” isak tangisnya memenuhi ruangan.

“Aoi!” seru Yagami dan berusaha menarik kembali namun dihalangi dengan tongkat yang dibawa oleh Yoko-sama. “Tolong lepaskan dia”

“Jika kamu ingin dia baik-baik saja, kamu harus mau melakukan apa saja yang aku katakan. Bagaimana? Ini perjanjian!”

Yagami diam sejenak dan menatap adiknya yang mulai ketakutan. Apa yang harus aku lakukan?! Aku ingat kalau Kane-chan pernah mengatakan padaku untuk berhati-hati. Namun jika sudah seperti ini, apa yang harus aku lakukan?! “Bagaimana?!” seru Yoko-sama semakin geram.

Yagami mulai tidak tahan dengan keadaan seperti ini akhirnya menyetujui keinginan Yoko-sama. “Niichan!” Aoi berlari kecil memeluk sang kakak dan semakin terisak.

“Mulai sore ini, kamu harus membantu seperti yang lainnya. Untuk pekerjaan apa yang pasti untukmu akan aku tentukan besok. Sekarang kamu bersihkan loteng kuil yang terletak didekat lonceng utama bersama dengan adikmu itu!”

Yagami sempat tersentak. “Tapi dia masih kecil”

“Aku tidak perduli! Cepat keluar dan kerjakan!” perintahnya dan meninggalkan mereka berdua.

“Niichan...” airmata mulai kembali memenuhi wajahnya.

“Tenang. Jangan menangis lagi... ada kakak disini... tidak akan terjadi apa-apa dengan kita...” ucap Yagami sambil memeluk Aoi. Kuharap demikian... –to be continue-

-----0000000000end00000000000000--------

Hua... kelar !!!! ><>

Bagaimana cerita na? (di timpuk fans, ouji, kane n aiko)

Pertama2 maaf buat yang ga suka kalo sifat mereka ada yang BEDA banget dengan ASLI na.. ><>

Alur cerita na?

Hmm.. masih membingungkan... bisa ja sih aku buat yang rada.. gimana githu...*lirik (dibantai ouji n kane) tapi karena berhubung ak ndiri juga gak kuat ngebayangin na.. jadi seperti na yang itu... aku skip dulu kali ya ^^’ pluz.. kalo ak buat na skarang ga bisa...(event)... mungkin bulan depan akan aku buat ATAU .... hahahahahaha.... *digaplok karena bayangin yang macam2...

Ok sekian dulu ^^ thanx buat yang dah baca ^^

Please ur review n ur comment ^^

(Reqzt? Hmm..bolh2... tinggalin review/message di sini ja ^^ nanti kita bicarakan lagi selanjut na ^^)


next: part 2

Sunday, August 8, 2010

ichi part 1b

Ryuto Ichirou 5 tahun

Mama: Ryuto Seiichi (Tanaki Seiichi)

Papa: Ryuto Genichirou

Ichi part 1b

-----------------0000000000000000000000------------------

“Mama...” suara Ichi membuyarkan lamunanku. Ternyata hari sudah semakin gelap dan aku masih belum menyiapkan makan malam.

“Ichi-kun, bagaimana tidurmu?”

Dengan langkah kecilnya, dia berlari mendekatiku, menabrak tubuhku dan aku langsung memeluknya. “Mama, aku tadi bermain dengan Tedy” Tedy adalah nama beruang kesayangannya.

“Hua... sepertinya menyenangkan” aku menggendongnya sambil berjalan menuju dapur. “Mau nasi gulung?”

Dia mengangguk dengan pasti dan terlihat pipinya yang bulat memerah. Dia memintaku untuk menurunkan dan membiarkannya berlari menuju ruang keluarga. Tangan kecilnya meraih sesuatu yang tergeletak diatas meja, sebuah kain bermotif beruang dan dia selipkan di kerah bajunya. Dia sudah terbiasa kalau jam makan harus menggunakan celemek, terlebih dengan celemek kesayangannya itu.

Tanpa membuang waktu, makanan yang aku janjikanpun siap untuk disajikan. “Ichi-kun... kamu mau pakai sendok yang mana?”

“Sendok beruang” serunya.

“Baiklah...” ucapku. Kuletakan beberapa nasi gulung diatas piring kesayangannya. Walaupun berantakan, aku membiarkan dia mencoba untuk belajar makan sendiri. Lagipula, setiap makan nasi gulung dia paling tidak mau disuapi. “Ichi... ada nasi” tunjukku dan mengambilnya dari pipinya.

Melihatnya dia semangat kembali membuatku ikut merasa senang. Dengan penuh semangat dia menghabiskan makan malamnya lalu membantuku untuk menyiapkan makanan terakhir yang paling dia sukai, makanan penutup.

Setelah meletakan piring-piring tadi, Ichi mengambil dua buah mangkuk plastik berbentuk kepala beruang berikut dengan sendoknya. Dia yang masih sibuk merapikan piring-piring tersebut, kubersihkan beberapa peralatan memasakku dan setelah itu mengambil sebuah mangkuk besar berisi eskrim coklat-vanila kesukaannya. Setelah makan penutup berakhir, kami menghabiskan waktu diruang keluarga untuk menonton.

Ichi suka menghabiskan waktunya untuk menggambar. Kalau sudah ada gambar yang dia suka, sangat sulit sekali untuk mengajaknya segera tidur. Tidak jarang dia selalu bangun lebih awal daripadaku untuk melanjutkan acara kesukaannya itu.

“Ichi-kun...” panggilku setelah selesai merapikan tempat tidurnya. “Kamu belum mengantuk?” Ichirou hanya menggeleng lalu kembali menatap bukunya dan mengambil beberapa krayon yang berada disebelahnya.

“Ichi-kun, ayo ganti piyama” panggilku dan memperlihatkan sebuah piama yang baru aku buat untuknya.

Pandangannya langsung teralihkan dan bangun dari tempatnya. Berjalan perlahan dan langsung menyambar sebuah boneka beruang yang terdapat di piayama barunya itu. “Tedy!” serunya dengan tawa di wajah imutnya.

“Nah. Sekarang ganti baju dengan baju yang ini, ya” bujukku sambil membuka baju yang dia pakai. Wajahnya terlihat ceria sekali, bahkan rona wajahnya lebih merah. “Ayo, kita sikat gigi” ajakku lagi sambil memegang tangan kecilnya itu.

Sekitar 10 menit menghabiskan waktu di dalam sana. Wajar saja, Ichi masih perlu banyak pengajaran bagaimana mengurus dirinya. Setelah semuanya selesai, Ichi siap untuk segera tidur. Sambil memeluk boneka kesayangannya, matanya mulai tertutup dan akhirnya dia tertidur pulas.

Hanya melihat wajah tidurnya, membuatku kembali teringat pada kekasihku. Semakin lama Ichirou semakin mirip dengan ayahnya. Bentuk wajahnya yang terlihat kaku, panjang rambut hitamnya dan beberapa karakter sifat ayahnya yang menurun padanya. Hanya saja, dia lebih banyak tersenyum dibandingkan ayahnya. Kalau membayangkan itu, aku sering tertawa pada diriku sendiri.

Disisi lain, ada beberapa hal yang menurun dariku. Aku merasa bahwa ‘seharusnya tidak’ Ichirou dapatkan. Tubuhnya yang lemah, tidak bisa melawan dan hanya bisa diam saat diejek oleh teman-temannya, merupakan beberapa hal buruk yang ada pada diriku. Aku hanya bisa berharap, segala keburukan yang menurun padanya tidak membuat senyumannya menghilang dari wajahnya.

Aktivitas hari ini aku mulai dengan mengantarkan Ichirou ke sekolahnya. Jika bel sudah berbunyi, aku baru bisa pergi meninggalkannya. Hal tersebut dikarenakan Ichi yang masih saja takut untuk masuk walaupun sudah ada Masa-sensei yang menjemputnya. “Ichi-kun... ayo masuk” dengan lembut aku menurunkannya didepan kelasnya.

Ichirou masih saja tidak melepaskan genggamannya pada kerah bajuku. Bahkan dia menenggelamkan wajahnya dan melingkarkan tangan kecilnya pada leherku. “Ichi-kun... ayo masuk. Teman-teman yang lain juga sudah datang” kali ini Masa-sensei yang membujuknya.

“Tidak mau” tolaknya. “Ichi mau mama disini”

Dengan perlahan aku melepaskan genggamannya, menurunkan dia, memegang wajah kecilnya dengan tangan kananku, dan memegang bahu kecilnya dengan tangan kiriku. “Ichi-kun... ayo masuk. Bermain dengan yang lainnya...” Ichi masih saja menggeleng. “Tenang saja. Mama akan menunggu disini”

“Benarkah?” kali ini matanya terlihat bersemangat.

Aku bergumam sejenak. “Tetapi... sepertinya mama akan pulang sebentar...” langsung saja disambut dengan pelukan kecilnya. “Ichi-kun... Tedy sendirian di rumah. Jadi mama mau temani Tedy dulu...” kali ini dia mengangguk.

“Mama... Mama...” panggilnya lalu membisikan sesuatu. “Mama, jagain Tedy, ya. Jangan sampai dia kesepian. Nanti ajak aja Tedy kesini” pintanya dengan polos. Aku mengangguk dan mengelus rambutnya.

“Baiklah. Nah, sekarang kamu masuk dulu. Lihat, Masa-sensei sudah menunggu” kali ini dia benar-benar sudah terbawa suasana. Ichi langsung membalikan badan, berlari kecil dan meraih tangan Masa-sensei yang sudah menunggunya. Sedangkan aku, sudah siap untuk kembali kerumah untuk melakukan tugas sebagai ibu setiap harinya.

Karena tidak terlalu jauh, perjalanan pulang hanya memakan waktu 15 menit. Dengan cepat aku langsung merapikan barang-barang milik Ichi seperti mainan, tempat tidurnya dan beberapa hal lainnya. Hingga aku menemukan sesuatu yang membuatku semakin sedih.

Sebuah gambar dengan krayon yang dimana sebuah foto keluarga yang terlihat menikmati kesehariannya. Tetapi yang membuatku sedih, gambar seseorang yang lebih tinggi dari dua gambar yang lainnya, dia memberikan tanda tanya besar, dan ditutup dengan penuh coretan. Sepertinya dia masih memikirkan perkataan temannya itu, tetapi dia tidak berani menanyakannya kepadaku. “Ichi...maafkan mama...” gumamku dan meletakan gambarnya disebuah kotak hartaku.

Setelah selesai merapikan dan membersihkan rumah, dengan cepat aku kembali menuju sekolah untuk menjemput Ichirou dengan membawa boneka kesayangannya itu. Namun hal yang mengejutkan adalah keberadaan Ichirou sudah tidak ada disekolah. Spontan aku langsung menanyakan keberadaan Ichirou. Masa-sensei, selaku wali kelasnya, mengatakan bahwa Ichirou sudah dijemput oleh seseorang yang berasal dari keluarganya juga.

Saat aku menanyakan tentang orang yang menjemput Ichirou, Masa-sensei menjelaskan dengan pasti bahwa orang yang menjemput Ichirou adalah seorang ibu yang mempunyai rambut berwarna hitam lurus sebahu, terlihat tegas, dan memakai yukata berwarna putih dengan motif capung pada bagian bawahnya. Dengan kata lain, ibu tersebut adalah ibu mertuaku atau nenek Ichirou.

Perjalanan menuju rumah Genichirou cukup jauh. Tanpa memperdulikan pekerjaan, dengan cepat aku bergegas menuju stasiun kota. Di dalam perjalanan detak jantungku tidak berhenti berdetak dengan cepat. Bukan masalah kepulanganku kerumah tersebut, namun aku mengetahui dengan jelas maksud dan alasan ibu menjemput Ichirou, yaitu mengambil alih Ichirou.

Perjalanan membutuhkan waktu 1 jam. Saat berada di depan gerbang rumahnya, aku langsung berjalan masuk yang disambut oleh ayah Genichirou. “Seiichi, lama tidak jumpa. Ada apa kamu kesini?” tanya ayah yang sepertinya baru mau keluar rumah.

“Ayah, dimana ibu?” tanyaku dengan terburu-buru. Memang kelakuanku tidak sopan dengan hukum dikeluarga ini, tetapi rasa khawatirku sudah tidak bisa tertutupi lagi.

“Ibu? Dia sedang bermain dengan Ichirou di ruang tengah. Kamu masuk saja, ayah ada urusan” pamitnya. Aku membungkuk sebagai tanda rasa hormatku dan langsung berjalan menuju ruang tengah rumah ini.

Memang benar Ichi sedang bermain dengan neneknya, bersama dengan kedua cucunya yang lain. “Ichi!” seruku. Pandangannya langsung menuju kearahku, lalu dengan langkah kecilnya berlari dan memelukku. Akupun menyambutnya dengan memeluk erat tubuh kecilnya. “Ichi, ayo kita pulang” ajakku.

Tepat saat aku menggendongnya, ada suara seseorang yang mengejutkanku dari belakang. “Kamu mau kemana?” ternyata ibuku. Aku hanya terdiam menatapnya dan mencoba untuk menghindar darinya, tetapi setiap aku melangkah selalu dihalangi olehnya. “Kalau kamu mau pergi, biarkan Ichi tinggal disini. Dia akan lebih bahagia tinggal disini dari pada bersama denganmu” nada bicara ibu mulai tinggi.

“Tidak! Tidak akan pernah aku meninggalkannya!” seruku sambil memeluk erat tubuh Ichi. Ibu yang tidak suka dengan kelakuanku dan mulai mencaci dan mencoba menarik tubuh Ichi. Tentu saja aku tidak melepaskannya dan sempat membuat Ichi mulai terisak dengan sikap kami yang kekanak-kanakan ini.

Aku mengumpulkan seluruh keberanian dan tenagaku untuk mendorongnya, hingga tanpa aku sadari bahwa aku membuatnya terjatuh. Kesempatan yang ada tidak aku sia-siakan. Dengan cepat aku berlari menuju pintu keluar.

“Penjaga! Cepat tangkap dia!” seru ibu kepada penjaga rumah.

Tepat saat berada didepan gerbang, jalanku dihalangi dan mereka mencoba untuk mengambil Ichi. Tenagaku yang tidak sebanding dengan dua orang tenaga laki-laki membuat genggamanku lepas dan Ichi berada ditangan salah satu dari mereka. “Ichi!” teriakku.

“Mama!!” isak tangisnya mulai memecah dan air matanyapun membasahi wajahnya. Ichi mulai memberontak dan mencoba melepaskan dirinya. Tentu saja tenaga untuk anak 5 tahun tidak sebanding dengan ukuran orang yang sedang memegangnya itu.

Tanpa berfikir panjang, aku menginjak kaki penjaga yang menahan gerakanku, memukul orang yang memegang Ichi dan menarik tangan Ichi untuk segera keluar dari rumah itu.

Kedua penjaga itu masih saja mengejar kami dan mereka berhasil menghalangi langkah kami saat mencoba untuk memasuki kuil untuk bersembunyi. Detak jantungku mulai berdetak cepat dan nafaskupun mulai tidak beraturan. Ichi yang ketakutanpun memeluk leherku dengan erat. Rambut dan pakaiannya sudah berantakan dan menunjukan bahwa dia tidak ingin lepas dariku. “Lebih baik kamu serahkan anak itu” seru salah satu penjaga.

“Tidak! Tidak akan aku lepaskan! Aku ini ibunya. Tidak mungkin aku membiarkan anakku tinggal ditempat seperti itu?!” seruku. Akibat terlalu boros mengeluarkan tenagaku, tiba-tiba saja aku jatuh tersungkur dengan menahan Ichi dalam dekapanku.

Kesempatan besar itu mereka gunakan untuk mengambil Ichi dengan mudah. Salah satu dari mereka langsung menggendong dan menahan rontaan Ichi, sedangkang salah satunya berkata, “Lebih baik kamu tidak melawan bos kami. Kami tidak ingin keadaanmu lebih buruk dari pada ini. Maafkan kami”

“Mama!!! Mama...!!” ronta Ichi. Wajahnya mulai memerah dengan penuh air mata. Tanganku mencoba untuk meraihku namun aku sama sekali tidak berdaya. Tenagaku tidak bisa aku keluarkan sama sekali, bahkan untuk bangun sekalipun. Tangaku kucoba aku gerakan untuk segera bangkit dan meraihnya, tetapi itu semua percuma. Wajahkupun mulai memanas saat melihat sosok Ichi yang semakin menjauh.

Tiba-tiba saja aku melihat seseorang pemuda yang melintasi mereka, memukul mereka, dan menarik Ichi. Rasa terkejut dan takut mulai memenuhi pikiranku. Namun tanpa aku sadari, dia langsung menarikku dan membawaku segera memasuki taman kuil ini untuk bersembunyi.