Sunday, August 1, 2010

change??

ps: ni cerita dagh lama banget, pas masa ak SMA ^^ hehehe.. jadi kalo bahasa na masih kacau n masih ya..gimana githu, maaf ><>

ok2... silahkan dibaca ^^

------oooooooo-------

Changes??

Rasanya aku tidak ingin bangun dari mimpi ini. Hari-hari yang aku lalui terasa menyenangkan sekali. Sudah 1 tahun lebih aku bersama dengan Chris. Dia yang menolongku saat hampir terjadi kecelakaan. Tidak lama kemudian, dia menjadi pacarku. Aku merasa hidupku penuh dengan kegembiraan. Bagaimana tidak! Di sekolah, dia menjadi pusat perhatian banyak orang. Selain itu, dia juga memunyai beberapa kemampuan yang baik disekolah. Aku merasa bangga menjadi pacarnya.

Liburan kali ini aku pergi bersama dengan orang tuaku, begitu juga dia. Walaupun begitu, kita masih berhubungan melalui telepon genggam. Terkadang banyak yang bertanya tentang pacarku ini, apakah dia mempunyai ‘orang lain’ selain aku. Tapi aku percaya padanya.

Sebentar lagi adalah ulang tahunnya. Aku tidak mengatakan padanya kalau aku sudah pulang dari luar kota. Aku ingin membuat kejutan untuknya. Saatku katakan tentang kedatanganku, dia terkejut sekali. Keesokan harinya aku dan dia berjanji akan bertemu disebuah restoran yang biasa aku dan dia makan bersama.

“Anna!” serunya. Dia baru saja datang kesini.

“Chris!” balasku. Dia berjalan mendatangiku dan duduk di depanku. “Bagaimana dengan liburanmu?”

“Mengasikan sekali! Kamu tahu, aku menemukan beberapa perangko lama! Dan aku langsung membelinya dengan jumlah yang banyak! Aku takut kalau nanti akan rusak atau ada yang hilang” katanya dengan semangat.

Aku tertawa. Aku suka saat dia sedang seperti ini. Saat tersenyum, dia terlihat keren sekali. “Bagus donk” jawabku.

“Oh iya. Anna, kata kamu ada yang ingin dikatakan padaku. Memangnya ada apa?” tanyanya penasaran.

Aku tersenyum. “Kira-kira sebentar lagi akan ada perayaan apa ya?”

“Perayaan? Memangnya perayaan apa?”

“Dugh... Masa tidak tahu sih?” aku sedikit mengambek padanya. “Tanggal 15 bulan ini ada apa ya?” dia menggeleng. “Dugh!” aku menepuk pundaknya. “Itu kan hari ulang tahun kamu. Masa kamu lupa dengan hari ulang tahunmu sih...”

“Oh iya,ya!” serunya. Sepertinya dia baru ingat. “Aku saja lupa dengan hari ulang tahunku sendiri” celetuknya. “Lalu?”

“Ada yang ingin aku berikan” seruku dengan semangat. Dia bertanya padaku tetapi aku diam-diam saja dan tertawa.

“Ah! Jangan-jangan perangko ya?” dia menebak dengan benar. Aku menundukan kepala dan memukulnya. “Jangan-jangan perangko yang tahun 1940-an yang kamu simpan dari sahabatmu itu?”

Lagi-lagi tebakannya benar! “Ah! Sebal! Kok kamu tahu sih?! Padahal ingin aku berikan sebagai kejutan!”

“Aku khan sudah pacaran denganmu selama 1 tahun legih. Aku masih ingat dengan cerita-ceritamu kok. Dan... aku sebenarnya sudah suka dengan perangko itu saat kamu perlihatkan padamu”

Setelah berbicara untuk beberapa saat, aku-pun diantar pulang olehnya. Dengan cepat berjalan ke kamar dan merebahkan diri kekasur. Aku memeluk bantalku dan mengambil boneka kesayanganku. “Kamu tahu, hari ini aku senang bisa kencan dengan Chris. Tetapi aku kesal! Dia tahu hadiah yang ingin aku berikan padanya!”

Jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Sepertinya sudah waktunya aku merapikan tasku ini. Sejak kepulanganku, aku belum merapikan tas-tasku ini. Aku mengambil sebuah kotak dari tasku ini berisi perangko dari temanku. Sebenarnya aku sedih. Perangko dari sahabatku ini akan aku berikan pada pacarku. Tetapi aku terlanjur sayang sama dia. Aku berharap sahabatku akan mengerti perasaanku ini.

Pagi ini Chris menghubungiku. Dia mengajakku untuk jalan bersama-sama. Kami berjalan bersama-sama di sebuah taman ria dikota ini. Kami bermain beberapa permainan sampai sore. Jarang sekali aku dan dia bisa bersama seharian seperti ini. Aku merasa hidupku penuh dengan kegembiraan.

“Kamu tahu! Aku merasa kalau hidup ini memang menyenangkan sekali!” seruku. Aku menceritakan kejadian hari ini kepada sahabatku, dia tinggal di dekat rumahku.

“Baguslah” katanya turut senang. “Tapi...” suaranya tiba-tiba mengecil. Aku menunduk melihat padanya. “Anna, sebaiknya kamu jangan terlalu percaya dengannya sekarang”

Aku terkejut! “Loh?! Memangnya kenapa?”

“Anna, aku dengar-dengar kalau dia sebenarnya agak... playboy” bisiknya.

Aku terdiam. Lia memang sahabatku, sudah 3 tahun lebih aku berteman dengannya. Tapi, apa memang Chris seperti itu? Atau apakah ada sesuatu antara dia dengan Chris?

“Anna” dia menepuk pundakku. “Aku berkata seperti itu karena aku tidak mau kalau kamu sampai sakit hati seperti dulu. Aku tidak mau melihat kamu sedih”

“Tapi, apa kamu yakin?” tanyaku lagi. “Atau... jangan-jangan...” aku menatapnya dengan tajam.

Dia tertawa. “Aku suka dengannya?” aku hanya diam. Dia menggeleng dan mengela nafas. “Anna, kamu sudah lama kenal dengan aku. Dia itu bukan tipe cowok yang aku suka. Lagipula kamu kan sudah tahu siapa yang aku suka selama ini, kan? Jadi tenang saja. Aku tidak mungkin akan merebut dia darimu kok”Kami tertawa. Mendengar itu aku merasa senang. Memang dia adalah sahabatku dan paling mengerti tentang perasaanku ini.

Jadi aku harus berhati-hati padanya? Padahal kami sudah berpacaran selama 1 tahun. Apakah waktu yang telah dilalui bersama tidak menunjukan sikap aslinya? Ataukah memang dia hanya berpura-pura saja? Walaupun begitu, aku tetap percaya padanya.

Dihari ulang tahunnya ini, aku pergi ke rumahnya. Kami berjanji akan merayakannya disana, berdua saja. “Ini, hadiahnya” gerutuku.

“Terima kasih, ya” katanya senang. “Kok kamu cemberut sih?”

“Habis... Kamu sudah tahu hadiahnya. Jadinya kan bukan kejutan lagi...”

“Tidak apa-apa kok” jawabnya. Dia memelukku, “Aku suka kok dengan hadiahnya. Kamu khan tahu kalau aku sangat ingin perangko seperti ini” hiburnya. “Anna, 3 jam lagi kita bertemu di restoran biasa ya. Bisa kan kamu berangkat sendiri?”

“Loh? Memangnya kamu mau ngapain?” tanyaku bingung. Biasanya dia yang selalu mengantar dan menjemputku.

“Orang tuaku dan pemilik kos ini mau datang memeriksa. Kan tidak enak sama kamu. Harus menunggu lama dan kotor... mau kan?” pintanya.

Aku tidak bisa menolak permintaannya. Aku mengikuti permintaannya dan pulang. Karena hari sudah mulai sore, aku langsung mandi dan siap-siap berangkat. Aku meminta sahabatku, Lia, untuk menemaniku. Aku memang sudah meminta izin padanya dan Chris memperbolehkannya. Lagipula hari ini Chris juga mengundang beberapa temannya.

Sesampainya disana, aku melihat Chris. Aku ingin memanggilnya, tetapi aku melihat sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuatku kesal. Chris sedang bersama dengan orang yang aku kenal, Mina. Dia adalah teman sekelasku dan dia adalah tipe orang yang tidak aku suka, centil! Bersama dengan Chris, dia berdua-duaan. Selain itu Chris juga terlihat dekat dengannya. Mengusap-usap kepalanya dan mencium kepalanya! Aku benar-benar kesal.

“Chris!!!” seruku.

“A... Anna?” mereka terkejut. Tapi Mina tetap saja berada disampingnya. Secara tidak sadar aku langsung menarik tangannya.

“Mina! Ngapain kamu disini?!” bentakku padanya.

“Ngapain?” dengan gayanya yang centil. “Ya aku mau merayakan ulang tahun Chris... hanya berduaan!” kata ‘berduaan’ dia katakan dengan tegas.

“Maksud kamu?” seruku tidak mengerti. “Chris! Apa maksudnya ini?!”

Chris berdiri di tempat bersama dengan Mina. “Anna, maaf. Sepertinya aku sudah tidak bisa bersama denganmu lagi. Aku sudah bosan!” aku kehabisan kata padanya. “Kamu tahu! Selama ini aku tetap bertahan sama kamu karena kamu mempunyai barang yang sangat aku inginkan!” perangko?! “Dan barang itu sudah menjadi milikku. Aku rasa aku sudah cukup berpura-pura baik sama kamu”

Aku benar-benar kehabisan kata-kata. Air mataku keluar. Aku tidak percaya dengan apa yang barusan Chris katakan padaku. Lia datang menghampiriku dan memelukku. “Chris! Kenapa lo jahat banget sama Anna?! Selama ini dia selalu membela dan membantu lo! Ini jadi balasannya?!”

“Lia! Lo masih ingat dengan perangko yang pernah lo kasih ke Anna?” dia menatapku dengan tajam. “Perangko itu yang menjadi incaran gue dan sekarang sudah menjadi milik gue! Bagi gue, perangko adalah barang yang paling berharga! Dan gue akan lakukan apa saja untuk mendapatkan itu!”

Chris terlihat serius mengatakan itu. Hatiku benar-benar hancur. Tidak lama kemudian aku melihat Jun datang. Setahu aku, Jun adalah pacar Mina. “Mina!”

“Jun? Ngapain lo disini?”

“Mina! Kamu sendiri juga ngapain disini? Selain itu, kamu kenapa dekat-dekat dengan Chris?”

“Kenapa? Tentu saja karena aku dan Chris baru saja jadian”

“Apa?! Tapi kita kan...”

“Kita?! Pacaran maksud lo?!” cueknya. “Gue nggak pernah menganggap lo sebagai pacar gue! Lo-nya saja yang selalu ngejar-ngejar gue!” Mina memalingkan mukanya.

“Tapi...” Mata Jun terlihat memelas.

Mina berdiri didepan Jun dan membentaknya. “Asal lo tahu, gue paling benci sama cowok yang sifatnya nggak gentle! Apalagi kayak lo! Muka dan suara lo saja kayak cewek! Lo mau jadi cewek ya?! Lama-lama nanti gue di kira... Agh! Gue males ngomongnya!”

Jun diam terpaku tanpa berkata apa-apa. Jun memang cowok yang sedikit berbeda dari pada cowok yang biasanya. Wajah dan suaranya seperti anak perempuan. Walaupun sudah 17 tahun, suaranya masih belum pecah. Tapi seharusnya itu bukan menjadi masalah.

Jun menunduk dan akhirnya pergi. “Paling dia menangis” cecar Mina.

Mina membuatku kesal sekali. “Padahal aku sudah berusaha untuk menahan diri...” geramku.

“Barusan lo ngomong apa?!” seru Mina.

“A... Anna? Jangan-jangan...” Lia terlihat khawatir. “Anna. Ayo kita pergi dari sini” ajaknya.

Tapi aku sudah tidak bisa menahan rasa kesalku ini. “Jangan kalian pikir dengan kecantikan dan kelebihan kalian bisa memanfaatkan orang dengan seenaknya! Sebaiknya kalian merasakan ini!!” seruku.

Aku menarik Mina dan memukulnya. Tepat di wajahnya. Mina terjatuh dan langsung menangis memegang wajahnya itu. “Pukulanku ini belum seberapa dengan sakit hati orang-orang yang telah lo sakiti!”

Chris membantu Mina duduk dan ingin menghentikanku. Dengan cepat aku menepis tanganku dan memukul perutnya dengan keras. “Pukulanku ini tidak seberapa dengan perbuatanmu yang telah menyakitiku. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!”

“Anna! Ayo pergi!” seru Lia. Dia menarik tanganku dan pergi kedalam mobil miliknya. “Anna! Kamu tenang dulu. Hampir saja satpam datang. Kalau tidak bisa berabe...” lega Lia.

Aku masih saja menangis kesal. Kesal dengan Chris. Kesal juga dengan diriku sendiri. Kesal mengapa aku bisa mudah percaya dengannya. Kesal mengapa aku tidak mendengarkan Lia dengan baik. Dan kesal mengapa aku bisa memberikan barang pemberian sahabatku kepada Chris.

Lia menemaniku menangis. Dia memelukku dan menyemangatiku. Aku bersyukur kepada Tuhan karena disaat seperti ini masih ada orang yang mengerti dan bisa aku andalkan. Tanpa Lia, bisa saja aku melakukan yang lebih buruk lagi dari pada yang tadi.

Setelah aku mulai tenang, Lia mengatakan akan mengantarku. Di jalan, aku melihat Jun. Sedang duduk sendiri di bangku taman dekat restoran ini. Dia masih menunduk dan diam saja disana. Entah mengapa aku turun dari mobil dan berjalan kearahnya.

Jun terkejut melihat aku datang. Dengan cepat menghapus air matanya. Dibangku taman, aku dan Jun menangis bersama. Lia-pun datang menghampiri kami dan menyemangati kami. Saat ini Lia adalah penolong dan penghibur kami.

Setelah kejadian tersebut, hubunganku dengan Chris memburuk. Aku tidak pernah berhubungan lagi dengannya. Mendengar namanya saja aku sudah tidak mau. Untung saja tahun depan aku sudah tidak bersama-sama dengannya. Universitas yang kami tuju memang tidak sama karena keinginan dan tujuan kami yang berbeda. Sebaliknya hubunganku dengan Jun semakin lama mulai dekat. Kami saat ini menjadi teman untuk saling berbagi cerita.

Jun itu anak yang menarik. Dia memang cowok yang unik. Beberapa keahlian yang dimiliki anak cewek dia bisa seperti memasak dan hal bersih-bersih. Dia lebih rapi dari pada aku. Semua keahlian yang dia punya adalah kebalikan dariku. Sifatku yang seperti cowok banyak membawa masalah. Sejak bersama dengan Chris, aku mulai menutup-nutupinya. Tapi mau bagaimana lagi, akhirnya ketahuan juga.

“Jun, sampai besok ya” pamitku. Kami baru saja keluar dari tempat les yang sama.

“Ya. Sampai besok” balasnya. Mendengar suaranya itu aku tertawa. Dia terlihat kesal. “Kenapa sih?”

“Hahahaha... Maaf... Maaf... suaramu itu lucu. Seperti anak-anak! Dan terlebih lagi, gayamu itu...” aku tertawa.

“Huh! Dari pada lo. Suaranya seperti bapak-bapak!” balasnya.

Kami saling menatap dan tertawa. Baru kali ini aku bisa tertawa dengan lepas. Perasaan ini belum pernah aku rasakan. Rasa lega dan senang.

Walaupun kami saling mengejek, kami tetap senang dan tertawa. Dan juga tidak memperdulikan kebiasaan-kebiasaan kami. Justru dari perbedaan inilah bisa saling membantu. Aku membantunya untuk lebih berani sedangkan dia membantuku belajar memasak! Masakannya lebih enak dari padaku. Aku merasa buruk sekali. Aku kalah dengan anak cowok!

Dihari pertama masuk universitas, Jun banyak dikerjain oleh kakak kelas. Dia memang lucu dan menarik. Terkadang kakak kelas juga suka keterlaluan padanya. Aku dan Lia membantu membelanya. Memang terkena omelan yang lainnya tetapi aku tidak perduli. Bahkan ada gosip tentang diriku. Mungkin Mina dan Chris yang menceritakan tentang sifat asliku kepada teman-temannya.

Hari ini aku pulang bersama dengan Jun. Lia tidak bisa bersama dengan kami karena ada urusan dengan keluarganya. Dalam perjalanan, aku dan dia banyak cerita tentang masing-masing.

“... ya begitulah...” Jun menghela nafas. “Mana ada cewek yang akan suka denganku. Apalagi dengan sifatku yang seperti ini...”

Aku menepuk pundaknya. “Jun. Menurut aku, kehidupan kamu masih lebih baik. Dari pada aku...” kata-kataku terhenti disaat ada 3 orang preman sedang memalak kami.

Jun tentu saja takut dan hendak memberikan uangnya. Tetapi aku tidak. Aku langsung menantang mereka. Sudah pasti mereka menganggap remeh aku. Dengan cepat aku langsung menghajar mereka dan akhirnya kabur. Aku mengambil tasku yang jatuh dan mengajaknya pulang. “Kamu lihat, kan? Mana ada cowok yang suka dengan cewek kasar seperti aku...” kataku sedih.

Jun menggeleng. “Tidak kok. Menurut aku justru kalau ada cewek kuat seperti kamu itu lebih baik!”

“Masa?” tanyaku. Dia tersenyum. “Jun, boleh aku jujur sama kamu?” dia mengangguk. “Selama ini aku selalu mencari seseorang yang bisa menolongku itu yang terlihat seperti pahlawan. Orang yang kuat, gagah dan berani. Dan... sepertinya aku salah. Justru aku merasa jika aku bersama orang yang berbeda denganku ini, aku merasa ada sesuatu yang memenuhi pikiranku ini...”

“Ja... jadi?”

Aku menghela nafas dan berkata, “Jun, mungkin orang yang aku cari selama ini adalah kamu. Terserah orang akan berkata apa. Tetapi buatku dimana aku bersama denganmu ini, aku merasa hidupku penuh arti. Seperti ada orang yang membutuhkanku...”

Jun tersenyum. “Anna...” aku malu sekali dan berjalan meninggalkannya. Tetapi tanganku ditarik olehnya. “Tunggu dulu... aku-kan belum selesai berbicara” aku berhendi didepannya. “Anna, selama ini aku takut untuk berhubungan dengan orang lain. Setiap orang yang bersama denganku selalu ketakutan. Bahkan selalu terkena omelan dari orang tuaku karena karakterku ini. Mau menghindar-pun tidak bisa... sejam Mina meninggalkanku, aku benar-benar percaya kalau aku memang berbeda. Tetapi, sejak kamu bersama denganku, aku mulai merasa ada sesuatu yang baru. Dan aku...”

Mata Jun yang terlihat polos mulai berkaca-kaca. Aku-pun memeluknya. “Jun, dengan perbedaan ini, aku berharap kita bisa saling melengkapi dan saling membantu...”

“Ya...” jawabnya.

Dari pengakuan yang aku dan Jun lakukan, hubungan kami semakin dekat. Banyak orang yang tidak percaya kalau aku dan Jun sudah berpacaran. Bagaimana tidak! Di universitas, aku yang terlihat garang sedangkan Jun yang terlihat manis.

Setiap ada orang yang mengganggunya, aku yang datang menolongnya. Setiap ada laporan yang dibuat, Jun yang akan membantuku. Dia pintar dalam merangkai kata-kata dan menganalis suatu masalah. Jadi aku meminta bantuan padanya.

Tidak perduli orang berkata apa tentang aku dan dia. Terbalik? Bukan masalah buatku. Tidak semua hal yang biasa dikerjakan anak cowok harus dikerjakan oleh anak cowok. Dan pekerjaan anak cewek-pun juga bisa dilakukan anak cowok. Terbalik atau bukan, itu bukan hal yang penting. Saling mengerti dan melengkapi, itulah yang penting.

Orang yang mempunyai sifat yang sama belum bisa bersatu dan bertahan dalam waktu yang lama. Tetapi orang yang mempunyai sifat dan karakter yang berbeda, akan saling melengkapi dan membantu. Hubungan seperti itu akan bertahan lama dan tidak akan terputus.

-The End- (12/06/2008)



ah ^^ selesai!! hehehehe...bagaimana?

minta pendapat kalian donk ^^ hehehe.. mengenai cerita n.. deel2..

please ur comment n ur review ja ya ^^/

No comments:

Post a Comment