Yosh! Hai Minna ^^/
(brak.bruk.doer) kali ini fanfic yang kubuat aga berbeda.. baru kali ini tokoh utama na adalah... REAL!! ><>
Kesempatan kali ini aku hanya memasukan 2 orang (digampar) dan bersama salah satu temanku ^^ ai_chan ^^ hehehe... ini sudah mendapatkan persetujuan n setelah melewati wawancara kok ^^ hahahaha.. jadi tenang saja...
Hmm... cerita na tentang apa? hmm... sebenar na sih ni adaptasi dari SanaYuki...jadi kalo boleh jujur agak2 Yaoi... tapi kalo keseluruhan cerita na GA ADA unsur YAOI na sih... kecuali para fujoshi (termasuk daku{?}) yang merasa bahwa ini YAOI... kalo di pikir2 lagi sih gak.. lebih kepada kerja tim, pertemanan, persahabatan yang sejati ^^
Ok.. sekian dulu basa-basi na ^^ thanx sebelum na bagi yang mau baca...kalo tiba2 eneq n ga mau liat mereka aku jadikan korban, close ja ni cerita ^^ hehehehe... ja ne~
----------------000000000000000000000--------------
Characters n Positions:
· Kentaro Kanesaki (26)
· Ren Yagami (25)
· Aiko (12): adik Kane_chan
· Aoi (6): adik Ou_chan
Rat: ... (menurut kalian?)
Song: One World_Celtic Women
Desc: ortu masing2... ^^
Ide: tokoh dari Ai (aiko)_chan... n cerita dari SanaYuki yang akan aku buat sebagai selingan... tapi diadaptasi pada akhirnya... yang SanaYuki? Hahaha.. tidak aku buat (publish) karena dagh ada d sini kan??
------0000000Part 1000000000------
Tinggal di lingkungan yang berbeda merupakan suatu tantangan bagi seseorang yang belum pernah keluar dari daerah kenyamanannya. Yang biasa hidup senang, mudah, segalanya terpenuhi dan selalu dilayani, akan sulit beradaptasi dengan lingkungan yang harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu. Namun itulah yang harus dihadapi oleh kakak-beradik ini yang mempunyai rasa ingin tahu mengenai dunia luar selain lingkungan rumah dan pekerjaan.
“Ayah... Ayah...” panggil seorang anak berambut pendek hitam kebiru-biruan bernama Aoi, menghampiri sang ayah ditengah kesibukannya merapikan beberapa berkas. Anak tersebut dengan langkah kecilnya berlari mendekati sang ayah dan disambut dengan pelukan hangat.
“Aoi, jangan ganggu Ayah” kata sang kakak yang bernama lengkap Ren Yagami ini berjalan mengikuti sang adik dari belakang.
“Tidak apa-apa kok” sang Ayah yang sudah berumur 50 tahun ini tersenyum dan menatap sang anak sulung. “Yagami, apakah hari ini kamu sibuk?” tanya sang ayah sambil memberikan kode kepada pengasuh Aoi untuk mengajaknya bermain sejenak.
“Tidak. Ada apa?” tanyanya balik sambil melihay beberapa buku di ruang kerja ayahnya itu.
Sesaat ayahnya terlihat cemas dan ragu. Yagami hanya diam menunggu dan menatap ayahnya dengan rasa bingung. Akhirnya ayahnya berkata, “Bisakah kamu dan Aoi tinggal disuatu tempat untuk sementara?”
Raut wajah Yagami terlihat kaget dan sangat bingung. “A-apa maksud ayah? Aku tidak mengerti” Yagami mendekati ayahnya yang sedang duduk disofa tengah ruangan ini. “Apakah ada masalah, yah?”
Ayahnya menunduk dan terlihat sedih. “Yagami, karena kamu sudah dewasa sudah saatnya ayah bisa memberikan tanggung jawab besar kepadamu”. Sang ayah mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah kalung dan dipakaikan dileher anak sulungnya itu. “Maaf kalau ayah merepotkanmu. Tapi saat ini ada yang sedang mengincar kalian”
“A-Apa?!” seru Yagami.
“Sttt! Ayah tidak ingin ada yang mengetahui hal ini. Ada seseorang yang sedang mengincar keluarga kita dan bermaksud untuk membunuh kita semua. Ayah tidak mau ada sesuatu yang terjadi pada kalian. Oleh karena itu, ayah berharap kamu dan Aoi bisa keluar dari sini dan tidak kembali untuk sementara waktu hingga masalah ini terpecahkan...”
“Tapi, bagaimana dengan ayah? Aku tidak mungkin meninggalkan ay-” Sang ayah menggeleng menghentikan keluhan anaknya itu. Yagamipun mengerti dan segera berpamitan dengan ayahnya. “Jaga dirimu baik-baik, ayah” pamitnya dan menundukan kepala untuk terakhir kalinya.
Sesuai dengan perintah sang Ayah, Yagami langsung menjemput Aoi dan membawanya keluar rumah. “Kak, kita mau kemana?” tanya Aoi dengan lugunya.
“Kita akan jalan-jalan.” jawab Yagami singkat sambil tersenyum dan memakaikan kalung peninggalan ibunya yang sudah meninggal 5 tahun yang lalu.
Seluruh penghuni rumah ini sempat merasa bingung dengan kelakuan tuan muda mereka karena langsung saja membawa adiknya untuk jalan-jalan namun tidak ada pengawasan sama sekali. Tapi pendapat tersebut tidak dia hiraukan dan segera menuju hutan belakang rumah.
...........................
Baru saja beberapa saat keluar, perasaan Yagami mulai tidak enak. Dia merasa bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka dan ternyata itu benar. Setelah memasuki taman lebih dalam, ada 2 orang pemburu yang menghalangi jalan mereka. “Mau kemana kalian?! Hah~!” tanya salah satu dari mereka sambil berjalan mendekati mereka.
Yagami hanya diam saja sambil memeluk Aoi yang mulai ketakutan. “Kenapa diam saja! Tidak punya mulut!” seru satunya dan mencoba untuk menarik mereka namun gagal.
“Lari!” seru Yagami sambil menarik tangan sang adik.
Hari semakin sore menjadi keuntungan bagi Yagami dan Aoi karena cahaya matahari semakin gelap dan membuat 2 orang pemburu itu mulai kehilangan jejak mereka. Saat melihat sebuah kuil kosong, Yagami menarik tangan Aoi dan bersembunyi di dalam sana hingga kedua penjahat tersebut mulai meninggalkan mereka.
“Kak, memangnya kita mau kemana?” tanya Aoi yang semakin bingung dengan perjalanan yang dipimpin oleh kakaknya itu.
Yagami diam tertunduk dan bersandar pada tembok kuil. Sambil tersenyum dia berkata, “Maafkan niichan, Aoi”. Aoi diam menunggu penjelasan kakaknya. “Sebenarnya kita sedang kabur”.
Aoi yang mulai mengerti dengan keadaan, bersandar pada bahu sang kakak. “Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Yagami menggeleng dan menatap langit yang mulai menjadi hitam dan diterangi oleh bintang-bintang.
Ditengah kebingungan tersebut, tiba-tiba saja datang seorang anak perempuan berambut panjang sebahu memakai kimono berwarna merah mendekati mereka. “Maaf, ada yang bisa saya bantu?”
Yagami bangkit dari duduknya. “Maaf. Bisakah aku bertemu dengan kepala kuil disini?”
Anak perempuan itu sempat terkejut dan membungkukkan tubuhnya. “Maaf. Kepala kuil disini sedang keluar. Apakah anda kenalannya?” Yagami menggeleng. “Udara diluar makin dingin. Apa kalian mau minum teh sejenak untuk menghangatkan tubuh?”
Ajakan anak perempuan tersebut menjadi kesempatan besar bagi mereka. Yagami sambil menggandeng tangan kecil Aoi, berjalan memasuki lorong yang menuju ruang tunggu kuil utama. “Ah maaf. Bolehkah aku tahu namamu?” tanya Yagami ragu-ragu ditengah kesibukan anak perempuan itu membuat teh.
“Aiko. Sanada Aiko” jawabnya sambil tersenyum dan kembali meletakan teh diatas meja kecil. “Maaf kalau saya lancang. Bolehkah saya tahu keperluan anda bertemu dengan kepala kuil?”
Yagami diam sejenak dengan menatap batang teh yang ada didalam gelasnya. “Sebenarnya... kami mau minta izin untuk tinggal disini dalam beberapa waktu...” Yagami-pun mulai memperkenalkan diri, menjelaskan situasi dan kondisi mereka pada saat ini. Tidak ada sanak saudara ataupun kenalan yang bisa mereka minta bantuannya. Mau tidak mau mereka harus bisa berusaha sendiri untuk bertahan hidup.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, tiba-tiba saja Aiko berkata dengan semangat, “Kalau begitu tinggal saja disini. Bagaimana?” dan kali ini Yagami yang terkejut. “Lagipula... Aoi sudah tidur” tunjuknya pada Aoi yang sudah tertidur lelap dengan menggunakan tangan sebagai bantalan.
“Tidak apa-apa?”
Aiko mengangguk. “Kalau begitu, akan aku ambilkan selimut dulu untuk menunggu kepala kuil jika masih penasaran” Yagami mengangguk sebagai ganti jawaban.
Menunggu kepala kuil merupakan suatu hal yang menguras tenaga. Sudah lebih dari 3 jam belum ada tanda-tanda dari beliau. Hingga tidak disadari bahwa Yagamipun tertidur disebelah Aoi sambil bersandar pada tembok.
.................................................
“Aiko! Aiko!” panggil seseorang yang bertubuh tinggi besar, berambut hitam lurus dan berwajah tegas dari pintu kuil yang bertolak belakang dengan ruang tunggu utama. “Aiko!” panggilnya kali ini dengan nada panik.
“Aduh, niichan! Jangan teriak-teriak. Ada tamu...” jelasnya sambil menatap kearah ruang tunggu. “Ada apa? kenapa teriak-teriak?” raut wajah sang kakak terlihat sedih dan memeluk tubuh adik kecilnya itu. “Ni-niichan? Kane-niichan?”
“Aiko...” laki-laki yang mempunyai nama Kanesaki ini memendamkan wajahnya pada bahu adiknya. “Tadi aku baru dapat berita kalau... kepala kuil... meninggal...”
“Ap-!” rasa terkejut Aiko sudah tidak bisa ditutupi lagi. Orang yang selama ini merawat mereka meninggal akibat kecelakaan dan terlambat dalam memberikan pertolongan. “Kane-niichan, kita masuk dulu bagaimana?” diikuti oleh anggukan sebagai jawaban.
..........................................
Saat melewati ruang tunggu utama, Kanesaki menghentikan langkahnya dan jika tidak ditutupi oleh gelapnya malam, sudah terlihat perubahan warna wajahnya tersebut. Rambut hitam halus yang menutupi sebagian matanya, wajah yang manis dan terlihat polos, membuatnya diam seribu bahasa. “Siapakah dia? Apakah mereka tamu yang Aiko maksud?” pikirnya.
Kanesaki yang masih terpukau tidak sengaja menjatuhkan katana yang dia bawa dan membuat orang yang dari tadi dia perhatikan tersebut mulai membuka matanya. Kali ini benar-benar membuat seorang yang biasa ditakuti dikuil itu menjadi luluh. Bahkan dia juga memperhatikan gerak-gerik orang yang belum dia kenal itu dari mulai membuka matanya, helaian rambutnya yang bergerak mengikuti pemiliknya, dan senyumannya yang dia berikan kepada Kanesaki. “Ah, maaf” pintanya sambil menyelimuti adiknya. “Apa anda kepala kuil disini?”
Kanesaki menggeleng. “Maaf jika sudah membuatmu menunggu lama”. Nada suara Kanesaki kembali melemah. “Kepala kuil baru saja meninggal akibat kecelakaan”
Yagami saat mendengarnya juga terkejut. “Maaf...”
“Tidak apa-apa” balas Kanesaki.
Tidak ada sepatah katapun diantara mereka. Pada akhirnya Yagami mulai angkat bicara, “Apakah kami boleh tinggal disini sejenak?”
Wajah orang yang baru dia kenal itu benar-benar membuat hati kerasnya menjadi luluh. Biasanya dengan cepat, Kanesaki langsung menolak orang yang meminta bantuan padanya. Tetapi kali ini Kanesaki hanya diam mengangguk dan disambut dengan senyuman dari orang tersebut. “Kamu bisa pakai ruangan ini”
“Benarkah?” Tanya Yagami untuk meyakinkan dan dijawab dengan anggukan. “Terima Kasih. Oh ya, namaku Ren Yagami dan ini adikku, Aoi”
“A-aku Kentarou Kanesaki” balasnya sambil menunduk.
........................................
Pagi-pagi sekali Kanesaki sudah terbangun untuk melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan, membunyikan lonceng kuil. “Ne, Kane-niichan. Apa benar mereka boleh tinggal disini?” tanya sang adik yang masih ragu dengan keputusan kakaknya kemarin malam.
“Memang kenapa? Apa ada masalah?” balasnya sambil mencuci tangan disebuah tempat air.
“Kita tidak minta izin dulu dengan Yoko-sama?” Kanesaki terdiam.
Kuil yang mereka tinggali saat inipun bukan tempat tinggal mereka. Lima tahun yang lalu keadaan mereka sama dengan keadaan Yagami dan Aoi, yaitu meminta bantuan untuk tinggal disini. Dengan kebaikan dari Ue-sama, akhirnya mereka diizinkan tinggal walaupun ada penolakan dari Yoko-sama. “Tapi kita tidak bisa mengusir mereka begitu saja” bela Kanesaki. “Tidak baik membiarkan seorang anak perempuan berkeliaran dimalam hari. Terlebih lagi dia punya adik laki-laki yang masih kecil” sambungnya.
Aiko yang mendengar penjelasan kakaknya itu tertawa lebar. “Kane-niichan, ga salah?” wajah Kanesaki terlihat bingung. “Kakak... kakak... Yagami itu... dan Aoi itu....” Aiko membisikan ke telinga Kanesaki dan langsung membuat rona wajahnya memerah.
“A-apa?!” seru Kanesaki yang mulai salah tingkah.
“Kakak kalau tidak percaya, coba tanya saja. Baiklah. Aiko siapkan sarapan dulu” godanya sambil berjalan meninggalkan Kanesaki sendirian.
Bagaimana mungkin?! Seorang yang berwajah manis itu... laki-laki? Sedangkan adiknya yang terlihat kaku itu... perempuan?
“Selamat pagi, Kentarou” sapa Yagami membuyarkan lamunannya. Kanesaki langsung terhentak dan terlihat menghindar karena terkejut. “Ah, maaf. Maaf sudah membuatmu kaget”
“Ti-tidak. Ini bukan salahmu” seru Kanesaki terburu-buru. “Bagaimana tidurmu?Nyenyak?”
“Ya. Terima Kasih” balasnya sambil membungkukkan tubuhnya. “Kentarou, pemandangan disini indah ya”
Kanesaki mengikuti arah pandangan Yagami dan melihat bangunan kota yang mulai terlihat datar karena tertutup awan. “Ren suka ya?” Yagami mengangguk. Sambil menunggu sarapan, Kanesaki mengajak Yagami untuk duduk dibangku kuil sejenak. “Ano, Ren... bolehkah aku tahu mengapa kamu ingin tinggal disini?”
Pada awalnya Yagami merasa ragu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Entah mengapa ada suatu keberanian yang mengisi pikirannya dan diapun memulai cerita dari keluarganya hingga masalah yang sedang menimpa mereka. “... seperti itulah. Tidak mungkin aku meninggalkan adikku sendirian. Sebagai anak laki satu-satunya dikeluargaku, paling tidak aku bisa melindungi adik perempuanku...”
Penjelasan Yagami semakin membuat Kanesaki yakin dengan keadaanya bahkan siapakah sosok orang yang baru dia kenal. “Baiklah. Akan aku tanyakan kembali kepada wakil kepala kuil ini...” sahut Kanesaki sambil berdiri dan dibalas dengan senyuman oleh Yagami. “dan... kamu bisa memanggilku dengan Kanesaki saja”
“Baiklah. Kamupun bisa memanggilku dengan Yagami. Terima Kasih, Kane-chan”
“K-Kane-chan?” raut Kanesaki tersipu malu. Karena selama ini tidak ada yang memanggil namanya seperti itu. Kanesaki yang tidak mau kalah memikirkan nama lainnya. “...bagaimana kalau aku memanggilmu dengan Ou-chan?”
Yagami terhentak. “Kenapa?”
Wajah Kanesaki mulai memerah malu. “Dari kata Ouji... aku singkat menjadi Ou-chan. Bagaimana?” alasan sebenarnya adalah rasa kekagumannya pada Yagami yang terlihat seperti seorang pangeran dalam cerita negeri dongeng.
Yagami mengangguk dan merekapun berjalan kedalam kuil untuk sarapan.
..........................................
“TIDAK! TIDAK BOLEH!” seru Yoko-sama saat Kanesaki menjelaskan situasi Yagami dan Aoi. “Sejak kapan kalian bisa menentukan aturan disini?! Tidak aku izinkan!”
“Tapi, Yoko-sama... mereka...”
“Tidak ada tapi! Apa kamu tidak sadar kalau pemasukan kuil semakin berkurang?! Kita berempat saja sudah kerepotan. Ah! Kita sudah tidak berempat lagi...” kali ini Yoko-sama tertawa. “Sudah bagus si kakek tua itu sudah tidak ada. Pengeluaran kita semakin berkurang...tapi...” kali ini raut muka Yoko-sama terlihat marah. “Baru berkurang satu malah bertambah dua?!”
Kanesaki tidak terima mendengar penghinaan dari Yoko-sama. Dengan kasar Kanesaki keluar ruangan tanpa menghiraukan panggilan dari Yoko-sama yang masih memanggil namanya. “Bagaimana, Kane-niichan?” tanya Aiko yang sudah menunggu dari tadi didepan kuil. “Lalu, bagaimana dengan mereka?”
Kanesaki tertunduk dan berjalan meninggalkan Aiko sendirian menuju ruangannya untuk mengganti pakaian. “Kane-chan!” panggil Yagami yang menghampirinya. “Ada apa denganmu? Kenapa terlihat kesal?”
“Tidak ada apa-apa” jawabnya singkat. “Aku akan ke kota. Apa kamu ingin menitip sesuatu?” Yagami menggeleng. “Baiklah. Ou-chan, berhati-hatilah... dengan wakil kepala kuil dan ... jangan pernah hiraukan perkataannya. Ingat itu”
Nada suara Kanesaki terdengar... entah seperti ancaman atau nasihat. Tetapi Yagami tetap menerimanya dan memberikan senyuman terbaiknya. “Hati-hati dijalan”
“Jadi... begitu” gumam Yagami setelah mendapat penjelasan dari Aiko. “Maaf sudah merepotkan kalian semua”
“Maaf” Aoi yang berada disebelah Yagami ikut membungkukkan kepala.
“Tidak kok” bantah Aiko terburu-buru. “Yoko-sama memang orang yang pelit, tidak seperti Ue-sama” keluhnya sambil melipat kedua tangannya dan mengembungkan pipinya. “Beda jauh!”
Ditengah keceriaan yang ada, tiba-tiba saja ada seorang paruh baya memasuki ruangan dengan suasana tegang. “Aiko! Kenapa kamu masih disini?! Apa kamu sudah selesai membersihkan gudang belakang?!”
“Ah..!” sepertinya Aiko melupakan sesuatu. “Ok degh... Yagami-niichan, Aoi-chan... saya ke gudang dulu” pamitnya. Setelah Aiko keluar, Yoko-sama memasuki ruang tersebut dan menutup pintunya dengan kasar.
“Ah, maaf” seru Yagami terburu-buru yang diikuti oleh Aoi. “Nama saya Ren Yagami dan dia Aoi. Maaf kalau sudah...”
“Sampai kapan kalian akan disini?” tanya Yoko-sama dengan lantang. Mereka hanya diam saja. “Aku tanya sekali lagi. Sampai kapan kalian akan disini?!” kali ini suara Yoko-sama lebih meninggi.
“Ma-maaf. Sa-saya tidak tahu...”
“APA?!” Yoko-sama yang sudah kesal langsung menarik kerah Yagami dengan kasar. “Kenapa manusia seperti kalian harus berada disini?! Tidak tahukah kamu kalau merawat mereka saja sudah sulit! Sekarang ditambah dengan kalian?!” mereka yang dimaksud adalah Kanesaki dan Aiko.
“Maaf. Saya akan membantu merawat kuil ini dan mencari pekerjaan”
Kekesalan Yoko-sama mulai berkurang. Tangan kasarnya melepas kerah Yagami dan berbalik menarik tangan Aoi dengan kasar menjauhkan Aoi dari kakaknya. “Niichan!” isak tangisnya memenuhi ruangan.
“Aoi!” seru Yagami dan berusaha menarik kembali namun dihalangi dengan tongkat yang dibawa oleh Yoko-sama. “Tolong lepaskan dia”
“Jika kamu ingin dia baik-baik saja, kamu harus mau melakukan apa saja yang aku katakan. Bagaimana? Ini perjanjian!”
Yagami diam sejenak dan menatap adiknya yang mulai ketakutan. Apa yang harus aku lakukan?! Aku ingat kalau Kane-chan pernah mengatakan padaku untuk berhati-hati. Namun jika sudah seperti ini, apa yang harus aku lakukan?! “Bagaimana?!” seru Yoko-sama semakin geram.
Yagami mulai tidak tahan dengan keadaan seperti ini akhirnya menyetujui keinginan Yoko-sama. “Niichan!” Aoi berlari kecil memeluk sang kakak dan semakin terisak.
“Mulai sore ini, kamu harus membantu seperti yang lainnya. Untuk pekerjaan apa yang pasti untukmu akan aku tentukan besok. Sekarang kamu bersihkan loteng kuil yang terletak didekat lonceng utama bersama dengan adikmu itu!”
Yagami sempat tersentak. “Tapi dia masih kecil”
“Aku tidak perduli! Cepat keluar dan kerjakan!” perintahnya dan meninggalkan mereka berdua.
“Niichan...” airmata mulai kembali memenuhi wajahnya.
“Tenang. Jangan menangis lagi... ada kakak disini... tidak akan terjadi apa-apa dengan kita...” ucap Yagami sambil memeluk Aoi. Kuharap demikian... –to be continue-
-----0000000000end00000000000000--------
Hua... kelar !!!! ><>
Bagaimana cerita na? (di timpuk fans, ouji, kane n aiko)
Pertama2 maaf buat yang ga suka kalo sifat mereka ada yang BEDA banget dengan ASLI na.. ><>
Alur cerita na?
Hmm.. masih membingungkan... bisa ja sih aku buat yang rada.. gimana githu...*lirik (dibantai ouji n kane) tapi karena berhubung ak ndiri juga gak kuat ngebayangin na.. jadi seperti na yang itu... aku skip dulu kali ya ^^’ pluz.. kalo ak buat na skarang ga bisa...(event)... mungkin bulan depan akan aku buat ATAU .... hahahahahaha.... *digaplok karena bayangin yang macam2...
Ok sekian dulu ^^ thanx buat yang dah baca ^^
Please ur review n ur comment ^^
(Reqzt? Hmm..bolh2... tinggalin review/message di sini ja ^^ nanti kita bicarakan lagi selanjut na ^^)
Wah. Cerita di mana semuanya tiba-tiba ya. Tiba-tiba Yagami Ren dan adiknya diincar pembunuh. Tiba-tiba disuruh pergi oleh ayahnya tanpa persiapan apa-apa, bahkan baju maupun makanan secuil pun tidak. Tega sekali ayahnya. Tiba-tiba bertemu pemburu. Tiba-tiba dikejar-kejar tanpa sebab yang jelas. Tiba-tiba bertemu kuil (hanya ditempuh dengan jalan kaki dari hutan di belakang rumah? Mendingan di rumah aja kalo kata saya sih). Tiba-tiba bertemu kakak adik yang baik hati. Tiba-tiba kepala kuil meninggal.
ReplyDeleteAh, tak sabar menunggu lanjutan fanfic ini (ini fanfic kan?) dan melihat apa lagi yang akan terjadi dengan tiba-tiba. Tiba-tiba Yagami Ren dan Kanesaki Kentarou saling jatuh cinta, saya harap.