Ryuto Ichirou 5 tahun
Mama: Ryuto Seiichi (Tanaki Seiichi)
Papa: Ryuto Genichirou
Ichi part 1b
-----------------0000000000000000000000------------------
“Mama...” suara Ichi membuyarkan lamunanku. Ternyata hari sudah semakin gelap dan aku masih belum menyiapkan makan malam.
“Ichi-kun, bagaimana tidurmu?”
Dengan langkah kecilnya, dia berlari mendekatiku, menabrak tubuhku dan aku langsung memeluknya. “Mama, aku tadi bermain dengan Tedy” Tedy adalah nama beruang kesayangannya.
“Hua... sepertinya menyenangkan” aku menggendongnya sambil berjalan menuju dapur. “Mau nasi gulung?”
Dia mengangguk dengan pasti dan terlihat pipinya yang bulat memerah. Dia memintaku untuk menurunkan dan membiarkannya berlari menuju ruang keluarga. Tangan kecilnya meraih sesuatu yang tergeletak diatas meja, sebuah kain bermotif beruang dan dia selipkan di kerah bajunya. Dia sudah terbiasa kalau jam makan harus menggunakan celemek, terlebih dengan celemek kesayangannya itu.
Tanpa membuang waktu, makanan yang aku janjikanpun siap untuk disajikan. “Ichi-kun... kamu mau pakai sendok yang mana?”
“Sendok beruang” serunya.
“Baiklah...” ucapku. Kuletakan beberapa nasi gulung diatas piring kesayangannya. Walaupun berantakan, aku membiarkan dia mencoba untuk belajar makan sendiri. Lagipula, setiap makan nasi gulung dia paling tidak mau disuapi. “Ichi... ada nasi” tunjukku dan mengambilnya dari pipinya.
Melihatnya dia semangat kembali membuatku ikut merasa senang. Dengan penuh semangat dia menghabiskan makan malamnya lalu membantuku untuk menyiapkan makanan terakhir yang paling dia sukai, makanan penutup.
Setelah meletakan piring-piring tadi, Ichi mengambil dua buah mangkuk plastik berbentuk kepala beruang berikut dengan sendoknya. Dia yang masih sibuk merapikan piring-piring tersebut, kubersihkan beberapa peralatan memasakku dan setelah itu mengambil sebuah mangkuk besar berisi eskrim coklat-vanila kesukaannya. Setelah makan penutup berakhir, kami menghabiskan waktu diruang keluarga untuk menonton.
Ichi suka menghabiskan waktunya untuk menggambar. Kalau sudah ada gambar yang dia suka, sangat sulit sekali untuk mengajaknya segera tidur. Tidak jarang dia selalu bangun lebih awal daripadaku untuk melanjutkan acara kesukaannya itu.
“Ichi-kun...” panggilku setelah selesai merapikan tempat tidurnya. “Kamu belum mengantuk?” Ichirou hanya menggeleng lalu kembali menatap bukunya dan mengambil beberapa krayon yang berada disebelahnya.
“Ichi-kun, ayo ganti piyama” panggilku dan memperlihatkan sebuah piama yang baru aku buat untuknya.
Pandangannya langsung teralihkan dan bangun dari tempatnya. Berjalan perlahan dan langsung menyambar sebuah boneka beruang yang terdapat di piayama barunya itu. “Tedy!” serunya dengan tawa di wajah imutnya.
“Nah. Sekarang ganti baju dengan baju yang ini, ya” bujukku sambil membuka baju yang dia pakai. Wajahnya terlihat ceria sekali, bahkan rona wajahnya lebih merah. “Ayo, kita sikat gigi” ajakku lagi sambil memegang tangan kecilnya itu.
Sekitar 10 menit menghabiskan waktu di dalam sana. Wajar saja, Ichi masih perlu banyak pengajaran bagaimana mengurus dirinya. Setelah semuanya selesai, Ichi siap untuk segera tidur. Sambil memeluk boneka kesayangannya, matanya mulai tertutup dan akhirnya dia tertidur pulas.
Hanya melihat wajah tidurnya, membuatku kembali teringat pada kekasihku. Semakin lama Ichirou semakin mirip dengan ayahnya. Bentuk wajahnya yang terlihat kaku, panjang rambut hitamnya dan beberapa karakter sifat ayahnya yang menurun padanya. Hanya saja, dia lebih banyak tersenyum dibandingkan ayahnya. Kalau membayangkan itu, aku sering tertawa pada diriku sendiri.
Disisi lain, ada beberapa hal yang menurun dariku. Aku merasa bahwa ‘seharusnya tidak’ Ichirou dapatkan. Tubuhnya yang lemah, tidak bisa melawan dan hanya bisa diam saat diejek oleh teman-temannya, merupakan beberapa hal buruk yang ada pada diriku. Aku hanya bisa berharap, segala keburukan yang menurun padanya tidak membuat senyumannya menghilang dari wajahnya.
Aktivitas hari ini aku mulai dengan mengantarkan Ichirou ke sekolahnya. Jika bel sudah berbunyi, aku baru bisa pergi meninggalkannya. Hal tersebut dikarenakan Ichi yang masih saja takut untuk masuk walaupun sudah ada Masa-sensei yang menjemputnya. “Ichi-kun... ayo masuk” dengan lembut aku menurunkannya didepan kelasnya.
Ichirou masih saja tidak melepaskan genggamannya pada kerah bajuku. Bahkan dia menenggelamkan wajahnya dan melingkarkan tangan kecilnya pada leherku. “Ichi-kun... ayo masuk. Teman-teman yang lain juga sudah datang” kali ini Masa-sensei yang membujuknya.
“Tidak mau” tolaknya. “Ichi mau mama disini”
Dengan perlahan aku melepaskan genggamannya, menurunkan dia, memegang wajah kecilnya dengan tangan kananku, dan memegang bahu kecilnya dengan tangan kiriku. “Ichi-kun... ayo masuk. Bermain dengan yang lainnya...” Ichi masih saja menggeleng. “Tenang saja. Mama akan menunggu disini”
“Benarkah?” kali ini matanya terlihat bersemangat.
Aku bergumam sejenak. “Tetapi... sepertinya mama akan pulang sebentar...” langsung saja disambut dengan pelukan kecilnya. “Ichi-kun... Tedy sendirian di rumah. Jadi mama mau temani Tedy dulu...” kali ini dia mengangguk.
“Mama... Mama...” panggilnya lalu membisikan sesuatu. “Mama, jagain Tedy, ya. Jangan sampai dia kesepian. Nanti ajak aja Tedy kesini” pintanya dengan polos. Aku mengangguk dan mengelus rambutnya.
“Baiklah. Nah, sekarang kamu masuk dulu. Lihat, Masa-sensei sudah menunggu” kali ini dia benar-benar sudah terbawa suasana. Ichi langsung membalikan badan, berlari kecil dan meraih tangan Masa-sensei yang sudah menunggunya. Sedangkan aku, sudah siap untuk kembali kerumah untuk melakukan tugas sebagai ibu setiap harinya.
Karena tidak terlalu jauh, perjalanan pulang hanya memakan waktu 15 menit. Dengan cepat aku langsung merapikan barang-barang milik Ichi seperti mainan, tempat tidurnya dan beberapa hal lainnya. Hingga aku menemukan sesuatu yang membuatku semakin sedih.
Sebuah gambar dengan krayon yang dimana sebuah foto keluarga yang terlihat menikmati kesehariannya. Tetapi yang membuatku sedih, gambar seseorang yang lebih tinggi dari dua gambar yang lainnya, dia memberikan tanda tanya besar, dan ditutup dengan penuh coretan. Sepertinya dia masih memikirkan perkataan temannya itu, tetapi dia tidak berani menanyakannya kepadaku. “Ichi...maafkan mama...” gumamku dan meletakan gambarnya disebuah kotak hartaku.
Setelah selesai merapikan dan membersihkan rumah, dengan cepat aku kembali menuju sekolah untuk menjemput Ichirou dengan membawa boneka kesayangannya itu. Namun hal yang mengejutkan adalah keberadaan Ichirou sudah tidak ada disekolah. Spontan aku langsung menanyakan keberadaan Ichirou. Masa-sensei, selaku wali kelasnya, mengatakan bahwa Ichirou sudah dijemput oleh seseorang yang berasal dari keluarganya juga.
Saat aku menanyakan tentang orang yang menjemput Ichirou, Masa-sensei menjelaskan dengan pasti bahwa orang yang menjemput Ichirou adalah seorang ibu yang mempunyai rambut berwarna hitam lurus sebahu, terlihat tegas, dan memakai yukata berwarna putih dengan motif capung pada bagian bawahnya. Dengan kata lain, ibu tersebut adalah ibu mertuaku atau nenek Ichirou.
Perjalanan menuju rumah Genichirou cukup jauh. Tanpa memperdulikan pekerjaan, dengan cepat aku bergegas menuju stasiun kota. Di dalam perjalanan detak jantungku tidak berhenti berdetak dengan cepat. Bukan masalah kepulanganku kerumah tersebut, namun aku mengetahui dengan jelas maksud dan alasan ibu menjemput Ichirou, yaitu mengambil alih Ichirou.
Perjalanan membutuhkan waktu 1 jam. Saat berada di depan gerbang rumahnya, aku langsung berjalan masuk yang disambut oleh ayah Genichirou. “Seiichi, lama tidak jumpa. Ada apa kamu kesini?” tanya ayah yang sepertinya baru mau keluar rumah.
“Ayah, dimana ibu?” tanyaku dengan terburu-buru. Memang kelakuanku tidak sopan dengan hukum dikeluarga ini, tetapi rasa khawatirku sudah tidak bisa tertutupi lagi.
“Ibu? Dia sedang bermain dengan Ichirou di ruang tengah. Kamu masuk saja, ayah ada urusan” pamitnya. Aku membungkuk sebagai tanda rasa hormatku dan langsung berjalan menuju ruang tengah rumah ini.
Memang benar Ichi sedang bermain dengan neneknya, bersama dengan kedua cucunya yang lain. “Ichi!” seruku. Pandangannya langsung menuju kearahku, lalu dengan langkah kecilnya berlari dan memelukku. Akupun menyambutnya dengan memeluk erat tubuh kecilnya. “Ichi, ayo kita pulang” ajakku.
Tepat saat aku menggendongnya, ada suara seseorang yang mengejutkanku dari belakang. “Kamu mau kemana?” ternyata ibuku. Aku hanya terdiam menatapnya dan mencoba untuk menghindar darinya, tetapi setiap aku melangkah selalu dihalangi olehnya. “Kalau kamu mau pergi, biarkan Ichi tinggal disini. Dia akan lebih bahagia tinggal disini dari pada bersama denganmu” nada bicara ibu mulai tinggi.
“Tidak! Tidak akan pernah aku meninggalkannya!” seruku sambil memeluk erat tubuh Ichi. Ibu yang tidak suka dengan kelakuanku dan mulai mencaci dan mencoba menarik tubuh Ichi. Tentu saja aku tidak melepaskannya dan sempat membuat Ichi mulai terisak dengan sikap kami yang kekanak-kanakan ini.
Aku mengumpulkan seluruh keberanian dan tenagaku untuk mendorongnya, hingga tanpa aku sadari bahwa aku membuatnya terjatuh. Kesempatan yang ada tidak aku sia-siakan. Dengan cepat aku berlari menuju pintu keluar.
“Penjaga! Cepat tangkap dia!” seru ibu kepada penjaga rumah.
Tepat saat berada didepan gerbang, jalanku dihalangi dan mereka mencoba untuk mengambil Ichi. Tenagaku yang tidak sebanding dengan dua orang tenaga laki-laki membuat genggamanku lepas dan Ichi berada ditangan salah satu dari mereka. “Ichi!” teriakku.
“Mama!!” isak tangisnya mulai memecah dan air matanyapun membasahi wajahnya. Ichi mulai memberontak dan mencoba melepaskan dirinya. Tentu saja tenaga untuk anak 5 tahun tidak sebanding dengan ukuran orang yang sedang memegangnya itu.
Tanpa berfikir panjang, aku menginjak kaki penjaga yang menahan gerakanku, memukul orang yang memegang Ichi dan menarik tangan Ichi untuk segera keluar dari rumah itu.
Kedua penjaga itu masih saja mengejar kami dan mereka berhasil menghalangi langkah kami saat mencoba untuk memasuki kuil untuk bersembunyi. Detak jantungku mulai berdetak cepat dan nafaskupun mulai tidak beraturan. Ichi yang ketakutanpun memeluk leherku dengan erat. Rambut dan pakaiannya sudah berantakan dan menunjukan bahwa dia tidak ingin lepas dariku. “Lebih baik kamu serahkan anak itu” seru salah satu penjaga.
“Tidak! Tidak akan aku lepaskan! Aku ini ibunya. Tidak mungkin aku membiarkan anakku tinggal ditempat seperti itu?!” seruku. Akibat terlalu boros mengeluarkan tenagaku, tiba-tiba saja aku jatuh tersungkur dengan menahan Ichi dalam dekapanku.
Kesempatan besar itu mereka gunakan untuk mengambil Ichi dengan mudah. Salah satu dari mereka langsung menggendong dan menahan rontaan Ichi, sedangkang salah satunya berkata, “Lebih baik kamu tidak melawan bos kami. Kami tidak ingin keadaanmu lebih buruk dari pada ini. Maafkan kami”
“Mama!!! Mama...!!” ronta Ichi. Wajahnya mulai memerah dengan penuh air mata. Tanganku mencoba untuk meraihku namun aku sama sekali tidak berdaya. Tenagaku tidak bisa aku keluarkan sama sekali, bahkan untuk bangun sekalipun. Tangaku kucoba aku gerakan untuk segera bangkit dan meraihnya, tetapi itu semua percuma. Wajahkupun mulai memanas saat melihat sosok Ichi yang semakin menjauh.
Tiba-tiba saja aku melihat seseorang pemuda yang melintasi mereka, memukul mereka, dan menarik Ichi. Rasa terkejut dan takut mulai memenuhi pikiranku. Namun tanpa aku sadari, dia langsung menarikku dan membawaku segera memasuki taman kuil ini untuk bersembunyi.
No comments:
Post a Comment