Sunday, May 22, 2011

Welcome, Ken

Welcome, Kenn
Characters:
Kazuki – Rie: 24 - 21
Genichirou – Aoi:  20 - 18
Shinya – Saeki: 27 – 34
Kentarou – ren : 24 - 23 
Von: 15
Kenn: lahir
time line: umur diatas adalah umur kurang lebih kenn baru saja lahir. Hahaha… muda sekali ya~
----start--- pov aoi
Mempunyai keluarga di usia muda bukanlah hal mudah, terlebih lagi sudah banyak jumlah anggota keluarganya. Setelah satu tahun lamanya aku bersama dengan anggota keluargaku yang baru, kehidupanku sedikit demi sedikit mulai berubah. Lebih terasa menyenangkan dan membahagiakan. Tidak jarang aku menginap di apartemen Rie jika Shinya niichan sedang bertugas. Terasa seperti mempunyai dua tempat tinggal. Bahkan aku sendiri sudah dianggap anak oleh mereka. Perasaan senang tidak bisa aku tutupi tiap kali jalan ataupun makan bersama.
Di tengah kebahagianku, ada suatu berita yang lebih menarik lagi. Suatu berita kebahagian bagi orangtua angkatku ini. Berita itu kami ketahui ketika aku sedang menginap ditempat Rie dan Genichiroupun ikut datang mengantarku pulang.
“Rie kasan. Aku pulang…” ucapku ketika aku baru saja kembali dari tempat kuliahku. Tidak ada jawaban sama sekali. “Okasan?”
“Tidak ada siapa-siapa di rumah?” Genichirou menutup pintu dibelakangku lalu berjalan mengikutiku.
“Seharusnya ada okasan” balasku. Setelah melepaskan sepatu yang aku kenakan, aku berjalan menuju ruang tamu dan … “Okasan!!”
“Aoi, ada apa?!”
“Genichirou, bantu aku!”
Rie ‘kasan pingsan didekat sofa dengan sebuah kain lap di tangannya.
“Okasan? Okasan?” aku mencoba memanggilnya namun tidak ada jawaban sama sekali. “Genichirou, bagaimana ini?” tanyaku mulai panik. Aku terus memanggil nama okasan sambil terus mendekap bahunya.
“Aoi, kita bawa kerumah sakit saja”
“Heh?”
“Jangan ‘heh’! Aku bawa ‘kasaan dan kamu siapkan mobilnya”
Aku mengangguk dan segera berlari menuju tempat parkir apartemen untuk mengambil mobil Genichirou. Setelah memarkirkannya, Genichirou meletakan okasan di bangku belakang dan segera membawanya kerumah sakit. Aku yang terus berada disebelah okasan hanya bisa terus memanggil namanya.
“Aoi, tenanglah. Kamu jangan terlalu panik”
“Ta-tapi, bagaimana kalau okasan ada apa-apa?”
“Tenanglah. Mungkin okasan hanya kelelahan”
“Tidak mungkin!” bantahku. “Bagaimana kalau ada sesuatu ya-“
“Aoi! Jangan berkata yang tidak-tidak!” tubuhku terhentak mendengarnya. “…dan aku tidak mau kalau penyakitmu ikutan kambuh. Ah, kita sudah sampai”

 Sesampainya dirumah sakit, okasan langsung dibawa kedalam untuk diperiksa. Kebetulan kami kenal dengan salah satu dokter dirumah sakit ini. Oshitari Yuushi, teman lama adik ayahku. Aku segera menghubungi ayah mengenai kejadian ini. Tidak sampai satu jam, ayahpun datang.
Brak. Ayah langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
“Oshitari! Ada apa dengan Rie!” tanyanya panik dengan nafas yang masih saling beradu.
“Te-tenanglah Kazuki…” dokter Oshitari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati okasan yang masih tertidur.
“Aoi, ada apa dengan ibumu?”
Aku hanya bisa menggeleng ketakutan. “Aku tidak tahu. Dokter Oshitari bilang, kalau ada sesuatu hal penting yang harus diketahui oleh ayah sendiri…”
Kazuki langsung kembali menatap Oshitari dan berjalan mendekatinya. “Ada apa dengan Rie, Oshitari? Apakah ada sesuatu hal yang gawat?”
Dokter Oshitari diam sejenak lalu terdengar suara tawa darinya. “Selamat”
“Selamat?” ucap kami hampir bersamaan.
Dokter Oshitari menyalami Kazuki dan tertawa terbahak-bahak. “Kalian ini! Keluarga kalian sudah banyak, tapi masih saja ingin menambah anggotanya”
“A-apa maksudmu?”
Dokter Oshitari menggeleng. “Ya ampun kamu ini… Ah ya, aku baru ingat kalau mereka anak angkat kalian…”
“Apa sebenarnya maksudmu, Oshitari!”
“Selamat. Kalian mempunyai anggota keluarga baru”
“Ap-“
“Ya…” Dokter Oshitari membuka buku laporannya. “Rie jatuh pingsan karena kelelahan. Selain itu usia anak kalian sudah hampir 4 bulan. Apakah selama ini kalian tidak pernah memeriksa ataupun menyadari perubahan sikap ataupun kebiasaan dari Rie?”
Kazuki diam sejenak. “Hmm… memang sudah beberapa lama ini dia kurang nafsu makan. Selain itu dia juga sering tidak enak badan… Ja-jadi…”
“Selamat untuk kalian berdua, ya..”
 Dokter Oshitari berjalan meninggalkan kami semua. “Ayah.. selamat…” ucapku lalu berjalan memeluk ayah.
Tanpa diucapkan, wajah bahagia ayah tergambar sekali di wajahnya. Aku turut senang mendengarnya. Seingatku mereka memang sudah mempunyai anak, namun sekarang ini sedang berada diluar kota untuk menempu ilmunya. Sering kali Rie ‘kasan terlihat sedih setiap bercerita mengenai anak semata wayangnya itu. Kurasa kesedihan itu akan segera menghilang dengan kehadiran buah hatinya yang tidak lama lagi akan berada ditengah-tengah kehidupan mereka.

Sejak saat itu, aku mendengar dari Kentarou niichan bahwa Kazuki-tousan lebih cepat dalam mengerjakan pekerjaannya dan pulang tepat waktu. Mendengar mereka bahagia, perasaanku ikut senang. Bahkan tidak jarang aku dan Genichirou diminta Kazuki-tousan untuk menemani ‘kasan ketika berbelanja ataupun menghabiskan waktu dirumah.
Setelah 2 bulan berlalu, ada beberapa masalah yang dibicarakan oleh Kazuki-tousan dengan Kentarou niichan. Tidak lain dan tidak salah lagi adalah masa-masa mengidam dan persiapan perawatan anak. Kebetulan Kentarou niichan baru saja mempunyai seorang anak laki-laki dan sudah berumur satu tahun.
“Jadi, apa masalahmu Kazuki? Bukankah seharusnya kamu merasa senang?” tanya Kentarou niichan pada Kazuki-tousan yang duduh didepannya. Seperti biasa, raut wajah Kentarou niichan selalu santai.
“Aku hanya bingung. Apa yang harus aku lakukan dimasa mengidam seperti ini. Terkadang permintaannya aneh-aneh. Kalau tidak diturutin dia akan marah. Tapi kalau sudah aku belikan ataupun aku bawakan, terkadang dia tidak suka. Aku bingung…”
“Hmm… bagaimana ya…” gumam Kentarou niichan lalu bersandar pada kursinya. “Genichirou. Aoi. Kalian ada ide?”
Aku hanya menggeleng sedangkan Genichirou langsung menjawab, “Niichan sendiri bagaimana ketika neechan mengidam?”
Kentarou niichan tiba-tiba terhentak dan tertawa aneh. “H-hahahaha… y-ya… be-be-begitulah… H-hahaha…” Kami hanya bisa menghela nafas. 

Tidak hanya kepada Kentarou niichan. Aku juga mendengar dari Saeki niichan kalau Kazuki-tousan terkadang terlihat lelah di kantor. Ya, memang Saeki niichan sendiri tidak banyak cerita. Namun yang pastinya Kazuki-tousan bertambah sibuk! Terlebih lagi waktu yang terus berjalan dan tidak terasa sudah mencapai bulan ke 8. Waktu dimana seorang ayah harus segera mempersiapkan segala kebutuhan buah hatinya yang akan segera lahir.
“Rie ’kachaaa~an” seruku ketika datang berkunjung kerumahnya.
“Ah, Aoi. Selamat datang” sambut Rie yang berada didapur bersama dengan anak sulungnya, Von.
“Hai, Von! Apa kabar?” sapaku dan berjalan mendekati mereka. “Sudah lama datang kesini?”
“Hai, neechan. Hmm… hampir 2 minggu sih. Oh ya, kebetulan aku libur 2 bulan nih! Kita jalan-jalan yuk!”
“Ayo saja!” balasku semangat.
“Hei!” suara rendah seseorang yang sempat mengejutkan kami berdua. “Kalian ini ribut sekali”
“Ah! Genichirou niichan!” sapa Von. “Maaf-maaf…”
Kami berdua tertawa.
“Oh ya, Aoi. Hari ini kamu sibuk?” tanya Rie ‘kasan sambil memberikan sebuah kue kering buatannya.
“Tidak. Kenapa?”
“Mau ikut berbelanja dengan kami?”
“Eh?”
“Kalau ditanya, jangan cuma ‘eh’!” omel Genichirou.
“A-ah… ya…Mau~!” jawabku cepat-cepat sebelum Genichirou memarahiku lagi. “Ne Gen chan, mau antar kami, kan?”
“Tidak apa” jawabnya singkat. “Tidak apa kan kalau aku ikut?” tanyanya sambil menatap Rie ‘kasan.
“Tidak merepotkan?”
“Lebih merepotkan kalau ada apa-apa dengan kalian nan-“ sebelum Genichirou berkata lebih jauh, aku langsung memukul punggungnya.
“Gen chan!” seruku. “Kalau boleh tahu, kita mau kemana?”
“Departement store” jawab Rie. “Aku mau beli beberapa baju bayi dan mainannya…”
“Kazuki-tousan belum belikan?” tanyaku.
“Hahaha… sudah. Tapi ada beberapa yang ingin ‘kasan pilih sendiri. Nah, Von. Ayo kita siap-siap” Rie ‘kasan menatap anaknya yang sedang asik memakan kue kering buatan ibunya itu.
“Baiklah…” balasnya semangat dan kamipun segera berangkat sebelum langit menjadi gelap.

Departement store dekat sini ternyata sedang ramai! Tanpa membuang waktu, kami langsung berjalan menuju kios yang pernah disarankan oleh Kentarou niichan. Di kios itu banyak sekali berbagai macam peralatan bayi, pakaian bayi bahkan beberapa mainan untuk bayi yang jarang ditemukan di toko-toko lainnya. Selain itu harga barang-barang disini tidak terlalu mahal. Entah mengapa ada satu peralatan bayi yang ingin sekali aku miliki. Minyak wanginya. Terasa harum sekali…setelah aku mengucapkan keinginan itu, langsung saja sebuah pukulan kecil mendarat di punggungku. Tidak lain dan tidak bukan adalah Genichirou.
“Kamu ini bukan anak bayi!”
“Tapi wanginya enak…”
“Itu bukan makanan!”
“Geni mulai kolot degh!”
“Hahaha… sudah-sudah…” lerai Von. “Nechan kalau mau, beli saja…”
“Ah tidak. Lagipula aku hanya bercanda kok” jawabku terburu-buru. “okasan, bagaimana?”
“Ya. ‘kasan sudah selesai kok” jawabnya sambil memasukan dompetnya. “Yuk kita pulang. Okasan sudah lelah…”
Aku mengangguk dan membantu membawakan beberapa belanjaan miliknya yang dibantu oleh Genichirou tentunya.

“Ah Aoi, ‘kasan mau beli minum dulu boleh?” tanyanya ketika kami berhenti disebuah kios minuman.
“Tentu saja” jawabku dan meletakan barang bawaan kami sejenak.
Von menemani Rie sedangkan aku dan Genichirou menjaga barang bawaan kami. Namun tiba-tiba saja terdengar suara terikan seseorang yang tidak aku ketahui asalnya.
“MALING!!!”
Aku langsung mencari sumber suara itu dan ternyata ada seorang pria yang sedang dikejar oleh beberapa penjaga dan petugas. Aku sempat terhentak ingin mencari tahu, namun ditahan oleh Genichirou.
“Kamu tidak kejar?” tanyaku.
“Biarkan. Disini ramai dan sebentar lagi dia akan segera tertangkap”
…dan benar! Pencuri itu segera dikerumuni oleh beberapa orang lainnya. Ingin rasanya aku melihat nasib pencuri itu, namun tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku. Seorang wanita muda yang terlihat panik.
“Tolong! Tolong!”
“Eh?”
“tolong! Korban pencurian itu adalah seorang wanita hamil dan saat ini dia sedang kesakitan!”
“Eh?!” aku langsung terhentak dan segera berjalan mengikuti wanita itu. “Ge-genichirou!”
Genichirou yang terkejut berlari mendahului kami. Ketika aku sampai disana, ternyata korban itu adalah Rie ‘kasan! Von yang disebelahnya terisak ketakutan sambil memegang tangan ibunya.
“Von!”
“Aoi neechan! Okasan…! Okasan…”
“Tenang!” seru Genichirou. Dengan sigap dia melingkarkan tangannya dipunggungnya, “Aoi! Hubungi Oshitari dan katakan ada keadaan darurat. Von! Hubungi kazuki dan katakan untuk segera kerumah sakit!”
Dengan menggunakan telepon genggam masing-masing, kami langsung menghubungi orang-orang sesuai perintahnya. Genichirou sendiri sibuk membuat ruang untuk bernafas bagi Rie, karena penuhnya yang melihat kami dari pada membantu.
Ditengah kepanikan kami, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengaku berprofesi sebagai seorang dokter membantu kami membetulkan posisi Rie supaya tidak ada masalah dengan kandungannya. Dibantu olehnya, kami segera menuju rumah sakit dengan mobil Genichirou. Untung saja pintu keluar tidak terlalu jauh dari tempat kami, sehingga tidak perlu membuang banyak waktu untuk ke rumah sakit.
Sesampainya disana, Rie ‘kasan langsung dibawa kedalam ruang ICU. Von masih terisak ketakutan, Genichirou bersama dengan orang yang kami temui itu langsung menjelaskan situasinya dan aku sendiri duduk didepan ruang ICU menemani Von sampai Kazuki datang.

Tidak lama kemudian Kazuki datang tergesa-gesa. Terlihat dari penampilannya yang berantakan, mungkin saja dia berlari kesini.
“Von! Aoi!” seru Kazuki-tousan menghampiri kami. “Dimana Rie?”
“Otousan…” Von segera berlari memeluk Kazuki. “Okasan…okasan…”
“Ya, dimana okasan? Bagaimana keadaannya?”
Kami berdua hanya bisa diam dan menggeleng. Ditengah kebingungan kami, Genichirou bersama dengan dokter Oshitari datang menemui kami.
“Genichirou!” seruku menghampirinya dan langsung menanyakan perkembangannya.
“Biar aku jelaskan” sela Oshitari. “Kazuki, kandungan Rie mengalami goncangan kuat dan mau tidak mau dia harus segera melahirkan”
“Apa?!” Kazuki langsung menarik kerah jas putih Oshitari. “Apa maksud dari perkataanmu, Oshitari! Bukankah kandungannya masih berumur 8 bulan?!”
“K-kazuki, tenanglah dulu. Sepertinya ada sesuatu yang membuat tubuhnya terguncang keras sehingga dia mengalami kontraksi dan dia harus segera melahirkan jika tidak ingin membahayakan nyawa anak kalian”
“Ta-tapi bagaimana dengan Rie sendiri!”
Dokter Oshitari meletakan kedua telapak tangannya pada bahu Kazuki dan menatapnya tajam. “Percayalah! Dia pasti bisa melewatinya! Bahkan jika kamu bersedia, damping dia menyelamatkan buah hati kalian”
Kami semua terkejut, terlebih Kazuki-tousan. “A-aku boleh masuk mendampinginya?”
Dokter Oshitari tersenyum. “Sebenarnya di rumah sakit dilarang dan kamu hanya bisa melihat dari jauh. Namun, untuk kasus ini aku berikan pengecualian”
“Terima kasih, Oshitari”
Kali ini dokter Oshitari menggeleng. “Kalau kamu mau berterima kasih, jangan berterima kasih denganku. Tetapi dengan orang yang sudah menolong Rie”
“Siapa?”
“Nanti akan aku jelaskan. Sekarang dia sedang berada didalam ICU menangani Rie. Sekarang lebih baik kita cepat kedalam dan kalian…” dokter Oshitari menatap kami bertiga. “Kalian tunggu disini. Berdoalah supaya proses ini berjalan dengan baik”

Proses ini berlangsung lebih dari 3 jam. Beberapa kali dokter keluar masuk ke dalam ICU. Von dan aku hanya bisa diam menunggu dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Takut dan khawatir. Mungkin hanya dua kata itu saja yang bisa kami ucapkan.
“Aoi. Von. Minumlah…” Genichirou memberikan sebuah kaleng minuman kepada kami. “Kalian harus yakin dengan Rie dan semua orang yang menolongnya. Dia akan baik-baik saja…”
“Ya…” aku mengangguk dan membuka minuman darinya.
Beberapa kali aku terus menatap lampu berwarna merah diatas pintu itu, berharap untuk  segera berganti warna. Namun warna merah itu terus saja menyala. Sampai akhirnya terdengar sebuah suara dan lampu itupun berubah warna menjadi warna hijau. Tidak lama kemudian suara pintu ruangan itu terbuka dan…
“Otosan!” seru kami dan segera menghampiri Kazuki-tousan. 
“Bagaimana, otousan?” tanya Von khawatir.
Rasa gembira terlihat sekali diwajah Kazuki-tousan. “Von! Aoi! Genichirou!” Otousan menepuk pundak kami berdua dan menatap Genichirou. “Adik laki-laki kalian sudah lahir!”
“Benarkah?!” seruku dan Von yang tidak percaya dengan berita kami dengar. Rasa senang yang tidak bisa ditahan lagi membuat Von menintikan air mata.
“Ya… adik kalian sudah lahir!”
Von langsung memeluk sang ayah dengan erat. Aku dan Genichirou yang melihat itu ikut tersenyum bahagia. Atas izini dari dokter Oshitari, Von di izinkan masuk sedangkan aku dan Genichirou menunggu diluar.  

Keesokan harinya, akupun kembali datang menjenguk Rie bersama dengan yang lainnya. Suasana bahagiapun terasa diruangan kecil ini. Hangat dan menyenangkan. Suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sebuah nyawa kecil yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang. Walaupun premature, dokter Oshitari mengatakan kalau bayi ini sungguh special. Lahir dengan sempuran dan kondisi yang normal seperti bayi pada umumnya.
“Hua… lucunya” seru Shinya niichan melihat sang bayi yang sedang tertidur di sebuah tempat tidur kecil disisi tempat tidur Rie.
“Tentu saja! Dia kan adikku” tambah Von yang tidak mau kalah.
“Hahaha… ia.” Sambung Saeki. “Lihat. Bentuk mukanya mirip ayahnya dan matanya mirip ibunya. Namun sepertinya lebih banyak mirip denganmu, Kazuki”
“Tentu saja…” kali ini Kentarou yang menimpali. “Kalau sampai tidak mirip dengan dia, bisa jadi pertanyaan besar” jawaban Kentarou mendapat banyak tawa dan sebuah pukulan kecil dari Ren sekaligus.
“Aku kan hanya bercanda, Ren”
“Tapi tidak lucu!”
“Ia. Ia. Maaf…”
Genichirou yang penasaran ikut melihat disebelah Kentarou. “Ngomong-ngomong namanya siapa?”
“Ia. Siapa namanya, ‘kasan?” sambungku.
Kali ini Rie diam berfikir sejenak. “Hmm… Siapa ya…?”
“Kamu belum tentuin namanya?” tanya Saeki.
“Hmmm…sempat aku pikirkan, tapi aku masih bingung”
“Bagaimana kalau kamu, Kazuki?” kali ini Shinya yang bertanya.
“A-aku belum ada…”
“…tidak mungkin di panggil adik kecil kan?” sambung Von yang sedang bermain memegang tangan kecil adik bayinya.
“Ah… bagaimana ya bagusnya…” pikir Rie sambil menatap bayinyanya.

Keheningan sejenak diruangan ini. Tiba-tiba saja terdengar suara tawa Kazuki-tousan yang membuat kami semua kebingungan.
“Ada apa denganmu, Kazuki?” tanya Rie yang bingung dengan kelakuan suaminya itu.
“Kesambet?” sabung Kentarou dan lagi-lagi dipukul oleh Ren.
“Aku ada ide” Kazuki mengambil sebuah kertas dari meja dekat bayinya, menuliskan sesuatu dan menunjukannya kepada kami. “Bagaimana kalau kita beri nama, Ken?
“Ken?” kali ini Von yang angkat bicara.
“Yap. Huruf K dari namaku, E dari Rie dan N dari namamu, Von. Bagaimana?”
“Hmm… Analisa yang bagus” gumam Saeki. Shinya niichan pun ikut setuju.
“Jadi bagaimana? Kamu setuju, Rie?”
Rie ‘kasan tersenyum dan memegang tangan Kazuki ‘tousan yang berdiri disebelahnya. “Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu”
“Hua…” Seruku dan menghampiri adik baru Von. “Selamat datang, Ken”
“Ken... yap” senyum Von. “Von dan Ken! Hahahaha…”
“Benar-benar kakak beradik” timpal Genichirou.
“Ke~n” ucapku dan langsung mendapat sebuah pukulan kecil dari Genichirou.
“Panggil namanya biasa saja! Bisa bahaya kalau dia mengingat sebutan namanya seperti itu”
“Ya ampun! Dia itu baru lahir, Genichirou!” balasku.
Tawa riang memenuhi ruangan kecil ini dan diikuti oleh suara erang tangis Ken yang sepertinya popoknya sudah mulai basah! Hahaha… Mendengar suara tangisnya, aku semakin yakin kalau dia benar-benar sehat dan akan menjadi anak laki=laki yang bisa diandalkan!

Yap!
Selamat datang, Ken.

-end-



Friday, May 20, 2011

happy b-day gen chanz




Title: Happy b-day Gen-chan
Characters: Sanada Genichirou _ Ryuto Aoi
Rat: M (mau-mau)
Desc: Konomi Takeshi n Aoryuto
Event: Genichirou B-day
---start—

Menyiapkan sebuah kado untuk seorang teman bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Membeli barang yang disuka secara acak ataupun detail adalah hal mudah, terlebih untuk teman perempuan. Namun bagaimana jika orang yang berulang tahun ini adalah laki-laki, dan dia adalah tunanganmu? Jika membeli barang yang dia suka itu sudah menjadi hal biasa, barang seperti apakah yang tepat untuk diberikan kepadanya?
Tidak terasa usia Genichirou sudah memasuki 23 tahun, usia yang sudah cukup bagi seorang laki-laki memikirkan masa depannya. Menikah, itulah yang sering kali dia bahas denganku. Aku memang mencintainya, namun untuk mencapai tahap kesana…
“Duuuh… apa yang sebaiknya aku berikan?” aku frustasi pada diriku sendiri didalam kamarku. Kupeluk boneka anjing darinya dan mengambil handphoneku. “Kenapa ulang tahun Genichirou harus besok sih?!”
Tok.Tok.Tok.
“Aoi, belum tidur?” Okasan memasuki kamarku sambil membawakan beberapa potong kue kepadaku.
Aku menggeleng dan kembali menenggelamkan wajahku. “Kasan, ini kue apa?”
“Kue keju yang kasan dapat dari teman. Lalu, kenapa kamu belum tidur? Sekarang sudah jam 11 malam”
Aku kembali mengangguk. “Ne, Okasan… besok ulang tahun Gen chan, lebih baik apa yang aku berikan padanya?”
“Hmm…” Okasan duduk disebelahku lalu menatapku. “Kalau masak masakan yang dia suka?”
“Sudah biasa…” jawabku cepat.
“…membeli barang kesukaan dia?”
Entah mengapa aku langsung tertawa, “…dia itu terlalu kaku. Untuk barang kesukaan rasanya itu sulit…”
Kali ini Okasan yang tersenyum kepadaku dan terlihat seperti ada hal lain yang dia pikirkan. “…bagaimana kalau ‘itu’,,?”
Okasan membisikan sesuatu dan langsung saja wajahku memerah. “kasaan!!”
“Hahahaha… berbeda bukan? Bagaimana?”
“I-itu…” kurasakan wajahku memanas.
“Rie!” suara otousan dari kamar atas.
“Ah, ayahmu sudah memanggil” okasan bangkit lalu berjalan keluar dari kamarku. “Pikirkanlah. Siapa tahu Genichirou akan menyukai nya”
“Ya… dia akan menyukainya, sedangkan TIDAK padaku…”
Okasan hanya membalas tawa. Aku kembali membaringkan tubuhku, memeluk bonekaku dan berkata dalam hati, “Haruskah aku melakukannya? Aduh, aku benar-benar pusing…”.

“Happy birthday, Gen chan” ucapku melalui telepon genggam. “Masih bertugas?”
“Ah..” jawabnya singkat dan terdengar suara keyboard yang saling beradu dengan kecepatan tangannya. “Oh ya, besok kamu ada acara?”
“Besok? Besok yang kamu maksud itu hari ini atau memang besok?”
“Ah, maaf. Hari ini maksudku. Apa kamu ada acara?”
“Tidak. Kenapa?”
“Nanti aku ketempatmu, bagaimana?”
“Hm… boleh saja. Jam berapa?”
Kali ini Genichirou diam sejenak. “…mungkin sejam lagi…”
Aku melihat jam dan memang hari sudah terlalu malam. Rumah Genichirou masih jauh dari kantor, sedangkan rumahku memang lebih dekat. Sudah biasa Genichirou akan menginap jika dia pulang terlalu larut, terlebih sampai subuh seperti ini.
“Baiklah. Aku akan tung-“
“Tidak usah” potongnya.
“Heh?” kagetku. “Kalau aku tidak menunggu, nanti siapa yang akan membukakan pintu untukmu, Geni?”
“Tidak apa. Kamu tidur duluan saja. Kamu lupa kalau aku punya kunci? Lagipula aku tidak mau kalau penyakitmu akan kambuh karena menungguku yang tidak jelas ini…”
Aku hanya bisa terdiam mendengar segudang permintaannya. Walaupun aku benci mengakuinya, tapi aku tetap mengikuti permintaannya itu.
“Baiklah. Aku akan tidur duluan. Tapi kalau kamu sudah datang, kamu harus membangunkanku, ya…”
Genichirou tertawa dari seberang sana dan membalas, “Baiklah, tuan putri. Aku akan membangunkanmu kalau aku sudah sampai”
Kami berdua tertawa lalu menutup teleponku untuk tidak mengganggunya. DI hari ulangtahunnya pun dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya ini bukan hal baru dalam keseharian kami. Sudah beberapa kali disetiap ulang tahun Genichirou, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan dibandingkan dirinya sendiri. Aku mengerti tanggung jawab yang dia pegang, tetapi aku ingin sekali bisa menghabiskan waktu bersama-sama di hari besarnya itu.
Sebelum aku tidur, aku kembali membuka lemari pakaianku dan memikirkan apa yang dikatakan oleh okasan kepadaku. ‘…Bagaimana kalau kamu memakai baju pelayan ini di hari ulang tahunnya? Dia sudah lama sekali membelikannya, bukan?’
Aku menghela nafas dan meraih baju panjang berwarna putih itu. “…padahal dia tahu kalau aku tidak mungkin memakai baju ini. Tapi…” aku menatap baju itu kembali. “…ba-baiklah… ha-hanya untuk tahun ini saja…”

“…aoi…aoi…”
Suara berat seseorang memanggil namaku. Perlahan aku membuka mataku dan membalikan badanku mengikuti arah suara tersebut. “Gen chan”
Genichirou membalas senyum kepadaku. “Selamat pagi…”
Aku bangun dari tidurku dan mencoba mengingat kejadian tadi malam. “…perasaan aku tidur di sofa. Kenapa sekarang aku di tempat tidurku?”
Tiba-tiba saja Genichirou memukul pelan kepalaku. “Kamu ini! Sudah aku katakan beberapa kali jangan tidur disofa kalau sudah malam”
Aku yang masih setengah sadar hanya bisa diam mengangguk. “…lalu sekarang jam berapa?”
“Jam 7 pagi…” jawabnya singkat.
“Jam 7?”
“Ya…”
“...”
“… ?”
Aku langsung terhentak bangun. “Gen chan! Kamu baru datang sekarang?!”
“Tidak sih. Aku datang jam 3 pagi tadi”
“Lalu, kenapa kamu tidak bangunkan aku!”
Genichirou hanya tersenyum lalu memegang wajahku. “Aku tidak mau mengganggumu yang sedang tidur. Wajahmu ketika tidur terlihat bahagia sekali. Apa yang kamu mimpikan? Aku?”
Mendengar itu aku hanya bisa diam dengan wajah memerah dan memukulnya pelan.
“Maafkan aku ya, Aoi”
“Heh?”
“Maaf tidak membangunkanmu…”
“Ti-tidak apa-apa…”
Genichirou membetulkan posisi duduknya lalu menatapku.
“Kenapa?” tanyaku bingung dan membalas menatapnya. Kuikuti arah pandangannya. “…ehh!” refleks langsung aku menutup tubuhku dengan selimutku.
“Tumben sekali kamu pakai baju itu”
Kupalingkan wajahku dan menutupnya dengan selimut. “…sayang saja kalo sampai tidak di pakai kan? Aneh?”
“Tidak kok” Genichirou kembali tersenyum sambil menunduk cepat yang mengajakku untuk duduk dipangkuannya. Aku langsung bangun dan mengikutinya.
“Kenapa?” tatapku.
“Aku hanya mengantuk…” Genichirou melingkarkan tangannya dipinggangku dan menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.
“Tidur saja… Kamu hari ini libur kan?”
“Ya… tapi aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan tidur…”
“Lalu?”
Genichirou menatapku. “Jalan-jalan yuk…”
“Mau kemana?”
“Bagaimana kalau ke kuil?”
“Boleh. Kita ajak Von dan Kenn sekalian. Bagaimana?”
“Baiklah…”
Genichirou masih memelukku dan aku membalas mengusap wajahnya. Dia terlihat lelah sekali hari ini. Untung saja hari ini libur. Dia bisa istirahat sejenak sampai nanti siang.

“Onechan…” suara pintu kamarku terbuka.
“Kenn” panggilku. Dengan langkah kecilnya, Kenn berlari kearahku dan memeluk kakiku. Mengusap rambutnya yang masih halus membuatku senang. “Kenapa?”
Kenn  tertawa, naik ke tempat tidurku dan melingkarkan tangannya dileher Genichirou. “Main…”
“Kenn, niichan masih lelah…” ucapku sambil menariknya pelan. “Nanti saja ya…”
“Mau main…”
Kenn yang tidak mau melepaskan tangannya membuat keseimbangan Genichirou melemah dan akhirnya kita bertiga jatuh ditempat tidurku.
“Hayo sini…” goda Genichirou dan mengelitiki Kenn.
“Geli, Gen niichan…” tawa canda memenuhi ruangan ini. Aku ikut tersenyum dam meninggalkan mereka untuk mengganti bajuku.

“Aoi, dimana Genichirou?” tanya Rie ketika aku mengambil minuman dari dapur.
“Ada diruang tamu sama ayah… Kenapa?”
“Apa dia tidak lapar? Dia belum sarapan”
“Eh?”
“Coba sana tanya dia”
Setelah meneguk minumanku, aku segera menuju ruang tamu dan mendapatkan Genichirou yang sedang tertidur dengan Kenn disebelahnya. Sepertinya dia memang kelelahan. Kuambilkan selimut tipis dari kamarku dan menyelimutinya. Kuusap wajahnya dan tersenyum senang.
“Maaf.. aku tidak bisa memberikan apa-apa…” kataku dalam hati lalu meninggalkannya sejenak membantu Rie.

Sesuai dengan yang dijanjikan, Genichirou mengajakku ke kuil dekat rumahnya. Namun Von dan Kenn tidak bisa ikut. Von berjanji akan bertemu dengan Sesshoumaru, dan Kenn akan mengikuti lomba model anak.
“Acara Kenn sampai jam berapa, kasan?” tanyaku sambil memakaikan Kenn baju beruangnya.
“Sekitar jam 6 sore. Kenapa?”
Aku menggeleng. “Mungkin nanti aku langsung pulang ke apartemen Shinya niichan. Tidak apa, kan?”
“Ya. Tadi Shinya juga sudah menghubungi ‘kasan.”
“Kalau begitu, aku berangkat dulu”
“Ya. Selamat bersenang-senang” goda Rie-kasan lalu menatap Genichirou. “Oh ya, selamat ulang tahun ya”
“Terima kasih, kasan. Kami pergi dulu”
Setelah kami berpamitan, kami berjalan menuju tempat parkir apartemen ini dan segera berangkat menuju kuil tersebut.
“Genichirou…” panggilku sesaat. Dia hanya berdeham sebagai ganti jawaban karena masih harus berkonsentrasi dengan mobil yang dia bawa. “Kenapa kita harus pakai kimono ini?”
“Ah, sebenarnya ada temanku yang memintaku menjadi model”
“Heh?”
“Ya. Lalu aku memintanya sekalian untuk memfoto kita berdua. Jarang-jarangkan kita bisa foto bersama” ucapnya sambil mengelus rambutku.
“Ya ampuun…”

Acara pemotretan di kuil tidak berlangsung lama. Setelah 2 jam berlalu, temannya berpamitan dan sempat meminta kami untuk menjadi modelnya dilain tempat. Namun karena hari ini special, Genichirou lagsung menolak.
“Tidak apa kamu menolaknya?” tanyaku khawatir. “Sepertinya dia sedang butuh sekali tuh…”
“Tidak apa. Lagipula kita sudah berjanji akan membantunya. Tapi tidak dengan hari ini…”
Aku mengangguk dan berjalan mengikuti Genichirou dari belakang.
“Kamu mau kemana?”
Genichirou hanya menatapku sesaat lalu kembali melangkahkan kakinya, sampai menuju kesebuah taman kecil dibelakang kuil ini.
“Ini tempatku dulu ketika aku sedang bermain bersama dengan kakakku…” jelasnya singkat lalu kembali berjalan menelusuri kuil.
“Gen chan, sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku mulai ketakutan sambil memegang lengan bajunya. Aku tidak terbiasa dengan suasana belakang kuil yang sedikit menyeramkan ini. Hari memang masih siang, namun Genichirou terus melangkahkan kakinya ke bagian belakang kuil yang lebih gelap.
“Gen chan!”
Tiba-tiba saja Genichirou mengangkatku dan berjalan semakin kedalam kegelapan itu.
“Gen chan! Kita mau kemana sih! Turunin!”
Genichirou menatapku sejenak. “Kalau kamu aku turunini sekarang, kamu bisa saja lari dan nyasar didalam sini. Kalau kamu takut, tutup kedua matamu”
Suara Genichirou yang datar itu membuatku semakin takut. Kututup kedua mataku, melingkarkan tanganku pada bahunya dan memendamkan wajahku pada dadanya. Aku sudah tidak tahu kemana dia akan membawaku. Hanya saja aku mendengar beberapa suara yang tidak aku kenal dan membuatku semakin takut.
“Ge-gen chan…”
“Aoi… tutup matamu saja…”
 Aku terus menutup kedua mataku dan pelukanku semakin erat. Hingga akhirnya suara aneh itu menghilang dan terdengar deru air yang saling beradu. Anginpun berhembus dengan kencang. Rasanya nyaman sekali.
“Bukalah matamu, Aoi…”
Perlahan kubuka kedua mataku. Sebuah laut luas terlihat dari tempatku dan Genichirou saat ini. “I-ini dimana?”
“Di belakang kuil. Maaf sudah membuatmu takut”
“Eh?”
Genichirou menurunkanku dan mengajakku berjalan lagi. “Aku tahu kamu mempunyai kemampuan untuk mendengar hal yang tidak bisa ditangkap oleh manusia biasa. Tapi aku harus membawamu kesini…”
“…kemana?”
Genichirou membalikan badannya sejenak, tersenyum dan kembali berjalan. Senyumannya kali ini bukan senyuman bahagia ataupun perasaan senang. Sebuah senyuman yang terlihat sedih. Aku berjalan mendekatinya dan memeluk lengannya. Menyandarkan kepalaku pada bahunya.

Tidak lama kemudian kami sampai pada suatu tebing dan terdapat sebuah batu yang tertanam disana. Bentuk batunya yang sangat tidak asing, sebuah batu nisan yang terukir nama seseorang yang tidak aku kenal.
“ini… siapa?” tanyaku bingung. Genichirou berlutut sejenak, menutup kedua matanya untuk berdoa dan tidak lama kemudian dia bangkit berdiri disebelahku.
“Aoi, dia adalah sahabatku ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar…”
“…”
“…dia meninggal akibat kecelakaan dan tidak tertolong...”
Kurasakan kesedihan Genichirou yang mendalam itu. Kulingkarkan tanganku pada pinggangnya dan memeluknya dengan erat. Diapun membalas dengan menyandarkan kepalanya diatas kepalaku.
“Aoi…”
“Ya…?”
“…sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan kepadamu. Namun ak-“
“Tidak apa. Aku mengerti. Aku tahu kamu sedang sedih” potongku tanpa mendengar perkataannya.
“Bukan begitu!” geramnya.  Tubuhku terhentak dan menatapnya. “Haah.. selalu saja kamu berfikir yang aneh-aneh…”
“Maksudmu?”
Genichirou melepaskan pelukannya, memegang kedua bahuku dan menatapku tajam. “Aoi… aku tahu kalau kamu belum siap…” tiba-tiba saja Genichirou memelukku dengan erat membuatku semakin takut dan bingung.
“G-gen chan…!” 
“Aoi… aku punya satu permintaan padamu…”
a-apa yang Genichirou minta dariku…? A-apa yang mau dia lakukan? Aku takut… takut..
“A-aoi?” wajahku memanas dan kurasakan air mataku mengalir. “A-aoi? Kamu tidak apa-apa?”
“Maaf…” kuhapus air mataku dengan telapak tanganku. Tiba-tiba saja Genichirou menangkap tanganku, menghapus air mataku dengan telapak tangannnya yang hangat lalu mencium pipiku.
“Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku lupa dengan ketakutanmu. Maafkan aku, ya” aku mengangguk pelan sebagai jawaban. “Aoi, ada yang ingin aku katakan…”
“Ya?”
Kali ini Genichirou hanya meraih kedua tanganku dan menatapku. “…didepan makam temanku dan yang kuasa…” Genichirou diam sejenak dan melanjutkan perkataannya. “Aoi… maukah kamu menikah denganku?”
Tubuhku langsung terhentak. “Me-menikah?”
Genichirou mengangguk. “Aku tahu kalau kamu belum siap, walau aku tidak tahu apa alasan pastinya. Namun aku ingin meyakinkan bahwa aku serius dengan hubungan kita ini…”
Kurasakan detak jantungku berdetak cepat, wajahku memanas dan keseimbanganku hampir menghilang.
“A-aoi? Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa…”
Aku bertahan dengan bertumpu pada bahu Genichirou. “Jadi, bagaimana Aoi? Maukah kamu menikah denganku?”
“Kau tahu, Gen chan. Hari ini adalah hari kebahagianmu, namun… mengapa mejadi hari bahagia bagiku?”
Senyuman di wajah Genichirou semakin menjadi. “…Ja-jadi…jawabanmu…”
Aku hanya tersenyum dan Genichiroupun memelukku dengan erat. Kurasakan tubuhnya gemetar dan detak jantungnya yang bergerak cepat. Genichirou bisa gemetar seperti ini…?
“Genichirou…”
“Ya…?” Genichirou masih memelukku.
“…maaf kalau aku mengecewakanmu disaat kamu bahagia. Namun, maukah kamu menungguku sampai aku yakin pada diriku untuk menikah?”
Genichirou melepas pelukannya dan menyentuh wajahku dengan tangan kirinya. “Aku mengerti, Aoi. Seperti yang aku katakan tadi. Aku ingin menunjukan kepadamu bahwa aku serius dengan hubungan kita ini. Oleh karena itu, kamu tenang saja dan biarkan waktu menghapus masa lalumu yang kelam itu…”
Aku kembali melingkarkan tanganku pada lehernya dan memeluknya dengan erat. Dihari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, menjadi hari paling bahagia didalam hidupku. Sungguh tidak ada kata yang dapat aku katakan untuk menjelaskan perasaanku saat ini.
“Hari ini seharusnya menjadi hari bahagiamu, tetapi justru aku yang bahagia”
“Aku bahagia, kok” balas Genichirou. “Aku bahagia bisa mendengar jawabanmu itu…”
“Tapi aku tidak bisa memberikan apa-apa… selain itu, aku sudah banyak merepotkan-“ Genichirou menghentikan perkataanku dengan menempelkan telunjuknya di bibirku.
“Kita sudah yakin untuk menikah dan kamu masih memikirkan ha seperti itu?” aku kembali menunduk. “Aoi, ketika aku memintamu untuk menikah, itu berarti aku sudah yakin dengan keputusanku dan aku siap menerimamu apa adanya. Aku suka kamu apa adanya, Aoi…”
Air mataku kembali mengalir. “Terima kasih Gen chan…”
“Ya…”

Genichirou merangkulku dan kami bersama-sama menatap langit yang mulai memerah. Tiba-tiba saja sebuah ide terpikirkan olehku. “Genichirou…”
“Ya…?”   
Kuletakan tangan kananku pada bahu Genichirou, menarik tubuhnya sedikit dan perlahan kuberanikan diriku untuk mendekatkan wajahku. Aku tidak menyangka bahwa ini terasa manis sekali.
“A-aoi…”
“Ge-gen chan…” balasku kaku. “i-ini sebagai hadiah dariku. Aku tidak tahu apa yang bisa aku berikan lagi selain ini… Ma-maaf hanya sesederhana ini…”
“Tidak. Aku tahu kamu harus mengumpulkan keberanian untuk melakukan ini. Terima kasih…” Genichirou mendekatkan wajahnya namun berhenti sejenak. “Bolehkah?”
Aku tersenyum sebagai ganti jawaban. Melihatnya tersenyum bahagia membuat perasaanku menjadi lega. Tangan kirinya kembali menyentuh wajahku dan bibir kami bertemu untuk kedua kalinya. 

Malam ini menjadi malam yang indah bagi kami berdua. Untuk merayakannya, kami makan bersama disebuah kedai dekat kuil dan menonton kembang api sebagai acara penutup. Sebelum pulang, Genichirou membelikanku sebuah kalung yang berinisalkan namaku. Dibagian belakangnya terukir nama dan tanggal bahagia ini. Perasaanku yang bercampur aduk membuatku terus menerus tersenyum setiap kali melihat wajahnya.
Setelah selesai, Genichirou mengantarku ke apartemen Shinya niichan. Namun niichan belum pulang dan aku tidak berani tinggal di apartemen sendirian.
“Aku akan menunggumu…”
“Benarkah?” tanyaku meyakinkan. “Tapi kamu sudah terlihat lelah sekali…”
“Tidak apa. Aku akan menemanimu…”
Aku mengajaknya duduk di sofa ruang keluarga dan meninggalkannya untuk mengambil minuman. Ketika aku kembali, aku mendapatkan Genichiro yang sudah tertidur. “Aku sudah katakan kalau kamu pasti lelah…”
Kuambilkan selimut dikamarku dan menyelimutinya. Membiarkan dia istirahat sampai tenaganya terisi kembali. Melihat wajahnya yang seperti anak-anak, membuatku tersenyum bahagia. Aku yang juga sudah merasa lelah, duduk disebelahnya dan bersandar pada bahunya sambil mengkaitkan jariku diatas punggung tangannya yang besar itu.  

Selamat ulang tahun , Gen chan… berjanjilah bahwa kamu akan selalu disisiku…

-end--

huaaa... ^^ kacau, tahca~ hehehe... Happy - bday Sanada Genichirou ^^ loph2~ *kickout
maaf buat gambar ilustrasi na... nyuu~ kacau tacha~ honyooo~ yaaaaa~ yaaa~ ya sudahlah~ ^^/ jya~