Welcome, Kenn
Characters:
Kazuki – Rie: 24 - 21
Genichirou – Aoi: 20 - 18
Shinya – Saeki: 27 – 34
Kentarou – ren : 24 - 23
Von: 15
Kenn: lahir
time line: umur diatas adalah umur kurang lebih kenn baru saja lahir. Hahaha… muda sekali ya~
----start--- pov aoi
Mempunyai keluarga di usia muda bukanlah hal mudah, terlebih lagi sudah banyak jumlah anggota keluarganya. Setelah satu tahun lamanya aku bersama dengan anggota keluargaku yang baru, kehidupanku sedikit demi sedikit mulai berubah. Lebih terasa menyenangkan dan membahagiakan. Tidak jarang aku menginap di apartemen Rie jika Shinya niichan sedang bertugas. Terasa seperti mempunyai dua tempat tinggal. Bahkan aku sendiri sudah dianggap anak oleh mereka. Perasaan senang tidak bisa aku tutupi tiap kali jalan ataupun makan bersama.
Di tengah kebahagianku, ada suatu berita yang lebih menarik lagi. Suatu berita kebahagian bagi orangtua angkatku ini. Berita itu kami ketahui ketika aku sedang menginap ditempat Rie dan Genichiroupun ikut datang mengantarku pulang.
“Rie kasan. Aku pulang…” ucapku ketika aku baru saja kembali dari tempat kuliahku. Tidak ada jawaban sama sekali. “Okasan?”
“Tidak ada siapa-siapa di rumah?” Genichirou menutup pintu dibelakangku lalu berjalan mengikutiku.
“Seharusnya ada okasan” balasku. Setelah melepaskan sepatu yang aku kenakan, aku berjalan menuju ruang tamu dan … “Okasan!!”
“Aoi, ada apa?!”
“Genichirou, bantu aku!”
Rie ‘kasan pingsan didekat sofa dengan sebuah kain lap di tangannya.
“Okasan? Okasan?” aku mencoba memanggilnya namun tidak ada jawaban sama sekali. “Genichirou, bagaimana ini?” tanyaku mulai panik. Aku terus memanggil nama okasan sambil terus mendekap bahunya.
“Aoi, kita bawa kerumah sakit saja”
“Heh?”
“Jangan ‘heh’! Aku bawa ‘kasaan dan kamu siapkan mobilnya”
Aku mengangguk dan segera berlari menuju tempat parkir apartemen untuk mengambil mobil Genichirou. Setelah memarkirkannya, Genichirou meletakan okasan di bangku belakang dan segera membawanya kerumah sakit. Aku yang terus berada disebelah okasan hanya bisa terus memanggil namanya.
“Aoi, tenanglah. Kamu jangan terlalu panik”
“Ta-tapi, bagaimana kalau okasan ada apa-apa?”
“Tenanglah. Mungkin okasan hanya kelelahan”
“Tidak mungkin!” bantahku. “Bagaimana kalau ada sesuatu ya-“
“Aoi! Jangan berkata yang tidak-tidak!” tubuhku terhentak mendengarnya. “…dan aku tidak mau kalau penyakitmu ikutan kambuh. Ah, kita sudah sampai”
Sesampainya dirumah sakit, okasan langsung dibawa kedalam untuk diperiksa. Kebetulan kami kenal dengan salah satu dokter dirumah sakit ini. Oshitari Yuushi, teman lama adik ayahku. Aku segera menghubungi ayah mengenai kejadian ini. Tidak sampai satu jam, ayahpun datang.
Brak. Ayah langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
“Oshitari! Ada apa dengan Rie!” tanyanya panik dengan nafas yang masih saling beradu.
“Te-tenanglah Kazuki…” dokter Oshitari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati okasan yang masih tertidur.
“Aoi, ada apa dengan ibumu?”
Aku hanya bisa menggeleng ketakutan. “Aku tidak tahu. Dokter Oshitari bilang, kalau ada sesuatu hal penting yang harus diketahui oleh ayah sendiri…”
Kazuki langsung kembali menatap Oshitari dan berjalan mendekatinya. “Ada apa dengan Rie, Oshitari? Apakah ada sesuatu hal yang gawat?”
Dokter Oshitari diam sejenak lalu terdengar suara tawa darinya. “Selamat”
“Selamat?” ucap kami hampir bersamaan.
Dokter Oshitari menyalami Kazuki dan tertawa terbahak-bahak. “Kalian ini! Keluarga kalian sudah banyak, tapi masih saja ingin menambah anggotanya”
“A-apa maksudmu?”
Dokter Oshitari menggeleng. “Ya ampun kamu ini… Ah ya, aku baru ingat kalau mereka anak angkat kalian…”
“Apa sebenarnya maksudmu, Oshitari!”
“Selamat. Kalian mempunyai anggota keluarga baru”
“Ap-“
“Ya…” Dokter Oshitari membuka buku laporannya. “Rie jatuh pingsan karena kelelahan. Selain itu usia anak kalian sudah hampir 4 bulan. Apakah selama ini kalian tidak pernah memeriksa ataupun menyadari perubahan sikap ataupun kebiasaan dari Rie?”
Kazuki diam sejenak. “Hmm… memang sudah beberapa lama ini dia kurang nafsu makan. Selain itu dia juga sering tidak enak badan… Ja-jadi…”
“Selamat untuk kalian berdua, ya..”
Dokter Oshitari berjalan meninggalkan kami semua. “Ayah.. selamat…” ucapku lalu berjalan memeluk ayah.
Tanpa diucapkan, wajah bahagia ayah tergambar sekali di wajahnya. Aku turut senang mendengarnya. Seingatku mereka memang sudah mempunyai anak, namun sekarang ini sedang berada diluar kota untuk menempu ilmunya. Sering kali Rie ‘kasan terlihat sedih setiap bercerita mengenai anak semata wayangnya itu. Kurasa kesedihan itu akan segera menghilang dengan kehadiran buah hatinya yang tidak lama lagi akan berada ditengah-tengah kehidupan mereka.
Sejak saat itu, aku mendengar dari Kentarou niichan bahwa Kazuki-tousan lebih cepat dalam mengerjakan pekerjaannya dan pulang tepat waktu. Mendengar mereka bahagia, perasaanku ikut senang. Bahkan tidak jarang aku dan Genichirou diminta Kazuki-tousan untuk menemani ‘kasan ketika berbelanja ataupun menghabiskan waktu dirumah.
Setelah 2 bulan berlalu, ada beberapa masalah yang dibicarakan oleh Kazuki-tousan dengan Kentarou niichan. Tidak lain dan tidak salah lagi adalah masa-masa mengidam dan persiapan perawatan anak. Kebetulan Kentarou niichan baru saja mempunyai seorang anak laki-laki dan sudah berumur satu tahun.
“Jadi, apa masalahmu Kazuki? Bukankah seharusnya kamu merasa senang?” tanya Kentarou niichan pada Kazuki-tousan yang duduh didepannya. Seperti biasa, raut wajah Kentarou niichan selalu santai.
“Aku hanya bingung. Apa yang harus aku lakukan dimasa mengidam seperti ini. Terkadang permintaannya aneh-aneh. Kalau tidak diturutin dia akan marah. Tapi kalau sudah aku belikan ataupun aku bawakan, terkadang dia tidak suka. Aku bingung…”
“Hmm… bagaimana ya…” gumam Kentarou niichan lalu bersandar pada kursinya. “Genichirou. Aoi. Kalian ada ide?”
Aku hanya menggeleng sedangkan Genichirou langsung menjawab, “Niichan sendiri bagaimana ketika neechan mengidam?”
Kentarou niichan tiba-tiba terhentak dan tertawa aneh. “H-hahahaha… y-ya… be-be-begitulah… H-hahaha…” Kami hanya bisa menghela nafas.
Tidak hanya kepada Kentarou niichan. Aku juga mendengar dari Saeki niichan kalau Kazuki-tousan terkadang terlihat lelah di kantor. Ya, memang Saeki niichan sendiri tidak banyak cerita. Namun yang pastinya Kazuki-tousan bertambah sibuk! Terlebih lagi waktu yang terus berjalan dan tidak terasa sudah mencapai bulan ke 8. Waktu dimana seorang ayah harus segera mempersiapkan segala kebutuhan buah hatinya yang akan segera lahir.
“Rie ’kachaaa~an” seruku ketika datang berkunjung kerumahnya.
“Ah, Aoi. Selamat datang” sambut Rie yang berada didapur bersama dengan anak sulungnya, Von.
“Hai, Von! Apa kabar?” sapaku dan berjalan mendekati mereka. “Sudah lama datang kesini?”
“Hai, neechan. Hmm… hampir 2 minggu sih. Oh ya, kebetulan aku libur 2 bulan nih! Kita jalan-jalan yuk!”
“Ayo saja!” balasku semangat.
“Hei!” suara rendah seseorang yang sempat mengejutkan kami berdua. “Kalian ini ribut sekali”
“Ah! Genichirou niichan!” sapa Von. “Maaf-maaf…”
Kami berdua tertawa.
“Oh ya, Aoi. Hari ini kamu sibuk?” tanya Rie ‘kasan sambil memberikan sebuah kue kering buatannya.
“Tidak. Kenapa?”
“Mau ikut berbelanja dengan kami?”
“Eh?”
“Kalau ditanya, jangan cuma ‘eh’!” omel Genichirou.
“A-ah… ya…Mau~!” jawabku cepat-cepat sebelum Genichirou memarahiku lagi. “Ne Gen chan, mau antar kami, kan?”
“Tidak apa” jawabnya singkat. “Tidak apa kan kalau aku ikut?” tanyanya sambil menatap Rie ‘kasan.
“Tidak merepotkan?”
“Lebih merepotkan kalau ada apa-apa dengan kalian nan-“ sebelum Genichirou berkata lebih jauh, aku langsung memukul punggungnya.
“Gen chan!” seruku. “Kalau boleh tahu, kita mau kemana?”
“Departement store” jawab Rie. “Aku mau beli beberapa baju bayi dan mainannya…”
“Kazuki-tousan belum belikan?” tanyaku.
“Hahaha… sudah. Tapi ada beberapa yang ingin ‘kasan pilih sendiri. Nah, Von. Ayo kita siap-siap” Rie ‘kasan menatap anaknya yang sedang asik memakan kue kering buatan ibunya itu.
“Baiklah…” balasnya semangat dan kamipun segera berangkat sebelum langit menjadi gelap.
Departement store dekat sini ternyata sedang ramai! Tanpa membuang waktu, kami langsung berjalan menuju kios yang pernah disarankan oleh Kentarou niichan. Di kios itu banyak sekali berbagai macam peralatan bayi, pakaian bayi bahkan beberapa mainan untuk bayi yang jarang ditemukan di toko-toko lainnya. Selain itu harga barang-barang disini tidak terlalu mahal. Entah mengapa ada satu peralatan bayi yang ingin sekali aku miliki. Minyak wanginya. Terasa harum sekali…setelah aku mengucapkan keinginan itu, langsung saja sebuah pukulan kecil mendarat di punggungku. Tidak lain dan tidak bukan adalah Genichirou.
“Kamu ini bukan anak bayi!”
“Tapi wanginya enak…”
“Itu bukan makanan!”
“Geni mulai kolot degh!”
“Hahaha… sudah-sudah…” lerai Von. “Nechan kalau mau, beli saja…”
“Ah tidak. Lagipula aku hanya bercanda kok” jawabku terburu-buru. “okasan, bagaimana?”
“Ya. ‘kasan sudah selesai kok” jawabnya sambil memasukan dompetnya. “Yuk kita pulang. Okasan sudah lelah…”
Aku mengangguk dan membantu membawakan beberapa belanjaan miliknya yang dibantu oleh Genichirou tentunya.
“Ah Aoi, ‘kasan mau beli minum dulu boleh?” tanyanya ketika kami berhenti disebuah kios minuman.
“Tentu saja” jawabku dan meletakan barang bawaan kami sejenak.
Von menemani Rie sedangkan aku dan Genichirou menjaga barang bawaan kami. Namun tiba-tiba saja terdengar suara terikan seseorang yang tidak aku ketahui asalnya.
“MALING!!!”
Aku langsung mencari sumber suara itu dan ternyata ada seorang pria yang sedang dikejar oleh beberapa penjaga dan petugas. Aku sempat terhentak ingin mencari tahu, namun ditahan oleh Genichirou.
“Kamu tidak kejar?” tanyaku.
“Biarkan. Disini ramai dan sebentar lagi dia akan segera tertangkap”
…dan benar! Pencuri itu segera dikerumuni oleh beberapa orang lainnya. Ingin rasanya aku melihat nasib pencuri itu, namun tiba-tiba saja ada yang menepuk bahuku. Seorang wanita muda yang terlihat panik.
“Tolong! Tolong!”
“Eh?”
“tolong! Korban pencurian itu adalah seorang wanita hamil dan saat ini dia sedang kesakitan!”
“Eh?!” aku langsung terhentak dan segera berjalan mengikuti wanita itu. “Ge-genichirou!”
Genichirou yang terkejut berlari mendahului kami. Ketika aku sampai disana, ternyata korban itu adalah Rie ‘kasan! Von yang disebelahnya terisak ketakutan sambil memegang tangan ibunya.
“Von!”
“Aoi neechan! Okasan…! Okasan…”
“Tenang!” seru Genichirou. Dengan sigap dia melingkarkan tangannya dipunggungnya, “Aoi! Hubungi Oshitari dan katakan ada keadaan darurat. Von! Hubungi kazuki dan katakan untuk segera kerumah sakit!”
Dengan menggunakan telepon genggam masing-masing, kami langsung menghubungi orang-orang sesuai perintahnya. Genichirou sendiri sibuk membuat ruang untuk bernafas bagi Rie, karena penuhnya yang melihat kami dari pada membantu.
Ditengah kepanikan kami, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengaku berprofesi sebagai seorang dokter membantu kami membetulkan posisi Rie supaya tidak ada masalah dengan kandungannya. Dibantu olehnya, kami segera menuju rumah sakit dengan mobil Genichirou. Untung saja pintu keluar tidak terlalu jauh dari tempat kami, sehingga tidak perlu membuang banyak waktu untuk ke rumah sakit.
Sesampainya disana, Rie ‘kasan langsung dibawa kedalam ruang ICU. Von masih terisak ketakutan, Genichirou bersama dengan orang yang kami temui itu langsung menjelaskan situasinya dan aku sendiri duduk didepan ruang ICU menemani Von sampai Kazuki datang.
Tidak lama kemudian Kazuki datang tergesa-gesa. Terlihat dari penampilannya yang berantakan, mungkin saja dia berlari kesini.
“Von! Aoi!” seru Kazuki-tousan menghampiri kami. “Dimana Rie?”
“Otousan…” Von segera berlari memeluk Kazuki. “Okasan…okasan…”
“Ya, dimana okasan? Bagaimana keadaannya?”
Kami berdua hanya bisa diam dan menggeleng. Ditengah kebingungan kami, Genichirou bersama dengan dokter Oshitari datang menemui kami.
“Genichirou!” seruku menghampirinya dan langsung menanyakan perkembangannya.
“Biar aku jelaskan” sela Oshitari. “Kazuki, kandungan Rie mengalami goncangan kuat dan mau tidak mau dia harus segera melahirkan”
“Apa?!” Kazuki langsung menarik kerah jas putih Oshitari. “Apa maksud dari perkataanmu, Oshitari! Bukankah kandungannya masih berumur 8 bulan?!”
“K-kazuki, tenanglah dulu. Sepertinya ada sesuatu yang membuat tubuhnya terguncang keras sehingga dia mengalami kontraksi dan dia harus segera melahirkan jika tidak ingin membahayakan nyawa anak kalian”
“Ta-tapi bagaimana dengan Rie sendiri!”
Dokter Oshitari meletakan kedua telapak tangannya pada bahu Kazuki dan menatapnya tajam. “Percayalah! Dia pasti bisa melewatinya! Bahkan jika kamu bersedia, damping dia menyelamatkan buah hati kalian”
Kami semua terkejut, terlebih Kazuki-tousan. “A-aku boleh masuk mendampinginya?”
Dokter Oshitari tersenyum. “Sebenarnya di rumah sakit dilarang dan kamu hanya bisa melihat dari jauh. Namun, untuk kasus ini aku berikan pengecualian”
“Terima kasih, Oshitari”
Kali ini dokter Oshitari menggeleng. “Kalau kamu mau berterima kasih, jangan berterima kasih denganku. Tetapi dengan orang yang sudah menolong Rie”
“Siapa?”
“Nanti akan aku jelaskan. Sekarang dia sedang berada didalam ICU menangani Rie. Sekarang lebih baik kita cepat kedalam dan kalian…” dokter Oshitari menatap kami bertiga. “Kalian tunggu disini. Berdoalah supaya proses ini berjalan dengan baik”
Proses ini berlangsung lebih dari 3 jam. Beberapa kali dokter keluar masuk ke dalam ICU. Von dan aku hanya bisa diam menunggu dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Takut dan khawatir. Mungkin hanya dua kata itu saja yang bisa kami ucapkan.
“Aoi. Von. Minumlah…” Genichirou memberikan sebuah kaleng minuman kepada kami. “Kalian harus yakin dengan Rie dan semua orang yang menolongnya. Dia akan baik-baik saja…”
“Ya…” aku mengangguk dan membuka minuman darinya.
Beberapa kali aku terus menatap lampu berwarna merah diatas pintu itu, berharap untuk segera berganti warna. Namun warna merah itu terus saja menyala. Sampai akhirnya terdengar sebuah suara dan lampu itupun berubah warna menjadi warna hijau. Tidak lama kemudian suara pintu ruangan itu terbuka dan…
“Otosan!” seru kami dan segera menghampiri Kazuki-tousan.
“Bagaimana, otousan?” tanya Von khawatir.
Rasa gembira terlihat sekali diwajah Kazuki-tousan. “Von! Aoi! Genichirou!” Otousan menepuk pundak kami berdua dan menatap Genichirou. “Adik laki-laki kalian sudah lahir!”
“Benarkah?!” seruku dan Von yang tidak percaya dengan berita kami dengar. Rasa senang yang tidak bisa ditahan lagi membuat Von menintikan air mata.
“Ya… adik kalian sudah lahir!”
Von langsung memeluk sang ayah dengan erat. Aku dan Genichirou yang melihat itu ikut tersenyum bahagia. Atas izini dari dokter Oshitari, Von di izinkan masuk sedangkan aku dan Genichirou menunggu diluar.
Keesokan harinya, akupun kembali datang menjenguk Rie bersama dengan yang lainnya. Suasana bahagiapun terasa diruangan kecil ini. Hangat dan menyenangkan. Suatu perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sebuah nyawa kecil yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang. Walaupun premature, dokter Oshitari mengatakan kalau bayi ini sungguh special. Lahir dengan sempuran dan kondisi yang normal seperti bayi pada umumnya.
“Hua… lucunya” seru Shinya niichan melihat sang bayi yang sedang tertidur di sebuah tempat tidur kecil disisi tempat tidur Rie.
“Tentu saja! Dia kan adikku” tambah Von yang tidak mau kalah.
“Hahaha… ia.” Sambung Saeki. “Lihat. Bentuk mukanya mirip ayahnya dan matanya mirip ibunya. Namun sepertinya lebih banyak mirip denganmu, Kazuki”
“Tentu saja…” kali ini Kentarou yang menimpali. “Kalau sampai tidak mirip dengan dia, bisa jadi pertanyaan besar” jawaban Kentarou mendapat banyak tawa dan sebuah pukulan kecil dari Ren sekaligus.
“Aku kan hanya bercanda, Ren”
“Tapi tidak lucu!”
“Ia. Ia. Maaf…”
Genichirou yang penasaran ikut melihat disebelah Kentarou. “Ngomong-ngomong namanya siapa?”
“Ia. Siapa namanya, ‘kasan?” sambungku.
Kali ini Rie diam berfikir sejenak. “Hmm… Siapa ya…?”
“Kamu belum tentuin namanya?” tanya Saeki.
“Hmmm…sempat aku pikirkan, tapi aku masih bingung”
“Bagaimana kalau kamu, Kazuki?” kali ini Shinya yang bertanya.
“A-aku belum ada…”
“…tidak mungkin di panggil adik kecil kan?” sambung Von yang sedang bermain memegang tangan kecil adik bayinya.
“Ah… bagaimana ya bagusnya…” pikir Rie sambil menatap bayinyanya.
Keheningan sejenak diruangan ini. Tiba-tiba saja terdengar suara tawa Kazuki-tousan yang membuat kami semua kebingungan.
“Ada apa denganmu, Kazuki?” tanya Rie yang bingung dengan kelakuan suaminya itu.
“Kesambet?” sabung Kentarou dan lagi-lagi dipukul oleh Ren.
“Aku ada ide” Kazuki mengambil sebuah kertas dari meja dekat bayinya, menuliskan sesuatu dan menunjukannya kepada kami. “Bagaimana kalau kita beri nama, Ken?
“Ken?” kali ini Von yang angkat bicara.
“Yap. Huruf K dari namaku, E dari Rie dan N dari namamu, Von. Bagaimana?”
“Hmm… Analisa yang bagus” gumam Saeki. Shinya niichan pun ikut setuju.
“Jadi bagaimana? Kamu setuju, Rie?”
Rie ‘kasan tersenyum dan memegang tangan Kazuki ‘tousan yang berdiri disebelahnya. “Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu”
“Hua…” Seruku dan menghampiri adik baru Von. “Selamat datang, Ken”
“Ken... yap” senyum Von. “Von dan Ken! Hahahaha…”
“Benar-benar kakak beradik” timpal Genichirou.
“Ke~n” ucapku dan langsung mendapat sebuah pukulan kecil dari Genichirou.
“Panggil namanya biasa saja! Bisa bahaya kalau dia mengingat sebutan namanya seperti itu”
“Ya ampun! Dia itu baru lahir, Genichirou!” balasku.
Tawa riang memenuhi ruangan kecil ini dan diikuti oleh suara erang tangis Ken yang sepertinya popoknya sudah mulai basah! Hahaha… Mendengar suara tangisnya, aku semakin yakin kalau dia benar-benar sehat dan akan menjadi anak laki=laki yang bisa diandalkan!
Yap!
Selamat datang, Ken.
-end-
No comments:
Post a Comment