Title: Happy b-day Gen-chan
Characters: Sanada Genichirou _ Ryuto Aoi
Rat: M (mau-mau)
Desc: Konomi Takeshi n Aoryuto
Event: Genichirou B-day
---start—
Menyiapkan sebuah kado untuk seorang teman bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Membeli barang yang disuka secara acak ataupun detail adalah hal mudah, terlebih untuk teman perempuan. Namun bagaimana jika orang yang berulang tahun ini adalah laki-laki, dan dia adalah tunanganmu? Jika membeli barang yang dia suka itu sudah menjadi hal biasa, barang seperti apakah yang tepat untuk diberikan kepadanya?
Tidak terasa usia Genichirou sudah memasuki 23 tahun, usia yang sudah cukup bagi seorang laki-laki memikirkan masa depannya. Menikah, itulah yang sering kali dia bahas denganku. Aku memang mencintainya, namun untuk mencapai tahap kesana…
“Duuuh… apa yang sebaiknya aku berikan?” aku frustasi pada diriku sendiri didalam kamarku. Kupeluk boneka anjing darinya dan mengambil handphoneku. “Kenapa ulang tahun Genichirou harus besok sih?!”
Tok.Tok.Tok.
“Aoi, belum tidur?” Okasan memasuki kamarku sambil membawakan beberapa potong kue kepadaku.
Aku menggeleng dan kembali menenggelamkan wajahku. “Kasan, ini kue apa?”
“Kue keju yang kasan dapat dari teman. Lalu, kenapa kamu belum tidur? Sekarang sudah jam 11 malam”
Aku kembali mengangguk. “Ne, Okasan… besok ulang tahun Gen chan, lebih baik apa yang aku berikan padanya?”
“Hmm…” Okasan duduk disebelahku lalu menatapku. “Kalau masak masakan yang dia suka?”
“Sudah biasa…” jawabku cepat.
“…membeli barang kesukaan dia?”
Entah mengapa aku langsung tertawa, “…dia itu terlalu kaku. Untuk barang kesukaan rasanya itu sulit…”
Kali ini Okasan yang tersenyum kepadaku dan terlihat seperti ada hal lain yang dia pikirkan. “…bagaimana kalau ‘itu’,,?”
Okasan membisikan sesuatu dan langsung saja wajahku memerah. “kasaan!!”
“Hahahaha… berbeda bukan? Bagaimana?”
“I-itu…” kurasakan wajahku memanas.
“Rie!” suara otousan dari kamar atas.
“Ah, ayahmu sudah memanggil” okasan bangkit lalu berjalan keluar dari kamarku. “Pikirkanlah. Siapa tahu Genichirou akan menyukai nya”
“Ya… dia akan menyukainya, sedangkan TIDAK padaku…”
Okasan hanya membalas tawa. Aku kembali membaringkan tubuhku, memeluk bonekaku dan berkata dalam hati, “Haruskah aku melakukannya? Aduh, aku benar-benar pusing…”.
“Happy birthday, Gen chan” ucapku melalui telepon genggam. “Masih bertugas?”
“Ah..” jawabnya singkat dan terdengar suara keyboard yang saling beradu dengan kecepatan tangannya. “Oh ya, besok kamu ada acara?”
“Besok? Besok yang kamu maksud itu hari ini atau memang besok?”
“Ah, maaf. Hari ini maksudku. Apa kamu ada acara?”
“Tidak. Kenapa?”
“Nanti aku ketempatmu, bagaimana?”
“Hm… boleh saja. Jam berapa?”
Kali ini Genichirou diam sejenak. “…mungkin sejam lagi…”
Aku melihat jam dan memang hari sudah terlalu malam. Rumah Genichirou masih jauh dari kantor, sedangkan rumahku memang lebih dekat. Sudah biasa Genichirou akan menginap jika dia pulang terlalu larut, terlebih sampai subuh seperti ini.
“Baiklah. Aku akan tung-“
“Tidak usah” potongnya.
“Heh?” kagetku. “Kalau aku tidak menunggu, nanti siapa yang akan membukakan pintu untukmu, Geni?”
“Tidak apa. Kamu tidur duluan saja. Kamu lupa kalau aku punya kunci? Lagipula aku tidak mau kalau penyakitmu akan kambuh karena menungguku yang tidak jelas ini…”
Aku hanya bisa terdiam mendengar segudang permintaannya. Walaupun aku benci mengakuinya, tapi aku tetap mengikuti permintaannya itu.
“Baiklah. Aku akan tidur duluan. Tapi kalau kamu sudah datang, kamu harus membangunkanku, ya…”
Genichirou tertawa dari seberang sana dan membalas, “Baiklah, tuan putri. Aku akan membangunkanmu kalau aku sudah sampai”
Kami berdua tertawa lalu menutup teleponku untuk tidak mengganggunya. DI hari ulangtahunnya pun dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya ini bukan hal baru dalam keseharian kami. Sudah beberapa kali disetiap ulang tahun Genichirou, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan dibandingkan dirinya sendiri. Aku mengerti tanggung jawab yang dia pegang, tetapi aku ingin sekali bisa menghabiskan waktu bersama-sama di hari besarnya itu.
Sebelum aku tidur, aku kembali membuka lemari pakaianku dan memikirkan apa yang dikatakan oleh okasan kepadaku. ‘…Bagaimana kalau kamu memakai baju pelayan ini di hari ulang tahunnya? Dia sudah lama sekali membelikannya, bukan?’
Aku menghela nafas dan meraih baju panjang berwarna putih itu. “…padahal dia tahu kalau aku tidak mungkin memakai baju ini. Tapi…” aku menatap baju itu kembali. “…ba-baiklah… ha-hanya untuk tahun ini saja…”
“…aoi…aoi…”
Suara berat seseorang memanggil namaku. Perlahan aku membuka mataku dan membalikan badanku mengikuti arah suara tersebut. “Gen chan”
Genichirou membalas senyum kepadaku. “Selamat pagi…”
Aku bangun dari tidurku dan mencoba mengingat kejadian tadi malam. “…perasaan aku tidur di sofa. Kenapa sekarang aku di tempat tidurku?”
Tiba-tiba saja Genichirou memukul pelan kepalaku. “Kamu ini! Sudah aku katakan beberapa kali jangan tidur disofa kalau sudah malam”
Aku yang masih setengah sadar hanya bisa diam mengangguk. “…lalu sekarang jam berapa?”
“Jam 7 pagi…” jawabnya singkat.
“Jam 7?”
“Ya…”
“...”
“… ?”
Aku langsung terhentak bangun. “Gen chan! Kamu baru datang sekarang?!”
“Tidak sih. Aku datang jam 3 pagi tadi”
“Lalu, kenapa kamu tidak bangunkan aku!”
Genichirou hanya tersenyum lalu memegang wajahku. “Aku tidak mau mengganggumu yang sedang tidur. Wajahmu ketika tidur terlihat bahagia sekali. Apa yang kamu mimpikan? Aku?”
Mendengar itu aku hanya bisa diam dengan wajah memerah dan memukulnya pelan.
“Maafkan aku ya, Aoi”
“Heh?”
“Maaf tidak membangunkanmu…”
“Ti-tidak apa-apa…”
Genichirou membetulkan posisi duduknya lalu menatapku.
“Kenapa?” tanyaku bingung dan membalas menatapnya. Kuikuti arah pandangannya. “…ehh!” refleks langsung aku menutup tubuhku dengan selimutku.
“Tumben sekali kamu pakai baju itu”
Kupalingkan wajahku dan menutupnya dengan selimut. “…sayang saja kalo sampai tidak di pakai kan? Aneh?”
“Tidak kok” Genichirou kembali tersenyum sambil menunduk cepat yang mengajakku untuk duduk dipangkuannya. Aku langsung bangun dan mengikutinya.
“Kenapa?” tatapku.
“Aku hanya mengantuk…” Genichirou melingkarkan tangannya dipinggangku dan menyandarkan kepalanya di bahu kiriku.
“Tidur saja… Kamu hari ini libur kan?”
“Ya… tapi aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan tidur…”
“Lalu?”
Genichirou menatapku. “Jalan-jalan yuk…”
“Mau kemana?”
“Bagaimana kalau ke kuil?”
“Boleh. Kita ajak Von dan Kenn sekalian. Bagaimana?”
“Baiklah…”
Genichirou masih memelukku dan aku membalas mengusap wajahnya. Dia terlihat lelah sekali hari ini. Untung saja hari ini libur. Dia bisa istirahat sejenak sampai nanti siang.
“Onechan…” suara pintu kamarku terbuka.
“Kenn” panggilku. Dengan langkah kecilnya, Kenn berlari kearahku dan memeluk kakiku. Mengusap rambutnya yang masih halus membuatku senang. “Kenapa?”
Kenn tertawa, naik ke tempat tidurku dan melingkarkan tangannya dileher Genichirou. “Main…”
“Kenn, niichan masih lelah…” ucapku sambil menariknya pelan. “Nanti saja ya…”
“Mau main…”
Kenn yang tidak mau melepaskan tangannya membuat keseimbangan Genichirou melemah dan akhirnya kita bertiga jatuh ditempat tidurku.
“Hayo sini…” goda Genichirou dan mengelitiki Kenn.
“Geli, Gen niichan…” tawa canda memenuhi ruangan ini. Aku ikut tersenyum dam meninggalkan mereka untuk mengganti bajuku.
“Aoi, dimana Genichirou?” tanya Rie ketika aku mengambil minuman dari dapur.
“Ada diruang tamu sama ayah… Kenapa?”
“Apa dia tidak lapar? Dia belum sarapan”
“Eh?”
“Coba sana tanya dia”
Setelah meneguk minumanku, aku segera menuju ruang tamu dan mendapatkan Genichirou yang sedang tertidur dengan Kenn disebelahnya. Sepertinya dia memang kelelahan. Kuambilkan selimut tipis dari kamarku dan menyelimutinya. Kuusap wajahnya dan tersenyum senang.
“Maaf.. aku tidak bisa memberikan apa-apa…” kataku dalam hati lalu meninggalkannya sejenak membantu Rie.
Sesuai dengan yang dijanjikan, Genichirou mengajakku ke kuil dekat rumahnya. Namun Von dan Kenn tidak bisa ikut. Von berjanji akan bertemu dengan Sesshoumaru, dan Kenn akan mengikuti lomba model anak.
“Acara Kenn sampai jam berapa, kasan?” tanyaku sambil memakaikan Kenn baju beruangnya.
“Sekitar jam 6 sore. Kenapa?”
Aku menggeleng. “Mungkin nanti aku langsung pulang ke apartemen Shinya niichan. Tidak apa, kan?”
“Ya. Tadi Shinya juga sudah menghubungi ‘kasan.”
“Kalau begitu, aku berangkat dulu”
“Ya. Selamat bersenang-senang” goda Rie-kasan lalu menatap Genichirou. “Oh ya, selamat ulang tahun ya”
“Terima kasih, kasan. Kami pergi dulu”
Setelah kami berpamitan, kami berjalan menuju tempat parkir apartemen ini dan segera berangkat menuju kuil tersebut.
“Genichirou…” panggilku sesaat. Dia hanya berdeham sebagai ganti jawaban karena masih harus berkonsentrasi dengan mobil yang dia bawa. “Kenapa kita harus pakai kimono ini?”
“Ah, sebenarnya ada temanku yang memintaku menjadi model”
“Heh?”
“Ya. Lalu aku memintanya sekalian untuk memfoto kita berdua. Jarang-jarangkan kita bisa foto bersama” ucapnya sambil mengelus rambutku.
“Ya ampuun…”
Acara pemotretan di kuil tidak berlangsung lama. Setelah 2 jam berlalu, temannya berpamitan dan sempat meminta kami untuk menjadi modelnya dilain tempat. Namun karena hari ini special, Genichirou lagsung menolak.
“Tidak apa kamu menolaknya?” tanyaku khawatir. “Sepertinya dia sedang butuh sekali tuh…”
“Tidak apa. Lagipula kita sudah berjanji akan membantunya. Tapi tidak dengan hari ini…”
Aku mengangguk dan berjalan mengikuti Genichirou dari belakang.
“Kamu mau kemana?”
Genichirou hanya menatapku sesaat lalu kembali melangkahkan kakinya, sampai menuju kesebuah taman kecil dibelakang kuil ini.
“Ini tempatku dulu ketika aku sedang bermain bersama dengan kakakku…” jelasnya singkat lalu kembali berjalan menelusuri kuil.
“Gen chan, sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku mulai ketakutan sambil memegang lengan bajunya. Aku tidak terbiasa dengan suasana belakang kuil yang sedikit menyeramkan ini. Hari memang masih siang, namun Genichirou terus melangkahkan kakinya ke bagian belakang kuil yang lebih gelap.
“Gen chan!”
Tiba-tiba saja Genichirou mengangkatku dan berjalan semakin kedalam kegelapan itu.
“Gen chan! Kita mau kemana sih! Turunin!”
Genichirou menatapku sejenak. “Kalau kamu aku turunini sekarang, kamu bisa saja lari dan nyasar didalam sini. Kalau kamu takut, tutup kedua matamu”
Suara Genichirou yang datar itu membuatku semakin takut. Kututup kedua mataku, melingkarkan tanganku pada bahunya dan memendamkan wajahku pada dadanya. Aku sudah tidak tahu kemana dia akan membawaku. Hanya saja aku mendengar beberapa suara yang tidak aku kenal dan membuatku semakin takut.
“Ge-gen chan…”
“Aoi… tutup matamu saja…”
Aku terus menutup kedua mataku dan pelukanku semakin erat. Hingga akhirnya suara aneh itu menghilang dan terdengar deru air yang saling beradu. Anginpun berhembus dengan kencang. Rasanya nyaman sekali.
“Bukalah matamu, Aoi…”
Perlahan kubuka kedua mataku. Sebuah laut luas terlihat dari tempatku dan Genichirou saat ini. “I-ini dimana?”
“Di belakang kuil. Maaf sudah membuatmu takut”
“Eh?”
Genichirou menurunkanku dan mengajakku berjalan lagi. “Aku tahu kamu mempunyai kemampuan untuk mendengar hal yang tidak bisa ditangkap oleh manusia biasa. Tapi aku harus membawamu kesini…”
“…kemana?”
Genichirou membalikan badannya sejenak, tersenyum dan kembali berjalan. Senyumannya kali ini bukan senyuman bahagia ataupun perasaan senang. Sebuah senyuman yang terlihat sedih. Aku berjalan mendekatinya dan memeluk lengannya. Menyandarkan kepalaku pada bahunya.
Tidak lama kemudian kami sampai pada suatu tebing dan terdapat sebuah batu yang tertanam disana. Bentuk batunya yang sangat tidak asing, sebuah batu nisan yang terukir nama seseorang yang tidak aku kenal.
“ini… siapa?” tanyaku bingung. Genichirou berlutut sejenak, menutup kedua matanya untuk berdoa dan tidak lama kemudian dia bangkit berdiri disebelahku.
“Aoi, dia adalah sahabatku ketika aku masih duduk dibangku sekolah dasar…”
“…”
“…dia meninggal akibat kecelakaan dan tidak tertolong...”
Kurasakan kesedihan Genichirou yang mendalam itu. Kulingkarkan tanganku pada pinggangnya dan memeluknya dengan erat. Diapun membalas dengan menyandarkan kepalanya diatas kepalaku.
“Aoi…”
“Ya…?”
“…sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan kepadamu. Namun ak-“
“Tidak apa. Aku mengerti. Aku tahu kamu sedang sedih” potongku tanpa mendengar perkataannya.
“Bukan begitu!” geramnya. Tubuhku terhentak dan menatapnya. “Haah.. selalu saja kamu berfikir yang aneh-aneh…”
“Maksudmu?”
Genichirou melepaskan pelukannya, memegang kedua bahuku dan menatapku tajam. “Aoi… aku tahu kalau kamu belum siap…” tiba-tiba saja Genichirou memelukku dengan erat membuatku semakin takut dan bingung.
“G-gen chan…!”
“G-gen chan…!”
“Aoi… aku punya satu permintaan padamu…”
a-apa yang Genichirou minta dariku…? A-apa yang mau dia lakukan? Aku takut… takut..
“A-aoi?” wajahku memanas dan kurasakan air mataku mengalir. “A-aoi? Kamu tidak apa-apa?”
“Maaf…” kuhapus air mataku dengan telapak tanganku. Tiba-tiba saja Genichirou menangkap tanganku, menghapus air mataku dengan telapak tangannnya yang hangat lalu mencium pipiku.
“Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku lupa dengan ketakutanmu. Maafkan aku, ya” aku mengangguk pelan sebagai jawaban. “Aoi, ada yang ingin aku katakan…”
“Ya?”
Kali ini Genichirou hanya meraih kedua tanganku dan menatapku. “…didepan makam temanku dan yang kuasa…” Genichirou diam sejenak dan melanjutkan perkataannya. “Aoi… maukah kamu menikah denganku?”
Tubuhku langsung terhentak. “Me-menikah?”
Genichirou mengangguk. “Aku tahu kalau kamu belum siap, walau aku tidak tahu apa alasan pastinya. Namun aku ingin meyakinkan bahwa aku serius dengan hubungan kita ini…”
Kurasakan detak jantungku berdetak cepat, wajahku memanas dan keseimbanganku hampir menghilang.
“A-aoi? Kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa…”
Aku bertahan dengan bertumpu pada bahu Genichirou. “Jadi, bagaimana Aoi? Maukah kamu menikah denganku?”
“Kau tahu, Gen chan. Hari ini adalah hari kebahagianmu, namun… mengapa mejadi hari bahagia bagiku?”
Senyuman di wajah Genichirou semakin menjadi. “…Ja-jadi…jawabanmu…”
Aku hanya tersenyum dan Genichiroupun memelukku dengan erat. Kurasakan tubuhnya gemetar dan detak jantungnya yang bergerak cepat. Genichirou bisa gemetar seperti ini…?
“Genichirou…”
“Ya…?” Genichirou masih memelukku.
“…maaf kalau aku mengecewakanmu disaat kamu bahagia. Namun, maukah kamu menungguku sampai aku yakin pada diriku untuk menikah?”
Genichirou melepas pelukannya dan menyentuh wajahku dengan tangan kirinya. “Aku mengerti, Aoi. Seperti yang aku katakan tadi. Aku ingin menunjukan kepadamu bahwa aku serius dengan hubungan kita ini. Oleh karena itu, kamu tenang saja dan biarkan waktu menghapus masa lalumu yang kelam itu…”
Aku kembali melingkarkan tanganku pada lehernya dan memeluknya dengan erat. Dihari yang seharusnya menjadi hari bahagianya, menjadi hari paling bahagia didalam hidupku. Sungguh tidak ada kata yang dapat aku katakan untuk menjelaskan perasaanku saat ini.
“Hari ini seharusnya menjadi hari bahagiamu, tetapi justru aku yang bahagia”
“Aku bahagia, kok” balas Genichirou. “Aku bahagia bisa mendengar jawabanmu itu…”
“Tapi aku tidak bisa memberikan apa-apa… selain itu, aku sudah banyak merepotkan-“ Genichirou menghentikan perkataanku dengan menempelkan telunjuknya di bibirku.
“Kita sudah yakin untuk menikah dan kamu masih memikirkan ha seperti itu?” aku kembali menunduk. “Aoi, ketika aku memintamu untuk menikah, itu berarti aku sudah yakin dengan keputusanku dan aku siap menerimamu apa adanya. Aku suka kamu apa adanya, Aoi…”
Air mataku kembali mengalir. “Terima kasih Gen chan…”
“Ya…”
Genichirou merangkulku dan kami bersama-sama menatap langit yang mulai memerah. Tiba-tiba saja sebuah ide terpikirkan olehku. “Genichirou…”
“Ya…?”
Kuletakan tangan kananku pada bahu Genichirou, menarik tubuhnya sedikit dan perlahan kuberanikan diriku untuk mendekatkan wajahku. Aku tidak menyangka bahwa ini terasa manis sekali.
“A-aoi…”
“Ge-gen chan…” balasku kaku. “i-ini sebagai hadiah dariku. Aku tidak tahu apa yang bisa aku berikan lagi selain ini… Ma-maaf hanya sesederhana ini…”
“Tidak. Aku tahu kamu harus mengumpulkan keberanian untuk melakukan ini. Terima kasih…” Genichirou mendekatkan wajahnya namun berhenti sejenak. “Bolehkah?”
Aku tersenyum sebagai ganti jawaban. Melihatnya tersenyum bahagia membuat perasaanku menjadi lega. Tangan kirinya kembali menyentuh wajahku dan bibir kami bertemu untuk kedua kalinya.
Malam ini menjadi malam yang indah bagi kami berdua. Untuk merayakannya, kami makan bersama disebuah kedai dekat kuil dan menonton kembang api sebagai acara penutup. Sebelum pulang, Genichirou membelikanku sebuah kalung yang berinisalkan namaku. Dibagian belakangnya terukir nama dan tanggal bahagia ini. Perasaanku yang bercampur aduk membuatku terus menerus tersenyum setiap kali melihat wajahnya.
Setelah selesai, Genichirou mengantarku ke apartemen Shinya niichan. Namun niichan belum pulang dan aku tidak berani tinggal di apartemen sendirian.
“Aku akan menunggumu…”
“Benarkah?” tanyaku meyakinkan. “Tapi kamu sudah terlihat lelah sekali…”
“Tidak apa. Aku akan menemanimu…”
Aku mengajaknya duduk di sofa ruang keluarga dan meninggalkannya untuk mengambil minuman. Ketika aku kembali, aku mendapatkan Genichiro yang sudah tertidur. “Aku sudah katakan kalau kamu pasti lelah…”
Kuambilkan selimut dikamarku dan menyelimutinya. Membiarkan dia istirahat sampai tenaganya terisi kembali. Melihat wajahnya yang seperti anak-anak, membuatku tersenyum bahagia. Aku yang juga sudah merasa lelah, duduk disebelahnya dan bersandar pada bahunya sambil mengkaitkan jariku diatas punggung tangannya yang besar itu.
Selamat ulang tahun , Gen chan… berjanjilah bahwa kamu akan selalu disisiku…
-end--
huaaa... ^^ kacau, tahca~ hehehe... Happy - bday Sanada Genichirou ^^ loph2~ *kickout
maaf buat gambar ilustrasi na... nyuu~ kacau tacha~ honyooo~ yaaaaa~ yaaa~ ya sudahlah~ ^^/ jya~

No comments:
Post a Comment