Monday, December 20, 2010

Missunderstanding

Missunderstanding

Charac:

- Matsumoto Shinya

- Saeki Taisuke

Pov: 3

Rat: M (Mau na... Apa?)

-ooooo-

Pertemuan, pertemanan, persahabatan, dan... Pertengkaran. Walaupun kerja tim sudah berjalan dengan baik dan terlihat baik-baik saja, masih ada pertengkaran ditengah-tengah persahabatan yang terjadi didalam panggung maupun dunia nyata.

Eric Slingby yang diperani oleh Saeki Taisuke, dan Alan Humphries diperani oleh Matsumoto Shinya. Semua teman-temannya tahu kalau hubungan mereka dekat sekali. Selain teman satu theater, peran yang mereka jalani juga memiliki hubungan lebih dari teman.

Sahabat. Kata yang tepat untuk mengatakan hubungan keduanya. Tapi...

"Shinya-senpai! Kita sudah dipanggil latihan" seru Nishi yang siap dengan pakaian panjang yang berwarna pink. Menu latihan kali ini adalah berlatih posisi jalan diatas panggung dengan pakaian lengkap.

Tentu saja ini menjadi menu tambahan bagi pemeran Ciel, Grell, Aberline, Hans dan Alan. Mereka yang tidak terbiasa dengan pakaian desain Inggris ini harus beberapa kali mencoba berjalan seanggun mungkin, layaknya seorang putri raja di pesta dansa.

Shinya yang baru selesai merapikan make-upnya segera bergegas. "Baiklah. Tapi tunggu sebentar" Shinya menatap handphone yang tergeletak diatas meja dan membaca isi sms yang masuk. Pesan dari lawan mainnya, Saeki Taisuke.

'Shinya, tunggu aku. Aku datang telat'

"Bagaimana caranya aku bisa menunggumu, bodoh...!" Gumam Shinya dan tepat saat dia hendak membalas smsnya, Nishi sudah kembali memanggilnya.

"Ayo, senpai... Sudah dipanggil tuh..."

"Ia... Ia..." Akhirnya Shinya menutup dan memasukan handphonenya kedalam tas kecilnya.

"Shinya! Sudah beberapa kali aku katakan. Gerakan kakimu kurang lembut. Coba gerakan kakimu lebih pelan" seru sang produser dari pinggir panggung. Shinya sudah beberapa kali melakukan kesalahan yang membuat sang produser menjadi geram sendiri. "Lebih baik kamu latihan sendiri dulu"

Tubuh dan mental Shinya mulai menurun. Dengan lemas Shinya berjalan menuju pinggir panggung mendekati beberapa teman lainnya.

"Bersemangatlah, senpai" tiba-tiba saja Uehara datang mendekati Shinya yang sedang duduk termenung.

"Tapi dari tadi aku selalu saja salah..."

Uehara tersenyum dan menarik tangan Shinya. "Sudah, senpai... Ayo kita coba akali lagi. Siapa tau setelah ini, tidak ada omelan lagi, ya"

Akhirnya Shinya mengikuti saran yang diberikan adik kelasnya itu dan mulai berlatih. "Seperti ini?" Tanya Shinya pada Uehara sambil mencoba mempraktekan.

"Ya. Sudah lebih baik" jawab Uehara. "Bagaimana kalau gerakan kakimu menyilang?"

"Menyilang?" Tanya Shinya kebingungan.

"Ya, seperti ini..." Uehara mempraktekan beberapa gerakan. Walaupun Uehara lebih muda, namun untuk beberapa gerakan dia memang lebih terbiasa.

"Shinya, bagaimana kalau posisimu seperti ini?" Sambung Ise yang berperan sebagai Abarline, datang mendekati mereka berdua dan mendorong punggung Shinya dengan perlahan.

"Begini?" Shinya menegakan punggungnya lebih tegak lagi. "Sakit"

"Bersabarlah" senyum Ise. "Lalu, aku menemukan trik lain yang bisa membuat tubuh kita bisa lebih terlihat seperti perempuan..."

"Apa?" Seru Shinya dan Uehara bersamaan.

Ise menarik kedua bahu adik kelasnya dan berbisik. "Jadi seperti ini..."

Ketiganya asik bergumul sendiri membahas trik dan gerakan yang harus mereka lakukan agar terlihat sempurna. Namun berbeda dengan apa yang ada didalam pikiran seorang laki-laki berumur 30 tahun ini. Saeki Taisuke.

Ketika Saeki datang meletakan barang-barangnya, Shinya sudah tidak ada ditempat. Kesal, itulah yang pertama ia rasakan. Padahal sudah ada cerita yang ingin Saeki sampaikan, namun harus tertunda saat itu juga.

Saat Saeki hendak keluar, dia mendengar beberapa kebisingan dari arah panggung. "Naoya!" Seru Saeki dari pinggir pintu. "Lihat Shinya?"

"Ada di panggung" jawabnya singkat dan kembali kepada aktivitasnya sendiri.

Saeki berjalan mendekati pinggir panggung dan melihat Shinya sedang asik sendiri bersama dengan Ise, Uehara dan Nishi. Entah apa yang sedang dibahas, tapi melihat itu membuat Saeki merasa kesal.

"Saeki!" Seru Shinya saat melihat Saeki sedang berdiri dipinggir panggung. "Maaf, sebentar lagi selesai" Saeki hanya melambaikan tanyannya, sedikit tersenyum dan berjalan meninggalkannya.

"Ada apa dengannya?" Bisik Uehara pada Shinya.

"Tidak tahu..." Jawab polos Shinya. "Mungkin dia sedang ada urusan"

"Tahu dari mana?"

"Kira-kira"

Uehara yang penasaran, menarik bahu kakak kelasnya itu dan berbisik, "Apa hubungan kalian sedang ada masalah?"

"Apa?"

"Jangan bohong. Buktinya raut Saeki-senpai terlihat marah. Memangnya ada apa sih?"

"Aku benar-benar tidak tahu. Mungkin ada masalah ditempat kerja sebelumnya, kali...!" balasnya sambil memukul pelan kepala Uehara. Akhirnya terjadi sebuah ‘keributan’ kecil dan masalahpun diselesaikan oleh seorang pemeran detektif Abaraline ini. "Sudah. Ayo latihan lagi" ajak Ise kepada semuanya sambil menarik Nishi yang sedang asik bermain dengan Yuya.

---000---

"Saeki!" Panggil Yosuke saat melihat Saeki sedang berjalan menuju ruang make-up. "Kesini degh"

"Ada apa?"

"Nah, semuanya. Perkenalkan. Inilah pemeran Eric Slingby" ternyata sesi backstage. Yosuke dengan semangat berbicara layaknya seorang MC sambil menarik tangan Saeki.

"Ah, perkenalkan. Saeki Taisuke, pemeran Eric Slingby. Mohon dukungannya"

Yosuke penuh semangat mengambil alih kamera dan sekarang menarik tangan salah seorang pemain yang melewati mereka, Fujita Rey. “Hey, Hey, ayo kesini” tarik Yosuke.

“Ah, hai semuanya” sapa Fujita. “Bagaimana? Sudah berkeliling?” Yosuke menggerakan kamera keatas-bawah sebagai gambaran para penontonnya. Lalu Fujita sedikit berbisik, “Semuanya, hati-hati dengan orang ini...” ucapnya sambil sedikit melirik kearah Saeki. “Diam-diam menakutkan!”

“Apa yang barusan kamu katakan, huh?” seru Saeki sambil menarik leher Fujita.

“Ah! Sa-sakit... lepaskan, woi!” seru Fujita dan dibalas tawa oleh semuanya.

“Ayo kalian...” Yosuke mengingatkan topik utama mereka. “Berikan komentar kalian... komentar...”

“Komentar?” ucap Fujita sambil melipat tangan didepan dadanya. “Hmm.... Bagaimana kalau Saeki dulu?”

“Aku?” tanyanya sambil menunjuk diri. “Ya... aku sangat terkesan dengan seluruh pemain yang dari pemeran figuran dan vokalisnya. Kamu ingat-kan adegan di ‘Cristal Palace’?” ucap Saeki antusias. “Padahal kita berdiri dari lantai 3, tetapi suaranya benar-benar membuatku merinding”

“Benarkah?” sambung Fujita. “Ternyata bukan aku saja yang berpendapat seperti itu. Memang suaranya bagus dan tinggi sekali. Aku iri dengan suara bagus seperti itu...”

“Iri?” ledek Saeki. “Kalau begitu, kenapa kamu tidak jadi perempuan saja? Jadinya kan kamu punya suara seperti itu...” Saeki tertawa dan dibalas sebuah pukulan kecil. “Tapi, suaramu bagus kok. Lalu, selain suara, aktingmu benar-benar menjiwai ya”

“Masa?” Saeki mengangguk. “Bohong. Aku sudah berkali-kali menonton animenya, tapi masih saja aku merasa peran yang aku mainkan masih kurang”

Saeki menggeleng dan meletakan lengan tangannya pada bahu Fujita. “Tentu saja berbeda! Dia itu tokoh anime dan kamu manusia. Kamu mau ada background terang benderang seperti itu?” dibalas sebuah pukulan lagi oleh Fujita. “Tidak. Aku merasa akting yang kamu mainkan itu sudah pas. Sudahlah... oh ya, kau tahu. Aku paling suka dibagian itu”

“Kenapa?”

Saeki tertawa kecil lalu melanjutkan perkataannya. “Karena kita tidak butuh banyak pengulangan disaat latihan. Hahahahaha...”

“Dasar!”

“Benar donk! Jadi wajar saja kalau aku menyukai bagian disaat Eric sedang bersama dengan Druitt”

Semua yang mendengar lelucon Saeki dan Fujita langsung tertawa kecil, tetapi tidak dengan seseorang yang baru saja kembali keruang ganti. Matsumoto Shinya.

Shinya merasa kesal karena selama latihan berlangsung, masih saja banyak kesalahan pada dirinya. Sebenarnya untuk beberapa adegan, sang produser sudah cukup memakluminya. Namun Shinya tetaplah Shinya. Sikapnya yang seperti Alan, ingin melakukan hal dengan sempurna, membuatnya merasa kesal pada dirinya sendiri, dan tepat disaat dia ingin berbagi kekesalannya itu, Shinya melihat pasangan mainnya sedang bercanda dengan pemain lain.

“Ah, itu dia Shinya! Ayo ikut bergabung” ajak Saeki saat melihat Shinya berdiri dibelakang Yosuke.

“Tidak. Terimakasih” ucapnya singkat sambil sedikit membungkuk melewati Yosuke.

“Ada apa dengannya?” tanya Fujita bingung.

“Tidak tahu” jawab Saeki sambil mengangkat bahunya sejenak dan menatap Shinya sesaat. ‘Setelah ini aku harus bertanya padanya’

Setelah Yosuke selesai dengan ‘pekerjaan’ barunya, tinggal yang tersisa Saeki dan Shinya diruang ganti. Fujita sudah kembali untuk latihan dan beberapa Shinigami lainnya sedang sibuk mengambil jatah makan siang, kecuali Yosuke yang sibuk dengan ‘pemburuan’-nya.

“Shinya...” panggil Saeki sambil meletakan handphone diatas meja. Shinya hanya bergumam sebagai ganti jawaban. “Ada apa denganmu? Ada masalah?”

“Tidak” jawabnya singkat sambil berkonsentrasi dengan kemeja putih ditangannya.

“Lalu, kenapa kamu dari tadi diam saja?” Shinya hanya menjawab dengan perkataan yang sama. “Baiklah jika tidak ada apa-apa. Apa yang sedang kamu lakukan?”

Shinya hanya diam saja. Saeki yang penasaran akhirnya bangkit berdiri dan berjalan mendekati Shinya. Ternyata kancing kemejanya sedang diperbaiki. “Kenapa bisa rusak?”

“Tadi tersangkut dibesi dekat kamar mandi bawah. Aku tidak sadar kalau kemejaku tertarik dan karena aku sendiri setengah berlari, jadi kancing kemeja ini putus.” Jelasnya singkat tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali.

Saeki mengangguk pelan. “Oh, ya. Bagaimana latihanmu tadi? Sudah beres?” tanpa sengaja, Saeki membahas masalah yang membuat Shinya kesal. “Aku dengar kalau kamu ada masalah tadi?”

“Tidak. Sudah selesai, kok” bantahnya. “Kamu sendiri bagaimana?”

Saeki tertawa kecil sambil bersandar pada bangkunya. “Beres dan mudah” . ‘...mudah?’ pikir Shinya dalam hati. “Tadi hanya diminta hanya bagian ke 12. Viscount Druitt bersama Eric Slingby yang merencanakan sedang merencanakan pesta. Kau tahu, tadi ada kejadian lucu!” seru Saeki antusias.

“Apa?” nada suara Shinya sedikit meninggi.

“Fujita jatuh dari panggung tambahan!” Shinya membalikan badannya dan bertanya mengapa. “Dia itu merasa kalau dirinya kurang mendalami peran menjadi Druitt dan kusarankan dia untuk lebih ‘melebihkan’ sifat dan aktingnya. Tapi karena kurang hati-hati, dia malah terjatuh.”

“Kamu ini!” pukul Shinya pelan. “Orang jatuh kok ditertawai?”

“Habis kocak! Bahkan dia masih bisa melanjutkan dialognya dengan benar. Benar-benar anak yang menarik...” perasaan Shinya tiba-tiba menjadi sakit, namun tidak ada yang dapat dia lakukan selain diam. “Walaupun dia lebih muda dari kita, akting dan penjiwainya benar-benar matang. Aku beruntung bisa bekerja sama dengannya...”

Mendengar penjelasan singkat Saeki membuat Shinya semakin merasa sakit. Saeki memang lawan main Shinya, dan mereka berasal dari teater yang sama. Namun selama latihan berlangsung, sering kali Shinya mendapat teguran dan tidak jarang mereka berdua harus menambah waktu sampai sang produser merasa pas dengan dialognya.

Setelah jam makan siang berakhir, mereka diharuskan untuk berlatih hingga sore hari. Namun karena masih ada kesalahan dibagian pesta, mau tidak mau diadakan latihan tambahan. Kesalahan banyak terjadi dilakukan oleh Shinya, Nishi dan Uehara. Mau tidak mau, sang kru dan produser masih berada diseberang panggung. Hingga akhirnya latihan berlangsung lebih dari 2 jam, gerakan dan lagu sudah mencapai titik puncak, mereka semua dibubarkan dan diingatkan kembali untuk datang latihan besok lusa.

“Aku duluan, ya” ucap Uehara yang sudah selesai terlebih dahulu mengganti pakaiannya. Dia tidak mau tertinggal kereta untuk kesekian kalinya jika tidak ingin berhimpitan dengan para penumpang dikereta terakhir.

Tidak lama kemudian disusul oleh Yuya, Nishi dan beberapa kru lainnya. Tinggal tersisa Shinya yang masih sibuk merapikan barang-barangnya. “Sudah selesai?”

“Saeki?” Shinya terhentak mengetahui bahwa Saeki masih berada digedung pertunjukan. “Belum pulang? Aku kira kamu sudah duluan pu-”

“Bukankah kamu yang pegang kunci?”

Shinya baru menyadari kesalahannya. Mereka memang tinggal sekamar untuk sementara hingga pertunjukan terakhir. Tapi yang selalu memegang kunci kamar adalah Shinya, karena sering kali Saeki teledor dalam menjaga barang-barang penting.

“Kenapa tidak pinjam kunci sama Yosuke?” secara kebetulan, kunci kamar Yosuke dan Fujita mempunyai bentuk yang sama dengan kamar mereka.

“Yosuke akan pulang larut. Jalan-jalan dengan teman lamanya. Sedangkan Fujita...” Saeki diam sejenak, memegang dagunya dengan jari tangannya sambil menatap kelangit. “Hmmm... kenapa tidak kepikiran, ya?”

Tatapan Shinya menjadi sinis dan mempercepat gerakan tangannya. “Ya sudah. Ayo pulang” ajak Shinya lalu menutup pintu ruang ganti para Shinigami.

Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Selain rasa lelah, entah mengapa tidak ada satupun dari mereka yang memulai topik pembicaraan. Saeki sendiri merasa bingung dengan kelakuan Shinya yang sudah aneh sejak pagi latihan. Tentu saja Saeki ingin mengetahuinya, namun tidak ditempat umum seperti ini, karena bisa saja tiba-tiba Shinya marah-marah sehingga mengacaukan semuanya.

Setelah 40 menit lamanya, akhirnya mereka sampai disebuah rumah besar yang merupakan asrama tempat mereka tinggal sekarang. Berjalan menuju lantai 4, letak kamar mereka dan Shinyapun mengambil kunci kamar dari dalam saku celananya.

“Ah... akhirnya” Saeki langsung saja melemparkan tubuhnya keatas tempat tidur. “Rasanya hari ini panjang sekali...” keluhnya lagi sambil memeluk bantal putihnya. Sedangkan Shinya sendiri meletakan tas diatas tempat tidur dan siap untuk membersihkan tubuhnya. “Sudah makan?”

“Menurutmu?”

“Baiklah...” Saeki bangkit dan mengambil handphonenya, “Aku pesan seperti biasa saja, tidak apa-apa-kan?”

“Ya...” jawab singkat Shinya dan bergegas menuju kamar mandi.

Ada apa dengannya? Pasti ada masalah selama latihan...’ gumam Saeki lalu menekan nomor kedai yang sudah biasa dia hubungi.

----oospeczoo---

Setelah selesai membersihkan diri dan makan malam, akhirnya mereka semua siap untuk istirahat. Shinya sudah bersiap untuk tidur, tetapi tidak dengan Saeki. Dia masih penasaran dengan perubahan sikap Shinya selama latihan tadi. Akhirnya saat Shinya sedang merapikan buku-bukunya, Saeki memberanikan diri untuk bertanya. “Shinya, boleh aku bertanya sesuatu?” Shinya bergumam sebagai ganti jawaban. “Sampai kapan kamu akan terus diam seperti ini?”

Shinya membalikan wajahnya, menatap Saeki sesaat. “Apa maksudmu?”

“Shinya, jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu pasti sedang ada masalah. Kenapa kamu tidak cerita denganku?”

Shinya hanya diam, karena tidak mungkin dia menceritakan kepada Saeki kalau dia merasa iri dengan Fujita yang bisa berperan baik dengan Saeki. “Tidak apa-apa” elak Shinya.

Saeki yang mulai sedikit kesal dengan kelakuan Shinya, berjalan mendekatinya, dan menarik bahunya sehingga mereka berdua saling bertatapan. “Ada apa denganmu?! Kenapa seharian ini kamu aneh sekali!”

Shinya menepis tangan Saeki dan kembali berbalik. “Tidak ada. Tidak ada yang aneh denganku. Sudah! Aku mau tidur!

“Shinya!” seru Saeki saat Shinya berjalan melewati Saeki dan membuka selimutnya. Tanda dia siap untuk segera tidur. “Shinya! Jelaskan padaku, ada masalah apa dengan dirimu?”

“Tidak ada apa-apa!” balas Shinya yang juga mulai terbawa emosi. “Aku mengantuk! Puas!”

“Tidak mungkin. Pasti ada masalah.” Bantah Saeki sambil menarik tangan Shinya yang membuatnya kembali berbalik. “Jelaskan padaku, Shinya. Ada masalah apa? Apa soal dialog? Gerakan? Atau nada suaramu?”

Shinya semakin kesal karena semua pertanyaan Saeki merupakan seluruh kelemahan dia selama latihan. “Sudahlah! Bukan urusanmu! Sekarang lepaskan tanganku!”

“Shinya!” Saeki menatap Shinya dengan tajam, dan membuat raut adik kelasnya menjadi sedikit takut. “Jadi benar, kamu ada masalah, bukan?” Shinya hanya diam dan memalingkan wajahnya. “Shinya! Tatap orang yang sedang berbicara padamu!”

“Apa maumu!” geramnya.

“Jelaskan padaku apa masalahmu sekarang? Apakah masalah dialog? Jika masalah dialog, bukankah kamu sudah sering berlatih denganku? Ataukah masalah gerakan? Tapi aku dengar, kamu sudah diajari oleh Uehara tentang gerakan yang benar kepadamu. Ataukah nada suaramu yang suka lari dari tempo? Namun kurasa itu sem-“

Tiba-tiba saja tangan kanan Shinya yang terbebas memukul wajah seorang Saeki Taisuke. “Puas?! Sudah puas-kah kamu bicara! Atau masih ada hal lainnya yang ingin kamu katakan kepadaku!”

“Shinya...” tanpa sadar, Shinya mulai terisak. “Kamu...”

Perlahan nafas dan isak tangis bercampur menjadi satu dan membuat pemeran Alan Humphries ini berbicara terputus-putus. “Masih adakah yang ingin kamu sampaikan kepadaku, Saeki Taisuke?!” Saeki hanya diam menatap adik kelasnya yang berusaha untuk menenangkan dirinya. “Lagipula, apa perdulimu! Aku ini hanya menjadi beban bagimu, bukan?! Seseorang yang hanya bisa menjadi penghalang masa depan sahabatnya sendiri! Padahal dia dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai potensi baik, namun semua itu terhalang oleh seseorang yang tidak berbakat dan juga-“

Saeki langsung memeluk dan memendamkan wajah Shinya kedadanya. Perlahan, tangan besar Saeki mengelus rambut hitam Shinya yang sudah mulai panjang. “Shinya, tenanglah... tenangkan dirimu sekarang...”

Shinya hanya diam terisak sambil membalas pelukan Saeki, seperti seorang anak yang baru saja kehilangan jalan dan akhirnya bisa bertemu dengan sang ayah. “Saeki-senpai...”

“Shinya, dengarkan aku...” Saeki memberikan jarak pada pelukannya sehingga bisa menatap wajah lugu adik kelasnya itu. “Bukankah kamu sudah berjanji kalau kamu sedang ada masalah selama latihan, kamu akan cerita kepadaku?”

Shinya terdiam dan membuang mukanya. Jika sudah melihat seperti ini, Saeki hanya bisa menghela nafas dan tersenyum. “Shinya...” Saeki kembali mengelus lembut rambut Shinya. “Aku ini sudah mengenalmu lebih dari 3 tahun. Seperti apa kamu sedang kesal ataupun mengalami kesulitan, semua itu tergambar dari sikapmu...” Tanpa disadari, wajah Shinya mulai memerah. “Nah, apa kamu mau menjelaskan padaku, ada masalah apa selama latihan tadi?”

Akhirnya Shinya setuju dan mereka duduk dipinggir tempat tidur miliknya. “Aku... iri...”

“Iri? Iri dengan siapa, Shinya?”

Sebelum kembali melanjutkan perkataannya, Shinya kembali tertunduk. Dalam pikirannya penuh dengan berbagai macam pergumulan. Tapi inilah saat yang tepat untuk mengatakannya. “Aku iri... dengan Fujita...”

“Hah? Dengan Fujita?” tanya Saeki tidak percaya. “Ada apa dengannya?”

“Dia itu pintar. Jenius. Entah kata apa yang pantas untuknya. Walaupun dia tidak jarang melakukan kelahan, dia masih bisa memprovikasi dialog ataupun gerakan. Sedangkan aku, tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku benar-benar kalah... bahkan... kamu sendiri juga...” Shinya mulai kembali terisak. “...kamu sendiri juga merasa nyaman dan suka berpasangan dengannya...”

Saeki tersenyum sambil menghapus air mata yang mulai membasahi wajah putih adik kelasnya. “Ya ampun, Shinya. Demi tuhan, jika kamu menangis terus, bisa-bisa aku dibunuh oleh para penggemarmu...” Shinya tertawa miris. “Shinya, dengarkan. Aku memang tidak bisa berbohong, berpasangan dengan Fujita memang menyenangkan. Selain pintar beradaptasi, dia juga bisa membawa suasana menjadi menyenangkan...”

Shinya hanya bisa diam tertunduk. “...tapi ada bagian yang membuatku merasa lebih nyaman dan mudah untuk menjiwainya. Bagian yang tidak perlu aku pelajari ataupun aku cermati...Kau tahu?” Shinya menggeleng pelan. “Setiap bagian Eric Slingby bersama dengan Alan Humphries” Shinya langsung terhentak.

“Tapi...”

“Kamu mau tahu mengapa?” pertanyaannya dibalas sebuah anggukan pelan. “Hubungan antara Eric dengan Alan sudah bukan sekedar hubungan antar teman, tetapi sahabat. Seorang sahabat yang selalu ada disetiap temannya merasa senang ataupun susah. Disaat teman itu membutuhkan, dia akan selalu ada membantunya. Tidak perduli apapun resiko yang harus dia terima nantinya...Kamu mengerti?”

“A-aku bingung...”

Saeki tersenyum sambil mengelus pelan rambut Shinya. “Apa kamu tidak menyadari kalau peran yang kita mainkan itu sama dengan keadaan kita sekarang? Hanya saja, yang aku tahu Alan tidak mudah menangis seperti ini...”

“Saeki!”

“Hahahaha... sudah. Sudah. Jadi kamu mengerti sekarang? Setiap kali bagian kita dilatih, aku selalu membayangkan bahwa diri Alan itu sama dengan dirimu, Shinya. Seseorang yang membutuhkan pertolongan dalam hidupnya, tetapi dia tidak menyadari bahwa sahabatnya rela membantunya walau nyawa taruhannya...”

Shinya terdiam.

“...oleh karena itu, ingat saat aku hampir menangis disaat latihan ‘Eric membunuh Alan’ dengan senjatanya?”

Shinya mengangguk.

“Saat itu, aku membayangkan dirimu yang sudah aku salah bunuh dengan tanganku sendiri. Rasa sakit dan kesal pada diri Eric dapat kurasakan dengan pasti. Rasa sedih dan sakit setiap mendengar dan melihat penderitaan sahabatnya. Itu semua dapat kurasakan setiap berpasangan denganmu, tidak dengan Fujita. Mengertikah, Shinya?”

“Saeki...” Saeki meletakan kepala Shinya didadanya dan kedua tangan Shinya dilingkarkan kepinggang Saeki. “Maafkan aku...”

“Tidak apa-apa. Wajar saja kok, anak sepertimu masih butuh banyak belajar mengenai kehidupan luar...”

“Berarti kamu mengakui kalau kamu memang sudah tua, Saeki-senpai...”

“Kamu ini...!!” akhirnya mereka berdua perang batal sejenak sebelum memutuskan untuk beristirahat. “Sudah. Sudah. Aku sudah lelah...”

“Dasar orang tua” ledek Shinya.

“Tidak sadar, ya? Kamu sendiri juga masih anak-anak, bukan?” Shinya hanya bisa mengeram dan menenggelamkan seluruh tubuhnya dibawah selimut. “Mau dongeng sebelum tidur?”

“Tidak” tolak Shinya mentah-mentah. “Nanti yang ada aku malah mimpi buruk!”

“Hahahaha... Kamu ini?! Ya sudah. Selamat tidur, Shinya...”

“Selamat tidur, Saeki-senpai...”

---end---

please ur comment n review ^^

ps: (----oospeczoo---) batas tambahan ^^v

Sunday, December 5, 2010

eien omake

--ooo---

Title: Eien~

Charac: Alan Humphries _ Eric Slingby

Rat: ???

Desc: Yana Toboso

Story line: Kuroshitsuji Musical 2 (Alan Pov + ide_pengalaman sendiri)

Pov: Eric Slingby

----oooo----omake

“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanyaku saat Alan baru menyelesaikan tugas pertamanya. Sebagai seorang Shinigami pemula, aku merasa kagum padanya. Tidak percuma aku diminta menunggunya ditaman ini.

“Ya. Tidak terlalu memuaskan...” aku sangat mengerti sikap perfectsionistnya. “Rasanya aku masih kurang pandai, sampai merepotkan senpai...”

“Bersemangatlah...” kulihat raut murung diwajahnya.

“Ah, bunga Erica...”

“Erica?”

“Ya... Artinya kesepian...”

“Kesepian?” tanyaku lagi.

Alan mengangguk pelan. “Kesepian... Seseorang yang tidak mempunyai siapapun, itulah aku. Sendirian bertahan hidup di dunia kejam ini tanpa siapapun. Rasa sepi terkadang memenuhi pikiranku, tapi aku harus tetap berjuang seperti bunga Erica ini yang terus tumbuh menghadapi berbagai macam panas dan hujan."

Anak baru yang lucu. “Kalau begitu keluarlah dari pekerjaan ini”

“Apa?”

“Ya. Sepertinya pekerjaan seperti ini tidak cocok denganmu. Bagaimana kalau kamu membuka toko bunga saja?

“Tidak mungkin, Eric-senpai. Pekerjaan ini sudah menjadi pilihanku. Aku sudah menyukainya, seperti aku menyukai bunga Erica ini”.

Aku kembali tersenyum melihatnya. Anak yang benar-benar polos dan menarik. “Dari pada bunga ini, bagaimana kalau kamu mencari arti bunga lainnya?”

“Hah? Apa maksudnya?”

“Lihatlah. Selama kamu bekerja, selalu saja kamu terlihat murung. Dari pada kata kesepian, aku lebih suka dengan kata keabadian”

“Keabadian?”

"Keabadian, suatu titik puncak yang sempurna dan tidak akan pernah hilang. Mencapai suatu keabadian tidak bisa dijalankan oleh diri kita sendiri, tetapi memerlukan seseorang yang membantu kita. Jika arti sendirian itu yang membuatmu sering murung, lebih baik kamu mengganti dalam pikiranmu dengan 'keabadian', carilah dimana ruang ‘keabadian’mu yang penuh warna-warni kehidupan, bersama dengan orang-orang disekitarmu...”

Alan menunduk diam mendengar penjelasanku dan tiba-tiba saja kembang api mewarnai langit malam. “Indahnya...” gumamnya antusias.

Aku tertawa kecil. “Ternyata kamu memang masih anak-anak”

“Senpai sendiri juga kan?” kami berdua tertawa bersama.

Sejak mendengarkan pernyataanmu, aku memutuskan bahwa aku akan selalu berada disisimu hingga kamu menyadari bahwa kamu tidak sendirian.

Berbagaimacam hari kita lewati bersama dalam suka maupun duka. Senang dan susah kita lewati bersama. Hingga pada akhirnya kamu menunjukan kelemahanmu, yaitu karma yang ada didalam dirimu.

Bersusah payah kamu menjalankan tugas berat sebagai seorang Shinigami sampai tidak memperdulikan kesehatan dirimu sendiri. Terkadang kamupun lupa waktu hingga tertidur dimeja kerjamu. Melihat itu semua, aku hanya bisa tersenyum dan meletakan selimut pada tubuhmu, karena aku tahu bahwa kamu akan marah jika aku memindahkanmu.

Membohongi seluruh teman-teman, mungkin bisa kamu lakukan, tapi tidak padaku. Walau kamu tidak menyadarinya, aku tahu kalau sering kali kamu merasa kesakitan tiap merasa kesal, lelah ataupun berbagai macam pikiran yang membebanimu. Tapi kembali kamu akan marah jika aku mengingatkanmu untuk beristirahat.

Jika bisa mengumpulkan 1000 nyawa murni, bisa meminta satu permintaan apapun...

Sebuah legenda yang akhir-akhir ini aku dengar dikalangan para Shinigami. Hasilnya? Belum ada satupun yang tahu karena tidak mungkin kita membunuh seseorang jika belum ditakdirkan untuk meninggal.

Mengingat Alan yang selalu saja kesakitan dan terlihat lelah, sebagai senior aku tidak tega. Tanpa sepengetahuan darinya, ditengah kesibukanku, aku mengambil nyawa ‘murni’ sesuai legenda tersebut.

Hawa pembunuh tidak akan bisa ditutupi karena akan melekat pada pemiliknya

Sudah lebih dari 800 orang, dan pada akhirnya Alanpun mengetahuinya. Marah? Tentu saja dia marah, bahkan sudah beberapa kali dia memohon padaku untuk menghentikan tindakanku ini.

Tidak mungkin kulakukan itu. semua ini demi kebaikanmu... keabadian kita bersama...

Sampai mencapai 993 orang, penyakit Alan semakin memburuk. Tidak hanya sakit yang harus dia rasakan, bahkan untuk bernafaspun dia sudah sulit. Semakin melihatnya seperti itu, tambah membuat hatiku semakin sakit.

Ditengah tindakanku mengambil nyawa 6 orang, tiba-tiba saja Sebastian yang bersama Ciel datang. Rasa kesal semakin menghantuiku. “Eric!!” suara Alan mmemanggilku histeris. Kumohon... jangan tunjukan wajah sedih padaku.

Kuteruskan seranganku pada Sebastian, namun tubuhku yang sudah mulai lelah, seranganku ditepis oleh Sebastian dan tepat saat itu Alan mendorong Sebastian dan diapun jatuh dihadapanku.

"Eric... Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini..." Wajahku mulai basah karena sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini. "Apakah kamu ingat janji kita? Jangan lakukan ini demi kebaikanku..."

Alan... kumohon bertahanlah... "Tinggal satu lagi!" Teriakku. Tubuhku mulai panas dan pandanganku kosong. "Ciel Phanthomhive! Kamulah yang menjadi orang terakhir!!"

"Jangan!!" tiba-tiba saja Alan maju melindungi Sebastian. Aku yang tidak bisa menghentikan gerakan tanganku, dengan senjataku aku membunuh sahabatku sendiri, Alan.

"Alan....?!" kutahan tubuh lemahnya. Disaat terakhir, dia masih tersenyum padaku dan tidak lama tubuh lemasnya terkulai dipelukanku. “Alan!!”

Kupeluk tubuhnya dan air mataku memecah. “Kenapa kamu melakukan ini?! Bukankah kamu berjanji akan selalu hidup untuk mencapai impian kita?! Namun kenapa sekarang kamu pergi meninggalkan aku!!”

Aku menundukan kepalaku ditubuh Alan yang sudah tidak bernyawa. “Selamat. Anda sudah berhasil mencapai tujuan anda. Tidak. Sepertinya hal itu sia-sia, karena tujuan anda sendiri sudah menghilang dari dunia ini”

“Iblis... Sudah puaskah kamu melihat ini?”

“Aku hanya melakukan apa yang sudah dikatakan oleh tuanku” ucap Sebastian sambil merapikan pakaian Ceil. “Tuanku, apakah sudah cukup sampai disini?”

“Apa aku perlu mengulang perintahku? Selesaikan Eric sekarang”

“Baiklah...” Sebastian mengambil senjata milik Alan.

Aku diam sejenak mengatur nafasku, lemas tidak bisa melawan apa-apa. “...dengan senjata milik Alan?”

“Apa ada masalah?”

“Tidak...” aku diam ternduk menunggu saat itu tiba.

Seluruh pikiranku penuh dengan berbagai macam penyesalan. Rasa sedih dan nafsu yang memenuhi pikiranku membuat aku harus kehilangan sahabatku dengan tanganku sendiri. Jika aku harus mendapatkan hukuman atas tindakanku ini, aku rela menerimanya. Namun... Alan... maafkan aku... maafkan aku yang sudah membohongimu, karena aku melakukan ini semua untuk dirimu... aku ingin kamu lepas dari karma itu dan kita capai keabadian kita... bersama...

--end_omake_


first chapter eien_part1

eien part 3

--ooo---

Title: Eien~

Charac: Alan Humphries _ Eric Slingby

Rat: ???

Desc: Yana Toboso

Story line: Kuroshitsuji Musical 2 (Alan Pov + ide_pengalaman sendiri)

Pov: Alan Humphries

----oooo----part 3

Kurang dari 30 menit, aku merapikan seluruh penampilanku. Memakai baju terusan berwarna biru sepanjang kaki dengan sepatu dansa berwarna putih. “Kenapa para perempuan suka memakai pakaian yang super ribet seperti ini ya?” gerutuku saat mencoba mengikat pita dibelakang punggungku.

Setelah selesai, aku lanjutkan dengan memakai pita pada rambutku agar sedikit berbeda. “Aku malu sekali...” kututup kedua wajahku dengan telapak tanganku. “Rasanya aku benar-benar tidak berani keluar!”

Tidak! Aku harus fokus dengan tujuan utamaku! Aku harus bisa bertemu dengan Eric! Kuyakinkan diriku dan segera keluar dari kamar menuju lantai dasar, tempat dimana sudah berkumpul seluruh penghuni kediaman ini.

“Maaf aku terlambat” pintaku saat sampai diruangan utama ini. Seketika mereka semua menatapku, heran. ‘apakah penampilanku seburuk itu?’

“Hee~ Alan, mengapa kamu berpenampilan seperti itu?” protes Grell-senpai.

Kuteguhkan hatiku dan berjalan mendekati mereka. “Aku yakin Eric akan datang dipesta itu. Oleh karena itu, aku harus bisa datang kesana untuk menemuinya”

“Benar sekali” sambung Sebastian. “Dengan begitu, kesempatan kita untuk masuk kesana lebih mudah. Penampilan Alan juga manis, jadi mereka tidak akan sadar dengan penyamarannya

“Apa?!” Protes Grell-senpai. “Kenapa Sebby memujimu?!” Grell-senpai yang tidak setuju, menarik-narik bajuku.

“Le-lepaskan, Grell-senpai” panikku. Tentu saja aku panik, karena aku tidak tahu seberapa tahan tali pengikat pada pakaian ini jika ditarik-tarik oleh Grell-senpai yang sedang marah.

Ciel yang sepertinya juga tidak terima, langsung berkata “Lalu, untuk apa aku berlatih keras menjadi perempuan jika sudah banyak yang –“

“Tentu saja tidak, tuanku” potong Sebastian. “Anda akan berpasangan dengan saya, sedangkan Grell berpasangan dengan Alan. Dengan membagi tugas, maka kita bisa menemukan target dengan mudah" jelas Sebastian, lalu berjalan kearah tiga pelayan lainnya. "Kalian bertiga juga boleh ikut kesana. Segeralah berganti pakaian kalian”

“Benarkah?” mereka bertiga terlihat senang sekali.

“Kalau begitu, cepat. Aku akan tunggu diruanganku. Panggil aku jika sudah selesai” ucapnya sambil berjalan melewati kami semua yang diikuti oleh Sebastian dibelakangnya.

Eric, kuharap kamu akan menjelaskan semuanya ini... aku tidak mau ada kebencian diantara kita... rasanya, menyakitkan sekali.

Perjalanan menuju Cristal Palace memakan waktu 1 jam. Disana sudah banyak tamu yang memenuhi ruangan. Ada yang berbincang-bincang, ada yang bersama dengan pasangan, ataupun sudah ada yang memulai berdansa. Baru aku sadari bahwa pesta dansa ini sedikit berbeda, karena masing-masing dari kami harus menggunakan topeng. Mungkin ada alasan sendiri mengapa Eric melakukan ini semua.

“Ramai sekali...” seru pelayan perempuan yang bernama Meyrin. Aku baru mengenalnya sejak tinggal disana.

“Benar-benar ramai. Banyak sekali perempuan disini. Benar-benar menarik” tambah Sebastian dengan Ciel yang berada disampingnya.

“A~ah! Menyebalkan?!” seru Grell-senpai kesal. “Kenapa banyak sekali perempuan disini?! Sebby bisa berpaling jauh dariku!!”

“Sesuai dengan rencana, kita akan berpisah dari sini. Berhati-hatilah”

“Tenang saja. Tidak akan ada apa-apa” sambung Grell-senpai bersama denganku berjalan meninggalkan Sebastian, Ciel dan ketiga pelayannya. Tidak lama kemudian terdengar suara yang menandakan bahwa pertunjukan akan dimulai.

Kami berdua ditugaskan untuk melihat dari sisi kanan gedung ini. Grell-senpai terlihat menikmati sekali pertunjukan yang diberikan. Disaat ada celah, aku terus berputar mencari sosok yang sudah lama ingin aku temui, Eric. Ditengah-tengah kumpulan tamu, aku melihat sosok pria yang waktu itu bersama dengan Eric. ‘Jika ada dia, Eric pasti akan datang juga’

Kucoba untuk kembali mengelilingi gedung ini, dan tepat disaat aku menaiki tangga lantai dua, aku melihat seorang pria dengan pakaian hitamnya, berambut kecoklatan dengan suatu senjata ditangannya, berjalan ditengah-tengah tamu yang sedang berdansa. “Eric!” kucoba untuk memanggilnya, tapi dia tidak mendengarku, karena suaraku kalah keras dengan suara lagu dari pertunjukan.

“Eric. Eric” kucoba berteriak memanggilnya dan mengejarnya. Dalam sesaat, sosoknya kembali menghilang. Walaupun sulit, kucoba untuk menerobos keramaian pesta hingga tiba-tiba terdengar ledakan dari arah panggung pertunjukan. Dalam waktu singkat, seluruh tamu terdengar histeris dan ada diantara mereka yang segera berlari menjauhi arah panggung.

Tepat disisi pinggir gedung, Eric berjalan sendirian disana. “Eric!” kuhentikan lariku dihadapannya.

“Alan!”

“Eric, kenapa? Kenapa kamu menyusun pesta seperti ini? Untuk apa?” Eric kembali menghindariku, tetapi langkahnya terhenti saat melihat Sebastian dihadapannya.

“Bukankah tamu yang diundang adalah manusia?” seru Eric sambil meletakan senjatanya pada bahunya. “Kenapa iblis seperti kamu bisa datang keacara seperti ini?”

“Maaf. Jika sudah mengganggu. Tapi sepertinya juga tidak hanya aku yang bukan manusia yang datang kepesta ini”

“Kamu! Tidak bisakah kamu berhenti mencampuri urusan orang lain?!”

“Sayang sekali. Aku adalah pelayan dan sudah menjadi tugas melakukan perintah dari tuanku.

Tiba-tiba mereka langsung memulai perkelahian. Kucoba untuk menghentikan Eric dengan memanggilnya, namun percuma saja. Akhirnya kucoba untuk menghalanginya dengan berada didepan Sebastian, dan tetap dia tidak memperdulikan. Dia mendorongku kesamping dan melancarkan serangan pada Sebastian.

“Eric! Ternyata benar kamu-”

“Eric Slingby, seorang buronan yang harus segera diselesaikan sebelum tambah mempersulit keadaan” suara seseorang yang datang menghampiri kami, William dan Ronald.

“Hwa~ ada Will” seru Grell-senpai.

“Eric,kamu sudah melanggar aturan sebagai seorang Shinigami. Oleh karena itu, kamu harus menerima hukuman yang setimpal”

“Tunggu! Jangan tangkap dia!” bantahku mencoba menghentikan William-senpai.

“Tidak bisa!” sambung Sebastian. “Sesuai dengan perintah, akulah yang ditugaskan oleh tuanku untuk segera menyelesaian masalah yang dibuat olehnya”

William yang tidak menerima pernyataan tersebut, mulai menyerang Sebastian. Keadaan pesta yang menjadi kacau. Aku sendiri sudah tidak tahu yang manakah lawan dan kawan. Pandanganku kembali mencari Eric, dan sesaat Eric sudah menangkap Ciel dan membawanya pergi. Akupun segera mengikutinya keluar dari 'Cristal Palace'.

Kukejar Eric dengan kereta yang tadi membawaku ke pesta ini. Dengan cepat aku melepaskan pakaian ini dan mengganti pakaianku yang biasa. Ditengah jalan, kulihat Eric turun dari kereta dan berlari menuju pinggir kota yang merupakan taman kantor kami.

“Eric! Berhenti!” teriakku. “Benarkah ini atas kemauanmu?!” Eric hanya diam membelakangiku. “Jika memang benar, kenapa kamu selalu menghindar dariku!" Eric hanya menghela nafas. “Apakah ini memang keinginanmu, ataukah... untuk kepentinganku?!” pertanyaanku membuatnya berbalik menatapku.

Sudah lama aku mengenalmu, dan aku tahu bahwa kamu sudah berbohong padaku. Jika ini benar untuk kebaikanku, lebih baik aku tidak membebanimu lebih dari ini. Kukeluarkan senjataku dan mengarahkannya kedadaku. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita...

“Alan...? apa yang mau kamu lakukan, Alan?! Jangan bertindak bodoh!” serunya sambil berlari mendekatiku dan menarik senjataku.

“Lepaskan! Untuk apa aku hidup jika hanya bisa membebani orang lain!”

“Hentikan! Jika kamu mati, untuk apa aku melakukan ini semua! Aku tidak ingin kamu mati karena kamu adalah hal yang terpenting bagiku!”

Aku tercenga mendengar pernyataannya. “Eric..." Eric diam sesaat dan melepaskan pegangannya. Tubuhku melemah dan diam tertunduk."...jadi selama ini, yang kamu lakukan... mengumpulkan 1000 nyawa untuk... menghancurkan karma itu? mungkin dengan cara itu, karma ini bisa terlepas dariku. Tapi jika ini dilanjutkan, itu sama saja dengan melanggar aturan yang ada”

“Sudahlah! Tidak usah perdulikan aturan-aturan itu!” serunya sambil kembali menahan kedua tanganku.

“Tapi,jika melanggar aturan, bisa saja kamu dikeluarkan dari-“

Dikeluarkan atau hukuman apapun aku sudah tidak perduli! Yang terpenting bagiku bisa menyelamatkanmu, tidak perduli apapun caranya!”

Aku kembali tercenga, ‘Eric, kamu melakukan ini... untuk diriku?

“Aku tahu kalau aku sudah melanggar janji kita. Sudah aku coba mencari berbagai macam cara, namun tidak ada satupun yang berhasil. Hingga akhirnya aku mendapatkan cara seperti ini”

“Eric...”

“Keabadian... keabadian kita berdua... apakah hanya mimpi?” Eric diam sesaat. “Mungkin memang benar, keabadian itu tidak ada...”

“Ternyata... kamu sendiripun berkata demikian” ucapku sambil menundukan kepalaku. “Pikiranku terbuka sejak mendengarmu. Warna warni kehidupan yang selama ini kita jalani, semuanya tertutup karena..."

“Alan...?” Kubuka kacamata yang menjadi aturan sebagai seorang Shinigami. “Alan, apa yang kamu lakukan?”

Aku tersenyum menatapnya. “...harusnya aku menyadari bahwa tanpa melakukan ini, kita bisa bahagia dan menemukan keabadian kita sendiri...” tanpa aku sadari bahwa mataku mulai basah. “Ah, aku benar-benar memalukan...”

“Alan... Kamu yakin dengan pilihanmu?” Tanyanya yang masih tercenga dengan pilihanku

Aku mengangguk pasti. “Aku merasa inilah jalan terbaik. Eric, bagaimana dengan dirimu?”

Eric diam sesaat dan tiba-tiba dia ikut melepas kacamatanya. “Rasanya aku sendiri juga sudah buta oleh pekerjaan ini. Sebagai partnermu, aku akan selalu berada disampingmu”

Aku tersenyum dan meletakan kacamataku dipinggir jalan taman ini. Ericpun mengikuti meletakan kacamatanya. “Ayo kita pergi” ajakku yang diikuti olehnya.

---oo

Hari-hari kami berikutnya berjalan dengan baik. Sejak memutuskan untuk menghentikan pekerjaan ini, kami berdua memutuskan untuk tinnggal disuatu sudut kota, tempat tinggal Eric sebelumnya. Hari-hari yang bahagia.

Untuk sementara...

Karma yang ada didalam diriku terus saja menyerangku, bahkan walaupun aku tidak sedang lelah ataupun marah.

Setelah merapikan beberapa barang di kamar Eric, tiba-tiba saja dadaku kembali sakit, namun sakit kali ini berbeda sama sekali. Rasa sakit yang lebih parah hingga membuatku harus mengambil oksigen dari mulutku. Kucoba untuk bangun, namun tidak ada tenaga sama sekali. "Akh!" Kueratkan tanganku pada dadaku.

Kumohon, cepatlah menghilang... Aku tidak ingin selalu membuat Eric khawatir jika melihatku seperti ini...

"Alan!" Suara Eric yang datang menghampiriku. "Kamu tidak apa-apa?" Eric membantuku duduk dipinggir ranjangnya.

Aku mengangguk pelan. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah..." Sangkalku. "Eric, kenapa kamu..." Kulihat perbedaan pada dirinya dan aku kenal sekali hawa yang ada pada tubuhnya. "Jangan-jangan kamu..."

"Alan, kumohon. Jangan menghentikanku..." Ucapnya sambil memegang bahuku. "Ini semua untuk kebaikanmu..."

"Kebaikanku dengan mengorbankan dirimu?!" Emosiku kembali lagi dan kulihat Eric diam tertunduk. Aku menyadari bukan saatnya aku marah seperti ini.

"Eric..." Kusandarkan kepalaku didepan dadanya. "Terima kasih untuk usahamu... Aku menghargai itu. Namun bisakah kamu berhenti melakukan ini?"

"Ta-tapi..."

Aku menggeleng. "Tidak apa. Aku akan baik-baik saja walaupun harus merasakan sakit ini..." Kuhentikan perkataanku seiring kututupi rasa sakit didadaku. "Eric, maukah kamu berjanji satu hal padaku?"

Kutatap wajah Eric yang bingung sambil memegang kedua lengannya.

"Eric?"

Eric terlihat sedikit ragu. "Baiklah. Kamu ingin aku berjanji apa?"

"Aku ingin kamu berjanji untuk menghentikan tindakanmu ini..."

"Ap-"

"Kumohon, Eric" potongku. "Jangan kamu terus membunuh orang-orang yang tidak bersalah untuk kesembuhanku ini. Bisakah?"

Eric kembali merasa ragu. "Tapi jika aku tidak mencobanya, kita tidak akan pernah tahu, Alan"

Aku menggeleng. "Aku yakin akan ada cara lain untuk menghentikan karmaku... Aku yakin itu. Apa... Kamu tidak percaya padaku?"

"Aku percaya"

"Kalau begitu, berjanjilah..."

"Aku akan berjanji, tapi aku juga ingin kamu berjanji satuhal padaku..."

Kali ini aku yang terkejut. "Apa?"

"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan menyembunyikan rasa sakitmu dan panggil aku jika kamu membutuhkanku..."

Aku tertawa kecil. "Itu lebih dari satu, Eric..." Ledekku.

"Biarin!" Ngambeknya. Aku menyandarkan kepalaku pada bahu besarnya. "Alan..." Aku bergumam sebagai ganti jawaban. "Tetaplah hidup..."

"Tentu saja. Aku akan tetap hidup untukmu..." Lalu Eric membantuku kembali ketempat tidur karena kepalaku mulai pening akibat rasa sakit yang kutahan.

Malamnya, aku berencana untuk menghirup udara segar ditaman kantor, tempat kami bekerja dulu. Jika aku jalan sendiri, Eric pasti akan memarahiku. "Bunga Erica... Sudah lama sekali aku tidak melihatnya..." Ucapku sambil merapikan pakaianku.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita kesana?"

"Benarkah?"

"Ya... Sudah lama juga kita tidak kesana. Kalau begitu, aku akan mandi sebentar dan kamu bersiap-siaplah..."

Tidak lama kemudian, kamipun siap untuk keluar rumah. Disepanjang jalan, kami bercanda tawa dan membahas beberapa lelucon masa lalu dan tempat Eric bekerja sekarang.

Deg.

Rasa sakit tiba-tiba saja datang kembali. "Alan? Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya membuyarkan lamunanku.

"Tidak apa-apa" ucapku sambil tersenyum padanya.

"Lihat! Bunganya sedang bermekaran disana!" Seru Eric sambil berlari kecil.

Akh! Kenapa rasa sakit ini harus datang disaat seperti ini?

"Alan!" Eric berlari menghampiriku. "Kamu tidak apa-apa?"

Aku mengangguk pelan. "Tidak apa...apa..." Aku mencoba mengambil oksigen dari mulutku sambil mengeratkan kepalan tanganku.

"Sebaiknya kamu istirahat sebentar..." Aku mengangguk dan Eric membantuku duduk dibangku yang tidak jauh dari taman. "Alan, tunggulah disini sebentar. Aku akan segera kembali..."

Kemanakah kamu akan pergi? Kupejamkan mataku sejenak. Tidak lama kemudian terdengar suara teriakan perempuan entah dari mana. "Eric..." Perlahan aku mencoba berjalan dengan menggunakan senjataku sebagai pengganti tongkat, mencari asal teriakan tersebut.

Eric... Hentikan... Kumohon berhentilah...

Tepat dipinggir danau, sudah ada 5 perempuan tergeletak didepan Eric dan... Sebastian? Kenapa suasana menegang disana?

"...maukah aku beritahu sesuatu padamu?" Seru Eric sambil menghadapkan senjatanya didepan Sebastian. "Untuk mencapai tujuanku, tinggal 1 nyawa lagi dan itulah nyawamu!"

Apa?! Berarti selama ini Eric sudah berbohong padaku...?

'Akh! Kenapa...kenapa... Kenapa ini semua harus terjadi padamu...' Aku jatuh tertunduk dan mencoba untuk mendekati mereka. "Eric..."

"Baguslah kalau demikian" balas Sebastian. "Tapi itu hal yang mustahil!"

Sebastian mulai membalas serangan dari Eric. Kurasakan hawa pembunuhnya yang semakin besar, dan pastinya dia bisa membunuh Sebastian. "Eric!"

Eric yang mendengar panggilanku, tiba-tiba saja pertahanannya melemah dan terkena serangan Sebastian.

"Eric, kumohon hentikan... Jangan membunuh lagi..." Teriakku ditengah isakanku yang sudah tidak bisa ditahan.

"Tinggal satu lagi!" Teriak histeris Eric.

Tepat saat Sebastian kembali menyerang Eric, dengan tenaga yang tersisa aku mendorong tubuh Sebastian dan akupun terjatuh didepan Eric.

"Eric... Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini..." Wajahku mulai basah karena sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini. "Apakah kamu ingat janji kita? Jangan lakukan ini demi kebaikanku..."

"Tinggal satu lagi..." Pandangan Eric kosong.

"Eric..." Panggilanku sudah tidak dia dengar lagi.

"Ciel Phanthomhive! Kamulah yang menjadi orang terakhir!!"

"Jangan!!" Tanpa membuang waktu, kukumpulkan seluruh tenagaku untuk bangkit, berdiri dibelakang Sebastian yang melindungi Ciel, dan... Kurasakan bahwa tubuhku melemas dan jatuh tertahan oleh seseorang dibelakangku.

"Alan....?!" Eric menahan tubuhku yang sudah bersimbah darah. Kuberikan senyum terakhirku dan seketika pandanganku berubah menjadi putih seiring terdengar suaranya yang berat menyebut namaku untuk terakhir kalinya.

---end part 3_alan Pov_


next chapter eien_omake