Missunderstanding
Charac:
- Matsumoto Shinya
- Saeki Taisuke
Pov: 3
Rat: M (Mau na... Apa?)
-ooooo-
Pertemuan, pertemanan, persahabatan, dan... Pertengkaran. Walaupun kerja tim sudah berjalan dengan baik dan terlihat baik-baik saja, masih ada pertengkaran ditengah-tengah persahabatan yang terjadi didalam panggung maupun dunia nyata.
Eric Slingby yang diperani oleh Saeki Taisuke, dan Alan Humphries diperani oleh Matsumoto Shinya. Semua teman-temannya tahu kalau hubungan mereka dekat sekali. Selain teman satu theater, peran yang mereka jalani juga memiliki hubungan lebih dari teman.
Sahabat. Kata yang tepat untuk mengatakan hubungan keduanya. Tapi...
"Shinya-senpai! Kita sudah dipanggil latihan" seru Nishi yang siap dengan pakaian panjang yang berwarna pink. Menu latihan kali ini adalah berlatih posisi jalan diatas panggung dengan pakaian lengkap.
Tentu saja ini menjadi menu tambahan bagi pemeran Ciel, Grell, Aberline, Hans dan Alan. Mereka yang tidak terbiasa dengan pakaian desain Inggris ini harus beberapa kali mencoba berjalan seanggun mungkin, layaknya seorang putri raja di pesta dansa.
Shinya yang baru selesai merapikan make-upnya segera bergegas. "Baiklah. Tapi tunggu sebentar" Shinya menatap handphone yang tergeletak diatas meja dan membaca isi sms yang masuk. Pesan dari lawan mainnya, Saeki Taisuke.
'Shinya, tunggu aku. Aku datang telat'
"Bagaimana caranya aku bisa menunggumu, bodoh...!" Gumam Shinya dan tepat saat dia hendak membalas smsnya, Nishi sudah kembali memanggilnya.
"Ayo, senpai... Sudah dipanggil tuh..."
"Ia... Ia..." Akhirnya Shinya menutup dan memasukan handphonenya kedalam tas kecilnya.
"Shinya! Sudah beberapa kali aku katakan. Gerakan kakimu kurang lembut. Coba gerakan kakimu lebih pelan" seru sang produser dari pinggir panggung. Shinya sudah beberapa kali melakukan kesalahan yang membuat sang produser menjadi geram sendiri. "Lebih baik kamu latihan sendiri dulu"
Tubuh dan mental Shinya mulai menurun. Dengan lemas Shinya berjalan menuju pinggir panggung mendekati beberapa teman lainnya.
"Bersemangatlah, senpai" tiba-tiba saja Uehara datang mendekati Shinya yang sedang duduk termenung.
"Tapi dari tadi aku selalu saja salah..."
Uehara tersenyum dan menarik tangan Shinya. "Sudah, senpai... Ayo kita coba akali lagi. Siapa tau setelah ini, tidak ada omelan lagi, ya"
Akhirnya Shinya mengikuti saran yang diberikan adik kelasnya itu dan mulai berlatih. "Seperti ini?" Tanya Shinya pada Uehara sambil mencoba mempraktekan.
"Ya. Sudah lebih baik" jawab Uehara. "Bagaimana kalau gerakan kakimu menyilang?"
"Menyilang?" Tanya Shinya kebingungan.
"Ya, seperti ini..." Uehara mempraktekan beberapa gerakan. Walaupun Uehara lebih muda, namun untuk beberapa gerakan dia memang lebih terbiasa.
"Shinya, bagaimana kalau posisimu seperti ini?" Sambung Ise yang berperan sebagai Abarline, datang mendekati mereka berdua dan mendorong punggung Shinya dengan perlahan.
"Begini?" Shinya menegakan punggungnya lebih tegak lagi. "Sakit"
"Bersabarlah" senyum Ise. "Lalu, aku menemukan trik lain yang bisa membuat tubuh kita bisa lebih terlihat seperti perempuan..."
"Apa?" Seru Shinya dan Uehara bersamaan.
Ise menarik kedua bahu adik kelasnya dan berbisik. "Jadi seperti ini..."
Ketiganya asik bergumul sendiri membahas trik dan gerakan yang harus mereka lakukan agar terlihat sempurna. Namun berbeda dengan apa yang ada didalam pikiran seorang laki-laki berumur 30 tahun ini. Saeki Taisuke.
Ketika Saeki datang meletakan barang-barangnya, Shinya sudah tidak ada ditempat. Kesal, itulah yang pertama ia rasakan. Padahal sudah ada cerita yang ingin Saeki sampaikan, namun harus tertunda saat itu juga.
Saat Saeki hendak keluar, dia mendengar beberapa kebisingan dari arah panggung. "Naoya!" Seru Saeki dari pinggir pintu. "Lihat Shinya?"
"Ada di panggung" jawabnya singkat dan kembali kepada aktivitasnya sendiri.
Saeki berjalan mendekati pinggir panggung dan melihat Shinya sedang asik sendiri bersama dengan Ise, Uehara dan Nishi. Entah apa yang sedang dibahas, tapi melihat itu membuat Saeki merasa kesal.
"Saeki!" Seru Shinya saat melihat Saeki sedang berdiri dipinggir panggung. "Maaf, sebentar lagi selesai" Saeki hanya melambaikan tanyannya, sedikit tersenyum dan berjalan meninggalkannya.
"Ada apa dengannya?" Bisik Uehara pada Shinya.
"Tidak tahu..." Jawab polos Shinya. "Mungkin dia sedang ada urusan"
"Tahu dari mana?"
"Kira-kira"
Uehara yang penasaran, menarik bahu kakak kelasnya itu dan berbisik, "Apa hubungan kalian sedang ada masalah?"
"Apa?"
"Jangan bohong. Buktinya raut Saeki-senpai terlihat marah. Memangnya ada apa sih?"
"Aku benar-benar tidak tahu. Mungkin ada masalah ditempat kerja sebelumnya, kali...!" balasnya sambil memukul pelan kepala Uehara. Akhirnya terjadi sebuah ‘keributan’ kecil dan masalahpun diselesaikan oleh seorang pemeran detektif Abaraline ini. "Sudah. Ayo latihan lagi" ajak Ise kepada semuanya sambil menarik Nishi yang sedang asik bermain dengan Yuya.
---000---
"Saeki!" Panggil Yosuke saat melihat Saeki sedang berjalan menuju ruang make-up. "Kesini degh"
"Ada apa?"
"Nah, semuanya. Perkenalkan. Inilah pemeran Eric Slingby" ternyata sesi backstage. Yosuke dengan semangat berbicara layaknya seorang MC sambil menarik tangan Saeki.
"Ah, perkenalkan. Saeki Taisuke, pemeran Eric Slingby. Mohon dukungannya"
Yosuke penuh semangat mengambil alih kamera dan sekarang menarik tangan salah seorang pemain yang melewati mereka, Fujita Rey. “Hey, Hey, ayo kesini” tarik Yosuke.
“Ah, hai semuanya” sapa Fujita. “Bagaimana? Sudah berkeliling?” Yosuke menggerakan kamera keatas-bawah sebagai gambaran para penontonnya. Lalu Fujita sedikit berbisik, “Semuanya, hati-hati dengan orang ini...” ucapnya sambil sedikit melirik kearah Saeki. “Diam-diam menakutkan!”
“Apa yang barusan kamu katakan, huh?” seru Saeki sambil menarik leher Fujita.
“Ah! Sa-sakit... lepaskan, woi!” seru Fujita dan dibalas tawa oleh semuanya.
“Ayo kalian...” Yosuke mengingatkan topik utama mereka. “Berikan komentar kalian... komentar...”
“Komentar?” ucap Fujita sambil melipat tangan didepan dadanya. “Hmm.... Bagaimana kalau Saeki dulu?”
“Aku?” tanyanya sambil menunjuk diri. “Ya... aku sangat terkesan dengan seluruh pemain yang dari pemeran figuran dan vokalisnya. Kamu ingat-kan adegan di ‘Cristal Palace’?” ucap Saeki antusias. “Padahal kita berdiri dari lantai 3, tetapi suaranya benar-benar membuatku merinding”
“Benarkah?” sambung Fujita. “Ternyata bukan aku saja yang berpendapat seperti itu. Memang suaranya bagus dan tinggi sekali. Aku iri dengan suara bagus seperti itu...”
“Iri?” ledek Saeki. “Kalau begitu, kenapa kamu tidak jadi perempuan saja? Jadinya kan kamu punya suara seperti itu...” Saeki tertawa dan dibalas sebuah pukulan kecil. “Tapi, suaramu bagus kok. Lalu, selain suara, aktingmu benar-benar menjiwai ya”
“Masa?” Saeki mengangguk. “Bohong. Aku sudah berkali-kali menonton animenya, tapi masih saja aku merasa peran yang aku mainkan masih kurang”
Saeki menggeleng dan meletakan lengan tangannya pada bahu Fujita. “Tentu saja berbeda! Dia itu tokoh anime dan kamu manusia. Kamu mau ada background terang benderang seperti itu?” dibalas sebuah pukulan lagi oleh Fujita. “Tidak. Aku merasa akting yang kamu mainkan itu sudah pas. Sudahlah... oh ya, kau tahu. Aku paling suka dibagian itu”
“Kenapa?”
Saeki tertawa kecil lalu melanjutkan perkataannya. “Karena kita tidak butuh banyak pengulangan disaat latihan. Hahahahaha...”
“Dasar!”
“Benar donk! Jadi wajar saja kalau aku menyukai bagian disaat Eric sedang bersama dengan Druitt”
Semua yang mendengar lelucon Saeki dan Fujita langsung tertawa kecil, tetapi tidak dengan seseorang yang baru saja kembali keruang ganti. Matsumoto Shinya.
Shinya merasa kesal karena selama latihan berlangsung, masih saja banyak kesalahan pada dirinya. Sebenarnya untuk beberapa adegan, sang produser sudah cukup memakluminya. Namun Shinya tetaplah Shinya. Sikapnya yang seperti Alan, ingin melakukan hal dengan sempurna, membuatnya merasa kesal pada dirinya sendiri, dan tepat disaat dia ingin berbagi kekesalannya itu, Shinya melihat pasangan mainnya sedang bercanda dengan pemain lain.
“Ah, itu dia Shinya! Ayo ikut bergabung” ajak Saeki saat melihat Shinya berdiri dibelakang Yosuke.
“Tidak. Terimakasih” ucapnya singkat sambil sedikit membungkuk melewati Yosuke.
“Ada apa dengannya?” tanya Fujita bingung.
“Tidak tahu” jawab Saeki sambil mengangkat bahunya sejenak dan menatap Shinya sesaat. ‘Setelah ini aku harus bertanya padanya’
Setelah Yosuke selesai dengan ‘pekerjaan’ barunya, tinggal yang tersisa Saeki dan Shinya diruang ganti. Fujita sudah kembali untuk latihan dan beberapa Shinigami lainnya sedang sibuk mengambil jatah makan siang, kecuali Yosuke yang sibuk dengan ‘pemburuan’-nya.
“Shinya...” panggil Saeki sambil meletakan handphone diatas meja. Shinya hanya bergumam sebagai ganti jawaban. “Ada apa denganmu? Ada masalah?”
“Tidak” jawabnya singkat sambil berkonsentrasi dengan kemeja putih ditangannya.
“Lalu, kenapa kamu dari tadi diam saja?” Shinya hanya menjawab dengan perkataan yang sama. “Baiklah jika tidak ada apa-apa. Apa yang sedang kamu lakukan?”
Shinya hanya diam saja. Saeki yang penasaran akhirnya bangkit berdiri dan berjalan mendekati Shinya. Ternyata kancing kemejanya sedang diperbaiki. “Kenapa bisa rusak?”
“Tadi tersangkut dibesi dekat kamar mandi bawah. Aku tidak sadar kalau kemejaku tertarik dan karena aku sendiri setengah berlari, jadi kancing kemeja ini putus.” Jelasnya singkat tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali.
Saeki mengangguk pelan. “Oh, ya. Bagaimana latihanmu tadi? Sudah beres?” tanpa sengaja, Saeki membahas masalah yang membuat Shinya kesal. “Aku dengar kalau kamu ada masalah tadi?”
“Tidak. Sudah selesai, kok” bantahnya. “Kamu sendiri bagaimana?”
Saeki tertawa kecil sambil bersandar pada bangkunya. “Beres dan mudah” . ‘...mudah?’ pikir Shinya dalam hati. “Tadi hanya diminta hanya bagian ke 12. Viscount Druitt bersama Eric Slingby yang merencanakan sedang merencanakan pesta. Kau tahu, tadi ada kejadian lucu!” seru Saeki antusias.
“Apa?” nada suara Shinya sedikit meninggi.
“Fujita jatuh dari panggung tambahan!” Shinya membalikan badannya dan bertanya mengapa. “Dia itu merasa kalau dirinya kurang mendalami peran menjadi Druitt dan kusarankan dia untuk lebih ‘melebihkan’ sifat dan aktingnya. Tapi karena kurang hati-hati, dia malah terjatuh.”
“Kamu ini!” pukul Shinya pelan. “Orang jatuh kok ditertawai?”
“Habis kocak! Bahkan dia masih bisa melanjutkan dialognya dengan benar. Benar-benar anak yang menarik...” perasaan Shinya tiba-tiba menjadi sakit, namun tidak ada yang dapat dia lakukan selain diam. “Walaupun dia lebih muda dari kita, akting dan penjiwainya benar-benar matang. Aku beruntung bisa bekerja sama dengannya...”
Mendengar penjelasan singkat Saeki membuat Shinya semakin merasa sakit. Saeki memang lawan main Shinya, dan mereka berasal dari teater yang sama. Namun selama latihan berlangsung, sering kali Shinya mendapat teguran dan tidak jarang mereka berdua harus menambah waktu sampai sang produser merasa pas dengan dialognya.
Setelah jam makan siang berakhir, mereka diharuskan untuk berlatih hingga sore hari. Namun karena masih ada kesalahan dibagian pesta, mau tidak mau diadakan latihan tambahan. Kesalahan banyak terjadi dilakukan oleh Shinya, Nishi dan Uehara. Mau tidak mau, sang kru dan produser masih berada diseberang panggung. Hingga akhirnya latihan berlangsung lebih dari 2 jam, gerakan dan lagu sudah mencapai titik puncak, mereka semua dibubarkan dan diingatkan kembali untuk datang latihan besok lusa.
“Aku duluan, ya” ucap Uehara yang sudah selesai terlebih dahulu mengganti pakaiannya. Dia tidak mau tertinggal kereta untuk kesekian kalinya jika tidak ingin berhimpitan dengan para penumpang dikereta terakhir.
Tidak lama kemudian disusul oleh Yuya, Nishi dan beberapa kru lainnya. Tinggal tersisa Shinya yang masih sibuk merapikan barang-barangnya. “Sudah selesai?”
“Saeki?” Shinya terhentak mengetahui bahwa Saeki masih berada digedung pertunjukan. “Belum pulang? Aku kira kamu sudah duluan pu-”
“Bukankah kamu yang pegang kunci?”
Shinya baru menyadari kesalahannya. Mereka memang tinggal sekamar untuk sementara hingga pertunjukan terakhir. Tapi yang selalu memegang kunci kamar adalah Shinya, karena sering kali Saeki teledor dalam menjaga barang-barang penting.
“Kenapa tidak pinjam kunci sama Yosuke?” secara kebetulan, kunci kamar Yosuke dan Fujita mempunyai bentuk yang sama dengan kamar mereka.
“Yosuke akan pulang larut. Jalan-jalan dengan teman lamanya. Sedangkan Fujita...” Saeki diam sejenak, memegang dagunya dengan jari tangannya sambil menatap kelangit. “Hmmm... kenapa tidak kepikiran, ya?”
Tatapan Shinya menjadi sinis dan mempercepat gerakan tangannya. “Ya sudah. Ayo pulang” ajak Shinya lalu menutup pintu ruang ganti para Shinigami.
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam. Selain rasa lelah, entah mengapa tidak ada satupun dari mereka yang memulai topik pembicaraan. Saeki sendiri merasa bingung dengan kelakuan Shinya yang sudah aneh sejak pagi latihan. Tentu saja Saeki ingin mengetahuinya, namun tidak ditempat umum seperti ini, karena bisa saja tiba-tiba Shinya marah-marah sehingga mengacaukan semuanya.
Setelah 40 menit lamanya, akhirnya mereka sampai disebuah rumah besar yang merupakan asrama tempat mereka tinggal sekarang. Berjalan menuju lantai 4, letak kamar mereka dan Shinyapun mengambil kunci kamar dari dalam saku celananya.
“Ah... akhirnya” Saeki langsung saja melemparkan tubuhnya keatas tempat tidur. “Rasanya hari ini panjang sekali...” keluhnya lagi sambil memeluk bantal putihnya. Sedangkan Shinya sendiri meletakan tas diatas tempat tidur dan siap untuk membersihkan tubuhnya. “Sudah makan?”
“Menurutmu?”
“Baiklah...” Saeki bangkit dan mengambil handphonenya, “Aku pesan seperti biasa saja, tidak apa-apa-kan?”
“Ya...” jawab singkat Shinya dan bergegas menuju kamar mandi.
‘Ada apa dengannya? Pasti ada masalah selama latihan...’ gumam Saeki lalu menekan nomor kedai yang sudah biasa dia hubungi.
----oospeczoo---
Setelah selesai membersihkan diri dan makan malam, akhirnya mereka semua siap untuk istirahat. Shinya sudah bersiap untuk tidur, tetapi tidak dengan Saeki. Dia masih penasaran dengan perubahan sikap Shinya selama latihan tadi. Akhirnya saat Shinya sedang merapikan buku-bukunya, Saeki memberanikan diri untuk bertanya. “Shinya, boleh aku bertanya sesuatu?” Shinya bergumam sebagai ganti jawaban. “Sampai kapan kamu akan terus diam seperti ini?”
Shinya membalikan wajahnya, menatap Saeki sesaat. “Apa maksudmu?”
“Shinya, jangan bohongi dirimu sendiri. Kamu pasti sedang ada masalah. Kenapa kamu tidak cerita denganku?”
Shinya hanya diam, karena tidak mungkin dia menceritakan kepada Saeki kalau dia merasa iri dengan Fujita yang bisa berperan baik dengan Saeki. “Tidak apa-apa” elak Shinya.
Saeki yang mulai sedikit kesal dengan kelakuan Shinya, berjalan mendekatinya, dan menarik bahunya sehingga mereka berdua saling bertatapan. “Ada apa denganmu?! Kenapa seharian ini kamu aneh sekali!”
Shinya menepis tangan Saeki dan kembali berbalik. “Tidak ada. Tidak ada yang aneh denganku. Sudah! Aku mau tidur!”
“Shinya!” seru Saeki saat Shinya berjalan melewati Saeki dan membuka selimutnya. Tanda dia siap untuk segera tidur. “Shinya! Jelaskan padaku, ada masalah apa dengan dirimu?”
“Tidak ada apa-apa!” balas Shinya yang juga mulai terbawa emosi. “Aku mengantuk! Puas!”
“Tidak mungkin. Pasti ada masalah.” Bantah Saeki sambil menarik tangan Shinya yang membuatnya kembali berbalik. “Jelaskan padaku, Shinya. Ada masalah apa? Apa soal dialog? Gerakan? Atau nada suaramu?”
Shinya semakin kesal karena semua pertanyaan Saeki merupakan seluruh kelemahan dia selama latihan. “Sudahlah! Bukan urusanmu! Sekarang lepaskan tanganku!”
“Shinya!” Saeki menatap Shinya dengan tajam, dan membuat raut adik kelasnya menjadi sedikit takut. “Jadi benar, kamu ada masalah, bukan?” Shinya hanya diam dan memalingkan wajahnya. “Shinya! Tatap orang yang sedang berbicara padamu!”
“Apa maumu!” geramnya.
“Jelaskan padaku apa masalahmu sekarang? Apakah masalah dialog? Jika masalah dialog, bukankah kamu sudah sering berlatih denganku? Ataukah masalah gerakan? Tapi aku dengar, kamu sudah diajari oleh Uehara tentang gerakan yang benar kepadamu. Ataukah nada suaramu yang suka lari dari tempo? Namun kurasa itu sem-“
Tiba-tiba saja tangan kanan Shinya yang terbebas memukul wajah seorang Saeki Taisuke. “Puas?! Sudah puas-kah kamu bicara! Atau masih ada hal lainnya yang ingin kamu katakan kepadaku!”
“Shinya...” tanpa sadar, Shinya mulai terisak. “Kamu...”
Perlahan nafas dan isak tangis bercampur menjadi satu dan membuat pemeran Alan Humphries ini berbicara terputus-putus. “Masih adakah yang ingin kamu sampaikan kepadaku, Saeki Taisuke?!” Saeki hanya diam menatap adik kelasnya yang berusaha untuk menenangkan dirinya. “Lagipula, apa perdulimu! Aku ini hanya menjadi beban bagimu, bukan?! Seseorang yang hanya bisa menjadi penghalang masa depan sahabatnya sendiri! Padahal dia dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai potensi baik, namun semua itu terhalang oleh seseorang yang tidak berbakat dan juga-“
Saeki langsung memeluk dan memendamkan wajah Shinya kedadanya. Perlahan, tangan besar Saeki mengelus rambut hitam Shinya yang sudah mulai panjang. “Shinya, tenanglah... tenangkan dirimu sekarang...”
Shinya hanya diam terisak sambil membalas pelukan Saeki, seperti seorang anak yang baru saja kehilangan jalan dan akhirnya bisa bertemu dengan sang ayah. “Saeki-senpai...”
“Shinya, dengarkan aku...” Saeki memberikan jarak pada pelukannya sehingga bisa menatap wajah lugu adik kelasnya itu. “Bukankah kamu sudah berjanji kalau kamu sedang ada masalah selama latihan, kamu akan cerita kepadaku?”
Shinya terdiam dan membuang mukanya. Jika sudah melihat seperti ini, Saeki hanya bisa menghela nafas dan tersenyum. “Shinya...” Saeki kembali mengelus lembut rambut Shinya. “Aku ini sudah mengenalmu lebih dari 3 tahun. Seperti apa kamu sedang kesal ataupun mengalami kesulitan, semua itu tergambar dari sikapmu...” Tanpa disadari, wajah Shinya mulai memerah. “Nah, apa kamu mau menjelaskan padaku, ada masalah apa selama latihan tadi?”
Akhirnya Shinya setuju dan mereka duduk dipinggir tempat tidur miliknya. “Aku... iri...”
“Iri? Iri dengan siapa, Shinya?”
Sebelum kembali melanjutkan perkataannya, Shinya kembali tertunduk. Dalam pikirannya penuh dengan berbagai macam pergumulan. Tapi inilah saat yang tepat untuk mengatakannya. “Aku iri... dengan Fujita...”
“Hah? Dengan Fujita?” tanya Saeki tidak percaya. “Ada apa dengannya?”
“Dia itu pintar. Jenius. Entah kata apa yang pantas untuknya. Walaupun dia tidak jarang melakukan kelahan, dia masih bisa memprovikasi dialog ataupun gerakan. Sedangkan aku, tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku benar-benar kalah... bahkan... kamu sendiri juga...” Shinya mulai kembali terisak. “...kamu sendiri juga merasa nyaman dan suka berpasangan dengannya...”
Saeki tersenyum sambil menghapus air mata yang mulai membasahi wajah putih adik kelasnya. “Ya ampun, Shinya. Demi tuhan, jika kamu menangis terus, bisa-bisa aku dibunuh oleh para penggemarmu...” Shinya tertawa miris. “Shinya, dengarkan. Aku memang tidak bisa berbohong, berpasangan dengan Fujita memang menyenangkan. Selain pintar beradaptasi, dia juga bisa membawa suasana menjadi menyenangkan...”
Shinya hanya bisa diam tertunduk. “...tapi ada bagian yang membuatku merasa lebih nyaman dan mudah untuk menjiwainya. Bagian yang tidak perlu aku pelajari ataupun aku cermati...Kau tahu?” Shinya menggeleng pelan. “Setiap bagian Eric Slingby bersama dengan Alan Humphries” Shinya langsung terhentak.
“Tapi...”
“Kamu mau tahu mengapa?” pertanyaannya dibalas sebuah anggukan pelan. “Hubungan antara Eric dengan Alan sudah bukan sekedar hubungan antar teman, tetapi sahabat. Seorang sahabat yang selalu ada disetiap temannya merasa senang ataupun susah. Disaat teman itu membutuhkan, dia akan selalu ada membantunya. Tidak perduli apapun resiko yang harus dia terima nantinya...Kamu mengerti?”
“A-aku bingung...”
Saeki tersenyum sambil mengelus pelan rambut Shinya. “Apa kamu tidak menyadari kalau peran yang kita mainkan itu sama dengan keadaan kita sekarang? Hanya saja, yang aku tahu Alan tidak mudah menangis seperti ini...”
“Saeki!”
“Hahahaha... sudah. Sudah. Jadi kamu mengerti sekarang? Setiap kali bagian kita dilatih, aku selalu membayangkan bahwa diri Alan itu sama dengan dirimu, Shinya. Seseorang yang membutuhkan pertolongan dalam hidupnya, tetapi dia tidak menyadari bahwa sahabatnya rela membantunya walau nyawa taruhannya...”
Shinya terdiam.
“...oleh karena itu, ingat saat aku hampir menangis disaat latihan ‘Eric membunuh Alan’ dengan senjatanya?”
Shinya mengangguk.
“Saat itu, aku membayangkan dirimu yang sudah aku salah bunuh dengan tanganku sendiri. Rasa sakit dan kesal pada diri Eric dapat kurasakan dengan pasti. Rasa sedih dan sakit setiap mendengar dan melihat penderitaan sahabatnya. Itu semua dapat kurasakan setiap berpasangan denganmu, tidak dengan Fujita. Mengertikah, Shinya?”
“Saeki...” Saeki meletakan kepala Shinya didadanya dan kedua tangan Shinya dilingkarkan kepinggang Saeki. “Maafkan aku...”
“Tidak apa-apa. Wajar saja kok, anak sepertimu masih butuh banyak belajar mengenai kehidupan luar...”
“Berarti kamu mengakui kalau kamu memang sudah tua, Saeki-senpai...”
“Kamu ini...!!” akhirnya mereka berdua perang batal sejenak sebelum memutuskan untuk beristirahat. “Sudah. Sudah. Aku sudah lelah...”
“Dasar orang tua” ledek Shinya.
“Tidak sadar, ya? Kamu sendiri juga masih anak-anak, bukan?” Shinya hanya bisa mengeram dan menenggelamkan seluruh tubuhnya dibawah selimut. “Mau dongeng sebelum tidur?”
“Tidak” tolak Shinya mentah-mentah. “Nanti yang ada aku malah mimpi buruk!”
“Hahahaha... Kamu ini?! Ya sudah. Selamat tidur, Shinya...”
“Selamat tidur, Saeki-senpai...”
---end---
please ur comment n review ^^
ps: (----oospeczoo---) batas tambahan ^^v
hueeee...aku sudah baca. mumpung dapet pinjeman PC, saya akan review sekarang juga...
ReplyDeleteaku koreksi ya :
1. Saeki dan Shinya itu bukan dari satu teater. Saeki dari Standard Song Entertainment, dan Shinya dari Studio Life.
2. Yang di maksud Naoya itu Nagaoka kah?
3. hubungan Saeki/Shinya ini sebenernya teman ya? kok mesranya minta ampun? hayhaaaaay...jadi curiga, hehe...
overall, it's up to you, miss author. you made the story, you decide whatever happens in it...
kalo ada yang baru, kasih tau juga yak! good job!