Sunday, December 5, 2010

Eien part 2

--ooo---

Title: Eien~

Charac: Alan Humphries _ Eric Slingby

Rat: ???

Desc: Yana Toboso

Story line: Kuroshitsuji Musical 2 (Alan Pov + ide_pengalaman sendiri)

Pov: Alan Humphries


----oooo----part 2

Perasaan yang tenang, permukaan yang lembut dan terasa nyaman. Perlahan aku membuka kedua mataku dan kusadari bahwa aku sudah berada disuatu ruangan besar yang didesain minimalis dan elegan. Ruangan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.

Sambil berusaha untuk menajamkan pandanganku, kulihat Eric yang sedang duduk disampingku sambil membaca buku yang selalu dia bawa. “...terjadi lagi...”

“Alan? Bagaimana? Sudah merasa baikan?” Eric menutup bukunya dan membetulkan posisi duduknya.

“...lagi-lagi... selalu saja seperti ini...” aku menghela nafas sejenak dan perlahan membetulkan posisi dudukku. Kepalaku masih sedikit pusing, mungkin sudah terlalu lama aku tertidur.

“Sudahlah... Mungkin tubuhmu sedang lelah. Bagaimana? Sudah merasa baikan?"

Sudah

“Benarkah? Tapi kamu masih terlihat pucat”

“Sudahlah! Aku sudah tidak apa-apa?!” Eric hanya tersenyum membetulkan posisi duduknya.

Aku diam tertunduk sambil duduk dipinggir tempat tidur. “Mengapa ini terjadi padaku..."

“Alan?”

“Jika memang benar ini kesalahanku, mengapa mereka bisa tetap hidup dengan tenang, sedangkan aku tidak...”

“Alan?” kurasakan Eric mendekatiku, menahan bahuku dan menatapku bingung.

Jika mereka memang tidak menyukaiku, untuk apa mereka melahirkanku?!” tanyaku histeris.

“Alan, pikiranmu mulai kacau. Sebaiknya kamu kembali istirahat...” Eric menahan bahuku untuk kembali berbaringan namun aku langsung menepis tangannya.

“Tidak! Lepaskan!” aku bergerak menjauhinya. "Dibenci! Dihina! Ditindas! Lalu apa lagi...?! Sendirian..." Emosiku semakin meluap.

"Alan...?"

Aku kembali duduk dipinggir ranjang. "Tapi aku bersyukur sudah melewati hari penuh warna selama aku hidup” sesaat aku tersenyum pacanya. “Mungkin memang sudah takdirku, hidup sendirian hingga aku mati nanti". Aku mencoba tersenyum selebar mungkin sambil menatapnya. "Sudah jalanku untuk selalu sendiri dan tidak bisa menjadi apapapun”

"Tidak sadarkah kamu sudah menjadi peganganku?” aku tercenga. “Kamu mungkin tidak menyadarinya. Sejak kita bersama, hari-hariku mulai berubah. Tidak sadarkah bahwa kamu sudah merubahku?"

"Maksudmu?"

"Ya" Eric berjalan mendekatiku. "Sebelum ini, aku merasa kehidupanku hanya begitu-begitu saja. Tapi sekarang kehidupanku terasa berbeda... Dan itu, berkatmu...". Eric merangkulku. "Sudahlah. Nikmatilah hidup ini sebaik-baiknya. Bukankah hidup hanya sekali saja?" Aku mengangguk pelan. "Dari pada bosan, bagaimana kalau kita berjalan-jalan sejenak? Kita juga tidak mungkin berlama-lama disini bukan?"

"Ya, kamu benar. Ayo kita keluar sekarang..." Ajakku sambil mengambil jas yang tergantung dikursi dekat tempat tidur.

"Selamat pagi" sapa salah satu pelayan perempuan bersama dengan kedua temannya saat kami menghampiri ruang utama.

"Selamat pagi" balasku. Mereka bertiga sibuk menyiapkan meja dan menatanya.

“Bagaimana istirahatnya? Apa tuan merasa nyaman?” tanya salah satu pelayan lainnya yang sepertinya yang bekerja sebagai pengurus taman.

“Ya, terima kasih...” ucapku lagi sambil menundukan tubuhku sedikit.

“Apa kalian sudah dengar berita menyeramkan akhir-akhir ini?” seru pelayan yang berpakaian putih dengan sebuah penggorengan ditangan kanannya, sepertinya dia koki dikediaman ini. “Banyak kasus pembunuhan dan yang menjadi korbannya adalah perempuan!”

“Apa?! Bagaimana mungkin? Kenapa?” seru pelayan perempuan dengan panik, sampai membuat beberapa barang berjatuhan.

“Aku juga sudah dengar” sambung yang membawa topi sambil melingkarkan tanganya pada pelayan perempuan itu. “Hey, Meyrin... berhati-hatilah...”

“Ah!! Bagaimana ini?!” paniknya lagi dan tambah membuat kekacauan diruangan ini.

“Tenanglah” seru Eric tiba-tiba. “Bukankah kasus itu baru rumor saja?”

“Rumor? Benarkah itu? Bukankah anda masih melancarkan beberapa rencana untuk melakukan aksi anda itu?” suara seseorang dari arah belakang dan ternyata sumber suara tersebut adalah Sebastian, bersama dengan Ciel Phanthomhive.

“Ah! Sebastian! Tuan muda, selamat pagi” ucap tiga pelayan itu dari arah belakang dan langsung berbaris dengan rapi.

Sebastian berjalan mendahului Ciel, mendekati Eric dan kulihat raut wajahnya yang berubah serius. Ada apa sebenarnya?

“Banyaknya kematian tanpa penyebab yang jelas. Korban selalu ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa dengan kondisi sempurna. Hingga saat ini, sang pembunuh masih belum ditemukan. Namun sekarang sudah jelas, bahwa orang yang selama ini sedang dicari-cari sudah berada disini. Eric Slingby”

Terkejut. Itulah reaksiku saat kudengar pernyataan Sebastian. “Hahahaha... Kamu yakin sekali, Sebastian” ucap Eric sambil berjalan mendekatinya. “Apa kamu punya buktinya?

“Bukti?” balas Sebastian sambil mengambil sesuatu dari saku jas hitamnya dan melemparkannya kearah 3 pelayan Ciel. “Aku sudah mendapatkan bahwa sudah 900 orang yang meninggal dalam kasus yang sama. Banyak diantaranya adalah kalangan pencuri ataupun koruptor. Namun lebih dari setengahnya, mereka meninggal tanpa penyebab yang jelas dan kebanyakan mereka yang menjadi korban adalah perempuan”

“Apa?! 900 orang?!” seru pelayan yang berbaju koki bersama dengan kedua temannya.

“Selain itu juga, ada informasi yang mengatakan kalau pembunuhan tersebut dilakukan atas suatu rencana yang belum diketahui dengan pasti...”

“Belum pasti?” balas Eric. “Lalu kenapa kamu yakin sekali kalau aku pelakunya?”

“Apa yang dikatakan Sebastian pasti benar” sambung Ciel tiba-tiba yang duduk diam disofanya.

“Pasti? Pelayanmu itu? Kamu yakin sekali

“Tentu saja. Apapun yang Sebastian katakan pasti benar, karena dia mendapatkan sumber dari yang tepercaya”

Benar sekali.” sambung Sebastian. “Aku mendapatkan sumber dari orang yang sudah kalian ketahui”

Ditengah kebingungan, tiba-tiba ada suara seseorang yang terdengar sedikit tinggi dari pintu seberang tempat Ciel duduk.

“Grell-senpai!” seruku.

“Siapa dia?” tanya pelayan yang perempuan.

“Kamu tidak apa-apa?” kali ini tanya yang berbaju koki.

“A~ah, Sebby, ternyata kamu disini? Padahal aku sudah mencarimu dari tadi...” kenapa Grell-senpai jadi seperti ini? Terlebih dia hanya memakai jaket merahnya saja. Ada apa dengannya?

“Tolong jangan mengatakan sesuatu yang tambah membuat keributan disini” cuek Sebastian.

“Apa katamu?” protes Grell dan menghampiri Sebastian. “Bukankah kamu sudah berjanji akan melanjutkan yang tadi?”

“Oh ya? Apa aku pernah mengatakan demikian?”

“Sebby, kamu jangan begitu do~onk” tepat saat Grell-senpai mau memeluk Sebastian, dengan cepat Sebastian langsung menendangnya jauh-jauh. Grell senpai yang malang. Aku baru menyadari mengapa William-senpai selalu marah-marah kalau sudah membahas Grell-senpai.

“Baiklah. Kita lanjutkan yang topik pembicaraan yang tadi” Sebastian merapikan jasnya sejenak. “Pertama, hawa pembunuhmu tidak bisa kamu tutupi. Aku sebagai seorang iblis tentu saja bisa merasakannya. Selain itu, kamu melakukan ini semua karena ingin mencapai suatu tujuan, bukan? Jika tidak salah menerka, kamu percaya pada suatu legenda yang dimana jika seseorang bisa mengumpulkan 1000 nyawa, maka kamu bisa meminta satu permintaan. Tentu saja hal itu mudah kamu lakukan, terlebih pekerjaamu adalah sebagai seorang shinigami”

Aku mencerna penjelasan yang diberikan oleh Sebastian. Pekerjaan sebagai seorang shinigami. Mengumpulkan 1000 nyawa untuk satu permintaan. ”Eric...?”

Eric tertawa dan mengeluarkan senjatanya. “Mengumpulkan 1000 nyawa untuk satu permintaan katamu? Untuk apa aku lakukan? 1000 nyawa itu terlalu sedikit untukku, terlebih pekerjaanku sebagai seorang shinigami...”

“Benar katamu. Tetapi bisakah kamu menjelaskan padaku, mengapa kamu membunuh lebih dari 600 orang yang tidak bersalah sama sekali? bukankah itu bukan pekerjaan seorang shinigami?”

Eric terlihat marah sekali. “Sebastian, sepertinya kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan orang lain! Jika kamu memang ingin melawanku...” Eric mengeluarkan senjatanya tepat berhadapan dengan Sebastian. “Aku terima tantanganmu!”

Tanpa membuang waktu, Eric dan Sebastian langsung melancarkan serangan. Tidak perduli dimana dan apa. Eric yang sudah terbawa emosi dan Sebastian sendiri terlihat menikmatinya. “Eric! Hentikan!” kucoba untuk menahannya, namun dia langsung saja menepis hingga aku terjatuh. Tatapan Eric yang lembut berubah menyeramkan.

Ciel masih saja duduk memperhatikan mereka berdua, sedangkan 3 pelayan yang lainnya panik dan sibuk. Aku benar-benar bingung bagaimana cara menghentikan Eric. Jika tidak, bisa saja dia membunuh Sebastian.

“Eric!" Teriakanku tidak dia hiraukan sama sekali. Kucoba untuk kembali menghalanginya,namun rasa sakit kembali menguasaiku. "Eric, tolong henti- akh!" Eric diam sesaat menatapku.

“Pertahananmu melemah!” seru Sebastian.

“Tidak akan?!” balas Eric dengan senjatanya.

Tepat disaat Sebastian terdesak, tiba-tiba saja Grell memajukan senjatanya dan dengan cepat langsung diambil alih oleh Sebastian. Serangan demi serangan mereka keluarkan.

Eric... Tolong hentikan... Hentikan ini semua. Aku tidak mau melihatmu membunuh orang lagi... Kumohon...

Karma yang kembali menguasaiku membuatku jatuh terkulai lemah. Kucoba untuk bangkit dengan bertumpu pada senjataku dan menghentikan Eric. "E-eric...!"

Tiba-tiba saja serangan Eric melemah dan dirinya terluka oleh Sebastian. Dari luka tersebut terpancar memori milik Eric sebelum sampai ke Phanthomhive. Miris namun benar. Orang yang sudah membunuh beberapa nyawa tidak bersalah ini adalah Eric Slingby, sahabatku.

Seluruh tubuhku terasa panas dan melemah. “Kenapa?! Eric! Ada apa sebenarnya?!” bukankah kamu sudah berjanji untuk tidak membunuh lagi?!

Eric menghentikan serangannya dan langsung berlari menuju pintu keluar Phanthomhive. “Eric!!” dengan cepat aku-pun mengejarnya tanpa memperdulikan rasa sakit pada tubuhku.

Diperempatan jalan, aku kehilangan jejaknya. Aku benar-benar tidak tahu harus kemana. Seluruh tubuh terasa berat dan sakit. ‘Eric... Kenapa kamu melakukan ini...'

Berbagai macam pertanyaan memenuhi pikiranku. Rasanya ini semua terlalu cepat untukku menerima kenyataan bahwa pelaku pembunuhan misterius selama ini adalah sahabatku sendiri. ‘Kumohon Eric... Dimanakah kamu sekarang? Jelaskan padaku, ada apa ini sebenarnya...' Kuteruskan pencarian ini hingga warna langit mulai berubah menjadi gelap.

Rasa sakit mulai menguasai seiring rasa kesal dan sedih memenuhi pikiranku. Kuterus berlari menuju perempatan jalan berupa gang kecil. Langkahku terhenti seiring melihat kenyataan yang ada didepan mataku. Pernyataan yang diberikan oleh Sebastian itu... benar! Dua orang perempuan sudah tidak bernyawa didepan Eric dan seseorang pria berambut emas disisinya.

“Eric!” Teriakanku membuat dia terkejut.

"Alan!"

"Sungguh buruk sekali. Mengapa kamu melakukan ini?! Benarkah kamu sengaja melakukan ini?" Eric mencoba berlari menghindariku. “Eric, kenapa?! Bukankah kamu sudah berjanji padaku untuk tidak melakukan ini lagi?” tubuh dan wajahku terasa panas. Jika aku perempuan, mungkin aku sudah berlari mendekatinya dan memeluknya. “Eric, jangan-jangan kamu lakukan ini semua karena....”

Eric berjalan menghindariku. “Benar sekali! Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku ingin mencapai keabadian. Untuk itu aku perlu melakukan ini"

“Benarkah?!” tanyaku tidak percaya. “Kalau begitu, lawan aku! Aku paling tidak suka dengan orang yang ingkar janji!” ucapku dan langsung melancarkan serangan pada Eric.

Dengan tenaga yang tersisa dan penuh emosi, aku terus menyerangnya. Namun yang tidak ada sedangan balasan darinya. Eric... mengapa kamu tidak menyerangku...? Kenapa kamu hanya bertahan dari seluruh seranganku? Bukankah kamu melakukan ini demi kepentinganmu? “Akh!” tiba-tiba saja dadaku kembali terasa sakit. Hanya dengan dorongan ringan, tubuhku langsung jatuh ketanah.

“Dasar. Penyakitmu lagi, hah?” aku terkejut. Baru kali ini dia mengungkit mengenai penyakitku ini.

“Huaaa~ keren sekali” seru pria itu. “Hey, bisa ajarkan padaku?” Eric hanya diam dan menatapku sedih.

“Eric... tung- Akh!” kucoba untuk mengejarnya,tapi percuma saja. Rasa sakit kembali menguasai tubuhku dan membuat pandanganku mulai kabur. “Eric!” dengan sekejap dia berlari meninggalkanku bersama dengan pria itu.

“Apa kamu tidak mau mengejarnya?” suara berat seseorang dari belakangku, Sebastian.

Tentu saja aku ingin mengejarnya, segera menangkapnya dan meminta penjelasan padanya. “Sudahlah...” Grell dari belakang Sebastian mendekatiku. “Alan, lebih baik kamu istirahat sejenak baru memikirkan cara bagaimana menemukan Eric. Tidak mungkin kamu mencarinya dengan keadaan seperti ini...”

Aku diam tertunduk. Baru kali ini aku terlihat lemah didepan orang lain. Aku yang selalu berusaha menyembunyikan penyakit ini, sepertinya sudah saatnya aku buka semuanya..

“Bagaimana kalau kamu berada ditempat kami dulu?” tawar Sebastian. “Bagiamana, tuan muda?”

“Terserah saja. Asalkan dia tidak menggangguku...”

“Baiklah...” aku mengangguk. “Terima kasih...”

----ooo---

Malamnya, Ciel mendapatkan sebuah surat dari seseorang yang bernama ‘undertaker’. Ciel yang super cuek itu langsung saja menolaknya, dan dengan cepat tiga pelayannya mengambil surat tersebut dan membacanya dengan antusias.

Dari ketiga pelayan itu, sang koki mengambil alih kertas tersebut dan membacanya. “...Perayaan pesta dansa di ‘Cristal Palace’. Tamu utama pesta dansa ini adalah perempuan. Untuk laki-laki, bisa masuk asalkan membawa pasangannya kepesta dansa ini. Undangan dansa,kah?”

“Pesta dansa di ‘Cristal Palace’?” tanya Ciel yang mulai tertarik.

Eric, apakah kamu sengaja melakukan ini semua? “Sepertinya Eric akan ada juga disana...” gumamku yang tanpa sengaja didengar oleh Sebastian.

“Benar sekali. Akan lebih dari 100 perempuan datang kesana, belum termasuk laki-laki. Tentu saja dengan pesta tersebut, dia bisa dengan mudah mendapatkan banyak nyawa sesuai keinginannya”

“Baiklah” Ciel menambahkan. “Kita akan hadiri pesta dansa tersebut. Sebastian, atur rencana pesta dan selesaikan Shinigami bernama Eric Slingby. Ini perintah”

“Baik, tuanku”

Sesuai dengan yang direncakan, kami semua bersiap untuk acara dansa tiga hari lagi. Selama tiga hari itu, aku diizinkan tinggal dikediaman Ciel atas izin Sebastian tentunya. Selama itu juga, berbagai macam pengalaman memenuhi kehidupanku. Dari kehebohan saat Ciel belajar menjadi perempuan, hingga kelakuan Grell yang iri dengan Ciel. Karena Sebastian tentunya yang lebih perhatian dengan Ciel dibandingkan dengan Grell-senpai.

Sudah dua hari terlewati tanpa kabar mengenai Eric. Selama dua hari itu, Eric menghilang dari kantor bahkan aku tidak bisa menemuinya dibeberapa tempat yang biasa dia datangi. Siang ini aku sendirian didalam kamar yang berwarna merah karena Grell-senpai sedang sibuk melatih Ciel bagaimana harus bersikap.

“Haruskah aku ikut datang ke pesta itu?” gumamku sambil menatap keluar jendela. “Namun... bagaimana caranya?” kepalaku benar-benar pusing. ‘Aku harus bisa menemui Eric, bagaimanapun caranya!’

Kudengar sesaat keributan dari luar bahwa Grell-senpai akan ikut menghadiri pesta tersebut, tetapi dengan penampilan... perempuan. Memang syarat dan undangan utama adalah perempuan. Tapi... ‘Apa aku harus berubah menjadi perempuan juga?’

Untuk sesaat aku tertawa membayangkan bagaimana penampilanku jika menjadi perempuan. “Tidak! Tidak mungkin aku lakukan?!” histerisku sambil melempar baju biru milik Grell-senpai yang sempat aku coba.

Kutatap sejenak baju itu yang tergeletak diatas tempat tidurku “Jika aku ingin bertemu dengan Eric, aku harus datang ke pesta itu...” kuarih baju itu dan meletakannya didepan dadaku. “Ya! Aku harus datang! Apapun caranya, aku harus bisa bertemu dengan Eric”

“Alan~” ternyata Grell-senpai sudah kembali. Dengan terburu-buru aku meletakan baju biru tersebut. “Lihat! Bagaimana penampilanku?”

Seperti biasa, Grell-senpai memakai pakaian serba merah. Sesuai dengan warna kesukaannya. Tetapi yang berbeda kali ini adalah sepatu yang dia gunakan dan tatanan rambutnya. Sepatu hak berwarna merah dan setengah rambutnya dia ikat keatas. Benar-benar terlihat seperti perempuan yang elegan. “Bagus sekali, Grell-senpai. Penyamaranmu sempurna!”

“Benarkah?” tanyanya sedikit ragu. “Tapi aku sedikit canggung dengan penampilanku ini?! Jika dibandingkan dengan Ciel, sepertinya aku tidak terlihat manis sama sekali...” gerutunya dan mulai terlihat murung.

Bagaimana ini...? Apa yang harus aku katakan padanya? “Ti-tidak kok, senpai. Lagipula, bukankah Ciel masih anak-anak? Tentu saja dia terlihat manis...”

“Jadi benar, kalau aku tidak manis?” Sepertinya aku sudah salah berbicara.

“Bukan begitu” ralatku. “Maksudku, penampilan Grell-senpai lebih elegant dari pada Ciel. Tentu saja senpai lebih cocok dengan Sebastian dengan penampilan seperti itu...”

“Benarkah?!” tanyanya yang mulai bersemangat.

Aku hanya mengangguk sambil melihat Grell-senpai yang kegirangan, ‘Baguslah kalau dia sudah bisa lebih tenang sedikit...’

“Baiklah kalau begitu. Alan, yang lainnya sudah menunggu dilantai bawah. Kamu juga cepatlah menyusul kebawah ya~”

Kutatap sejenak baju biru yang dia tinggalkan itu. “Grell-senpai, baju biru ini mau diapakan?”

“Ah~ biarkan saja. Aku sudah tidak memerlukannya lagi”

“Benarkah?”

“Ya. Terserah saja mau kamu apakan baju itu. Aku mau ke tempat Sebby dulu ah~”

Sambil menari-nari, Grell senpai meninggalkan ruangan ini. Kuraih baju itu dan dengan cepat akupun merubah penampilanku ini. Malu, sudah tidak perlu dikatakan lagi. Tetapi rasa ingin bertemu dengan Eric sudah memenuhi pikiranku, hingga memberikanku keberanian mengambil langkah gila seperti ini.


-end part 2---


next chapter eien_part 3

No comments:

Post a Comment