--ooo---
Title: Eien~
Charac: Alan Humphries _ Eric Slingby
Rat: ???
Desc: Yana Toboso
Story line: Kuroshitsuji Musical 2 (Alan Pov + ide_pengalaman sendiri)
Pov: Eric Slingby
----oooo----omake
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanyaku saat Alan baru menyelesaikan tugas pertamanya. Sebagai seorang Shinigami pemula, aku merasa kagum padanya. Tidak percuma aku diminta menunggunya ditaman ini.
“Ya. Tidak terlalu memuaskan...” aku sangat mengerti sikap perfectsionistnya. “Rasanya aku masih kurang pandai, sampai merepotkan senpai...”
“Bersemangatlah...” kulihat raut murung diwajahnya.
“Ah, bunga Erica...”
“Erica?”
“Ya... Artinya kesepian...”
“Kesepian?” tanyaku lagi.
Alan mengangguk pelan. “Kesepian... Seseorang yang tidak mempunyai siapapun, itulah aku. Sendirian bertahan hidup di dunia kejam ini tanpa siapapun. Rasa sepi terkadang memenuhi pikiranku, tapi aku harus tetap berjuang seperti bunga Erica ini yang terus tumbuh menghadapi berbagai macam panas dan hujan."
Anak baru yang lucu. “Kalau begitu keluarlah dari pekerjaan ini”
“Apa?”
“Ya. Sepertinya pekerjaan seperti ini tidak cocok denganmu. Bagaimana kalau kamu membuka toko bunga saja?
“Tidak mungkin, Eric-senpai. Pekerjaan ini sudah menjadi pilihanku. Aku sudah menyukainya, seperti aku menyukai bunga Erica ini”.
Aku kembali tersenyum melihatnya. Anak yang benar-benar polos dan menarik. “Dari pada bunga ini, bagaimana kalau kamu mencari arti bunga lainnya?”
“Hah? Apa maksudnya?”
“Lihatlah. Selama kamu bekerja, selalu saja kamu terlihat murung. Dari pada kata kesepian, aku lebih suka dengan kata keabadian”
“Keabadian?”
"Keabadian, suatu titik puncak yang sempurna dan tidak akan pernah hilang. Mencapai suatu keabadian tidak bisa dijalankan oleh diri kita sendiri, tetapi memerlukan seseorang yang membantu kita. Jika arti sendirian itu yang membuatmu sering murung, lebih baik kamu mengganti dalam pikiranmu dengan 'keabadian', carilah dimana ruang ‘keabadian’mu yang penuh warna-warni kehidupan, bersama dengan orang-orang disekitarmu...”
Alan menunduk diam mendengar penjelasanku dan tiba-tiba saja kembang api mewarnai langit malam. “Indahnya...” gumamnya antusias.
Aku tertawa kecil. “Ternyata kamu memang masih anak-anak”
“Senpai sendiri juga kan?” kami berdua tertawa bersama.
Sejak mendengarkan pernyataanmu, aku memutuskan bahwa aku akan selalu berada disisimu hingga kamu menyadari bahwa kamu tidak sendirian.
Berbagaimacam hari kita lewati bersama dalam suka maupun duka. Senang dan susah kita lewati bersama. Hingga pada akhirnya kamu menunjukan kelemahanmu, yaitu karma yang ada didalam dirimu.
Bersusah payah kamu menjalankan tugas berat sebagai seorang Shinigami sampai tidak memperdulikan kesehatan dirimu sendiri. Terkadang kamupun lupa waktu hingga tertidur dimeja kerjamu. Melihat itu semua, aku hanya bisa tersenyum dan meletakan selimut pada tubuhmu, karena aku tahu bahwa kamu akan marah jika aku memindahkanmu.
Membohongi seluruh teman-teman, mungkin bisa kamu lakukan, tapi tidak padaku. Walau kamu tidak menyadarinya, aku tahu kalau sering kali kamu merasa kesakitan tiap merasa kesal, lelah ataupun berbagai macam pikiran yang membebanimu. Tapi kembali kamu akan marah jika aku mengingatkanmu untuk beristirahat.
Jika bisa mengumpulkan 1000 nyawa murni, bisa meminta satu permintaan apapun...
Sebuah legenda yang akhir-akhir ini aku dengar dikalangan para Shinigami. Hasilnya? Belum ada satupun yang tahu karena tidak mungkin kita membunuh seseorang jika belum ditakdirkan untuk meninggal.
Mengingat Alan yang selalu saja kesakitan dan terlihat lelah, sebagai senior aku tidak tega. Tanpa sepengetahuan darinya, ditengah kesibukanku, aku mengambil nyawa ‘murni’ sesuai legenda tersebut.
Hawa pembunuh tidak akan bisa ditutupi karena akan melekat pada pemiliknya
Sudah lebih dari 800 orang, dan pada akhirnya Alanpun mengetahuinya. Marah? Tentu saja dia marah, bahkan sudah beberapa kali dia memohon padaku untuk menghentikan tindakanku ini.
Tidak mungkin kulakukan itu. semua ini demi kebaikanmu... keabadian kita bersama...
Sampai mencapai 993 orang, penyakit Alan semakin memburuk. Tidak hanya sakit yang harus dia rasakan, bahkan untuk bernafaspun dia sudah sulit. Semakin melihatnya seperti itu, tambah membuat hatiku semakin sakit.
Ditengah tindakanku mengambil nyawa 6 orang, tiba-tiba saja Sebastian yang bersama Ciel datang. Rasa kesal semakin menghantuiku. “Eric!!” suara Alan mmemanggilku histeris. Kumohon... jangan tunjukan wajah sedih padaku.
Kuteruskan seranganku pada Sebastian, namun tubuhku yang sudah mulai lelah, seranganku ditepis oleh Sebastian dan tepat saat itu Alan mendorong Sebastian dan diapun jatuh dihadapanku.
"Eric... Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini..." Wajahku mulai basah karena sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini. "Apakah kamu ingat janji kita? Jangan lakukan ini demi kebaikanku..."
Alan... kumohon bertahanlah... "Tinggal satu lagi!" Teriakku. Tubuhku mulai panas dan pandanganku kosong. "Ciel Phanthomhive! Kamulah yang menjadi orang terakhir!!"
"Jangan!!" tiba-tiba saja Alan maju melindungi Sebastian. Aku yang tidak bisa menghentikan gerakan tanganku, dengan senjataku aku membunuh sahabatku sendiri, Alan.
"Alan....?!" kutahan tubuh lemahnya. Disaat terakhir, dia masih tersenyum padaku dan tidak lama tubuh lemasnya terkulai dipelukanku. “Alan!!”
Kupeluk tubuhnya dan air mataku memecah. “Kenapa kamu melakukan ini?! Bukankah kamu berjanji akan selalu hidup untuk mencapai impian kita?! Namun kenapa sekarang kamu pergi meninggalkan aku!!”
Aku menundukan kepalaku ditubuh Alan yang sudah tidak bernyawa. “Selamat. Anda sudah berhasil mencapai tujuan anda. Tidak. Sepertinya hal itu sia-sia, karena tujuan anda sendiri sudah menghilang dari dunia ini”
“Iblis... Sudah puaskah kamu melihat ini?”
“Aku hanya melakukan apa yang sudah dikatakan oleh tuanku” ucap Sebastian sambil merapikan pakaian Ceil. “Tuanku, apakah sudah cukup sampai disini?”
“Apa aku perlu mengulang perintahku? Selesaikan Eric sekarang”
“Baiklah...” Sebastian mengambil senjata milik Alan.
Aku diam sejenak mengatur nafasku, lemas tidak bisa melawan apa-apa. “...dengan senjata milik Alan?”
“Apa ada masalah?”
“Tidak...” aku diam ternduk menunggu saat itu tiba.
Seluruh pikiranku penuh dengan berbagai macam penyesalan. Rasa sedih dan nafsu yang memenuhi pikiranku membuat aku harus kehilangan sahabatku dengan tanganku sendiri. Jika aku harus mendapatkan hukuman atas tindakanku ini, aku rela menerimanya. Namun... Alan... maafkan aku... maafkan aku yang sudah membohongimu, karena aku melakukan ini semua untuk dirimu... aku ingin kamu lepas dari karma itu dan kita capai keabadian kita... bersama...
No comments:
Post a Comment