Monday, September 16, 2013

TS _Confess

Title : Confess ( link in ffn )

Desc : Gotoh Sinobu - Ohya Kazumi

Characters : Akaike Shouzo - Namiko

Rat / Genre : T / Friendship - Romance

A/N : Namiko bukanlah karakter yang sengaja dibuat untuk cerita ini. 'Namiko' yang digunakan berdasarkan CD Drama TS yang Aoi dengarkan dalam beberapa part walau singkat.

Setelah kelulusan di masa SMA, masing-masing dari mereka melanjutkan pendidikan berdasarkan profesi dan keahlian mereka. Tidak hanya dalam pekerjaan, dalam hubungan dengan sang kekasih juga menjadi hal terpenting. Disaat masing-masing sudah menemukan pasangannya, bagaimana dengan sang mantan 'ketua kedisiplinan' Shidou menemukan 'pasangannya'…?

-00Start00- Pov : Akaike Shouzo

Setelah 3 tahun berlalu di Shidou Gakuen, banyak siswa yang melanjutkan sekolah mereka di universitas maupun secara langsung melanjutkan pekerjaan yang sudah dibebankan oleh keluarga masing-masing. Aku, Akaike Shouzo, melanjutkan pendidikanku di Universitas Shidou bersama dengan Misu dan Giichi. Aku di bidang hukum, Misu di kedokteran dan sudah pastinya Giichi melanjutkan pendidikannya di Manajemen Bisnis.

Tidak hanya kami bertiga yang melanjutkan pendidikan kami di universitas. Kekasih Gii, Hayama, melanjutkan pendidikan musik bersama dengan Toshihiza disebuah universitas negri yang cukup jauh dari perkotaan. Sebenarnya Gii berencana untuk membiayai pendidikan Hayama di , namun dengan tegas Hayama menolak. Sebagai sebuah 'penjagaan', Toshihiza memilih melanjutkan pendidikannya disebuah universitas yang dipilih oleh Hayama.

Pilihan tersebut bukanlah sebuah paksaan ataupun perasaan tidak enak. Daya tariknya dengan manajemen musik beserta sang kekasih berada dalam universitas yang sama, Toshihisa dengan senang hati memilih universitas ini. Selain itu, Shingyouji yang mendapatkan beasiswa atas kepintarannya, diapun melanjutkan pendidikannya dibidang kedokteran namun dalam bidang yang berbeda.

Waktu yang terus berlalu dengan sempurna, tanpa disadari hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dan tahun demi tahun sudah terlewati. Kami semua sudah memasuki tahun kedua di Universitas dan tiba-tiba saja terdengar sebuah 'rumor' diantara kami.

"APA?! Aku dan dia...," seruku bersamaan di jam istirahat ketika mendapatkan rumor dari Misu mengenai 'hubungan tersembunyi' antara Giichi dengan diriku. Sepertinya kedekatanku dengan Giichi menjadi 'topik' pembicaraan bagi mereka yang ingin sekali mendapatkan perhatian sang 'idola'.

"Ya, itulah yang kudengar dari Shingyouji," ucap Misu singkat lalu menatap sumber informasinya yang kini duduk disisi kanannya. Shingyouji mengangguk perlahan lalu menjelaskan bahwa rumor tersebut dimulai ketika Gii mulai meminta bantuanku mengenai pekerjaannya.

"Kita yang mengetahui kebenarannya, tentu saja tidak akan berfikir demikian. Tetapi mereka yang selalu melihat Gii-senpai yang selalu bersama dengan Akaike-senpai, tentu saja mempunyai pandangan lain," jelas Shingyouji sebelum melanjutkan makan siangnya.

Kutatap Gii yang duduk disebelahku dan berkata, "Gii... Lihat dengan hasil kerjamu..." Aku menghela nefas sejenak sebelum melanjutkan keluhanku. "Aku tidak ingin 'rumor' ini berlanjut terus..."

"Tentu saja aku juga tidak mau, Shouzo!," kali ini Gii yang geram lalu meneguk kopi dinginnya. "Apa yang terjadi jika sampai Takumi mendengar ini? Ah... Semoga saja dia tidak menganggapku 'berselingkuh' denganmu..."

Terbawa emosi, kulapiaskan rasa kesalku dengan memukul punggung Gii lalu bangkit berdiri dari tempat dudukku. "Maaf semuanya. Aku harus segera kembali ke kelas," ucapku singkat seiring merapikan buku-buku yang aku bawa hari ini. "Gii, masalah ini kita bicarakan nanti."

Misu yang duduk diseberang kini menatap kami berdua. "Tidak heran rumor tersebut sampai menyebar..." Aku, Giichi maupun Shingyouji hanya tercenga menatapnya. "Gaya bahasa maupun penggunaan kata-katamu, mirip seperti ibunya Giichi, Akaike."

Mendengar ucapannya, aku hanya dapat tercenga dan suara tawa Gii mengisi kekosongan diantara kami. "Shouzo, bagaimana kalau kamu menjadi 'ibuku' saja?"

Kutatap tajam Giichi dan membalikan badanku, "Tidak akan, Giichi..." seruku sebelum kulangkahkan kakiku menuju gedung dengan suara tawa mereka yang kini mulai tidak terdengar lagi.

Kuhela nafas sejenak lalu meraih handphone dari saku kemeja biruku dan menatap layar yang masih sama keadaannya dari 3 jam lalu. Rumor yang mulai menyebar ini sebenarnya bukanlah rumor baru untuk Giichi maupun diriku. Kedekatanku dengan dirinya sejak kecil, sudah menjadi 'gosip' tersendiri dan sebenarnya kami berdua sudah tidak memperdulikannya lagi.

Namun yang kupikirkan adalah... mengenai seseorang yang menjadi 'orang ketiga' dan aku tidak ingin berita ini menjadi pengganggu untuknya. Seseorang yang berarti untukku namun karena pekerjaan maupun rasa inginku untuk masih berkonsentrasi dengan dunia pendidikan, membuatku mengurungkan diri untuk mendekatinya. Tetapi, Gii memberikan sebuah 'harapan' kepadaku...

"Kamu tidak perlu khawatir. Dia selalu menunggumu dan inilah buktinya," ucap Giichi ketika kami baru saja menyelesaikan pendidikan terakhir kami di Shidou dengan memberikan sebuah surat beramplop putih kecoklatan. Kutatap Gii sejenak dan dia mengangguk sebagai ganti jawaban kepadaku.

"Terima kasih, Gii...," ucapku seiring masih menatap ampop kecil yang kini berada ditanganku dengan sebuah 'nama' yang ditujukan kepadaku.

Giichi tertawa sejenak lalu menepuk pundakku. "Tenang saja. Aku mempunyai banyak kenalan yang cocok denganmu jika kamu mau..tetapi...," dia mendekatkan wajahnya kepadaku dan berbisik, "...lebih baik kamu cepat bertindak karena tidak ada yang tahu sampai kapan dia akan berada dalam 'situasi' yang sama..."

Kurasakan wajahku memanas dan Gii hanya tersenyum lebar sebelum berjalan meninggalkanku untuk mengunjungi kekasihnya, Hayama Takumi yang sudah menunggu di tempat 'pribadi' mereka.

Kuhela nafasku sesaat seiring langkahku menuju salah satu kelas dari gedung coklat berlantai 6 ini. Menggunakan lift terdekat lalu menekan angka '3a' dan dengan segera kulanjutkan langkahku menuju sebuah kelas yang letaknya cukup dalam dari kelas lainnya. Suasana kelas sudah cukup ramai namun aku masih dapat menemukan sebuah bangku kosong yang letaknya tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dari meja dosen.

"Shouzo-kun? Kamu tidak apa-apa?," tanya seseorang yang suaranya tidak asing lagi ditelingaku. Menggunakan kemeja berwarna merah muda dengan rok putihnya, dan dengan wajah gembiranya dia meletakan buku beserta tas hitamnya disebuah meja yang berada disisi kananku.

Aku menggeleng lalu menatapnya seiring kepalaku bertumpu pada punggung tangan kiriku. "Bagaimana dengan ujian kali ini? Apa laporannya sudah kamu selesaikan semua?," kupaksakan diriku untuk kembali berkonsentrasi dan fokus pada pelajaran yang sudah dihadapanku.

Kali ini dia mengangguk dan dengan segera mengeluarkan mini laptopnya dihadapanku. "Sebagian sudah aku selesaikan, tapi masih ada beberapa hal yang tidak aku mengerti," ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya.

Aku menghela nafas sejenak dan mengikuti arah pandangnya. "Jadi, intinya kamu minta tolong bukan? Lalu, bagian mana yang tidak kamu mengerti?" dengan segera dia menunjukan bagian yang tidak dapat dia kerjakan dan akupun berusaha menjelaskan dengan kalimat semudah mungkin.

Sementara dia memeriksa kembali pekerjaannya, akupun membantu menuliskan nama 'Namiko' pada selembar kertas lalu kuletakan pada sebuah tempat CD yang menjadi pelindung beserta bukti hasil pekerjaannya. "Ah, akhirnya...," serunya perlahan lalu dengan segera mengambil tempat CD dari tanganku dan mengumpulkan pekerjaannya dimeja dosen. "Terima kasih, Shouzo."

Aku mengangguk dan kamipun segera kembali pada bangku masing-masing karena dosen kami sudah memulai presentasinya.

Namiko, atau lebih sering dipanggil dengan nama Nami, salah satu sahabat Gii dan diriku ketika kami masih duduk dibangku sekolah dasar. Bermain dan belajar bersama sudah menjadi aktifitas kami bersama-sama tanpa memikirkan latar belakang kami. Termasuk Sachi yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di negara kelahiran Giichi ketika memasuki tingkat menengah.

Kedekatan dan kebersamaan kami sudah menjadi hal umum bagi orang tua kami. Tidak jarang Namiko menghabiskan liburannya bersama kami, termasuk ayahku yang sering menanyakan kabar Giichi dari pada keadaan diriku. Aku tidak marah pada ayahku sudah menganggap Giichi sebagai anak keduanya. Kedua orang tua Giichi selalu saja sibuk sehingga Giichi sendiri kurang mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya. Bagiku, Giichi juga sudah menjadi saudara sendiri.

Bahkan kami memanggil satu sama lain dengan sebuah panggilan 'Koki' untukku dan 'Profesor' untuk Giichi.

Perasaanku kepada Namiko mulai kurasakan sejak memasuki masa universitas. Sifatnya yang selalu santai dan ceria perlahan menjadi lebih feminim dari biasanya. Penampilannya yang mulai berubah dan didukung dengan kelancaran aktivitas di dapur, membuatku semakin yakin bahwa dia sudah bertumbuh dan siap untuk kelancaran masa depannya.

Namun ada sisi lain yang membuatku sedikit gusar...

Setiap kali Nami jalan maupun menghabiskan waktu bersama dengan teman sekelasnya, perasaan khawatirpun muncul didalam benakku. Terlebih ketika Nami mengajakku kesebuah acara 'perjodohan' bersama dengan teman-temannya. Suasana tidak menyenangkan memenuhi pikiranku. Nami terlihat ceria dan senang dengan teman lawan jenisnya...

...mulai dari sinilah akupun menyadari bahwa akupun mulai menyukai Nami, bukan hanya sebagai seorang sahabat...

Teringat ketika kami masih duduk dibangku sekolah dasar tingkat 5, Giichi dan Nami sering mendapatkan gosip, karena kedekatan perusahaan ayah mereka. Giichi yang sepertinya menyadari atas gosip tersebut, dengan segera diapun menjelaskan padaku bahwa ada seseorang yang dia sukai setelah menonton acara pertunjukan Sachi beberapa bulan lalu.

"...ya, Hayama Takumi. Itulah yang aku ketahui dari Sachi," jelas singkat Giichi ketika dia menginap di rumahku. "Aku masih belum bisa mendapatkan informasi tentang dirinya! Sachi benar-benar pelit, Shouzo! Padahal aku sudah bersedia menonton pertunjukan biolanya!," keluh Gii seiring mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya yang terletak di sebelah meja belajarku, lalu foto itu diberikan kepadaku.

"...inikah yang bernama Hayama Takumi?," tanyaku meyakinkan. Giichi mengangguk dan menceritakan beberapa keluhan maupun alasan dirinya menyukai Hayama. Bahkan dia bertekat untuk belajar Biola agar dapat menemui Hayama Takumi.

Sayangnya, ketika Giichi memutuskan untuk memulai kelas musiknya, disaat yang sama Hayama Takumi keluar dari kelas Biola dan keberadaannya tidak diketahui oleh guru sekolah maupun guru musiknya. Mendengar hal itu, Giichi kembali mengeluh kepadaku dan aku hanya dapat mendengarkan seperti yang sudah biasa kulakukan.

"...namun bagaimana dengan Nami?," tanyaku tiba-tiba setelah Giichi memutuskan untuk kembali ke negara kelahirannya untuk menemui ayahnya.

Giichi tersenyum padaku lalu menepuk pundakku. "Tidak perlu khawatir, Shouzo. Aku tidak perduli dengan gosip-gosip itu, bahkan Nami juga mengabaikan rumor tersebut. Hanya saja..."

"...hanya saja...?"

Giichi kali ini tertawa lalu melambaikan tangannya sebelum melangkahkan kaki menuju mobil pribadinya yang sudah menunggu di balik pintu gerbang rumahku. "...sisanya terserah padamu, Shouzo..."

Mendengar penjelasan singkatnya, aku hanya dapat terdiam pada diriku. Aku yang masih duduk dibangku sekolah hanya mengerti mengenai pelajaran dan mengatur aktivitasku dengan sebaik mungkin. Perasaan sayang kepada ayah dan teman hanyalah perasaan sebagai rasa hormatku kepada mereka. Perasaan lebih kepada teman hanyalah sebagai seorang 'teman' saja, tidak lebih dari itu.

Waktu yang terus berlalu membuatku semakin belajar dan merasakan perasaan yang dialami oleh Giichi dan teman-teman lainnya. Perasaan sayang dan membutuhkan membuatku semakin menyadari bahwa selama ini aku hanya berputar-putar ditempat yang sama. Bahkan Toshihiza dapat bersama dengan kekasihnya setelah memasuki masa perkuliahan.

Hanya diriku yang bergerak disatu tempat... seperti orang bodoh saja...

"Shouzo, kamu tidak apa-apa?," Nami membuyarkan lamunanku dan tanpa kusadari kelas teori hukum sudah berakhir. Seluruh penghuni kelas sudah sibuk dengan barang-barang mereka, sedangkan aku masih saja terdiam dengan buku terbuka dihadapanku ini. "Kamu sakit?"

Aku menggeleng. "Tidak apa," jawabku singkat. Tanpa membuang waktu, akupun segera merapikan seluruh buku kedalam tas lalu bersiap bergegas menuju kelas berikutnya. Tetapi aktivitasku terhenti ketika kusadari bahwa Nami masih menatapku dengan wajah bingungnya. "Aku tidak apa-apa, Nami."

Kali ini Nami menggeleng dan menepuk pundakku. "Tidak, Shouzo. Setiap kamu ada masalah, kamu selalu saja bersikap seperti ini. Kamu tidak bisa bohong kepadaku, Shouzo," ucapnya cepat sebelum aku berhasil memotong dugaannya. "Ceritalah."

"Tentu saja aku tidak bisa, karena ini mengenai dirimu," gumamku dalam hati dan hanya helaan nafas yang kuberikan kepadanya.

Seluruh jadwal kelasku untuk hari ini cukup padat! Banyak tugas maupun pekerjaan yang harus dilakukan dan tepat jam 7 malam baru kulangkahkan kakiku keluar dari lingkungan kampus. Langit mulai gelap dan lampu-lampu penerangan jalan sudah menyala terang. Binatang-binatang malam mulai melakukan aktivitasnya. Beruntung transportasi yang kugunakan tidak terlalu penuh dari biasanya sehingga aku dapat mengistirahatkan tubuhku sejenak.

Seiring kutatap pemandangan jalan sepanjang perjalanan pulang, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah taman yang cukup kosong, hanya 5 orang mahasiswa/i berkumpul ditengah-tengahnya. Pandanganku menjadi lebih fokus ketika mengetahui salah satu anggota mereka yang merupakan teman kecilku, Namiko.

Di sebuah halte yang tidak terlalu jauh dari taman, dengan segera kulangkahkan kakiku keluar dari dalam gedung dan berlari secepat mungkin mendekati tempat kejadian tersebut. Alasanku berlari karena Namiko dikelilingi oleh 3 orang perempuan dan 1 laki-laki, dan Namiko terlihat terdesak dengan mereka yang saling meneriaki. Tanpa berfikir panjang, dengan segera aku berdiri didepan Namiko dan menatap mereka semua dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Ada yang bisa jelaskan kepadaku mengenai kejadian ini?," ucapku dengan nada tinggi, sedangkan mereka hanya menatapku dengan penuh kekesalan. Seperti mengganggu anak kecil ditengah permainannya. Tidak ada jawaban dari mereka, akupun membantu Namiko untuk bangkit berdiri dan membantunya keluar dari pertahanan mereka berempat.

"Apa kamu tidak tahu rumor yang sudah menyebar di lingkungan kampus?," ucap salah satu dari mereka yang membuatku kembali membalikan badanku lalu menatap kedua matanya dengan tajam. "Perempuan ini sudah berani mendekati Gii-sama dan kamu sendiri... carilah orang lain! Jangan kotori Gii-sama!," serunya dan diikuti oleh kedua temannya yang mulai ikut berbicara.

"Apa? Mereka memanggil Gii dengan 'sama'?," ucapku dalam hati dan aku hanya bisa tertawa kecil mengenai 'informasi' yang mereka dapatkan. 'Beruntung bukan Hayama yang menjadi korban kalian... Jika itu sampai terjadi, kalian tidak tahu apa yang akan 'Gii-sama' lakukan kepada kalian...'

"Kenapa kamu tertawa?! Tidak ada yang lucu!"

Kutahan tawaku sesaat lalu menatap salah satu mahasiswi yang baru saja meneriakiku. "Akan kuberitahu satu hal. Aku tidak tahu dari mana rumor itu mulai datang, namun diriku tidak seperti yang kalian pikirkan! Hubunganku dengan Gii hanyalah sebatas teman dan rekan kerja! Sedangkan Nami, kami bertiga sudah berteman sejak kecil. Apakah dunia kalian terlalu 'kecil' sehingga kalian tidak tahu siapa kami?," kali ini kutatap mereka dengan tegas dan mereka mulai menunjukan 'pertahanan' mereka.

"A-apa maksudmu?!," ucap salah satu dari mereka denga penuh keberanian.

Kuberdiri dengan tegak lalu kembali menatap mereka secara keseluruhan. "Tidak hanya Gii, kamipun dapat 'membuang' kalian dengan mudah jika kami mau." Mereka kembali berteriak untuk menghentikan langkah kami dan dari sudut mata kutatap mereka tanpa membalikan tubuhku.

"Perusahaan Saki tidak mungkin bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan sombong seperti kalian. Akan kuberitahu sekali dan tidak ada pengulangan. Ayahku bekerja sebagai seorang pengacara sedangkan kedua orangtua Nami bekerja dikepolisian dan secara khusus bekerja dibawah perusahaan Saki. Apa kamu sudah mengerti dengan maksud perkataanku?"

Tidak ada satupun dari mereka yang bergerak atau memberikan komentar. Tidak ada reaksi, kuraih tangan Nami dan mengajaknya untuk segera pergi dari mereka. Setelah merasa cukup jauh, aku hanya dapat menghela nafas dengan segala kejadian yang berlalu dengan sangat cepat.

"Mungkin inilah rasanya membela diri dengan menggunakan 'latar belakang' sebagai pertahanan. Tidak heran jika Gii sering melakukan ini," gumamku dalam hati seiring langkahku masih tertuju pada halte yang cukup jauh dari posisi sebelumnya.

Tidak ada sepatah kata mengisi keheningan diantara kami berdua. Setelah beberapa saat, kamipun sampai ditengah keramaian dan kucari salah satu restauran kecil yang tidak terlalu ramai.

"Shouzo...," aku bergumam sebagai jawabannya seiring kedua mataku masih mencari tempat yang cukup jauh dari keramaian. "Boleh aku mengatakan sesuatu?," aku mengangguk dan berdeham sebagai jawaban untuknya. "...itu... ta-tanganmu..."

Tubuhku terhentak dan pusat perhatianku langsung berpindah pada sebuah tangan yang berada dalam genggamanku. Kusadari bahwa aku terus menggenggamnya sejak mengeluarkan dirinya dari keramaian. Merasa canggung, spontan kulepaskan genggamanku dan menunduk minta maaf kepadanya.

Nami tertawa kecil dan menepuk pundakku. "Tidak apa Shouzo," ucapnya singkat. "Akulah yang harusnya berterima kasih kepadamu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada dirimu tadi..."

Tiba-tiba saja detak jantungku berdetak sangat cepat dan kurasakan wajahku mulai memanas. Sebuah perasaan yang 'membingungkan' kembali datang dan mengisi seluruh pikiranku.

Keheningan mengisi jarak diantara kami berdua dan untuk mencairkan suasana, kuajak dirinya untuk beristirahat sejenak, sedangkan aku sendiri memutuskan untuk membeli sesuatu untuk kami santap. Tidak ada sedikitpun rencana maupun topik yang terlintas dipikiranku. Berharap suasana tegang seperti ini akan segera berakhir dengan baik.

Setelah 10 menit berlalu, dengan segera aku kembali menemani dirinya dengan dua buah gelas minuman serta makanan. Ketika kuletakan dihadapannya, sebuah senyuman kembali terukir diwajahnya, seakan-akan tidak ada beban sama sekali dalam pikirannya. "Terima kasih, Shouzo. Aku makan,ya," serunya singkat sebelum memasukan sesendok nasi kedalam mulut kecilnya.

Susana digin mencair dengan sendirinya. Senyuman dan keceriaan kembali pada dirinya. Setelah menikmati makan malam bersama, kuputuskan untuk mengantarnya pulang yang tidak jauh dari kediamanku. Sepanjang jalan, keheningan kembali mengisi diantara kami, selain topik presentasi kelompok maupun tugas mandiri.

"Nami, bolehkah aku bertanya sesuatu?," tanyaku tiba-tiba ditengah perjalanan pulang kami. Langkah kakinya dia hentikan lalu menatapku dengan bingung. Nami kembali bertanya kepadaku dan kurasakan detak jantungku yang mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. "A-apa pandanganmu mengenai Giichi?"

"Eh?," Nami terkejut dengan pertanyaanku namun dirinya tetap memberikan senyuman terbaiknya kepadaku. "Baik Gii maupun dirimu, kalian adalah orang yang paling berarti dalam kehidupanku...," Nami melangkahkan kakinya pada salah satu bangku yang tidak jauh dari tempat kami berdiri lalu kembali melanjutkan perkataannya. "Giichi.. orang yang menarik dan cukup aneh. Tetapi itu tidak menjadi masalah karena kita adalah sahabat..." Nami diam sejenak lalu kembali menatapku kedua mataku dan membuat wajahku terasa semakin panas. "Mengapa kamu bertanya demikian, Shouzo?"

Jantungku berdetak sangat cepat dan wajahku ikut memanas. Kurasakan arah pandanganku yang tertuju pada kedua kakiku dan dengan seluruh keberanianku, kukatakan sebuah pernyataan singkat pada dirinya. "A-aku.. menyukaimu, Nami..."

Nami menatapku dengan bingung dan rasa terkejutnya dapat terlihat jelas dari raut wajahnya. Perasaan takut maupun khawatir bercampur menjadi satu. "Mungkin ini terdengar aneh dan mungkin tidak disangka sama sekali ya...," ucapku setengah bercanda dan kurasakan rasa panikku semakin menguasaiku. "Ta-tapi... sungguh aku menyayangimu, Nami. Ba-bagaimana jawabanmu?"

Nami tersenyum, berjalan mendekatiku dan tiba-tiba saja kedua tangannya dia lingkarkan pada diriku. Tubuhku terhentak sesaat dan senyuman manisnya semakin terlihat jelas diwajahnya. "Terima kasih atas pernyataanmu, Shouzo...," perasaan takut kembali menguasaiku. "...dan sepertinya ucapan Gii memang benar... aku harus bersabar lebih jauh .. hanya untuk dirimu..."

Banyak pertanyaan terlintas di pikiranku. Nami kembali tersenyum seiring melepaskan pelukannya.

"Tidak hanya dirimu, Shouzo. Akupun.. sebenarnya sudah lama menyukaimu, tetapi aku tidak ada keberanian untuk mengatakannya kepada dirimu.. terlebih kita sudah bersahabat sejak kecil.."

"Be-benarkah?," ucapku tidak percaya. "...la-lalu... apa maksudmu dengan... ucapan Giichi...?"

Nami kembali mengangguk sesaat sebelum melanjutkan penjelasannya. "Sebenarnya aku selalu meminta bantuan Giichi untuk mengetahui aktivitasmu. Dirimu yang sulit untuk dihubungi tentu saja membuatku merasa kesepian. A-apa kamu tidak menyadarinya...?"

"Ma-maaf..."

Nami menggeleng dan kali ini dia kembali memelukku. "Terima kasih Shouzo... Akhirnya kita dapat bersama dan menghilangkan segala gosip yang ada?," tubuhku terhentak sesaat setelah menyadari maksud perkataannya.

'Jadi... dia juga merasa terganggu dengan gosip-gosip itu?'

Aku mengangguk dan kini kedua tanganku memeluknya dengan erat. "Tentu saja. Kita hilangkan segala dugaan dan gosip itu bersama-sama..."

Sesaat kulepaskan pelukanku dan dalam hitungan detik, bibir kami saling bersentuhan. Kehangatan mengisi jarak kami berdua di tengah dinginnya malam. "Terima kasih, Nami. Terima kasih untuk jawaban yang kamu berikan untukku..."

Tidak ada jawaban selain sebuah pelukan erat darinya. Senyuman kini terukir diwajah kami berdua. Banyaknya bintang yang bertaburan digelapnya malam, menghiasi segala kebahagiaan pada diri kami. Malam yang begitu tenang terasa menyenangkan walaupun udara dingin mulai menembus pakaian tebal kami.

-OMAKE-


"Oh ya, Shouzo… Apa Gii sudah tahu rencanamu ini?," ucap Nami seiring mulai melanjutkan langkah kami menuju rumahnya. Aku menggeleng dan berbalik bertanya kepadanya. "Tidak apa-apa.. Karena kalian begitu dekat, aku berfikir... kalau...," kami berdua tertawa sejenak seiring kedua tangan kami saling bertautan.

"Tidak semua hal kuceritakan kepadanya, Nami…"

"Oh ya, Shouzo…," sambung Nami ketika kami hampir tiba didepan rumahnya. "Apa kamu tahu siapa 'orang' yang menjadi kekasih Giichi?," tubuhku terhentak sesaat dan berbalik tanya kepadanya. "Aku pernah bertanya kepadanya namun dia tidak pernah memberikan jawaban pasti kepadaku! Apa kamu tahu sesuatu?"

"I-itu…," kupalingkan pandanganku dan mencoba mencari topik lainnya.

"Shouzo… beritahu aku…," pintanya seiring menatapku dengan memelas.

Tidak mungkin aku ceritakan pada Nami! Tidak! Tidak! Harus Giichi sendiri yang mengatakannya kalau pasangan yang Giichi sukai itu..! Giii! Bantu aku!

-00The End00-

Thanks for read this… 

Tuesday, July 9, 2013

TS_Once fo More



Title : Once for MoreCharacters : Shingyouji Kanemitsu – Misu Arata
Dec : Gotou Shinobu
Rat : M
A/N : Aoi hanya memposting ulang dari yang pernah Aoi posting di FFN sebelumnya ^^/ ( link )



-00START00—


Cuaca yang tidak menentu dibeberapa tempat dengan udara cukup dingin, membuat banyak penghuni kota memutuskan untuk tetap berada ditempat tinggal mereka. Tidak hanya manusia, binatang kecilpun lebih memilih untuk tetap berada dikediaman mereka dan melakukan aktivitas lainnya yang lebih aman.


Turunnya hujan sejak kemarin malam membuat beberapa jalanan yang berdasarkan tanah menjadi lebih lunak dari pada biasanya. Bebatuan yang terpasang dengan rapih mulai keluar dari tempatnya, bahkan untuk posisi ketinggannyapun mulai berbeda. Berjalan dengan hati-hatipun tidak menjamin bahwa sepatu yang dipakai akan tetap bersih sampai di tempat tujuan. Jika sudah seperti ini, tidak ada yang dapat menghindar terlebih pada tuntutan atas pekerjaan.

Selesainya pelajaran di hari terakhir sebelum akhir pekan membuat seluruh siswa maupun guru sekolah Shidou merasa senang dan bersemangat. Menutup buku absensi kelas dan memberi salam terakhir, langsung dipenuhi dengan suara teriakan seluruh siswa yang sudah tidak sabar untuk kembali ke asrama mereka untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Tidak dapat aku tutupi rasa semangatku untuk segera kembali ke asrama dan mengunjungi salah satu ruangan yang menjadi tempat kesukaanku untuk menghabiskan waktu. Ya, sebuah tempat dimana terlihat membosankan, namun terdapat seseorang yang sangat aku sayangi berada didalamnya.

"Selamat liburan," seru salah satu teman sekelas sekaligus teman sekamarku seiring menepuk pundakku perlahan dan mau tidakmaupun aku membalas sapaannya. "Shingyouji, apa kamu akan pulang di akhir pekan ini?" Aku menggeleng sebagai ganti jawaban dan berbalik bertanya kepadanya.


"Tidak apa. Aku hanya teringat kalau kamu jarang pulang saja. Kalau begitu, aku titip kunci asrama kepadamu."

"Ya, tenang saja," seruku dengan santai. Temanku menggeleng dan tertawa kecil. "Ke-kenapa, Ishida-kun? Kenapa jawabanmu seperti itu?"

"Justru karena DIRImu, Shingyouji!," balasnya seiring dirinya menghela nafas. "Baiklah, setelah aku selesai merapikan barang-barangku, akan ku berikan kunci kamar beserta nama agar tidak hilang." Jelasnya singkat.

"I-ishida-kun…,"

"Shingyouji, aku tahu kalau kamu sering kehilangan barang dan kali ini aku berharap kamu lebih berhati-hati. Kamu tahu sendiri bagaimana susahnya meminta kunci duplikat bukan?" Aku mengangguk perlahan tanpa mengalihkan pandanganku kearah kedua kakiku. "Bersemangatlah, Shingyouji…," Ishida mendekatiku dan berbisik, "Bukankah ini menjadi kesempatan dirimu bersama dengan senior 'kaku' itu?"

Kurasakan wajahku memerah dan detak jantungku berdetak cepat. "I-ishida-kun!"

"Bersenang-senanglah, Shingyouji." Serunya dan meninggalkan diriku yang hanya bisa tersipu malu dengan perkataannya itu. Ishida adalah teman sekamar sekaligus teman baikku dikelas ini. Sejak mengenal dirinya, akupun kurang mengerti mengenai pola pikirnya karena sifanya yang tertutup. Tetapi kuakui bahwa Ishida orang yang baik karena sering kali dia membantu dan mengerti situasiku walau sebenarnya aku jarang menceritakan masalahku selain mengenai pelajaran kelas. Terlebih hubunganku dengan Arata-san, dia cukup mengerti walaupun aku lebih banyak bercerita dengan Hayama-san dibandingkan dengan Ishida-kun.

Kukeluarkan sebuah tas kecil berisi buku-buku perpustakaan yang ingin aku kembalikan sebelum kembali ke dalam asrama. Tidak begitu jauh jarak antara perpustakaan dengan ruang kelasku. Memilih beberapa buku refrensi untuk tugas-tugasku beserta sebuah buku novel yang cukup menarik walaupun banyak temanku merasa aneh dengan kegiatanku ini. Ya, sebuah buku novel yang banyak menceritakan keseharian dalam peperangan dari pihak penyerang maupun korbannya. Cukup membuat detak jantung berdetak cepat maupun mengeluarkan air mata atas kengerian yang diceritakannya.

Tanpa terasa telah kuhabiskan lebih dari 1 jam untuk memilih keseluruhan buku yang ingin kupinjam, sampai pandanganku terhenti pada sebuah majalah bertemakan kepribadian. Tema majalah ini banyak membahas mengenai permasalahan dalam remaja seperti masalah dalam pertemanan maupun percintaan. Tanpa kusadari, kuraih buku tersebut dan memasukan kedalam tumpukan buku yang ingin kupinjam.

"Ah,selamat sore, Shingyouji-kun," sapa seseorang dengan lembut seiring berjalan perlahan mendekatiku. Hayama Takumi, seniorku sekaligus 'harta karun' ketua asrama untuk angkatanku, Saki Giichi. Merekapun termasuk teman dan lawan bagi seseorang yang sangat aku sayangi, dimana dia mempunyai jabatan sebagai seorang ketua osis , Misu Arata.

"Selamat sore, Hayama-san," balasku. "Baru selesai pelajaran tambahannya?," tanyaku mengingat mereka sudah memasuki masa ujian saringan universitas maupun ujian kelulusan.

Hayama-san mengangguk perlahan. "Oh ya, Shingyouji-kun, apa kamu sudah ada rencana hari ini?" aku bertanya balik untuk memastikan maksud pertanyaannya itu. "Hari ini aku berencana akan membeli beberapa keperluan di sebuah took yang baru saja dibuka minggu lalu. Bagaimana? Apa kamu bisa menemaniku?"

Aku terdiam sejenak dan menatapnya. "Maafkan aku, Hayama-san. Aku bukan bermaksud menolak, namun apa tidak apa-apa?," tanyaku lagi memastikan. Maksud dari pertanyaanku adalah 'izin' kepergianku bersama dengan Hayama-san dari seseorang yang sangat menyayangi sekaligus cukup menyeramkan jika sedang marah.

Hayama-san tertawa bercampur tersipu malu dihadapanku. "S-shingyouji-kun! Te-tenang saja. Lagipula akan lebih berbahaya jika aku pergi bersama dengan Gii. Hari ini masih banyak siswa kelas satu dan aku tidak mau menimbulkan keributan dari masalah kecil seperti ini. Bagaimana, Shingyouji? Kumohon…" Kutatap raut wajah Hayama-san yang sungguh-sungguh meminta bantuan kepadaku. Aku mengangguk perlahan dan disambut keceriaan beserta senyuman dari Hayama-san. "Aku akan kekamarmu 1 jam lagi dari sekarang. Bagaimana?"

"Baiklah, Hayama-san. Sampai bertemu nanti," pamitku kepadanya dan kamipun kembali melanjutkan perjalan menuju tempat tujuan masing-masing.

Merapikan buku-buku pelajaran maupun mengganti seragamku dengan segera dan kusadari Hayama-san masih belum datang menjemputku. Kuraih majalah yang kupinjam dari perpustakaan sebelumnya, dan kusadari wajahku sedikit memerah setelah membaca salah satu artikel utama majalah tersebut. Ditengah aku membayangkan diriku bersama dengan Arata-san dalam artikel tersebut, kudengar sebuah ketukan dan kudapatkan Hayama-san berada dihadapanku.

"Maaf, Shingyouji-kun. Sepertinya kamu sedang sibuk. Apa tidak apa-apa kamu menemaniku?."
Aku mengangguk perlahan. "Tidak apa-apa, Hayama-san. Aku hanya membaca majalah saja, bukan pelajaran kelas, kok." Jelasku singkat untuk segera meyakinkan Hayama-san. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita segera berangkat sebelum hari semakin malam?" Hayama-san mengangguk dan dengan segera kami berjalan menuju pintu keluar lingkungan Shidou.


Hampir 1 jam kami menghabiskan waktu didalam toko baru tersebut. Hayama-san membeli beberapa kebutuhan, namun tidak ada satupun yang membuatku tertarik untuk membeli salah satu barang apapun, sampai langkah kakiku membawaku ke salah satu rak berisi makanan. Permen coklat yang pertama kali aku berikan untuk Arata-san, walaupun pada akhirnya permen tersebut dikembalikan kepadaku.

Mengingat Arata-san yang sering mengambil permen dari saku tasku, akupun membeli beberapa bungkus coklat untuk persiapan. Aku tidak marah ataupun merasa kesal dengan Arata-san, karena aku mengetahui bahwa sebenarnya Arata-san ingin memakan sesuatu untuk mengisi tenaganya, hanya saja pekerjaan yang memaksanya untuk tetap berada di ruang osis. Beberapa kali aku mengingatkan Arata-san untuk beristirahat, namun penolakan secara terus menerus yang aku dapatkan. Tidak ingin menjadi pengganggu baginya, akupun memilih untuk diam dan membiarkannya memakan persediaan coklat milikku.

"Bagaimana, Shingyouji? Barang apa saja yang kamu beli?," Tanya Hayama-san setelah membayar dan menemuiku di bangku depan toko ini. Aku yang hanya membeli beberapa bungkus ini, lebih cepat selesai dibandingkan dengan Hayama-san. Bukan menjadi masalah besar atas perbedaan sikap antara aku dengan Hayama-san. Perlunya ketelitian dalan berbelanja dalam harga maupun tanggal produksi menjadi hal pertama didalam pikiranku.

"Aku hanya membeli beberapa makanan kecil saja." Jelasku singkat. "Bagaimana dengan Hayama-san?"

"Ya, aku sudah membeli seluruh kebutuhanku. Toko ini siungguh menarik! Suatu saat nanti, aku harus mengajak Gii kesini," ucapnya dengan antusias. "Baiklah, ayo kita kembali." Aku mengangguk dan tanpa membuang waktu, kamipun segera menuju halte untuk menggunakan kendaraan menuju asrama.

Sesampainya di lingkungan Shidou, kami berpisah satu sama lain karena letak kamar kami yang berbeda. Kulanjutkan langkahku menuju lantai 3, dimana tempat kamarku berada. Kukeluarkan kunci kamar dari sakuku namun kudapatkan keadaan pintu kamarku yang tidak terkunci. Kurasakan detak jantungku berdetak cepat dan seluruh perkiraan aneh mengisi otakku. Kuyakinkan diriku untuk tetap berfikir positif dan dengan segera kubuka pintu kamarku. Tubuhku terhentak dan kurasakan mulutku sedikit terbuka atas ketidakpercayaan diriku dengan apa yang ada didepanku saat ini. Seseorang yang biasanya aku 'datangi', kini berada diatas tempat tidurku dalam keadaan tertidur pulas. Ya, seorang Misu Arata kini berada dikamarku.

Perlahan kututup pintu kamarku, meletakan barang belanjaanku tidak jauh dari meja belajarku, dan berjalan perlahan mendekati dirinya. Kulipat kedua kakiku disisinya dan menatapnya dalam keheningan. Tidurnya begitu tenang menandakan bahwa dia sangat membutuhkan banyak istirahat atas seluruh pekerjaan yang selalu dia kerjakan ini. Tanpa kusadari, tangan kananku mengelus rambutnya yang begitu halus dan lembut secara perlahan. "Arata-san, aku sungguh menyayangimu…," ucapku perlahan seiring aku tersenyum melihat tidurnya seperti seorang anak kecil.

"Shingyouji….," tubuhku terhentak ketika tiba-tiba saja Arata-san membuka kedua matanya dan menatapku perlahan. Kusembunyikan tanganku dibelakang punggungku seakan ada sesuatu yang aku sembunyikan darinya, walau sebenarnya aku tidak ingin Arata-san marah atas tindakanku ini. Arata-san bangun dari posisi tidurnya tanpa mengalihkan pandangannya kepadaku. Aku diam menunduk untuk menutupi rasa maluku kepadanya. "Shingyouji, kemana saja dirimu? Mengapa kamu pergi tanpa memberitahu apa-apa kepadaku? Inikah sikap 'peliharaan' yang baik?"

Terburu-buru aku menggeleng dan menatapnya. "Bu-bukan, Arata-san. A-aku bukan bermaksud untuk seperti itu. Maafkan aku, Arata-san." Arata-san diam menatapku dan sungguh membuatku semakin merasa bersalah kepadanya. "A-arata-san…," aku memanggilnya sesaat dan menatapnya penuh harap. "…a-apa…Arata-san…marah kepadaku? Ku-kumohon maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi," ucapku lagi.

Arata-san menghela nafas dan sebuah senyuman terukir diwajahnya seiring tangan kanannya mengelus rambutku. "Aku tidak marah, Shingyouji. Jadi…," kedua mata kami saling bertemu dan kurasakan jari tangannya yang begitu lembut menyentuh wajahku. "…berhentilah menangis untuk hal yang tidak perlu, Shingyouji."

Tubuhku terhentak dan sesaat akupun menghapus air mataku dengan punggung tanganku. Wajahku terasa panas dan memerah karena rasa maluku didepan Arata-san. Sungguh aku tidak percaya mengapa aku bisa menangis seperti ini, terlebih didepan orang yang aku sayangi. "Maafkan aku, Arata-san. Aku…aku…,"

"Sudahlah, Shingyouji. Aku tidak mau mendengar alasanmu. Semakin aku mendengarnya, maka kamu akan semakin menangis." Arata-san bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju pada sebuah kursi didepan meja belajarku. "Apa saja yang kamu beli?"

Terburu-buru aku menghapus air mataku dan mengeluarkan beberapa makanan kecil diatas meja belajarku. "Aku hanya membeli makanan ringan. Apa Arata-san…mau?," ucapku seiring mencoba membuka salah satu bungkusan makan, namun tindakanku terhenti disaat tangan Arata-san menahan pergerakan lengan tanganku. "A-arata..san…?"

Arata-san menggeleng dan tiba-tiba saja dia kembali tersenyum melihatku. Sungguh aku tidak mengerti dengan tindakan Arata-san malam ini. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya menjadi berbeda dari pada biasanya. Tanpa izin terlebih dahulu, tangan kananku menyentuh keningnya dan sedangkan tangan kiri memegang keningku sendiri. Kurasakan suhu tubuhnya yang tidak begitu jauh dariku.
"Shi-shingyouji! Aku ini tidak sakit," Arata-san menepis tanganku dan membalikan badannya dariku. "Tiba-tiba saja perkataan dari Saki terngiang di kepalaku. Untuk kali ini, aku menyetujui pendapatnya dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya."


"E-eh? Ma-maksdnya? Arat-," hangat tubuh Arata-san menghentikan perkataanku. Dalam hitungan detik, Arata-san menarik kerah bajuku dan menciumku dengan lembut. Sebuah ciuman yang sudah lama sekali tidak aku rasakan sejak perayaan Tanabata. Tanpa kusadari, kupejam kedua mataku menikmati sensasi yang Arata-san berikan kepadaku. Setelah beberapa saat, kami saling memberi jarak diantara wajah kami untuk mengambil nafas sejenak.

"A-arata…san…,"

Mata kami saling bertemu dan kurasakan tatapan serius Arata-san yang diberikan kepadaku. "Shingyouji…apa hari ini aku boleh bermalam disini?"

"E-eh?!" kejutku yang membuatku semakin panik. Seorang ketua osisi, dimana terkenal dengan ketegasannya maupun sikap kakunya, kini meminta sesuatu kepada seseorang yang lebih dianggapnya sebagai 'peliharaan' ini? Sungguh aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar darinya. "Ta-tapi… mengapa? Tidak biasanya, Arata-san…"

Arata-san menghela nafas dan bersandar pada punggung kursi seiring menatap langit gelap melalui jendela kamar ini. "Hari ini Saki berada dikamarku bersama dengan Hayama. Apa kamu mengerti dengan maksud perkataanku, Shingyouji?"

Ya, aku mengetahui dengan jelas hubungan Saki-senpai maupun Hayama-san. Mendengar perkataan Arata-san, rasanya seperti sebuah mimpi! Pada akhirnya aku bisa bersama dengan Arata-san, walaupun hanya semalam. "Aku mengerti, Arata-san dan anggaplah kamar ini seperti kamar milik sendiri, Arata-san."

Arata-san mengangguk dan mengelus kepalaku kembali. Tangan yang begitu kecil memberikan kehangatan tersendiri kepadaku. Rasa tenang maupun rasa nyaman sangat terasa olehku. Ingin rasanya aku mengabadikan saat-saat seperti ini, Suasana yang begitu jarang kurasakan dari seorang ketua osis, Misu Arata.

Kedua mata kami saling bertemu seiring aku kembali menatapnya. Kurasakan tangan kanannya menyentuh wajahku, menariknya secara perlahan dan bibir kamipun saling bertemu. Diluar kendaliku, kedua tanganku melingkar pada tubuh kecilnya. Kedua tangan Arata-san masih memegang wajahku, dan setelah beberapa saat dia kembali memberi jarak dan menatapku, "Shingyouji…bolehkah…?"

"E-eh…?" Arata-san menarikku untuk duduk diatas tempat tidurku, lalu kembali mengecup pipiku. Detak jantungku semakin berdetak cepat dan wajahkupun semakin memerah. "A-arata…san…," ucapku perlahan sebelum Arata-san kembali mendekatkan wajahnya dan mendorongku untuk berbaring diatas tempat tidurku.

Tangan kecilnya membimbingku untuk tetap berada dalam posisiku. Detak jantung terus berdetak cepat, dan wajah semakin memerah seiring kurasakan lidah kami yang saling beradu maupun deru nafas dari seseorang dihadapanku ini. Kupejamkan kedua mataku untuk menikmati saat-saat berharga ini hingga akhirnya Arata-san memberikan jarak dan akupun hanya bisa menatapnya dengan penuh kebingungan. Tanpa kusadari, kupalingkan wajahku dan mengambil selimut yang berada disisiku untuk menutup seluruh wajahku.

"Shingyouji?"

"Ma-maafkan aku, Arata-san. Maafkan aku. Penampilanku saat ini pasti sangat berantakan," ucapku terbatah-batah akibat rasa malu yang sudah tidak bisa aku pertahankan lagi. "A-aku benar-benar minta maaf…"

"Semakin banyak kamu meminta maaf kepadaku, posisiku akan semakin disudutkan dan akupun semakin merasa bersalah atas tindakanku ini." Terdengar helaan nafas Arata-san sebelum dia kembali berbisik kepadaku. "Shingyouji, jangan tutupi wajahmu."

"Ta-tapi…,"

"Biarkan aku melihat wajahmu, Shingyouji. Apa kamu mau menolak perintah dariku, Shingyouji? Apa kamu mau menjadi 'anak' nakal?"

Aku menggeleng tanpa melepaskan kain penutup wajahku ini. "A-arata…san…a-apa aku boleh meminta sesuatu terlebih dahulu?" Arata-san berdeham sebagai ganti jawaban untukku. "A-aku…lupa..untuk mengunci pintu kamar..ja-jadi…a-aku…," kurasakan wajahku semakin memerah dan terdengar tawa kecil dari Arata-san.

"Jika demikian, tentu saja aku akan melaksanakannya, Shingyouji…" Arata-san berjalan perlahan meninggalkanku lalu terdengar suara aduan kunci sebagai tanda bahwa pintu sudah tertutup dengan aman. Selain itu, kusadari bahwa lampu kamar inipun di matikan seluruhnya oleh Arata-san sehingga hanya cahaya bulan yang menyinari seluruh ruangan ini.

"A-arata..san…mengapa…lampunya…?"

"Bukankah kamu merasa malu dengan diriku ini? Dengan begini tidak ada dari kita dapat melihat dengan jelas. Bagaimana?"

Wajahku kembali memerah dan perlahan akupun membuka kain penutup wajahku. Kini bayangan Arata-san mendekati diriku dan kamipun kembali merasakan kehangatan tubuh masing-masing dari kami sebelum melanjutkan ke tingkat berikutnya.

Jari-jarinya yang begitu kurus dan lembut mulai menyentuhku. Tangan kanan Arata-san tetap memegang wajahku namun tangan lainnya mulai menyentuh seluruh tubuhku hingga kurasakan sensasi yang berbeda dari biasanya. Perasaan malu yang bercampur rasa geli menguasai tubuhku. Terbawa oleh sensasi tersebut, kurasakan ada sebuah suara berbeda yang keluar dari mulutku. Mendengar itu cukup membuatku panik karena aku tidak mengerti dengan gejala yang terjadi padaku saat ini.

"A-arata…san… ja-jangan…," ucapku seiring kututup mulutku dengan telapak tangan kananku. Tangan kanan Arata-san mulai membuka kemeja yang aku gunakan, sedangkan tangan kirinya mengelus rambut beserta wajahku. Setelah tubuhku terlepas dari kemeja milikku, kini wajah Arata-san didekatkan dan kurasakan sensasi yang lebih mengejutkan, dan dapat kudengar dengan jelas bahwa suara 'aneh' tersebut bersumber dari diriku.

"Ku-kumohon…hentikan…," ucapku perlahan dan berusaha untuk menahan suara 'aneh' tersebut. "Jika dilanjutkan, suara aneh tersebut akan terus datang…"

Arata-san terdiam menatapku tanpa memindahkan posisi wajahnya diatas perutku. "Suara 'aneh', Shingyouji?"

Aku mengangguk. "Ya, ada suara 'aneh' yang keluar dari mulutku dan aku merasa takut dengan 'suara' tersebut…"

Arata-san tersenyum dan menghapus air mataku yang mulai mengalir karena rasa takut yang datang secara tiba-tiba. "Suara itu muncul karena kamu menikmati saat-saat seperti ini, Shingyouji…" Aku terdiam bingung mendengar penjelasan singkatnya. "Tenang saja, Shingyouji. Aku tidak akan menyakitimu dan biarkan aku mendengar suaramu. Itu bukanlah suara 'aneh', tetapi suara dimana kamu menerima atas tindakanku ini."

"Benarkah?," tanyaku memastikan dan Arata-san mengangguk. Aku lepaskan telapak tanganku dan Arata-san kembali menelusuri tubuhku hingga kini kurasakan bahwa kedua tangan Arata-san mulai menyentuh tubuhku yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Perlahan kedua tangannya mulai membuka kancing celana jeansku, membukanya dan meletakannya tidak jauh dengan kemeja milikku.

"A-arata…san! Ja-jangan!"

"Mengapa, Shingyouji? Apa kamu tidak mau untuk melanjutkannya?"

Aku menggeleng dan menatapnya. "A-aku…takut…Arata-san…" kupalingkan wajahku dan mencoba mencari kata-kata yang tepat untuknya. "…se-selain itu, i-ini…hal yang pertama untukku… aku takut kalau…nanti…aku…aku…"

Suasana menjadi tegang atas kepanikanku sendiri. Tidak ada sepatah kata keluar dari mulutnya selain menarik tangan kiriku dan meletakan didepan dadanya. Terasa dan terdengar suara deru jantung Arata-san ditelapak tanganku. Aku terhentak kaget dan Arata-san tersenyum kepadaku. "Apa kamu baru mau menerimaku setelah kamu 'berlatih' terlebih dahulu, Shingyouji? Sekedar informasi untukmu, inipun pengalaman pertama untukku. Apa kamu mengerti, Shingyouji?"

Kurasakan kedua tanganku bergerak melingkari tubuhnya dan menariknya kedalam pelukanku. "Arata-san…Aku sungguh menyayangimu!," seruku dan perlahan kurasakan hangat tangannya kembali bergerak menyentuh bagian tubuhku yang paling sensitif. Kusandarkan wajahku pada bahu kanannya dan suara 'aneh' yang sebelumnya aku takuti, kini menjadi sebuah alunan musik yang mengisi keheningan di ruangan ini.

Suhu tubuh yang semakin memanas seiring tubuh kami saling bertemu. Kedua tangan Arata-san terus bekerja menyentuh tubuhku hingga kurasakan adanya 'sesuatu' yang memasuki tubuh dan memaksaku untuk mengerat kedua tanganku. Perlahan air mata keluar dari sudut mataku akibat rasa takut yang belum pernah aku rasakan ini.

"Shingyouji, kamu tidak apa-apa?."

Tubuhku terhentak ketika menemukan tempat posisi Arata-san yang sungguh membuatku terheran-heran. "Bu-bukankah disitu…kotor, Arata-san? Me-mengapa…?"

"Tidak, Shingyouji. Aku harus mempersiapkan dirimu terlebih dahulu, karena aku tidak ingin menyakiti dirimu. Terlebih ini pengalaman pertama untuk kita berdua, Shingyouji…," ucapnya secara singkat dan kembali menyentuh tempat tersebut dengan lidahnya. Aku hanya bisa terdiam malu dan menikmati seluruh sensasi yang diberikannya padaku. Kueratkan tanganku pada sisi tempat tidurku disaat kurasakan sesuatu yang mulai memasuki tubuhku.

"A-arata…san…," panggilku terbatah-batah seiring pandanganku mulai mengabur.

"Tenanglah dan tahan sejenak, Shingyouji. Aku akan mempersiapkan dirimu dengan perlahan-lahan," kurasakan sesuatu bergerak perlahan memasuki tubuh, dan kedua matakupun tertutup menahan rasa sakit. "Tenanglah dan percaya padaku, Shingyouji." Wajah Arata-san didekatkan padaku dan diapun menciumku untuk menenangkanku. Tangan kiriku menggenggam erat bahunya seiring Arata-san mulai menggerakan jarinya didalam tubuhku. Gerak lambat jarinya perlahan ditambahkan olehnya hingga akhirnya tubuhku mulai terbiasa dan akupun tidak merasakan rasa sakit lagi. Tetapi digantikan oleh rasa nyaman dan ingin sesuatu yang lebih dari persiapan dirinya.

Kubuka kedua mataku perlahan dan menatap wajah Arata-san yang semakin membuatku menyukainya. Tubuhku kembali menegang disaat Arata-san memposisikan dirinya berada diantara kedua kakiku dan menyentuh bagian tubuhku yang paling sensitif. "A-arata..san…," suaraku terdengar bergetar seiring menatapnya. Tangan lembutnya mulai bergerak perlahan seiring kurasakan 'sesuatu' mulai dipaksakan masuk kedalam tubuhku. Kedua tanganku mengerat keras sisi tempat tidurku dan air mata mulai keluar dari sudut mataku.

"Tenanglah, Shingyouji. Aku tidak akan bergerak sampai tubuhmu terbiasa," bisiknya dan dilanjutkan dengan mengecupku dalam-dalam. Kurasakan lidah kami saling beradu dan jari-jari kami saling terkait satu sama lain. Tanpa kusadari bahwa tubuh Arata-san sudah memenuhi tubuhku hingga kurasakan sesuatu yang membuat pandanganku kembali mengabur. Genggamanku semakin mengeras disetiap Arata-san menyentuh bagian tersebut. "Ah, ternyata aku menemukannya."

Deru nafas dan jantungku mulai tidak stabil. Seiring Arata-san menggerakan tubuhnya, tubuh beserta pikiranku mulai dluar kendaliku. Nama 'Arata-san' terus menerus terucap dari mulutku hingga akhirnya kukatakan sesuatu yang belum pernah kuucapkan sebelumnya. "A-arata…san… panggil aku...dengan namaku…kanemitsu…ku-kumohon…," ucapku seiring Arata-san mulai mempercepat pergerakannya.

"Ka-kane…mitsu…," panggil Arata-san yang membuatku semakin tidak bisa mengendalikan tubuhku. Seiring Arata-san mempercepat gerak tubuhnya, kurasakan gerakan tangannya yang semakin dipercepat pada bagian sensitifku. Eratan tanganku semakin keras dan akupun hanya bisa pasrah dengan diriku ini.

"A-arata..san…a-aku…aku…"

"Ka-kanemitsu…!"

Cairan hangat mengalir didalam tubuhku, sedangkan cairan yang terasa dingin mulai mengotori tubuh kami berdua. Kuatur nafasku kembali dan menatap Arata-san yang berbaring disebelahku. Kedua mata kami saling menatap satu sama lain dan sebuah kecupan menjadi obat penenang dalam pengalaman pertamaku ini.

"Apa ada sesuatu yang aneh dengan tubuhmu, Kanemitsu?" tanyanya disaat Arata-san mulai bangun dari tidurnya dan menatap seluruh tubuhku yang sudah kotor ini. Aku menggeleng dan tersenyum padanya. "Lebih baik kamu istirahat dan biarkan aku yang membersihkan dirimu."

"Ta-tapi aku ingin memba-," ucapanku terhenti dengan sebuah ciuman dari Arata-san. "Arata-san!"

"Shingyouji…ah, tidak. Kanemitsu. Selama ini kamu yang selalu berada disisiku. Membantuku disetiap aku membutuhkanmu, dan kini saatnya aku membalas seluruh kebaikanmu itu."

"Ta-tapi…"

Kali ini Arata-san menatapku tajam. "Apa kamu ingin menjadi 'peliharaan' yang nakal, Shingyouji Kanemitsu?"

Jika Arata-san sudah memanggil namaku dengan lengkap, itu bertanda bahwa dia sudah mengambil keputusan dan tidak ada siapapun yang dapat merubahnya. "A-arata…san… Ma-maukah Arata-san..menemaniku sampai aku tertidur?"

Arata-san menghela nafas dan tersenyum padaku. "Tindakanmu tidak sesuai dengan besar tubuhmu." Arata-san duduk disisiku, tangan kanannya menggenggam tanganku dan tangan kirinya mengelus rambutku. "Istirahatlah. Kanemitsu, sepertinya untuk beberapa saat ini aku ingin meminta 'balasan' atas bantuanku kepada Gii sebelumnya. Aku ingin bersama dirimu untuk beberapa waktu ini, Kanemitsu. Bolehkah?"

Wajahku memanas, lalu aku mengangguk dan menutup kedua mataku. Kurasakan hangat tubuh Arata-san melalui genggaman tangan kami berdua dan gerakan tangan kirinya pada kepalaku, membuat tenagaku semakin bekurang. Rasa kantuk semakin menguasai tubuh beseta pikiranku. Hingga kusadari bahwa akhirnya aku mulai memasuki dunia lain dan berharap bahwa pengalaman yang baru saja aku lakukan bersama dengan Arata-san bukanlah sebuah mimpi. Jika ini adalah mimpi, aku hanya berharap bahwa aku tidak akan bangun karena ketidakmauanku untuk berpisah dengannya.



-FINISH-


A/N : Ba-bagaimana?Terlalu panjang ? terlalu singkat? OOC sekali? Gomen ne… Aoi memang 'Tarundoru' *dari SanadaGenichirou-Tenipuri* ^_^/ j-jya.. sekian dulu dari Aoi.\


Jyaaa.. have nice dayz….