Sunday, June 6, 2010

howcome part 3

How Come part 3

Pov: Sanada genichirou

Des: Konomi sensei...

Charac: sanayuki

Rat: M

------

-sanada genichirou-

Bingung. Takut. Menyesal. Tidak ada kata yang pantas untuk menjelaskan bagaimana dan seperti apa perasaanku saat ini. Keringat dingin. Ketakutan. Khawatir. Mungkin semua itu memang ada memenuhi pikiranku saat ini. Diam terpaku melihat sang kekasih menangis sambil memegang sesuatu yang seharusnya aku sudah membuangnya beberapa hari lalu. Karena rasa cemas dan ketakutanku itulah yang membuatku masih menyimpannya hingga tanpa aku sadari bahwa akibat dari perbuatanku ini, menjadikan suatu masalah baru.

“Genichirou! Sanada Genichirou!” seru kekasihku yang semakin meninggikan nada suaranya. “Genichirou! Jelaskan padaku, apa maksud dari ini semua?!” serunya ditengah isakannya.

Kumohon... jangan menangis. Jangan berkata demikian.... setiap kata-kata darimu, sungguh membuatku menjadi semakin bingung dengan keadaan ini. Apa dan dari manakah harus aku jelaskan kepadamu... apakah kamu akan mempercayaiku?

Ditengah kegalauanku ini, teringat pesan dari temanku, Niou, bahwa aku harus bisa jujur pada diriku sendiri dan dengan cepat memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, semua itu bagaimana mungkin. Ditambah bahwa masalah yang sedang aku alami ini tidak seperti masalah yang biasa saja. Ini sudah menyangkut masalah dalam rumah tangga yang tidak ada seorangpun bisa memberika jalan keluarnya.

“Genichirou...”isak tangisnya berhenti. Raut wajahnya menunjukan bahwa dia sedang bingung melihat sesuatu.

Tanpa disadari wajahku menjadi basah. Kupegang wajahku sendiri dan duduk lemas dihadapannya. “Maaf... maafkan aku...”

“Genichirou...?”

“Seiichi... maafkan aku...” pintaku sambil menutup kedua wajahku. “Maafkan aku... sudah menyusahkanmu...”

Tiba-tiba saja raut wajahnya menjadi kesal. “Jadi benar?! Ini milik siapa?! Kamu benar-benar sudah tidak membutuhkanku lagi? Jadi kamu sudah...” kata-katanya berhenti saat aku memeluknya dengan erat. “Le-lepaskan aku!”

“Tidak!” seruku. “Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mendengar penjelasanku”

“Apa yang perlu dijelaskan lagi!” bantahnya. “Bukankah ini sudah menunjukan bukti bahwa kamu...” kali ini aku menciumnya dengan kasar. “Hen-hentikan!” rontanya. Tapi itu semua percuma karena tanaga kami yang berbeda jauh.

“Seiichi... “ kupanggil namanya dengan lembut. “Bisakah kamu mendengarkan penjelasanku sesaat...” pintaku sambil bersadar pada bahunya.

“Gen-genichirou...?” perlahan dia mengusap rambutku dan dengan tangan satunya dia lingkarkan memeluk tubuhku. “Bagaimana kalau kita duduk sejenak?” ajaknya. Akupun menyetujuinya. Kami duduk dipinggir tempat tidur kami. “Akan aku ambilkan air minum dulu untukmu”

Kulihat benda yang menjadi penyebab pertengkaran kami, lalu aku melemparnya jauh-jauh. Aku merasa kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa jujur. Mungkin saja kalau aku jujur lebih cepat, tidak akan menjadi seperti ini. Tetapi bagaimanapun juga, inilah kenyataan yang harus aku hadapi.

Ditengah kekacauan yang ada, tiba-tiba perutku kembali merasa mual dan aku langsung berlari menuju kamar mandi. Semua apa yang ada didalam perutku terasa keluar semua hingga tenggorokanku terasa perih. Seiichi yang baru saja kembali, langsung datang menghampiriku dan memberikan air yang dia bawa.

“Gen-genichirou... ka-kamu tidak apa-apa?” tanyanya sedikit takut. Kali ini aku tidak bisa memberikan jawaban tegas. Aku tidak mau kalau kami berkelahi lagi karena masalah ini. Jadi, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.

“Seiichi...” panggilku dan dia menatapku. “Apakah besok kamu ada waktu?”

“Hah?”

Aku menundukan wajahku. “Maukah kamu menemaniku kerumah sakit untuk membuktikan penyebab pertengkaran kita ini?”

Kali ini dia diam sejenak. Merasa ragu untuk sesaat. “Aku bisa... tapi...” tanyanya penuh kebingungan sambil melihat alat yang sudah terlempar jauh olehku.

Kuraih tubuhnya dan kupeluk dengan erat. “Percayalah. Percayalah padaku. Bagiku tidak ada orang lain yang lebih berharga selain dirimu, Seiichi...”

“Benarkah?”

Aku mengangguk. “Kumohon... percayalah padaku...”

Raut wajahnya sedikit senang dan terlihat rona wajahnya yang berubah. “Jadi itu... mi-milikku?” aku menggeleng. “Kalau bukan aku, lalu siapa?” kali ini nada suaranya kembali meninggi. “Bukankah kamu baru saja mengatakan...”

“Bukan milik siapapun!” bantahku buru-buru. “Seiichi, dengarkan aku. Aku tidak mau terjadi kesalahan terus menerus seperti ini. Bisakah kamu mempercayaiku dan membuktikannya esok hari?”

Seiichi menatapku penuh keraguan. Wajar dan pantas dia seperti itu. Akupun bisa menerimanya dengan lapang dada. Setelah dia menyetujuinya, aku menghubungi Niou dan menjelaskan keizinanku besok. Untung saja dia cepat mengerti dan berpesan, “Sanada, saat diberitakukan hasilnya, kamu jangan sampai pingsan ya” percakapan kami akhirnya diakhiri dengan canda tawa.

---Yukimura Seiichi----

Kesal. Bingung. Kedua hal itulah yang membuatku setuju dengan pernyataan yang dibuat oleh Genichirou. Wajahnya terlihat serius sekali ketika menjelaskan pernyataannya padaku. Jika dikatakan bahwa dia mempunyai wajah yang kaku ataupun serius, aku menyetujuinya. Tetapi aku mengenal bagaimana dan seperti apakah ketika dia menunjukan keseriusannya itu.

kumohon... percayalah kepadaku...’ kata-katanya masih tertulis didalam bayanganku. Haruskah aku mempercayainya ataukah membiarkan masalah ini berjalan terus menerus?

Malam ini terasa lama sekali, bahkan aku menginginkan tidak ada hari esok. Aku terlalu takut pada diriku sendiri untuk mengetahui keadaan yang ada.

Keesokan paginya, aku melakukan aktivitas yang biasa aku lakukan. Menyiapkan sarapan, air hangat untuk mandi dan membersihkan beberapa peralatan sehabis makanan dan juga beberapa pakaian kotor. Yang berbeda dari biasanya adalah keheningan yang ada diantara kami. Tidak ada satupun dari kami yang memulai pembicaraan.

Jam 11 siang nanti kami berencana akan menuju klinik yang tidak terlalu jauh sekaligus kami mengenal salah satu dokter yang bekerja disana, Yanagi Renji. Aku yakin bahwa hasil apapun yang dikatakan oleh Yanagi tidak akan salah.

“Haah... Setengah jam lagi...” gumamku saat selesai menjemur pakaian dan memasuki ruang utama rumah ini.

Suasana yang sangat hening sangat menggangguku. Kucoba mencari Genichirou, berharap dia sedang melakukan sesuatu sehingga aku tidak terlalu takut disini. “Genichirou...?”

Kupanggil namanya berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Kucoba menaikan suaraku dan membesarkan volume suaraku, berharap akan ada jawaban. “Genichirou? Genichirou? Sanada Genichirou? Kamu dimana?”

Masih tidak ada jawaban. Panikku mulai terlihat dan aku mencoba mencari diseluruh ruangan ini. “Tidak ada...” gelisahku.

Akhirnya aku mencoba mencari di lantai 2 ruangan ini. Ruangan yang belum sempat aku sentuh dan kubongkar, dojo tempat Sanada menenangkan hatinya. Dengan perlahan aku membuka pintu itu dan dengan cepat aku berlari mendekatinya. Genichirou tertidur lemas dengan sebuah katana ditangan kanannya.

‘Genichirou? Genichirou? Kamu tidak apa-apa?” aku mencoba membangunkannya tetapi tidak ada reaksi sama sekali. Kuraih handphonenya yang tidak terlalu jauh darinya itu dan menghubungi rumah sakit. Kurang dari 20 menit, akhinya dia mendapatkan pertolongan.

“Oshitari, dia tidak apa-apa?” panikku saat dia selesai memeriksa Genichirou sebuah ruangan.

“Suster, tolong bawa pasien ini ke kamar 404” seru Oshitari sambil mencatat beberapa hal diselembar kertas. “Seiichi, bisa ikut aku sebentar? Ada yang ingin aku bahas denganmu. Mungkin lebih baik didalam ruang kerjaku”

Aku hanya bisa mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Setelah sampai diruangannya, dia mempersilahkan aku duduk dan memberikan aku segelas air. “Seiichi, apa Sanada pernah cerita denganmu sebelumnya?”

“Maksudnya? Cerita tentang apa? Apa dia mengalami penyakit sesuatu? Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengannya?” rasa panikku mulai berganti menjadi rasa takut yang besar. Oshitari hanya menggelengkan kepalanya saja.

“Bukan. Dia pingsan karena terlalu stress” aku menghela nafas lega. “Tapi apakah sebelumnya kalian tidak pernah membahas ‘masalah’ lain?”

“’Masalah’ lain?”

“Ya...” kali ini Oshitari yang menghela nafas. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam mejanya dan mengajakku keruangan sebelah. Disana dia memperlihatkan sesuatu, sebuah plastik bewarna hitam dan diletakan disebuah papan kaca yang biasa digunakan saat selesai meng-ronsen sesuatu. “Seiichi, tahukah kamu apa kertas ini?”

Dia memberikanku selembar kertas foto kecil berwarna hitam putih. Tentu saja aku tahu. Ini adalah foto bayi dalam kandungan yang biasanya digunakan jika pihak keluarga ingin mengetahui seperti apakah bayi mereka itu. Lalu apa maksud Oshitari memberikan ini padaku?

“Ini... aku temukan dari Sanada...”

“dari Sanada?” tanyaku mengulang perkataannya. Tanpa aku sadari aku mulai terisak. “Jadi benar... Sanada sudah membohongiku...”

“Se-Seiichi...” kali ini Oshitari yang kebingungan. “Bukan... Foto ini bukan foto yang disembunyikan Sanada. Ini adalah hasil pemeriksaan yang baru saja aku lakukan dan ditemukan kalau Sanada...”

Kali ini aku yang tercenga. “Ge-Genichirou... hamil?” Oshitari mengangguk. “T-Tapi... bagaimana mungkin?! Dia kan...”

“Aku sendiri juga masih bingung. Tapi, bisakah kamu memberikan dia kelonggaran waktu. Maksudku sepertinya dia sudah mengalami stress beberapa saat ini. Buktinya dia sampai terjatuh. Aku minta agar kamu bisa memberikan dia kesempatan untuk menjelaskan, karena kurasa dia sudah lebih dulu mengetahuinya. “

Aku hanya bisa terdiam dan bingung dengan keadaan diriku sendiri. Bagaimana mungkin seorang laki-laki... hamil? Jadi alat yang dia sembunyikan dan menjadi penyebab pertengkaran kami... adalah hasil test dirinya sendiri?


please ur comment n review


next: How Come part 4

prev: How Come part 2

first: How Come part 1

No comments:

Post a Comment