Part 1
Matahari bersinar dengan cerah, angin berhembus dengan tenangnya dan binatang-binatangpun ikut serta mengisi kehidupan dunia dengan aktivitasnya masing-masing. Kututup kedua mataku, kuhirup udara siang ini dan kurasakan angin yang berhembus menyentuh tubuhku ini.
Kulangkahkan kakiku dengan pasti menuju suatu tempat yang dimana terdapat permata berhargaku sedang menikmati kesehariannya. Berharap akan terlihat senyum manisnya saat selesai nanti.
Pintu gerbang biru itu masih tertutup rapat, yang menandakan bahwa kelas masih berlangsung. Aku berjalan menuju sebuah bangku yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang tersebut dan duduk bersandar pada tembok sambil menatap langit biru yang tenang itu. “Tenang sekali ya...” gumamku.
Tidak lama kemudian, terdengar suara bel berbunyi dari dalam sekolah yang menandakan bahwa kegiatan sekolah sudah berakhir. Memang jam masih menunjukan pukul 12 siang, tetapi bagi anak seumur balita, memasuki kelas selama 4 jam adalah waktu yang cukup lama.
"Mama...mama...!" seorang anak kecil berumur 5 tahun, dengan kakinya yang mungil berlari menuju mamanya yang sudah dari tadi menunggu kehadiran sang anak di depan pintu gerbang.
"Hati-hati sayang" aku langsung menyambut kehadiran sang permataku dengan menggendongnya. Dia yang biasanya mencium pipiku, tiba-tiba saja menenggelamkan wajahnya pada pundakku. Perubahan sikapnya itu membuatku khawatir. "Sayang, kamu kenapa? kok murung?"
Sang anak menyeka rambut hitamnya yang sudah mencapai matanya, dan mulai terisak. "Mama, papa itu siapa?"
Sesaat aku menyeka rambut biruku agar tidak terlalu mengganggu dan kutatap wajahnya yang polos itu. "Ichi-kun...” nama kecil anakkku dari Ichirou. “kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?"
Ichi menghapus air matanya dengan tangan kecilnya. "Niou sensei minta untuk gambar bebas, dan aku menggambar aku dan mama di taman. Tapi Kite-kun bilang kalo gambar harus ada papa. Ichi ga tau papa itu apa dan teman-teman semuanya... semuanya... mentertawakan aku..." kali ini isak tangisnya menjadi-jadi.
Aku hanya bisa diam mendengar keluhannya itu. Kuraih kepala kecilnya, mengelus rambutnya dan menyandarkannya kepada bahuku. “Ichi-kun... Maafkan ibu” kataku dalam hati.
Di dalam perjalanan pulang, ichi tertidur pulas dipangkuanku. Sambil bersandar pada bangku kereta yang kami gunakan, terlintas pertanyaan yang cukup membuatku merasa sedih pada diriku sendiri. "Bagaimana caranya aku bisa menjelaskan pada ichi, kalau ayahnya menghilang 4 tahun yang lalu?"
Kubuka tas kecilku, membuka sebuah dompet bewarna coklat dan mengambil sesuatu yang sangat berharga. Sebuah foto laki-laki yang terlihat tegas dengan pakaian jas berwarna biru gelap, rambut yang terpotong rapi dan beberapa lencana di bahunya. di atas foto itu tertulis, 'aku pasti pulang'. Di ujung kanannya tertulis juga dengan rapih, 'aku sayang kamu, Seiichi' dan pada bawahnya tertera nama yang sangat kucintai, Ryuto Genichirou.
------00000-------
Sesampainya dirumah, aku meletakan Ichi dikamarku yang terletak tidak jauh dari ruang keluarga. Kusiapkan tempat tidur kesayangannya dan juga boneka beruang kesukaannya. Karena hari masih siang, kuputuskan untuk tidak mengganggu ketenangannya dan memilih untuk melihat beberapa acara di TV.
Hanya beberapa saat satu program bisa bertahan dari penglihatanku. Semua acara hari ini terasa membosankan. Kuraih remote yang tidak jauh dariku dan mematikannya. Sambil bersandar pada bantal, kutatap kembali foto kekasihku dari dalam tasku.
Jika waktu bisa diulang kembali, aku adalah orang yang sangat beruntung. Seorang wanita beruntung yang bernama Tanaki Seiichi yang bisa menikah dengan seseorang yang bernama Ryuto Genichirou.
Ryuto Genichirou. Bertubuh tinggi, rambut bewarna hitam, mempunyai sifat yang sangat tegas dan juga kharismanya membuat banyak atasan yang menyukainya. Kesehariannya memang terlihat galak ataupun terlalu tegas, tetapi jika mengenalnya lebih dalam, dia mempunyai sifat pemalu. Jarang sekali bisa melihatnya, kecuali aku sendiri yang sering menggodanya.
Pekerjaanya sebagai pilot tidak membuatnya terlihat sibuk, bahkan dia masih bisa menyediakan waktunya untuk jalan-jalan ataupun merayakan pesta kecil bersamaku. Bahkan setelah 5 tahun lamanya, diapun melamarku disebuah tanah lapang yang biasa menjadi tempat kami bersama dan hingga akhirnya 2 tahun kemudian kami mempunyai anak.
Jika dipikir-pikir, keluarganya yang mempunyai perusahaan ternama sudah bisa membuatnya tidak perlu untuk bekerja. Pernah terjadi pertentangan saat kami belum memutuskan untuk menikah. Ayahnya meminta Genichirou untuk bekerja diperusahaannya tersebut. Tetapi dengan tegas Genichirou menolak, dengan alasan ingin membiayai kehidupannya dengan jerih payahnya sendiri.
Penyakit yang sudah aku derita sejak kecilpun menjadi salah satu alasan baginya untuk meninggalkan keluarganya. Aku yang terlahir sebagai anak yatim dan juga mempunyai kondisi fisik yang lemah membuat keluarganya sempat menolak kehadiranku.
Setelah Genichirou melamarku, ibunya langsung menolakku mentah-mentah. Banyak cercaan dan maki keluar dari mulut ibunya. Semua itu memang sudah sering aku dengar sehingga tidak berpengaruh sama sekali untukku. Tetapi dengan tegas Genichirou membelaku dan akhirnya kamipun menikah, walau masih dengan keraguan ibunya.
Setelah dikabarkan kami mempunyai anak, hati ibunya lambat laun mulai mencair. Bahkan sering kali menanyakan keadaan cucunya itu. Saat itu aku bisa merasakan bagaimana hangatnya keluarga seperti keluarga tentram lainnya.
3 tahun kemudian, Genichirou ditugaskan untuk membawa penumpang ketempat yang cukup jauh, dimana bisa memakan waktu lebih dari 1 minggu untuk kembali.
“Seiichi...” suara rendahnya membuatku semakin tidak ingin berpisah jauh darinya. Setelah menutup jendela yang terletak disamping kanan ruangan ini, dia berjalan mendekatiku yang masih mendekap pada bantal kesukaanku. “Sudah mengantuk?”
Aku menggeleng dan membalikan badanku sehingga aku bisa menatapnya. Dia menarik tubuhku dan memelukku dengan erat. “Genichirou...”
Dengan tangan besarnya dia menyentuh rambut biruku. “Sudah panjang, ya” jika dibandingkan dengan dulu, rambutku sekarang sudah sepinggang.
“Bukankah kamu yang memintanya?” tanyaku dan bersandar pada dadanya yang bidang itu.
Genichirou tertawa kecil. “Ya. Dulu rambutmu pendek sekali, bahkan aku pernah mengira bahwa kamu adalah anak laki-laki!”
“Gen-chan!” keluhku.
“Hahahaha... kamu ini...” dia menarik pipiku dan refleks aku menghindarinya. “Aku jadi semakin tidak ingin meninggalkanmu...”
“Genichirou, jangan berkata seperti itu! Bukankah ini pekerjaan yang kamu sukai? Jangan sampai karena aku, pekerjaanmu...” dengan cepat dia langsung mendekatkan wajahnya padaku dan dapat kurasakan kembali lembut bibirnya menyentuh bibirku. “Genichirou!”
“Seiichi... bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan padamu bahwa yang menjadi utama bagiku adalah...” dia kembali mencubit pipiku, kali ini dengan kedua tangannya.
“Sakit!” keluhku dan memegang kedua pipiku.
“Hahahaha... Ada mantau!” tunjuknya pada pipiku.
Dia tahu kalau aku mengembungkan pipiku, itu adalah tanda kekesalanku. Tapi itu menjadi sebuah bahan baginya untuk selalu meledekku.
“Sudah... Sudah... aku kan tidak mau kalau anak kita nanti menjadi mantau” kali ini kekesalanku memuncak. Aku langsung melemparkannya bantal, tepat kearah mukanya, yang dibalas dengan tawa olehnya.
“Seiichi...” panggilnya padaku yang sedang bersandar padanya. “Kamu mau punya anak laki-laki atau perempuan?”
“Hmm... Bingung... Kalau kamu?”
“Laki-laki ataupun perempuan bagiku sama saja. Yang terpenting mempunyai kesamaan denganku” perkataannya itu membuat wajahku memerah.
Kugenggam tangan besarnya yang sedang melingkari tubuhku itu. “Genichirou... aku sayang kamu...”
“Aku juga, Seiichi...”
Pagi-pagi sekali mobil yang menjemput Genichirou sudah datang. “Seiichi, aku berangkat” pamitnya sambil menyentuh perutku yang sudah mulai membesar. “Nak, ayah berangkat dulu”
“Genichirou... hati-hati” ucapku sambil menundukan kepalaku.
Dia tersenyum dan memegang wajahku sehingga aku bisa menatapnya. “Seiichi... jangan sedih. Bukankah ini sudah biasa terjadi diantara kita? Lagipula ini hanya 1 minggu...”
“Ya. Tapi aku merasa kalau kita...”
Genichirou kembali tersenyum. “Tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Sesampainya disana, aku akan segera menghubungimu. Bagaimana?”
Aku mengangguk. “Maaf sudah merepotkanmu...”
Genichirou memuluk pelan kepalaku. “Bukankah aku sudah sering untuk tidak mengatakan ‘merepotkan’ lagi?”
“Ah... maaf”
“Termasuk kata itu juga” peringatannya.
“A-ah... ya...”
“Kalau begitu, aku berangkat”
“Selamat jalan” setelah itu aku baru menyadari kalau saat ini adalah saat terakhir aku mendengar suaranya, mencium bau tubuhnya dan melihat senyumannya itu.
Lebih dari 1 bulan tidak ada kabar darinya. Aku sudah mencoba menghubungi perusahaan pesawatnya, tetapi tidak ada kabar. Hingga akhinya aku mendapatkan berita bahwa pesawat yang dibawanya mengalami kecelakaan. Anehnya tidak ada yang menemukan mayatnya. Hal tersebut membuatku semakin yakin kalau dia masih hidup.
Bulan pertama... bulan kedua... bulan ketiga... hingga bulan ke enam, saatnya aku harus melahirkan masih belum ada kabar darinya. kehidupanku tanpanya terasa bagai penyiksaan bagiku. Keluarganya yang mulai kembali membenciku dan juga menyalahkan diriku atas kehilangannya.
Dari semua penghinaan yang ada, ibunya atau dengan kata lain nenek anakku, dia ingin mengambil alih Ichirou. Tentu saja aku tidak mengizinkannya. Karena rasa kesal yang sudah tidak bisa aku tahan lagi, aku memutuskan untuk tinggal disebuah apartement yang dulu sempat aku beli bersama dengan Genichirou. Memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk kami bertiga tinggal.
Huweeeeee~~~
ReplyDeleteKanashii'n deshou??
*srooottt~~~*
*digiling halus*
Huks... sedih boangets... :'( lanjutin Senpaiii~~ aku mau baca lanjutannyaaahhh~~~
Onegaishimasu!!
Bilangin kalo Genichirou udah meninggal, mau saya bakar jenazahnya~ :D *diiris tipis pake Katana*