Friday, March 25, 2011

True Love part 2

Characters:
·         Rie
·         Katou
·         Saeki

N/A: yap... untuk nama seperti apa sifatnya.. itu... bayangkan sendiri ya ^^

Pov: Rie

Rat: M (maybe…maybe….)

--start---

Cinta dan kasih sayang bisa mengubah seluruh kehidupan sang pemiliknya ataupun yang ada disekelilingnya. Awalnya aku tidak percaya dengan hal itu. Tetapi akhirnya aku menyadari kalau pernyataan itu terjadi dalam kehidupanku. Kehidupan  yang berubah sejak Saeki menyerangku. Setiap orang yang menyentuhku, refleks langsung aku menepisnya. Anehnya itu tidak berpengaruh pada Ryuto. Mungkin juga dikarenakan Ryuto yang selalu menjaga jarak. Teman-temanku mulai merasa aneh dan banyak yang meninggalkanku. Sebenarnya itu tidak menjadi suatu masalah bagiku. Hanya rasa sedih yang terus menghantuiku.

“Rie? Mau makan siang?” ajak Ryuto disaat kelas telah berakhir.

“Tidak. Aku tidak lapar…” tolakku.

“Tapi dari pagi kamu belum makan…dan sekarang sudah jam 11…”

“Masih pagi” bantahku.

“Rie… Nanti kamu sakit”

“Biarkan”

“Rie…” Ryuto menghela nafas lalu duduk dibangku depanku. Duduk menghadapku dan meletakan tangannya diatas meja untuk dijadikan bantalan. “Rie, apa Saeki masih menghubungimu?”

Aku hanya mengangguk pelan. “Terkadang dia masih mengirimku pesan ataupun meneleponku. Tapi tidak ada satupun yang aku jawab. Aku takut… Takut, Ryuto…”

“Rie…”

Kurasakan sesuatu yang mendekatiku dan tanpa aku sadari tubuhku bergerak. Ternyata tangan Ryuto yang mendak menyentuhku. Tubuhku langsung gemetar hebat. Nafas memburu dan detak jantungku berdetak cepat. Kulihat raut wajah Ryuto yang terkejut.

“Ma-maafkan aku, Ryuto…”

“Tidak apa kok” jawabnya pelan.

“Ryuto, mau makan siang tidak?” ajak beberapa orang temanku. Ketika melihat dia sedang bersamaku, pandangannya berubah menjadi sinis. Padahal pandangan mereka tidak seperti ini jika keadaan normal seperti dulu.

“Tidak. Aku mau disini saja” tolaknya.

“Tapi tadi kamu bilang mau ikut kami” tanya yang lainnya.

Ryuto terlihat kebingungan. “Sudahlah. Kamu ikut saja mereka”

Ryuto menggeleng. “Tidak. Kalian duluan saja” jawabnya sambil tersenyum dan merekapun meninggalkan kami.

“Maaf Ryuto. Aku sudah membuatmu susah seperti ini”

“Tidak kok… tenang saja, Rie” jawabnya lagi dengan santai. “Aku juga malas bersama dengan mereka. Jadi kamu tidak usah khawatir”

“Ya…”

“Rie” Ryuto bangun dan mengambil dompetnya. “Aku yakin ketakutanmu ini akan segera menghilang. Dan… aku ingin membeli sesuatu. Mau nitip apa?”

Aku mengangguk pelan. “Aku nitip roti saja”

“Baiklah. Tunggu sebentar ya”


Aku tersenyum melihat dia pergi. Walau keadaan ku seperti ini, aku bersyukur masih ada Ryuto yang menemani. Kuambil handphoneku dari dalam saku dan kulihat sudah ada 10 pesan dan 5 misscall. Semua itu dari Saeki. Aku sudah tidak ingin berhubungan dengannya. Ketika aku perhatikan lagi, dari 10 pesan, ada sebuah pesan dari pengirim yang berbeda. Katou.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

Ya. Aku baik-baik saja. Oh ya. Terima kasih untuk pertolonganmu waktu itu.

“Tidak apa. Aku juga secara kebetulan sedang berjalan ditaman itu dan mendengar suara keributan… jujur saja, aku tidak menyangka kalau korban penyerangan itu kamu, Rie”

Eh? Apa yang kamu lakukan ditaman?

“Mencari inspirasi. Aku lelah…”

Karena?

“Latihan konser sejak pagi… Ryuto sudah memintaku datang sejak jam 7 pagi. Bayangkan saja 4 jam terus menerus diruang musik >< “

Hahahaha… benar-benar ciri khas Ryuto.

“Oh ya, nanti sore kamu ada acara?”

Tidak. Ada apa?

“Bisa bertemu ditaman kemarin? Namun dipintu taman kota dekat stasiun. Bagaimana?”

Pesanku terhenti dipesan terakhirnya. Apa yang harus aku lakukan, aku benar-benar bingung. Masalah lama dan baru datang pada waktu yang berdekatan.“Baiklah. Jam 4 sore aku akan kesana” balasku dan tidak lama kemudian Ryuto sudah kembali kekelas ini.


Sesuai dengan janjiku dengan Katou, setelah jam kuliah berakhir aku langsung menuju taman dekat stasiun. Belum ada siapa-siapa disana. Ketika kulihat jamku, ternyata waktu masih menunjukan pukul 3 sore. Tentu saja Katou belum datang.

Sambil menunggu, aku duduk disalah satu bangku taman kota ini. Banyak sekali anak-anak yang datang bermain bersama dengan orang tua mereka. Melihat mereka aku tersenyum pada diriku sendiri. Perasaan terasa tenang dan menyenangkan.

“Rie”

Ketika aku membalikan badanku, ternyata ada seseorang yang tidak ingin aku temui berada dihadapanku. 

“Sa-saeki…” suaraku terdengar sedikit tertahan. “Ke-kenapa kamu…”

“Kebetulan sekali kamu disini, Rie” Saeki mendekatiku namun aku segera menghindarinya. “Rie, kenapa kamu tidak membalas pesan dariku?”

“Jangan dekati aku lagi, Saeki” tolakku sambil berjalan mundur menghindarinya.

“Rie… kumohon, maafkan aku. Berikan aku kesempatan untuk tetap bisa bersamamu”

“Tidak. Saeki… kumohon, jangan ganggu aku lagi”

Tepat ketika Saeki hendak meraih tanganku, aku langsung menepisnya. Tubuhku gemetar ketakutan dan ingin sekali aku berlari menjauh darinya.

“Rie… kenapa…”

“Tidak! Tidak!!”

Saeki meraih tanganku dengan kasar. Tubuhku semakin gemetar ketakutan dan seluruh tubuhku terasa melemah. Tidak ada tenaga sedikitpun untuk aku berdiri.
Kumohon… lepaskan… aku takut… aku takut, Saeki… lepaskan aku dan jangan kembali dalam pikiranku…


“Lepaskan dia!” suara seseorang yang tidak asing.

“Siapa kamu!” balas Saeki dan mencoba untuk memukulnya. Dengan cepat orang itu menepisnya dan menarik tanganku. “Kamu…!!”

“Siapa aku, itu bukan urusanmu”

“Itu menjadi urusanku! Karena dia itu adalah pacar-“

“Tidak!” teriakku. “Aku bukan apa-apa bagimu! Jangan pernah kembali kedalam kehidupanku lagi!

“ bantahku.

“Kamu dengar? Jadi jangan dekati dia lagi” balasnya dan kali ini dia kembali menarik tanganku. Berbeda dengan sebelumnya, tubuhku tidak bereaksi sama sekali.

Ketika sudah cukup jauh dari Saeki, aku baru menyadari bahwa laki-laki memakai kemeja hitam dan menggunakan kaca mata ini adalah…

“Ka-katou?”

“Ya, Rie. Ini aku” jawabnya singkat dan mengajakku duduk dibangku taman. “Maaf sudah membuatmu menunggu…”

“Tidak. Aku yang salah sudah datang lebih awal dari jam yang kita janjikan…”

Tiba-tiba saja keheningan diantara kami. Angin sore terasa tenang sekali seakan-akan menggambarkan perasaanku yang kacau serta menginginkan pikiran yang menenangkan.

“Rie, kamu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir dan mencoba untuk menyentuhku. Namun niat itu dia hentikan. “Maaf. Aku tidak bermaksud…”

Aku menggeleng. “Katou… bisakah kamu membalikan badanmu…”

Katou terlihat bingung. Tanpa pertanyaan dia mengikuti permintaanku lalu dengan cepat aku coba untuk memeluk tubuhnya. “Rie…”

“Katou… terima kasih… untuk kesekian kalinya kamu sudah menolongku”

“Tidak apa, Rie. Namun… Rie…”

Aku menggeleng dan mendekatkan kepalaku pada punggung besarnya. “Kumohon Katou.. biarkan aku seperti ini untuk sesaat…”

Katou hanya diam saja dan membiarkanku untuk terus memeluknya. Tubuhku memang masih gemetar ketakutan tapi aku menyadari bahwa aku harus bisa membunuh rasa takut yang terus menghantuiku ini. Kupejamkan mataku dan mengatur nafasku sampai terasa lancar.


“Katou…” ucapku yang masih bersandar pada punggungnya. Katou hanya bergumam sebagai ganti jawaban. “Maaf jika sudah terlalu lama untuk mengatakan ini…”

“Apa itu, Rie…?”

“…Katou… aku sayang padamu…”

“Eh?”

“Ya… Aku rasa kamu memang benar. Selama ini aku selalu menipu diriku sendiri. Mencoba untuk terus tegar bersama dengannya. Tapi bersama denganmu, aku bisa menjadi diriku sendiri… Terima kasih, Katou…”

“Rie…” Katou melepaskan pelukanku dan berbalik menatapku. “Rie… terima kasih…”

“Ya…” kurasakan wajahku memanas dan detak jantungku berdetak cepat.

“Rie… bolehkah aku memelukmu dari depan?” aku hanya memalingkan wajahku. “Tapi jika kamu tidak mau, tidak apa. Aku mengerti…”

“Tidak. Tidak apa…”

“Benarkah?” aku mengangguk sebagai ganti jawaban.

Perlahan Katou menyentuh wajahku dengan tangan dinginnya. Refleks aku menyandarkan wajahku pada tangan besarnya dan menutup kedua mataku. Mencoba untuk menenangkan detak jantungku yang terus berdetak cepat.

“Rie…”

Dalam hitungan detik, Katou langsung menarik tubuhku dan memelukku dengan erat. Sesaat aku ingin melepaskan tubuhnya tetapi itu semua percuma. Tenagaku tidak sebanding dengannya. Detak jantungku berdetak lebih cepat, nafas yang sangat memburu dan tanganku masih mencoba untuk melepaskan diriku dari dekapannya..

“Tidak bisakah, Rie…”

Kucoba untuk terus menenangkan pikiranku dengan kata-kata ‘tenanglah…’ yang terus terulang. Bayangan mengenai Saeki yang sempat menyerangku perlahan menghilang. Tergantikan oleh sebuah pelukan hangat yang menenangkan. Katou mengusap punggung dan kepalaku secara bergantian. Mencoba menenangkanku dari mimpi buruk. Ketika kurasakan nafasku mulai tenang, aku membalas memeluknya. Kulingkarkan tanganku melingkari tubuhnya yang hangat.

“Rie…”

“Katou…”

Kuberikan jarak antara kami berdua untuk saling bertatapan. “Rie… selamat datang kembali…” ucapnya sambil menyentuh wajahku dengan telapak tangannya.

“Ya.. terima kasih, Katou…”

“Rie, tetaplah disisiku dan percayalah.. bahwa aku akan selalu membahagiakanmu…”

“Hahaha.. kamu seperti melamarku saja”

“Jadi bagaimana, Rie?”

“Ya… Aku akan selalu berada disisimu, Katou…”
Kupejamkan kedua mataku dan kurasakan bibir lembut Katou menyentuh bibirku. Sungguh aku merasa senang sekali dan beruntung mempunyai seseorang yang istimewa seperti Katou… mimpi buruk yang selalu mengahantuiku sekarang bisa menghilang dan berganti menjadi sebuah mimpi yang terasa manis…

-end-


No comments:

Post a Comment