Characters:
- Kazuki – Rie
- Genichirou – Aoi
- Shinya – Saeki
- Von
Desc: Keluarga masing – masing
Rat: M / S ^^ (Mau-mau / Suka-suka)
n/a: kesamaan pada nama bukan suatu kesengajaan, tetapi karena authornya yang memang tidak pintar membuat nama ^^v
-start – intro (Aoi)
Mempunyai sebuah keluarga yang tenang dan menyenangkan merupakan impianku sejak kecil. Hidup dengan perjuangan dan persaingan bukan menjadi hal yang asing bagiku. Tidak ada sesuatu didunia ini tanpa perjuangan, dan menentukan langkah kita selanjutnya adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Pernyataan yang mudah untuk diucapkan namun sulit sekali dilakukan.
Awan bergerak pelan dan angin berhembus tenang. Rasanya sungguh menenangkan sekali. Tidak ingin rasanya aku membuka kedua mataku menghadapi sulitnya kehidupan. Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi di detik-detik berikutnya, jika tidak ada seorangpun bergerak dari pikiran dan perasannya. Ya, itulah yang terjadi pada diriku.
“Aoi, ayo kita masuk” suara seseorang yang aku kenal menepuk pundakku. “Sudah saatnya makan malam” aku mengangguk tanda setuju dan segera bangkit meninggalkan teras rumahku ini.
Orang yang memanggilku itu adalah kakakku, Shinya. Bertubuh kecil, rambut hitam-kecoklatan, lurus sebahu dan berhati lembut. Tidak terasa sudah 10 tahun berlalu sejak aku kabur dari panti asuhan. Panti asuhan yang letaknya jauh dari kota membuatku merasa seperti di asingkan. Selain itu sikap dingin dari para penjaga dan teman-temanku, membuatku semakin yakin untuk kabur dari sana. Berlari dari pengejaran hingga kesudut kota.
“Kamu tidak apa-apa?” seseorang menepuk pundakku ketika aku dalam persembunyian.
“Siapa kamu!” seruku dan berjalan mundur menghindarinya. Orang itu diam saja, melihat kesekeliling sejenak dan tiba-tiba saja menarik tanganku. “A-apa ya-!”
“Stt!! Diam!” orang yang tidak aku kenal itu mendorong tubuhku untuk berlindung dibalik box besar dan diapun berdiri didepan box itu.
“Hey, apa kamu melihat seorang anak berlari kearah sini?”
“Seorang anak?” jawab orang itu. “Anak umur berapa tahun?”
“Anak perempuan berumur 10 tahun, rambut hitam sebahu dan memakai kaus berwarna biru. Apa kamu melihatnya?”
“Hmmm… Kalau perempuan berambut sebahu dan memakai baju biru itu banyak. Tapi kalau kamu bilang anak seumur 10 tahun itu… sepertinya tidak mungkin. Hari sudah malam dan terlebih… ini daerah terlarang untuk anak-anak”
“Oh… Baiklah. Terima kasih” balasnya dan terdengar derap langkah kaki berlari yang semakin mejauh.
“Hey, dia sudah pergi” panggil orang itu sambil meraih tanganku. “Sepertinya kamu dalam pengejaran. Boleh aku tahu alasannya?” aku hanya diam menatapnya. “Baiklah. Aku tidak akan bertanya banyak. Namun, siapakah namamu?”
Aku kembali tertunduk dan menggeleng. “A-aku… orang-orang memanggilku 401”
Orang tadi tertegun. “401? Kenapa namamu seperti sebuah kode?” aku kembali terdiam. “Baiklah. Baiklah. Nah, bagaimana kalau kamu ikut denganku?” aku menatapnya dan kulihat wajahnya tersenyum sambil merangkulku. “Sepertinya kamu tidak ada tempat pulang. Bahaya untuk anak sepertimu dilingkungan seperti ini…” orang itu melepaskan jaket hitamnya dan melingkarkannya pada tubuhku.
“…” aku kembali menatapnya sejenak. “Jika…”
“Ya?”
“Jika anda tidak menginginkanku, apa anda akan membuangku?”
“Apa? Untuk apa?”
“…”
Dia menundukan tubuhnya sedikit dan menatapku. “Tenang saja. Aku tidak akan melakukan itu. Aku yang sudah mengambilmu, tidak mungkin aku membuangmu semudah itu. Jika aku sampai melakukan itu, sama saja aku seperti sampah! Jadi tenang saja, ya”
Tanpa kata panjang dan balasan dariku, orang itu tetap saja tersenyum. Melihat wajahnya membuat perasaanku berangsur tenang. Entah aura apa yang ada pada dirinya.
“Nah, sebelumnya…” dia meraih tanganku. “Perkenalkan, namaku Shinya”
“Shi-shinya…?”
“Ya” angguknya. “Kamu bisa memanggilku Shinya atau dengan sebutan kakak” kali ini aku yang mengangguk. “Lalu, untuk kamu sendiri…” aku menunduk. “Tidak mungkin aku memanggilmu dengan kode. Kamu bukan barang! Hmmm…” gumamnya sejenak. “Bagaimana kalau ‘Aoi’ ?”
“Aoi?”
“Ya. Pakaianmu berwarna biru dan sepertinya hatimu juga lembut seperti awan… Tenang namun misterius. Bagaimana? Kamu suka dengan nama itu, Aoi?”
Tubuhku terasa panas dan bergejolak. Entah perasaan apakah itu. Mungkin inilah perasaan senang yang tidak bisa tertampung lagi olehku. Kurasakan wajahku memanas dan terukir senyuman diwajahku.
“Ya. Aku suka dengan nama itu”
“Nah, Aoi… ayo kita pulang”
Aku mengangguk senang. “Ya, Shinya niichan”
Inilah pertemuan pertamaku dengan Shinya. Pertemuan yang tidak disangka sama sekali. Sejak saat itu kehidupan kelamku menjadi kehidupan yang menyenangkan. !0 tahun memang panjang namun menjadi tidak berarti sejak adanya pertemuan singkat ini.
No comments:
Post a Comment