How Come Part 5
Des: Konomi sensei...
Charac: sanayuki
Rat: M (untuk jaga2..tapi ternyata gak sama sekali ><>
Songz: blue dragon, spirit, n pain (the team medical dragon ^^b)
Pov: Yukimura Seiichi
--------------------000000000000000----------
Segala sesuatu yang direncakan oleh manusia tidak sepenuhnya akan berjalan dengan baik, walaupun sudah direncanakan dengan sebaik-baiknya dan dilaksanakan dengan penuh perhatian. Sebagai ciptaannya hanya bisa terus mengucap syukur atas anugrah dan berkat yang sudah ada pada kita. Kesedihan diatas kebahagiaan, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini.
Sejak masalahku dengan Genichirou berakhir, kehidupan kami menjadi lebih baik. Kami lebih sering menghabiskan waktu bersama untuk makan, jalan-jalan ataupun beristirahat. Tidak jarang kami pergi ke kota membeli beberapa keperluan sang buah hati. Setiap kali kami keluar, selalu saja mengundang banyak perhatian. Kami bisa memaklumi karena memang terlihat aneh, namun inilah kenyataannya. Untung saja Genichirou tidak terlalu mempermasalahkannya.
Sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh Renji, siang ini kami kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Dalam waktu 15 menit, nama Genichiroupun dipanggil kedalam. Aku menunggu diluar karena hari ini Genichirou akan di periksa organ tubuh dalamnya. “Seiichi” suara seseorang dari belakang, ternyata Yanagi Renji.
“Ah, Yanagi” aku menundukan kepalaku. “Bagaimana hasilnya?”
“Baik. Kandungannya sehat dan sepertinya kalian harus mempersiapkan segala keperluan dua kali lipat...” jelas Yanagi sambil mencatat dibukunya.
“Dua kali?” aku memiringkan kepalaku. “Maksudnya?”
Yanagi terhentak dan tersenyum. “Maksudku, didalam perut Genichirou ada ‘dua nyawa baru’. Kamu mengerti?”
Aku diam sejenak dan dalam hitungan detik aku langsung menarik kerah jas putihnya. “Benarkah?! Ber-berarti... kami akan punya dua anak sekaligus? Kembar maksudmu?” Yanagi mengangguk.
Rasa senangku tidak bisa aku tutupi hingga aku sadari bahwa wajahku mulai memanas. “A-Apa saja mereka? Ah, maksudku mereka... itu...” kata-kataku mulai kacau karena rasa senang yang memenuhi pikiranku.
“Mereka laki-laki dan perempuan, Seiichi” Yanagi menepuk pundakku. “Tenanglah. Oh ya, berikan ini kepada Genichirou. Ingat, harus diminum setelah makan pagi dan sebelum tidur...” Yanagi memberikan sebuah memo kecil yang berisi resep obat-obatan.
“Baiklah...” aku mengangguk. “Terima kasih...”
Yanagi tersenyum, namun tiba-tiba saja raut wajahnya menjadi lebih serius. “Seiichi, sudah dengar kabar tentang Niou dan Hiroshi?” aku menggeleng. “Aku dengar Hiroshi sudah siuman...”
“Hua... Bagus! Lalu, bagaimana dengan bayi mereka?”
Kali ini Yanagi menutup bukunya, meletakan pena disaku kanannya dan memberikan kode kepadaku untuk mengikutinya. Ternyata perjalanan kami berhenti dikamar 507, didepan kamar Hiroshi. Disana sudah ada Genichirou dan Niou yang sedang duduk sambil menadahkan kepalanya dengan kedua tangannya.
“Genichirou...” panggilku dan mereka berdua menatapku. “Genichirou, ada apa?” tanyaku yang masih tidak tahu apa-apa.
Setelah keheningan beberapa saat diantara kami, akhirnya Yanagi angkat bicara dan menjelaskan bahwa bayi Niou dan Hiroshi tidak terselamatkan. Setelah itu Yanagi meninggalkan kami karena masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
“Benarkah itu?” tanyaku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.
Niou tertunduk. “Aku benar-benar suami buruk! Tidak bisa menjaga istriku dan anakku sendiri!” raut wajahnya mulai terlihat histeris sambil memegang kepalanya.
“Bagaimana mungkin?” Genichirou yang berdiri disebelahku melingkarkan tangannya pada bahuku. “Bukankah kemarin kamu baru mengabarkan bahwa...”
Niou mengangguk pelan. “Keadaan Hiroshi memang bertambah baik, namun anak kami mengalami penurunan sel ketahanan tubuh sehingga membuat kerja jantungnya lebih berat dan tadi pagi aku mendapatkan kabar bahwa... bahwa... anak kami...”
“TIDAK MUNGKIN!!!!” terdengar suara nyaring dari dibalik pintu tempat Niou berdiri.
Kami langsung memasuki ruangan dan terlihat dari gerak Hiroshi yang ingin turun dari tempat tidurnya. Niou langsung berlari menahan tubuh istrinya dengan memeluknya. “Hiroshi...”
“Tidak mungkin?! Aku ingin bertemu dengan bayi kita! Aku ingin melihat dia!” Hiroshi mulai meronta-ronta dan wajahnyapun mulai dibasahi oleh airmatanya.
Niou hanya diam menahan tubuh kecil istrinya itu. Walaupun Hiroshi terus memberontak, Niou hanya bisa diam memeluk istrinya dan terus berkata, “Hiroshi. Tenanglah. Kita harus terima kenyataan ini...”
Perlahan-lahan gerak tubuh Hiroshi semakin melemah dan jatuh didalam pelukan Niou. “Masaharu...” Isak Hiroshi semakin menjadi-jadi. Dengan lembut Niou memendamkan wajah Hiroshi didadanya. “Maafkan aku...”
Niou menggeleng. “Tidak. Ini semua salahku... aku tidak bisa melindungi kamu dan bayi kita... Aku benar-benar buruk...”
Terlihat pelukan mereka yang semakin erat membuat perasaanku ikut merasa sedih. Genichirou meraih bahuku sehingga aku jatuh didalam pelukannya. “Sebaiknya kita tinggalkan mereka”
“Ya...” tanpa mengatakan kepada mereka, dengan perlahan kami meninggalkan ruangan tersebut.
--o
Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam tanpa kata. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar. Harapan mereka selama ini langsung hilang dalam hitungan hari. Mengingat itu semua membuat wajahku memanas, nafasku yang mulai tidak beraturan dan akhirnya wajahku mulai basah.
“Seiichi... tenanglah...” Genichirou menepuk pundakku sejenak karena dia masih harus berkonsentrasi dengan jalan raya.
“Genichirou... harapan mereka... impian mereka...”
Genichirou menghentikan mobilnya sejenak dipinggir jalan, lalu menarik tanganku sehingga aku jatuh didalam pelukannya. “Tenanglah Seiichi. Aku yakin mereka bisa menerimanya...”
“Tapi...” kusadari bahwa aku mulai membasahi kemeja putih Genichirou.
“Kamu sahabat Hiroshi, bukan? Saat ini kamu boleh menunjukan rasa sedihmu didepanku. Namun, saat kamu bertemu dengannya, aku mohon kamu tidak boleh seperti ini...”
“Kenapa?” bantahku. “Aku hanya menunjukan kalau ak-“
“Sedih?” aku mengangguk. “Ya... boleh saja. Tetapi ingat satu hal. Pada saat ini keadaan Hiroshi sedang labil. Sebagai sahabat kamu harus bisa menguatkannya. Jangan sering membawa masalah ini kedalam pembicaraan, terkecuali tidak bisa dipungkiri lagi... mengerti?”
Aku mengangguk. Kata-kata Genichirou memang sedikit kasar, tetapi aku mengerti bahwa dia sendiri juga merasa khawatir dengan sahabatnya, Niou. Sifat keras dan keteguhannya itu semakin membuatku jatuh cinta kepadanya.
--o
Malam harinya aku memberikan kabar kepada teman-temanku mengenai kesehatan dan musibah yang terjadi oleh keluarga Niou. “Genichirou...” panggilku sesaat sebelum kami mulai memasuki dunia lain.
“Hmm? Ada apa, Seiichi?” Genichirou yang berada disebelahku menarik tanganku dan membiarkanku bersandar pada lengan kanannya itu.
“Aku bingung...”
“Kenapa?” aku dan Genichirou saling bertatapan. Genichirou menaikan tubuhnya sedikit lalu menciumku. “Ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?” aku mengangguk pelan. “Apakah mengenai keluarga Niou?” aku mengangguk lagi.
“Aku hanya merasa bahwa nasib mereka benar-benar tidak adil! Bukankah mereka sudah memberikan apa yang terbaik untuk bayi mereka? Namun kenapa pada akhirnya... tetap saja...” tanpa aku sadari bahwa nafasku mulai tidak teratur dan air matapun mulai membasahi wajahku.
“Seiichi...” Genichirou memelukku dengan erat dan mencium pipiku. “Dengarkan aku. Tidak ada seorangpun yang tahu bagaimana nasib mereka, bahkan kitapun tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku yakin akan ada sesuatu dibalik peristiwa yang sudah menimpa mereka saat ini...”
Tangan kanan Genichirou yang lengannya aku gunakan sebagai bantalan, membelaiku dengan lembut dan diapun melanjutkan perkataannya. “Seiichi, besok jenguklah Hiroshi. Berikan semangat dan dukungan padanya. Aku mendengar dari Yanagi bahwa ada seseorang yang ingin dia berikan pada Hiroshi dan Niou...”
“Apa maksudmu?”
Genichirou tersenyum. Sambil sedikit memiringkan tubuhnya, dia mendekatkan pipinya pada wajahku. “Ingat kecelakaan yang mereka alami?” aku mengangguk. “Ternyata keluarga itu juga tidak terselamatkan dan meninggalkan anak sematawayang mereka...”
“Jadi, maksudmu adalah...”
“Ya... Tapi itu tergantung dari Niou dan Hiroshi sendiri” aku mengangguk kembali. “Nah, bagaimana kalau kita tidur? Aku sudah mengantuk...”
“Genichirou, boleh aku bertanya sesuatu lagi?” Genichirou bergumam sebagai jawaban. “Apa kamu sudah ada nama untuk mereka?” tanyaku sambil mengelus perut Genichirou yang semakin membesar.
“Belum... Kamu sendiri? Apa sudah menentukan satu atau dua nama?” aku menggeleng. “Baiklah kalau begitu. Lebih baik sekarang kita tidur karena besok kita masih harus bekerja...” ucapnya sambil memberikan kecupan selamat tidur di pipiku.
---123_Start Pov Sanada Genichirou—
Seminggu setelah kepulangan Hiroshi dan pemakaman bayi mereka, sikap dan gerak-gerik Niou banyak berubah. Sering kali dia tidak konsen dengan pekerjaannya dan lingkar matanya semakin lama semakin menghitam. Sudah beberapa kali aku menyarankan dia untuk beristirahat, namun yang selalu dia jawab adalah, ‘Tidak. Aku harus tetap terjaga menjaga Hiroshi. Aku tidak mau kalau dia sampai melakukan hal-hal aneh...’
Kenyataan yang menimpa mereka sungguh berat sekali. Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan kabar bahwa Hiroshi menerima anak yang sebelumnya dititipkan oleh keluarga Oshitari. Untung saja Hiroshi mau menerimanya dan keadaan Nioupun mulai membaik.
Aku ikut senang dengan kebahagiaan mereka, namun ada sesuatu hal aneh yang aku rasakan. Bukan dengan keluarga Niou, tetapi dengan diriku sendiri. Pekerjaan yang diberikan kepadaku sudah dipermudah dan dipersingkat. Namun masih ada sesuatu yang mengganjal dan sering membuatkku cepat merasa lelah.
“...nada...Sanada...?” panggil Niou yang membuyarkan lamunanku. “Kamu tidak apa-apa?” tanyanya lagi sambil meletakan berkas-berkas diatas mejaku dan duduk didepanku.
“Tidak. Aku tidak apa-apa...” jawabku singkat dan berusaha untuk kembali kepada pekerjaanku. Rasa sakit dikepalaku semakin menjadi-jadi hingga membuat keseimbanganku menjadi goyah.
“Sanada!” dengan sigap Niou menahan tubuhku. “Sepertinya kamu kelelahan...” Ucapnya sambil memberikan air kepadaku. “Bagaimana kalau kamu pulang?”
“Tetapi pekerjaan ini...”
“Sudahlah, Sanada...” Niou menarik kertas yang ada dihadapanku. “Umur kandunganmu sudah mencapai 9 bulan, bukan? Bukankah sebaiknya kamu banyak beristirahat dan mempersiapkan diri untuk kelahiran mereka?”
“Kamu ini...” aku menghela nafas. “Seperti Seiichi saja...” aku mencoba untuk mengambil kembali, tetapi dihalangi.
“Sanada, pikirkan kesehatanmu!” suara Niou meninggi. “Ah... maaf. Aku hanya tidak mau kalau kamu mengalami hal yang sama sepertiku...” suara Niou yang melemah membuatku semakin merasa bersalah.
“Baiklah...” akhirnya aku mengikuti apa yang disarankan oleh Niou. Aku juga tidak mau kalau kesalahan dulu terulang kembali.
--o
Setelah merapikan beberapa berkas yang tercecer kedalam laciku, tiba-tiba saja perutku mulai terasa sakit. ‘Ada apa ini?’ aku memegang perutku sambil mencoba untuk bangun dari tempat dudukku.
“Sanada? Ada apa?” Niou yang membantuku merapikan beberapa berkas bingung dengan kehentian gerakanku. “Apa ada yang terlupa?”
“Tidak” sangkalku. Rasa sakit ini tiba-tiba saja menghilang. ‘Ah... mungkin karena terlalu lama duduk...’. Kuambil tasku yang tidak jauh dari tempat dudukku dan memasukan telepon genggamku kedalamnya. “Niou, aku mau kekamar kecil dulu” Niou mengangguk tanda dia mendengar perkataanku.
Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi yang berada diruanganku. Tepat saat aku mau menyalakan air wastafel, tiba-tiba saja perutku kembali sakit. Rasa sakit yang tidak tertahankan membuatku jatuh tertunduk sambil memegang perutku. ‘Ada apa ini?! Apakah saatnya? Tapi bukankah seharusnya masih 3 minggu lagi?’
Aku mencoba mengangkat tubuhku, namun semua itu sia-sia. Rasa sakit pada perutku membuat tenagaku cepat habis. Aku mencoba untuk berdiri dengan menjadikan berpegang pada tiang pembatas wc, namun aku menjatuhkan beberapa peralatan sehingga membuat banyak keributan.
“Sanada? Kamu tidak apa-apa?” Niou sepertinya menyadari sesuatu dari luar sana.
“Ni...Niou...” aku mencoba memanggilnya namun tenagaku benar-benar terkuras. Rasa sakit yang begitu membuat pikiranku menjadi kacau. “NIOU!” akhirnya aku memanggilnya dengan tenaga yang tersisa.
Detak jantungku berdetak cepat, nafasku memburu dan rasa sakit semakin memenuhi seluruh tubuhku. Sambil bersandar pada tembok, aku hanya bisa mengantur nafasku dari mulutku. Rasanya seperti habis lari berpuluh-puluh meter, seperti yang biasa aku lakukan selama aku masih duduk dibangku sekolah, namun yang berbeda adalah rasa sakitnya.
“Seiichi...” aku hanya bisa bergumam berharap akan adanya pertolongan kepadaku.
“Sanada!” raut wajah Niou benar-benar terkejut saat memasuki kamar mandi. “Tunggu sebentar. Aku hubungi rumah sakit dulu. Bertahanlah...” Paniknya saat mengambil handphone dari saku celananya.
“Niou...” panggilku perlahan. “Tolong hubungi Seiichi...” aku benar-benar tidak berdaya.
“Ya. Aku akan memberitahunya. Sekarang kamu tenang dulu...” katanya sambil menepuk pundakku. “Hiyoshi! Panggil Jackal!” teriak Niou yang masih berada disebelahku. “Sanada... itu...”
Aku mengikuti arah gerak kepalanya dan ternyata ada cairan yang membasahi celana biruku. Rasa panik semakin menghantuiku. “Ni-Niou...” kurasakan suaraku mulai bergetar.
“Sanada, tenanglah... Sanada...? SANADA!” perlahan pandanganku mulai berkabur dan berubah menjadi hitam.
---end part 5----
please ur comment n review
No comments:
Post a Comment