Monday, October 11, 2010

How Come part 4

How Come Part 4

Des: Konomi sensei...

Charac: sanayuki

Rat: M (untuk jaga2..tapi ternyata gak sama sekali ><>

Pov: Yukimura Seiichi

--------------------000000000000000----------

Wajahnya yang biasanya selalu terlihat kaku, kasar dan galak, kali ini terlihat tenang dan lemah. Setelah diberikan obat oleh Oshitari, dia mengizinkanku untuk tetap berada disebelahnya. Baru aku sadari kalau diwajahnya sudah terdapat kantung mata yang menurutku cukup berat. “Berarti dari kemarin dia sudah menghabiskan banyak tenaga... ini semua... salahku...” kesalku dalam hati. Aku yang duduk disebelah kanannya, meraih telapak tangannya yang besar, mengkaitkannya dengan jari-jari tanganku dan bersandar. “Genichirou... cepatlah bangun...”

Tidak lama kemudian, aku mendengar suara pintu yang berada dibelakangku ini terbuka. “Seiichi, bagaimana keadaannya?” suara yang aku kenal, Yanagi Renji. “Maaf. Aku baru diberi tahu oleh Oshitari kalau Genichirou masuk lebih awal”

Aku hanya menggeleng. “Tak apa-apa. Ini juga diluar dugaan. Tiba-tiba saja dia pingsan di dojo-nya”

“Sekali lagi aku minta maaf, Seiichi” pintanya sambil menundukan kepala.

Kali ini aku tertawa kecil. “Yanagi, kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Aku mengerti kok pekerjaanmu sebagai dokter. Selain itu, aku juga sudah mendengar kalau kamu masih berada didalam ruang operasi, bukan?”

Yanagi hanya diam lalu mengambil sebuah bangku, meletakannya dan duduk disebelahku. “Seiichi... Sebenarnya aku sudah tahu hal ini...” aku terbelak mendengar perkataannya. “... kemarin”

“Kemarin?” berarti pada saat aku dan Genichirou mulai bertengkar. “Mengapa demikian?”

“Sekitar jam 2 siang, dia datang menemuiku. Awalnya dia masih menyembunyikannya padaku, hingga berbagai gejala yang menyerangnya, mau tidak mau aku memeriksanya dan aku menemukan bahwa ada janin didalam tubuhnya...”

Yanagi-pun melanjutkan penjelasan apa saja yang sudah dilakukan Genichirou, bahkan dia juga sempat meminta pendapat untuk menggugurkan kandungannya. Tentu saja Yanagi menolak, karena sebagai dokter, tidak boleh mengambil nyawa terkecuali jika dalam keadaan gawat atau mengancam salah satu jiwa, baik dari janin ataupun yang mengandungnya. Yanagi sendiri menyarankan Genichirou untuk menanyakan terlebih dahulu kepadaku, dan setelah itu baru mengambil tindakan selanjutnya.

“Jadi, bagaimana Seiichi... apa yang akan kamu lakukan?”

“Apa yang akan aku lakukan?” tanyaku balik. “Apa maksudmu, Renji?”

Yanagi menghela nafas sejenak, berdiri disebelah Yukimura dan memegang bahunya. “Maksudku adalah pilihan apakah yang akan kamu ambil... Tetap mempertahankan janinnya, ataukah akan melepaskannya?”

Pertanyaannya benar-benar membuatku berfikir kembali. Jikalau aku mempertahankan janin yang ada dikandungannya itu, aku merasa khawatir dengan masa depan anaknya. Berbagai macam pertanyaan terlintas dikepalaku, seperti siapakah yang melahirkannya, bagaimana cara merawatnya, dan lain-lainnya. Tetapi jika aku melepaskan begitu saja, kasihan Genichirou yang sudah bersusah payah menjaga kandungannya. Ataukah dia akan lebih memilih untuk...

“Se-Seiichi...” terdengar suara sayu disebelahku dan kurasakan jemarinya yang mulai menunjukan gerakan.

“Genichirou...” panggilku khawatir. “Maafkan aku...” isakku sambil meletakan telapak tangan besarnya dipipiku. Walau tanpa mengeluarkan sepatah kata, aku tahu bahwa Genichirou juga mengkhawatirkanku. Dengan lembut dia menghapus airmataku. “Maafkan aku...” ucapku lagi.

Genichirou menggeleng pelan. “Tidak. Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu karena sudah membohongimu...” Isak tangisku semakin menjadi dan membuat tangan Genichirou menjadi sangat basah. “Hey, sudahlah. Aku tidak marah padamu... tersenyumlah”

Rasanya sulit sekali untuk tersenyum, tetapi aku paksakan. Aku tidak mau membuat Genichirou lebih khawatir kepadaku. Sudah cukup dia selalu memikirkan keadaanku daripada keadaannya sendiri. “Genichirou, apakah ada yang sakit?” tanya Renji tiba-tiba sambil menyuntikan obat keselang infusnya.

“Tidak. Terima kasih, Renji.” Jawab Genichirou perlahan.

“Renji, sudah berapa lama ini?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku kepada Genichirou.

“lima bulan...” balasnya singkat. “Kalau begitu aku kembali keruanganku dulu. Kalau ada apa-apa, kamu bisa panggil aku dengan menekan tombol itu” tunjuk Yanagi pada sebuah alat yang berada disebelah kanan bantal Genichirou. Setelah itu Yanagipun keluar meninggalkan kami berdua.

Keheningan terjadi diantara kami. Aku yang masih merasa bersalah pada diriku sendiri hanya bisa menangis dan menundukkan kepalaku pada telapak tangan Genichirou. “Seiichi... kenapa kamu masih menangis? Apakah ada yang sakit?”

Aku menggeleng. “Aku tidak sakit... tapi perasaanku sakit... sakit karena aku yang sangat bodoh ini...aku...” Genichirou menarik wajahku dan dengan setegah bangun dia menciumku. “Ge-genichirou...”

“Aku tidak ingin kamu menangis terus. Simpan air matamu dan... lihat! Matamu sudah mulai bengkak” serunya sambil mengapus airmataku yang mengalir di pipiku. “...bahkan sepertinya ‘kue manju’ku sampai lupa diangkat ya?” ledeknya.

“Genichirou! Kamu ini! Selalu saja meledekku” kesalku sambil mengembungkan kedua pipiku dan disambut dengan cubitan darinya.

“Habis kamu itu lucu...” refleks aku mengindar agar pipiku tidak semakin memerah. “...seiichi...” aku berdeham sebagai ganti jawaban. “...jadi kamu sudah tahu kebenarannya?” Aku mengangguk. “Ya, alat itu sebenarnya punyaku...”

“Tapi, bagaimana caranya?”

“Aku juga tidak tahu...” Nada suaranya melemah. “Padahal selama ini sepertinya aku yang selalu saja berlebihan denganmu. Namun kenapa justru aku yang...”

“...apa mungkin...”

“Apa maksudmu, Seiichi?”

Aku tersenyum dan menyandarkan kepalaku disisinya. “...bukankah kamu pernah mengatakan ingin melakukan apa saja untukku?” Genichirou mengangguk. “...mungkin saja ini salah satu kemungkinan karena aku...aku...” raut Genichirou semakin bingung. “...karena aku sepertinya tidak...tidak bisa mempunyai anak... sehingga kamu yang...”

Perkataanku dipotong dengan pukulan kecil pada kepalaku. “Seiichi! Kamu jangan bicara macam-macam. Kamu tidak seperti apa yang ada pada bayanganmu. Mungkin ini salah satu anugrah yang diberikan kepada kita. Jadi, kamu jangan berfikir yang aneh-aneh!”

Aku tertawa mendengar penjelasannya itu. Sudah lama sekali aku tidak mendengarkan celotehannya karena waktu yang memisahkan kami. Malam ini aku memutuskan untuk menemaninya dirumah sakit. Aku tidak ingin saat-saat indah ini hilang walau hanya sesaat saja.

Lima bulan dua minggu umur kehamilan Genichirou dan sudah satu minggu sejak kejadian yang menyebabkan hubungan kami hampir berantakan. Setiap harinya kehidupan kami sedikit demi sedikit mulai ada perubahan yang membuat orang-orang disekitar kami ada yang ikut merasa senang ataupun merasa aneh. Wajar saja, perut Genichirou semakin lama semakin membesar dan disetiap kali pemeriksaan, ibu-ibu yang berada diantara kami merasa anegh dengan adanya kenyataan bahwa Genichiroulah yang diperiksa, bukan aku. Untungnya saja yang memeriksa dia adalah Renji dan Oshitari.

Namun ditengah kebahagiaan yang ada, ada suatu berita yang mengejutkan kami semua. Hiroshi dan bayi yang dikandungnya mengalami koma karena lahir tidak sesuai dengan waktunya. Kejadian itu terjadi pada saat mereka didalam perjalan pulang dan ada mobil dari arah berlawanan yang menabrak mobil mereka. Seketika itu juga, Hiroshi harus menjalankan perawatan untuk segera melahirkan.

“Niou, bagaimana dengan Hiroshi?” tanyaku saat menemuinya dikamar perawatan. Niou saat itu diam tertunduk disebelah istrinya yang terbaring lemah.

“Hiroshi dari tadi belum siuman...” Niou menggenggam tangan Hiroshi yang terlilit oleh selang infus. “Aku tidak tahu apakah dia sanggup mengetahui hal ini... sudah dua hari dia belum siuman. Sejak dia harus melewati tekanan melahirkan, dia masih belum membuka matanya...”

Aku memegang bahu Niou dan menatap Hiroshi. “Dia pasti bisa. Hiroshi adalah ibu yang kuat. Aku yakin itu”

“Ya... Kamu memang benar. Terima kasih, Yukimura...” ucapnya perlahan. “Yukimura, bagaimana dengan Sanada sendiri?”

“Dia baik. Saat ini dia sedang diperiksa oleh Oshitari dan setelah dia selesai, dia akan segera kesini” Niou mengangguk pelan.

“Niou” panggil seseorang dari belakang. Ternyata Renji yang lengkap dengan beberapa peralatan bersama dengan Bunta. “Bagaimana dengan Hiroshi? Ada perubahan?”

Niou menggeleng. “Dia masih diam saja seperti ini...”

“Niou, boleh aku menyarankan sesuatu?” Bunta mengeluarkan sebuah mp3 dari sakunya. “Bagaimana kalau memasangkan lagu? Aku dengar kalau musik bisa berpengaruh baik pada orang sakit. Bagaimana, Yanagi?”

“Ide yang bagus, Marui. Aku tidak masalah kalau Niou sendiri tidak melarangnya” Yanagi kembali mencatat sesuatu dan memberikan selembar kertas kepada Niou. “Ini catatan mengenai beberapa keterangan tentang barang-barang disini. Jadi saat ada petugas yang memeriksa atau membersihkan barang, mereka tidak akan mengubah apa yang ada”

Niou menerima kertas tersebut dan menatap kesemuanya. “Terima kasih” Niou membungkukan tubuhnya.

Tidak lama kemudian, Sanada dan Jackal datang bersama. “Yo! Niou” panggil Jackal sambil memberikan sebuah parcel buah dan diletakan diatas meja seberang ranjang Hiroshi. “Bagaimana keadaan kalian?”

“Ya, seperti yang kamu lihat” Jawab Niou singkat. “Kamu sendiri?”

“Ya. Sekarang aku lagi sibuk mengatur jadwal KALIAN! Untung saja si Hiyopiyo bisa diajak kerja sama” Sejak Sanada dan Niou mengambil cuti, Jackal sebagai kepala atasan mereka harus bisa mengatur beberapa anak buah lainnya untuk menggantikan tugas mereka.

“Maaf, Jackal. Aku juga tidak mau” bela Niou.

“Siapa juga yang mau, ya kan?” sambung Sanada dan diikuti oleh tawa semuanya.

“Tapi tidak disangka juga ya... Sanada... bagaimana caranya?” sela Bunta sambil menyenggolku. Aku hanya bisa diam tertunduk malu. “Hua... Yukimura, aku juga mau sepertimu...”

“Jangan bicara macam-macam, Bunta! Nanti kalau benar-benar bisa terjadi...” sela Jackal selaku suami Bunta yang mulai ketakutan.

“Bisa jadi bahan yang menarik” gumam Renji sambil kembali mencatat ke dalam bukunya.

Sudah lama sekali kami tidak bertemu dan kembali tertawa lepas seperti ini, rasanya rindu. Disela semuanya tertawa, aku menatap Hiroshi yang terbaring lemah. Sempat aku mendapatkan berita bahwa keadaan bayinya lebih lemah dan aku tidak tahu apakah Hiroshi sanggup menerima kenyataan yang ada. Sebagai sahabatnya, sering kali aku mendengar ceritanya dan harapannya mengenai anak mereka. Aku duduk disebelahnya dan memegang tangannya yang terasa dingin. “Hiroshi, bertahanlah dan cepatlah bangun. Anakmu dan suamimu sudah menunggumu...”

Gumamku ternyata diperhatikan oleh Genichirou. Dia menepuk pundakku dan ikut menatapnya. “Tenang saja. Hiroshi akan baik-baik saja. Renji dan Oshitari adalah dokter terbaik disini. Aku yakin dia akan baik-baik saja...” Genichirou mengerti sekali mengenai hubungan kedekatan kami yang mau tidak mau membuatku ingin memeluknya.

“Ya... aku yakin... aku yakin bahwa dia akan baik-baik saja dan segera membuka matanya...”


--end part 4---


next: How Come part 5

prev: How Come part 3

first: How come part 1


No comments:

Post a Comment