------00explanationz00-----
Des: Konomi-sensei (tambah cakep ja >< -dtendang keluar-)
Rat: M
TimeLine: liburan kenaikan (untuk angktn kls 3-kuliah ; kls 2 – kls 3 ; kls 1- kls 2)
Charaters: no main characters!
Info: kali ini cerita na merupakan kumpulan seluruh pasangan yang aku suka ^^ hehehe.. jadi pasangan2 yang ada sesuai dengan pasangan yang biasa di’perlihatkan’ dalam kesehariannya.. no crossing... (maaf kalo ada yang suka crossing)... namun.. akankah ada ending na?? (author dudutz)
Song: ...
--hari pertama_sesampainya di pulau_sekilas sebelumnya—
Perjalanan dari kota menuju Pulau milik Atobe memakan waktu 4 jam. Sepanjang perjalanan terlihat siapa sajakah yang kuat bertahan dalam menghadapi perjalanan dengan kapal maupun menghadapi angin laut yang tidak bersahabat itu. Wajah-wajah yang biasanya terlihat tegas terlihat banyak bertumbangan ataupun bersikap tidak seperti biasanya saja, dan salah satunya adalah Atobe sendiri. cuaca hari ini memang buruk sekali. Angin bercampur air menjadi satu menghantam kapal milik Atobe sehingga gerak kapalpun menjadi tidak seimbang dan membuat seluruh penghuninya menjadi mabuk.
Setelah sampai, dengan dibantu oleh Shiraishi dan Yukimura, akhirnya masing-masing dari pasangan diberikan sebuah kunci untuk memasuki villa masing-masing mereka yang letaknya berbeda-beda. Walaupun bagi Atobe hanyalah sebuah kamar, namun bagi mereka semua itu adalah villa ataupun pondok kecil.
Pengumumanpun diberikan dan banyak yang tidak terlalu mendengarkan. Yukimura dan Shiraishi dibantu dengan beberapa petugas memberikan kunci dan selembar kertas mengenai jadwal acara mereka. Untuk jadwal pertama, mereka diberikan kesempatan untuk beradaptasi ataupun mengelilingi sekitar pulau. Lalu untuk acara berikutnya, mereka harus berkumpul di ‘aula’ utama gedung mereka berkumpul sekarang tepat jam 9 pagi.
----start_ShishidoChoutaro----
Pov Choutaro
Kagum. Senang. Terpukau. Bahagia. Bangga. Itu semua yang bisa aku katakan dari seluruh apa yang sedang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan. Tempat dimana kami bisa beristirahat berhadapan langsung dengan pantai. Ruangan satu lantai dengan peralatan yang lengkap dan jendela yang terbuka lebar membuat angin malam terasa menyejukan. Tidak ada yang bisa aku katakan selain bahagia.
“Choutaro... Rapikan dulu barang-barangmu, baru terpukau dengan pemandangan sana...” Shishido yang tadi membantuku membawa tas makananku, mengingatkan atas perlakuanku yang masih seperti anak-anak ini.
“Ah, maaf Shishido-san” ucapku malu sambil mengambil tas dari tangannya. “Atobe buchou memang hebat! Desainnya bagus dan minimalis...”
“Selain itu...” sambung Shishidosan sambil meletakan jaket diatas tempat tidur. “Dia itu terlalu kaya atau bagaimana sih?! Pondok seperti ini dia katakan KAMAR?! Benar-benar tidak masuk akal!”
Aku tertawa mendengar keluhan mantan pasangan doublesku itu. Keluhanya memang benar. Ruangan satu lantai lengkap dengan kamar mandi, dapur kecil dan tempat tidur dan dibangun secara terpisah ini, dikatakan oleh Atobe-buchou dengan sebutan kamar. Besar kamarku memang hampir sebesar ini, namun aku tidak pernah menyangka akan ada yang dibangun secara terpisah dan lengkap dengan berbagai macam peralatannya.
Setelah selesai merapikan barang-barangku, aku melepas lelah dengan merebahkan tubuhku diatas tempat tidur berukuran doubles ini. Empuk, lembut dan nyaman. Itulah yang bisa aku jelaskan mengenai tempat tidur ini. Aku mengambil salah satu bantal dan memendamkannya pada wajahku. “Empuknya...” seruku sambil sedikit berguling-guling.
“Ya ampun, Choutaro...” keluh Shishido-san dan mengambil bantal yang aku pakai itu. Kusadari bahwa dia berada diatasku. “Sampai kapan kamu mau menghancurkan tempat tidur yang sudah tertata rapi ini?”
Kurasakan wajahku memanas. “A-Aku hanya merasa senang saja kok. Tidak lebih...” aku membalikan tubuhku untuk mencoba bangun, namun tubuh Shishido-san menahanku dari atas. “Shi-shishido-san...”
Wajah dan tubuh kami saling berhadapan. Tangan dingin Shishido-san mulai menyentuh kulit wajahku perlahan dan kamipun saling bertatapan. “Choutaro... bolehkah...?”
Detak jantungku berdetak cepat dan nafasku mulai tertahan. Aku mengangguk perlahan dan tidak lama kemudian bibir kamipun bersatu. Perlahan-lahan tangan dingin Shishiro-san mulai membuka kancing kemeja biruku. Akupun dengan tangan kiriku memegang bahu Shishido-san sebagai peganganku.
Dar! Dar!
Pandangan kami langsung tertuju pada arah jendela kamar kami. Kembang api pun diluncurkan. Warna-warni yang indah menghiasi langit malam. Mataku langsung tertuju sehingga tidak memperhatikan bahwa Shishido-san yang masih saja menyentuhku. “Shishido-san! Lihat!” ucapku tanpa mengalihkan pandanganku sama sekali.
Shishido-san dengan tangan satunya memegang kepalanya dan berkata, “Ya ampun, Choutaro. Itu hanya kembang api...”
“Indah sekali, ya” rasa antusias tidak bisa aku tutupi sama sekali. Aku yang biasanya hanya bisa melihat kembang api setahun sekali dari kejauhan ataupun bermain dengan ukuran kecilnya, kali ini bisa melihat acara kembang api dari dekat dan tidak tertutup oleh halangan apapun.
“Kamu mau lihat dulu?”
“Tidak apa-apa?” tanyaku penuh harap. Kulihat wajah Shishido-san yang memerah, melihatnya itu membuatku merasa senang,
“Ya. Ayo kita lihat dulu diberanda...” Shishido bangun dan merapikan kemeja hitamnya. “Kamu duduk disana dulu, akan aku ambilkan sesuatu untuk dimakan”
Kembang api yang besar dan penuh warna-warni membuat perasaanku menjadi berdebar-debar. Entah mengapa debaran ini tidak berhenti bahkan semakin cepat ketika ada kembang api yang saling menyatukan warna satu dengan warna lainnya. “Hey, Choutaro!” Shishido-san menepuk kepalaku. “Kamu tidak mau masuk angin karena kamu terlalu lama membuka mulut, kan?”
“Ah...”
Aku benar-benar merasa malu pada Shishido-san. Dengan cepat aku langsung menutup mulutku dan menunduk malu. Tangan kasar Shishido-san kembali mengelus kepalaku dan menyandarkannya pada bahunya. Tubuhnya sekarang semakin tinggi dan tatapan kami semakin lama semakin mendekati, walau tubuhku masih lebih tinggi dari padanya.
"Shishido-san lihat!" Aku menunjuk pada kembang api lambang sekolah-sekolah yang pernah aku lihat. Seigaku. Hyoutei. St Rudolph. Rikkai, dan masih beberapa sekolah yang tidak aku kenal. Saat bendera Hyoutei tergambar dilangit, perasaanku tiba-tiba memanas. Entah perasaan apa yang membuatku semakin bersemangat.
"Atobe memang kebanyakan uang" keluh Shishido-san sambil meminum minumannya. "Aku penasaran, sejauh manakah idenya bisa mengatur acara ditengah kesibukannya itu?"
"Atobe-buchou memang hebat" kagumku yang masih terpaku dengan peluncuran kembang api. "Padahal kalian sibuk dengan mengurus pendaftaran universitas kalian, tetapi masih saja..." Kata-kataku terhenti seiring tidak ada lagi kembang api yang bermunculan. "Yah... Habis?"
Shishido-san menggeleng padaku. "Kamu ini..!!" Kali ini dia kembali mencubit pipiku. "Kamu itu kelas berapa sih? Masih suka saja sama kembang api?!"
"Biarin!" Balasku. "Habisnya kembang api kan bagus! Selain itu jug-" ciuman Shishido-san menghentikan perkataanku.
"Jadi, lebih penting kembang api dari pada aku?"
"Ti-tidak..." Panikku. "Shishido-san lebih penting. Hanya saja..." Aku benar-benar kehabisan kata! Aku hanya bisa membuka mulutku tanpa mengeluarkan sedikit suara dari mulutku.
Shishido-san menepuk pundakku dan menarikku kedalam pelukannya. "Sudahlah... Tak apa kok..." Kami saling bertatapan dan akupun tertawa kecil. "Ada apa?"
Aku memalingkan mukaku sejenak dan merebahkan tubuhku sambil memeluk guling. "Habis wajah Shishido-san lucu..."
"Lucu?" Shishido-san terlihat sedikit marah namun aku tahu bahwa dia hanya bercanda padaku. "Aku itu tidak lucu, Choutaro!". Shishido-san langsung mendekatiku dan memelukku.
"Shi-shishido-san!" Tubuhnya dia dekatkan padaku sehingga aku berada dibawahnya. Kurasakan detak jantungku berdetak cepat dan wajahku yang mulai memanas.
"Choutaro..." Kami saling bertatapan dan bibir kamipun saling bersentuhan. Seluruh tubuhku terasa panas dan Shishido-san membimbingku hingga tanpa kusadari tubuh Shishido-san sudah berada diatasku. Salah satu lengannya menahan berat tubuhnya dan tangan kanannya menyentuh wajah panasku.
"Choutarou..." Lirih Shishido-san sesaat sebelum kembali menciumku. Kututup kedua mataku hingga akhirnya kulit lembut Shishido-san terasa olehku. Manis.
"Shishido-san..." Shishido-san bergumam sebagai ganti jawaban karena sibuk menenggelamkan wajahnya pada leherku. "Aku..." Belum selesai aku melanjutkan kata-kataku, mulutku sudah terbuka lebar dan kedua mataku mulai berair.
"Choutaroooo" kedua pipiku kembali dilebarkan oleh Shishido-san. "Jangan tidur dulu..." Paniknya.
"Ta-tapi aku mengantuk..." Kuambil guling yang menjadi sandaranku untuk menutup wajahku.
Shishido-san menghentikan aktivitasnya dan mata kami saling bertemu. "Choutaro..."
Aku langsung bangkit dan menundukan kepalaku dalam-dalam. "Maafkan aku, Shishido-san"
Tangan lembut Shishido-san membelai rambutku dan menarik kepalaku kedadanya itu. "Tidak apa-apa... Aku mengerti..."
"Maafkan aku..."
"Ya..." Kurasakan dia mengangguk padaku. "Maafkan aku juga kalau sudah memaksamu dan sudah seharusnya aku tahu kalau kamu takut..." Tubuhku mengerjap karena Shishido-san langsung mengangkat topik yang menjadi alasan penolakanku. "Seharusnya aku menyadari kalau kamu belum siap untuk-"
"Tidak" potongku. "Ini salahku karena aku... Aku..."
Shishido-san mengangkat wajahku sehingga kami saling bertatapan dan diapun tersenyum padaku. "Tidak apa-apa, Choutarou..." Dengan cepat dia kembali mencium pipiku. "Ayo kita tidur. Besok kita sudah harus bangun pagi dan aku tidak mau mendengar ocehan Atobe jika kita sampai terlambat mengikuti acaranya..." Keluhnya sambil melemparkan tubuhnya disampingku.
Aku tersenyum dan ikut berbaring diatas tempat tidur ini, tentunya dipelukan Shishido-san. "Ya... Besok akan aku bangunkan Shishido-san..."
Seperti biasa, dia memalingkan wajahnya padaku. Mukanya kembali memerah. "Te-terima kasih..."
----endchoutanshishin----
Hai ^^ akhirnya kelar juga..
Rasa na udah lama sekali nggak u-date ><><>
Shishin: aoryu!!!!
Ao: hmm? Knp ?
Shishin: kok buat na nanggung banget sigh?!
Ao: huh?? Oooh... lagh... bukan na dah tau?? ^^ hehehehehe.. kalo mang pengen, kenapa nggak langsung narik ja tu sekarang? (ps: choutan na lagi bobo)
Shishin: ...
Ao: tuhkan... *senggol* ya sudah ^^ berikutnya giliran siapa ya? *cari mangsa n dah keburu di bakar*
Please ur comment n review ^^
No comments:
Post a Comment