Huaaa... ^^ banzai!! ^^/
Tidak disangka sama sekali! di hari pertama nulis langsung 2 chapter! ><>
Lalu.. terima kasih banyak yang belum apa-apa udah kasih repew.. ^^ hehehe...
Untuk masalah pairing na... maaf ya kalo ada yang anegh, gak berkenan atau.. ya.. begitu lah.. ><>
Karena.. karena...karena..karena... hueee... T_____T
AKU kan AUTHOR na SANAYUKI ... hikz....
Dan mau tak mau ak harus menahan diri untuk tidak membuat mereka dulu karena kalau tidak ak pasti bisa melupakan yang lain.. huee.... misalkanpun aku tulis sanayuki, hanya sedikit dan selingan.. hue... sedihnya..(kok jadi curhat??)
Ok.. sekian dulu ya ^^ silahkan dibaca...
------00explanationz00-----
Des: Konomi-sensei (tambah cakep ja >< -dtendang keluar-)
Rat: M
TimeLine: liburan kenaikan (untuk angktn kls 3-kuliah ; kls 2 – kls 3 ; kls 1- kls 2)
Charaters: no main characters!
Info: kali ini cerita na merupakan kumpulan seluruh pasangan yang aku suka ^^ hehehe.. jadi pasangan2 yang ada sesuai dengan pasangan yang biasa di’perlihatkan’ dalam kesehariannya.. no crossing... (maaf kalo ada yang suka crossing)... namun.. akankah ada ending na?? (author dudutz)
Song: ...
--hari pertama_sesampainya di pulau—
Setelah sampai, Atobe langsung mengumumkan kepada seluruh anggota yang ikut untuk memasuki villa utama karena hari semakin buruk. Atobe yang didampingi oleh Kabaji mulai terlihat aneh. Pucat dan tidak semangat. Ada beberapa peserta lainnya yang mulai mencemaskan keadaan Atobe. Namun seperti biasa, Atobe tidak ingin acara yang dibuatnya itu menjadi berantakan.
Atobe dengan dipapah oleh Kabaji, mulai berbicara didepan mereka semuanya. “Kalian semua, selamat datang di villa Atobe-sama. Karena hari semakin sore dan cuaca yang sepertinya akan hujan, ore-sama sarankan untuk segera memasuki kamar sekalian. Untuk acara selanjutnya, besok jam 9 pagi kalian semua berkumpul disini. Dan selanjutnya...”
Kali ini Yukimura dan Shiraishi berdiri didepan Atobe. Yukimura mengambil kertas dari dalam sakunya. “Masing-masing pasangan akan diberikan kunci oleh petugas yang berada disebelah kanan kalian. Jika ada keperluan ataupun kekurangan, kalian bisa menghubungi petugas melalui telepon yang terdapat dikamar masing-masing ataupun menghubungi petugas yang sudah memberikan kunci kepada kalian”
“Lalu...” sambung Shiraishi. “Karena Atobe sedang tidak enak badan, untuk saat ini kalian semua diberikan kesempatan untuk mengelilingi daerah sekitar sini. Tetapi jangan bermain didekat pinggir pantai! Cuaca yang buruk bisa membawa dampak yang buruk juga. Jadi, aku harapkan kalian untuk berhati-hati” Shiraishi menutup kertas catatan dari Atobe dan mengembalikannya pada Yukimura.
Atobe bangkit berdiri sejenak dan kembali memberikan pengumuman. “Baiklah. Kalau begitu, kalian boleh meninggalkan tempat ini dan segera mendapatkan kunci kamar kalian. Untuk keperluan pakaian dan lainnya, semua itu sudah tersedia didalam kamar masing-masing. Tidak perlu khawatir, karena disini ada tempat khusus peminjaman pakaian untuk kalian semuanya...”
“Kabaji” panggil Yukimura. “Sebaiknya kamu segera bawa Atobe kedalam. Mukanya semakin pucat”
“Usu” Kabajipun memegang bahu Atobe dengan lembut dan membimbingnya menuju kamar paling atas digedung tempat mereka sekarang. Setelah Atobe pergi, seluruh anggota yang dibantu oleh Yukimura, Shiraishi dan petugas lainnya, diberikan kunci masing-masing dan sedikit pengarahan mengenai kamar mereka.
----start_FujiTezuka----
Pov Tezuka
Sekitar 4 jam kami terombang-ambing diatas laut, akhirnya kami sampai disebuah pulau yang aku sendiri tidak tahu ada dimana. Dari tempat kami, pemandangannya sungguh indah! Pasir putih bersih, laut biru yang jernih, pemandangan indah dan udara pantai yang khas membuat suasana semakin menyenangkan.
Setelah sampai, Atobe kembali mengumumkan mengenai keadaan pantai ini. Dengan bantuan beberapa pekerja, kami diberikan sebuah kunci kamar disekitar sini. Aku melihat sekeliling dan ternyata bentuk villa yang dimaksud seperti sebuah pondok-pondok kecil dan sederhana, namun tetap menunjukan elegannya. Memang ciri khas Atobe!
Tanpa membuang waktu, aku langsung membawa Fuji ke villa tersebut karena penyakitnya tersebut, mabuk laut. Hingga sampai disini, raut wajahnya masih terlihat pucat dan aku tidak mau kalau sampai adiknya, Yuuta, dan keluarganya memarahiku hanya karena keegoisan Fuji yang tidak mau masuk kedalam dan memilih menerpa angin laut.
Aku membantu membawa bawaan Fuji yang tidak terlalu banyak. Memang acara ini diadakan dadakan. Namun aku tidak menyangka sama sekali bahwa Atobe merencanakan acara seperti ini. Kami semua diberikan waktu hingga besok pagi karena dia ingin beristirahat sejenak. Ya... Mau bagaimana lagi, akupun tidak bisa berbuat apa-apa ditempat yang tidak aku kenal seperti ini.
“Fuji, kamu tidak apa-apa?” tanyaku sambil meletakan tasnya didekat tempat tidurnya. Ruangan yang cukup luas, terdapat sebuah dapur kecil dan dua buah tempat tidur berukuran single extra.
“Tezuka...” Fuji bergumam pelan sambil menenggelamkan wajahnya pada bantal putih. “Aku pusing...”
“Itu salahmu sendiri. Kenapa kamu berani menantang angin laut?!” keluhku dan mencari peralatan obat-obatanku. Fuji masih saja melingkup tubuhnya. “Fuji, minumlah” aku memberikan segelas air dan sebutir obat padanya.
Fuji masih diam saja tanpa gerak. Aku semakin malas dan mulai terpancing emosi. Akhirnya aku putuskan untuk memberikan obat dengan caraku sendiri. Kutarik wajahnya, dan akupun mentransfer obatnya melalui mulutku. “Huk.Huk” Fuji terhentak sehingga obat yang aku berikan masuk dengan terpaksa. “Tezuka! Aku tidak mau minum obat!” keluhnya.
“Aku tidak mau kalau penyakitmu itu semakin bertambah parah lagi” bantahku dan meletakan gelas bekasnya diatas meja. “Ya sudah, istirahatlah” ucapku lagi.
Baru saja aku mau mengambil tasku, Fuji langsung saja menarik bajuku dari belakang dan mau tidak mau aku kehilangan keseimbangan, tepat terjatuh diatas tempat tidurnya. “Duh! Fuji!” keluhku. Kubuka mataku dan kusadari bahwa wajah Fuji berada diatas wajahku.
“Selamat datang” sambutnya.
“Hah?” aku yang masih bingung dengan keadaanku, dengan lembut Fuji mendekatkan wajahnya padaku. Kulit lembutnya yang hangat menyentuh pipiku dan diapun ikut berbaring disebelahku.
“Langitnya bagus, ya” ucapnya sambil menatap langit yang semakin berubah warna menjadi kemerahan. “Ne, Tezuka...” aku bergumam sebagai ganti jawaban. “Bolehkah aku?”
Aku menatapnya sejenak dan mengangguk perlahan. Kulihat raut wajahnya yang mulai memerah. Kutarik tangannya dan kubiarkan dia terjatuh dipelukanku. Perlahan aku kembali mendekatkan wajahku dan mencium bibir lembutnya. Dia membiarkan aku melakukannya hingga dapat kurasakan nafasnya yang semakin berat.
Kesadaranku sepertinya mulai menghilang. Tangan kananku menahan tubuh Fuji, sedangkan tangan kiriku mulai melepaskan kemeja biru laut yang dia gunakan. Semakin lama aku menciumnya, nafas dan detak jantungku semakin terasa berat. “Fuji...” aku memanggil namanya sesaat sebelum melanjutkannya lebih dalam lagi. “Apa kesehatanmu sudah membaik? Aku tidak mau kalau kamu sampai...”
“Tezuka...” balasnya dan mendekatkan kepalanya didadaku. “Apa kamu mau berhenti sampai disini?” Nada suaranya seperti memelas. “Aku tidak mau kalau hanya berakhir seperti ini...”
“Ya...” aku membelai rambut coklatnya itu dan menarik wajahnya kembali. Dalam hitungan detik, aku sudah berada diatasnya. Tangan kanannya aku tahan dan aku mulai kembali menyentuh seluruh tubuhnya hingga kebagian bawah. Kulihat raut waja Fuji sedikit meringis. “Fuji, kamu tidak apa-apa?”
“Ung” jawabnya. “A-aku hanya merasa geli...” Fuji tersenyum dan melingkarkan tangannya pada leherku. “Mitsu, aku sayang kamu...”
“Aku juga” jawabku singkat dan kembali pada pekerjaanku.
Aku kembali mencium tubuhnya yang putih itu hingga tertinggal tanda berwana kemerahan. Tanganku yang terbebas kugunakan untuk memulai melepaskan celana yang dia gunakan hingga selutut dan mulai menyentuh miliknya itu. Dari mulunya perlahan terdengar erangan dan desahan.
“Mit-Mitsu...” Fuji memalingkan wajahnya sambil menahan geli, tangan kanannya aku kaitkan dengan jariku dan tangan kirinya meraih bantal didekatnya. “Mitsu...Mitsu...” suaranya mulai bercampur dengan desahan.
Tanpa membuang waktu, perlahan aku melepaskan pakaianku dan mendekatkan tubuhku dengan kulitnya yang mulai sensitif. Tidak lama kemudian, aku merasakan genggaman tangannya yang semakin erat dan diikuti oleh tanganku yang menjadi basah. “Syuusuke, kamu sudah duluan rupanya...”
“Maaf...”
“Tidak perlu minta maaf” aku kembali menciumnya dan mulai menahan kaki satunya. Perlahan aku mulai memasuki tubuhnya yang kecil itu.
“Mitsu! Sa-sakit...” airmatanya mulai membasahi wajahnya.
“Tahanlah sedikit, ya...” Fuji mengangguk pelan. Aku terus memasuki tubuh kecilnya itu hingga mencapai batas.
“Akh! Mitsu...” erangnya dan nafasnya mulai tersenggal-senggal.
Aku membiarkan ini sejenak agar tubuh kecilnya bisa menerima kehadiran yang tidak biasa. Setelah melihat Fuji yang mulai tenang, kumulai menggerakan tubuhku hingga nafas kami semakin cepat dan kurasakan tubuh Fuji yang menegang, bertanda bahwa dia sudah mencapai batas untuk kedua kalinya.
“Mitsu... Mitsu...” dia terus saja memanggil namaku saat dia sudah mencapai batasnya. Namun aku masih saja belum mendapatkan apa-apa. “Mitsu... ini...ini aneh...”
“Aneh?”
“Kenapa aku terus saja...terus saja seperti ini, tetapi kamu tidak sama sekali...”
Aku mengerti. Fuji terus mengeluarkan cairan dari tubuhnya setiap kali aku masuki tubuhnya. “Itu berarti kamu sangat menikmatinya, Syuusuke...”
“Benarkah?” tanyanya dengan sedikit bingung.
Aku tertawa kecil dan melanjutkannya hingga nafasku semakin berat dan tubuhku mulai bergetar. “Syuusuke... bolehkah... bolehkah aku...”
“Ya.. didalam saja...Mitsu...”
Akhirnya aku mencapai batasku dan mengeluarkan seluruhnya didalam tubuh Fuji. Setelah aku melepaskannya, kulihat cairan keluar dari tubuh Fuji. “Kamu tidak apa-apa?”
“Ya...” nafasnya masih terpenggal-penggal. “Ya.. aku.. aku tidak apa-apa...”
Aku kembali mendekatinya dan mencium keningnya. “Terima kasih...” ucapku dan memeluknya dari belakang.
-----endfujitezuka---
Hahahaha.. akhirnya kelar ^^b
Ternyata banyak yang mabuk laut ya ^^ (d gorok)
Untuk dihari pertama, ak sudah mengorbankan Fuji_Tezuka sebagai pembukaan ^^ maaf ya kalo misalnya kata-katanya tidak greget githu ><>
Fuji: aoryuu!! Sejak kapan aku mabuk laut!!
Tezuka: Aoryuu! Kok aku lembut banget sih?!
Fuji: memang nya kamu mau nya seperti apa??!
Tezuka: ....
Fuji: ...
Aoryuu: ... errr ok.. kita biarkan dulu pasangan ini...
Sedikit bocoran, di hari pertama akan diberikan cerita yang sama, dalam arti dengan keadaan yang sama namun berbeda POV na ^^ jadi kalo di awalnya sedikit membosankan, aku mohon maaf sebesar-besarnya..
Ok.. sekian dulu dari aku ^^
Please ur Comment n review...
prev: one week for all -opening-
next: one week for all - shishinchoutan-
No comments:
Post a Comment