Monday, October 11, 2010

how Come part 6

Title: how come

Charac: sana yuki

Rat: M

Des: Konomi

Pov: yukimura

---ooooo----

Gelisah. Takut. Cemas. Khawatir. Semua itu yang aku rasakan pada saat ini. Setelah merapikan beberapa peralatan rumah dan menjemur pakaian, aku mendapatkan kabar dari Niou kalau Genichirou masuk rumah sakit!

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?!" Tanyaku panik saat Niou menghubungiku.

"Saat dia mau pulang, dia pergi kekamar mandi, tiba-tiba saja ada suara keras dari dalam sana, dan dia berteriak memanggilku. Lalu aku menemukan dia sudah duduk lemas dengan celana panjangnya yang sudah basah..."

"Ap-?!" Rasa terkejutku tidak bisa aku tutupi. Bagaimana tidak. Aku dan Sanada diberikan perkirakan oleh Oshitari dan Renji bahwa anak kami akan lahir 25 hari lagi. Namun kenapa bisa lebih awal!

Tanpa banyak persiapan, aku segera menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh Niou. Kali ini dokter yang menangani Genichirou adalah Oshitari dan Mizuki. Aku cukup merasa tenang dengan kehadiran Oshitari karena dia sudah mengerti tentang kandungan Genichirou.

"Niou!" Aku mendekati Niou yg sedng duduk di bangku ruang operasi. "Bagaimana Genichirou?"

"Dia sudah didalam. Sudah ada Oshitari dan Mizuki. Renji juga sudah di hubungi untuk datang memberikan beberapa keterangan."

Rasa cemas masih memenuhi pikiranku."Lalu, bagaimana dengan anak kami?"

Niou menggeleng. "Yakinlah bahwa Genichirou bisa berhasil melewati tahap ini..."

--ooo--

Biasanya para suami yang menunggu perjuangan istrinya dalam menghadapi keadaan seperti ini, namun kenyataannya berbeda sekali. Aku benar-benar tidak kuat. Rasa takut dan cemas menguasai diriku sehingga tanpa aku sadari wajahku mulai basah.

"Yukimura..." Niou menepuk pundakku. "Tenanglah.. Dia itu kuat! Pasti bisa..." Sambungnya sambil merangkulku dengan lembut.

Kututup wajahku dengan kedua tanganku dan tidak lama kemudian aku mendengar nama kami berdua dipanggil, Hiroshi bersama dengan anak mereka.

"Seiichi..." Suara pelan Hiroshi sambil berjalan perlahan mendekati kami.

Tanpa ragu aku langsung berlari pelan, lalu memeluk dan memendamkan wajahku kedalam pelukannya. Aku sudah tidak perduli bagaimana penampilanku saat ini didepan mereka. Hanya rasa takut dan galau memenuhi pikiranku.

"Seiichi... Tenanglah..." Hiburnya sambil membalas pelukanku. "Sanada akan baik-baik saja"

"Terima kasih, hiro-chan" ucapku yang masih memendamkan kepalaku kedalam pelukannya.

Hiroshi mengajakku duduk sejenak di bangku depan ruang operasi. "Haru-kun, apa Renji sudah datang?"

"Seharusnya sudah" jawabnya sambil menggendong anak mereka. "Ah, aku sampai lupa" Niou mendekati kami. "Seiichi, ini anak kami. Namanya Kuwahara. Nah, hara-kun, ayo salaman"

Wajah yang bulat, berambut hitam sebahu dan kulit kecoklatan. Matanya yang bulat mirip dengan Hiroshi, hanya saja kulitnya saja yg lebih gelap dari pada mereka berdua. Anak mereka langsung saja memendamkan wajahnya pada bahu kanan Niou. Reaksi wajar pada setiap anak kecil.

Aku tersenyum melihat tingkah lakunya. Setelah dibujuk oleh Hiroshi, Kuwahara akhirnya mau aku gendong. "Umur berapa?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku padanya.

"Dua tahun..." Jawab Niou. "Lagi masa-masanya bandel nih" sambungnya sambil mencubit pipi tembem Kuwahara.

Tanpa sadar, akupun terbawa suasana yang dibuat oleh mereka. Rasa khawatirku mulai berkurang sedikit demi sedikit.

--ooo---

Setelah menanti selama 3 jam, akhirnya lampu tanda operasipun berubah menjadi hitam, tanda kegiatan didalam sana sudah berakhir.

"Hiro-chan..." Nada suaraku melemah. Tidak tahu hasil apa yang akan kami dapatkan.

Pintu putih ini terbuka dan Oshitari berjalan mendekati kami. "Seiichi..."

Aku langsung saja bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menghampirinya. "Bagaimana Genichirou?"

Oshitari tersenyum. "Selamat, Seiichi... Anak kalian kembar dan semuanya sempurna..."

Rasa senang, lega, dan berbagai macam lainnya yang tidak bisa aku ucapkan memenuhi pikiranku. Wajahku kembali memanas dan kurasakan airmataku keluar. "Boleh aku bertemu dengannya?" Pertanyaanku dijawab dengan anggukan oleh Oshitari.

"Lewat pintu sebelah kanan, ya. Dia sudah dipindahkan kedalam sana" unjuknya sambil memberikan sedit pengarahan sebelum memasuki ruangan.

Ruangan serba putih, beraroma obat dan udara dingin. Suasana yang tidak aku sukai, namun diruangan ini terdapat seseorang yang aku cintai sudah memperjuangkan nyawanya untuk kedua buah hati kami.

"Genichirou..." Sambutku perlahan sambil duduk disebelahnya.

"Seiichi..." Ucapnya lemas sambil menatap kedua anak kami yang tidur tenang ditempat tidur lain. "Maaf membuatmu khawatir..."

"Tidak.." Tanpa aku sadari, wajahku memanas dan telapak tangan besar Genichirou yang menyentuh wajahku menjadi basah. "Justru aku yang seharusnya berterima kasih padamu... Terima kasih sudah berjuang untuk mereka..." Pandanganku teralih pada bayi kami.

Kedua bayi kami terlihat lucu sekali dan salah satu dari mereka ada yang benar-benar mirip dengan Genichirou. Alis mata yang tegas, bermuka oval, tenang, dan berambut hitam; itulah bayi laki-laki kami. Alis mata sayu, bermuka bulat, berambut biru, dan sepertinya dia akan menjadi anak yang aktif; itulah bayi perempuan kami.

"Nyaaaw" bayi perempuan kami menguap dan kembali tertidur dengan satu tangan yang saling terkait dengan tangan saudaranya itu.

"Seiichi..? Kenapa kamu menangis lagi?" Kali ini aku kembali membuat Genichirou khawatir.

"Maaf" aku menggeleng. "Aku hanya merasa bahagia mempunyai suami sepertimu..."

"...akupun bangga mempunyai istri sepertimu..."

---ooo----

Malam harinya aku memberikan kabar kepada seluruh kerabat dan teman-temanku mengenai kabar gembira ini, tidak terkecuali keluarga Genichirou yang sempat membenciku karena tidak bisa memberikan momongan kepada mereka.

"Genichirou..." Panggilku sambil menatap anak kami yang tertidur pulas dari sebelah Genichirou. "Apa kamu sudah ada nama untuk mereka?"

Genichirou menggeleng. "Kamu sendiri?"

Aku diam sejenak sambil menatap keduanya. Tiba-tiba saja aku mendapatkan ide saat melihat papan nama pasien yang tertera di tempat tidur anak kami. "Aku ada ide. Bagaimana kalau nama mereka mengambil nama dari nama kita?" Aku menunjuk papan nama tersebut.

Genichirou sepertinya mengerti apa yang aku maksudkan. "Yuichi dan Ichirou... Yang perempuan Yuichi dan yang laki-laki Ichirou. Namun nama panggilan mereka adalah ichi..."

"Lalu, bagaimana membedakannya?" Protesku.

Genichirou tertawa sambil mencubit pipiku. "Ichi-kun dan Ichi-chan... Bagaimana? Atau... Mau aku panggil anak perempuan kita dengan sebutan 'mochi kecil'?"

"Gen-chan!" Lagi-lagi dia meledekku. "Berhentilah meledekku dengan nama itu..." Kesalku sambil menggembungkan kedua pipiku.

"Aku kangen sekali dengan 'mochi' ini..." Kali ini dia menarik wajahku dan mencium pipiku.

"Aku juga... " Balasku sambil menyandarkan kepalaku pada bahunya itu.

"Seiichi..."Aku mengangkat kepalaku sehingga aku dan dia saling bertatapan.

Mata kami saling menatap satu sama lain. Tangan kanan Genichirou yang dingin itu memegang pipiku. Kutahan tubuhku dengan memegang bahu kirinya sambil menutup kedua mataku, terasa nafasnya yang hangat dan kulitnya yang sudah menyentuh wajahku hingga...

"Oeeekkkk!!!" Spontan mata kami terbelak dan menatap kearah tempat anak kami berada. Kamipun langsung tertawa dan aku berjalan mendekati mereka.

"Hahahaha... Kalian ini..." Ucapku sambil menggendong salah satu anak kami yang mulai menangis, Ichirou. "Ada apa, sayang?" Tanyaku sambil membawanya mendekati Genichirou. "Mau melihat ayahmu?"

Genichirou tertawa dan perlahan menggendong Ichirou tanpa bergerak dari tempat tidurnya. "Lihat jagoan cilik ayah... Wajahnya mirip sekali dengan ibumu... Ada 'mochi'nya!"

"Gen-chan!" Seruku sambil menggendong Yuichi. "Lihat, putri kita..." Ucapku sambil memiringkan sedikit agar Genichirou bisa melihatnya. "Wajahnya mirip kamu. Semoga saja tidak segalak kamu.." Balasku sambil melirik padanya.

"Tidak apa" jawabnya cuek. "Tapi kamu harus sadari kalau dia juga ada 'mochi' di sana" balasnya lagi sambil menunjuk pipi Yuichi dan kali ini aku hanya bisa kembali menggembungkan pipiku.

"Hahahahaha... " Genichirou mencubit pipiku. "Sudah... Maafkan aku. Jangan ngambek lagi, ya..."

"Makanya... Berhentilah menggodaku..." Ucapku sambil duduk disebelahnya. "Mereka lucu ya..."

"Tentu saja!" Katanya dengan bangga. "Wajah lucu mereka benar-benar mirip kamu..." Kata-katanya membuat wajahku memerah.

--ooo--

Tidak lama kemudian, satu persatu teman-teman kami berdatangan. Teman sekerja, tetangga dan keluarga datang bergantian. Bahkan teman kami, Fuji dan Atobe, yang baru saja datang dari luar negri menjenguk kami.

Sedikit larut malam, keluarga Genichirou yang datang paling terakhir. Ibunya berambut hitam lurus, terlihat ramah dan menggunakan dress biru itu berjalan perlahan mendekati anak mereka yang masih menggendong salah satu cucunya. Sedangkan ayahnya yang berwajah tegas, berambut biru dan mengenakan kemeja hitam berjalan perlahan mendekati aku. Suasana sempat menjadi sepi karena tidak ada satupun dari kami yang angkat bicara.

"A-ayah..." Panggilku ragu saat melihat bahwa tatapan ayah tidak padaku, tetapi pada Yuichi yang ada ditanganku. "Ayah mau gendong?" Tawarku sambil memberikan jarak pada pelukanku.

Ayah Genichirou terlihat ragu-ragu, dan ibu langsung saja tertawa. "Ayah, sudahlah. Tidak usah malu begitu. Ayah mau peluk cucumu,kan?" Goda ibu sambil mengambil Yuichi. "Ayo, yah..."

Ayah Genichirou memang terlihat lebih tegas dan galak, namun dalam hitungan detik bisa menurut dengan perkataan ibu yang lembut itu. Aku benar-benar takjub!

Perlahan ayah menerima Yuichi dipelukannya yang dibantu oleh ibu. Awalnya ayah terlihat kaku, namun tidak lama kemudian, ayah tersenyum! Ayah dan Genichirou memang mirip, berwajah keras dan jarang tersenyum. Ibupun menggendong Ichirou dan duduk disebelah ayah sambil membicarakan kemiripan mereka. Aku sendiri hanya berdiri disisi Genichirou.

"Untung, ya..." Gumamku lega yang terdengar oleh Genichirou.

"Ada apa, Seiichi?"

"Ah..." Hentakku perlahan. "Aku merasa lega ayah bisa menerimaku walau bukan aku yang melahirkan cucunya..."

"Sudahlah..." Genichirou mengusap punggung tanganku yang sedang bertautan dengan tangannya. "Tidak usah kamu pikirkan perkataan ayah. Yang terpenting apa yang mereka inginkan sudah kita berikan, walau dengan cara yang berbeda..."

"Ya... Kamu benar..."

-----ooooendoooo----

Yatta!!! Kelar !!! \^o^/ *keluarin banyak makanan

Mari kita syukuran bersama.. hahahaha..

Sana: kita yang senenk, knapa u ikutan senenk?

Ao: tentu saja! Kan liat keponakan baru.. Yuichi n Ichirou *lirik n cubit

Yuki: hahahaha... ao, tolong botol nya yuichi

Ao: ok..

Sana: aoi! Jangan sentuh mereka!

Ao: hikz... kenapa aku diusir *emo cocon

Yuki: *smile* kamu kan lagi sakit, sedangkan mereka masih rawan terhadap sakit kan?

Ao: *lirik* i-iya juga sih... nih, botol mereka...

Ok degh.. sekian dulu ya ^^ terima kasih sudah membaca dari awal hingga akhir yang geje ini... selain itu terima kasih juga untuk pendukung-pendukung yang-

Yuichi n Ichirou: OEEEKK!!

Yuki: waduh-waduh...

Sana: Ao! Diam! Jangan berisik!!

Ao: i-iya... *menghindar-bisik* ok.. sekian dulu ya... *emo cocon mode on*

Please ur comment n ur repew


prev: How Come part 5

first: How Come part 1

No comments:

Post a Comment