Title: Thankz , AL...
Character detail ^___^ :
- Kana : teman aoi, desainer , pacar Alfred (1 tahun sejak lulusan)
o Lebih pendek dari Alfred n sering di kira ade, rambut pirang
o Banyak ekspresi, suka gambar Alfred diam2, susah untuk mengungkapkan perasaan suka, n pasrah
o Tinggi 150
o Benci serangga, barang yang di suka kotak musik
o Suka maen game
o Sulit menolak permintaan orang
- Alfred: seumuran kana dan aoi, jurusan foodtech
- Aoi : teman sekelas kana dan tunangan sanada
- Sanada : tunangan aoi
----oooo-----
Character dec:
- Kana by Kanade
- Alfred by Himaruya (hetalia)
- Aoi by Aoryuto
- Sanada by Konomi (tenipuri)
Rat: M (mau-maunya)
Genre : Humor / Romance
A/N : haaai… untuk karakter dan cerita ini memang OOC banget… jadii.. yaa… ^___^ selamat membaca.. tidak suka, ya.. jangan di baca ^^
-start-
Setiap pekerjaan yang dilakukan, akan ada hari yang akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Melelahkan, namun hasil yang didapatkan akan memberikan kesan tersendiri. Rasa senang ataupun kecewa. Semua itu tidak hanya didalam dunia pekerjaan, dunia perkuliahanpun sudah merasakan beratnya menyelesaikan tugas sambil beradu cepat dengan waktu. Jika tidak bisa menang, maka akan muncul banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi. Terlebih lagi, tidak ada kesempatan kedua untuk mengulangnya.
“Maaf ya, AL. Hari ini aku harus menyelesaikan tugas ilustrasiku. Bagaimana kalau besok saja?”
Kana, mahasiswi desain semester 6 di universitas Sohoku, berjalan cepat menuju halte sambil menahan telepon genggamnya diantara bahu dan telinganya. Setelah mengeluarkan selembar uang, Kana kembali memegang telepon genggamnya dan meletakan tas hitam disebelah kaki kanannya untuk sementara.
“AL, kamu tidak marah kan?”
“Begitu ya?”
Kana hanya bisa mengangguk pelan, walau orang yang diajak bicaranya tidak berada dihadapannya. Kana yang merasa tidak enak dengan Alfred, terpikir sesuatu olehnya.
“Bagaimana kalau kamu ketempatku? Kamu tidak ada kerjaan, kan?”
“Kebetulan tidak. Hmmm~ baiklah! Mungkin satu jam lagi aku akan sampai kesana.”
“Ung! Aku tunggu, ya” senyumnya dan tidak lama Kana menekan tombol merah lalu meletakan teleponnya didalam saku celananya.
Tubuh kecil Kana sudah merasa lelah dengan tugas-tugas yang menumpuk, namun perasaannya begitu senang mendengar orang yang dikasihinya itu akan datang. Alfred F Jones, atau yang lebih sering di panggil AL ini baru saja kembali dari liburannya ke England dua hari yang lalu. Sebenarnya Kana ingin sekali pergi bersama dengan Alfred, namun tugas-tugasnya yang sudah menggunung tidak memberikan sedikit kesempatan baginya.
Sekitar 10 menit kemudian, bus yang ditunggu-tunggupun datang. Kana segera masuk kedalam bus dan meletakan barang bawaannya. Didalam perjalanan, ada beberapa masalah yang masih terbayang didalam pikirannya.
“Hmmm~ aneh… padahal AL dan aku sama-sama semester 6, tapi kenapa dia bisa lebih santai, ya?” ucapnya dalam hati.
Kana kembali membuka handphonenya dan melihat foto mereka berdua yang menjadi wallpaper sebelum AL pergi.
“AL, kamu curang ya!”
Kana kembali tersenyum dan memasukan kembali handphonenya karena tidak lama lagi dia harus segera turun.
Sesampai di apartemennya, Kana segera berjalan ke kamarnya dan meletakan seluruh bawaannya. Sejenak dia melemparkan dirinya keatas ranjang dan memeluk boneka kelinci pemberian AL.
“Sepi sekali.”
Kana bangkit dari tempat tidurnya dan menelusuri ruangan yang terdiri dari 2 kamar dan 1 dapur, mencari seseorang yang sangat dia kenal. Teman seruangan dan sekelasnya sejak mereka masuk di universitas Sohoku, Aoi.
“...apa Aoi belum balik ya?”
Kana yang masih penasaran menemukan selembar kertas diatas meja makan.
‘Kana, hari ini aku pulang malam, sekitar jam 7. Aku ketempat Genichirou dulu melihat keadaannya. Aoi’
Kana mengangguk sebagai ganti jawaban, walau orang yang dimaksudkan tidak berada di hadapannya saat ini.
“Oh iya, ya. Kemarin Aoi cerita kalau Genichirou sakit”
Kana meletakan kembali kertas itu dan mengambil beberapa perlengkapannya ke ruang tengah. Tempat yang lebih luas untuk mengerjakan ilustrasi berukuran A2nya itu. Terlebih dia harus mengerjakannya secara manual, menggunakan kuas dan cat!
“Yosh! Mari kita mulai~!” semangatnya. Sebagai permulaan, Kana mengeluarkan selembar kertas dan membuat diagram kecil sebagai konsep ilustrasi yang akan dibuatnya itu.
Satu jam kemudian, tepat Kana menyelesaikan sketsa ilustrasinya, terdengar suara ketuk pintu utama ruangan ini. Kana segera bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu.
“Hallo~! Apa kabar?! Apa aku mengganggu?” seru seseorang yang bertubuh tinggi, berambut pirang dan memakai jaket coklat kebanggaannya itu.
“AL!”
Tanpa basa-basi, Kana langsung memeluk Alfred dan dibalas dengan sebuah kecupan diatas kepalanya.
“Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, kan?”
“Tentu donk!” balas Kana sambil menarik Alfred untuk segera masuk.
“Oh ya, aku bawa ini” dengan bangga Alfred menunjukan satu bungkus plastik yang berisi beberapa hamburger, roti dan beberapa botol minuman soda.
“Ya ampun, AL” kali ini Kana menggelengkan kepalanya. “Padahal kamu masuk jurusan foodtech! Kalau kamu terus makan makanan seperti ini, kesehatan tubuhmu bisa terganggu, loh!”
“Tenang saja! Aku baik-baik saja kok! Oh ya, hamburger kali ini special aku buat sendiri”
“Eeh?”
“Yap! Aku membuat hamburger yang lebih berenergi dan memberikan tenaga lebih, khusus aku buat untukmu”
Mendengar ucapan Alfred cukup membuat wajah Kana memerah seperti udang rebus.
“Aaah, habisnya~”sambung Alfred sambil duduk disofa ruang tengah. “…setiap kali jalan bersama denganmu selalu saja mendapat komentar buruk…”
“Seperti?” Kana duduk disebelah Alfred.
“Ya~ aku selalu dikira mengambil jatah makanmu~ mengambil tenagamu~ bahkan tidak bisa mengurusmu~”
Kana hanya bisa tertawa.
“Makanya, jangan makan hamburger banyak-banyak, AL~fre~d!”
“Biarin! Makanlah sebanyak-banyaklah selagi bisa! Hahahahaha~”
Kana hanya bisa ikut tertawa lalu kembali duduk diatas lantai. “AL, bantuin donk…”
“Hmm?” Alfred mengambil sebungkus hamburger. “Bantu apa?”
“Bantu aku warnain. Kamu warnain dengan kuas besar, sedangkan nanti untuk detailnya biar aku saja”
“Begitu?” Alfred turun dari sofa dan kali ini duduk disebelah Kana. “Yahmmuanah-yamph maukh ampkhu hamphtu?”
“AL, kalau mau makan, makan dulu. Baru bicara! Aku tidak mengerti”
Alfred menelan hamburgernya bulat-bulat kedalam mulutnya. “Yang mana?”
Kana memberikan kuas paling besar dan menunjukan beberapa bagian. Namun sepertinya Alfred kembali tidak mendengar karena terlalu sibuk dengan minumannya.
“AL, kamu sudah mengerti?”
“Tentu saja! Bagi Hero sepertiku, ini bukan hal yang sulit!”
Kana hanya tersenyum lalu mengambil kuas yang berukuran kecil. “Baiklah. Kamu warnain yang sebelah situ dengan warna merah ya. Kuasnya di beri air dulu baru dicampur dengan catnya”
“Ok~!”
Sebenarnya Kana banyak sekali bertanya mengenai keseharian Alfred selama mereka tidak bertemu. Namun Kana merasa kesal dengan setiap jawaban yang diberikan. Bukan karena pengalamannya, tetapi karena Alfred terlalu fokus dengan makanannya sehingga Kana tidak mengerti dengan jelas apa saja yang dikatakan olehnya.
“AL, kamu kalau lagi kerja jangan sambil makan. Nanti malah-”
Belum Kana selesai berbicara, tiba-tiba saja Alfred menyenggol tempat air catnya, dan membuat beberapa bagian kertasnya menjadi basah. Alfred yang panik ingin segera mengeringkannya, namun tangannya yang masih memegang botol soda, tidak segaja membuatnya miring dan tumpah diatas kertas konsep Kana.
“AL!!”
Kana langsung menarik kertas gambarnya dan mengelapnya dengan tisu.
“Maaf! Maafkan aku!” panik Alfred dan segera memindahkan beberapa peralatan lainnya.
Wajah panik Kana langsung tergambar dengan jelas. Banyak hal yang langsung tersusun didalam pikirannya.
“Bagaimana ini… pekerjaanku masih banyak sekali…” pikir Kana dalam hati.
Kana yang terbawa dalam imajinasinya, secara tidak sadar kalau dia sudah menghiraukan Alfred. Sedangkan Alfred sendiri panik dan mengira kalau Kana sedang marah besar, sampai-sampai tidak mau berbicara dengannya.
"K-kana..." Alfred yang ketakutan, perlahan mendekati Kana yang masih sibuk dalam gumamannya.
Tanpa disadari, Kana terus bergumam sambil berjalan menuju kamarnya. Alfred hanya bisa diam ketika Kana menutup pintu kamarnya.
"K-ka...na..."
Ting.Tong.
"Alfred? Sendirian?"
Alfred membalikan tubuhnya dan menemukan seseorang yang dia kenal berjalan mendekatinya. Penghuni rumah ini sekaligus teman kekasihnya, Aoi.
“Ah, Aoi…” keluh Alfred dan kembali duduk di sofa sambil memeluk salah satu bantal. “Aku tidak sendiri kok…”
“Hmm..?” Aoi yang masih belum mengerti situasinya hanya duduk di sebelah Alfred. “Ne, kemana Kana?”
Alfred hanya diam saja, lalu menatap Aoi dengan wajah yang mulai memerah. “Huwaaaa… Kana marah padaku…”
“Heeh? K-kenapa?” Aoi hanya bisa tercenga melihat Alfred yang sedang chibi mode on.
Sambil menghapus air matanya yang mulai keluar, Alfred kembali meneruskan perkataannya. “Aku tidak sengaja menumpahkan minumanku keatas gambarnya…”
“Lagi-lagi… kamu pasti sedang makan ketika diminta tolong sama Kana…”, gumam Aoi. “Al, kamu sudah minta maaf belom?”
“Sudah. Tapi Kana diam saja lalu langsung masuk ke kamar. Bagaimana ini, Aoi? Huwaaa…” tangis Alfred semakin menjadi-jadi, bahkan airmatanya pun seperti air yang mengalir keluar dari selang.
“Sudah. Sudah. Nanti akan aku tanyakan sama Kana. Nah, bagaimana kalau kamu membantuku menyiapkan sesuatu?”
“Hmm?” air mata Alfred mulai berhenti dan berganti dengan tatapan seperti anak kecil yang kebingungan. “Menyiapkan sesuatu?”
“Yap. Hitung-hitung kamu bisa minta maaf buat Kana. Kita siapkan suatu kejutan untuknya. Bagaimana?” tawar Aoi sambil menepuk-nepuk kepalanya.
Alfred yang masih chibi mode on, langsung mengangguk setuju dan mendekatkan dirinya ke Aoi. “Jadi, apa yang harus aku lakukan?”
Aoi melihat sekeliling sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Alfred. “Nah, kamu harus…” bisik Aoi dan hanya mendapat anggukan sebagai jawaban dari Alfred.
Sampai pada suatu rencana, “…k-kamu yakin?” tanya Alfred penuh ketakutan.
“TENTU SAJA!” seru Aoi yang cukup membuat Alfred terkejut sampai – sampai membuatnya harus mundur beberapa langkah. “Percaya padaku! Kamu harus bisa mendapatkannya!”
Alfred yang kaget dengan antusias Aoi, hanya bisa mengangguk ketakutan dan segera mendapatkan segala yang telah diberitahukan kepadanya sebelum Aoi kembali ke evil mode on.
Tok.tok.
“Masuk” seru Kana yang masih sibuk dengan gambarnya. “Ah, Aoi. Sudah pulang. Maaf, aku tidak tahu…” lanjutnya tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.
“Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, memangnya kamu sedang membuat sketsa apa?”
“Gambar ilustrasi untuk pameran minggu depan… namun…” Kana menghela nafas sejenak. “… ah ya, apa AL masih ada didepan?”
“Tidak” Kana terkejut mendengar jawaban singkat temannya. “Tadi aku meminta Alfred untuk membelikan kita makan malam. Aku lelah kalau harus memasak makan malam kita. Maaf ya…”
“Tidak apa. Lagipula seharusnya aku yang memasak hari ini…”
“Hahaha… Sudah. Kamu konsen dulu sama pekerjaanmu itu. Sudah sampai mana?”
Kana mengangguk lalu kembali menatap pekerjaannya. “Tinggal di beri outline dan beberapa penjelasan…”
“Konsep?” Kana mengangguk. “Berarti tinggal sedikit lagi, donk?”
Kana yang sedikit penasaran mulai mengeluarkan kata-kata. “Aoi, kamu kok sepertinya senang sekali? Ada apa? Apa kamu di lamar sama Sanada?”
“H-hoi! Kamu ini!” Aoi membalas dengan mengacak-ngacak rambut Kana. “Tidak. Hari ini aku sedang bosan saja dan kebetulan ada game yang ingin aku mainkan. Hanya saja…”
“Ya?”
“Tidak enak donk kalau aku main sendirian. Bagaimana kalau kita main sama-sama setelah kamu selesai?”
“Baiklah. Tinggal sedikit lagi kok…”
“Ok. Aku kembali kekamarku dulu”
“Baiklah…”
Aoipun berjalan keluar dan sebelum pintu tertutup penuh, Aoi tersenyum sejenak lalu menutup pintunya. “Semoga saja rencana ini berhasil…”
Dua jam berlalu dan tanpa disadari jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Waktu yang sebenarnya kurang baik untuk jam makan malam. Namun, perutpun sudah memanggil. Setelah Alfred kembali, mereka bertiga makan bersama di ruang tengah kamar ini.
“Ne, Aoi…” panggil Kana. “Kamu yakin?”
“Hm?” Aoi hanya menatap Kana sejenak dengan makanan yang masih di mulutnya. “Kwenapwa?”
Kana hanya menghela nafas. “Aku kira kamu bakal membeli apa. Kenapa makan malam kita jadi serba ayam?”
Aoi kembali menatap menu makanan diatas meja. Ayam goreng. Cream sup ayam. Chicken Katsu. Chicken sauce. Aoi hanya diam dan kali ini dia menatap orang yang disebelahnya sedang makan dengan tenangnya.
“AL…!!” seru Kana ke Alfred.
“Habis Aoi memesan beberapa macam makanan yang tidak aku mengerti dan aku lupa. Jadi aku memesan ini. Lagipula ini enak kok!”
“Aoi, kamu lupa memberikan catatan ke Alfred ya?”
Aoi mengangguk pelan sambil meminum minumannya. Kana kembali menghela nafas karena sudah cukup pasrah dengan temannya yang tidak terlalu perduli dengan apa yang dia makan. “Kalian berdua… benar-benar deh…” ucap Kana dalam hati.
“Alfred, kamu tidak lupa dengan pesananku yang itu kan?”
“Tentu saja! Hero sepertiku tidak akan lupa dengan hal penting seperti itu!”
“…yang itu?” tanya Kana penasaran sambil melihat Alfred mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Ja-jaaang!! Ini kan?”
Alfred memberikan sebuah kotak hitam tipis ke Aoi dan terdapat sebuah tulisan yang cukup membuat orang merinding hanya dengan melihat tulisannya.
“Yap! Benar sekali!” jawab Aoi.
Kana yang duduk disebelahnya mencoba melihat dan cukup membuatnya ragu untuk kembali bertanya kepada temannya itu. “Aoi, kamu yakin?”
“Hmm? Kenapa?”
Kana kembali terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh Aoi. “Aoi, bukannya kamu sendiri takut main game horror seperti ini?”
“Tapi aku penasaran! Aku dengar dari Kiku kalau game ini sama seperti game yang pernah aku main sebelumnya. Bahkan gambarnyapun lebih bagus!”
Kali ini Kana dan Alfred hanya bisa saling menatap satu sama lain melihat Aoi yang begitu semangat dengan game barunya itu. “Ba-baiklah…” ucap Kana sambil membersihkan mulutnya dengan tisu. “A-aku kembali dulu ke-“
“Tidak boleh!” potong Aoi. “Kalian sudah berjanji akan menemaniku bermain game ini, bukan?”
“Ta-tapi..” Alfred yang sebenarnya antusias, hanya bisa menutup rasa ingin tahunya dengan ketakutannya. “Hari sudah malam. Sudah sebaiknya ak-“
“Tenang saja! Besok hari sabtu dan kita bisa tidur bersama-sama di ruang tengah, bukan? Ok! Ayo kita main!”
Kana dan Alfred hanya bisa diam dan mengikuti Aoi menuju ruang tengah sebelum Aoi berubah lebih parah lagi.
-pov kana start –
Jam di ruang tengah sudah menunjukan pukul 2 pagi, namun Aoi masih belum terlihat lelah. Dia masih antusian dengan permainan barunya, sedangkan aku dan Alfred hanya bisa teriak setiap monster-monster datang menyerang.
“Ne, Kana… Sampai kapan kita harus menemaninya bermain?” bisik Alfred ditelinga Kana sambil menutupnya dengan tangan besarnya, untuk menahan suaranya lebih kecil dan tidak terdengar oleh Aoi.
“En-entahlah, AL. Aku sendiri juga sudah ketakutan. Ba-bagaimana ini?”
Setelah layar berubah warna menjadi hitam dan tertera tulisan, “Game Over” , akhirnya Aoi mematikan mesin permainannya dan mengambil bantal disebelahnya.
“Ah! Payah! Kalah terus!” keluhnya. “Aku mengantuk. Aku tidur duluan, ya…” lanjutnya dan langsung menenggelamkan wajahnya pada selimutnya.
“A-Aoi…” kami hanya bisa diam menatap Aoi yang tertidur.
“Kejamnya! Dia tega meninggalkan kita ketakutan, sedangkan dia bisa tidur dengan tenang” sambung Alfred lalu menatapku. “Bagaimana ini, aku tidak bisa tidur…”
“A-aku juga…”
Kami berdua diam di tengah keheningan malam. Tubuhku lelah tapi kedua mataku tidak bisa tertutup sama sekali. Rasa takutku lebih besar dari pada rasa lelahku. Kulihat Alfred yang berbaring di sebelahku masih berkutat dengan telepon genggamnya.
“AL, apa yang kamu lakukan?”
Alfred menatapku dan memberi kode untukku untuk ikut berbaring. Aku mengikuti arahan tangannya dan kuambil bantalku untuk menjadi…
“Tidur disini saja…”
“Eh?”
Kulihat Alfred meluruskan lengan tangan kanannya. Aku kembali menatapnya dan Alfred mengangguk sebagai ganti jawaban dari pertanyaanku. Kuposisikan kepalaku diatas lengannya lalu kupeluk bantalku, menjadi pembatas antara aku dan dia.
Semakin lama aku menatapnya, semakin membuatku jatuh cinta padanya. Kurasakan deru jantungku yang berdetak cepat dan wajahku yang memanas. “Kana? Ada apa?”
“Ti-tidak ada” dalihku dan kututup wajahku dengan bantalku,
Tiba-tiba saja kurasakan tangan hangatnya menyentuh kepalaku dan terdengar suara alunan lagu mengisi kekosongan ruangan ini.
“Tidurlah…”
“Eh?”
“Untuk menghilangkan rasa takut, aku memutar beberapa lagu dari handphoneku dan… aku tahu kalau kamu baru bisa tidur kalau ‘begini’, bukan?”
Tangan Alfred terus mengusap rambut panjangku dengan lembut. Aku tersenyum dan mengangguk sebagai balasan dariku.
“Tidurlah, ya..”
“Ung!”
Kututup kedua mataku untuk menikmati kenikmatan malam ini. Aku yang mulai terbawa suasana, merasakan suatu gerakan dari ‘bantal’ yang kugunakan. Tangan Alfred dia gerakan mendekati tubuhnya dan mau tidak mau akupun semakin dekat dengannya dengan bantal yang kupeluk sebagai batasan. Aku hanya bisa tersenyum malu ketika merasakan gerak pelan tangan Alfred diatas kepalaku. Sepertinya dia juga sudah mulai tertidur.
Perlahan kubukan sebelah mataku dan kugeser sedikit bantal pelukku. Wajah Alfred yang tertidur sungguh manis. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata dalam hati, ‘Good night..., AL”
-end—
A/N: AKHIRNYA KELAR!! BWAHAHAHA… maaf ya Kana… hikz akhirnya baru ada idenya sekarang… hikz.. semoga kamu tidak membunuhku…hahaha…
Labels
Akaike Shouzo
(1)
alan Humphries
(6)
america
(4)
austria
(2)
bear
(1)
cerpen
(1)
chitchat
(1)
choutaro ohtori
(1)
england
(4)
Eric Slingby
(6)
family
(7)
fanfiction
(33)
ff
(14)
forgive me
(1)
fuji syuusuke
(1)
happy b-day
(3)
Hayama Takumi
(1)
hetalia
(6)
how come
(6)
ichi
(2)
jae joong
(1)
kentarou kanesaki
(2)
kuroshitsuji
(5)
marukaite chikyuu
(1)
Matsumoto Shinya
(1)
Misu Arata
(1)
novel
(2)
one week for all
(3)
own ffn
(6)
prussia
(2)
random
(1)
ren yagami
(2)
Saeki Taisuke
(1)
Saki Giichi
(1)
sanada
(9)
sanada genichirou
(2)
Shingyouji Kanemitsu
(1)
shishido ryou
(1)
side story
(2)
story
(1)
takumi-kun series
(3)
tatty bear
(1)
tezuka kunimitsu
(1)
twins
(2)
you're my pet
(2)
yukimura
(8)
yunho
(1)
No comments:
Post a Comment