Friday, April 1, 2011

new family part 1d

Characters:
-          Kazuki – Rie
-          Genichirou – Aoi  
-          Shinya – Saeki
-          Von  
Desc: Keluarga masing – masing
Rat: M / S ^^ (Mau-mau / Suka-suka)
n/a: kesamaan pada nama bukan suatu kesengajaan, tetapi karena authornya yang memang tidak pintar membuat nama ^^v

-start – intro

Sesuai dengan yang direncanakan, Shinya mengantar Aoi ke apartemen milik Kazuki dan Rie. Sebelum sampai disana, Aoi meminta Shinya untuk menemaninya mengunjungi taman tempat pertama kali Aoi diajak bermain.

“Sudah lama sekali, ya” ucap Aoi sambil merenggangkan badannya sejenak. “Ne, niichan… masih ingat dengan mainan itu?” tunjuknya pada sebuah ayunan yang sedang dimainkan oleh seorang anak kecil. “Setiap hari aku selalu menunggu niichan disini…”

“Tentu saja aku ingat, Aoi. Bagaimana mungkin aku bisa lupa!” balasnya sambil menepuk kepala Aoi pelan. “Setiap hari kamu selalu duduk sendirian menungguku pulang. Bahkan dihari hujanpun kamu tetap menungguku…”

“Ya… Waktu berjalan cepat sekali, ya…” ucap Aoi sedikit sedih.

Melihat sikap adiknya seperti itu, Shinya hanya mempererat rangkulannya dan berbisik. “Aoi, jangan sedih. Aku hanya sebulan saja…”

“Ya. Tapi rasanya akan lama sekali, niichan…”

Shinya mengerti. Meninggalkan Aoi sendirian dirumah bukanlah hal yang asing. Seminggu ataupun dua minggu bukan suatu masalah. Namun sejak kejadian itu dan dalam keadaan yang sama, membuat Aoi masih sedikit trauma.

“Shinya niichan, kalau sudah sampai, jangan lupa kasih kabar” Shinya mengangguk. “Jangan lupa kalau ada apa-apa, segera hubungi aku”

Mendengar ucapan Aoi yang over protect ini membuat Shinya tertawa terbahak. “Aoi. Aoi. Kamu ini sudah seperti pacarku saja!”

“Biarin!” balasnya. “Habis niichan kalau sudah keasikan, selalu saja lupa”

“Hahahaha.. Maaf, ya” Shina menundukan kepalanya sedikit dan menatapnya. “Niichan janji akan menghubungimu setelah sesampainya disana…” Aoi mengangguk pelan. “Nah, mari kita segera ke apartemen Kazuki. Jangan sampai mereka menunggu lama” Aoi mengangguk sebagai tanda setuju.

Apartemen tempat Kazuki dan Rie tinggal tidaklah terlalu kecil ataupun terlalu luas. Ruangan yang terdiri dari 5 kamar ini hanya terpakai 2 kamar. Satu kamar utama, dan satu kamar tamu. Seharusnya dipakai semaksimal mungkin yaitu 3 kamar. Namun anak sematawayang mereka sedang berada diluar kota. Bukan untuk berlibur, tetapi sedang menuntut ilmu disana, yang tinggal bersama dengan neneknya.

“Seperti itulah” jelas Kazuki kepada Shinya dan Aoi yang duduk dihadapannya saat ini. “Kalian tidak usah khawatir. Anak kami baru kembali 3 bulan lagi. Jadi tidak akan ada masalah. Bagaimana?”

Shinya dan Aoi saling bertatapan dan tidak lama kemudian mereka menundukan tubuh mereka. “Terima kasih” ucapnya bersamaan.

“Tidak apa, kok” Rie meletakan 4 cangkir teh dan duduk disebelah Kazuki. “Sudah lama sekali tidak ada keramaian di rumah ini. Rasanya rindu sekali…” wajah Rie terlihat sedih. Kazuki yang mengerti menarik tubuh Rie dan memeluknya.

“Bagaimana, Shinya? Kamu tidak keberatan adikmu tinggal disini, bukan?”

“Jika kalian tidak keberatan, aku sungguh berterima kasih” ucapnya dan kembali menundukan kepalanya.

“Niichan…” Aoi menatap Shinya sejenak dan tanpa diketahui oleh Kazuki dan Rie, Aoi menggenggam tangan Shinya.

Shinya yang menyadari itu membalas menatap adiknya. “Tenang saja, Aoi. Mereka itu bisa dipercaya. Tidak usah khawatir, ya”

Aoi diam sejenak. Setelah menatap Shinya beberapa saat, akhinya Aoi menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.

“Nah, kalau begitu… aku pamit dulu” ucap Shinya sambil bangkit berdiri. “Aoi, baik-baik disini,ya”

“Niichan…” tidak ada kata yang keluar dari mulut Aoi selain memeluk tubuh kakaknya dengan erat.

“Aoi… sudahlah… setelah satu bulan ini, kita akan bersama lagi, kok. Jadi tidak usah khawatir ya” Aoi menurut dan menjawab dengan sebuah anggukan. “Nah, kakak berangkat dulu” pamitnya dan segera keluar meninggalkan apartemen.


Tidak terasa sudah 2 minggu berlalu. Hubungan antara Aoi dan Rie semakin dekat, bahkan seperti ibu dan anak. Rie yang sudah rindu bermain bersama dengan anak perempuannya, Lawliet, terlihat senang sekali bersama dengan Aoi. Begitu juga dengan Aoi. Hingga pada suatu kali Rie menanyakan hal serius kepada Kazuki.

“Apa…? Mengangkat Aoi sebagai anak?!” Rie mengangguk. “Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?”

Rie yang sedang berbaring disebelah Kazuki, menyandarkan kepalanya pada lengan kiri Kazuki. “Entahlah. Aku merasa seperti sedang merawat anakku sendiri. Bukan berarti aku melupakan anak kita, Lawliet. Kehadiran Aoi memberikan suatu keceriaan tersendiri. Selain itu, aku mendengar darimu kalau Aoi tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga, bukan? Bagaimana kalau kita yang menggantikannya?”

Kazuki menutup buku yang dia baca, meletaknnya diatas meja kecil dan mengecup kening Rie. “Apa kamu sudah mengatakan hal ini padanya?”

“Belum. Aku tidak berani mengambil kesimpulan sebelum bertanya padamu terlebih dahulu, Kazuki”

“Hmm…” Kazuki memperdekat jarak mereka dengan memeluknya. “Mengangkatnya sebagai anak ya?”

“Tidak bolehkah, Kazuki? Aku mengangkat dia sebagai anak hanya sebatas rasa empatiku padanya… Karena tidak mungkin aku akan mengikat masa depannya juga, bukan? Aku hanya ingin dia bisa merasakan bagaimana kehangatan sebuah keluarga…”

“Aku mengerti maksudmu…” Kali ini Kazuki menatap kedua mata Rie. “Jika memang itu yang kamu mau, aku tidak akan melarangnya. Tapi kamu harus ingat, jangan pernah mengungkit masa lalunya karena bisa berdampak buruk bagi psikologinya. Itu pesan yang selalu Shinya katakan padaku”

Rie mengangguk. “Aku mengerti. Terima kasih, Kazuki” jawab Rie dan langsung disambut sebuah ciuman hangat dari Kazuki.

“Baiklah. Aku akan membicarakan masalah ini dengan Shinya. Semoga saja dia setuju dengan keinginanmu ini..”

Rie tersenyum sambil memeluk dan bersadar pada dada Kazuki. “Aku yakin dia akan menerimanya. Jika dia tidak mau, kita angkat saja sekalian sebagai anak angkat”

“APA!?” Seru Kazuki tidak percaya. “Rie, Shinya itu seniorku. Tidak mungkin dia menjadi anak kita!”

Rie tersenyum sambil menepuk pipi Kazuki. “Jangan dianggap serius seperti itu, Kazuki. Buatlah kejadian ini menjadi suatu permainan yang menyenangkan…”

“Baiklah. Namun kalau ada apa-apa, segera hubungi aku” balas Kazuki lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh mereka.


“Apa…? Ibu?” ucap Aoi tidak percaya ketika Rie menjelaskan permintaannya itu.

“Ya. Bagaimana kalau mulai saat ini kamu memanggilku, kachan?” ucap Rie antusias. “Atau…kamu tidak menyukai rencana ini?”

Aoi diam tertegun. “Ti-tidak. Bu-bukan seperti itu”

Kali ini Rie terdiam menunggu jawaban. “A-aku hanya takut akan merepotkan kalian semua”

“Tidak, Aoi” Rie menarik Aoi kedalam pelukannya. “Tidak ada yang direpotkan. Aoi, anggaplah kami menjadi bagian keluargamu. Mungkin dengan begitu, perlahan kamu bisa menerima kami  tanpa rasa ketakutan.

“Ah…” tanpa disadari wajah Aoi memanas dan dari sudut matanya keluar air mata. “Terima kasih, Rie-san”

Rie menggeleng. “Jangan panggil aku dengan namaku. Tetapi dengan kachan. Anggaplah aku sebagai ibumu dan Kazuki sebagai ayahmu…”

Aoi mengangguk dan membalas memeluk Rie. “Hai, Kachan…”

Sejak saat itu, Aoi menjadi keluarga Kazuki dan Rie. Shinya yang setuju dengan pernyataan yang dibuat oleh Kazuki, memberikan dampak tersendiri bagi Rie. Selain itu, Rie dan Kazuki memutuskan untuk turut membawa Shinya sebagai anaknya. Namun hal tersebut ditolaknya halus. Walaupun begitu. Shinya tetap menyetujui kalau Aoi menjadi anggota keluarga  mereka, dengan catatan tidak mengungkit masa lalunya.


-end-

a/n: haiii ^^ maaf kalau intro na kurang panjang … ToT karena masih banyak list yang sudah menungu.. ^^ jya~ 

No comments:

Post a Comment