Friday, April 15, 2011

its ok


Title: its ok 
Characters: Genichirou – Aoi
Rat: M (mau-maunya)
Desc: Konomi (Genichirou) – Aoryuu (aoi)
Pov: Genichirou
-start-
Rasanya seperti sebuah keberuntungan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Di tinggal 3 hari 2 malam, sempat membuat keseharian tunanganku menjadi sedikit berubah. Mendengar itu, aku hanya bisa diam dan mencoba mencari cara untuk membuatnya tersenyum kembali.
“Aoi, ada apa? Kenapa diam saja?”  tanyaku ketika dalam perjalanan pulang dengan mobilku.
Aoi masih diam saja sambil melihat kearah jalan yang kami lalui. “Geni, aku bingung”
“Hmm? Kenapa?”
“Mengenai temanku. Aku bingung, apakah aku harus merasa kesal ataukah menganggap hal ini adalah hal yang biasa?”
“Boleh aku tahu kenapa?”
Aoi menatapku sejenak. “Nanti akan aku ceritakan. Geni, aku ngantuk…”
“Tidurlah” kuelus wajahnya dengan tangan kiriku. “Kemarin kamu kurang istirahat,bukan? “
“Tapi… Geni nyetir sendirian, sedangkan aku tidur?”
“Tidak apa. Tidurlah, ya…”
Aoi mengangguk dan membetulkan posisinya untuk tidur. Seharusnya perjalanan ini tidak memakan waktu lama, namun penuhnya kendaraan yang melebihi kapasitas jalan membuat jalan semakin macet.
-ooo-
Setelah 30 menit kemudian, Aoi mempersilahkanku untuk memasuki rumahnya. Sepi, tidak ada siapapun dirumahnya.
“Aoi, Rie-san kemana?” tanyaku sambil menerima minuman darinya.
“Sedang pergi. Lusa malam baru pulang…” jawabnya singkat lalu duduk disebelahku.
“Kazuki dan Shinya?”
“Shinya niichan seperti biasa berada ditempat Saeki. Kalau papa kan baru pulang nanti sore”
“Oh ia…” Kutatap dia yang sedang tidak bersemangat itu.  “Aoi, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu terlihat lemas sekali? Apa kamu…”
Tanganku ditepis ketika hendak memegang keningnya. “Aku tidak sakit, Geni”
“Lalu?” Aoi diam. “Tidak mau cerita?”
Aoi menatapku sesaat, menekuk kedua tangan didepan dadanya dan menyandarkan kepalanya pada pahaku.
“Aoi, ceritalah… Kalau ada masalah, jangan kamu diamkan. Nanti kamu bisa stress sendiri…”
“Geni… aku bingung…”
Pastinya… Oleh karena itu, ceritalah padaku…
“Ada seorang temanku yang mengatakan ‘kesal’ kepadaku…”
“Oh? Kenapa?”
“Karena aku sedang cerita dengan Kana, lalu tiba-tiba saja  dia berkata kalau dia kesal menunggu aku dan Kana yang sedang saling bercerita… Padahal bukan aku duluan yang mulai. Kana yang mengajakku bercerita duluan…”
Aku menghela nafas. “Aneh sekali temanmu itu. Dia itu laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki…”
Aku tersenyum dan sepertinya mengerti keadaannya. “Mungkin dia ingin cerita dengan Kana…”
Aoi terdiam dan kali ini memendamkan wajahnya. “Kalau memang begitu, dia kan bisa saja langsung nyambung, bukan?”
Kali ini aku yang terdiam. Memang secara logika, buat apa merasa kesal dengan hal konyol seperti ini. Tapi sepertinya Aoi merasa kebingungan dengan situasi seperti itu.
“Lalu, apa yang membuatmu bingung?”
Aku membalikan badannya, meraih tangan kananku dan didekatkan pada wajahnya. “Haruskah aku marah? Haruskah aku kesal? Haruskan aku diam saja atau… apa? “ kudengar nada suaranya yang bergetar.
“Aoi…”
“Kana… dia satu-satunya sahabat yang aku punya dikelasku ini. Hanya dengan dia, aku bisa bercerita dan tertawa lepas… Tapi, jika hal itu membuat temanku merasa kesal… apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku diam saja? Ataukah aku harus menjauhi Kana…?” kali ini ucapannya bercampur dengan isak tangisnya.
Kuelus rambutnya yang panjang  perlahan.
“…cukup sudah aku harus menyesal dengan pilihanku... ‘sebodoh-bodohnya keledai, dia tidak akan jatuh untuk  kedua kalinya’. Tapi… aku benar-benar lebih bodoh dari keledai! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan kembali…namun…aku…”
Kutarik tubuhnya yang kecil dan mendekapnya. Membiarkan dia menangis dipelukanku sambil mengelus punggungnya.
“Aoi, tenanglah… tidak ada yang harus kamu sesalkan… biarkanlah semua itu berjalan dengan baik…”
Isak tangis Aoi semakin menjadi-jadi. “…Geni, kenapa ini semua terjadi terus menerus…? Aku benar-benar bingung… ingin rasanya aku keluar dari kelas itu…”
“Aoi, itu sama saja kamu lari dari kenyataan…”
Aoi memberikan jarak pada pelukan kami dan menatapku tajam. “Kenapa Geni berkata seperti itu! Geni tidak mengerti apa yang aku rasakan!”
Amarah Aoi semakin menjadi. Tepat saat dia hendak menjauhiku, kutarik tangannya dan mendekapnya. Beberapa kali dia memberontak dan mencoba melepaskan dirinya, namun tidak aku lakukan. Terus mendekapnya hingga dia mulai tenang.
“Geni…” air matanya memenuhi wajahnya.
“Aoi, tenanglah…” aku tersenyum dan kembali mengelus wajahnya. “Aoi, tidak yang salah di dunia ini. Semua pilihan itu berada ditangan kita, tinggal bagaimana kita menjalankannya saja. Jadi kamu itu tidak bodoh…”
“Kalau tidak bodoh apa? Baka?”
Aku tertawa. “Tidak. Mungkin… hanya waktu dan keadaannya saja yang tidak tepat…”
“Maksudnya?”
“Mungkin ketika kamu sedang asik bersama Kana, secara tidak langsung sebenarnya ada juga yang ingin berbicara dengannya namun dia itu tidak tahu kalau sebenarnya anak perempuan memang lebih banyak menghabiskan waktu dari pada laki-laki”
Aoi menatapku dengan pandangan polos. “Aku tidak mengerti”
Perlahan aku memukul keningnya. “Kamu ini..." Aku menghela nafas. "Kamu dan Kana hanya ingin bertukar cerita, bukan?" Aoi mengangguk. "Nah, mungkin sebenarnya temanmu ingin ikut bercerita tapi tidak bisa masuk di antara kalian..."
Aoi diam sejenak. "Tapi..."
Aku tersenyum. Memegang pipinya dengan kedua tanganku dan mengarahkannya untuk menatapku. "Aoi, lupakanlah masalah itu. Biarkan saja itu berlalu dan bersikaplah seperti biasa saja. Jangan bawa kejadian ini didalam pikiranmu, ya..." Aoi mengangguk pelan.

Melihat air matanya yang terus mengalir, membuatku semakin tidak tahan. Kubiarkan dia bersandar pada bahuku, dan perlahan kudekatkan wajahku padanya lalu...
“Ge-geni!!” dengan cepat Aoi membuat jarak antara kami berdua. “A-apa yang kamu lakukan?!”
Aku tersenyum dan mendekatinya. “Aku hanya ingin membuatmu berhenti menangis. Lihat, air matamu berhenti”
Aoi memalingkan wajahnya. Kudapati satu hal yang menarik. Dengan sebuah ciuman bisa membuatnya berhenti menangis. “Tapi tidak dengan cara seperti ini, Geni!”
“Lalu, kamu mau cara seperti apa?” tanyaku balik dan Aoi hanya mendamkan wajahnya di dadaku. Kuelus rambut panjangnya dan tangan kananku kugunakan untuk mendekapnya.
“Geni, bodoh...”
“Tidak apa karena ada orang yang menyukai ‘orang bodoh’ ini...”
Aoi menatapku geram bercampur wajahnya yang memerah. Kupegang wajahnya dan menghapus air matanya. "Ingatlah, bahwa kamu masih punya aku. Jadi janganlah menganggap kalau kamu itu sendirian. Kalau kamu memang sedang sedih, kamu bisa menghubungiku. Aku akan segera datang untuk menemuimu, ya..."
Aoi menutup kedua matanya dan mengangguk pelan. “Ya...”
Ketika kedua matanya kembali terbuka, seluruh tubuhku terasa memanas. Kulingkarkan tanganku pada bahunya, sedikit mendorong tubuhnya dan kembali menciumnya. Kali ini Aoi tidak menghindar dan membalasnya dengan melingkarkan tangannya pada tubuhku.
“Geni...” aku hanya bergumam sebagai ganti jawaban. “Hari ini kamu menginap, ya...”
Sempat aku ingin menolak, tapi aku tidak berani mengatakan demikian. Aku mengenal sekali bagaimana sifat Aoi dan aku tidak mau kalau tiba-tiba saja Aoi melakukan hal konyol yang tidak aku ketahui. “Baiklah... Nah, bagaimana kalau kita memesan makan malam?”
“Baiklah...” Aoi bangun dan berjalan meninggalkanku. “Aku pesan seperti biasa. Geni?”
“Sama” jawabku singkat dan Aoi kali ini berjalan keluar untuk menelepon. Kutatap jam yang berada dihadapanku. “Jam 6 sore... Katou jam segini belum pulang... Apa hari ini dia lembur lagi?” kuambil handphone yang berada di sakuku dan menghubungi nomor yang tidak asing lagi. Kakakku...
“Ah, halo.. Nichan, ini aku”
“Ah, Genichirou? Ada apa?” balas kakakku, Kanesaki.
“Hari ini kakak lembur?”
“Ya. Masih banyak pekerjaan yang harus dilaporkan. Nanti katakan pada kakek kalau aku pulang malam. Kamu sendiri?”
“Hari ini aku tidak pulang...”
“Loh? Kenapa? Ada masalah?”
“Tidak. Ah ya, apa Katou-san juga pulang malam?”
“Tentu saja!” balas kakak dengan sedikit kesal. “Justru aku sedang menunggu laporan yang belum dia selelsaikan. Ha-ah...” keluhnya.
Aku hanya bisa tertawa dan sebagai pesan terakhir, aku meminta kakakku untuk memberitahu kepada Katou-san kalau aku menginap.

Setelah makan malam berakhir, kutemani Aoi untuk segera beristirahat. “Geni...”
“Ya?” ucapku
“Geni disini saja ya...”
Kuambil bantal dan meletakannya disebelah tangannya. “Aku akan disini sampai kamu tertidur, ya”
Aoi mengangguk. “Terima kasih, Geni...”
Aku hanya tersenyum dan sedikit mencubit pipinya. “Kamu ini... bisakah berhenti mengatakan itu?”
Kali ini Aoi menggeleng dan sedikit mengubah posisi tidurnya. “Aku senang... Geni, tetap disini menemaniku”
“Ya... tenang saja. Aku tidak akan kemana-mana”
Akhirnya Aoi menutup kedua matanya dan terlihat nafasnya yang mulai tenang. Akupun menyandarkan kepalaku pada bantal dan menatapnya. Mengelus wajahnya dan mencium keningnya.
“Akhirnya kamu tenang juga, Aoi...”
Aku kembali teringat dengan ucapan Aoi sebelumnya mengenai temannya itu. Aoi terlihat gusar dan gelisah.
Jika memang kalian bersahabat, mengapa kamu begitu kebingungan, Aoi? Kenapa kamu ragu menentukan sikapmu kepada teman seperti itu? Ataukah kamu..
Aku menggelengkan kepalaku, kembali bersandar pada bantal dan menggenggam tangan kirinya.
Tidak! Aku tidak boleh berfikir macam-macam. Jika aku sampai berfikir seperti itu, berarti sama saja aku sudah menghianatinya! Aku tidak ingin dia sampai teringat dengan masa lalunya itu. Tidak boleh!
Malam ini terasa panjang sekali. Langit yang begitu gelap dan begitu menenangkan, seakan ada sesuatu yang disembungyikan. Aku hanya bisa berharap masalah yang terus terjadi bisa cepat berakhir dan tergantikan dengan hal menyenangkan lainnya.

--end—


No comments:

Post a Comment