Saturday, April 2, 2011

twins part 1

A/N:
^o^v
Untuk kesamaan nama – tempat – waktu yang ada maupun tidak ada bukan suatu kesengajaan. Untuk nama khususnya bisa itu-itu lagi, itu bukan suatu ketidak sengajaan ataupun suatu kesengajaan. Tetapi karena memang otak authornya yang tidak kreatif membuat nama… ^^v 

Characters:
·         Shinya  (matsumoto) : Matsumoto Shinya
·         Shun (sakamoto) : Mikami Shun

Tambahan:
·         Yuki: Ibu panti Life
·         Sakamoto: keluarga yang mengangkat Shun
·         Kido Takeshi : sahabat Shinya
·         Kira : teman sekelas Shinya – Shun - Kido
POV:  Shinya

---start--- intro~

Keributan dalam persaudaraan bukanlah hal yang aneh pada suatu keluarga. Ada perkelahian, perebutan ataupun saling menjatuhkan. Hal yang wajar dan sering kali terjadi. Terlebih lagi jika saudara itu lahir pada waktu yang sama, atau dengan kata lain kembar. Bukan hal yang mengherankan jika ada perbandingan antara satu dengan yang lainnya.

Shinya, anak pertama dari 2 bersaudara, bertubuh kecil dan berambut coklat. Sedangkan Shun yang lahir 10 menit setelahku, memiliki rambut berwarna hitam. Kami sama-sama memiliki tubuh kecil namun dia enam cm lebih tinggi daripadaku. Terkadang aku merasa heran, mengapa dia bisa lebih tinggi dariku padahal aku-lah kakaknya.

Kedua orangtua kami meninggal saat kami berumur 4 tahun. Sebuah pohon besar menimpa mobil yang mereka gunakan tepat di bagian depan. Kami sempat mendapatkan kabar kalau ibuku sempat tertolong, namun karena lamanya pertolongan dan donoran darah, akhirnya beliau meninggal.

Kecelakaan yang menimpa kedua orangtuaku membuat suatu keributan sendiri diantara keluarga besar kami. Masalah harta warisan. Kami yang saat itu tidak mengerti apa-apa, hanya bisa diam dan menunggu keputusan kemanakah kami akan tinggal. Keluarga ayahku yang kurang diterima akhirnya tidak ikut mengambil bagian. Hanya keluarga dari ibuku saja yang meributkan masalah itu. Lebih dari dua minggu masalah itu terus dibahas hingga ada keputusan terakhir kalau nasib kami berakhir dip anti asuhan milik paman kami.

Suasana disana sungguh menyenangkan. Penghuni panti asuhan Life ramah dan baik hati. Bahkan aku merasa kalau Yuki-san, ibu panti asuhan Life, lebih baik dari pada paman kami. Banyak hal yang kami lakukan sehingga kami tidak merasa sedih ataupun terasingkan karena kami tidak mempunyai orangtua.


Segala yang direncanakan manusia memang tidak sejalan dengan apa yang dikehendaki. Dua tahun kemudian, kami mendapatkan kabar dari Yuki-san kalau Shun akan diadopsi oleh keluarga Sakamoto. Keluarga Sakamoto memang sudah sering berkunjung ke panti asuhan Life dan memperhatikan kami. Shun sendiri juga sudah sering diajak berbicara dengan anak perempuan mereka, dan kelihatannya Shun sendiri menikmatinya.

“Shinya…” panggil Shun ketika aku sedang duduk diatas tempat tidur kami. Memang sudah jamnya untuk kami segera tidur. Shun menghampiriku dan duduk disampingku. “Aku mau Shinya bersama-sama denganku…”

“Tapi, Shun... keluarga Sakamoto hanya ingin kamu” ucapku sambil tersenyum padanya. Perlahan kulihat raut wajah Shun yang mulai terisak. Memang diantara kami, dia yang lebih lemah dibandingkan denganku. Mudah sekali menangis.

“Tapi bukankah kita sudah berjanji kalau kita akan selalu bersama?”

Aku mengangguk. “Tetapi Shun, mereka hanya ingin satu saja… bukan dua…”

Wajah Shun mulai basah dan kedua tangannya menggenggam bajunya. Hal yang selalu dia lakukan ketika dia sedang sedih. Kupeluk tubuhnya dan mencoba menenangkannya.

“Shun… walaupun kita terpisah, kita tetap saudara…”

“Shinya…” Shun menyandarkan wajahnya pada bahuku. “Apa aku bilang saja kalau Shinya harus ikut?”

Aku menggeleng. “Tidak boleh, Shun! Kita tidak boleh merepotkan Yuki-san. Dia sudah baik kepada kita. Jangan membuatnya repot lagi…”

“Tapi…”

Kuberikan jarak pada pelukan kami dan meraih kalung yang dia kenakan. “Shun, ingat kalung ini?” Shun mengangguk. “Kalung ini yang membuktikan kalau kita adalah saudara…” Kalung berwarna putih perak dengan sebuah liontin berbentuk huruf ‘S’. kudekatkan liontin kalungku dengan miliknya. “Lihat… kalau digabung menjadi tanda abadi, bukan?”

Shun mengangguk. “Shinya…”

“Ingat Shun… sampai kapanpun aku tetaplah kakakmu. Kakak kembarmu yang selalu menyayangimu, Tapi, aku ingin kamu melakukan satu hal lagi…”

“Apa, Shinya?”

Aku menghela nafas sejenak dan memeluknya. “Walau aku memintamu untuk tidak lupa tentang diriku, namun aku ingin kamu untuk melupakanku”

“Apa?!”

Aku mengangguk. “Lupakanlah diriku. Anggaplah aku hanyalah kakak yang sudah bersama-sama dengan dirimu disini. Jangan jadikan aku sebagai suatu beban dalam pikiranmu” aku baru saja teringat kalau Shun mudah sekali stress.

“Shinya…” Shun semakin menangis menjadi-jadi.

“Shun, tersenyumlah. Aku tidak mau melihatmu menangis untuk terakhir kalinya”

Shun menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Aku hanya kembali tersenyum dan memeluknya. Memang berat rasanya melepaskan dirinya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah seorang Shinya berumur delapan tahun yang tinggal dipanti asuhan Life. Malam yang disinari cahaya bulan ini menjadi malam terakhir kami bersama.


-setelah 8 tahun kemudian~

“Shinya!” seseorang berlari menghampiriku ketika aku baru keluar dari kamar asrama. “Shinya! Tunggu!”
Aku hanya menggeleng heran dan tertawa kecil. “Aku itu tidak akan kemana-mana, Kido! Kamu kesiangan lagi, ya?”

Kido hanya mengangguk sambil mengumpulkan nafasnya. Kido bertubuh tinggi, berambut hitam lurus dan kami sudah bersahabat sejak SMP. Sebenarnya dia anak orang kaya, namun entah mengapa dia lebih memilih ikut bersamaku ke sekolah yang terletak di pedalaman, dan… anehnya orangtuanyapun mengizinkannya.

“Kido, kamu sudah periksa barang-barangmu?” ingatku. Karena dia sering kali lupa membawa perlengkapannya.

“Sudah. Hari ini bawa jas-lab kan?”

“Buku laporannya?”

“Sudah, Shinya Matsumoto!” ucap Kido menyebut namaku dengan lengkap. “Aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah kelas 2 SMA!”

“Ia… kamu memang sudah kelas SMA tapi otakmu masih anak SD, Kido Takeshi!” balasku sambil menepuk punggungnya.

Kido tertawa dan berjalan mendahuluiku sambil berkata, “…dan sayangnya tubuhku tidak sepertimu yang masih setinggi anak SD, Shinya Matsumoto”

Mendengar itu aku langsung geram dan berlari mengejarnya. Keributan kami sudah menjadi hal yang wajar setiap harinya. Memang benar Kido berotak anak-anak, namun jika dibandingkan denganya, tinggi tubuhku hanya setelinganya. Benar-benar menyebalkan!


Didalam perjalanan menuju sekolah, kulihat kesibukan lainnya yang melintas. Ada yang sudah berlari-lari, menelepon ataupun berbincang-bincang. Dari semua yang kulihat, ada satuhal yang membuatku sedih. Ketika melihat seorang ibu bersama dengan kedua anak laki-lakinya.

“Shinya?” tanya Kido ketika aku menghentikan langkahku. “Kamu kenapa? Sakit?”

Aku menggeleng. “Aku teringat masa kecilku…”

Kido mengikuti arah pandanganku. “Ah… aku mengerti sekarang. Oh ya, Shinya. Apa tidak ada kabar mengenai saudaramu itu?”

Aku menggeleng. “Sejak aku diangkat oleh keluarga Matsumoto, aku sudah dilarang untuk menghubungi panti. Memang terkadang aku masih suka mencuri-curi, namun aku mendapatkan hal yang mengejutkan…”

“Apa?”

“Keluarga Sakamoto pindah dan… mereka tidak mengkonfirmasikan mengenai itu. Yuki-san pernah menjelaskan kalau ‘wajar sekali kehilangan kontak dengan orangtua angkat’., Namun… Keluarga Sakamoto itu yang mengangkat saudara kembarku.. Bagaimana mungkin aku tidak khawatir!”

Kido yang disebelahku hanya terdiam. “Sudahlah, Shinya. Aku yakin saudaramu baik-baik saja. Dia pasti bahagia dikeluarga barunya. Yakinlah…”

Aku mengangguk pelan. Aku yakin Shun bahagia, namun aku sangat merindukannya.


Sesampainya di depan kelas, suasana kelas sudah mulai gaduh. “Kido! Shinya!” panggil Kira sambil menghampiri kami. “Sudah dengar berita baru?”

Kami berdua menggeleng. “Bagaimana mungkin kita tahu, Kira?! Aku dan Shinya baru saja sampai” jelas Kido singkat. “Memangnya ada berita apa?”

“Ada anak baru!” sambungnya antusias.

Mendengar anak baru, raut wajah Kido mulai berubah. “Kira, anak barunya laki-laki atau perempuan?” Kira menggeleng dan langsung dibalas dengan sebuah pukulan singkat. “Kamu ini?! Cari informasi yang benar, donk?!”

Baru saja Kido berteriak seperti itu, tidak lama kemudian wali kelas kami masuk dan membacakan nama kami satu persatu. Setelah selesai mengabsen kami semua, wali kelas kami mempersilahkan anak baru yang dibicarakan Kira memasuki kelas kami. Anak laki-laki, berambut hitam lurus dan…

Shun…  

Mataku terbelak dan kurasakan mulutku ikut terbuka. Aku benar-benar tidak percaya. Saudara yang sudah lebih dari 5 tahun berada didepan kelas.

“Shinya?” Kido yang duduk disebelahku bingung dengan sikap terkejutku. “Kamu kenapa?”

“Kido… dia…” tanpa disengaja, kedua mata kami saling bertemu. Entah dalam beberapa saat dia menatapku dengan bingung. Kulihat kedua tangannya yang memegang bagian depan bajunya. Hal yang selalu dilakukan oleh Shun.

“Shun…” ucapku perlahan.

Shun yang ada didepanku hanya terdiam. “Mikami. Matsumoto. Apa kalian sudah saling mengenal?” tanya walikelas kami yang kebingungan melihat kami.

“Tidak” jawab kami bersamaan.

“Baiklah. Mikami, kau duduk disebelah Takeshi” Shun mengangguk dan berjalan menuju meja yang dimaksud.

“Shinya” bisik Kido. “Bukankah katamu saudara kembarmu diambil oleh keluarga Sakamoto? Tapi kenapa nama keluarganya Mikami?”

“Aku tidak tahu, Kido. Tapi aku akan mencari tahu” balasku dan terburu-buru bersikap biasa karena guru Matematika kami segera memasuki kelas. Sebenarnya bisa saja aku dan Kido melanjutkan pembicaraan ini, namun aku tidak ingin sampai keluar kelas karena terlalu ribut.


Di jam istirahat, kulihat Shun duduk sendirian. Kuberanikan diri untuk menanyakannya secara langsung. “Mikami-san…?”

“Ya?” Shun mendongak dan menatapku. “Ada apa?”

“Apa benar kamu Mikami Shun?”

Raut wajah Shun terlihat bingung. “Ya. Itu namaku. Ada masalah apa?”

Kuberanikan diriku untuk bertanya sekali lagi. “Benarkah sejak kecil namamu Mikami Shun?”

“Iya! Namaku Mikami Shun! Ada masalah apa denganku…!” kesalnya.

“Ah maaf… Maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu. Sebenarnya aku sedang mencari saudaraku yang sudah lama menghilang dan… secara kebetulan…”

“…aku mirip dengan saudaramu itu?” aku mengangguk. “Maaf. Tapi sepertinya aku bukan saudaramu yang kau cari…”

“Ya… Kamu benar” jawabku sedikit kecewa. “Sekali lagi aku meminta maaf”

“Tidak apa” balasnya singkat dan kembali pada makan siangnya.


“Bagaimana Shinya?” tanya Kido ketika aku kembali ketempat dudukku. Aku hanya menggeleng pelan. “Ternyata bukan, ya?”

Aku duduk dan menyandarkan kepalaku diatas kedua lenganku yang bertumpuk. “Tapi aku yakin sekali kalau dia adalah Shun, saudara kembarku!”

Kido diam sejenak. “…adakah hal yang menjadi cirikhas saudara kembarmu itu?” aku diam berfikir. “Selain yang tadi kamu katakan” 

Kukeluarkan kalung yang sudah aku pakai sejak kecil. “Hanya ini yang aku ingat”

“Kalung?”

“Kalung ini sudah kami pakai sejak kecil dan kalau kedua liontin ini digabungkan, maka akan terbentuk lambang ‘abadi’”

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan untuk mencari tahu, Shinya? Apa jangan-jangan kamu akan…”

“Kido! Jangan berfikir macam-macam?!”

“Hahahaha… Shinya, wajahmu merah!” goda Kido.. “Hua… Shinya kamu mikirnya kemana…?”

“Diam kau!” balasku kesal.

Ditengah kebercandaanku, kulihat Shun yang masih duduk diam sambil mengepalkan tangannya sambil memegang bajunya. Kebiasaan itu benar-benar Shun yang sering lakukan kalau dia sedang merasa sedih ataupun takut… Shun… kuharap kau memang benar Shun yang kucari…

--end part 1--


next: twins part 2

No comments:

Post a Comment