Friday, April 15, 2011

twins part 2

A/N:

^^
Untuk kesamaan nama – tempat – waktu yang ada maupun tidak ada bukan suatu kesengajaan. Untuk nama khususnya bisa itu-itu lagi, itu bukan suatu ketidak sengajaan ataupun suatu kesengajaan. Tetapi karena memang otak authornya yang tidak kreatif membuat nama… ^^v 
Song: Family_yakusoku no basho E
Characters:
·         Shinya  (matsumoto) : Matsumoto Shinya  
·         Shun (sakamoto) : Mikami Shun  
Tambahan:
·         Kido Takeshi: Sahabat Shinya
·         Yamada Satoshi: Sahabat Shun
POV:  Shinya
-start-

Sebulan sudah berlalu dan rasa penasaran semakin memenuhi pikiranku. Semakin lama aku memperhatikan Shun, perasaanku semakin yakin kalau dia adalah saudara kembarku. Tapi, bagaimana caranya aku bisa membuktikannya?

“Shinya!” Kido melambaikan tangannya kearahku. “Pass!”

Dengan sigap aku mempertahankan bola dikakiku dan bersiap mengoper padanya. “Kido! Shoot!”

Tanpa membuang waktu Kido segera menendang bola itu dan ...

“GOAL!!!” seru kami semua.

“Tendangan bagus, Kido!” Seruku sambil melingkarkan tanganku pada bahunya.

Priiiiiiiiiit!! Peluit berbunyi 3 kali dan diakhiri dengan suara panjang yang bertanda pertandingan sudah berakhir.

“Huaa!!!” seru kami semua karena dengan begitu sekolah kami menjadi salah satu peserta pertandingan tingkat daerah.

“Kerja bagus, Kido. Shinya” ucap pelatih kepada kami saat melakukan evaluasi sejenak. “Tetap pertahankan kerja sama kalian!”

Kami berdua saling menatap dan melingkarkan lengan tangan. Salah satu tanda dari kekompakan kami berdua. Teman-teman yang lainnya segera mengerubuni kami dan saling melingkarkan tangan pada bahu.

“Yosh! Pertandingan berikutnya, kita pasti menang lagi!” ucap Kira, sang kapten bola.

“Osh!” seru kami bersamaan.


Pertandingan antar sekolah yang berlangsung dua jam cukup menghabiskan tenagaku. Setelah selesai merapikan barang-barang, kami diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas disekolah tempat kami bertanding ini untuk membersihkan tubuh kami. Tentu saja tidak kami sia-siakan karena hari yang panas dengan teriknya matahari.

Ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi, Kido langsung menarikku. “Shinya. Shun benar-benar tidak diduga sama sekali ya”

“Hah?”

“Posisi yang sama dengan kemampuan yang sama” jelas singkat Kido. “Kalian sama-sama berada diposisi penyerang. Coba kalau kalian digabungkan, pasti akan lebih hebat lagi!”

“Sudahlah, Kido” ucapku dan mengambil minumanku dari dalam tas. Kuakui kemampuan Shun memang mengagumkan.

“Shinya, itu Shun” bisik Kido sambil menarikku.

Kuperhatikan Shun ketika berjalan menuju tempat dia meletakan tasnya. Ketika dia menunduk, ada sesuatu yang keluar dari kerah bajunya. “Kido… I-itu…”

“Ada apa, Shinya?”

“Kalung itu!” bisikku. Kukeluarkan kalung yang aku gunakan dan menunjukannya pada Kido. “Kalung yang persis dengan milikku” kukeluarkan kalung yang aku gunakan dan menatapnya.

"Jadi, benar kalau dia itu saudaramu?"

Aku mengangguk. "Menurutmu, apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkannya?"

Kido menghela nafas. "Bagaimana ya... Dia sulit sekali di ajak bicara. Selain itu, kamu sendiri pernah cerita kalau dia pernah menolakmu bukan?"

"Ya... lalu aku harus bagaimana?"

"Hmmm..." Gumamnya. "Bagaimana kalau kamu tanyakan pada sahabatnya?"

"Sahabatnya?"

"Yup! Aku dengar Shun pindah kesekolah ini karena Satoshi sekolah disini"

"Apa hubungannya?" tanyaku semakin bingung.

"Satoshi dan Shun saling bersahabat. Entah apa alasannya, tapi kedekatan mereka sudah tersebar! 'Sang musisi bersahabat dengan sang jenius'. Bagaimana, Shinya?"

Aku terdiam sejenak. "Akan aku pikirkan bagaimana caranya, Kido. Ok, cabut yuk!"

"Ah, maaf. Dari sini aku mau ke market. Ada yang mau aku beli"

"Ok, kalau begitu aku pulang dulu" pamitku sambil memukul pelan pundakknya.

Sepanjang perjalanan, seluruh pikiranku dipenuhi oleh seluruh data mengenai Shun. 'Bagaimana mungkin Shun yang di angkat oleh keluarga Sakamoto bisa berubah menjadi keluarga Mikami?'


Rasa penasaran yang memenuhi pikiranku mendorongku untuk mencari tahu lebih jauh. Di jam istirahat, kulihat Satoshi berada di perpustakaan ketika aku baru saja mengembalikan buku yang kupinjam.

“Yo, Toshi” sapaku ketika pria bernama lengkap Yamada Satoshi baru saja meletakan salah satu buku tebal.

“Ah, Shinya. Pinjam buku?”

Aku menggeleng. “Baru saja aku kembalikan. Ah ya, ada waktu?”

Satoshi diam sejenak. Laki-laki berambut hitam lurus dan lebih tinggi dariku ini mengisi daftar pinjam, memberikannya kepada ibu penjaga perpustakaan dan mengajakku keluar.

“Ada apa, Shinya? Sepertinya ada sesuatu yang ingin sekali kamu tanyakan padaku?”

Aku menatapnya sedikit curiga. Sepertinya Satoshi sudah mengerti seakan dia bisa membaca pikiranku.

“Ya. Bagaimana kalau kita keatap sekolah? Disana lebih tenang”

Satoshi mengangguk setuju dan mengikuti berjalan dari belakang. Sesampainya diatap, sedikit aku berjalan menjauhinya dan menatapnya serius.

“Apa benar kalau kamu berteman baik dengan Shun?” tanyaku langsung.
Satoshi diam saja dan duduk disalah satu batu yang terdapat diatap ini. “Memangnya kenapa?” 

“Jawab dulu pertanyaanku!” balasku sedikit emosi.

Satoshi tertawa sambil menatapku. “Kalian benar-benar berbeda. Shun yang berhati lembut, tidak mungkin mempunyai kakak yang emosian sepertimu, Shinya”

Jadi benar Shun itu adikku?

“Apa saja yang sudah Shun ceritakan padamu?”

“Sebelum menjawab pertanyaanmu…” Dia bangkit dari duduknya dan mendekatiku. “Apa urusanmu dengan Shun? Apa tidak puas kamu sudah membuat kehidupannya menjadi hancur?”

Aku tertegun. “Aku? Menghancurkan kehidupannya?! Tidak mungkin! Aku tidak melakukan apapun dengan-“

“…tidak dengan sekarang, namun jika itu kamu lakukan dimasa lalu?” aku semakin tidak mengerti dengan ucapannya. “Walaupun Shun selalu terlihat kuat, sebenarnya dia itu berhati lemah. Mudah sekali terjatuh. Tidak tahukah kamu mengenai itu?”

Tentu saja aku tahu. Aku sangat tahu itu!

“…dan dengan mudahnya kamu mengatakan hal kejam padanya sampai membuat kehidupannya menjadi kacau. Tidak sadarkah apa yang kamu lakukan sudah membuat kehidupannya lebih menderita?”

Aku hanya diam saja. Penjelasan Satoshi yang tenang itu membuatku semakin penasaran. ‘adakah hal penting yang sudah aku lupakan sehingga membuatku ditolak oleh Shun?’
“Toshi…” ucapku. “Kuakui kalau aku lupa. Namun, bersediakah kamu memberitahukan apa maksud dari perkataanmu itu?”

Dia kembali tersenyum dan menepuk pundakku. “Sebenarnya aku sudah berjanji pada Shun untuk tidak pernah mengatakan ini. Namun, Shinya, jangan dekati dia lagi setelah aku memberitahukan ini kepadamu…”

Aku menatapnya tajam. “Lalu Toshi, kenapa tiba-tiba saja kamu berubah pikiran?”

“Mudah saja. Aku tidak bisa melihat Shun terus merasa sedih karena aku menyayanginya melebihi apapun. Tidak akan aku biarkan seorangpun mengganggu pikirannya, walau kakaknya sekalipun”

Jawaban tegasnya semakin meyakinkanku kalau Shun adalah saudara kembarku. “Baiklah. Lalu, apa yang ingin kamu katakan?”

Satoshi kembali duduk dibatu tadi. “Shun pernah menceritakan padaku kalau dia pernah tinggal dipanti asuhan bersama kakak kembarnya. Mempunyai kalung yang sama dan jika dihubungkan akan menjadi sebuah simbol keabadian, namun…”

“…namun?”

Kali ini dia menatapku tajam. “…orang yang dikasihinya itu meminta dia untuk melupakannya!” nada suaranya meninggi. “Bisakah kamu membayangkan bagaimana sakitnya melupakan orang yang dikasihi? Ingin melupakan namun tetap saja muncul didalam pikiranmu?! Benar-benar tidak berperasaan!”

Ah! Aku baru teringat dengan perkataanku 8 tahun yang lalu! Jadi itulah alasan mengapa Shun terus saja menolak kuajak berbicara…?

“Ah… itu…”

“Sudahlah!” potongnya tiba-tiba. “Hanya itu yang bisa aku katakan padamu. Selebihnya lebih baik kamu tidak pernah membahas masalah ini lagi. Bersikap biasalah dengannya dan anggap saja kalian baru saling mengenal dari sekolah ini” Satoshi bangkit berdiri dan berjalan meninggalkanku.

Aku hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa. Ternyata dinding penghalang antara Shun dan diriku berasal dari perkataanku sendiri. Ingin sekali aku kembali kemasa kecilku dan menghapus perkataanku itu kepadanya.


Ketika jam istirahat berakhir, aku kembali kekelas selanjutnya, dan menatap Shun dari kejauhan. Sikap dan kebiasaannya sejak kecil tidak bisa aku lupakan. Terlebih lagi kalung yang dia gunakan saat ini keluar dari kerah bajunya. Rasa yakinku semakin tinggi. Tapi aku masih tidak tahu bagaimana caranya mencari tahu jati dirinya.

“Shinya? Ada apa?” Kido membuyarkan lamunanku. “Sakit?”

Aku menggeleng. “Ada apa?”

Kido diam menatapku dan kuikuti arah tangannya yang menunjuk sesuatu. Ternyata dipelajaran Sejarah ini aku mendapatkan tugas bersama dengan… Shun?!

“Ba-bagaimana mungkin?!” bisikku tidak percaya.

“Shinya, kesempatan bagimu untuk mencari tahu!”

“Benarkah?”

Kido mengangguk tegas. “Kesempatan seperti ini jangan kamu sia-siakan! Nah, kalau ada apa-apa, kau ceritakan padaku ya…” sambungnya lalu berjalan meninggalkanku menuju teman sekelompoknya.

Ah… benarkah ini kesempatan bagiku? Semoga saja tugas ini berjalan dengan baik dan aku mendapatkan kebenaran mengenai diri Shun yang benar-benar saudara kembarku.  Aku sungguh tidak sabar ingin berkumpul kembali dan membayar semua sikap burukku yang sudah membuatnya menderita. Demi Shun, apapun akan aku lakukan…

--end---

No comments:

Post a Comment