Real to Study, or...
Sesuai dengan rencana, aku dan Yukimura akan belajar bersama setelah latihan sore ini. Latihan terakir sebelum menghadapi uijan sekolah ini berlangsung dengan baik. Entah dikarenakan Yukimura yang menjadi ketua mereka, ataukah memang dari keinginan mereka sendiri yang semangat latihan. Terkadang aku meminta bantuan Renji untuk mendapatkan informasi tentang mereka.
Kurang dari 1 jam, seluruh anggota sudah meniggalkan ruangan dan yang tersisa hanyalah beberapa anggota inti. “Yagyuu, kau sudah selesai belum?” teriak Niou yang berada didepan lokernya. Yagyuu sendiri masih berada dikamar mandi ruangan ini.
Tidak ada balasan darinya. Niou yang merasa kesal berjalan menuju pintu sebelah kanan ruangan, yang menuju kamar mandi tersebut. “Sanada...” panggil seseorang yang suaranya aku kenal sekali, Yukimura Seiichi. Dia sedang duduk dan merapikan beberapa berkas dimejanya.
Aku menoleh dan bertanya, “Ada apa? Apakah ada masalah dari laporan itu? ” laporan yang dimaksud adalah laporan perkembangan seluruh anggota tim yang dibuat oleh Renji dan aku.
Dia menggeleng. “Maukah kamu menemaniku mengambil buku dikelas? Ada yang tertinggal...” dengan cepat dia merapikan mejanya yang tadi sempat berantakan.
Aku mengangguk. “Baiklah. Tapi aku harus menunggu semuanya selesai baru bisa menemanimu...”
“Tak apa” senyumnya. “Lagipula aku juga belum ganti seragamku...” lanjutnya. Dia mengambil seragamnya dari tas dan menuju kamar mandi. Tinggal aku yang masih mengerjakan beberapa laporan klub dan kelas.
Tidak lama setelah Yukimura masuk, Yagyuu dan Niou datang dan Yagyuu langsung berjalan keluar setelah mengambil tasnya. Dia terlihat buru-buru dan langsung meninggalkan Niou. “..Kamu bukannya menunggu dia?” tanyaku pada Niou yang masih santai didepan lokernya.
Seperti biasa dia tertawa kecil, “...memang” dia kembali tertawa. “Sanada, lebih baik kamu cepat-cepat pulang. Jangan lama-lama disini”
“Apa maksudmu?”
Dia kembali tertawa dan berjalan keluar. Sesaat sebelum menutup pintu, “Maksudnya kalau disini nanti ketahuan dan... sepertinya hari ini udara disini akan semakin dingin. Kamu tidak mau masuk angin, kan?” dan diapun pergi. Aku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan olehnya. Masuk angin katanya? Benar-benar aneh
Di ruangan tinggal aku dan Yukimura yang masih membersihkan tubuhnya. Sudah 30 menit tetapi dia belum kelar juga. Biasanya dia hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Kali ini dia bisa lebih dari 2 kali lipatnya. Karena khawatir dengan keadaannya, aku masuk kedalam dan memanggilnya.
“Sanada...” balasnya. “Bisa tolong aku sebentar?”
“Ada apa?” tanyaku yang masih diluar.
“Bisa tolong ambilkan seragamku. Ternyata aku lupa mengambilnya. Ada didalam tas kecilku...”
Sesuai dengan permintaannya, aku ambilkan seragamnya. “Yukimura... aku letakan didepan wastafel” jawabku dan segera keluar. Sesaat aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, “Bukankah dia sudah mengambil seragamnya? Kenapa dia meminta seragam cadangannya?”
Sekitar 10 menit, akhirnya Yukimura selesai dan merapikan segala barang-barangnya. Lalu berjalan menuju pintu keluar. “Sanada, kamu janji mau menemaniku, kan?” aku mengangguk. Kuletakan map diatas meja dan berjalan mengikutinya. Aku mengunci runganan ini dan meletakannya didalam tasku. Berjalan pelahan dibelakangnya.
Pertanyaan keduaku adalah mengapa Yukimura berjalan menjauhi gedung dan malahan berjalan menuju pintu gerbang sekolah? Bukankah dia mengajakku untuk mengambil bukunya yang tertinggal?
“Yukimura, mengapa berjalan keluar?”
“Tidak apa. Hanya saja aku ingin membeli sesuatu yang lebih penting. Kamu masih mau menemaniku?” tanyanya lagi. Tentu saja aku menyetujuinya. Tidak mungkin aku meninggalkan buchou yang baru saja sembuh ini sendirian.
Kami berjalan menuju sebuah toko buku terbesar dikota ini. Dia mengatakan bahwa dia akan mencari bukunya itu dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu dia memintaku untuk membelikan beberapa makanan yang dibawa pulang dan dimakan bersama dirumahnya.
Tanpa curiga sedikitpun, aku mengikuti arahannya tersebut. Disekitar toko ini ada swalayan yang menjual makanan siap saji dan tidak lupa membeli minuman untukku dan dia. Tepat setelah selesai membeli segala keperluan, Yukimura keluar dari toko tersebut dengan bungkusan yang cukup besar. Menurutku, dia membeli buku yang membahas tanaman. Yukimura suka sekali dengan lukisan taman dan mempunyai taman itu sendiri. Rumahnya yang besar membuat dia bisa menyalurkan kesukaannya dengan membuat taman sendiri didalam rumahnya.
“Lama?” Yukimura menghampiriku dan memberi tanda untuk melanjutkan perjalanan pulang. Aku menggeleng. “Oh...” jawaban singkatnya.
Dalam perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Begitu juga dengan dia. Rasa lelah setelah latihan membuatku tidak ada tenaga dan menyimpan tenaga yang tersisa untuk perjalanan pulangku nanti. Hari semakin malam. Walaupun besok adalah hari libur, tetap saja tidak bisa seenaknya pulang malam.
Perjalanan hanya membutuhkan waktu 20 menit dengan berjalan kaki. Rumah Yukimura yang besar itu masih membuatku merasa kagum padanya, walau aku sudah sering untuk bermain ataupun membahas permasalahan tim.
“Silahkan masuk” sapanya sambil membuka pintu kamarnya.
Memasuki kamarnya sesuai dengan aba-aba dan duduk pinggir ranjang yang terletak ditengah ruangan ini. “Yukimura, kenapa kamu kunci kamarmu?”
Dia tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Aku tidak mau kalau adikku datang untuk mengganggu kita saja... kamu tahukan bagaimana kejahilannya?” aku mengangguk tanda bahwa aku sudah mengetahuinya.
Adik Yukimura yang tidak teralu jauh darinya itu memang mempunyai beberapa kemiripan dan perbedaan. Secara fisik mereka memang berbeda. Tetapi sifat kejahilan mereka sama. Setiap kami mengerjakan beberapa tugas serius dan dia datang, ada saja pekerjaan yang terbengkalai. Mendengarkan ceritanya, diajak bermain, bertanya ini dan itu, dan sebagainya. Terkadang Yukimura sebagai kakaknya yang tidak tahan dengan sikap adiknya itu, pernah mengusir paksa keluar dari kamarnya.
Lalu dia duduk disebelahku dan bersandar pada bahuku. “Sanada... Apa arti takdir bagimu?”
Takdir... aku selalu mengingat pesan kakek saat aku kecil. Dia yang pertama kali mengatakan bahwa, ‘Takdir adalah sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Segala kejadian yang kita alami baik maupun buruk sudah ada garisnya dan kita tidak bisa mengubahnya kecuali menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Itulah takdir...’
Awalnya aku yang masih berumur 5 tahun tidak mengerti dari perkataan kakek. Tapi seiringnya waktu, ketika aku mendapatkan nilai merah, gagal mengikuti ujian masuk sekolah favorit dan bertemu dengan Yukimurapun itu adalah takdirku.
Aku menatapnya, “Kenapa kamu berbicara seperti itu?”
Keheningan sejenak diantara kami. Tidak lama aku merasa ada yang lain pada Yukimura. Badan kecilnya bergetar dan kudengar isakan pada dirinya. “Apakah... apakah aku yang mempunyai penyakit ini adalah takdir...? sakit yang membuatku tidak bisa melakukan kegiatan yang aku suka dan juga... kalah pada pertandingan itu juga takdir..? mengapa ini semua terjadi padaku...! kenapa ini semua harus terjadi...! mengapa...”
Perkataannya terhenti ketika aku memeluknya. Memeluk dengan erat seaakan tidak ingin melepaskan dirinya dan melindunginya dari apapun. Sejak kekalahannya pada Seigaku, membuat dia semakin uring-uringan. Segala kegiatannya yang selalu sempurna, semakin lama menurun. Itu yang aku ketahui dari Yanagi.
Isakannya semakin lama membuat pipinya menjadi basah. “Yukimura... jangan salahkan dirimu sendiri. kamu sudah berusaha sebaik mungkin dan memberikan segala yang terbaik darimu. Jangan kamu sesalkan ini semua...”
“...Tapi mengapa harus padaku!!” dia meronta. Aku tidak melepaskan pelukanku. “...Mengapa aku harus mengalami ini semua!!!”
“Yukimura...” kudekap dia dalam pelukanku dan membiarkan dia menangis didadaku. Isakan yang berubah menjadi tangisan seakan ‘inilah perasaanku’.
Air matanya kuhapus dengan lembut, mengecup pipinya dan berkata, “Yukimura... Walaupun jalan yang kamu tempuh sulit, masih ada aku yang dibelakangmu”
Matanya yang jernih itu menatapku tajam. Dia membalas dengan memelukku seperti anak kecil. Rambut birunya kusisir dengan jari-jari tanganku, terasa lembut. Aku mengelusnya seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya.
Yukimura mendongakkan kepalanya dan tangan kirinya memegang bahuku. Tiba-tiba saja dia mendekatkan mukanya dan bibir kami bersentuhan. Bibirnya yang lembut itu membuatku semakin suka padanya. Tanpa basa-basi, aku membalas ciumannya itu.
Tubuh kecilnya semakin lama semakin ringan membuatku mudah untuk mengangkatnya dan meletakannya ditengah-tengah ranjangnya. Berada diatasnya membuatku semakin mudah melihat wajahnya yang lebut itu. Kembali aku mendekatkan bibirku padanya.
Kukecup pipinya... telinganya... lehernya... terasa olehku khas baunya dan apa saja yang dia gunakan sehari-harinya. Kelembutan disisi lainnya membuatku semakin ingin memilikinya, seutuhnya. Tidak ada yang boleh memilikinya terlebih lagi menyentuh seluruh bagian tubuhnya, hanya akulah yang bisa melakukan itu semua.
Akal sehatku tiba-tiba saja menghilang. Kuraih tangan kirinya, menahannya dan tangan kananku mulai menyentuh tubuh halusnya dibalik baju yang dia kenakan. “Sa...Sanada...Le...Lepask...” kata-katanya terhenti saat menciumnya.
Tanpa memperdulikan perkataannya, aku tetap terbawa oleh nafsuku. Menciumnya dengan ganas dan mulai menyentuh seluruh tubuhnya dengan tangan kananku. “Sanada! Lepaskan! Aku tidak ingin melakukan ini sekarang...!!”
“Kenapa? Apakah hanya kamu yang bisa melakukan sesuka hatimu terhadapku? Mengapa aku tidak bisa melakukan yang biasa kamu lakukan padaku?” tegasku. Dia terdiam mendengar perkataanku. Syok, kata yang tepat baginya. Selama ini aku selalu berada dibelakangnya, mendukungnya dan membiarkan dia melakukan segala hal yang dia suka, termasuk terhadapku.
Segala keegoisan yang dia lakukan padaku selalu aku biarkan. Hanya hari ini aku meminta balasan atas segala pengorbanan yang sudah aku terima darinya. “Yukimura, aku suka padamu.”
Ditengah keheningannya, aku mengambil kesempatan membuka pakaianku. Melihat itu, dia berusaha untuk melepaskan dirinya. Tetapi tenaganya kalah jauh dariku. Mungkin jika aku dan dia mengadu dalam permainan Tennis, aku mengaku kalah. Tetapi jika ingin beradu tenaga, dia akan kalah.
Kedua kakiku menahan setengah tubuhnya membuat dia tidak bisa kemana-mana. Kedua tangannya dia gunakan untuk mencoba melepaskan dirinya dariku, tapi tidak ada perubahan apa-apa. Dengan cepat aku meraih kedua tangannya dengan tangan kiriku, menahan diatas kepalanya dan mulai membuka kemeja seragamnya.
“Sanada! Lepaskan! Tolong lepaskan aku...” dia terisak dan memohon padaku. Tapi saat ini aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diriku.
“Yukimura... aku mohon... untuk hari ini, jadilah milikku...” bisikku. Dia tertegun mendengar perkataanku tersebut.
Tangan kananku mulai memasuki celananya dan menyentuh miliknya. Terdengar suara erangan dari mulutnya. Selanjutnya diikuti oleh suara desahan setiap aku menyentuh dan menekan miliknya itu. “Sa...Sanada...” kata-kata itu terus keluar dari mulutnya.
“Yukimura, aku sayang kamu...” aku terus mengatakan itu padanya tanpa henti.
Aku memulainya lagi dengan membuka seluruh pakaianku dan pakaiannya. Tubuhnya yang halus aku bisa merasakannya dengan jelas. Degup jantungnya yang berdetak kencang beradu terasa hangat. Tubuhnya yang tadinya terus meronta, semakin lama melemas dan pasrah akan keadaannya.
Aku mengambil sesuatu dari lemari kecil yang berada disebelah kiri ranjangnya. Sebuah lotion yang biasa dia gunakan. Aku memakaikannya pada kedua jariku untuk mengurangi rasa sakit padanya. “Sanada...” nafasnya mulai tidak beraturan.
Lengan kiriku menjadi pegangan bagi kedua tangannya sambil menahan agar dia tidak bisa meronta. Perlahan aku mulai memasukan jariku kedalam miliknya. Dia menutup matanya dan memegang lenganku dengan kuat. “Yukimura... aku mohon untuk tahan sejenak. Setelah itu, tidak akan sakit lagi...” aku mengucapkan itu sambil memasuk-keluar jariku kedalam miliknya itu.
Matanya tertutup setiap kali aku memasukan jariku dengan penuh. Perlahan aku mulai memasukan kedua jariku dan melakukannya seperti yang dari tadi aku lakukan. Wajahnya yang halus perlahan dibasahi oleh air matanya. “Sa...Sanda...Sakit...sakit...!! argh...!!” erangnya ketika aku mencapai titik kunci miliknya itu.
Tanpa memperdulikannya, aku terus memainkan jariku hingga mencapai kecepatan tertentu dan keluar sesuatu dari milik Yukimura. Cairan putih yang menyebar ketubuhku. “Sanada... to...tolong hentikan... sakit...sakit....” isaknya.
Aku membalikan tubuhnya sehingga dia tengkurap, menahan kedua tangannya ke belakang punggungnya dan aku berada tepat dibelakangnya. Aku mulai memainkan kedua jariku lagi, terdengar kembali desahan dan erangannya. Semakin lama membuat aku ingin memilikinya.
Hingga dia mengalami puncak untuk kedua kalinya, membuat tubuh kecilnya terasa lemas. Dia tidak bisa menahan berat tubuhnya, membiarkan tubuh kecilnya jatuh dan nafasnya yang tidak beraturan. “Sanada....aku....”
Tidak mendengarkan perkataannya, aku mulai menyentuhkan milikku ini pada bagian luar miliknya. Dia terkejut dan ketakutan. “Sanada... jangan lakukan! Takut! Takut!”
Aku membalikan badannya sehingga aku berada diatsnya. Tangan kiriku mengelus pipinya dan berkata. “Tenang saja. Aku akan melakukannya dengan lembut” kedua tangannya yang tadi menghalangi, perlahan aku mulai melepaskan pertahanannya itu dan terus menerus mengatakan tidak akan apa-apa.
“Aku takut... Takut... milikmu itu besar sekali... Sanada, aku takut...” isaknya dan menutup wajahnya dengan kedua matanya.
Dengan lembut aku memegang wajahnya dan menciumnya. “Yukimura, percayalah padaku. Ya...” aku terus meyakinkannya, tidak mau dia akan merasakan sakit ataupun tersiksa. Keinginanku hanya menyenangkannya.
Setelah mendapatkan rasa kepercayaannya, aku mulai memasukan milikku kedalam miliknya dengan perlahan. Tangan kiri kami saling bertautan dan terasa genggamannya yang semakin erat seiring semakin memasukan kedalam miliknya itu. “Argh..!! Sanada...Sanada...”
Seperti permainan pada jariku, aku mulai memasuk-keluar milikku ini. Semakin cepat aku lakukan, desahan dari mulutnya dan mulutku juga semakin keras. Hingga aku hampir mencapai puncak, “Yukimura... Yukimura... aku sayang kamu...”
“Sanada...”
Akhirnya kami mencapai puncak bersama. Cairan yang aku keluarkan masuk kedalam tubuhnya dan aku melepaskan ikatan tubuh kami dengan perlahan. Hari ini aku sudah memiliki dia seutuhnya. Tubuhnya yang lelah membuat dia tidak bergerak dan memejamkan matanya. Akupun mulai membersihkan diriku dan dirinya.
Setelah selesai, aku mencium keningnya dan berkata, “Yukimura, terima kasih atas kesempatan yang kamu berikan padaku. Aku sayang kamu...”
Aku menyelimuti tubuhnya dan membalikan badanku untuk segera pergi. Tetapi ada yang menahanku dari belakang dengan pelukan. “Yukimura..?”
“Sanada...” aku membalikan badan karena bingung. Dia terus memelukku dengan erat dan isakan mulai tergambar pada wajahnya. Menyentuh pipinya dan menciumnya.
“Yukimura.. maafkan aku...kalau aku sudah menyakitimu..”
Dia menggeleng. “Sanada... selama ini aku merasa tidak ada yang perduli padaku, kecuali pada prestasi-prestasiku. Tetapi aku baru menyadari bahwa mataku tertutup dan tidak melihat bahwa ada seseorang yang sangat menyayangiku apa adanya...” dengan jariku, kuhapus air matanya. “Sanada.. aku sayang kamu...”
Aku mengangguk dan membalas pelukannya. “Aku juga sayang kamu...”
Sesuai dengan rencana, aku dan Yukimura akan belajar bersama setelah latihan sore ini. Latihan terakir sebelum menghadapi uijan sekolah ini berlangsung dengan baik. Entah dikarenakan Yukimura yang menjadi ketua mereka, ataukah memang dari keinginan mereka sendiri yang semangat latihan. Terkadang aku meminta bantuan Renji untuk mendapatkan informasi tentang mereka.
Kurang dari 1 jam, seluruh anggota sudah meniggalkan ruangan dan yang tersisa hanyalah beberapa anggota inti. “Yagyuu, kau sudah selesai belum?” teriak Niou yang berada didepan lokernya. Yagyuu sendiri masih berada dikamar mandi ruangan ini.
Tidak ada balasan darinya. Niou yang merasa kesal berjalan menuju pintu sebelah kanan ruangan, yang menuju kamar mandi tersebut. “Sanada...” panggil seseorang yang suaranya aku kenal sekali, Yukimura Seiichi. Dia sedang duduk dan merapikan beberapa berkas dimejanya.
Aku menoleh dan bertanya, “Ada apa? Apakah ada masalah dari laporan itu? ” laporan yang dimaksud adalah laporan perkembangan seluruh anggota tim yang dibuat oleh Renji dan aku.
Dia menggeleng. “Maukah kamu menemaniku mengambil buku dikelas? Ada yang tertinggal...” dengan cepat dia merapikan mejanya yang tadi sempat berantakan.
Aku mengangguk. “Baiklah. Tapi aku harus menunggu semuanya selesai baru bisa menemanimu...”
“Tak apa” senyumnya. “Lagipula aku juga belum ganti seragamku...” lanjutnya. Dia mengambil seragamnya dari tas dan menuju kamar mandi. Tinggal aku yang masih mengerjakan beberapa laporan klub dan kelas.
Tidak lama setelah Yukimura masuk, Yagyuu dan Niou datang dan Yagyuu langsung berjalan keluar setelah mengambil tasnya. Dia terlihat buru-buru dan langsung meninggalkan Niou. “..Kamu bukannya menunggu dia?” tanyaku pada Niou yang masih santai didepan lokernya.
Seperti biasa dia tertawa kecil, “...memang” dia kembali tertawa. “Sanada, lebih baik kamu cepat-cepat pulang. Jangan lama-lama disini”
“Apa maksudmu?”
Dia kembali tertawa dan berjalan keluar. Sesaat sebelum menutup pintu, “Maksudnya kalau disini nanti ketahuan dan... sepertinya hari ini udara disini akan semakin dingin. Kamu tidak mau masuk angin, kan?” dan diapun pergi. Aku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan olehnya. Masuk angin katanya? Benar-benar aneh
Di ruangan tinggal aku dan Yukimura yang masih membersihkan tubuhnya. Sudah 30 menit tetapi dia belum kelar juga. Biasanya dia hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Kali ini dia bisa lebih dari 2 kali lipatnya. Karena khawatir dengan keadaannya, aku masuk kedalam dan memanggilnya.
“Sanada...” balasnya. “Bisa tolong aku sebentar?”
“Ada apa?” tanyaku yang masih diluar.
“Bisa tolong ambilkan seragamku. Ternyata aku lupa mengambilnya. Ada didalam tas kecilku...”
Sesuai dengan permintaannya, aku ambilkan seragamnya. “Yukimura... aku letakan didepan wastafel” jawabku dan segera keluar. Sesaat aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, “Bukankah dia sudah mengambil seragamnya? Kenapa dia meminta seragam cadangannya?”
Sekitar 10 menit, akhirnya Yukimura selesai dan merapikan segala barang-barangnya. Lalu berjalan menuju pintu keluar. “Sanada, kamu janji mau menemaniku, kan?” aku mengangguk. Kuletakan map diatas meja dan berjalan mengikutinya. Aku mengunci runganan ini dan meletakannya didalam tasku. Berjalan pelahan dibelakangnya.
Pertanyaan keduaku adalah mengapa Yukimura berjalan menjauhi gedung dan malahan berjalan menuju pintu gerbang sekolah? Bukankah dia mengajakku untuk mengambil bukunya yang tertinggal?
“Yukimura, mengapa berjalan keluar?”
“Tidak apa. Hanya saja aku ingin membeli sesuatu yang lebih penting. Kamu masih mau menemaniku?” tanyanya lagi. Tentu saja aku menyetujuinya. Tidak mungkin aku meninggalkan buchou yang baru saja sembuh ini sendirian.
Kami berjalan menuju sebuah toko buku terbesar dikota ini. Dia mengatakan bahwa dia akan mencari bukunya itu dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu dia memintaku untuk membelikan beberapa makanan yang dibawa pulang dan dimakan bersama dirumahnya.
Tanpa curiga sedikitpun, aku mengikuti arahannya tersebut. Disekitar toko ini ada swalayan yang menjual makanan siap saji dan tidak lupa membeli minuman untukku dan dia. Tepat setelah selesai membeli segala keperluan, Yukimura keluar dari toko tersebut dengan bungkusan yang cukup besar. Menurutku, dia membeli buku yang membahas tanaman. Yukimura suka sekali dengan lukisan taman dan mempunyai taman itu sendiri. Rumahnya yang besar membuat dia bisa menyalurkan kesukaannya dengan membuat taman sendiri didalam rumahnya.
“Lama?” Yukimura menghampiriku dan memberi tanda untuk melanjutkan perjalanan pulang. Aku menggeleng. “Oh...” jawaban singkatnya.
Dalam perjalanan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Begitu juga dengan dia. Rasa lelah setelah latihan membuatku tidak ada tenaga dan menyimpan tenaga yang tersisa untuk perjalanan pulangku nanti. Hari semakin malam. Walaupun besok adalah hari libur, tetap saja tidak bisa seenaknya pulang malam.
Perjalanan hanya membutuhkan waktu 20 menit dengan berjalan kaki. Rumah Yukimura yang besar itu masih membuatku merasa kagum padanya, walau aku sudah sering untuk bermain ataupun membahas permasalahan tim.
“Silahkan masuk” sapanya sambil membuka pintu kamarnya.
Memasuki kamarnya sesuai dengan aba-aba dan duduk pinggir ranjang yang terletak ditengah ruangan ini. “Yukimura, kenapa kamu kunci kamarmu?”
Dia tertawa kecil. “Tidak apa-apa. Aku tidak mau kalau adikku datang untuk mengganggu kita saja... kamu tahukan bagaimana kejahilannya?” aku mengangguk tanda bahwa aku sudah mengetahuinya.
Adik Yukimura yang tidak teralu jauh darinya itu memang mempunyai beberapa kemiripan dan perbedaan. Secara fisik mereka memang berbeda. Tetapi sifat kejahilan mereka sama. Setiap kami mengerjakan beberapa tugas serius dan dia datang, ada saja pekerjaan yang terbengkalai. Mendengarkan ceritanya, diajak bermain, bertanya ini dan itu, dan sebagainya. Terkadang Yukimura sebagai kakaknya yang tidak tahan dengan sikap adiknya itu, pernah mengusir paksa keluar dari kamarnya.
Lalu dia duduk disebelahku dan bersandar pada bahuku. “Sanada... Apa arti takdir bagimu?”
Takdir... aku selalu mengingat pesan kakek saat aku kecil. Dia yang pertama kali mengatakan bahwa, ‘Takdir adalah sesuatu yang tidak bisa kita ubah. Segala kejadian yang kita alami baik maupun buruk sudah ada garisnya dan kita tidak bisa mengubahnya kecuali menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Itulah takdir...’
Awalnya aku yang masih berumur 5 tahun tidak mengerti dari perkataan kakek. Tapi seiringnya waktu, ketika aku mendapatkan nilai merah, gagal mengikuti ujian masuk sekolah favorit dan bertemu dengan Yukimurapun itu adalah takdirku.
Aku menatapnya, “Kenapa kamu berbicara seperti itu?”
Keheningan sejenak diantara kami. Tidak lama aku merasa ada yang lain pada Yukimura. Badan kecilnya bergetar dan kudengar isakan pada dirinya. “Apakah... apakah aku yang mempunyai penyakit ini adalah takdir...? sakit yang membuatku tidak bisa melakukan kegiatan yang aku suka dan juga... kalah pada pertandingan itu juga takdir..? mengapa ini semua terjadi padaku...! kenapa ini semua harus terjadi...! mengapa...”
Perkataannya terhenti ketika aku memeluknya. Memeluk dengan erat seaakan tidak ingin melepaskan dirinya dan melindunginya dari apapun. Sejak kekalahannya pada Seigaku, membuat dia semakin uring-uringan. Segala kegiatannya yang selalu sempurna, semakin lama menurun. Itu yang aku ketahui dari Yanagi.
Isakannya semakin lama membuat pipinya menjadi basah. “Yukimura... jangan salahkan dirimu sendiri. kamu sudah berusaha sebaik mungkin dan memberikan segala yang terbaik darimu. Jangan kamu sesalkan ini semua...”
“...Tapi mengapa harus padaku!!” dia meronta. Aku tidak melepaskan pelukanku. “...Mengapa aku harus mengalami ini semua!!!”
“Yukimura...” kudekap dia dalam pelukanku dan membiarkan dia menangis didadaku. Isakan yang berubah menjadi tangisan seakan ‘inilah perasaanku’.
Air matanya kuhapus dengan lembut, mengecup pipinya dan berkata, “Yukimura... Walaupun jalan yang kamu tempuh sulit, masih ada aku yang dibelakangmu”
Matanya yang jernih itu menatapku tajam. Dia membalas dengan memelukku seperti anak kecil. Rambut birunya kusisir dengan jari-jari tanganku, terasa lembut. Aku mengelusnya seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya.
Yukimura mendongakkan kepalanya dan tangan kirinya memegang bahuku. Tiba-tiba saja dia mendekatkan mukanya dan bibir kami bersentuhan. Bibirnya yang lembut itu membuatku semakin suka padanya. Tanpa basa-basi, aku membalas ciumannya itu.
Tubuh kecilnya semakin lama semakin ringan membuatku mudah untuk mengangkatnya dan meletakannya ditengah-tengah ranjangnya. Berada diatasnya membuatku semakin mudah melihat wajahnya yang lebut itu. Kembali aku mendekatkan bibirku padanya.
Kukecup pipinya... telinganya... lehernya... terasa olehku khas baunya dan apa saja yang dia gunakan sehari-harinya. Kelembutan disisi lainnya membuatku semakin ingin memilikinya, seutuhnya. Tidak ada yang boleh memilikinya terlebih lagi menyentuh seluruh bagian tubuhnya, hanya akulah yang bisa melakukan itu semua.
Akal sehatku tiba-tiba saja menghilang. Kuraih tangan kirinya, menahannya dan tangan kananku mulai menyentuh tubuh halusnya dibalik baju yang dia kenakan. “Sa...Sanada...Le...Lepask...” kata-katanya terhenti saat menciumnya.
Tanpa memperdulikan perkataannya, aku tetap terbawa oleh nafsuku. Menciumnya dengan ganas dan mulai menyentuh seluruh tubuhnya dengan tangan kananku. “Sanada! Lepaskan! Aku tidak ingin melakukan ini sekarang...!!”
“Kenapa? Apakah hanya kamu yang bisa melakukan sesuka hatimu terhadapku? Mengapa aku tidak bisa melakukan yang biasa kamu lakukan padaku?” tegasku. Dia terdiam mendengar perkataanku. Syok, kata yang tepat baginya. Selama ini aku selalu berada dibelakangnya, mendukungnya dan membiarkan dia melakukan segala hal yang dia suka, termasuk terhadapku.
Segala keegoisan yang dia lakukan padaku selalu aku biarkan. Hanya hari ini aku meminta balasan atas segala pengorbanan yang sudah aku terima darinya. “Yukimura, aku suka padamu.”
Ditengah keheningannya, aku mengambil kesempatan membuka pakaianku. Melihat itu, dia berusaha untuk melepaskan dirinya. Tetapi tenaganya kalah jauh dariku. Mungkin jika aku dan dia mengadu dalam permainan Tennis, aku mengaku kalah. Tetapi jika ingin beradu tenaga, dia akan kalah.
Kedua kakiku menahan setengah tubuhnya membuat dia tidak bisa kemana-mana. Kedua tangannya dia gunakan untuk mencoba melepaskan dirinya dariku, tapi tidak ada perubahan apa-apa. Dengan cepat aku meraih kedua tangannya dengan tangan kiriku, menahan diatas kepalanya dan mulai membuka kemeja seragamnya.
“Sanada! Lepaskan! Tolong lepaskan aku...” dia terisak dan memohon padaku. Tapi saat ini aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diriku.
“Yukimura... aku mohon... untuk hari ini, jadilah milikku...” bisikku. Dia tertegun mendengar perkataanku tersebut.
Tangan kananku mulai memasuki celananya dan menyentuh miliknya. Terdengar suara erangan dari mulutnya. Selanjutnya diikuti oleh suara desahan setiap aku menyentuh dan menekan miliknya itu. “Sa...Sanada...” kata-kata itu terus keluar dari mulutnya.
“Yukimura, aku sayang kamu...” aku terus mengatakan itu padanya tanpa henti.
Aku memulainya lagi dengan membuka seluruh pakaianku dan pakaiannya. Tubuhnya yang halus aku bisa merasakannya dengan jelas. Degup jantungnya yang berdetak kencang beradu terasa hangat. Tubuhnya yang tadinya terus meronta, semakin lama melemas dan pasrah akan keadaannya.
Aku mengambil sesuatu dari lemari kecil yang berada disebelah kiri ranjangnya. Sebuah lotion yang biasa dia gunakan. Aku memakaikannya pada kedua jariku untuk mengurangi rasa sakit padanya. “Sanada...” nafasnya mulai tidak beraturan.
Lengan kiriku menjadi pegangan bagi kedua tangannya sambil menahan agar dia tidak bisa meronta. Perlahan aku mulai memasukan jariku kedalam miliknya. Dia menutup matanya dan memegang lenganku dengan kuat. “Yukimura... aku mohon untuk tahan sejenak. Setelah itu, tidak akan sakit lagi...” aku mengucapkan itu sambil memasuk-keluar jariku kedalam miliknya itu.
Matanya tertutup setiap kali aku memasukan jariku dengan penuh. Perlahan aku mulai memasukan kedua jariku dan melakukannya seperti yang dari tadi aku lakukan. Wajahnya yang halus perlahan dibasahi oleh air matanya. “Sa...Sanda...Sakit...sakit...!! argh...!!” erangnya ketika aku mencapai titik kunci miliknya itu.
Tanpa memperdulikannya, aku terus memainkan jariku hingga mencapai kecepatan tertentu dan keluar sesuatu dari milik Yukimura. Cairan putih yang menyebar ketubuhku. “Sanada... to...tolong hentikan... sakit...sakit....” isaknya.
Aku membalikan tubuhnya sehingga dia tengkurap, menahan kedua tangannya ke belakang punggungnya dan aku berada tepat dibelakangnya. Aku mulai memainkan kedua jariku lagi, terdengar kembali desahan dan erangannya. Semakin lama membuat aku ingin memilikinya.
Hingga dia mengalami puncak untuk kedua kalinya, membuat tubuh kecilnya terasa lemas. Dia tidak bisa menahan berat tubuhnya, membiarkan tubuh kecilnya jatuh dan nafasnya yang tidak beraturan. “Sanada....aku....”
Tidak mendengarkan perkataannya, aku mulai menyentuhkan milikku ini pada bagian luar miliknya. Dia terkejut dan ketakutan. “Sanada... jangan lakukan! Takut! Takut!”
Aku membalikan badannya sehingga aku berada diatsnya. Tangan kiriku mengelus pipinya dan berkata. “Tenang saja. Aku akan melakukannya dengan lembut” kedua tangannya yang tadi menghalangi, perlahan aku mulai melepaskan pertahanannya itu dan terus menerus mengatakan tidak akan apa-apa.
“Aku takut... Takut... milikmu itu besar sekali... Sanada, aku takut...” isaknya dan menutup wajahnya dengan kedua matanya.
Dengan lembut aku memegang wajahnya dan menciumnya. “Yukimura, percayalah padaku. Ya...” aku terus meyakinkannya, tidak mau dia akan merasakan sakit ataupun tersiksa. Keinginanku hanya menyenangkannya.
Setelah mendapatkan rasa kepercayaannya, aku mulai memasukan milikku kedalam miliknya dengan perlahan. Tangan kiri kami saling bertautan dan terasa genggamannya yang semakin erat seiring semakin memasukan kedalam miliknya itu. “Argh..!! Sanada...Sanada...”
Seperti permainan pada jariku, aku mulai memasuk-keluar milikku ini. Semakin cepat aku lakukan, desahan dari mulutnya dan mulutku juga semakin keras. Hingga aku hampir mencapai puncak, “Yukimura... Yukimura... aku sayang kamu...”
“Sanada...”
Akhirnya kami mencapai puncak bersama. Cairan yang aku keluarkan masuk kedalam tubuhnya dan aku melepaskan ikatan tubuh kami dengan perlahan. Hari ini aku sudah memiliki dia seutuhnya. Tubuhnya yang lelah membuat dia tidak bergerak dan memejamkan matanya. Akupun mulai membersihkan diriku dan dirinya.
Setelah selesai, aku mencium keningnya dan berkata, “Yukimura, terima kasih atas kesempatan yang kamu berikan padaku. Aku sayang kamu...”
Aku menyelimuti tubuhnya dan membalikan badanku untuk segera pergi. Tetapi ada yang menahanku dari belakang dengan pelukan. “Yukimura..?”
“Sanada...” aku membalikan badan karena bingung. Dia terus memelukku dengan erat dan isakan mulai tergambar pada wajahnya. Menyentuh pipinya dan menciumnya.
“Yukimura.. maafkan aku...kalau aku sudah menyakitimu..”
Dia menggeleng. “Sanada... selama ini aku merasa tidak ada yang perduli padaku, kecuali pada prestasi-prestasiku. Tetapi aku baru menyadari bahwa mataku tertutup dan tidak melihat bahwa ada seseorang yang sangat menyayangiku apa adanya...” dengan jariku, kuhapus air matanya. “Sanada.. aku sayang kamu...”
Aku mengangguk dan membalas pelukannya. “Aku juga sayang kamu...”
Labels
Akaike Shouzo
(1)
alan Humphries
(6)
america
(4)
austria
(2)
bear
(1)
cerpen
(1)
chitchat
(1)
choutaro ohtori
(1)
england
(4)
Eric Slingby
(6)
family
(7)
fanfiction
(33)
ff
(14)
forgive me
(1)
fuji syuusuke
(1)
happy b-day
(3)
Hayama Takumi
(1)
hetalia
(6)
how come
(6)
ichi
(2)
jae joong
(1)
kentarou kanesaki
(2)
kuroshitsuji
(5)
marukaite chikyuu
(1)
Matsumoto Shinya
(1)
Misu Arata
(1)
novel
(2)
one week for all
(3)
own ffn
(6)
prussia
(2)
random
(1)
ren yagami
(2)
Saeki Taisuke
(1)
Saki Giichi
(1)
sanada
(9)
sanada genichirou
(2)
Shingyouji Kanemitsu
(1)
shishido ryou
(1)
side story
(2)
story
(1)
takumi-kun series
(3)
tatty bear
(1)
tezuka kunimitsu
(1)
twins
(2)
you're my pet
(2)
yukimura
(8)
yunho
(1)
No comments:
Post a Comment